Tittle: Elf
Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi
Genre: Supernatural, Crime, Friendship
Rate: T
Warning: OOC, OC figuran, Typo pake es, bahasa tidak sesuai EYD
Enjoy...
"A-ahh! A-Aomine..!"
"Shh.. sakit ya?"
"I-iya.. ugh! Pelan-pel..lanh..!"
"Ini sudah pelan kok. Sabar sedikit. Jangan banyak bergerak, serahkan saja padaku."
"..."
"..."
"Akh! Aomine! Kamu sentuh yang mana!? Jangan ke sana!"
"Eh? Tapi yang di sini kan yang—"
"Tapi sakit Aho! Di pinggir...ajahh! Kkhh..."
"Jangan kebanyakan protes Bakagami! Aku juga berusaha nih! Sabar sedikit, nanti juga enakan kok."
"Ungh.."
"..."
"Ahhn! Jangan ditekan bego! Kau bisa melakukannya gak sih!"
"Maklumin napa?! Ini pertama kalinya buatku!"
"Aduh! Aomine! Kau ini gak ada lembut-lembutnya ya! Kenapa makin di tekan!? A-auh.."
"Eh? HWAA! Kau berdarah Kagami!"
"Ini salahmu! Tanggung jawab!"
"Ini aku lagi tanggung jawab bego!"
"AOMINE! KAGAMI! KETIMBANG BERSIHIN LUKA DOANG BERISIK AMAT SIH!? INI UKS NANODAYO!"
.
.
.
Chapter 20: Case 4, What are You?
.
.
.
(Infirmary, 07.00 a.m., Before 1st Periode)
"Haah... Sebenarnya apa yang dilakukan mereka berdua di sini, nodayo?" Gerutu Midorima jengkel sambil mengobati tangan Kuroko yang melepuh.
"Kaki Kagami-kun terluka gara-gara terjatuh saat main dorong-dorongan dengan Aomine-kun di lorong tadi." Jawab Kuroko memandang gorden yang memisahkan ranjangnya dengan ranjang dua Ace itu. "Pakai kekuatan masing-masing." Imbuhnya.
"Ceroboh sekali! Kalau ada yang melihat nanti bagaimana?" Gerutu Midorima. "Nah, sudah selesai." Ucapnya setelah selesai mengobati Kuroko.
"Terima kasih, Midorima-kun."
Sebulan setelah bergabungnya Aomine dan Kagami di Divisi Keajaiban, mereka kembali melakukan rutinitas mereka seperti biasa. Kegiatan sekolah, Kisedai dengan tugas-tugas kepengurusan Komite sekolah, latihan rutin Divisi, dan kegiatan normal anak muda lainnya. Yang berbeda hanyalah Aomine yang menjadi Divisi Keajaiban merangkap sebagai Hunter—masih mengurus surat pengunduran diri katanya.
"Jadi, kenapa tanganmu sampai melepuh seperti ini, Kuroko?" Tanya pemuda zamrud itu penasaran.
"Hanya tersiram air panas." Jawab Kuroko.
Midorima menghembuskan napas kasar. "Lain kali hati-hatilah, apalagi kau tinggal sendirian. Bukannya aku peduli, nodayo. Hanya saja kau tidak akan bisa membantu kami kalau kau terluka seperti itu. Dan ujung-ujungnya aku yang repot." Nasehatnya dengan mengalihkan pandandan. "Kukira salah satu dari kami bangkit lagi."
Kuroko terdiam mendengar gumaman Midorima. Sebenarnya ia tidak tersiram air panas sama sekali. Alasan lukanya adalah salah satu liontin bereaksi lagi hingga mengobarkan api yang besar. Beruntung api itu tidak sampai membakar rumahnya dan hanya mengenai tangannya. Ia lupa jika semua Anggota Keajaiban saling terhubung satu sama lain, karena itulah Midorima merasakannya.
"Aku ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi perkataan Zwei tentang penghianat itu... apa benar?" Renungnya. Ia kembali teringat perkataan Zwei kepadanya sebelum ini.
'Ada pengkhianat di sekitarmu.'
Kuroko menundukkan kepalanya dan menautkan alisnya. Entah kenapa pemuda itu merasa harus mempercayai ucapan Zwei meski tak ingin. Sekarang ini ia harus lebih berhati-hati, selama ia tidak mengetahui identitas 'pengkhianat' yang sebenarnya ia tidak bisa membocorkan rahasia kepada siapapun.
SREEKK!
Lamunannya buyar ketika Kagami membuka gorden yang membatasi mereka dengan kasar dan menerjang ke arah Kuroko dan Midorima.
"Midorima! Kau saja yang obati lukaku! Aomine kerjanya gak beres! Lihat! Dia malah bikin lukaku makin berdarah! Dia bahkan menekankan kapas ke tengah lukaku!" Rengeknya sambil menunjukkan luka yang makin parah dari sebelumnya.
"Hoi! Sudah kubilang ini pertama kalinya aku ngobatin orang! Lagipula itu salahmu yang gak bisa diam!" Protes Aomine yang ikutan nimbrung.
"Paling tidak tanggung jawab dong! Kau kira gara-gara siapa aku sampai jatuh, HAH?!"
"Kau mau aku obati atau berkelahi dengan Aomine?!" Tanya Midorima ikutan nyolot. "Cepat duduk. Pelajaran sebentar lagi dimulai dan aku harus ke ruangan Komite karena dipanggil Akashi!" Titahnya yang dengan cekatan mengobati Kagami.
Melihat percakapan akrab(?) teman-temannya, mau tidak mau Kuroko menghela napas pelan dan tersenyum. "Mungkin kalau aku tidak memikirkan hal itu sejenak tidak apa-apa."
Lama sekali Aomine memandang Kuroko dengan raut wajah serius sebelum memutuskan untuk memanggilnya. "Tetsu." Kuroko yang membalas tatapan pemuda navy itu terdiam menunggu kata-kata Aomine selanjutnya. "Pulang latihan datanglah ke kantor." Perintahnya.
.
.
.
(Tokyo Police Station, 08.00)
Kagami, Kise, Midorima, Aomine serta Kuroko terkapar di sofa ruangan Divisi setelah melewati menu latihan ala Riko di Seirin. Menu latihan untuk mereka sebenarnya hanya satu hari ini, latihan fisik. Latihan fisik. Ala Aida Riko. Dan Riko tidak ragu untuk melatih mereka sampai tidak bisa bergerak lagi.
Mereka sebenarnya ingin langsung pulang ke rumah mengingat hari ini tidak ada yang harus mereka lakukan di kantor polisi. Tapi Aomine malah menyuruh mereka untuk berkumpul karena ada yang ingin dia bicarakan.
"Hoi, Aomine. Sebenarnya apa yang mau kau bicarakan? Apa sepenting itu? Aku capek! Mau pulang!" Keluh Kagami sambil bersandar di sofa.
"Aah... badanku pegal semua ssu~!"
"Sabarlah! Ini masalah penting dan kalian juga harus tahu!"
CKLEKK
Obrolan mereka terputus oleh suara pintu yang dibuka. Di balik pintu itu Yoshiro menyembulkan kepalanya untuk memastikan keberadaan orang di ruangan itu. Begitu tahu ruangan itu tidak kosong, ia masuk dan berjalan menuju sofa, tidak menyadari pandangan terganggu anak-anak di depannya.
"Anak-anak, syukurlah kalian di sini. Aku baru saja dihubungi Divisi Pelindung dari Amerika, katanya mereka ingin ke sini dan mengunjungi kalian... Eh?" Yoshiro yang sudah duduk di sofa menemukan semua pemuda memandang ke arahnya yang membuat Yoshiro bingung. "Kalian lagi membicarakan hal penting ya?"
"Iya, tapi gak apa-apa kok ssu. Ngomong-ngomong siapa Divisi Pelindung dari Amerika ini?" Tanya Kise penuh rasa ingin tahu.
"Tugasnya sama seperti kalian, hanya saja sistem mereka lebih formal." Jawab Kuroko singkat.
"Kau pernah bertemu dengan mereka?" Tanya Midorima kepada Kuroko.
"Sekali. Ketika Konvensi Luar Biasa enam tahun lalu." Jawabnya.
"Untuk itu kita bahas nanti saja. Yang ingin aku bicarakan ini jauh lebih penting." Aomine mengucapkan itu sambil memandang Kuroko serius. Yoshiro ingin beranjak dari sana karena tidak ingin mengganggu, tetapi Kuroko malah menahannya di sana.
"Toga Oji-san, aku ingin memeberitahu mereka tentang 'aku'. Boleh kan?"
Inspektur muda itu terkejut mendengar keinginan Kuroko, namun ia tidak bisa menolak karena itu haknya untuk memberitahukan kepada orang lain. "Baiklah, kalau itu maumu. Tapi apa tidak apa-apa?"
"Ya, aku tahu aku tidak mungkin bisa terus-terusan menyembunyikannya."
"... Haah... baiklah. Selamat berbincang, anak-anak." Pada akhirnya Yoshiro mengiyakan dan memilih untuk meninggalkan ruangan itu. Memberikan para generasi muda ini privasi untuk bicara.
"Apa sih yang kalian bicarakan?" Tanya Kagami bingung.
"Sebenarnya yang ingin dibahas Aomine-kun adalah apa aku sebenarnya. Bukan begitu, Aomine-kun?" Mulai Kuroko yang mendapat balasan anggukan dari Aomine. "Mungkin kalian tidak akan percaya kalau hanya kuceritakan. Jadi akan kutunjukkan sekalian." Pemuda itu menunduk dan memejamkan mata sejenak.
"Menunjukkan apa ssu?"
"Maksudnya ini." Kuroko perlahan mengangkat kepalanya dan menunjukkan sesuatu yang membuat mereka terkejut setengah mati. Putih matanya kini berwarna semerah darah, dua taring panjang terlihat di belahan bibirnya meski bibirnya menutup, serta cakar tajam terlihat di setiap jarinya. Selain itu auranya juga berubah drastis, dari yang tidak terasa menjadi menekan. Wajahnya terlihat datar, berbanding terbalik dengan ekspresi tidak percaya yang ditunjukkan teman-temannya.
"Ku-Kuroko... kau Demon?" Gagap Kagami. "Aomine, kau tahu?!"
"Tidak. Pertama kali aku melihat wujudnya ini ketika ia tenggelam di ruang bawah tanah sebulan lalu. Auranya benar-benar berbeda dengan apa yang kurasakan selama ini. Aura manusia Tetsu menghilang dan berganti dengan aura Demon. Dan hal itu menggangguku sebulan terakhir ini."
"Tapi... Kurokocchi kan..."
"Tunggu! Bukannya Kuroko itu manusia? Lalu kenapa sekarang kau malah bilang dia Demon, Aomine?" Tanya Midorima tidak sabaran.
"Itu juga yang ingin ku ketahui."
Kuroko menghela napas dan memejamkan mata. Begitu terbuka matanya kembali menampakkan warnanya yang biasa, cakar dan taringnya juga menghilang. Sejenak ia menapat mata teman-temannya satu persatu. "Aku akan menjelaskannya" Ucapnya datar. "Tapi berjanjilah padaku untuk merahasiakan apa yang kalian dengar ini." Semuanya mengangguk mengiyakan.
"Sebenarnya aku bukanlah manusia," Jawabnya. Sebelum ada yang bersuara, ia melanjutkan. "Tapi bukan juga Demon."
"Lalu jika kau bukan keduanya, lalu kau itu apa?" Tanya Kagami yang makin penasaran.
"Setengah Demon." Jawabnya dengan suara pelan.
"HAH?!" Pekik mereka tidak percaya.
"Ini tidak masuk akal! Setengah Demon itu tidak ada ssu! Bahkan waktu itu percobaan Setengah Demon itu juga gagal!" Kise bicara dengan nada membentak, ia tidak bisa mengendalikan emosinya lagi. Dan dijawab Kuroko dengan tenang.
"Memang tidak bisa kalau buatan. Tapi aku menjadi Setengah Demon secara alami. Kalian tentu tahu kalau aku darah campuran. Ibuku merupakan Demon pemakan jiwa dan ayahku manusia dengan kekuatan sihir. Keturunan dari manusia-Demon memang umumnya akan melahirkan anak manusia atau Demon, tergantung yang mana yang dominan. Pada dasarnya gen manusia dan Demon saling mengalahkan selama masa awal kehamilan dan gen yang paling dominan akan menentukan menjadi ras apa anak itu nantinya. Pertanyaannya adalah bagaimana dengan anak dari penyihir-Demon?
"Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada keturunan penyihir-Demon karena selama ini keluarga penyihir hanya menikah dengan ras manusia yang merupakan ras penyihir itu sendiri. Namun ayahku jatuh cinta kepada ibuku yang merupakan seorang LD dan menikahinya, dia merusak tradisi dengan menikahi ras berbeda. Mereka tidak pernah tahu kalau kekuatan sihir ayahku dapat mengganggu sistem genetik anaknya—aku. Akibatnya bukannya saling mengalahkan, gen-ku malah tercampur dan akupun menjadi Setengah Demon." Jelas Kuroko panjang lebar. Raut wajahnya tidak berubah sama sekali.
"Dan tidak ada yang tahu tentang ini." Tanya—atau pernyataan—Midorima.
"Selain kalian dan Toga Oji-san tidak ada yang tahu."
"Keluargamu bagaimana?" Tanya Aomine penuh kehati-hatian.
"Mereka tidak menerimaku. Beberapa kali mereka mencoba membunuhku karena dianggap anomali, meski pada akhirnya mereka menerima keadaanku." Jawab pemuda bluenette terdengar sedih. "Tapi tidak apa-apa, toh mereka semua sudah mati." Sambungnya enteng, seolah sedang membicarakan hal normal.
Hening menyapa setelah penjelasan Kuroko tentang dirinya. Mereka hampir tidak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar. Namun pemuda beriris aquamarine itu telah membuktikannya sendiri pada mereka.
.
.
.
(Setting Skip, Akashi's Mansion)
'Dosa pendahulu ditanggung oleh penerusnya. Tidak ada yang dapat menebusnya kecuali satu.'
"Apa-?"
Akashi yang sedang bersantai di balkon kamarnya terlonjak begitu mendengar suara yang tiba-tiba terngiang di kepalanya. Lagi. Suara-suara itu mulai terdengar sejak enam bulan lalu, lebih tepatnya sejak ia mendapatkan kekuatannya. Pemuda scarlet itu memijit keningnya lelah. Ia mencoba memikirkan makna dari suara tersebut. Suara-suara itu selalu menyampaikan sesuatu dalam bentuk teka-teki yang harus dipecahkan.
"'Dosa para pendahulu'... apa yang telah dilakukan generasi sebelum kami sebenarnya..?" Gumamnya sambil memandangi langit malam. Tanpa ia sadari telapak tangannya mulai hangat dan memancarkan cahaya. Perlahan cahaya itu berubah menjadi kobaran api yang menyelimuti tangan Akashi, yang anehnya tidak membakarnya. Akashi yang terkejut dengan hal ini mencoba mengatur napas dan emosinya hingga api itu meredup dan padam.
"Ternyata memang tidak bisa tanpa liontin." Decaknya seraya memandangi tangannya yang sebelumnya menyalakan api.
.
.
.
(Setting Skip, River)
Seorang lelaki bertubuh tinggi berdiri diam di rerumputan samping sungai. Mata sendunya menatap pantulan bulan di air. Ia membiarkan rambut panjangnya ditiup angin malam, hingga memperlihatkan iris violet yang terlihat menyala akibat cahaya bulan.
Kegiatannya diinterupsi oleh dering ponselnya. Tanpa menunggu lama-lama lelaki itu langsung mengangkatnya.
"Hmm?" Sapanya dengan nada malas.
"Ah, Atsushi. Bagaimana kabarmu?" Sapa orang yang berada di seberang sana kepada Atsushi, atau lengkapnya Murasakibara Atsushi.
"Aku tidak banyak makan snack akhir-akhir ini, Muro-chin." Jawabnya kurang nyambung, sedang orang yang menelepon hanya tertawa ringan.
"Haha..! Baiklah, kalau begitu akan kubawakan oleh-oleh yang banyak untukmu." Ujar Muro-chin.
"Muro-chin mau kembali ke Jepang?" Tanya Murasakibara yang diiyakan oleh orang itu. "Dan aku akan jadi penyalur lagi?" Tanyanya lagi dengan nada serius.
"Begitulah. Kau tidak mungkin menolak permintaanku kan?" Sahutnya yang membuat Murasakibara menunjukkan muka masam meski tahu orang di seberang sana tidak dapat melihatnya. "Aku akan pergi dari Amerika minggu depan."
"Haah.. iya deh. Tapi Muro-chin," jeda sejenak. "Kita tidak bisa seenaknya lagi. Divisi pelindung di Jepang sudah mulai bangkit. Dan Elf ternyata benar-benar ada. Aku tidak mau dipenjara." Murasakibara memperingatkan dengan nada—yang kembali—malas.
"Kalau begitu kita hanya harus lebih wapada lagi dong." Balas Muro-chin tenang. "Persiapkan kedatanganku. Seperti biasa, jangan ketahuan."
"Asal kau membelikanku banyak snack." Celetuknya lalu memutuskan panggilan. Murasakibara memandang bulan di atasnya dengan tatapan malas.
.
.
.
(A Few Days Later, 06.30 p.m.)
Kata orang hari Jum'at adalah hari yang singkat. Begitu pula yang dirasakan keenam pemuda yang tengah berjalan bersama ini. Perasaan baru saja mereka pulang dari sekolah, tapi langit sudah berwarna lembayung dengan matahari berada di garis horizon. Mereka baru keluar dari Maji Burger dan melangkah ke tujuan selanjutnya, konbini. Agak lucu memang, mengingat Akashi ada di antara mereka dan konbini bukanlah tempat yang sering didatangi tuan muda sepertinya. Tapi sepertinya orangnya sendiri tidak keberatan selama ia bisa bersama teman-temannya.
Mereka menuju konbini atas usul—paksa—Kise yang merengek ingin beli es loli. Wajar saja, hari itu sangat panas mengingat masih musim panas dan Kise tidak tahan karena kekuatannya sendiri merupakan es yang akan meleleh pada suhu panas. Jadilah saat ini mereka berjalan sambil sesekali mengobrol atau bertengkar seperti biasa. Sayang sekali Murasakibara yang doyan makan tidak bisa ikut kali ini. Entah apa yang dilakukannya.
Selama perjalanan Kuroko yang berjalan paling belakang sesekali membuka ponselnya dan mengetikan pesan. Kise yang berjalan di sampingnya mensejajarkan tinggi badan mereka dan mengamati isi pesannya.
From: Yoshiro Toga
Subjek: none
'Pihak Amerika kemungkinan akan datang minggu depan.'
"Hee... kalau begitu sebentar lagi aku akan bertemu mereka ssu?" Tanya Kise antusias yang dibalas Kuroko dengan anggukan. "Tapi untuk apa mereka datang ke Jepang?"
"Aku tidak tahu, mungkin mereka ingin menyambut Anggota Divisi Keajaiban yang baru." Jawab Kuroko. "Anggota Divisi Pelindung Jepang sangat disegani di dunia. Setahuku biasanya akan ada pertemuan khusus demi menyambut generasi baru. Berbanggalah."
"Wah! Aku tidak sabar menantikannya! Kagamicchi! Aominecchi!" Kise kemudian berlari menyusul Aomine dan Kagami yang asyik bercanda untuk mengabarkan hal ini, melewati Akashi dan Midorima yang berbincang di antaranya.
Tanpa mereka sadari Kuroko menghentikan langkahnya tepat di samping pohon yang disandari oleh seorang pemuda.
"Apa maumu, Ogiwara-kun?"
"Yo. lama tak jumpa, Kuroko!"
.
.
.
(Setting Skip, Konbini)
"Huwaaah! Enaknya! Aku mau beli lagi ssu!" Jerit Kise kegirangan setelah menghabiskan es loli di tangannya. Mendengar itu, yang lain hanya cengo.
"Kau mau makan berapa banyak lagi!? Ini sudah yang kesepuluh tau!" Teriak Kagami di telinga Kise. Dia tidak menyangka temannya yang model ini rakus juga.
"Habis... panas sekali hari ini. Aku tidak tahan ssu." Keluhnya sambil memanyunkan bibir.
"Tapi jangan kebanyakan makan es juga!" Bentak Midorima.
"Eh!?" Ekspresi Kise yang sebelumnya konyol tiba-tiba berubah serius. Ia secara refleks memegang tenguknya dan menggigit bibir, mengabaikan omelan dari Kagami dan Midorima. Akashi yang menyadari perubahan ekspresi Kise mengerinyit dan ia juga menyadari satu hal.
"Kalian," Panggil pemuda scarlet itu. "Ada yang melihat Tetsuya?"
.
.
.
(Small Alley, 07.00 p.m.)
"Yosh, di sini saja deh. Tidak apa-apa kan?" Tanya Ogiwara dengan santainya setelah mengajak Kuroko ke tempat yang cukup mencurigakan. Kuroko sendiri mengikuti pemuda berwajah ramah ini dengan kewaspadaan tinggi. "Aku senang kau mau bicara padaku." Ucapnya sambil berbalik menghadap Kuroko.
"Ogiwara-kun." Panggil Kuroko dengan nada datar namun penuh keseriusan.
"Ya?"
"Ada nasi di dagumu."
"Eh?" Menyadari kecerobohannya, Ogiwara langsung menyomot nasi itu dan memakannya. Lalu ia cengengesan sambil malu-malu. "Maaf, barusan aku habis makan onigiri tadi. Enak lho..! Hehe.."
"Orang ini, bicaranya santai sekali. Seperti ngobrol dengan teman saja." Batin Kuroko sweatdrop.
"Jadi, ada perlu apa, Kuroko?"
"Bukankah kau yang ada perlu dengan kami? Kau mengikuti kami sejak keluar dari Maji Burger." Jawab Kuroko tidak santai.
"Hanya kebetulan. Aku baru pulang sekolah dan berselisihan dengan kalian. Sekalian saja aku ikuti. Aku penasaran apa yang dilakukan Divisi Keajaiban di luar tugas mereka."
"Kau berjanji untuk tidak menyentuh mereka sedikitpun." Ucap Kuroko mengingatkan dengan penuh penekanan di setiap katanya.
"Memang, tapi hanya Divisi Keajaiban. Tidak berlaku untukmu. Dan juga teman Demon kalian itu."
"Jangan pernah kau menyentuhnya!" Geram pemuda yang lebih pendek yang sepertinya tidak digubris Ogiwara.
"Tahu tidak? Dia orang yang menarik, mungkin Odin juga sependapat." Ucap Ogiwara dengan nada yang diayunkan.
"Kau selalu menyebutkan nama itu. Sebenarnya siapa dia?" Kuroko bertanya dengan penuh rasa penasaran. Dia mulai kehilangan ketenangannya mengingat apa yang pernah dibisikkan Ogiwara.
"Lho? Bukannya aku sudah memberitahumu siapa dia? Kok masih tanya?" Ogiwara balas bertanya dengan nada mengejek. Pemuda ini berniat memancing emosi Kuroko. "Atau kau tidak mau mempercayai perkataanku. Nee, Sora1?"
"Berhenti memanggilku Sora!" Tangannya sudah terkepal sambil menggenggam cincin, ingin sekali ia menebas pemuda menyebalkan di depannya ini.
Ogiwara tersenyum mengetahui ia berhasil. Ia kembali membuka suara. "Apa? Kau marah? Kau berniat bikin masalah di sini ya?"
Kuroko diam, mencoba mengendalikan diri. Ia tidak boleh terpancing emosi di situasi seperti ini. Ogiwara menyadari itu dan mendecak pelan. Ia lalu mencoba cara lain untuk kembali memojokkan Kuroko.
"Yah, kelihatannya kau mengurungkan niatmu buat menghajarku. Baguslah. Karena jika kau macam-macam..." Tanpa melanjutkan kata-katanya, Ogiwara menunjuk sesuatu di belakangnya dengan jempol sebagai isyarat peringatan. Ia mengarahkan tangannya ke tempat Daemon yang terkurung di dalam lingkaran yang terbuat dari kristal. Daemon itu terlihat ganas dan tidak dapat mengendalikan tubuhnya yang terus menghantamkan diri ke kristal hingga tubuhnya memar.
Kuroko menegang begitu melihat ke arah yang ditunjuk Ogiwara. Tubuhnya mulai bergetar dan berkeringat. Wajahnya terlihat pucat dan ketakutan. Tanpa sadar ia melangkah mundur menjauhi Ogiwara.
"A-apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Kuroko dengan suara bergetar.
Ogiwara menyeringai. "Tidak ada. Hanya menahannya di sana agar tidak menganggu obrolan kita. Dia sedang dalam pengaruh obat, jadi agak liar." Jawabnya santai.
"Lepaskan... lepaskan dia!" Jerit Kuroko mulai panik.
"Kau ingin aku melepaskannya? Tidak apa-apa nih?" Ogiwara melangkah mendekati Kuroko, ia lalu mengarahkan telapak tangannya ke arah pemuda baby blue itu.
BUKK!
Tanpa diduga tubuh Kuroko terdorong hingga menubruk tembok dengan keras. Tanpa sempat bereaksi, ia lalu merasakan tubuhnya ditekan hingga berlutut di tanah. Kuroko kebingungan dengan apa yang terjadi. Ia merasa Ogiwara lah yang mendorong dan menekannya, padahal pemuda itu tidak menyentuhnya sama sekali. "Apa yang-"
"Telekinesis2. Ini adalah kemampuan alternatif yang kumiliki." Jawab Ogiwara menyombongkan diri.
"Kemampuan...alternatif?"
"Selain kekuatan untuk mengendalikan berbagai elemen yang diturunkan dari generasi ke generasi, kami juga memiliki kemampuan lain yang tumbuh mengikuti kekuatan inti kami. Kemampuan ini tidak sama setiap generasinya. Yah.. kecuali milik pemimpin sih. Dan aku beruntung karena kemampuan alternatifku cukup kuat." Pemuda bersurai jingga itu menjelaskan sambil terus menekan Kuroko hingga ia tidak dapat bergerak. Ia juga menggerakkan pisau kecil dengan telekinesisnya lalu melayangkannya ke arah Kuroko dan menggores pipinya hingga berdarah.
"Ugh!" Pemuda yang lebih pendek meringis merasakan darah mengalir dari luka yang dibuat Ogiwara. Daemon yang terkurung di dalam kurungan kristal mencium bau darah Kuroko dan bergerak semakin liar. Ini tidak baik.
"Oh, ngomong-ngomong kau tadi minta aku melepaskan Daemon itu kan?" Tanyanya sambil mengangkat tangan satunya. "Baiklah... Tapi sebelumnya..."
Ogiwara kembali mendorong Kuroko hingga menubruk tembok dan menahannya di sana. Kemudian pemuda itu membuat selubung kristal yang mengurung Kuroko. Selubung itu cukup rendah sehingga kepala Kuroko akan terbentur jika ia berdiri. Setelah selesai dengan selubung kristal, Ogiwara mundur beberapa langkah menuju tempat yang tertutup bayangan. Ia lalu menghilangkan kristal yang mengurung Daemon hingga orang itu terbebas dan menyerbu ke arah Kuroko dengan liar. Ogiwara yang selesai dengan urusannya melenggang pergi begitu saja.
Daemon itu membentur selubung kristal dengan keras dan mencakarinya. Ia juga beberapa kali menggigiti selubung itu meski tidak membuahkan hasil. Kuroko yang melihat kejadian ini terbelalak dan tubuhnya semakin menegang. Matanya yang sebelumnya menatap Daemon intens kini mulai tidak fokus, seolah melihat hal lain di hadapannya. Tubuhnya tersentak begitu kesadarannya kembali dan wajahnya menunjukkan ketakutan dan trauma yang luar biasa.
"UWAAAA!"
.
.
.
TBC
Catatan:
1Sora: Langit dalam bahasa Jepang
2Telekinesis: kemampuan menggerakan benda, orang, dll dengan menggunakan pikiran
A/N:
Haah... ternyata saya emang gak bisa bikin hints, pantes aja hints yang di chapter sebelumnya gak kerasa. Sebenarnya maksud saya waktu Ogiwara ngebisikin Kuroko. Tapi kayaknya gak tergolong hints ya... Jadinya saya coba-coba bikin lagi. Saya sampai nekat nyari referensi lho, teman-teman! Saya hebat! Huwahahaha!#plakk(Sadar woy!)
Buat yang nyariin Akashi sama Murasakibara, sekarang mereka muncul lagi.. yee! #tebarconfeti. Masih dikit, tapi saya usahain banyakan kok... Tapi Takao gak muncul dulu ya.. mungkin chapter depan.
Umm... sebenarnya bulan ini sama bulan depan saya agak sibuk karena tugas mulai berdatangan dan harus ngurusin organisasi. Tapi meski begitu saya berencana nulis di sela-sela kegiatan biar bisa update cepetan. Moga-moga kerjaan yang dikasih gak banyak-banyak amat, jadi sela-selanya banyakan, hehe...
Sa, mungkin segini dulu. Akhirul kata...
RnR Please...
Balasan untuk yang tidak pakai akun
LightThe AkaKuro
Anoo... yg mananya? Kalau ada yang membingungkan silakan tanya saya...
Ogi: Ogiwara Shigehiro! Kok lupa sih?! #sob
Nozo: Sabar Gi...
Ehe... iya. Karena muka mereka mirip(?). Untk pairingnya.. gak ada (hei!) gak nentu sih... kondisional kok..
Hai! Ini sudah lanjut kok..
Terima kasih dan selamat membaca...!
N Rani Kudo
Yup.. tp belum resmi.. eemm.. kena gin..
Kalau ada pertanyaan, sialakan tanya ke saya atau tunggu chapter" selanjutnya... pasti terjawab kok..
Gak kelamaan kok.. ini sudah update kok.. selamat membaca dan terima kasih...!
