Seungkwan bangun lebih dulu dari Jihoon yang masih setia bergelut di balik selimut tebal ranjang queen size yang mereka gunakan berdua. Seungkwan pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Ia memberengut melihat wajahnya sendiri yang tampak seperti kurang tidur. Semalam ia dan Jihoon membuat pesta kecil untuk mereka sendiri sampai pukul setengah 3 pagi. Mereka memilih tidur setelah kelelahan berkaraoke di ruang tengah dan kekenyangan akibat memakan banyak daging semalam. Seungkwan rasa berat badannya akan bertambah.
Memutuskan untuk mandi, Seungkwan pun keluar dari kamar mandi untuk menggambil baju ganti beserta handuk dan peralatan mandinya yang belum sempat ia bereskan kemarin karena Jihoon langsung menariknya pergi ke pantai beberapa menit setelah mereka sampai di vila, dilanjut malamnya mereka pesta. Bahkan Seungkwan dan Jihoon sama sekali tidak mandi kemarin. Benar-benar jorok sekali mereka.
Memakan waktu cukup lama untuk mandi, Seungkwan baru selesai ketika Jihoon bangun dari tidur tapi masih setia merebahkan tubuhnya di ranjang. Seungkwan meletakkan baju yang tadi ia pakai diatas tas yang ia bawa lalu menghampiri Jihoon dan duduk di sebelah Jihoon yang masih dalam posisi tidur.
"Baru selesai mandi?" tanya Jihoon dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Seungkwan mengangguk.
"Kau tidak mau mandi?" tanya Seungkwan kemudian.
"Nanti saja," balas Jihoon. "astaga aku malas sekali hari ini."
"Bukankah kau selalu malas?"
"Kalau bukan karena aku malas bergerak, sudah kucekik lehermu, Kwan." Kata Jihoon seraya merubah posisinya menjadi tengkurap dengan wajah yang terbenam di bantal.
Seungkwan terkekeh mendengar sahabatnya kesal. Kemudian Seungkwan turun dari ranjang mereka berdua dan pergi ke dapur untuk membuat sarapan.
"Cepat bangun dan basuh wajahmu, kalau bisa mandi saja sekalian. Aku akan membuat sarapan." Kata Seungkwan sebelum menutup pintu kamar mereka.
Sementara Seungkwan sibuk dengan kegiatannya membuat sarapan di dapur, Jihoon pun bangkit dari tidurnya lalu turun dari ranjang empuk itu. Ia membuka gorden putih yang menutupi jendela kamar lalu memandang sebentar keadaan di luar. Hari ini cukup cerah untuk pergi ke luar, dan sepertinya hari ini Jihoon bisa berjemur di pantai sesuai rencana awalnya. Puas melihat pemandangan pantai di luar, Jihoon pun mengambil handuknya lalu pergi ke kamar mandi. Ia butuh mandi juga ternyata karena kulitnya lengket akibat tidak mandi kemarin.
45 menit menghabiskan waktu untuk mandi, Jihoon pun akhirnya selesai. Ia keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan bathrobe sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil. Jihoon baru akan mengambil pakaiannya dari lemari ketika ia mendengar suara ponsel Seungkwan berbunyi. Jihoon menghampiri nakas tempat dimana Seungkwan meninggalkan ponselnya.
Jihoon melihat layar ponsel Seungkwan yang menyala dan menampilkan satu pesan masuk baru dengan nama pengirim Minhyuk oppa. Penasaran, Jihoon pun dengan agak lancang meraih ponsel Seungkwan lalu membuka pesan dari Minhyuk. Beruntung ia tahu kode sandi ponsel Seungkwan, membuatnya dengan mudah membuka kunci ponsel Seungkwan.
From : Minhyuk oppa
Apa kau sibuk hari ini? Kalau tidak, aku ingin mengajakmu pergi.
Um...mungkin jalan-jalan di sekitar sini saja dan makan siang bersama.
Bagaimana? Kau ada waktu?
Jihoon tersenyum menahan tawa membaca pesan dari Minhyuk. Kemudian, setelah memastikan Seungkwan masih sibuk di dapur, Jihoon pun membalas pesan dari Minhyuk sambil terkekeh pelan. Setelah terkirim, Jihoon kembali meletakkan ponsel Seungkwan di tempatnya semula dengan posisi yang sama persis lalu bertingkah seakan tidak ada apapun.
Tepat beberapa menit setelah keisengan Jihoon tadi, Seungkwan masuk kembali ke kamar dengan masih menggunakan apron di tubuhnya.
"Kau sudah mandi?" tanya Seungkwan.
Jihoon yang sudah selesai mengganti pakaiannya hanya mengangguk. Ia yang awalnya tengah mengeringkan rambutnya dengan hair dryer kembali melanjutkan kegiatannya, sementara Seungkwan mengambil ponselnya yang tertinggal tadi di atas nakas lalu kembali keluar dari kamar. Melihat Seungkwan yang pergi membawa ponselnya, Jihoon tak tahan untuk tidak tertawa. Selepas Seungkwan keluar, Jihoon langsung tertawa lepas sambil terus mengeringkan rambutnya.
Pekerjaan Seungkwan yang tengah membuat sarapan itu sebenarnya sudah selesai, ia hanya tinggal mencuci peralatan masak yang tadi ia gunakan, membuatnya harus kembali ke dapur setelah mengambil ponselnya yang tertinggal di kamar. Kembali ke dapur, Seungkwan pun langsung mencuci peralatan masak yang tadi ia gunakan dengan cepat agar ia bisa cepat makan. Tapi di tengah kegiatannya mencuci, Seungkwan merasakan ponselnya yang ia masukkan ke saku celananya bergetar. Setelah Seungkwan selesai dengan urusannya mencuci, Seungkwan segera melepas apron yang masih melekat di tubuhnya lalu mendudukkan diri di kursi meja makan seraya mengeluarkan ponselnya dari saku.
Sebuah pesan masuk baru di Minhyuk. Seungkwan mendesah pelan. Ia tahu, setelah pertemuan tak disengaja mereka kemarin, pasti Minhyuk akan menghubunginya. Kemudian dengan malas, Seungkwan membuka pesan tersebut dan membacanya,
From : Minhyuk oppa
Baiklah! Pukul 10 nanti aku tunggu di depan kafe tempat kita bertemu kemarin.
Seungkwan mengerutkan dahi ketika membaca pesan dari Minhyuk karena itu tidak terdengar seperti awal dari pembicaraan. Akhirnya Seungkwan pun melihat apakah sebelumnya Minhyuk mengiriminya pesan dan BAM!
15 menit yang lalu pemuda itu mengiriminya pesan untuk mengajak Seungkwan pergi dan di bawahnya terdapat balasan yang entah bagaimana bisa ada disana sementara Seungkwan baru membaca pesan itu sekarang. Tepat ketika Seungkwan melihat itu, Jihoon datang ke ruang makan dengan wajah tak bersalah.
"Kau membajak ponselku?" Seungkwan langsung bertanya to-the-point pada Jihoon yang bahkan belum duduk.
Jihoon menatap Seungkwan tak mengerti, tapi beberapa saat kemudian ia tahu arah pembicaraan sahabatnya itu.
"Oh..." kata Jihoon. "Iya, aku tadi membajaknya sebentar. Tidak apa, kan?" sambung Jihoon sambil tersenyum.
Seungkwan menghela nafas, "Kau membuatku menyetujui ajakan pergi Minhyuk oppa."
"Iya, lalu? Itu bukan masalah besar, Kwan." Kata Jihoon.
"Bagiku itu masalah." Balas Seungkwan. "Aku akan bilang padanya kalau ponselku dibajak olehmu, dasar menyebalkan."
Jihoon pun segera merebut ponsel Seungkwan sebelum pemiliknya mengetik satu huruf untuk membalas pesan Minhyuk. Jihoon menggelengkan kepalanya.
"Biar saja," kata Jihoon. "Toh, tak ada salahnya pergi dengan Minhyuk sunbae, kan?"
"Tapi aku tidak mau, Ji." Kata Seungkwan.
"Oh...ayolah, kenapa kau selalu tidak mau jika diajak pergi oleh Minhyuk sunbae sementara kau tanpa menolak mau diajak pergi oleh si berandal sial itu."
Seungkwan menghela nafas jengah. Ia sudah tahu kalau Jihoon akan mengatakan hal itu.
"Bagaimana?" tanya Jihoon.
"Tapi aku kesini bukan untuk pergi dengannya, Ji. Aku kesini untuk menghabiskan waktu denganmu." Jawab Seungkwan, masih berusaha mencari alasan untuk menolak.
"Kita masih punya banyak waktu untuk bersenang-senang." Kata Jihoon. "Tidak usah mencari alasan."
"Kau mengusirku, ya?" tanya Seungkwan.
"Ya, kau bisa bilang begitu." Balas Jihoon. "Aku akan pergi berjemur hari ini dan aku yakin kau tidak akan mau ikut karena kau akan mati bosan hanya melihatku bersantai dengan menggunakan bikini di bawah terik matahari, bukan?"
Seungkwan mengakui bahwa apa yang dikatakan Jihoon benar. Ia tidak akan mau menemani Jihoon berjemur karena itu akan membosankan, melihat sahabatnya rebahan di bawah sinar matahari hanya dengan menggunakan bikini. Lebih baik Seungkwan pergi ke kedai es krim di pinggir pantai dan makan es krim disana sambil melihat pemandangan laut. Itu lebih menyenangkan.
"Baiklah, Lee, kau menang lagi." Kata Seungkwan.
Jihoon memasang senyum kemenangan lalu ia mengembalikan ponsel Seungkwan pada pemiliknya yang sekarang memberengut kesal.
~oOo~
Hansol sudah bangun sejak tadi dan sekarang tengah memandang kearah pantai dari balkon kamarnya dan Seungcheol. Secangkir teh hangat berada di tangan kanannya sementara tangan kirinya memegang pagar pembatas balkon. Jam baru menunjuk pukul setengah 9 pagi, tapi jalan di bawahnya sudah cukup ramai dengan orang-orang. Pantai juga mulai ramai seiring waktu. Hansol menoleh sebentar, melihat kearah sepupunya yang masih tertidur di ranjangnya dalam keadaan telanjang dada karena katanya udara sangat panas, padahal Hansol sudah mengatur suhu pendingin kamar mereka hingga titik paling rendah, 16 derajat, tapi tetap saja menurut Seungcheol masih panas hingga akhirnya sepupu Hansol itu memilih tidur bertelanjang dada.
Hansol masih memandangi pemandangan pantai di bawah ditemani secangkir teh di tangannya ketika pintu kamarnya di ketuk dari luar. Dengan langkah pelan, Hansol membuka pintu kamarnya dan disana sudah ada Minki yang telah rapi.
"Ada apa, noona ?" tanya Hansol.
"Aku mau mengajak kalian sarapan bersama di restoran hotel." Balas Minki. "Kalian baru bangun?"
"Aku sudah bangun sejak tadi, tapi adikmu belum." Kata Hansol.
Minki menerobos masuk ke kamar Hansol dan Seungcheol kemudian menggelengkan kepalanya melihat Seungcheol yang masih tertidur pulas dibalik selimut. Dengan wajah kesal, Minki mengambil satu bantal di ranjang tersebut lalu memukul wajah Seungcheol yang tidak tertutup selimut.
"Cepat bangun pemalas!" seru Minki.
Mendapat serangan tiba-tiba, Seungcheol pun mau tak mau membuka matanya sambil mengerang sakit karena terus dipukuli dengan bantal oleh Minki.
"Hentikan, noona, hentikan!" seru Seungcheol. "Baiklah, baik, aku bangun!"
Minki baru berhenti melakukan tidak kekerasan pada Seungcheol ketika adiknya itu bangkit dari ranjang sambil bersungut kesal karena tidurnya diganggu. Sementara Hansol yang sama sekali tidak tertarik dengan drama keluarga tersebut, memilih masuk ke kamar mandi untuk mandi karena tubuhnya lengket.
Hansol selesai mandi 30 menit kemudian. Ketika ia keluar, ia masih melihat Minki di kamarnya, tengah bersandar pada bed board sambil memainkan ponsel, sementara Seungcheol duduk di tepi ranjang dengan handuk yang tersampir di pundaknya.
"Kenapa noona masih disini?" tanya Hansol.
"Memangnya tidak boleh?" balas Minki.
"Aku mau pakai baju." Kata Hansol.
Hansol memang sekarang hanya menggunakan bathrobe di tubuhnya karena ia malas membawa baju ganti ke kamar mandi.
"Ya sudah, pakai saja." Kata Minki cuek.
"Jangan bercanda, ayo keluar noona." Kata Hansol seraya menarik tangan Minki agar turun dari ranjang.
"Aduh kenapa kau cerewet sekali, sih?! Aku ini kan sepupumu, kenapa aku harus keluar? Kau pikir aku akan terpesona pada tubuhmu?!"
Seungcheol terkekeh mendengar ucapan kakaknya lalu membalas,
"Noona tidak tahu saja tubuh Hansol." Kata Seungcheol. "Belakangan ini dia sering olahraga."
"Jangan banyak omong, hyung." Kata Hansol cepat, sebelum Seungcheol mengatakan hal yang aneh-aneh.
"Baiklah...baik, aku akan keluar. Aku tunggu kalian di restoran." Kata Minki seraya keluar dari kamar Hansol dan Seungcheol.
Setelah memastikan Minki sudah keluar, Hansol berbalik menatap Seungcheol yang sekarang tengah berdiri di depan kamar mandi dengan tatapan tajam.
"Jangan bicara yang aneh-aneh, hyung." Kata Hansol.
Seungcheol terkekeh, "Baiklah, maaf, aku kan hanya bercanda." Kata Seungcheol sebelum masuk ke kamar mandi.
Seungcheol selesai mandi 45 menit kemudian. Ketika ia keluar, ia melihat Hansol sudah berganti pakaian dan sekarang tengah duduk di ranjang sambil bersandar pada bed board. Seungcheol membuka lemari dan mengambil bajunya dari sana beserta celana jeans selutut.
"Apa yang akan kau lakukan hari ini?" tanya Seungcheol seraya memakai pakaiannya.
"Entahlah, aku tidak ada ide." Balas Hansol. "Hyung sendiri?"
"Pergi ke pantai, melihat pemandangan yang menyegarkan mata." Jawab Seungcheol.
"Pemandangan yang menyegarkan mata?" ulang Hansol.
"Ya, gadis-gadis yang berjemur di pantai itu kan pemandangan yang menyegarkan mata."
Hansol memutar bola matanya malas, sudah terlalu maklum dengan sifat sepupunya yang seperti ini karena sudah terlalu sering dilihat.
"Dasar mesum." Cibir Hansol.
~oOo~
Seungkwan keluar dari vila beberapa menit setelah Jihoon. Ia berjalan dengan amat sangat pelan karena ia dirinya pergi menemui Minhyuk dalam keadaan terpaksa. Seungkwan bukannya tidak menyukai Minhyuk, tapi entah kenapa tiap bersama Minhyuk, ia selalu risih dibuatnya. Minhyuk sering melakukan hal secara terang-terangan, seperti memperlihatkan kalau dia sedang melakukan pendekatan dengan Seungkwan dan itu menyebalkan. Seungkwan sebenarnya paham kalau Minhyuk sedang berusaha mendekatinya, tapi ia seakan tidak mau tahu. Seungkwan juga mengakui jika apa yang Jihoon katakan tentang Minhyuk menyukainya itu benar, dan lagi-lagi ia berusaha untuk tidak mau tahu.
Dari kejauhan, Seungkwan bisa melihat sosok Minhyuk dengan pakaian santainya berdiri di depan kafe tempat mereka bertemu kemarin sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Seungkwan pun berjalan menghampiri Minhyuk.
"Oh, kau sudah sampai!" seru Minhyuk ketika melihat Seungkwan berjalan mendekat kearahnya.
"Hai," sapa Seungkwan.
"Kau tahu, aku senang sekali kau menerima ajakanku." Kata Minhyuk. "Kukira kau akan menolak."
"Tadinya juga aku akan melakukan itu." Batin Seungkwan.
"Baiklah, apa ada tempat yang mau kau kunjungi?" tanya Minhyuk.
Seungkwan menggeleng, "Aku akan ikut saja." Balas Seungkwan.
"Baiklah, ayo pergi."
Setelahnya mereka pun berjalan beriringan. Minhyuk mulai membuka percakapan diantara mereka agar suasana tidak terlalu canggung sementara Seungkwan hanya mendengarkan dengan baik dan akan membalas jika perlu. Kebanyakan percakapan mereka hari itu didominasi oleh cerita Minhyuk karena Seungkwan memang bukan orang yang senang bercerita. Tanpa Seungkwan sadar, langkah kaki Minhyuk membawanya ke sebuah taman kota yang berada agak jauh dari pantai. Walaupun begitu, keadaan disana tak jauh berbeda dengan pantai. Banyak orang berjalan-jalan disana.
"Mau duduk sebentar?" tawar Minhyuk.
Seungkwan hanya menganggukkan kepalanya. Lalu Minhyuk pun berjalan lebih dulu menuju kursi panjang yang berada di bawah pohon rindang. Seungkwan sendiri mengekor di belakangnya.
"Kau duduk dulu, aku akan membeli minuman." Kata Minhyuk setelah mereka berada di depan kursi panjang tersebut kemudian melesat pergi begitu saja tanpa memberikan waktu untuk Seungkwan menjawab.
Karena pemuda itu sudah terlanjur pergi, Seungkwan pun akhirnya duduk di kursi tersebut. Untuk mengisi waktunya menunggu Minhyuk kembali, Seungkwan mengeluarkan ponselnya dari dalam sling bag yang ia gunakan.
Beberapa menit kemudian Minhyuk kembali dengan membawa dua kaleng cola dingin. Minhyuk memberikan satu kepada Seungkwan sebelum mengambil duduk di samping Seungkwan. Kebetulan ia haus, Seungkwan pun mengambil kaleng cola tersebut dan segera membukanya lalu meneguknya. Minuman dingin memang sangat cocok untuk sekarang karena nyatanya semakin lama, cuaca semakin panas dan sinar matahari semakin terik. Seungkwan bersyukur menggunakan banyak sunscreen sebelum pergi tadi.
"Um...omong-omong teman sunbae kemana?" Seungkwan membuka percakapan.
"Mereka sedang pergi ke pantai, katanya ingin berenang." Jawab Minhyuk. "Temanmu sendiri?"
"Dia sedang berjemur di pantai." Balas Seungkwan.
"Oh ya, kau berapa lama berada di Busan?"
Seungkwan meneguk cola nya lalu menelannya sebelum menjawab,
"Kira-kira sekitar 5 hari. Jihoon bilang dia butuh refreshing setelah sibuk selama beberapa minggu karena festival musim panas sekolah."
"Kalian kesini benar-benar hanya berdua?" Seungkwan mengangguk.
"Kenapa? Ada yang aneh?" tanya Seungkwan sebelum kembali meneguk cola nya.
"Tidak ada, hanya saja apa kalian tidak bosan hanya liburan berdua." Kata Minhyuk.
Seungkwan mengulum senyum, "Aku tidak. Mungkin karena temanku hanya Jihoon, jadi aku sudah terbiasa hanya berdua dengannya."
Minhyuk menganggukkan kepalanya sebentar sebelum kembali meminum cola nya beberapa teguk. Setelah itu keduanya kembali terlibat percakapan random yang didominasi oleh Minhyuk, sementara Seungkwan hanya mendengar dan akan membalas jika diperlukan.
~oOo~
Hansol memilih duduk santai di salah satu kafe di pinggir pantai sementara sepupu-sepupunya pergi entah kemana setelah sarapan tadi. Di hadapan Hansol sekarang ada segelas ice americano yang isinya baru diminum sedikit, dan sepiring berisi butter croissant. Hansol memilih duduk di dekat kaca agar bisa melihat pemandangan pantai di luar.
Kafe tempat Hansol berada sekarang cukup ramai, tak hanya oleh pasangan, tapi juga keluarga. Di kursi yang ada di depan Hansol, terdapat keluarga tengah makan kue bersama, sementara tak jauh darinya terdapat sepasang kekasih sedang minum kopi bersama dengan si perempuan tengah mengoceh sementara si laki-laki mendengar sambil menyeruput kopi pesanannya. Hansol rasa hanya dia yang sendirian disini. Astaga menyedihkan.
Ketika Hansol tengah memakan butter croissant pesanannya, ponsel yang ia letakkan di atas meja tiba-tiba berbunyi. Hansol meraih ponselnya sambil mengunyah butter croissant di mulutnya. Sebuah pesan baru dari Seungcheol masuk ke ponselnya. Hansol pun segera membuka pesan tersebut dan membacanya.
From : Seungcheol hyung
Lihat apa yang aku dapat ketika jalan-jalan. Pemandangan yang luar biasa.
Kalau kau tertarik untuk melihat secara langsung, kau bisa datang kesini, kalau tidak, yah tak apa juga. Tapi bukankah lebih menarik kalau kau melihatnya secara langsung?
Hansol mengerutkan dahi ketika membaca pesan dari Seungcheol, lalu ia membuka foto yang dikirimkan bersama pesan tersebut dan mata Hansol membola seketika ketika melihat foto tersebut secara jelas.
Boo Seungkwan bersama Lee Minhyuk, tengah duduk berdua di satu kursi panjang sambil mengobrol.
Hansol meremat ponselnya tanpa sadar kemudian ia segera berdiri dari kursi dan pergi dari kafe, meninggalkan ice americano dan butter croissant miliknya yang belum habis. Hansol sudah kepalang emosi, tidak bernafsu lagi untuk menghabiskan kedua pesanannya itu.
"Halo, hyung." Hansol menelepon Seungcheol ketika ia keluar dari kafe.
"Oh...Hansol~" balas Seungcheol. "Ada apa menelepon? Oh ya, kau sudah menerima pesan dariku?"
"Aku sedang tidak dalam mode bercanda, hyung." Kata Hansol. "Hyung dimana sekarang?"
Terdengar kekehan di seberang telepon, membuat Hansol memutar bola matanya malas. Ia benar-benar tidak dalam keadaan ingin bercanda, tapi Seungcheol malah menggodanya.
"Aku di taman kota." Jawab Seungcheol kemudian. "Agak jauh dari pantai, tapi kau bisa sampai hanya dengan jalan kaki."
"Jauh? Berapa lama?" tanya Hansol.
"Hm...sekitar 25 menit? Yah, kira-kira. Lain cerita kalau kau lari." Balas Seungcheol.
"Aku akan sampai dalam 10 menit." Kata Hansol sebelum memutus sambungan teleponnya dengan Seungcheol.
Sementara itu, Seungcheol tidak bisa menahan tawanya ketika sambungan teleponnya diputus secara sepihak oleh Hansol. Ia bisa membayangkan wajah Hansol yang memerah menahan emosi. Setelahnya ia kembali memperhatikan dua orang yang tengah duduk bersebelahan yang tak jauh dari tempatnya berada. Sebuah kebetulan yang luar biasa bisa bertemu keduanya dalam satu tempat, dan Seungcheol yakin akan ada drama menyenangkan yang akan terjadi sebentar lagi.
Hansol benar-benar menepati kata-katanya dengan sampai di taman kota dalam waktu singkat. Tidak, Hansol tidak akan repot-repot berlari karena itu melelahkan, ia harus simpan tenaga untuk nanti, jadi Hansol memilih naik taksi. Hansol berhasil menemukan Seungcheol, tapi tidak dengan dua orang yang ada di foto yang Seungcheol kirimkan.
"Hyung !" seru Hansol ketika melihat sepupunya itu tengah duduk di salah satu kursi taman sambil meminum satu kaleng bir dingin.
"Oh kau benar-benar datang! Kupikir kau hanya bergurau." Kata Seungcheol, sementara Hansol sama sekali tidak membalas.
"Hei, lihat disana." Kata Seungcheol lagi seraya menunjuk ke salah satu kursi taman. Hansol mengikuti arah yang ditunjuk oleh Seungcheol.
"Kebetulan sekali bukan? Mereka ada disini ketika kita ada disini." Kata Seungcheol.
Hansol tak membalas ucapan Seungcheol dan malah pergi menghampiri dua orang yang tengah mengobrol di salah satu kursi taman, tempat yang Seungcheol tunjuk tadi. Seungcheol sendiri sama sekali tidak menahan Hansol dan malah bersemangat memperhatikan apa yang akan dilakukan sepupunya itu. Seungcheol mengeluarkan ponselnya dari saku celana lalu merekam aksi Hansol dari tempatnya duduk.
"Aku tidak mengira kita akan bertemu disini," ucap Hansol ketika ia sampai di belakang keduanya. "Boo Seungkwan." Sambungnya.
Seungkwan dan Minhyuk yang tadi tengah mengobrol─atau lebih tepatnya hanya Minhyuk yang bicara─terkejut dengan kedatangan Hansol yang tiba-tiba, terlebih pemuda itu berdiri di belakang mereka. Tapi yang membuat mereka lebih terkejut adalah bagaimana bisa Hansol berada disini. Di Busan.
"Apa aku mengganggu kalian?" tanya Hansol sambil menatap keduanya secara bergantian.
Astaga, kenapa Seungkwan jadi seperti perempuan yang ketahuan selingkuh begini.
"Situasi macam apa ini?" batin Seungkwan.
"Apa yang kau lakukan disini Choi Hansol?" Minhyuk bertanya seraya berdiri dari duduknya, menghadap Hansol yang masih setia berdiri di belakang mereka.
"Sepupuku mengajakku liburan kesini," jawab Hansol. "kau sendiri, sunbae ?"
"Aku-"
"Berkencan dengan Seungkwan?" potong Hansol, membuat Minhyuk tergugu dan Seungkwan yang mendelik kearahnya.
"Kami tidak berkencan!" balas Seungkwan.
Hansol menyunggingkan seringaian di bibirnya kemudian menarik tangan Seungkwan hingga gadis itu berdiri.
"Kalau begitu, apa kau keberatan aku membawanya pergi, sunbaenim ?" tanya Hansol, tanpa berniat melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Seungkwan.
Sadar dengan keadaan, Minhyuk pun meraih pergelangan tangan Seungkwan yang lain sebelum gadis itu benar-benar dibawa pergi oleh Hansol. Ia tidak mau kecolongan lagi. Ini kencannya dan ia tidak akan membiarkannya berantakan seperti sebelumnya.
"Aku keberatan karena aku yang lebih dulu membawanya bersamaku." Balas Minhyuk. "Jadi kurasa kau harus melepaskannya, tuan Choi Hansol."
"Bagaimana kalau kita membiarkannya memilih sendiri? Lebih adil, bukan?" tawar Hansol sambil menatap manik cokelat mata Seungkwan dalam-dalam, membuat gadis itu merona sendiri karena ditatap seintens itu oleh Hansol.
"Baiklah Boo Seungkwan, silahkan pilih, kau mau pergi dengannya atau denganku?" kata Hansol seraya melepas pergelangan tangan Seungkwan diikuti Minhyuk yang juga ikut melepas pergelangan tangan gadis itu.
Seungkwan terdiam. Ini situasi yang Seungkwan selalu berusaha hindari bagaimana pun caranya. Ia benci berada diantara kedua pemuda ini, membuatnya pusing saja.
Untuk sekarang yang bisa Seungkwan lakukan adalah berharap ada pertolongan dari siapapun itu agar ia bisa lepas dari situasi menyulitkan ini. Dan ketika Seungkwan hendak bicara, kebetulan ponsel gadis itu berdering membuat pemiliknya tersentak. Lalu dengan segera, Seungkwan mengeluarkan ponselnya dari dalam sling bag yang ia pakai.
Jihoon meneleponnya.
Seungkwan tak bisa lebih lega dari ini. Seungkwan pun segera berjalan menjauh dari kedua pemuda yang tengah memperhatikannya itu untuk mengangkat panggilan masuk dari Jihoon.
"Halo, Kwan, kau dimana? Ayo kita makan siang bersama."
"Jihoon! Kau tidak tahu bahagianya aku ketika kau menelepon!"
"Hei...hei, kau kenapa, Kwan? Apa yang terjadi?"
"Akan aku ceritakan nanti, kau ada dimana sekarang biar aku kesana."
"Kedai jjamppong di dekat vila, cepatlah kesini, disini ramai aku takut tidak dapat tempat." Balas Jihoon.
"Oke, tunggu aku, aku akan kesana segera."
Setelahnya Seungkwan memutus panggilan tersebut lalu kembali menghampiri kedua pemuda yang masih setia berdiri di tempat mereka masing-masing.
"Maafkan aku, Jihoon membutuhkanku sekarang dan aku harus segera pergi." kata Seungkwan.
"Biar aku antar." Kata Minhyuk cepat.
Seungkwan menggeleng, "Tidak perlu oppa, aku bisa pergi sendiri."
Hansol meringis dan memasang wajah jijik ketika Seungkwan memanggil Minhyuk dengan panggilan oppa. Rasanya ingin muntah saat ini juga.
"Tapi Seungkwan-"
"Dia bilang dia bisa pergi sendiri, sunbaenim. Apa kau tuli?" Hansol sengaja memotong ucapan Minhyuk, membuat pemuda itu mendelik tajam kearah Hansol.
Merasa situasinya semakin tak mengenakkan, Seungkwan pun buru-buru pamit lalu pergi dari sana, meninggalkan kedua pemuda itu. Selepas Seungkwan pergi, Hansol pun ikut pergi meninggalkan Minhyuk. Ia kembali menghampiri Seungcheol yang masih duduk di tempatnya tadi dengan kaleng bir yang entah sudah yang keberapa.
"Kau keren juga kalau sedang cemburu." Kata Seungcheol.
"Ini masih siang, jangan mabuk, hyung." Balas Hansol seraya mengambil bir milik Seungcheol lalu meneguknya.
"Kau membiarkan Seungkwan pergi sendiri?" tanya Seungcheol.
Hansol menggeleng seraya mengembalikan bir tersebut pada pemiliknya lalu melesat pergi menyusul Seungkwan yang belum terlalu jauh. Seungcheol takjub melihat sepupunya yang sedingin bongkahan es itu tiba-tiba menjadi seperti itu ketika jatuh cinta. Ternyata kalimat jatuh cinta bisa membuatmu berubah bukan hanya hisapan jempol semata.
Seungkwan yang tengah duduk di halte bus terdekat untuk pergi kembali ke pantai tiba-tiba tersentak ketika tangannya tiba-tiba ditarik hingga ia berdiri. Ia membulatkan matanya ketika melihat Hansol sudah berada di hadapannya dengan seringai yang menghiasi wajah tampannya itu.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Seungkwan.
"Kau tahu kan kalau aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian?" kata Hansol.
"Lepaskan," kata Seungkwan. "aku bisa pergi sendiri."
Hansol menggeleng lalu menarik tangan Seungkwan pergi dari halte bus. Pemuda itu berdiri di pinggir jalan lalu menghentikan taksi yang lewat, kemudian menyuruh Seungkwan masuk secara paksa ke dalam taksi diikuti olehnya dari belakang.
"Kau akan kemana?" tanya Hansol.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan, hah?!" seru Seungkwan.
"Menunggu bus terlalu lama, teman pendekmu akan kesal kalau kau tidak cepat datang. Naik taksi lebih cepat, nona Boo." Balas Hansol. "Ayolah cepat katakan kau akan kemana, kau tidak mau membuat supir taksi ini menunggumu selesai marah padaku, kan?"
Seungkwan menghela nafas jengah lalu mengatakan kemana tujuannya pada supir taksi tersebut.
"Aku heran padamu, Choi Hansol." Kata Seungkwan ketika taksi tersebut mulai berjalan.
"Apa?" balas Hansol.
"Kenapa kau suka sekali melakukan pemaksaan seperti ini? Kalau aku jahat, aku bisa melaporkanmu atas tindakan penculikan." Kata Seungkwan kesal.
"Tapi nyatanya kau tidak melakukan itu, berarti kau tidak jahat." Balas Hansol. "Aku tidak akan menjawabnya jadi berhenti bertanya." Sambungnya kemudian.
"Tapi aku ingin tahu kenapa kau selalu seperti ini kalau aku bersama dengan Minhyuk oppa ? Itu menyebalkan, kau tahu."
Hansol tidak membalas ucapan Seungkwan dan malah pura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Choi Hansol, jawab aku!" seru Seungkwan. "Kau membuatku bingung."
Tapi Hansol masih tidak menjawab. Ia memilih untuk menulikan pendengarannya daripada harus menjawab pertanyaan Seungkwan karena kalau ia menjawabnya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.
Hansol kira Seungkwan akan berhenti sendiri jika ia tidak menjawab, tapi ia salah. Gadis itu justru semakin parah memojokkannya, bahkan sekarang Seungkwan dengan menyebalkan terus menerus memanggil namanya. Akhirnya dengan nada suara yang naik, Hansol pun berseru kearah Seungkwan,
"Aku cemburu! Puas kau sekarang?! Sekarang diamlah, kau membuat telingaku berdengung!" seru Hansol seraya membuang muka dari Seungkwan.
Lalu bagaimana dengan Seungkwan?
Gadis itu tentu saja terkejut dengan jawaban Hansol. Ia mengerjapkan matanya, melihat kearah Hansol yang duduk di sebelahnya dengan mata yang mengarah ke kaca taksi. Butuh waktu beberapa saat untuk Seungkwan mencerna dengan baik ucapan Hansol tadi.
Tanpa Seungkwan sadar, jantungnya berdetak dengan berantakan dan ia merasa aliran darahnya mengalir cepat ke wajahnya, membuat kedua pipinya merona hingga telinga.
"Dia bercanda, kan?" batin Seungkwan.
-TBC-
Author's Note(s) :
1. Hai~aku balik lagi sama chapter baru. Aku selesaiin chapter ini kalo gak salah cuma 3-4 hari. Ngebut parah. Bagian akhir malah aku cuma ngetik selama 2 jam dan menghabiskan satu gelas kopi:) kalo lagi banyak ide emang luar biasa jari ini.
2. Aku gak tau kalian bakalan suka apa engga sama chapter ini, tapi kalo aku pribadi suka karena lucu aja Hansolnya disini:) Cemburu kok bilang-bilang wkwk
3. Buat sekarang aku masih gak ada ide mau diapain Minhyuk sama Hansol buat chapter depan. Sekarang kan masih adu bacot, kalo misalnya nih chapter depan aku bikin mereka berantem (dalam artian beneran berantem pake fisik) kalian ridho lahir batin gak? Yah mungkin aja kan ada yang gak rela biasnya aku bikin babak belur hehe. Tapi ini masih plot kasar aku aja, belum tentu aku bikin mereka berantem beneran di chapter depan.
4. Aku rencananya mau bikin salah satu temen Hansol tau soal perasaannya Hansol ke Seungkwan (kan selama ini cuma Seungcheol sama Mingyu aja yang tau), enaknya aku bikin gimana dan siapa ya? Pengen Soonyoung, tapi aku ngerasa Soonyoung muncul terus. Pengen sekali-kali yang lain muncul gitu biar gak keliatan kayak figuran banget
Seperti biasa readers-nimku~tinggalkan segala macam protes, saran, kritik kalian di kolom review~~dan semoga kalian tetap setia menunggu ff ini selesai karena perjalanan masih panjang. Tetap semangatin author ya karena kadang author suka kehilangan motivasi buat nulis hehehe yah namanya juga manusia biasa.
Semoga kalian suka sama chapter ini~
Aku sayang kalian readers-nimku~~:*
