Judul : Hikari no Honoo

Author : saiganokotoba

Rating : T

Genre : Supernatural, Drama

Character : Kagami (Main), All

Warning : AU

Disclaimer : © Fujimaki Tadatoshi

Kurobas Characters in a different Universe and Storyline

Inspired by Kyoko Karasuma's Case files Manga by Hiroi Ouji and Kozaki Yusuke

*There will be no (real) pairing in this fanfiction

*There are some characters that haven't get animated and only showed in Manga

*Kappa = One of Japanese Myth Creatures. A human-like turtle who live in the water.


Chapter 21 Unwilling Reality


"Aku pulang." Ujar Reo, putra tunggal keluarga Mibuchi sembari menutup pintu rumahnya. Ia melepas kedua sepatunya kemudian dengan cekatan ia memasukannya ke dalam rak sepatu. Berbeda dengan anak SMA seumurannya yang terbiasa membiarkan sepatunya tergeletak begitu saja di depan pintu, Reo tak pernah absen mengembalikan benda apapun ke tempat asalnya kembali.

Namun, sebelum melangkah masuk lebih dalam, Reo berhenti sejenak. Pemuda berambut hitam panjang itu merasakan sebuah keganjilan di rumah ini. "Terlalu sepi." Gumamnya. Ia memang hanya tinggal berdua dengan ayahnya, namun, ayahnya yang seorang peneliti, tak pernah meninggalkan rumah ini. Meskipun ketika ayahnya terlalu khusuk dengan penelitiannya hingga tak mendengar suara Reo kembali ke rumah, setidaknya rumah ini tidak terasa 'semati' ini. Paling tidak ada suara mesin cuci yang sedang digunakan atau suara musik dari gramofon tua warisan kakek Reo.

Reo pun melangkah perlahan-lahan menuju ruang tengah. Samar-samar ia merasakan aura manusia berada di tempat itu. Aura manusia yang tak pernah ditemuinya. Aura penyusup.

Sang pemuda pun akhirnya berada pada jarak dimana ia bisa melihat apa yang terjadi di ruang tengah tersebut. Ia tak salah. Banyak sekali orang berkumpul disana, mengenakan pakaian hitam yang sama. Mereka menutupi mulut mereka dengan sebuah kain hitam, seperti Ninja jaman dahulu. Kemudian di atas sofa, duduk orang yang sangat Reo kenal; sang Ayah dengan posisi terikat tak bisa bergerak akibat pisau yang tak mau minggir dari lehernya. "A-yah.."

"Reo-" Ucap sang ayah, lega melihat anaknya kembali. Namun pisau yang makin mendekat sembari ia bicara membuatnya tak bisa mengatakan apapun lagi.

"Hai lihat, anakmu sudah pulang." Celetuk salah seorang dari kelompok penyekap itu. Ia terlihat paling berkuasa di sana, meskipun postur badannya yang lumayan kecil dibanding anggota lainnya, namun dari balik kain yang menutupi setengah wajahnya, Reo bisa tahu, orang ini lah yang memegang kendali. "Apa kau masih juga tak mau bicara? Mibuchi Kentaro.."

Reo, remaja berumur 17 tahun itu tak bisa berbuat apa-apa melihat sang ayah diancam. Ia terlalu syok melihat hal yang harusnya hanya terjadi di dalam film ini mendadak benar-benar ada di hidupnya. Ia bahkan sampai tak menyadari sebilah pisau lain kini juga bertengger di lehernya.

"Jadi, jawab pertanyaan kami, Mibuchi-san. Kau, seorang ilmuwan nuklir kelahiran Kyoto yang meraih gelar doktor di Jerman, tak mungkin hanya mengerjakan pekerjaan 'halal' saja. Pasti ada satu atau dua hal ilegal yang kau lakukan, bukan?" Tanya sang pemimpin kepada targetnya. Ia mendekatkan wajahnya agar suara dan tatapannya terasa lebih mengintimidasi.

"Aku tak mengerti maksudmu."

"Hoo.." Sang pemimpin pun mundur dari wajah sang target. "Susa. Kelingking."

"Eh?" Gumam Reo tak mengerti.

"Siap." Laki-laki yang dipanggil dengan Susa itu adalah lelaki yang kini diberi tugas untuk menjaga supaya Reo tak bergerak. Ia pun menaruh pisau yang digunakannya itu di meja. Kemudian, tanpa merasa bersalah, ia mematahkan jari kelingking kanan Reo.

"Uwaaaaargh!"

"Reo!" Sang ayah berusaha bangkit dari duduknya, namun sang pemimpin mendorong sang korban dengan kakinya.

"Kau kenal Akashi Seijuro?"

"Tidak! Kumohon! Aku tak tahu apa-apa! Lepaskan Anakku!" Mibuchi yang tak kuasa melihat anak satu-satunya diperlakukan seperti itu pun menitikkan air mata.

"Jari manis."

"Siap."

Krek

Reo menjerit.

"Cukup! Kumohon! Apapun akan kulakukan, kumohon lepaskan anakku." Mibuchi kini bersujud di hadapan sang pemimpin.

"Jari tengah."

.

.

"Nijimura!" Panggil salah seorang pendeta pada temannya yang baru saja selesai membakar dupa.

"Ada apa?" Balas Nijimura kesal sambil menengok ke arah teman seperguruannya itu. Meskipun ia sudah selesai berdoa, tetap saja ia tidak suka diganggu ketika sedang berada di depan altar.

"Ada orang yang mencarimu."

"Hah? Siapa?" Nijimura mengerutkan kedua alisnya.

Bagaimana ada orang bisa tahu aku ada disini?

Meskipun tahu, ada urusan apa mereka denganku?

"Aku tidak tahu, tapi sepertinya mereka pendeta juga."

"Mereka?"

Kenapa jadi banyak.

.

.

Nijimura pun berhenti sejenak di depan pintu menuju ruang tamu kuil itu. Ia menarik napas dalam-dalam. Sudah lama ia tak bertemu dengan orang dari dunia luar, batinnya. Bahkan orang dari gunung Koya pun tak pernah sekalipun mengunjunginya semenjak ia ditugaskan di kuil itu. Siapa gerangan orang yang tiba-tiba datang ke tempat ini, pasti dia punya maksud yang tak lazim; batinnya. "Maaf menunggu la-"

"Senpai!"

"Huh? Aomine?!" Nijimura terkejut hingga ia melangkah satu ke belakang. Ia sudah lama sekali tidak melihat Aomine. Terakhir kali ia melihat bocah yang satu itu sebelum ia dipindahkan ke kediaman Klan Kuroko. Dulu, mereka berdua adalah saudara seperguruan di gunung Koya. Namun, kini keduanya sudah memilih jalan masing-masing. "Apa yang kau lakukan disini?!" Tak disangka, di saat yang tak diduga-duga seperti ia malah harus reuni dengan adik kelasnya itu. Yup, adik kelas yang kini sudah lebih tinggi dan macho darinya. 'Menjengkelkan', batinnya.

"Tentu saja- aku ada butuh denganmu." Aomine, tanpa malu, menjabat tangan kakak kelasnya itu.

"Butuh- siapa itu di belakangmu?" Nijimura menyadari sesosok lain yang duduk di ruangan tersebut. Ia berani jamin ia tak pernah bertemu anak laki-laki itu sebelumnya.

"Dia Kagami, sang cahaya yang sebenarnya." Jelas Aomine singkat.

"Ah, salam kenal." Kagami kemudian berdiri dan membungkuk sopan.

"Oh caha- APA?! Cahaya?!" Nijimura pun mundur selangkah lagi, namun kali ini sialnya ia tak memerhatikan langkahnya. Ia pun terjerembab di antara ilalang-ilalang tinggi.

"Kau kenapa sih, Senpai?" Aomine melirik kakak kelasnya itu dengan pandangan meremehkan. Meskipun begitu ia tetap mengulurkan tangan untuk orang yang dihormatinya itu.

"Berisik." Malu-malu, Nijimura pun membalas uluran tangan Aomine. Setelah berdiri dan membersihkan pakaiannya dari kotoran tanaman, ia pun kembali menatap tajam Aomine. "Jadi mau apa kau kesini?"

"Haha, sebenarnya aku ada perlu soal-"

"Soal apa?"

"Soal Akashi Seijuro."

Nijimura terdiam kembali. Ia pun mendorong Aomine kembali masuk ke dalam ruang tamu, lalu ia juga menutup semua pintu dan jendela rapat-rapat. Setelah itu, pria yang lebih tua itu pun duduk menghadap kedua 'adik'-nya itu. "Di kota ini, di Kyoto, nama itu sudah seperti legenda. Kau tak bisa sembarangan menyebutnya disini."

"Memangnya dia sebegitu berbahayanya ya?" Tanya Aomine.

"Tidak. Disini ia adalah pahlawan dan kota ini adalah rakyatnya. Berada di sarang musuh tapi masih ceroboh seperti itu, aku heran bagaimana cara kalian sampai disini dengan selamat."

"Itu sih karena ada aku-" Celetuk Kagami bangga.

"Ugh- Kalau begitu, apa kau adalah salah satunya, Senpai?"

"Hmm.. Dibilang iya juga tidak, dibilang tidak juga bukan. Kalau boleh dikatakan, mungkin aku sebenarnya tak peduli pada apa yang terjadi dengan kota ini asalkan tidak merugikan umat manusia. Aku rasanya itu yang dipikirkan oleh sebagian besar pendeta asli Kyoto, baik mereka yang ada di Gunung Koya dan Hiei ataupun yang sudah menetap di kota sepertiku. Sejak dulu kami tak pernah menganggap Oni sebagai musuh berat yang harus disingkirkan. Perguruan kita hanya mengajarkan kita bagaimana cara melindungi dan menolong manusia, dan Oni hanya merupakan salah satunya.

Tapi hal itu berbeda dengan empat klan besar yang ada di Tokyo. Kepentingan mereka hanyalah politik dan kekuasaan. Bagaimana caranya mempertahankan posisi tinggi manusia di Negara ini, hanya itu yang mereka pikirkan. Dan hal itulah yang tidak disukai oleh Akashi. Karena itulah, baginya, satu-satunya jalan untuk menyenangkan kedua pihak hanyalah berpisah teritori. Berpisah kekuasaan. Akan tetapi, rasanya tidak akan semudah itu."

"Lalu kenapa ia membutuhkan Kuroko?" Tanya Kagami.

"Eh?" Nijimura yang tak mengetahui soal diculiknya Kuroko pun terbengong-bengong.

"Ah biar kuceritakan.." Aomine pun menyerobot dan menjelaskan duduk perkara hingga saat itu. Bagaimana cahaya baru ditemukan dan bagaimana Kuroko diculik.

"Aku tak tahu. Namun sepertinya ia tahu sesuatu yang penting, yang kita tidak tahu, mengenai ramalan itu sehingga ia bisa memilih jalan yang tidak kita duga. Harusnya malam itu dia bisa menculik kalian berdua dengan mudah, bukan? Tapi kenapa ia hanya menginginkan sang bayangan?" Nijimura memberi jeda sesaat untuk melihat reaksi Aomine dan Kagami. "Sepertinya ia dan Kuroko memiliki suatu hubungan, entah di masa lalu atau mungkin di masa nanti. Yang jelas bagi Akashi, Kuroko adalah unsur penting untuk menjalankan misinya. Tapi tidak dengan sang cahaya- mungkin ia memang tak membutuhkanmu atau mungkin dia sudah memperkirakan kalau kau akan datang sendiri.. ke kediamannya."

Kagami menelan ludah dengan cemas. Apa yang diucapkan Nijimura sepertinya benar. Apa mungkin Akashi sudah memperhitungkan semua ini? Bahwa ia, sang Cahaya, akan masuk ke genggaman tangannya dengan rela hati.

"Aku rasa tidak." Ujar Aomine.

"Eh?" Gumam Kagami kaget.

"Soalnya dia tidak mungkin memperkirakan kalau kau datang bersamaku." Aomine tersenyum bangga.

"Begitu ya.." Ujar Kagami dan Nijimura bersamaan. Wajah mereka tampak malas menanggapi komentar Aomine.

"Jadi bagaimana? Apa yang akan kalian lakukan sekarang?" Tanya Nijimura sekali lagi.

"Masih sama dong! Antar kami ke kuil Soen!"

"Ugh.. Kalian ini keras kepala. Baiklah, aku akan membawa kalian ke tempat orang yang bisa membantu kalian." Nijimura pun melepas napas.

"Memangnya siapa?" Tanya Kagami.

"Dia satu-satunya orang yang bisa membantu kalian masuk ke dalam kuil penuh penjagaan ketat itu."

.

.

"Memangnya dia orang seperti apa?" Tanya Aomine penasaran.

"Hem? Oh dia- yah, orangnya sedikit menyusahkan sih tapi sepertinya kalau kalian yang minta dia tidak akan keberatan untuk membantu." Jawab Nijimura sambil tetap fokus menyetir. Karena ia baru saja berhasil mendapatkan SIM, jadi cara menyetirnya penuh kehati-hatian.

"Memangnya dia siapa? Pendeta juga?" Terka Kagami.

"Ehm.. Bukan sih." Nijimura mencoba mencari jawaban yang tepat, namun rupanya mereka sudah sampai di tempat tujuan. "Kalian lihat sendiri saja deh." Nijimura pun memberhentikan mobil kecil berwarna putihnya itu di depan sebuah rumah tua khas tradisional Jepang. Ia sangat hati-hati dalam memarkirkan mobilnya, karena bagaimanapun mobil itu adalah milik kuil, bukan miliknya pribadi.

"Wah, rumahnya tampak tua dan tak terurus." Komentar Aomine sambil membuka pintu mobil. "Pasti kakek-kakek yang tinggal disini."

"Ehm gimana ya.." Gumam Nijimura. Sang kakak kelas pun ikut turun dan langsung memencet bel yang ada di dekat gerbang rumah. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya ada juga suara kaki yang mendekat ke arah gerbang kayu rumah tersebut.

"Siapa ya?" Sang pemilik rumah membuka pintu dengan santai tanpa ada rasa curiga. "Shuuzou?! Ada angin apa kau kesini?"

"Perempuan?" Aomine dan Kagami sama-sama tidak menduga kalau orang yang dimaksud oleh Nijimura itu adalah seorang perempuan muda berambut kuning, dan jujur saja, dari mata mereka sebagai laki-laki yang sedang puber, wanita itu tampak seksi. Tapi entah kenapa, keduanya merasa ada yang janggal dengan wanita itu. Ia tampak seperti mirip seseorang..

"Kalau bukan karena mereka berdua-" Nijimura menunjuk dengan ibu jarinya ke arah Aomine dan Kagami, yang kemudian menunduk malu karena tiba-tiba ditatap oleh wanita cantik. "-yang ingin minta bantuanmu soal jalan menuju kuil Soen."

"Heeeeh? Ada urusan apa mereka di sarang Akashi?" Sang wanita mendekat ke arah dua laki-laki yang baru dikenal dan dilihatnya itu.

"Kami harus menjemput seseorang yang penting.. ehem.. penting bagi kami." Jawab Aomine tegas.

"Hoo.. keren juga. Baiklah, mari kita ngobrol di dalam." Ia pun membalikkan badannya sembari mengibas rambut kuning bergelombangnya itu, mencoba untuk sedikit menggoda anak-anak muda itu.

"Dia mirip seseorang ya.." Gumam Kagami sambil menelan ludah.

"Iya.. kau tahu siapa yang ada di pikiranku?"

"Aku juga kepikiran seseorang ketika melihatnya."

"Kise." Ujar Aomine dan Kagami kompak.

Mendengar itu, sang wanita pun menghentikkan langkahnya. "Kalian kenal Ryouta?"

"Eh?"

"Haah-" Nijimura melepas napasnya. "Reika ini adalah kakak perempuan dari Calon Ketua Klan Kise saat ini."

"HEEEEEEE?!" Aomine dan Kagami pun serentak terkejut.

"Yah, meskipun dibilang kakaknya, kami jarang sekali bertemu." Balas Reika sambil melanjutkan kembali langkahnya ke dalam rumah, sambil diikuti oleh ketiga tamunya itu. "Paling hanya waktu tahun baru saja."

"Aku tak pernah dengar kalau klan Kise memiliki dua anak." Komentar Aomine yang masih tertegun menerima kenyataan itu.

"Tentu saja, karena aku bukan anak dari klan Kise." Reika menengok ke belakang sekali lagi. "Aku dan Ryota hanya saudara seibu." Seraya ia bicara seperti itu, Reika tersenyum, namun kali ini senyumnya tampak berbeda. Sebuah aura yang sama sekali tidak dirasakan oleh Aomine dan Kagami kini ikut memeriahi senyum tersebut. Sebuah aura yang menandakan kalau Reika, bukanlah manusia.

"Kau.. Oni?" Ucap Aomine.

"Tu-tunggu, kalau kau Oni.. lalu-" Kagami berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Kalau mereka saudara seibu dan perempuan satu ini adalah seorang Oni, berarti Kise-

"Tenang saja, Ryota tidak sama sepertiku."

"Bagaimana bisa, kalian kan dari ibu yang sama."

"Akan lebih baik kalau kalian tanyakan sendiri kepadanya. Kalian temannya kan?"

Aomine dan Kagami pun bertukar lirikan, seperti berkata 'Apa boleh buat'

.

.

"Jadi, sebenarnya kalian siapa?" Tanya Reika tanpa basa-basi lagi. Meskipun ia tinggal sendirian di rumah itu, namun ruang tamu bertatami yang mereka tempati saat itu tampak bersih dan terawat. Padahal rumah itu cukup besar untuk diurus sendirian. Terlebih lagi Reika tidak tampak seperti wanita kurang kerjaan yang hobi membereskan rumah.

"Yang itu Aomine, dari perguruan Touou. Dan yang berambut merah itu Kagami Taiga, yah.. bisa dibilang dia adalah sang 'Cahaya' yang diramalkan." Jelas Nijimura sambil mengambil cangkir berisi teh hijau yang dihidangkan oleh sang tuan rumah.

Wajah Reika tampak terkejut sesaat, namun raut wajahnya kembali tenang. "Jangan bilang orang penting yang kalian maksud itu Kuroko sang bayangan?"

"Yah.. begitulah." Jawab Kagami mengiyakan.

"Hemm.." Reika menyandarkan kepalanya hingga kepalanya menghadap ke langit-langit. "Dulu rumah ini adalah salah satu kediaman penting klan Oni kami. Namun setelah operasi 21 dilaksanakan, klan kami tercerai berai."

"Operasi 21?" Bisik Kagami pada Aomine.

"20 tahun yang lalu itu salah satu Operasi dari pemerintah pusat dalam rangka melumpuhkan 21 klan Oni yang dianggap berbahaya dan mengancam. Operasi itu sebenarnya melanggar perjanjian, namun selama ini Negara selalu mengelak dan mengaku kalau operasi itu dilakukan oleh pihak lain." Balas Aomine dengan nada lumayan cepat, takut tertinggal mengikuti cerita Reika.

"Aku sendiri sudah meninggalkan rumah ini, namun akhirnya aku kembali lagi kesini dua tahun lalu. Namun saat aku kembali, rumah ini sudah digunakan oleh Akashi sebagai salah satu jalan melarikan diri dari kuil Soen, markas besarnya. Kukira akhirnya aku harus merelakan rumah ini, tapi pemuda itu malah menyuruhku tinggal lagi disini. Ia memutuskan untuk menggunakan kediaman lain yang tak digunakan sebagai jalur melarikan diri. Karena itu, jalur yang sudah susah payah dibuat olehnya, yang menyambung dengan rumah ini, tak dipakai lagi. Tentu saja ia sudah memasang berbagai perangkap dan penghalang jika ada yang mencoba masuk lewat jalur yang sudah tak aktif ini. Tapi.. coba saja." Reika pun mengangkat kepalanya dan menatap tajam Aomine dan Kagami, seperti menantang.

"Dengan senang hati." Jawab Aomine dan Kagami serentak, dengan sedikit keraguan.

"Kalau begitu-" Reika pun bangun dari duduknya. Ia memerhatikan tatami di bawah meja yang ada di depannya. Kemudian, tiba-tiba ia mengangkat lapisan tatami itu dengan paksa hingga mementalkan meja yang ada di atasnya. Tarikan itu begitu kuat hingga lapisan tatami itu putus total dan kesatuan lantainya.

"Dia benar-benar Oni-" Gumam Aomine tertegun.

Byur!

"Reika, aku harap kau ingat kalau ada cangkir teh diatasnya- PANAS!" Nijimura pun panik bukan main ketika kepalanya tersiram cangkir berisi teh yang masih panas itu.

"Maaf deh." Reika pun melempar handuk kecil ke arah kenalanya itu. "Nah, sekarang, ayo kalian berdua loncat ke dalam sini." Ajak Reika sambil menunjuk ke dalam lubang yang tadi ditutupi oleh lapisan tatami.

"Ke-kesitu?" Aomine dan Kagami mengintip sedikit ke dalam lubang hitam tersebut, bagi mata mereka, lubang itu tampak tak berujung dan berdasar.

"Tentu saja, sudah jangan banyak lama-" Reika yang tak sabaran pun mendorong kedua laki-laki itu ke dalam lubang tanpa ada ragu sama sekali. "Dadah!"

"WU-WUAHHHHHHHHHHH!" Perlahan suara teriakan mereka pun pupus dihapus oleh jarak.

"Aku tak menyangka kau semudah itu mau membantu mereka." Komentar Nijimura sambil terus mengelap kepalanya.

"Kalau mereka bukan teman Ryouta, aku pasti tak akan menolong." Balasnya sambil meregangkan otot-ototnya yang sudah lama tak dipakai.

"Kau benar-benar sayang adik ya." Nijimura tersenyum.

.

.

"Kukira aku hampir mati." Ujar Aomine sambil merangkak keluar dari dalam saluran air. Kagami yang sudah keluar terlebih dahulu pun mengulurkan tangan kirinya pada sang rekan. Di tangannya yang satu lagi ia menggenggam sebuah senter yang ternyata ikut dilempar oleh Reika ketika ia menendang kedua pemuda itu. Untung saja senter itu bukan merk murahan sehingga tidak mati saat nyemplung ke air.

"Coba kalau selokan itu tidak dalam, habis kita." Aomine pun menyambut uluran tangan Kagami, yang kemudian membantunya naik.

"Huh, aku tak menyangka di bawah kota ini ada gorong-gorong sebesar ini." Aomine melirik ke kanan dan ke kiri, kagum melihat betapa besarnya gorong-gorong itu. "Sepertinya dulu tempat ini memang sempat berfungsi, namun sepertinya sudah tidak digunakan lagi. Dan si licik Akashi itu tahu keberadaan tempat ini, dan ia menggunakannya sebagai salah satu jalur darurat untuk bisa bergerak bebas di dalam kota."

"Aku heran kenapa dia tidak membungkam Reika, padahal bisa saja kan ia memaksanya untuk turut serta."

"Yah, dia memang orang yang misterius- ehm, Kagami, kau dengar suara itu?" Raut wajah Aomine berubah seketika. Ia seperti mendengar suara keras dari salah satu ujung gorong-gorong.

"Tidak. Perasaanmu saja kali."

"Oh mungkin saja." Aomine pun berusaha menghiraukan suara tersebut. "Ngomong-ngomong kita jalan ke arah mana ya?"

"Mana kutahu, kukira kau tahu."

"Hah?" Aomine pun melihat ke kanan kiri sekali lagi. "Mungkin ke sini." Tunjuk Aomine ke arah kiri.

"Kenapa kau yakin?" Kagami ragu.

"Tidak tahu, aku hanya mengikuti insting."

Insting apanya..

Meskipun tak percaya, namun akhirnya Kagami pun mengikut saja. Namun, tiba-tiba Aomin berhenti melangkah. "Kau dengar itu?"

"Apaan sih aku tak dengar apapun-

CPYAR CPYAR

-apa itu?" Kedua orang itu terdiam, sambil mendengarkan suara yang seperti langkah di dalam air. Dan sepertinya suara itu datang dari arah yang mereka tuju. Semakin keras dan keras, hingga mengguncangkan gorong-gorong tua itu. Namun, keduanya, tak dapat bergerak. Mereka tak tahu harus bergerak kemana dan harus apa. Satu-satunya cara hanya menunggu hingga benda atau mahluk yang menimbulkan suara itu menunjukkan batang hidungnya.

"Suaranya.. berhenti?" Aomine pun menengok kembali ke jalan yang ia tuju. Baru saja ia bilang begitu, sebuah suara napas yang dalam memecahkan keheningan. "Oh tidak.." Gumam Aomine. Kagami pun perlahan mengarahkan senternya ke arah objek yang kini berdiri di depan rekannya itu.

"GROAAAAAAAAAR!" Betapa mengejutkannya, sebuah kura-kura jejadian besar kini tengah berdiri di hadapan mereka. Meskipun tubuhnya jelas adalah kura-kura, namun kepala mahluk itu mirip seperti manusia jejadian. Bahkan mahluk itu juga berambut seperti manusia, dengan bulatan putih besar di bagian ubun-ubun.

"Hei Aomine, apa ini Kappa?" Tanya Kagami dengan kakinya yang bergetar hebat.

"Mungkin saja." Balas Aomine berusaha tenang.

"Aku baru tahu kalau ada Kappa setinggi dua puluh meter, haha-"

.

.

.

Di sebuah rumah yang terletak di salah satu distrik perumahan Kyoto, Hayama Kotaro, seorang pemuda yang masih duduk di bangku SMA, asik memainkan gitar listrik kesayangannya. Ia sedang mencoba-coba, mencari nada yang cocok untuk lagu barunya. Meskipun terlihat serampangan, namun Hayama memiliki impian yang besar sebagai musisi.

"Kotaro-niisan." Tiba-tiba saja sesi hobinya itu diganggu oleh terbukanya pintu kamar sang pemuda. Seorang gadis kecil berumur 8 tahun, sambil memeluk boneka kelincinya, memasuki kamar orang yang dianggapnya sudah seperti kakak laki-laki itu. "Aku boleh ikut main?"

"Haha, aku tidak sedang main, Mayu." Meskipun diganggu di tengah kesibukannya, Hayama tetap menerima keponakannya itu dengan riang. Ya, Mayu adalah anak dari kakak laki-lakinya yang kini bekerja sebagai professor di sebuah universitas bergengsi di Kyoto. "Tapi kau boleh ikut, sini."

Gadis kecil berkuncir dua itu pun tersenyum dan duduk di sebelah Hayama. "Kau sedang main lagu apa?"

"Tidak sedang main apa-apa kok, aku hanya sedang iseng."

"Tidak seru."

"Maaf deh-"

Brak

Tiba-tiba suara pintu dibuka dan ditutup terdengar. Hayama kenal betul dengan suara itu. Itu adalah suara pintu masuk. "Apa ayahmu pulang?"

"Tidak tahu."

Drap drap drap

Setelah suara langkah kaki yang semakin mendekat, mendadak pintu kamar Hayama kembali dibuka, kali ini oleh kakak laki-lakinya yang tampak terengah-engah seperti habis dikejar setan. "Cepat ambil barang yang kalian yang penting, kita akan pergi dari sini."

"Pergi? Pergi kemana?"

"Sudah lakukan saja! Mayu, ayo bantu ayah membenahi barangmu." Sang ayah pun mengulurkan tangannya ke anak perempuan satu-satunya itu. Mayu yang juga kebingungan seperti paman mudanya itu hanya bisa menurut.

"Ada apa sih…" Gumam Hayama bingung.

.

.

.

"Lapor. Sepertinya target sudah menyadari kalau ada yang mengejarnya." Ujar seseorang dari atas pohon yang berada di dekat rumah keluarga Hayama. Ia tak sendirian, beberapa teman juga berdiri di sekitar tempat yang sama. Mereka semua bersiap untuk melancarkan misinya. "Ya, disini tim Washi. Minta izin untuk memulai operasi."

"Diterima." Jawab seseorang yang berada di line yang sama.

"Oke, semuanya, Semangka!"

"Apa dia baru saja membuat lelucon? Kalau iya, aku tidak mengerti." Komentar salah seorang anggota yang berambut pirang, ia sepertinya sudah lelah dengan tingkah ketuanya.

"Sudah biarkan saja, orang seperti pasti tidak populer di kalangan gadis." Balas anggota lainnya yang bermata sipit.

"Sudah-sudah jangan gosip saja kalian, dia itu kan ketua kita di misi ini." Lerai anggota satu lagi. Tubuhnya sedikit pendek dari dua orang yang lain, namun alis tebal di wajahnya itu membuat wajahnya terlihat lebih sangar dibanding yang lain.

"Aku kan juga tak ingin dipilih sebagai ketua, tapi mau bagaimana, aku yang diminta oleh si Kasamatsu." Akhirnya sang ketua yang dibicarakan pun kembali angkat bicara.

"Baiklah baiklah, kami percaya padamu kok, Ketua Izuki."

"Sudah jangan banyak bicara." Izuki pun memberi jeda sesaat, ia masih menatap ke arah jendela rumah sang target, memperhatikan setiap gerak-gerik. "Begitu mereka naik ke mobil, kita bergerak."

"Siap!"

.

.

.

To be Continued

YEAH UPDATES!

The rakuzan babies are showing up yeah!

They will have more parts in the upcoming releases, so be patient ^^

And sorry for the bad joke example because I don't know to pun in Indonesian- sob