Note : Part ini mungkin akan membuat kalian bingung karena disini lebih diceritakan gejolak dalam diri akashi yang berbeda cara pandang.

.

.

Akashi Seijuuro's POV

.

.

Di saat puncak permainan ini tiba, dia datang menunggu kabar. Menyadari situasi yang ada, memuji permainan yang kupegang kendalinya. Syal merah yang telah kembali, kini menjadi saksi atas senyuman yang mekar tanpa sebab melihatnya berdiri di hadapanku. Wajahnya terperangah kebingungan melihat ekspresi ini.

"Duduklah."

Dia menurut layaknya anak gadis nakal yang jera membantah. Duduk di seberang permainan yang belum berlanjut di atas meja ini. Raut wajahnya berubah tercengang, seakan sebuah memori menghampiri dan memenuhi dirinya. Saat itulah aku memanggilnya, begitupula dirinya memanggilku.

"Hei/Akashi-kun."

Bersamaan. Dan, dia memilih untuk diam.

"Ada banyak hal yang harus dibicarakan... bukankah begitu?"

Pertanyaan itu terucap santai. Ya, dia pasti paham apa maksud ucapanku. Serangkaian kejadian yang telah terlewati ini pasti menimbulkan banyak pertanyaan dibenaknya, apalagi mengingat betapa sukanya dia untuk bertanya-tanya.

Pertanyaan itu membuatnya terdiam. Ekspresi wajahnya menyendu entah mengapa. Apa yang sedang kau pikirkan? Hei, mengapa kau berwajah seperti itu? Kabar yang kau tunggu kini telah datang. Kemari, mendekatlah. Dengarkanlah dengan baik. Kumpulkan dirimu menjadi satu dan pahamilah.

Karena terdapat sebuah cerita yang harus kau dengar. Cerita ini mutlak harus kau pahami.

Ya, sebuah cerita yang berkisah tentang kita.

Benar. Kisah tentang aku, diriku dan dirimu.

Dan aku adalah sisi yang akan menceritakannya.

—Apa yang kau maksud dengan Aku, hei Seijuurou?

.

.

.

I'm Yours?

Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi-san

I'm Yours by Usei

Chapter 21 : Confession

.

.

Tidakkah kau lihat ekspresi wajah itu?

Tidak ada lelucon disini.

Hanya ada beribu pertanyaan yang tengah berputar-putar di hati seorang gadis kebingungan. Beribu-ribu pertanyaan yang membuatnya goyah dan bangkit kembali. Beribu-ribu pertanyaan yang membuat berpikir dan berpikir lagi. Meskipun hatinya telah menetap, kuyakini itu, meskipun dia takkan pergi kemanapun, sangat kuyakini, meskipun dia telah menyatakan perang, kuyakini sekali lagi, namun semua kontradiksi masih terpikirkan olehnya.

Kontradiksi kah? Hal yang pasti muncul sejak peristiwa itu terjadi.

Aku mengingat betul saat dia bertanya mengapa diriku menciumnya. Saat itu aku hanya tersenyum atas pertanyaan polos yang terucap itu seraya memejamkan mata, namun apa daya tak ada yang bisa melihatnya. Dalam hati aku hanya dapat menjawab ringan, "Hal itu bukankah sudah terlihat jelas alasannya?" Namun, lagi-lagi hal egois yang terucap dari diriku. Aku hanya terdiam, apapun yang diriku lakukan, aku yakin akan menjadi suatu kebenaran. Aku meyakini diriku adalah bagian yang sempurna dari aku. Namun kebenaran yang diriku ucap mengenai dirinya merupakan kebenaran yang berbelok makna. Anehnya, hanya kebenaran mengenai dirinya. Berulang kali, saat itu, aku hanya tersenyum singkat. Meskipun begitu, tidak ada yang ingin kuperbuat karena ucapan diriku diakhir sore itu sudah mewakili semuanya :

"Karena keberadaanmu disisiku adalah suatu keharusan, bukan suatu kebutuhan."

Ingatkah? Saat itu, sekali lagi, aku hanya diam dan bergumam pada diriku, "Kau tau apa yang harus kau ucap namun kau tak mengerti kebenaran yang telah berbelok karena cara pikirmu."

—Iya, ingat. Kau pun mengatakan bahwa kebenaran yang kuucap tidak sesuai, begitu? Kau sama kurang ajarnya dengan dia.

Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Karena, ya, aku dan diriku adalah satu bagian yang sama. Sesungguhnya, diriku belum menyamakan persepsi atas pertanyaan yang kugumamkan tak sengaja. Kemenangan selalu ada dipihak yang benar. Tetapi karena sebab itu lah. Karena, kemenangan selalu berada pada pihak yang benar, disini lah aku bicara untuk kembali meluruskan kebenaran atas dirinya pada diriku yang tengah berbelok makna.

Ingatkah wahai diriku, saat kau tanpa berpikir panjang menciumnya di perpustakaan? Ingatkah kau, bahwa aku yang meredam emosimu? Agar kau mengerti bahwa yang kau sentuh bukanlah barang sembarangan. Perlakukanlah dia dengan baik. Saat itu, entah mengapa, kau, yang selalu tak mendengar apa yang kuucap, menjadi seorang raja penurut. Masih tak mengertikah kau apa yang terjadi pada dirimu?

—Jangan bicara seenaknya, karena kau lah yang tak mengerti. Karena aku menginginkannya, hanya karena itu.

Egoisnya.

Egois adalah kata yang pasti terpikirkan olehnya. Lihatlah, wajahnya kini masih terlihat kebingungan karena tak ada satu kata pun terucap dariku sesaat tadi. Aku terlalu banyak berpikir.

"Adakah sesuatu yang mengganjal dibenakmu?" tanyaku pada dia yang diam membisu. Tangannya mengepal pelan diatas meja. Seperti ragu mengucap. Aku kembali tersenyum padanya. Lagi-lagi, dia tercengang karena senyumanku. Terlihat dari wajahnya, ketika aku tersenyum, sesuatu tengah bergolak dalam dirinya. Saat itu, sebuah keinginan lolos dari bibirnya,

"Akashi-kun... Aku tidak mengerti tentang dirimu. Sungguh. Ceritakanlah tentang dirimu padaku."

Aku menutup mata singkat sembari mengangkat sebuah bidak Keima dari papan Shogi di hadapan kami. Bidak Keima yang selalu menjadi kesukaannya, entah mengapa alasannya. Sudut mataku melirik jeli keberadaan syal yang menjadi saksi. Aku berseru kepadanya, "Kau mengerti tentang diriku. Hanya saja, kau tidak menemukan buktinya."

Syal merah itu kuberikan kepadanya saat tiba-tiba dia bersin karena suhu udara yang mendingin. Aku teringat saat itu, musim dingin mulai menyapa dunia. Semua orang berbondong-bondong memakai syal untuk menghangatkan diri, begitupula aku. Sorenya, aku bermain shogi melawan diriku sendiri. Udaranya memang dingin, aku merasakan betul. Suhu udara yang dapat membekukan ujung-ujung jariku. Menyadari suara bersin itu, dengan sigap, syal itu kulingkarkan dilehernya. Wajahnya merona sempurna, dihiasi ujung hidungnya yang ikut memerah.

—Perbuatan yang konyol. Saat itu, aku bertanya kenapa kau melakukannya dan kau hanya berkata bahwa aku mengerti. Benar-benar konyol. Seperti ucapanmu barusan kepadanya.

Tidak ada yang konyol kecuali pertanyaan diriku atas syal itu. Seharusnya diriku mengetahuinya, seharusnya.

—Apa maksudmu mengucapkan hal itu?!

"Aku mengerti namun tidak menemukan buktinya?" jawabnya penuh tanya. Raut wajahnya menyiratkan otaknya berpikir keras. Dia tak bersalah jika tidak menemukan buktinya, karena bukti yang sudah terucap nyatanya selalu tertutupi oleh tindak tanduk diriku yang menutupi semuanya. Bukannya sengaja menutupi, hanya tak sadar telah menutupi. Lagi-lagi, aku hanya tersenyum memaklumi.

"Apakah kau pernah mendengar dalam diri seseorang terdapat dua sisi yang berbeda? Bahkan lebih?"

Kedua alisnya bertautan. Sesuatu hadir dalam pikirannya. Namun, tak ada sedikitpun ekspresi keterkejutan mendengar ucapanku, seakan dia telah mengetahui apa yang ada didalamku. Nah, begitulah, dia mengerti hanya tak bisa mengungkap bukti kebenarannya. Karena seharusnya aku lah yang selalu benar, sehingga dia terintimidasi sikap dan ucapanku.

"Ya, seperti.. Dua sisi yang berbeda, namun sama, namun satu, namun terpisah, namun..."

"...Kharismatik," ujarnya singkat. Dia terperanjat kaget saat aku terheran-heran memandangnya. Dia menutup mulutnya sendiri dan kemudian mengalihkan pandangan matanya ke kaki-kaki meja. Apa maksud ucapannya barusan itu? Kharismatik?

"Ah.. iya.. um.. Maafkan aku memotong ucapanmu, Akashi-kun. Aku hanya sedang mengingat ucapan seseorang."

Aku yakini dia telah mengerti arah pembicaraan ini, oleh karena itu, dia tak gelagat penolakan. Ucapan seseorang yang disebutkan mungkin merupakan suatu trigger agar bukti bahwa dia mengerti tentang diriku dapat dia tunjukkan.

"Ya. Dua sisi. Contohnya, Aku." Tanganku menyentuh dada, seraya merasakan satu eksistensi lagi yang tengah hidup dan protes atas pernyataanku ini. Tak mendasar sebab kumengatakan ini, tetapi hal ini yang harus diungkapkan agar dia mengerti dan diriku mengerti apa yang terjadi diantara kami. Agar salah paham ini tak berlanjut dan agar keegoisan diri ini terpenuhi sepenuhnya. Karena semua ini pun terjadi karena dukungan keegoisanku dan juga diriku.

Dia menatapku jeli tanpa bergeming. Dia mengetahui. Dia memahami. Dia merenungkannya dalam hati. Selama ini aku tak salah menilainya, karena dia adalah gadis yang pintar.

"Sejak awal memang terdapat dua diriku. Dan kami selalu bertukar tempat semau kami."

Namun, dia mungkin tak mengetahui bahwa diriku lebih mendominasi.

—Hei, apa maksudmu mengatakan semua itu padanya? Apa tujuanmu sebenarnya? Hentikan. Hal tak berguna ini lebih baik tidak usah dilanjutkan. Hanya menghabiskan waktu.

Diamlah. Diamlah barang sebentar saja. Giliranku untuk berbicara.

Mata bulatnya berkedip dan bibirnya mengulum senyuman pahit, "Lalu, yang mana Akashi-kun yang sesungguhnya? Yang ada di hadapanku saat ini sering muncul, namun auranya berbeda. Membuatku berdebar lebih kencang. Namun Akashi-kun yang penuh percaya diri dan mendominasi sangat kuat eksistensinya, membuat dadaku semakin kacau." Dia mengepalkan erat jari-jarinya. Seakan, semua kenangan tentang kami akan menghancurkannya berkeping-keping. Namun...

Sudah kuduga. Dia memang dapat membedakannya.

Kau dengar, diriku? Ucapannya itu? Sudah kukatakan, ini bukan hal tidak berguna. Oleh karena itu, diamlah. Diammu, kuanggap sebagai pernyataan bahwa kau ingin tau apa yang akan terjadi selanjutnya, bukan?

—Huh.

Siapakah Akashi Seijuuro yang sebenarnya? Ingatkah, ketika dia pingsan karena demam waktu itu? Diriku berlari tanpa sadar menuju tempatnya berbaring. Tau apa yang dilakukan diriku? Mengusap peluhnya, menenangkan jiwanya, dan mengecupnya? Siapa yang melakukan itu? Akashi Seijuuro jawabannya. Lalu, yang mana Akashi Seijuuro yang sesungguhnya?

—Pertanyaan gila.

"Menurutmu, yang manakah Akashi Seijuuro yang sesungguhnya?" tanyaku padanya. Dia tertegun. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya sedikit. Berpikir sepertinya tak ada gunanya, hal itu tersirat dari wajahnya. Karena semakin dia berpikir, semakin sulit saja semua hal ini. Aku melanjutkan, "Aku yakin, perasaan itu, rasa sukamu padaku masih tersimpan rapat-rapat dalam dirimu. Bahkan semakin dalam, bukan? Jelas tersirat dari pernyataanmu barusan dan juga di onsen dulu. Kau sangat mengenal diriku."

Wajahnya merona merah, namun berusaha menegar. Sama seperti sewaktu dia menyatakan kata-kata perangnya kepadaku. Masih khawatir diriku akan menginjakkan kaki diatas kepalamu lagi, huh? Tak perlu khawatir.

"Tidak... Akashi Seijuuro sulit untuk dipahami," ucapnya sayu. Kelopak matanya menunduk. Tak mau menatapku.

"Apa kau tau..."

Aku harus memulai dari mana?

Seingatku, dulu, aku tidak terlalu memperhatikan keberadaannya. Yang ku tau dia hanya gadis pintar dan aku menghormatinya. Walaupun kadang tatapan matanya membuat diriku kesal, karena sangat menantang keberadaan diriku. Hingga suatu hari, suatu kalimat yang terucap dari mulutnya membuat diriku geram. Saat itu, aku hanya memakluminya. Sebab, aku pun tak mungkin membiarkan seseorang menganggap remeh kami. Meskipun begitu, sejak itu, tanpa sadar, aku mulai memperhatikannya.

"... diriku, yang mungkin sangat kau ketahui, sedikit sulit untuk dimengerti. Jika sesuatu tidak sesuai dengan idealismenya, maka sesuatu itu akan menjadi hal yang dibencinya."

Dia menggangguk mengiyakan.

Rasa sukanya yang terbongkar karena pernyataan cinta seorang gadis sesungguhnya tidak terlalu membuatku terkejut. Aku bisa menebaknya bahkan lebih dulu dibandingkan diriku mengetahui kenyataannya. Aku hanya diam dan mengikuti keinginan diriku untuk menghancurkannya. Kadang, aku merasa sedikit simpati padanya. Disebabkan karena kelalaiannya, dia harus menerima ganjaran yang mengerikan yang direncakan oleh diriku. Tetapi, entah mengapa, semua rangkaian rencana itu terdengar menyenangkan untuk dilakukan.

—Yang benar saja. Ternyata itu alasan selama ini kau diam. Kau sama kejamnya, hei.

Hal itu semakin terasa menarik semenjak dia membantah perintah diriku di kelas dulu. Benar-benar gadis yang mengejutkan. Dia semakin saja membuat diriku tertarik untuk membasminya. Sedangkan aku? Hanya tertawa lepas saat melihat ada seseorang yang begitu beraninya menantang seorang Akashi Seijuuro.

"... Namun, hal itu tidak hanya terjadi pada diriku, tetapi juga padaku."

Hari demi hari terlewati. Berbagai macam hal terjadi. Dari kami saling diam, tidak berinteraksi, saling berpapasan namun pura-pura tak terjadi apa-apa. Bahkan sampai akhirnya, kami bertemu lagi di rumah Ryouta. Kenyataan bahwa dia merupakan gadis yang disukai Ryouta tidak begitu menjadi perhatianku, namun menjadi perhatian diriku. Keberadaan Ryouta dianggap sebagai ancaman dan dianggap sebagai pendukung dia menjadi seorang pembantah Akashi Seijuuro. Dengan segala macam pikiran dan rencana, diriku menyimpulkan bahwa dengan mengalihkan perhatiannya dari Ryouta akan membuat rasa sukanya membuncah dan kemudian menyatakan kekalahannya. Dan pada saat itu, diriku, akan menghancurkannya.

Hmm, rencana yang sempurna. Tetapi, karena terlalu sempurna, membuatku tergelitik ingin ikut serta. Aku sedikit memberi senggolan pada rencana tersebut dengan mengubah ritmenya. Ya, aku meminta maaf kepadanya atas apa yang diriku lakukan di kelas dulu, ketika diriku dipenuhi amarah sedangkan aku hanya tertawa layaknya pemeran antagonis utama didalam film. Permintaan maaf itu sesungguhnya merupakan hal yang benar-benar ingin aku lakukan. Namun, diriku malah salah paham dan bisa dibilang ritme yang kubuat dimulai dari sana.

"Sedangkan aku... hanya manusia yang penuh dengan keingintahuan. Ya, keingintahuan tentang keberadaan sesuatu yang bergejolak dalam diriku."

Nyatanya, ritme permainan benar-benar berubah meskipun hampir menguntungkan diriku. Dia menyatakan cintanya sekaligus menyatakan bahwa dia akan menuruti perintah dan melupakan perasaannya. Semua itu dia lakukan demi harga dirinya yang tinggi itu. Pada saat itu, seorang Akashi Seijuuro terdiam tak bisa berkutik. Akashi Seijuuro merasa kemenangan telah berpihak namun tak ada seorang pun yang berhasil dihancurkan. Diriku kembali pada keteguhannya, sedangkan aku merenung memikirnya. Dua sisi yang berbeda namun sama akhirnya melintasi jalan yang berbeda.

—Ya, benar. Saat itu, kau melakukan hal konyol. Berusaha menenangkan dirinya. Mengajarinya basket di game center itu. Disanalah, kita merasakan tantangan tatapan Ryouta.

Ya, tantangan yang kurasa dan diriku rasa sesungguhnya adalah sama. Namun, lagi-lagi, diriku mengkonversikan ke hal yang berbeda.

—Lagi-lagi, apa maksudmu berkata hal seperti itu? Seakan kau memojokkanku atas apa yang aku perbuat padanya.

"Oleh karena itu, serangkaian peristiwa ini terjadi. Semua karena keingintahuanku."

Banyak hal terjadi diantara kami. Namun aku hanya diam saja membiarkan diriku bertindak. Semua itu karena keingintahuanku. Keingintahuanku akan sesuatu yang selalu aku pikirkan dalam-dalam. Karena aku tau, diriku bisa melakukannya. Diriku bisa menaklukkan dirinya dengan mudah. Kepercayaan diri sudah diserahkan seluruhnya pada diriku. Karena aku egois sehingga aku memanfaaatkan diriku. Aku hanya akan menikmati bagaimana jalan cerita ini akan berlanjut. Aku hanya akan muncul di saat yang genting, disaat diriku tak dapat mengerti arti jalan cerita ini. Kupikir, setelah peristiwa dimana diriku menciumnya, hal ini akan usai. Namun, nyatanya tidak. Semakin hari semakin kompleks. Semakin hari semakin pelik. Aku, diriku dan dirinya seakan menjadi eksistensi yang tak dapat disatukan. Hal ini karena diriku semakin lama semakin salah mengerti jalan ceritanya. Diriku banyak melakukan hal-hal yang tak disadarinya, namun tak mengerti apa sebabnya, lebih tepatnya salah mengerti.

—Apa maksud ucapanmu ini? Aku? Salah mengerti? Jangan bercanda.

"Maafkan aku, mungkin banyak hal yang terjadi. Membuatmu menderita dan menangis. Apa kau tau, bagaimana cara pandang diriku terhadap sesuatu?"

Dia mengerjap sesekali mendengar pertanyaanku. Dia terdiam tak dapat menjawab. Diamnya itu bukan diam karena tak mengerti. Dia diam karena tak berani berspekulasi di hadapanku. Semua itu terjadi karena aku dan diriku yang tak dapat dia hadapi bersamaan.

Diriku... Kau pikir, apa sebabnya kau ingin mencium dia? Ingin menghapus jejak Ryouta? Apa benar-benar itu sebabnya?

—Ya, tentu saja. Karena aku ingin menghapus jejaknya, hanya ingin. Karena keberadaan Ryouta selalu menjadi halangan.

Benarkah? Mengapa keberadaan Ryouta selalu menjadi halangan?

—Karena keberadaan Ryouta yang akan mengalihkan rasa sukanya pada kita.

Apa begitu bahayanya jika perasaannya teralihkan dari kita?

—Jangan mengatakan hal yang percuma. Kau sendiri mengetahuinya. Jika begitu, dia akan melupakan kita. Rencana kita akan gagal.

Rencana kita gagal? Bukankah kau tau, bahwa dia sudah menyatakan dia akan menghapus rasanya sukanya pada kita? Lalu, apakah ada gunanya ciuman itu? Kemenangan sudah kita dapatkan. Bahkan tidak ada yang dirugikan. Lalu, mengapa kau melakukannya? Kenapa kau begitu senang setelah menciumnya?

—Aku tidak merasakan apapun. Kau yang merasa senang! Semejak itu, kau sering muncul. Mengganggu dominasiku atas tubuh ini! Lalu, guna ciuman itu? Karena dia milikku! Jadi, aku berhak melakukan apapun padanya. Sedangkan kau selalu melakukan hal-hal tidak berguna terhadapnya, sama seperti kali ini, menceritakan tentang kita.

Lalu, mengapa saat aku lengah, kau menyentuh jemarinya? Menggenggam erat tangannya? Karena kau iri, bukan? Kau iri pada Ryouta yang selalu saja lebih dahulu menyentuhnya. Oleh sebab itu, kau menciumnya. Berterima kasihlah kepadaku.

—Aku iri? Jangan bercanda. Aku hanya ingin menyentuhnya saja. Demi tujuanku.

Hei, jawaban-jawaban itu tidak didukung oleh alasan yang tepat.

—Tentu saja beralasan. Karena aku selalu benar. Semua yang kusebutkan, memenuhi hukum logika.

Itulah masalahmu, wahai diriku. Saat aku meminta maaf, kau merasa semua itu takdir. Saat kau berhasil menciumnya, kau berkata dia milikmu. Setelah dia bertanya mengapa kau melakukan itu, kau menjawab karena kau menginginkannya. Saat ditanya tentang keberadaan dirinya dan perasaannya, kau menjawab kau tidak membutuhkannya. Kau dapat hidup tanpa ada dirinya. Namun kemudian kau berkata keberadaanya disisi kita adalah keharusan.

Kau mengerti apa artinya semua yang kauucapkan itu? Akan aku beritahukan apa artinya kepadamu dan kepada dirinya.

"Diriku selalu memandang hal berdasarkan logikanya, egonya dan rasionalitasnya... Dunianya. Semua yang terjadi akan ia bentuk dalam logika, ego dan rasionalitas yang sesuai dengan idealismenya. Karena dirinya merupakan bagian dari diriku yang penuh dengan ego yang tak dapat aku wujudkan."

—hah?

Semua yang diriku ucap dan lakukan, semua berdasarkan ego dan rasionalitas. Diriku hanya dapat mengerti semua hal-hal itu. Begitulah. Mengerti, diriku? Itulah yang terjadi padamu. Oleh karena itu, kau tak mengerti apa yang terjadi dalam dirimu. Kau berkata dia milikmu? Karena kau menginginkannya, bukan? Dia memang tidak harus kau butuhkan keberadaannya. Tetapi kau menginginkannya, oleh karena itu, hal yang paling masuk akal dalam dirimu adalah keberadaannya memang harus berada disisi kita. Kau memaksakan kehendak yang sesuai dengan idealisme itu. Kau memanfaatkan egomu yang besar itu. Bagus sekali, kau memanfaatkannya dengan baik.

—Jangan bercanda, Akashi Seijuuro. Bicara apa kau pada dirimu sendiri?

Yang berada dalam dirimu hanya ego. Ego yang besar, sehingga perasaan itu kau wujudkan dalam bentuk egomu. Seperti itulah, dirimu.

Aku tak dapat berdiam diri lagi. Kepelikan ini terdengar menyedihkan. Setelah pernyataan perangnya, kau hanya diam membisu dan tak melakukan apapun. Karena apa yang dirasakan olehnya tak dapat kau mengerti. Egomu yang besar menjadi semakin besar dan menutupi kaca pandangan matamu terhadap apa yang lebih penting. Tak ada yang kau lakukan saat Ryouta membawanya pergi. Yang kau pikirkan hanya egomu. Egomu yang iri melihatnya. Tetapi kau tak memiliki alasan rasional untuk menghentikan Ryouta. Oleh karena itu, kau hanya berdiam diri melihat mereka pergi. Aku lah yang bertindak selanjutnya.

—Diam.

"Ego? Rasionalitas?" gumamnya sendirian. Dia melamun sendirian memikirkan ucapanku. Akankah sesuatu dapat dia ingat? Sesuatu dimana ego dan rasionalitas itu terasa.

"Jadi, apakah kau mendapatkan jawabannya? Yang manakah Akashi Seijuuro yang sesungguhnya?"

Wahai diriku, kau melihatnya? Lihatlah wajah sendu itu. Semua itu karena perbuatan kita. Sadarilah selama ini kau menginginkan dirinya, hanya saja kau tak mengerti. Sesungguhya, dia telah membuat kita menjadi satu. Kepercayaan diri telah terbagi dalam diriku berkat dirinya, sedangkan kasih sayang hadir dalam dirimu berkat dirinya. Masih tak sadarkah kau?

—Kasih sayang? Itu hal yang tidak berguna. Hanya mengganggu saja. Aku tak membutuhkannya.

Masih tak mengerti?

Kau tertarik padanya sejak dia membantahmu. Tak seorang pun yang menarik perhatianmu seperti dia. Bahkan kau mau repot-repot memikirkan bagaimana cara dia tidak berpaling kepada Ryouta. Bahkan kau kesal dan iri dia disentuh oleh Ryouta. Bahkan lagi, kau memaksakan egomu untuk memiliki dia. Setelah itu, kau merasa menjadi sesungguhnya pemenang. Kau membelokkan semua kebenaran dengan ego dan rasionalitas itu. Karena sesungguhya, kebenaran yang nyata adalah bahwa kau telah jatuh cinta kepadanya. Namun kau tak pernah menyadarinya.

—Aku.. jatuh cinta.. kepadanya? Jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal. Dia memang milikku, dan dia memang harus berada disisiku! Bukan karena aku jatuh cinta!

Kenapa? Kenapa dia milikmu dan kenapa dia harus berada disisimu? Jawab aku.

—Aku... karena dia menyukai kita. Karena itulah takdirnya.

Kata-katamu, sangat kau mengerti, tak cukup kuat beralasan.

Lalu, kau tau mengapa aku hanya diam saja melihat dirimu begitu? Karena aku tau, kau dapat menaklukan hatinya. Kau mampu membuatnya tunduk dibawah kuasa kita. Karena aku memanfaatkanmu. Karena aku mengerti, bahwa aku sudah menemukan jawaban dari keingintahuanku. Keingintahuanku atas sesuatu yang bergejolak dalam dada ini. Karena aku, juga jatuh cinta kepadanya.

—Kau? Juga? Padanya? Semua ini tidak dapat aku terima. Tidak masuk akal. Apa yang kurang dari semua pemikiranku?

Tidak ada kekurangan apapun. Keberadaannya justru melengkapi kekuranganmu. Kau harus menerimanya karena ini lah kenyataan. Sama halnya ketika kau berkata bahwa dia adalah milikmu. Karena itu lah kenyataannya. Masih kau ingin mengungkiri kenyataan yang kau katakan sendiri? Bukankah seorang Akashi Seijuuro selalu benar?

"Diriku berego besar. Diriku dipenuhi ego yang tak dapat aku wujudkan. Namun karena ego itu, kau, perasaanmu, menjadi milikku. Jadi, manakah Akashi Seijuuro yang sesungguhnya? Kau sangat mengerti, bukan?"

Ya, benar. Dia adalah milikmu. Milikku. Milik kita. Dan yang mewujudkan hal itu adalah dirimu, hei, diriku yang penuh dengan ego.

Diriku tak mengatakan apapun lagi. Kenyataan yang diriku ucap kini ia pandangi kebenarannya. Senyum lega mekar diwajahku. Dirinya tengah melamun terlalu lama, meresapi ucapanku. Aku menyapa dan menepuk kepalanya. Matanya kembali menuju diriku. Rona merah itu tak pernah hilang dari wajahnya.

"Kau tak perlu lagi mengkhawatirkan apapun. Karena semua sudah mencapai akhirnya. Karena disini, aku datang untuk mengatakannya. Mengatakan kebenarannya kepadamu. Inilah kabar yang selalu kau tunggu."

Matanya membelalak sesaat bibir ini menyentuh keningnya. Hangatnya terasa didalam dada. Diriku yang terdiam hanya dapat merasakannya tanpa protes. Dan tanpa sadar, diriku bergumam dalam hati.

Aku,

Diriku.

Kami.

"Akashi Seijuuro telah benar-benar jatuh cinta kepadamu."

Kebenaran yang terucap ini takkan pernah berbelok makna lagi.

.

.

.

TBC...

A/N :

Hallow? Anybody here? Apa saya perlu pergi lagi? Btw, saya ganti nama akun jadi USEI. Hakakakak *ga ada yg nanya*

Ehem, saya sebenernya gak WB seakut itu sih. Cuma krn si Pak dan Ibu Bos sedikit menyusahkan kehidupanku, akhirnya gue ga bs berurusan dgn ffn. Setelah HAMPIR 2 tahun gak update, rasanya kyk ada gunung meletus ketika kemaren gue ngetik ini. GUE LUPA CERITA APAAN YANG GUE BUAT COBAAAAAA... NGENES EMANG.

Pdhl dulu, gue udah merencanakannya dengan sempurna. Tp GUE LUPA. Akhirnya ya begini jadinya. Ajaib. Entah dari mana dan apa maksudnya. JEDOOOR gitu. Krn gue udah lama ga update, dan ga nulis, mungkin jadi amburegul emeseyu. AUK AH. YANG PENTING GUE UPDATE KAN YAK?

Sori bgt klo agak gantung. Krn saya jg bingung gmn buatnya. Krn POV akashi kali ini beda bgt sama yg sebelumnya. Gue seketika LOST CONTACT DAN 404 ERROR NOT FOUND. ORESHI disni yg muncul byk. Anggep aja gitu. Krn agak repot, gue samain aja dua2nya manggil kise dgn sebutan "Ryouta". Sbnnrnya gue lebih bs mendalami BOKUSHI drpd ORESHI. Aishhhh...

Bodo ah. Sengaja juga ga ada penjelasan detail. Saya lelah. Semua tergantung persepsi anda sekalian msg2 ttg siapa Akashi sebenernya dlm fic ini. Klo ada kesempatan, part ini akan gue revisi lagi agar penjelasannya kalian ngerti. Klo terkesan maksa, mohon maaf atas kelalaian author sinting ini.

Udah ah. Baybay.

Thanks buat semua dukungannya.

Ini masih berlanjut kayaknya. Klo gue niat. :v