-Prev Chap-
"Ahh sekarang aku tahu kenapa Appa beberapa hari yang lalu pulang dengan keadaan tidak waras. Rupanya Appa sudah memiliki kekasih baru."
Changmin kembali tertawa melihat Eommanya yang kini wajahnya sudah sangat merah bak kepiting rebus kesukaannya.
Dalam tawanya Changmin bernapas lega. Akhirnya. Akhirnya setelah sekian tahun ia bisa melihat Eommanya bersama dengan Appanya lagi.
Ia harap semoga keluarganya dapat kembali utuh seperti yang sebelumnya. Ia tak tahu kapan namun ia yakin ia akan mendapatkannya entah dalam jangka waktu yang ia sendiri tak yakin.
Rasanya kini Changmin ingin menangis dan memeluk Eommanya. Duabelas tahun lamanya mereka menunggu hal ini terjadi dan saat ini Changmin luar biasa bahagia. Luka yang dulu didapatkannya seakan-akan hilang begitu saja.
Changmin berjanji dia tak akan membiarkan salah satu dari mereka, tidak Yunho, tidak Jaejoong, Moonbin, Chanwoo, dan bahkan dirinya sendiri untuk mendapatkan luka yang sama seperti yang ia rasakan selama duabelas tahun ini.
Changmin akan memastikan itu.
REACH
Author: Jung RiAn
Genre: Family, Drama
Rating: T
Cast: Jung Yunho
Kim Jaejoong
And other supporter casts
Disclaimer: The casts are theirs and the story is mine.
::
::
The day I let you go, felt like I was possessed by a mysterious thought. Then I lost you. It's over now. Those words, I was crazy because of my uncontainable irreversible anger. I did something stupid. When I didn't even mean it, when it was all lie.
::
::
Chapter 20
"Grannieeeee! Apakah Hyung sudah datang? Dan apakah Appa sudah berangkat?"
"Jung Chanwoo berhentilah berteriak, demi Paman Siwonmu Grannie belum tuli."
"Eheehe I'm sorry Grannie.."
"Appamu baru saja bangun dan Grannie rasa ia akan terlambat dan Hyungmu oh Joongie kau datang?"
Chanwoo lantas membalikan badannya mendengar Heechul menyebutkan nama Ibunya.
"Eomma!"
"Selamat pagi sayang. Dimana Moonbin?"
"Uhh dia sedang…"
"Apa Changmin Hyung sudah datang? Ya Tuhan kita akan terlambat! Eh Eomma?"
"Selamat pagi Binnie. Jja segeralah berangkat hm?"
"Hyung kajja!"
"Heh.. Memangnya siapa yang akan mengantar kalian berdua eoh? Aku tidak memiliki kelas pagi ini."
"Hyuuuung~ Appa berangkat pagi ini jika kau lupa."
"Oh yeah Appa akan berangkat pagi ini dan seseorang akan sangat sedih sepertinya." Changmin melirikan matanya pada Jaejoong yang lagi-lagi salah tingkah dihadapannya.
"Baiklah karena aku sedang sangat baik hati pagi ini maka aku akan mengantar kalian berdua adik-adikku."
Pagi ini masih sama seperti pagi pagi sebelumnya dikediaman Jung. Mungkin sedikit berbeda dengan kedatangan Moonbin juga Jaejoong pagi ini. Mansion besar itu terlihat sedikit hidup.
"Uhmmmm…"
Heechul menaikan satu alisnya menatap Jaejoong yang salah tingkah sejak Changmin membuka mulutnya.
Oh ayolah tak ada satu pun dari keluarga Jung yang bodoh. Heechul melihatnya. Ia melihat bagaimana Changmin mengatakan itu dan bagaimana Jaejoong salah tingkah dibuatnya.
"Apa Changmin memaksamu datang kemari?" Heechul berusaha mengalihkan pembicaraan ia tak akan meminta Jaejoong menjelaskannya sekarang juga.
"Ne. Changmin bilang ia meninggalkan sketsanya dirumah jadi aku harus ikut dengannya untuk melihatnya."
"Changmin terlalu pintar untuk berbohong kau tahu. Ia tak pernah sedetikpun melupakan buku sketsanya Joongie, dia selalu membawanya."
Heechul menampakan seringainya. Ia sangat tahu bagaimana Changmin. Cucunya sengaja melakukan itu agar Jaejoong datang kemari.
Sembari Jaejoong menunggu Changmin ia membolak-balikan majalah yang ia temukan dimeja. Heechul meninggalkannya ke dapur untuk mengambil beberapa cemilan untuknya.
"Aku tak tahu jika kau berada disini."
Yunho datang dan mendudukkan dirinya disamping Jaejoong.
"Selamat pagi." Sapanya setelah mendaratkan kecupan manis pada kening Jaejoong.
"Selamat pagi. Jam berapa pesawatmu take off? Eomma bilang kau akan terlambat?"
Yunho melirik jam tangannya "empat puluh lima menit lagi."
"Ya! Kau harus segera ke bandara sekarang Yun."
"Ani. Aku masih ingin bersamamu disini." Yunho mengeratkan pelukannya pada pinggang Jaejoong.
"Tapi pesawatnya.."
"Pesawatnya bisa menunggu Joongie. Dan mereka tidak akan terbang tanpaku."
"Tapi tetap saja!" Jaejoong berusaha melepaskan lengan Yunho yang berada dipinggangnya. Ia tidak mau terpergok lagi.
"Hey tenanglah. Disini aku Bossnya dan pesawat itu milikku aku bisa melakukan apapun yang kumau sayang." Yunho kembali melingkarkan lengannya pada pinggang Jaejoong. Kali ini lebih erat dari sebelumnya.
"Bodoh."
"Hanya karenamu." Yunho mendaratkan ciuman pada pipi Jaejoong.
"Berhentilah bermesraan dihadapanku. Kalian berdua membuatku merindukan suamiku."
Heechul datang tiba-tiba dibelakang keduanya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ada sebuah kelegaan dan kebahagian disana.
"Eomma tahu? Eomma sangat mengganggu kami."
Yunho semakin mendekap Jaejoong yang kini sudah menyembunyikan wajahnya didada bidang Yunho. Jaejoong sangat malu. Ini memang bukan pertama kalinya ia terpergok oleh seseorang tapi kali ini rasanya sungguh luar biasa malu karena yang memergokinya adalah Heechul dan tindakan Yunho tidak membantunya sedikitpun.
"Eomma tahu dan Eomma memang harus melakukannya. Jung Yunho Eomma tahu kau tidak ingin melepaskan Jaejoong tapi jika kau terus berada disini maka Eomma akan menendangmu dan membuat Jung Groupmu itu roboh!"
"Aish! Baiklah baiklah aku berangkat sekarang." Dengan sangat tidak rela Yunho melepaskan pelukannya pada Jaejoong.
"Eomma aku berangkat ne."
Yunho berdiri memeluk Heechul dan mengecup pipinya lalu kembali menghampiri Jaejoong dan mencium bibirnya.
"Aku berangkat Joongie. Jaga dirimu dan anak-anak baik-baik eoh? Saranghae!"
"Ehem! Setidaknya biarkan Eommamu ini masuk terlebih dahulu sebelum kau melakukan hal yang iya-iya pada Jaejoongku, anak nakal."
Jaejoong tidak bisa untuk tidak tertawa mendengar penuturan Heechul pada Yunho.
"Tertawalah sepuasmu Boo dan akan kupastikan kau mendapatkan hukumanmu setelah aku kembali nanti."
Wajah Jaejoong kembali memerah. Ia masih belum terbiasa dengan hal ini. Ia seperti benar-benar memulainya dari awal pertama kali mereka menjalin hubungan hampir duapuluh tahun yang lalu.
Selepas kepergiaan Yunho yang hanya meninggalkan Jaejoong berdua saja dengan Heechul, Jaaejoong jadi semakin salah tingkah. Ia bahkan tak tahu mengapa.
"Jadi Joongie sejak kapan kalian kembali bersama lagi? Liburan kalian ke Singapura cukup memberikan hasil sepertinya."
"Ba-baru beberapa hari ini Eomma.."
Heechul terkekeh mendengar Jaejoong menjawab pertanyaannya dengan gagap.
"Kau mengingatkanku pada masa lalu sayangku. Kau harus tahu bagaimana gugupnya dirimu duapuluh tahun yang lalu ketika aku bertanya hal yang sama."
Jaejoong hanya diam mendengarnya. Duapuluh tahun yang lalu ketika dirinya dibawa Yunho untuk menemui kedua orangtuanya memang membuatnya gugup luar biasa. Ia takut jikalau Ayah atau Ibu Yunho tidak menyukainya.
Dan sekarangpun sama. Ia juga gugup dan takut jika Heechul akan menolaknya. Sedikit tidak mungkin memang tapi itulah Jaaejoong. He thinks too much.
"Semoga ini akan menjadi awal yang baik bagi kalian berdua dan juga ketiga putra kalian."
"Ne.."
Pintu utama Mansion terbuka dengan lebar menampakkan salah satu penghuninya dari balik pintu besar itu. Changmin telah kembali setelah megantar si kembar.
"Eommaaaaa. Eomma aku lapar. Buatkan aku sarapan ne?"
"Memangnya salah siapa yang menolak sarapan terlebih dahulu sebelum kemari hm?" Jaejoong mencubit hidung Changmin gemas. Entah mengapa Changmin menjadi sangat manja jika sedang bersamanya.
"Hehehe tapi Eomma senang kan datang tepat waktu?"
"Apa-apaan kau ini. Ya Jung Changmin! Kau bilang kau meninggalkan sketsamu dirumah eoh? Tapi kata Granniemu kau bahkan tidak pernah meninggalkannya barang sedetikpun!"
"Grannie mengapa Grannie mengatakan itu pada Eomma huh?" Changmin mendengus kesal pada Heechul.
"Apa salah Grannie? Grannie hanya mengatakan yang sejujurnya."
"Menyebalkan."
"Seperti kau tidak saja Changminnie."
"Yahh setidaknya jika aku tidak berbohong Eomma tidak akan repot-repot bersembunyi-sembunyi untuk menemui Appa kan? Mengapa Eomma tadi tidak sekalian mengantarkannya ke bandara saja eoh?" Changmin mulai menggoda Jaejoong kembali.
"Hei Minnie kau tidak tahu saja bahwa mereka berciuman dengan mesra didepan Grannie. Mereka bahkan tidak menganggap Grannie ada disana. Ckckck." Kini giliran Heechul yang ikut menggoda 'calon' menantunya.
"Anak muda~" ucap Changmin dan Heechul bersamaan menggoda Jaejoong yang kini sudah berlari ke dapur meninggalkan keduanya yang tertawa puas untuk menyiapkan sarapan bagi anak sulungnya.
Ia sudah tidak tahan lagi digoda oleh anak dan Ibu mertuanya. Ia cukup bersyukur bahwa si kembar belum mengetahui akan hal ini. Ia tak bisa membayangkannya jika keduanya ikut menggodanya seperti tadi.
Itu sangat memalukan.
Setelah sarapan pagi ini Changmin melihat Ibunya bersiap untuk pergi.
"Eomma mau pergi kemana?"
"Eomma harus bekerja sayang."
"Bisakah Eomma tidak bekerja dan menemaniku saja hari ini?"
"Tidak. Dan bukankah kau ada kelas siang ini?"
"Ne. Hahh baiklah aku akan mengantar Eomma. Tapi selama Appa tidak dirumah, Eomma dan Moonbin harus tinggal disini dan tidak ada penolakan. Tinggal disini selamanya pun tak masalah."
Jaejoong hanya tersenyum menanggapi Changmin. Jika saja ia bisa. Biar bagaimanapun Yunho tetap yang memegang kendali atas hubungan mereka. Ia tidak berada dipihak yang dapat memutuskan ini dan itu.
.
.
.
.
.
"Hello my dearest friends…"
Changmin menyapa kedua sahabatnya dengan senyum yang tak dapat ia buang dari wajahnya yang tentu saja menimbulkan tatapan aneh dari Kyuhyun maupun Ara.
"Kau baik-baik saja Min?"
"Aku lebih dari sekedar baik Kyu. Ah dan aku akan mentraktir kalian berdua dimanapun kalian inginkan hari ini."
Kyuhyun menoleh kepada Ara yang sama bingungnya dengan dirinya. Changmin sedikit diluar karakter hari ini.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" Kyuhyun tidak bisa lagi untuk tidak menanyakan hal ini pada sepupu sekaligus sahabatnya ini.
"Kalian akan tahu nanti."
"Kau sangat menyebalkan Min." kini giliran Ara yang melayangkan protesnya. Rasa penasarannya dan Kyuhyun sudah diubun-ubun.
Changmin mengabaikan Ara, "apa Samchon ada dikantornya Kyu?"
"Ya seingatku jadwal Appa hari ini memang hanya dikantor sa- mwoya?!" Kyuhyun menyumpah serapahi Changmin yang meninggalkannya begitu saja bahkan sebelum dia selesai menjawab pertanyaannya. Tidak ada Jung yang tidak menyebalkan menurutnya.
Changmin memasuki kantor Firma Yoochun dengan senyum yang masih mengembang diwajahnya. Sepertinya ia lupa bagaimana cara mengontrol ekspresi dan emosinya. Tapi biarlah.
"Uncleeeee!" masih dengan senyumnya Changmin memanggil Paman kesayangannya.
"Happy much huh?"
"Damn Uncle! You know me that well."
"Language kid. So?"
Changmin tak menjawab apa yang ditanyakan oleh Yoochun, malahan dia hanya tersenyum saja.
"Stop grinning like a fool and now tell me!"
Changmin masih tetap tidak menjawab.
"I bet it's about your parents."
Senyum Changmin langsung memudar dan digantikan dengan wajah yang sedikit bingung.
"How… shit! Right Samchon kau sudah mengetahuinya terlebih dahulu daripada aku huh?" Ada perasaan tidak rela ketika ia tahu bahwa Pamannya sudah tahu terlebih dahulu daripada dirinya. Ia lupa bahwa selain Pamannya adalah orang terdekatnya ia juga merupakan orang terdekat Ayahnya.
"Appamu mendatangiku pagi harinya dan sepanjang hari itu dia bahkan tidak membiarkanku keluar dari ruang kerjaku. Your Dad is definitely an idiot when it comes to your Mom!"
"Ha! Told ya he is."
"Sejak kapan kau tahu?"
Sebelum Changmin sempat menjawab pintu ruang kerja Yoochun terbuka dan menampakan Hyuna untuk membawakan minum untuk Changmin.
"What a sexy secretary.."
"You know I love sexy ass." Jawab Yoochun sambil mengerlingkan matanya.
"Heol… aku mengetahuinya sejak semalam. Appa mengantarkan Eomma pulang dan yeah mereka berciuman didepan pintu."
"That jerk! Bagaimana dengan si kembar?"
"Mereka belum mengetahuinya dan Eomma memintaku untuk tidak mengatakannya terlebih dulu pada mereka terutama Chanwoo." Ucap Changmin sambil menyesap kopi yang Hyuna berikan padanya beberapa menit yang lalu.
"Yeah dia akan berteriak histeris dan meminta Appamu untuk menikahi Eommamu saat itu juga."
"Huumm. Tapi ketika aku meminta Eomma untuk tinggal dirumah selama Appa berada di Russia, ekspresi Eomma berubah. Well sebenarnya aku juga mengatakan bahwa jika Eomma tinggal selamanya pun tak akan menjadi masalah."
Yoochun mendengus. Biar bagaimanapun Changmin masihlah anak-anak yang belum mengerti rasanya hidup berumah tangga.
"Kau tahu terkadang tidak semua yang kita inginkan dapat kita dapatkan. Dan kembali menjalin hubungan seperti yang kedua orangtuamu jalani tidaklah mudah. Mereka pernah menjalaninya bersama dan berpisah. Dan kemudian mereka kembali bersama lagi namun semuanya akan terasa berbeda." Yoochun meletakan penanya dan menatap Changmin.
"Bayang-bayang akan masa lalu mereka akan menghantuinya dan itu tidak akan mudah. Walaupun mereka mengatakan akan memulai dari awal dan tidak melihat pada kesalahan yang telah mereka buat, itu tetap tidak dapat menghilangkan rasa takut dan traumanya."
Dalam hati Changmin membenarkan apa yang Yoochun ucapkan. Memang tidak akan mudah. Bahkan dirinya saja masih memiliki rasa trauma tersebut, lalu bagaimana dengan Yunho dan Jaejoong? Rasa trauma mereka pasti jauh lebih besar darinya.
"Tapi ini sudah menjadi awal yang baik. Kita hanya perlu mendukungnya. Terlebih kau yang sempat menentang hal ini terjadi."
"Uhmm well I'm still a kid okay?"
"You really are."
Pagi harinya Changmin disibukan oleh beberapa meeting yang harus ia ikuti dikantor milik Appanya.
Yunho sama sekali tidak khawatir pada beberapa meeting yang diikuti oleh anaknya itu. Selain ada Taecyeon disana, kemampuan anaknya juga tidak dapat diabaikan. Ia sangat tahu anak sulungnya sama sekali tidak tertarik dengan dunia bisnis tapi dengan kejeniusannya dan bakat yang memang diturunkannya ia yakin Changmin dapat melewatinya.
"Tuan Muda setelah makan siang Anda harus menemui Tuan Lee dari One Group."
"Hyung berhentilah memanggilku 'Tuan Muda' dan cukup panggil aku Changmin saja."
Changmin sedikit muak karena sejak beberapa hari yang lalu orang-orang Jung Group terus-terusan memanggilnya dengan sebutan Tuan Muda. Ia sangat tidak menyukainya.
"Diluar jam kerja aku akan memanggilmu seperti itu tapi tidak jika kita masih dalam urusan kantor."
"Ya Tuhan! Aku bersumpah tidak akan lagi lagi menggantikan Appa setelah ini!"
Changmin melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan Taecyeon si sekretaris Ayahnya dibelakangnya.
Sudah cukup. Dia butuh makan siangnya.
Hari demi hari berlalu dan tak terasa sudah seminggu lebih Changmin menggantikan posisi Ayahnya. Kesibukannya bertambah berkali lipat. Belum lagi ia harus menyelesaikan projectnya. Beruntungnya ia memiliki Jaejoong sebagai Ibunya karena pria cantik itu akan selalu menemaninya menyelesaikan pekerjaannya setelah ia kembali dari kantor.
Seperti malam ini. Ia harus memberikan laporan mengenai projectnya pada Prof. Shim besok pagi dan Eommanya tetap setia membantunya sedangkan kedua adiknya sedang mengerjakan pekerjaan rumah mereka dan Neneknya sedang sibuk dengan kuku-kukunya.
Drrtt… Drrttt…
Ponsel Jaejoong bergetar dan terdapat panggilan masuk dari Yunho. Memang sudah menjadi kebiasan Yunho akhir-akhir ini untuk menghubungi Jaejoong untuk sekedar bertanya bagaimana kabarnya dan anak-anak mereka atau hanya untuk mengobrol saja dengannya.
"Yoboseo?"
"Hai sayangku, aku sangat merindukanmu. Bagaimana kabarmu dan anak-anak hum?"
"Kami baik-baik saja."
"Hmmm.. apa yang sedang kau lakukan?"
"Ak-.."
"Ya Jung Yunho! Berhenti menghubungi Eommaku! Dia sedang sibuk membantuku menyelesaikan laporanku!" Changmin merebut ponsel Jaejoong dan berteriak kencang pada seseorang diseberang sana. Baiklah Changmin sedang kesal pada Ayahnya.
"Eoh? Appa menelepon Hyung? Berikan ponselnya padaku!"
Chanwoo sangat bersemangat mengetahui bahwa Ayahnya menghubungi mereka.
Sejauh ini yang Chanwoo dan Moonbin ketahui adalah jika Ayah dan Ibunya memang sering berhubungan namun tidak atau mungkin belum mengetahui jika keduanya kembali bersama lagi.
"Appaaaaaa!"
"Ne?"
"Apa yang akan Appa bawakan untukku dari Russia?"
"Appa yang kau inginkan hum?"
"Jika aku menginginkan Pesawat Amfibi milik Russia apakah Appa akan membelikannya untukku?"
Yunho tergelak mendengar pertanyaan atau mungkin permintaan Chanwoo. Pesawat Amfibi katanya?
"Heh bocah jika kau ingin menyerang Korea Utara maka jangan membeli pesawat dari Russia. Kau seharusnya membeli pesawat tempur dari Amerika Serikat."
Changmin tak habis pikir dengan permintaan konyol adiknya. Sementara Jaejoong dan Moonbin hanya terkekeh saja. Heechul? Jangan ditanya dia masih sibuk dengan kukunya.
"Kau benar-benar menginginkannya?" suara Yunho kembali terdengar dari seberang sana.
"Tidak jadi Appa. Min Hyung menghinaku. Hmmm aku akan menerima apapun yang akan bawakan untukku."
"Baiklah Appa akan membawakanmu apapun yang Appa temukan disini."
"Ne. Bawakan aku dan Moonbin semua itu Appa dan Min Hyung bilang dia tidak ingin apa-apa." Chanwoo menjulurkan lidahnya pada Changmin.
"Aku tidak bilang begitu!" Yunho dapat mendengar teriakan anaknya dan kembali tertawa. Ia sudah tidak sabar untuk kembali ke Korea.
"Kalian semua akan mendapatkan bagian kalian masing-masing. Jja Chanwoo-ya bisa berikan teleponnya pada Eommamu?"
"Ne."
"Joongie?"
"Ne?"
"Saranghae…"
"Nado saranghae!" Changmin kembali merebut ponsel Jaejoong.
Jaejoong hanya bisa menundukkan wajahnya. Well dia sangat malu. Lagi.
Sebelum Changmin menutup sambungannya Heechul sempat berteriak cukup kencang dan dihadiahi tawa oleh Yunho.
"Yunho-ya Eomma ingin cucu lagi! Dan kali ini harus perempuan!"
Changmin menyeringai mendapati Jaejoong yang wajahnya sudah sangat memerah. Sementara Chanwoo dan Moonbin yang tentu saja mendengar teriakan Neneknya itu memandang Jaejoong dengan penuh pertanyaan.
"Eomma! Apa maksud Grannie?!" Chanwoo berteriak histeris.
"Eomma jangan bilang kalau Eomma dan Appa…" Dan kini giliran Moonbin yang berteriak.
"Uhmm i..itu…"
"HAHAHAHA" Changmin tertawa puas melihat ekspresi kebingungan kedua adiknya. Sementara Heechul diam-diam menyeringai melihat itu.
"Hyung! Kau tidak memberitahu kami bahwa Appa dan Eomma kembali bersama lagi!"
"Kalian kan tidak bertanya." Jawab Changmin masih dengan menahan tawanya.
Chanwoo dan Moonbin lantas memeluk Jaejoong dengan sangat erat. Mereka saling berpelukan.
Tidak ada yang lebih membuat Chanwoo dan Moonbin bahagia selain mendengar kabar tersebut. Ini pertama kalinya bagi mereka memiliki momen seperti ini.
"Apa sedang ada pesta berpelukan disini? Your handsome Uncle is here to bring you guys some foods."
Yoochun datang dengan beberapa plastik yang berisi makanan ditangannya. Dan ia dikejutkan dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Changmin mengedipkan satu matanya pada Yoochun dan Yoochun tahu arti dari kedipan mata Changmin. He knows his nephew damn well.
Keadaan kini kembali seperti semula. Jaejoong dan Changmin dengan laporannya dan Chanwoo dan Moonbin dengan tugas mereka. Sementara Heechul sudah duduk santai bersama dengan Yoochun.
"Mereka terlihat sangat bahagia." Yoochun bersuara.
"Mereka memang bahagia."
"Sepertinya mereka sudah menemukan titik terangnya."
"Kuharap seperti itu."
"Imo…"
"Hm?"
"Soal perceraian mereka dulu…"
"Kau benar." Heechul menyeringai berbahaya pada keponakannya. Ia tahu keponakannya bukanlah orang biasa. Ia bisa membaca situasi dengan sangat baik.
"Damn! That was genius!"
.
.
.
.
.
.
Sementara disalah satu hotel bintang lima di Moskow, terlihat seorang pria berumur tigapuluh tahunan sedang menatap layar ponselnya.
Orang itu adalah Yunho.
"Aku sangat merindukan kalian. Terutama kau, Boo."
Masih ada seminggu sebelum Yunho meninggalkan Russia dan dia sudah sangat merindukan keluarganya.
Namun ia tidak bisa seenaknya saja kembali ke Korea sebelum dirinya menyelesaikan segala urusannya disini.
Bahkan, setelah meninggalkan Russia ia harus bertolak langsung ke China dan juga Jepang untuk mengecek proyeknya disana dan lalu terbang ke Amerika untuk menemui Ayahnya.
Ya dalam tiga bulan ini Yunho harus bolak-balik kesana kemari demi kelangsungan perusahaannya. Yunho dan Hangeng sudah sepakat untuk menggabungkan dua kantor pusat Jung Group yang ada di Korea dan Amerika sehingga mereka dapat mengontrolnya hanya dari satu tempat saja.
Yang itu artinya baik Hangeng maupun Heechul tidak akan tinggal di Amerika lagi dan kembali ke Korea setelah sekian lama.
Knock knock knock…
"Your dinner, Sir."
"Thanks…"
Yunho menatap malas hidangan makan malam yang beberapa saat yang lalu ia pesan dari restoran hotel. Entah mengapa ia tidak berselera untuk menyantap apa yang tersaji dihadapannya.
"Hahh semua makanan terasa hambar dimulutku jika itu bukanlah masakan Jaejoong."
Yunho menghela napasnya setelah menelan makanannya. Mungkin jatuh cinta menghilangkan indra perasanya.
Yunho merasakan ponselnya bergetar kecil. Ada email masuk dari sepupunya.
From: Yoochun Park
To: Yunho Jung
Subject: Be Jealous
Cc: -
Attachment: 1 picture attached
Yo Yunho! Kado special dariku untukmu dan terimakasih kembali ;)
Yunho menautkan kedua alisnya mambaca email dari Yoochun kemudian ia melihat satu foto yang dikirimkan oleh sepupunya itu.
Shit!
Foto yang dikirim Yoochun adalah foto Jaejoong yang sedang berdiri dipinggir pantai dengan menggunakan kaos putih polos yang menempel pada tubuhnya karena basah dan celana pendek putih selutut.
Jaejoong tersenyum lepas dan rambutnya acak-acakan tertiup oleh angin. Ia terlihat sangat menawan dan errrr menggoda dimata Yunho.
Sial beribu sial. Keluarganya sedang berlibur ke pantai dan lebih sialnya lagi ia tidak berada disana melainkan Yoochun. Saudara sepupunya itu sangat beruntung dapat melihat Jaejoong dengan keadaan seperti itu sementara dirinya tidak.
Ingatkan Yunho untuk memukul jidat lebar sepupunya setelah ia kembali nanti.
"Astaga mengapa aku harus terkurung disini ya Tuhan!"
Yunho mengacak rambutnya frustasi. Jika saja ia berada disana sudah pasti jika ia akan oh sudahlah ia tidak akan berpikir macam-macam saat ini. Ia harus fokus pada pekerjaannya agar ia dapat segera kembali ke Korea.
Pagi harinya Yunho mendapatkan telepon dari Changmin. Entah apa yang merasuki anaknya itu hingga ia mau repot-repot menghubungi Yunho.
"Appa!"
"Ya, Min? Jangan berteriak, disini masih sangat pagi."
"Oh mian. Appa rekan bisnis Appa yang bernama Mr. Chan itu sangat menyebalkan. Aku tidak menyukainya!"
Yunho terkekeh mendengar keluhan sang anak. Mr. Chan ya? Ia tahu pria berumur lebih dari limapuluh tahun itu memang sedikit menyebalkan.
"Kau tidak menyukainya? Wae?"
"Dia meremehkanku! Dia bilang aku hanya anak kecil yang tak tahu apa-apa soal dunia bisnis."
"Well kau memang masih kecil." Menggoda Changmin sesekali sepertinya tak apa.
"Fine! Aku tidak akan datang ke kantor lagi!"
Yunho mendengar Changmin mendengus kesal diseberang sana.
"Baiklah Appa minta maaf Appa hanya bercanda eoh. Kau tidak menyukainya?" Yunho kembali memastikan.
"Sangat!"
"Kalau begitu lakukan apa yang ingin kau lakukan padanya."
"I got it!"'
Dan sambungan mereka terputus.
Yunho tahu apa yang akan dilakukan Changmin pada Mr. Chan yang sudah berhasil mengusik ketenangan Changmin.
Changmin adalah tipe anak yang akan menyingkirkan apapun yang tak ia sukai. Tidak peduli siapa dan apa yang ia hadapi.
Tipikal seorang Jung.
Sementara di Seoul sana…
"Putuskan semua kontrak dan kerja sama apapun itu dengan The Chan's Inc. Kita tidak membutuhkannya lagi."
Taecyeon mebelalakkan matanya mendengar perintah Tuan Mudanya. Memutuskan kontrak dengan The Chan's? Apa Changmin sudah gila?
The Chan's Inc adalah salah satu perusahaan terbesar dan cukup berpengaruh di Hongkong yang sudah tujuh tahun ini menjalin kerjasama dengan Jung Group. Memutuskan kontrak dengan mereka bisa saja menutup pasar Jung's di Hongkong.
"Tapi mereka-.."
"Disini aku Bossnya. Aku yang menentukan. Dan aku tidak menyukai mereka jadi jika Hyung tidak melaksanakan apa yang kuminta maka Hyung akan sangat menyesal." Changmin sangat menikmati ekspresi yang diberikan oleh pria yang sepuluh tahun lebih tua darinya itu. Menggertak sedikit tidak masalah kan?
"Ba-baik. Aku akan menghubungi pihak-pihak yang bersangkutan."
Taecyeon lantas menghilang dibalik pintu ruangan yang kini ditempati Changmin.
Changmin jauh lebih mengerikan dari Yunho.
Dan ia sangat bersyukur karena Changmin hanya akan disini selama tiga bulan saja.
::
::
TBC
::
::
.
.
.
.
.
fast update! happy now? kkk~
spesial untuk chapter ini aku update kilat untuk kalian readers readersku tercintahhhhh :*
silahkan bermabok-mabok ria dengan YunJae disini~
YunJae makin greget, Changmin makin ketauan sifat aslinya yg rada rada manja ngeselin gimana gitu, dan si kembar yg maaf sedikit terbaikan olehku wkwkwk. mungkin ini efek karena drpresi ditinggal Changmin wamil lol.
terimakasih untuk semua pihak yang telah mendukungku dalam penggarapan ff ini/? tanpa kalian saya tak akan menjadi seperti ini /apasih/
ohiya untuk Fione Maple, aku justru engga kepikiran buat ngebayangin itu lmao karena yg ada dipikiranku saat nulis bagian itu adalah ekspresi wajah Changmin pas mau wamil nyengir nyengir sambil kepalanya botak macem krilin gitu :'D tapi terimakasih sangattttt^^
see you in next chap! ^^
much love! xoxo
-JRA-
