Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Fic ini terinspirasi dari berbagai komik yang author baca, dan masih berusaha mencoba membuat fic bergendre komedi lagi, sangat berharap bisa membuatnya.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

Don't like Don't Read

.

.

~ Change ~

[ Chapter 20 ]

.

.

.

Mendudukan Sasuke di sisi ranjang, kakinya mengalami peradangan, ini tidak baik.

"Apa ibu sudah mengobatimu?" Tanyaku.

"Hn, ibu sudah mengobatiku." Ucapnya, bahkan masih bisa memasang wajah menyebalkan itu.

Berlutut di hadapannya, aku menyesal meninggalkannya sendirian, seharusnya meskipun dia marah aku tidak perlu mengubrisnya, cukup mengabaikannya saja.

"Maaf, aku minta maaf, aku tidak bisa menjagamu dengan baik." Ucapku, sedih.

"Hey, jangan memasang wajah cengeng seperti itu dengan wajahku!" Protesnya.

Tetap saja, dia masih bisa marah-marah di saat seperti ini.

"Aku yang salah, seharusnya aku tidak mengusirmu saat itu." Ucapnya.

Mengangkat wajahku, tatapan itu terlihat tenang, wajahku sudah jadi terkesan seperti Sasuke atau karena aku sudah mulai terbiasa dengan menatap wajahku sendiri.

"Aku sangat khawatir, aku benar-benar mencemaskanmu, berkali-kali aku melewati jalur menuju air terjun itu, namun aku sama sekali tidak menemukanmu." Ucapku.

"Untung saja pria itu menolongku, meskipun sedikit menggodaku."

"Apa?"

"Tidak perlu khawatir seperti itu, aku seorang pria, mana mungkin tertarik pada pria. Lalu, bagaimana kau bisa berakhir dengan penginapan plus-plus itu? Apa yang sudah di lakukan para wanita itu pada tubuhku, ha?" Ucapnya, sejenak wajah itu terlihat tenang, sekarang dia terlihat sedikit marah, mungkin sebentar lagi akan meledak.

"A-aku menjaga tubuhmu dengan baik! Aku bahkan tidak membiarkan mereka menyentuhku, aku hanya bercerita pada mereka jika kita bertengkar dan kau menghilang, mereka terharu dan merasa ibah padaku, mereka sampai ingin membantuku dan sementara menginap di sana karena hari sudah begitu gelap, jika bukan karena mereka berbicara pada para warga, aku mungkin tidak akan tahu jika kau di bawa seorang pria." Jelasku.

"Aku tahu, kau akan menjaga tubuhku, aku percaya padamu." Ucapnya.

Ucapan itu sedikit membuatku merasa senang, Sasuke percaya padaku, walaupun kadang dia marah besar padaku, dia jadi terlihat lebih manis dengan tubuhku itu, apa Sasuke sudah terbiasa menjadi seorang wanita?

"Sekarang kita perlu istirahat, dan besok pikirkan cara agar kedua orang tuamu bisa mengajak kita ke tempat mereka meneliti." Ucap Sasuke.

"Tentu."

"Sebelumnya, berbicaralah pada pria yang sudah menolongku itu, aku sudah membuatmu terlihat buruk baginya."

Kami ke kembali ke ruang tengah, disana pria berambut coklat itu bersama ayah dan ibu, aku masih harus memapah Sasuke agar dia bisa berjalan lebih baik, sebenarnya akan jauh lebih mudah saat aku menggendongnya saja, tapi aku yakin dia akan memukulku dan mengatakan aku wanita mesum.

"Jadi kau yang bernama Kankuro? Aku berterima kasih padamu karena sudah menolongnya, kami hanya sempat mengalami perang kecil, tapi aku sempat berusaha mencarinya, mungkin di saat itu kau membawanya pergi, aku benar-benar khawatir, sekali lagi aku berterima kasih." Ucapku.

"Lain kali jika seorang wanita marah, kau harus lebih bersabar." Ucapnya, lebih tepatnya mencoba menasehatiku, dasar bodoh! Dia ini pria! Bagaimana mungkin kau membujuk seorang pria yang tengah marah! Dia ini bahkan jauh lebih egois dari apapun.

"Kalian menginaplah disini." Ucap ayah.

"Tentu, aku juga ingin merawat Sakura." Ucapku.

Kaki Sasuke masih terluka, aku rasa kita perlu mengulur waktu sejenak, lagi pula tempat itu tak akan jauh dari villa ini.

.

.

.

.

Malam harinya.

"Pelan-pelan sedikit!" Protesnya.

"Tenanglah, kau ini, hanya luka seperti ini masih mengeluh, ingat, kau seorang pria." Tegur, aku sedang mengompres luka Sasuke, peradangan ini yang membuat kakinya terus terasa nyeri.

"Kau saja yang tak becus mengobati seseorang."

"Aku sudah berpengalaman menjadi dokter selama beberapa tahun, kau saja yang tidak bisa diam, dasar lemah."

"Kau-"

"-Sudah selesai, cepat minum obatmu dan kita tidur." Ucapku setelah kembali membalut lukanya, memberinya obat anti-nyeri dan segelas air.

"Kapan kau akan berbicara pada orang tuamu?" Tanyanya.

"Setelah kakimu sembuh."

"Apa! Kita harus segera kesana!"

"Tidak, jika kakimu sudah sembuh kita akan kesana."

"Aku suamimu, kau harus menuruti perintahku!" Tegasnya.

Suami?

Aku tahu kau suamiku, secara sah kau adalah suamiku, tapi aku merasa beberapa bulan terlewatkan, kami tak seperti pasangan suami-istri, hanya ada pertengkaran dan perselisihan di antara kami, apalagi dengan kejadian aneh yang menimpah kami, tubuh kami tertukar, ini sangat tidak masuk akal.

"Aku tidak akan mendengar perintahmu, lagi pula, apa benar, kau menganggapku istrimu? Bukannya kau benci padaku dengan pernikahan terpaksa ini?"

"Kenapa selalu saja mengatakan aku benci padamu? Aku sudah mengatakan sebelumnya, aku tak pernah benci padamu." Ucapnya, tatapan itu menjadi terlihat aneh, seakan Sasuke kecewa akan ucapanku ini, apa yang salah dengan ucapanku?

"Kau sangat ingin bercerai denganku yaa? Baiklah, kita akan pergi besok, aku akan membantumu." Ucapku, beranjak pergi, rasanya sedikit aneh saat aku mengatakan 'bercerai' seharusnya itu tidak menjadi apa-apa, aku bisa bebas setelah tubuh kami kembali dan Sasuke tak perlu bertanggung jawab karena aku tak hamil.

"Tunggu." Genggaman tangan ramping itu menahanku.

"Kau perlu sesuatu la-hee...!"

Bught!

"Kapan aku mengatakan kita harus cerai?"

Aku sampai terkejut, wajah itu masih berada di hadapanku, tarikkannya cukup kuat hingga membuatku hilang keseimbangan dan kepala kami sama-sama terbentur, sekarang aku sampai harus menindihnya di atas ranjang.

"Sakit!" Teriakku.

"Ya, aku juga merasa sakit." Ucapnya, tentu saja! Lihat lah jidat lebar kebanggaanku, memerah karenanya! "Rasanya juga ada disini, aku tak suka setiap kau berbicara tentang mengembalikan tubuh, masalah perceraian yang akan kau ungkit." Lanjutnya dan menunjuk dada kiri itu.

"A-apa maksudmu?"

"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa kau benci padaku?" Ucapnya.

Terdiam, apa mungkin aku sudah keterlaluan? Aku hanya memikirkan apa yang di pikirkan Sasuke, aku merasa jika benar dia tidak akan pernah peduli padaku seperti ucapan Izuna, tidak akan pernah menjadi suami bagiku dan mencintaiku seperti ucapan Karin, aku selalu memikirkan itu tanpa tahu apa yang sebenarnya di pikirkan Sasuke.

"Tidak." Ucapku dan menggelengkan kepala.

"Aku sudah tidak ingin kita membahas masalah cerai lagi, hanya perlu kembali ke tubuh seperti semula, awalnya aku juga terus mengungkitnya, tapi lama kelamaan hal itu seperti membuatku kesal."

Kesal?

Ada apa dengan Sasuke?

Tadi berbicara seolah hatinya sakit ketika aku mengungkit perceraian, Sasuke menjadi semakin aneh. Aku melupakan sesuatu, informasi dari Suigetsu, apa aku perlu membaginya dengan Sasuke? Aku rasa dia seharusnya tahu, ini adalah informasi yang sedang di carinya.

Beranjak dari atasnya dan duduk, membantunya untuk bangun dan aku ingin membicarakan hal ini.

"A-ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu." Ucapku, sedikit takut.

"Hn?"

"Tapi kau harus janji, setelah kau mendengarnya, jangan pernah bertengkar dengan ibu Mikoto."

"Apa maksud ucapanmu itu akan membuatku bertengkar dengan ibuku? Aku tak pernah bertengkar dengannya." Ucap Sasuke.

"I-itu..-"

Bagaimana mengatakannya! Aku sampai kebingungan, katakan saja jika ibunya yang menjebak kita saat di hotel, tidak ada yang terjadi apapun saat itu juga, namun, menatapnya, jika aku berbicara seperti ini, mungkin Sasuke akan berpikir dua kali tentang perceraian dan sejujurnya aku pun tidak ingin bercerai, seperti ucapannya tadi, rasanya sedikit kesal, tapi kami punya alasan untuk berpisah, tanggung jawab ini tidak diperlukan lagi, aku masih wanita suci dan tak pernah di sentuhnya, aku juga lupa jika aku berjanji dengan menggunakan tubuh Sasuke pada ibu Mikoto jika kami tidak akan berpisah meskipun aku tak hamil.

"Tidak perlu katakan jika kau terlihat bimbang seperti itu." Ucap Sasuke.

"Eh? A-aku tidak bimbang, atau nanti saja aku ceritakan." Ucapku, aku belum mendapatkan waktu yang tepat, jika tubuh kami sudah kembali, mungkin aku perlu mengatakannya saat itu.

"Jangan katakan apa-apa dulu." Ucap Sasuke. "Berbaringlah." Lanjutnya.

"Berbaring?" Ucapku, bingung.

"Apa kau tak mengerti?" Ucapnya dan mulai kesal.

"I-iya, aku akan berbaring." Ucapku, pasrah, kami baru saja akan berbicara lebih baik dan sekarang dia sudah menjadi marah lagi, menatap Sasuke, apa yang akan di lakukannya? Sedikit terkejut saat dia mulai merangkak ke atas tubuhnya. "A-apa yang kau lakukan!" Panikku, dan berusaha bangun.

"Shhtt..! Kecilkan suaramu, apa kau tahu jika kau berbicara seperti itu akan terdengar aneh? Kau sedang menggunakan tubuhku."

"Aku masih tak mengerti." Ucapku.

"Pelankan suaramu." Bisiknya dan menunjuk pintu,

"Apa mereka bertengkar? Katanya hubungan mereka tak begitu baik? Aku khawatir dengan anak kita."

"Diamlah, mereka akan mendengar kita, aku yakin hubungan mereka baik-baik saja."

Aku bisa mendengar dengan jelas, itu adalah suara ayah dan ibuku, apa mereka sengaja menguping kami di kamar? Menatap Sasuke, dia hanya memintaku berbaring, berbaring?

Hoooo!

A-apa kami akan melakukan hal semacam 'itu'? Sa-Sasuke yang tengah berada di tubuhku berada di atas? Apa sih istilahnya, women on top!

Plaak!

Apa yang sudah aku pikirkan! Dasar otak kotor.

"Kenapa menampar wajahku!" Protes Sasuke.

"Ma-maaf." Ucapku.

I-ini sungguh memalukan.

"Bi-biar aku melakukannya." Ucapku, gugup.

"Terserahlah." Ucap Sasuke, dia sungguh berbaring dengan begitu pasrah, kenapa kau seperti itu Sasuke! Itu tubuhku!

Merangkak ke arahnya dan ini menjadi tak nyaman, aku sungguh sulit berada di atas tubuhku sendiri!

"Aku tak bisa!" Ucapku, bergegas kabur dari atas ranjang.

"Ck, kau benar-benar bodoh."

"Jangan mengejekku, aku kesulitan dengan wajah itu!"

"Tutup matamu, lagi pula apa yang akan kita lakukan? Aku hanya memintamu berbaring di atasku, itu saja." Ucapnya.

Begitu yaa.

"Aku mengerti, baiklah, kau bisa berbaring di atas tubuhku, maksudnya tubuhmu." Ucapku.

Deg.

Deg.

Deg.

"Berisik! Apa kau tidak bisa menghentikan detak jantung itu!" Lagi-lagi protes padaku.

Saat ini Sasuke benar-benar berbaring di atas tubuhku, maksudnya tubuh miliknya, meskipun begitu, aku tak nyaman, tubuh kami terlalu dekat satu sama lain dan aku kesulitan untuk menghentikan dekat jantung bodoh ini!

"A-aku hanya gugup." Panikku.

"Baiklah, lakukan yang biasa saja, aku juga kesulitan tidur." Ucapnya, beranjak dari atasku dan berbaring di sebelahku. "Kau harus memeluk tubuhmu sendiri."

Sama saja, bodoh!

"Kita hentikan saja, meskipun mereka memikirkan kita sedang memiliki hubungan yang buruk, tapi kita bisa memperlihatkannya saat bersama mereka." Ucapku, itu jauh lebih baik dari pada memaksakan diri untuk mesra di atas ranjang.

"Kau benar." Ucapnya dan akhirnya Sasuke berbaring menjauh dariku.

Akhirnya, aku sudah tidak kuat lagi, detakan jantung ini sampai membuatku tidak tahan, aku berdebar-debar saat bersentuhan dengan Sasuke, bukannya aku memikirkan hal jorok, ini hanya hal yang tidak biasanya, menatapnya, dia bahkan tidur membelakangiku, punggung kecil itu, aku sangat merindukan tubuhku sendiri, aku harap kami benar-benar bisa bertukar kembali.

.

.

TBC

.

.


update...~

setelah membaca beberapa review, dan author terfokus pada review ini.

Annis874 : Kmna para readers ffn ya ka? Sepiiiiii bangettttt deh... Sedih saya huhuhu

J : menurut author yaa, ini menurut author saja, jaman sekarang udah kebanyakan mereka mulai "malas" untuk baca, udah jaman sekarang komik online udah pada banyak, iya sih baca komik emang seru, ada gambarnya juga, tapi author tetap membuat fic karena author suka menghayal, Eh(?) maksudnya tuangkan ide-ide cerita lewat fanfic karena author tak mampu menggambar, pengen juga sih buat komik, tapi yaa gitu,, Ini malah curhat diri sendiri, eheheh, jadi kemungkinan mereka sudah pada beralih ke komik.

yaa segitu saja, author akan tetap dengan kemampuan author hanya sebatas nulis fic XD.

see you next chapter...!