Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Warning: Mengandung Gender Bender, Semi-Au, Time Travel, Miss Typoo, dll
!Author Notes!
Halo para pembaca sekalian, setelah beberapa hari terasa sangat sibuk, terlebih lagi pada tanggal 2 saya tidak ada libur sama sekali walau ada demo; saya akhirnya bisa kembali menulis… walau tidak dengan cepat atau semacamnya, setelah ini saya akan sibuk kembali.
Oke, sudah dulu saya curhatnya, kembali lagi ke masalah mengenai cerita ini, ada sedikit keanehan yang saya sadari yaitu… pada bagian Omake…
Saya sedikit lelah untuk menulis Omake terlalu panjang… dan saya jadi harus berfikir dua kali untuk menulis cerita ini, satu untuk main story dan satu lagi Omake… jadi mulai sekarang Omake hanya akan berkisaran 1000 word saja, kecuali kalau nanti akan ada segment tertentu atau saya lagi mood… jangan terlalu berharap kepada saya...
Saya juga bingung bukan main, mengapa Omake yang malah menurut saya aneh bin ajaib (chapter 19 dan 20) malah di sukai… saya saja terkadang bingung sendiri membacanya ulang…
Yah sudah lah, seperti biasa yang akan mendapat ending adalah: Sasuke, Gaara, Kakashi, Itachi, dan Kurama
Sekian dan terimakasih, selamat menikmati chapter baru To The Past.
Kehidupan itu terkadang sangat tidak adil, Naruto tahu itu, namun bukan berarti Naruto akan menerimanya begitu saja, terlebih lagi di saat ia mendapat kesempatan kedua untuk membetulkan kesalahannya di masa lalu.
Namun sekali lagi Naruto di ingatkan dengan seberapa tidak adilnya sebuah kehidupan, di saat ia mengira bahwa semua akan baik-baik saja, di saat ia mengira bahwa ia akan bisa menyelamatkan kakeknya, dunia berkata lain.
Selain keinginannya untuk menjaga kakeknya sedikit berantakan yang menghasilkan sang pemimpin desa yang sudah ia anggap kakek sendiri dalam keadaan koma, ia juga mendapatkan teguran yang sangat keras dari sang rubah berekor sembilan.
Ia sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri di luar namun ia sedang berada di alam bawah sadarnya, berbicara dengan sang rubah berekor sembilan—atau lebih tepatnya sedang di ceramahi dan marahi habis-habisan oleh sang rubah.
"Kau tahu apa kesalahanmu bukan? Kau seharusnya—JANGAN BERANI-BERANI MEMOTONG OMONGANKU SEKARANG" Sang rubah berekor sembilan menghantamkan tangannya ke 'lantai' dan mengerang dengan sangat keras, membuat orang yang ia sedang ceramahi buru-buru menutup mulutnya "Apakah kau tahu seberapa berbahayanya apa yang kau lakukan?"
"Di dunia ini ada yang namanya butterfly effect dan aku tahu seharusnya kau mengerti apa itu.. namun yang lebih penting adalah…" Sang rubah berekor sembilan menatap tajam sang gadis berambut kuning yang ada di depannya, matanya yang berwarna merah menyiratkan kemarahan yang sudah tidak bisa di tahan lagi "KAU MEMBERIKAN SEMUA CHAKRAMU! KAU MAU MATI HAH?"
Sang pemuda berubah gadis Uzumaki yang ada di depannya membuang mukanya, tidak berani menatap secara langsung manik merah darah milik Kurama.
"Jangan besar kepala hanya karena kau memiliki aku! Tubuhmu tak sekuat sebelumnya!" Kurama mengerang dengan sangat keras, memang benar apa yang ia katakan, hanya karena ia menggunakan tubuh Naruto satu kali saja, sang gadis Uzumaki langsung tidak bisa bangun dalam jangka waktu lama, ini sudah tiga hari Naruto tidak sadarkan diri di luar "Kini kita sudah menghabiskan banyak waktu hanya karena kau tidak bisa bangun sama sekali"
Naruto diam saja, ia masih membuang mukanya namun sekarang ia tertunduk menatap kosong 'lantai' yang ia duduki, ia menggigit bawah bibirnya untuk menahan diri agar tidak mengatakan apapun dan tidak membantah apa yang baru saja sang rubah katakan walau pada kenyataannya ia tidak bisa berkata apa-apa; semua yang sang rubah katakan adalah kebenaran.
Ia tahu bahwa ia memang seharusnya tidak menyelamatkan Sandaime—atau siapapun itu yang ia tahu akan kehilangan nyawanya, ia tahu bahwa apa yang ia lakukan akan mendapatkan konsekuensi besar; karena ia bukan Nagato, ia tidak punya hak dalam mengatur soal takdir kematian seseorang; itupun juga dengan bayaran nyawanya sendiri.
Ia tahu bahwa apa yang ia lakukan adalah kesalahan, teman-teman seperjuangannya yang membawa ingatan dari masa depan tidak akan menyetujui apa yang baru saja ia lakukan, terlebih lagi bila mereka mendengar bahwa ia hampir saja mati karena kehabisan chakra.
"Aku… tidak mungkin…" Naruto bergumam pelan, rasanya ia seperti sedang di sumpal menggunakan arang panas; ia kesulitan dan hampir tidak bisa berbicara sama sekali, ia mati-matian berusaha untuk mengeluarkan kalimat yang ia yakin akan membuat Kurama tenang "Aku… janji…"
Kurama dengan sabar menunggu Naruto menyelesaikan omongannya, ia memicingkan matanya dan menatap lekat-lekat wadahnya; seperti menyuruh sang gadis Uzumaki untuk menyelesaikan kalimatnya secepatnya.
"Aku tidak… akan… mencoba" Naruto bisa merasakan sebuah cairan mengalir memasuki mulutnya; sepertinya ia menggigit terlalu keras bawah bibirnya hingga ia terluka saking tidak inginnya menyelesaikan omongannya, namun sebuah lirikkan yang ia berikan kepada Kurama membuat ia menegak ludahnya yang bercampur darah dan melanjutkan omongannya "menyelamatkan… orang… lain…"
Kurama menghela nafas pelan sebelum membetulkan posisi duduknya menjadi sedikit lebih santai, matanya kini tertutup dan ia menyenderkan kepalanya ke tangannya yang ia lipat dan letakkan di atas tanah "Aku akan mengunci SEMUA ingatan milikmu mengenai siapa saja yang akan mati kelak—tidak, aku akan menghapusnya"
"Ti-tidak!" Naruto langsung menatap kaget sang rubah sebelum menggeleng dengan sangat keras "Jangan di hapus! Kunci! Kunci saja!"
Kurama membuka sebelah matanya untuk memberikan tatapan kesal kepada Naruto.
"Aku… mohon; kunci saja, setidaknya biarkan aku memiliki kenangan mengenai mereka…" Naruto mulai memainkan ujung pakaiannya, sebuah kebiasaan barunya di kala ia sedang benar-benar tidak enak, ia juga harus menahan tangis karena perasaan bersalah atas ketidak mampuan dirinya dalam menyelamatkan teman-temannya.
Kurama diam saja, ia menutup kedua matanya sebentar sebelum kembali membukanya lagi, ia menggerakkan tangannya untuk memberikan gesture kepada Naruto agar ia berjalan mendekat ke arahnya.
Naruto hanya bisa melakukan apa yang kurama suruh sebelum ia duduk di dekat wajah Kurama dan menyenderkan kepalanya ke moncong Kurama sebelum ia merasakan pelan-pelan chakra milik sang rubah berekor sembilan merasuki dirinya.
Naruto menutup matanya dan membiarkan chakra milik partnernya mengendalikan dirinya, ia bisa merasakan bahwa ia akan kehilangan kesadaran sepenuhnya namun sebelum ia ke dunia mimpi, ia merasakan Kurama memindahkan dirinya ke dalam pelukan sang rubah, membuat sang gadis Uzumaki tersenyum kecil dengan air mata pelan-pelan mengalir dari matanya.
Naruto pelan-pelan membuka matanya untuk membiasakan matanya dengan cahaya yang cukup terang yang menyapanya di kala ia terbangun dari tidur panjangnya, hal pertama yang ia rasakan adalah perasaan bahwa ia sedang tiduran di tempat tidur yang ia tahu bukan miliknya, karena ia tidak memiliki tempat tidur, ia hanya punya futon.
Naruto mencoba menggerakkan tubuhnya secara perlahan dan walau dengan sedikit perjuangan; ia berhasil mengganti posisinya menjadi duduk dan bersender di tiang ranjang, setelah beberapa menit untuk mengumpulkan pikirannya; Naruto kini menyadari bahwa ia sedang ada di sebuah ruangan serba putih yang ia tahu adalah rumah sakit.
"Naruto…"
Merasa namanya di panggil, ia melirik ke arah suara yang memanggilnya dan menemukan salah satu pengawalnya, Ashura, duduk di sampingnya.
"Akhirnya kau bangun juga" Naruto tidak perlu melirik ke arah asal suara untuk mengetahui siapa pemilik dari suara yang barusan berbicara, karena pengawalnya ada dua dan mereka jarang sekali meninggalkan dirinya sendirian.
Naruto diam saja, ia hanya menatap Ashura sebentar sebelum mengalihkan perhatiannya ke arah jendela yang ada di dekat tempat tidurnya untuk melihat pahatan wajah milik sang Hokage ketiga.
Ashura diam saja, ia terlihat sedikit kurang nyaman dan seperti ingin mengatakan sesuatu namun ia tidak memiliki hati atau nyali untuk berbicara, jadinya sang kakak yang berbicara duluan untuk memecahkan keheningan di antara mereka.
"…Permintaanmu berhasil kami kabulkan… walau tak sepenuhnya…" Indra menutup matanya dan melipat kedua tangannya di depan dadanya, ia sudah siap untuk menerima ekspresi sedih dan kekecewaan dari sang gadis Uzumaki.
Tidak ada balasan dari Naruto sehingga Indra melanjutkan omongannya "Kake—Hokage ketiga tidak mati namun ia hanya dalam keadaan koma"
Indra dan Ashura tersentak kaget di saat mereka menerima pandangan kaget bercampur khawatir dari sang gadis Uzumaki secara tiba-tiba, mereka sudah mempersiapkan diri untuk menerima berbagai macam reaksi dari sang gadis Uzumaki, namun semuanya adalah reaksi negative bukan reakasi yang bisa di bilang netral seperti ini.
"Kakek koma? Namun ia baik-baik saja bukan? Apa yang terjadi selama aku bertarung melawan Gaara? Bukannya kakek ada di dalam perlindungan ANBU? Kenapa kakek bisa koma?" Ekspresi yang Naruto kenakan benar-benar seperti ia sedang sangat khawatir, ia bahkan sampai menarik lengan pakaian milik Ashura "Kenapa kalian diam saja? Jawab aku!"
Ashura dan Indra saling berbagi pandangan sebelum mereka melirik kening Naruto yang tidak tertutupi oleh hitai-ate miliknya.
Tidak ada logo milik Uchiha seperti biasa namun mereka berdua bisa merasakan sesuatu yang aneh terjadi di dalam tubuh Naruto.
"…Hokage ketiga di serang oleh musuh dan sekarang dalam keadaan koma, namun kau tidak terlalu khawatir, nyawanya tidak ada dalam bahaya; hanya ia belum bangun saja" Indra menarik Naruto agar sang gadis melepaskan Ashura sebelum meletakkan tangannya ke kening Naruto "Yang perlu di khawatirkan adalah dirimu sekarang, tubuhmu belum stabil"
Naruto menatap Indra sebentar sebelum mengalihkan perhatiannya ke arah Ashura "Apa saja yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri?"
"Akan di lakukan pencarian kandidat untuk Hokage kelima tadinya, namun sang Hokage ketiga meninggalkan sebuah surat wasiat mengenai siapa yang akan menjadi Hokage ke lima" Ashura membetulkan pakaiannya yang sedikit miring karena di tarik oleh Naruto sebelum menjelaskan informasi yang ia dapat "Aku tidak mendengar siapa karena aku harus mengecek keadaanmu, namun kakak mendengarnya"
Naruto kini mengalihkan perhatiannya ke Indra yang sudah duduk di sampingnya "Apa maksudmu dengan 'permintaan'lu tadi? Ingatanku di saat menenangkan Gaara sedikit buram"
Indra mengangkat bahunya dan melirik ke arah adiknya "Kau hanya khawatir dengan sang Hokage ketiga dan menyuruh diriku mengecek keadaanya,"
"Aah" Naruto menggangguk sebelum ia mengalihkan perhatiannya kembali ke pahatan milik Hokage ketiga yang terlihat dari jendela kamarnya.
"Ada yang lain?"
Di saat Naruto sedang menerima informasi dari kedua pengawalnya, kedua rekan Jinchurkinya yang membuat kekacauan di Konoha untuk pengalih perhatian di saat ia sedang menenangkan Gaara sedang bertemu dengan dua orang anggota Akatsuki yang sedang di dalam perjalanan ke Konohagakure.
"Aku anggap semua berjalan dengan lancar?" Itachi melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menatap sang Jinchuriki dari kerbau berekor delapan yang ada di depannya.
"Semua berjalan lancar yo~! Kecuali soal komanya Sandaime" Bee menggeleng dengan pelan sebelum ia merasakan Fuu bersembunyi di belakangnya, sepertinya Fuu takut dengan satu orang yang sedang bersama dengan Itachi. Yang sedari tadi menatap dirinya dengan senyuman khas ikan hiu miliknya; jelas sekali senang dengan reaksi sang gadis berambut mint terhadap dirinya.
"Kenapa bisa… aku mengunci ingatannya…" Itachi mengerutkan keningnya, jelas sekali ia tidak menyukai alur pembicaraan ini, karena akan selalu berakhir dengan kenyataan bahwa segel yang ia buat memiliki kekurangan dan karenanya; Naruto jadi berhasil menyelamatkan Sandaime.
Bee diam sebentar sebelum ia membuka mulutnya untuk berbicara "Aku memiliki teori…"
Itachi diam saja, mempersilahkan Bee melanjutkan omongannya.
"Berberapa waktu yang lalu—atau lebih tepatnya sebelum kita melakukan rencana kambing hitam ini; Naruto bercerita kepada kami mengenai 'pengawal' miliknya" Bee mengangkat bahunya dan menggeleng "Sepertinya kau belum tahu dari ekspresi yang kau kenakan"
"Naruto bercerita kepada kami mengenai dua orang hantu yang selalu mengikuti dirinya dan hanya bisa ia yang lihat ssu" Fuu mengintip dari balik badan Bee untuk ikut menjelaskan karena ia juga mendengar ceritanya dari Naruto; sang gadis Uzumaki sebenarnya baru cerita kepada rekan Jinchurikinya saja karena belum menemukan waktu untuk bertemu dengan Itachi dan Nagato untuk bercerita "Kedua hantu itu bilang bahwa mereka adalah 'pengawal' miliknya, itu yang Naruto katakan ssu"
"Hantu? Apakah anak rubah satu itu kepalanya terbentur sangat keras hingga berhalusinasi seperti itu? Atau mungkin terkena genjutsu?" Kisame yang tadinya diam saja mengutarakan pendapatnya, ia meletakkan sebelah tangannya di pinggangnya sebelum kembali memberikan senyum khas ikan hiunya kepada Fuu untuk membuat gadis berambut mint tersebut kembali bersembunyi di balik Bee.
"Tidak, Naruto serius di saat ia menceritakannya kepada kami" Bee menggeleng, ia tadinya juga menganggap apa yang Naruto katakan hanyalah sebuah lelucon namun ekspresi yang Naruto kenakan mengatakan segalanya, ia tahu bahwa Naruto serius dan ia sedang tidak berbohong ataupun bercanda.
"…apa hubungannya dua hantu tersebut dengan keselamatan Sandaime" Itachi membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menerima kenyataan bahwa Naruto serius mengatakan bahwa ia sedang di hantui, bukan hanya satu melainkan dua hatu pula, apa yang sebenarnya terjadi dengan sang gadis Uzumaki? Ia jadi khawatir.
"Kedua hantu tersebut bukan hantu biasa" Bee menyenderkan tubuhnya ke pohon yang ada di belakangnya, ia yakin akan di pandang sangat aneh oleh dua orang yang ada di depannya setelah menyelesaikan omongannya.
"Keduanya adalah mendiam anak dari Sage of the six path, Ashura dan indra"
Hening
Tidak ada yang berbicara, Bee sedang menunggu reaksi lawan bicaranya, Fuu masih bersembunyi di balik tubuh Bee, sedangkan Kisame dan itachi sedang mencerna apa yang baru saja Bee katakan.
"…Anak?" Hingga akhirnya Itachi memecahkan keheningan di antara mereka.
"Ya, anak, mereka berdua adalah darah daging dari sang sage of the six path" Bee sebenarnya kurang paham dan tahu mengenai sang pertapa tersebut namun kalau dari apa yang Naruto jelaskan, ia adalah orang yang begitu hebat dan terkenal, begitu juga dengan kedua anaknya; selain itu juga Gyuki juga mengatakan bahwa ia adalah 'ayah' dari para Biiju sehingga membuat dirinya mengambil asumsi bahwa sang pertapa memang benar sehebat yang Naruto katakan.
"Namun tidak itu saja, Naruto mengatakan bahwa mereka berdua tidak hanya sekedar hantu penasaran yang menghantui dirinya. Seperti yang aku bilang sebelumnya, mereka adalah 'pengawal' milik Naruto" Bee sempat tidak percaya (lagi) dengan apa yang Naruto katakan namun sekali lagi ekspresi sang gadis mengubah pikirannya "Naruto bisa 'meminjam' kekuatan mereka dengan bayaran chakranya, bisa di bilang seperti barter"
"Ambil contoh saja, salah satunya… aku lupa siapa namanya, memiliki sharingan" Bee bisa melihat ekspresi kaget yang terlukis di wajah Itachi dan partnernya, ia sendiri kaget mendengarnya dari Naruto waktu itu "Sebagai bayaran menggunakan sharingan milik salah satu pengawalnya untuk menghentikan Gaara, ia memberikan seperempat chakranya"
"Seperempat? Sebanyak itu?" Kisame menaikkan sebelah alisnya, seingatnya di saat ia bertemu secara langsung dengan sang Jinchuriki; chakra milik sang gadis sudah menyamai chakra milik Jounin; lalu mengapa di butuhkan seperempat chakra dari sang gadis hanya untuk menggunakan sharingan? "Apakah itu tidak terlalu berlebihan?"
Bee mengangkat bahunya dan menggeleng "Apa yang kau harapkan? Ia adalah anak dari sage of the six path dan pendiri klan Uchiha"
"Oke, anak rubah yang satu itu sangat berbahaya" Kisame menghela nafas pendek, untuk pertama kalinya ia merasa sedikit terintimidasi dengan seseorang, ia melawan Itachi saja masih menang sedikit sang Uchiha, bagai mana dengan sang pendiri klan? ia masih waras dan memiliki insting yang kuat jadi ia tidak akan mencoba-coba membayangkannya.
Itachi diam saja, otaknya yang encer sedang berfikir sekaligus menghawatirkan keadaan sang gadis sang Uzumaki. Untuk menggunakan kekuatan mereka, kedua penjaga Naruto akan meminta bayaran berupa chakra? Itachi tidak suka mendengarnya entah mengapa, ia ada perasaan tidak enak bercampur rasa curiga dengan kedua orang yang mengatakan bahwa mereka adalah 'penjaga' sang gadis Uzumaki.
"Apa lagi yang Naruto ceritakan mengenai kedua 'pengawal'nya tersebut?" Itachi bukannya paranoid namun ia tetap harus berhati-hati, hidupnya sebagai missing ninja selama ini mengajarkannya banyak hal; termasuk untuk mempercayai instingnya.
"Naruto juga berkata bahwa keduanya bertingkah sedikit aneh dan ia masih tidak mengerti apa yang mereka maksud dengan 'pengawal' yang mereka bicarakan, karena Naruto merasakan ada makna lain di balik apa yang keduanya katakan" Benarkan, bahkan sang Uzumaki merasakannya juga "Sebaiknya kau temui Naruto sekarang juga, aku dan Fuu ada urusan dan akan berkomunikasi dengan Naruto nanti"
"…Hn" Itachi mengangguk dan melanjutkan perjalanannya bersama dengan partnernya, mereka berdua berjalan dalam keheningan; masing-masing tenggelam dalam pikiran masing-masing mengenai informasi yang baru saja mereka dapatkan sebelum Kisame memecahkan keheningan di antara mereka.
"Anak rubah satu itu terlalu nekad, mungkin kau harus pasangkan tali kekang di lehernya agar ia tidak berlaku terlalu macam-macam"
Itachi pura-pura tidak mendengar apa yang Kisame baru saja katakan.
Sasuke menatap kosong bangunan yang ada di depannya, sebuah bangunan yang hampir ia tidak pernah datangi dulu, namun sekarang ia memiliki keperluan di dalam gedung tersebut jadi ia menghela nafas pendek sebelum berjalan memasuki ruangan gedung tersebut.
Seorang wanita paruh baya yang bekerja di gedung tersebut menyapanya dan menanyakan kedatangannya di gedung tersebut.
"Aku ingin masuk ke perpustakaan untuk ninja" jawab Sasuke dengan nada monoton dengan kedua matanya menatap pintu masuk ruangan perpustakaan yang ia ingin tuju.
Sang wanita paruh baya mengangguk dan mengeluarkan sebuah kartu sebagai tanda untuk di perbolehkan masuk yang Sasuke terima setelah mengangguk lalu berjalan masuk ke perpustakaan yang ia inginkan.
Mengapa ia mendadak pergi ke perpustakaan?
Jawabannya cukup simple, ia mengingat di mana ia pernah melihat kedua monster yang beberapa hari yang lalu ia lihat: di sebuah buku yang kakaknya pinjam dulu.
Salah satu ingatan cukup manis yang muncul kembali mengenai kakaknya berkat dirinya yang tidak di butakan oleh kebencian; dulu sang kakak yang merasa kasihan dengan dirinya karena tidak bisa selalu menemaninya latihan sering kali membawakan buku mengenai ninja untuk dirinya baca karena dulu, di umurnya yang masih sangat belia, belum di perbolehkan meminjam buku.
Saat itu ia tidak sengaja menemukan sebuah buku yang di pinjam kakaknya namun hanya untuk sang kakak baca dan bukan dirinya, di buku tersebut ia melihat berbagai macam gambar monster yang menurutnya sangat keren dulu.
Sasuke berjalan ke arah rak buku yang paling dekat dengannya dan mulai mencari buku yang sama dengan yang pernah ia lihat dulu, namun setelah beberapa menit ia tak kunjung menemukannya.
'Ck, sial, aku lupa apa judul bukunya…' Sasuke mendecak kesal sebelum ia mencari buku tersebut di rak lain.
Satu jam kemudian dan Sasuke masih belum berhasil menemukan buku tersebut.
Kesabarannya mulai menipis dan rasa penasarannya semakin besar, karena semakin lama ia jadi semakin yakin bahwa monster yang ia lihat kemarin sangat mirip dengan gambar yang ia lihat dulu.
Hingga manik onyxnya tidak sengaja melihat sebuah rak buku kecil yang terlihat tidak pernah di bersihkan dan berdebu, ia berjalan perlahan ke rak tersebut lalu mulai mencari, entah mengapa rak tersebut terlihat berbeda sendiri dan entah mengapa seperti tidak pernah di sentuh dalam jangka waktu lama.
'Sannin dari Konoha… Sejarah klan Senju… Biografi Shodaime… Biografi Nidaime… White Fang dari Konoha…' Sasuke membaca judul buku yang ada di dalam rak buku tersebut, tidak banyak memang dan judul buku tersebut seperti tidak terorganisir dan seperti campuran dari buku-buku dengan subjek yang tidak sama.
Hingga matanya menemukan sebuah buku bersampul hijau barulah ia terdiam '…Biiju…'
Itulah buku yang ia cari, ia langsung mengambil buku tersebut dan membawanya ke meja terdekat untuk ia baca.
Ia membuka buku tersebut dan mulai membaca halaman pertama dari buku tersebut.
Biiju, atau monster berekor adalah mahluk yang terbuat dari chakra sepenuhnya yang memiliki wujud bermacam-macam dengan ciri khas masing-masing dan kekuatan masing-masing.
'Monster chakra… intinya mereka adalah monster yang terbuat chakra' Sasuke membalik halaman selanjutnya dan matanya membulat melihat gambar yang di tampilkan pada halaman tersebut.
Ichibi
Monster berekor satu dengan bentuk seperti seekor rakun, hidup di padang pasir dengan kekuatan utama adalah pengendalian pasir.
Di miliki oleh Sunagakure.
Sasuke tidak bisa mempercayai apa yang ia sedang lihat, benar ingatannya, gambar rakun yang ada di depannya adalah rakun yang sama dengan yang ia lihat kemarin—dan Gaara, lengkap dengan tato bermotif sama.
'Berarti… yang waktu itu aku lihat adalah… Ichibi?' Sasuke menggigit bawah bibirnya, entah mengapa ia ada perasaan tidak enak dan ia tidak menyukai ke mana kesimpulan yang ia ambil mengenai kedua monster tersebut dan dari mana asal mereka.
Sasuke terus membaca buku tersebut, ia melihat berbagai monster yang belum ia pernah lihat namun ia tahu bahwa mereka semua memiliki ukuran yang sama, hingga ia sampai ke halaman terakhir buku tersebut dan ia hampir terkena serangan jantung melihat gambar monster yang di tampilkan oleh halaman tersebut lengkap dengan penjelasannya.
Kyuubi
Monster berekor sembilan dengan bentuk seperti rubah, hidup di pegunungan yang sepi dan suka makan manusia, kekuatan utama masih tidak di ketahui
Di miliki oleh Konohagakure
Di miliki oleh Konohagakure, Sasuke ada perasaan tidak enak dan tidak suka membacanya.
Di miliki? Apa maksud dari di miliki? Ia tidak pernah melihat sang rubah seumur hidupnya sebelum beberapa hari yang lali dan ia tidak suka teori yang mulai terbentuk di kepalanya.
Sasuke buru-buru menggelengkan kepalanya untuk membersihkan pikirannya dari teori yang mulai terbentuk di kepalanya, ia butuh waktu untuk memproses informasi yang baru saja ia dapatkan.
Ia mengembalikan buku yang tadi ia baca ke tempat semula sebelum berjalan keluar dari perpustakaan, ia belum sempat menjenguk Naruto dan Sakura bilang ia belum siuman kemarin, ia memutuskan untuk menjenguk temannya untuk mengalihkan perhatiannya sementara.
Namun sesampainya di rumah sakit, ia di kejutkan dengan kenyataan bahwa tidak hanya sang gadis Uzumaki sudah siuman, Naruto sudah keluar dari rumah sakit kemarin dan ia dengar dari suster yang berjaga bahwa temannya di bawa oleh seorang laki-laki berambut putih pergi.
Mengira bahwa lelaki tersebut adalah Kakashi, ia mencari gurunya dan menemukan sang pemuda Hatake sedang ada di sebuah toko teh dengan Asuma dan Kurenai, namun entah mengapa Sasuke memiliki perasaan bahwa mereka bertiga bersikap sedikit aneh.
"Di mana Dobe? Bukannya seharusnya ia bersama dengan dirimu?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya di saat ia melihat Naruto tidak bersama dengan Kakashi, bukannya sang suster mengatakan bahwa ia pergi bersama seorang laki-laki berambut putih?
Entah mengapa ia jadi kesal dan ingin marah bila membayangkan Naruto pergi dengan laki-laki lain…
"Naruto di bawa oleh Jiraiya untuk di latih" Sasuke mengenal nama tersebut, ia adalah Sannin dari Konoha yang terkenal, ia jadi sedikit menyesal tidak membaca buku yang ia temukan tadi untuk mengetahui lebih lanjut mengenai sang Sannin berambut putih.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya di saat ia menyadari bahwa Kakashi, Kurenai, dan Asuma bertingkah sedikit aneh, mereka melirik ke suatu tempat berkali-kali dan memberikan dirinya pandangan seperti menyuruhnya untuk pergi cepat-cepat.
"Sasuke, ikut aku sebentar, aku ingin membicarakan soal jadwal latihan kita mengingat Naruto kini di latih oleh Jiraiya" Kakashi langsung mendorong punggung Sasuke agar sang pemuda Uchiha mengikuti dirinya dan di bawa menjauh dari Asuma dan Kurenai.
Sasuke hanya bisa menatap bingung gurunya sebelum matanya menangkap sesosok laki-laki menggunakan jubah berwarna hitam dengan motif awan merah di toko dango, wajahnya tertutup oleh topi jerami yang ia kenakan namun ia berhasil melihat warna kulit orang tersebut.
Orang macam apa yang punya kulit berwarna biru?
Sasuke tidak bisa memperhatikan sosok yang ia lihat sebelumnya maupun mengecek orang yang berpenampilan sama dengan lelaki berkulit biru yang duduk di sampingnya karena Kakashi tiba-tiba saja mengajaknya berbicara dan kini sedang menceritakan keadaan Naruto.
Tanpa ia sadari, sepasang manik Onyx melirik ke arahnya sebelum tertutup dan terbuka kembali untuk memperlihatkan sharingan.
"Kau pikir ini akan berhasil?" Kisame menyeringai dan memperlihatkan derettan giginya yang runcing "Kalau menurutku sih rencana kita baru saja hancur berantakan"
Itachi menggeleng dengan pelan, apa yang di katakan oleh Kisame memang benar, rencana mereka memang hancur berantakan dan semuanya hanya karena timing yang cukup buruk.
'Sepertinya ini adalah efek samping dari perubahan waktu yang telah Naruto kacaukan' Itachi menatap kosong kedua Jounin yang tadi sedang bertarung melawannya dan Kisame, Kurenai Yuhi dan Asuma Sarutobi, sebelum mengalihkan pandangannya ke arah tiga orang yang baru saja datang, Hatake kakashi, Might Guy, dan seorang ANBU bertopeng rubah.
Ada dua orang yang seharusnya tidak datang melawannya dan mereka berdua menghancurkan kesempatannya dengan Kisame untuk mencoba mencari sang gadis Uzumaki, terlebih lagi sang gadis Uzumaki juga tidak berada di desa, ia bisa merasakannya.
"Anak yang merepotkan" Kisame menyeringai khas ikan hiu sebelum tertawa pelan dan mengeluarkan Samehada dari penahan yang ada di punggungnya.
Sepertinya mau tidak mau, ia harus menemui Naruto di saat ia sedang bepergian dengan Jiraiya.
"Apa maumu datang ke Konoha kembali… Uchiha Itachi" Itachi melirik ke arah sang pemuda Hatake sebelum menutup matanya sebentar.
"Tugas kami hanya satu, menangkap Naruto Uzumaki—atau lebih tepatnya apa yang ada di dalam tubuh sang Uzumaki" Jawab Itachi dengan lancar, ya mereka berdua harus berpura-pura seakan mereka adalah pemegang peran antagonis "Itulah tugas kami sebagai… Akatsuki"
"Jadi kami tidak ada urusan dengan kalian semua, serahkan Naruto Uzumaki" Itachi harus berterimakasih dan memuji akting Kisame—atau mungkin memang sang pemuda setengah hiu tersebut memang serius, berkat penampilan dan wajahnya; apa yang ia katakan memang benar-benar pas dengan peran mereka "Aku tak keberatan kalau kalian mau mencoba melawan"
"Keparat…" Itachi mendengar Asuma mendesis dengan keras yang di ikuti dengan yang lainnya sudah siap melawan dirinya dan Kisame.
"Jangan terlalu memaksakan diri, kau harus simpan kekuatan untuk pertarungan yang sebenarnya" Kisame menyeringai melihat Itachi mengaktifkan sharingan miliknya bersamaan dengan mangekyou, ia tahu bahwa Itachi tidak akan membunuh mereka namun bukan berarti Itachi akan sungkan untuk melukai mereka.
"Hn…" Itachi hanya mengangguk pelan sebelum menghilang menjadi kumpulan burung gagak untuk menghindari pohon yang mencoba melilit tubuhnya sedangkan Kisame mengayukan samehada untuk menghancurkan pohon yang mencoba menahannya.
Sedangkan sang gadis Uzumaki yang sedang mereka berdua cari sedang berjalan bersama Jiraiya, ia sedang menatap bingung sang Sannin berambut putih.
"Kau sebenarnya ingin menerima tawaran menjadi Hokage?" Naruto menatap bingung gurunya, ini adalah kali pertamanya ia mendengar ayah angkatnya ada keinginan untuk menjadi Hokage, bukannya di masa lalu ia menolak ya? Apa yang membuatnya berubah pikiran.
"Entahlah, tiba-tiba saja aku ingin" Jawab Jiraiya dengan santai, ia melipat kedua tangannya di depan dadanya sebelum menatap jalanan yang ada di depannya "Namun kalau Tsunade menerima tawaran untuk menjadi Hokage, maka aku akan mundur"
Naruto menutup mulutnya dan terdiam sebentar, aneh memang, entah mengapa juga Jiraiya mendadak jadi semakin menghawatirkan dirinya dan bahkan ia mengajak Naruto untuk berangkat lebih awal untuk mencari Tsunade dari yang ia ingat di masa lalunya.
"Mengapa kau ingin menjadi Hokage?" Naruto menggeleng dengan pelan, ia tidak keberatan bila ayah angkatnya akan menjadi Hokage kelima namun entah mengapa aneh saja ia melihat Jiraiya jadi seperti itu "Bukannya aku meragukan kemampuanmu, hanya saja aku melihat dirimu sebagai tipe yang… tak suka terikat peraturan dan bebas"
Jiraiya menyeringai sebelum tertawa dan merangkul Naruto "Kau tahu saja ya, padalhal kau baru saja menjadi muridku berberapa minggu yang lalu"
Naruto terdiam dan ia rasanya ingin sekali membebaskan diri dari rangkulan sang Sannin, karena ia mendeteksi makna lain dari apa yang baru saja Jiraiya katakan namun sayangnya Jiraiya menyadarinya dan Naruto bisa merasakan sang Sannin menahan dirinya lebih kuat.
"Kau mau cerita bagai mana caranya kau menghentikan Gaara?" nada suara Jiraiya terdengar sangat serius, berbeda dengan sebelumnya, membuat bulu kuduk Naruto naik semua.
'Cih, karena dirimu memberikan semua chakramu kepada Indra, aku harus mengambil alih tubuhmu' Naruto bisa mendengar Kurama mengerang dengan sangat keras, membuat sang gadis Uzumaki hanya bisa meminta maaf dengan partnernya.
"Dan juga mau cerita bagai mana caranya segel yang ada di perutmu bisa terbuka lebar sedangkan dirimu terlihat baik-baik saja?" Naruto bisa merasakan bahwa jantungnya berdegup lebih cepat dan kencang mendadak.
'Ini semua salahmu!'
Ups… gawat.
To Be Continue
Omake
A Peek To The Future!
(Sasuke's Route)
TOK TOK TOK
"Permisi?" seorang gadis dengan surai kuning cerah tengah mengetuk pintu yang ada di depannya, ia melipat kedua tangannya dan menunggu dengan sabar pemilik pintu rumah yang ia ketuk untuk menjawab panggilannya "Halo? Ada orang di dalam?"
Setelah menunggu beberapa menit, suara langkah kaki seseorang bisa terdengar dan pintupun di buka dengan tidak lembut, dalam artian sang pemilik rumah terlihat sangat buru-buru sehingga ia tidak sengaja menggunakan terlalu banyak tenaga untuk membuka pintu.
"Akhirnya, apa yang kau lakukan? Aku sudah mengetuk pintu semenjak limabelas menit yang lalu" sang gadis bersurai kuning menghela nafas pendek dan menaikkan sebelah alisnya ke arah sang lelaki bersurai hitam di depannya "Apa kau sedang sibuk?"
Sasuke Uchiha, sang pemilik rumah menggeleng dengan pelan, rambutnya sedikit berantakan seperti ia sedang menyisir namun tiba-tiba saja terhenti, rambutnya yang setengah basah menandakan bahwa ia baru saja selesai mandi "Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini Naruto"
"Aku di sini ingin menagih janjimu, kau berjanji akan membelikan aku makanan bila aku mau membantumu menyelesaikan misi tingkat A beberapa hari yang lalu" Sang gadis bersurai kuning yang bernama Naruto Uzumaki meletakkan kedua tangannya di pinggangnya, ia tersenyum lebar ke arah sang Uchiha "Aku belum sarapan, jadi aku mau menagih janjimu!"
Sasuke terdiam sebentar dan menatap kosong sang gadis yang masih memberikan sebuah senyuman kepada dirinya namun kali ini dengan berpose peace, ia melirik ke belakang sebelum menghela nafas pendek dan merapihkan rambutnya dengan jari-jarinya "Kak, aku akan sarapan di luar"
Tanpa menunggu jawaban dari kakaknya, Sasuke keluar dari rumahnya dan menutup pintu di belakangnya sebelum berjalan bersama sang gadis Uzumaki yang kelihatannya sangat senang.
"Aku ingin makan ichiraku ramen" Naruto tersenyum dan berjalan sambil melompat-lompat kecil di samping Sasuke, sudah lama ia tidak makan ramen di kedai ichiraku karena sibuk dan mumpung sekarang ia sedang di traktir seseorang; ia akan makan yang banyak.
"Pagi-pagi sudah makan ramen" Sasuke memutar kedua bola matanya dengan bosan melihat kelakuan rekan satu kelompoknya dulu sebelum sebuah senyum kecil terlukis di bibirnya "Lama-lama kau akan mati karena kebanyakan makan garam"
"Enak saja, aku punya Kurama yang selalu senantiasa menjaga diriku dari segala macam penyakit" Naruto memperlihatkan seberapa dewasanya dirinya dengan menjulurkan lidahnya ke arah sang Uchiha "Tidak seperti dirimu yang suka meninggalkan diriku di tengah pertarungan"
Sasuke diam sebentar, ia menutup mulutnya namun sebelum otaknya bisa memproses apa yang akan ia katakan; ia sudah buka mulut "Kalau kau mau seperti itu, maka jadilah milikku selamanya dan aku akan melindungimu sepenuh hatiku"
Hening.
"…Ha?" Naruto menaikkan sebelah alisnya dan menatap bingung Sasuke.
Sasuke yang menyadari apa yang baru saja ia katakan membulatkan matanya dan buru-buru menarik tangan Naruto agar berjalan lebih cepat, ia sengaja jalan lebih di depan sang gadis Uzumaki "Itu kedai Ichiraku, ayo cepat; aku tak bisa lama-lama, nanti siang ada misi"
"Wha-hey! Pelan-pelan!" Naruto mempercepat jalannya dan cemberut "Bilang saja kau juga lapar, tak usah di sembunyikan, aku tahu Ichiraku ramen memang yang paling terbaik di dunia!"
Sasuke entah ingin merasa lega dan senang atau kesal dan frustasi melihat sahabatnya tidak peka, namun untuk sekarang ia sepertinya lebih senang sahabatnya tidak peka.
A Peek To The Future!
(Gaara's Route)
Sang gadis bersurai kuning menatap bingung temannya yang duduk di depannya, ia melipat kedua tangannya di depan dadanya dan sebelah alisnya terangkat "Misi dalam jangka waktu lama?"
Sang lelaki bersurai merah yang ada di depannya mengangguk, ia mengeluarkan selembar kertas dari lacinya sebelum memberikannya kepada sang gadis bersurai kuning "Iya, tidak terlalu lama; hanya dua bulan"
Sang gadis bersurai kuning menerima lembaran kertas yang di berikan kepadanya dan membaca isi kertas tersebut sebelum memberikan tatapan bingung lagi kepada sang lelaki bersurai merah "Jadi aku harus tinggal di Sunagakure untuk jangka waktu 2 bulan?"
Sang lelaki bersurai merah mengangguk, ia dengan sabar menunggu jawaban dari sang gadis bersurai kuning, sahabatnya, yang ada di depannya.
Naruto Uzumaki, sang gadis bersurai kuning, terdiam sebentar seperti sedang berfikir sebelum ia mengangguk "Boleh saja, namun aku tinggal di mana?"
Sang lelaki bersurai merah tersenyum, matanya yang berwarna hijau sedikit membesar dan berkilau karena ia senang "Kau bisa tinggal denganku"
"Benarkah? Tapi kau adalah Kazekage, Gaara, apa kata orang bila mereka mendengar bahwa aku yang hanya seorang Jounin, dari desa lain pula, tinggal bersamamu hanya karena misi?" Naruto bertolak pinggang, terkadang ia tidak mengerti jalan pikiran sahabatnya yang satu ini, masak iya; dirinya yang hanya seorang Jounin (baru minggu lalu pula ia lulus tes) tinggal bersama dirinya yang notabe adalah Kazekage kelima?
Sang Kazerkage kelima, Gaara, tertawa pelan sebelum menggeleng "Mereka akan merasa senang dan tersanjung, kau seharusnya tahu bahwa kau adalah sang penyelamat dunia, Naruto"
Naruto menghela nafas dan cemberut, ia melipat kedua tangannya di depan dadanya dan membuang mukanya "Oh ayolah Gaara, itu bukan apa-apa"
"Hanya kau yang bisa mengatakan 'menyelamatkan dunia' bukan apa-apa" Gaara menggeleng dengan pelan, ia menerima lembaran yang tadi ia berikan kepada Naruto yang sudah di isi oleh sang gadis bersurai kuning.
TOK TOK TOK
"Gaara, aku masuk" pintu di buka dan terlihatlah sang kakak dari Gaara, Kankuro masuk sambil membawa beberapa lembar kertas, di saat ia melihat sang gadis bersurai kuning, ia menaikkan sebelah alisnya "Naruto? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Yo, Kankuro" Naruto melambai ke arah Kankuro sebelum ia tersenyum lebar "Aku akan tinggal bersama dirimu, Gaara, dan Temari—eh Temari sedang ada misi di Konoha jadi hanya dirimu dan Gaara selama 2 bulan untuk misi"
Kankuro diam sebentar dan menatap sang gadis Uzumaki sebelum berjalan ke dekat adiknya dan meletakkan kertas yang ia bawa tadi di meja sang adik "Tenang Gaara, aku akan membantumu! Aku akan selalu menyemangati dirimu!"
Gara hanya menutup matanya dan mengangguk "Terimakasih"
Kankuro berjalan meninggalkan ruangan namun sebelum ia keluar ia menepuk pundak Naruto terlebih dulu "Yang baik-baik ya"
Hening.
"…Yang baik-baik?" Naruto menaikkan sebelah alisnya sambil menatap bingung pintu tempat Kankuro pergi sebelum menoleh ke arah Gaara dan menunjuk pintu yang tadi sedang ia tatap "Kakakmu kesurupan apa? Kenapa bicara hal tidak jelas seperti itu?"
Gaara hanya tersenyum sebagai jawaban dan bangun dari kursinya dan berjalan mendekati sang gadis Uzumaki dan menarik tangan Naruto "Kau belum makan bukan? Mau makan bersama?"
Naruto yang mendengar kata 'makanan' langsung berbinar-binar dan mengangguk dengan cepat, ia memang belum makan sama sekali dari tadi pagi dan ia sudah sangat lapar "Yey! Aku lapar! Bawa aku ke tempat makanan yang terkenal di Suna!"
Tidak terlalu jauh dari tempat Naruto dan Gaara sedang berada, Kankuro sedang di cegat dan di tanyai oleh para tetuah desa mengenai kapan ia menikah mengingat Temari sudah punya kekasih dan Gaara sedang pendekatan dengan Naruto, membuat sang puppet master kelabakan sendiri.
!Review Reply!
rheafica: Terimakasih atas pujiannya walau saya tidak mengerti di mana letak lucunya… saya tidak handal dalam menulis humor sebenarnya. Selamat berjuang dengan USnya, semoga mendapat nilai yang memuaskan.
Fujoshi desu xD: Tidak kalau tidak ada yang request atau request terlalu sedikit, atau di tolak oleh Editor karena tidak bisa nyambung dengan alur cerita… entah apa yang di maksud oleh Editor dengan 'nyambung' namun intinya saya harus diskusi dengan Editor dulu. Terimakasih banyak atas doanya.
choco: Semuanya, namun dalam ending tersendiri dalam artian setiap ending tidak ada hubungan satu sama lain, open ending, seperti main otome game, masing-masing punya ending tersendiri.
Hendra12: Iya namun saya memang terpaksa mempercepat alur karena ketidak handalan saya dalam menulis scene pertarungan… maafkan saya.
ajidarkangel: Aah saya ingin memberi tahu anda bahwa saya kurang menyukai… kalau mau jujur, saya tidak menyukai bila anda menanyakan kapan cerita ini di up-date di cerita saya yang lain, karena menurut saya itu kurang sopan… kehidupan saya sebagai penulis bukan hanya berkutat terhadap cerita ini, tolong hargai saya. Sekian dan terimakasih, maaf bila saya terdengar agak jahat…
Logan: Sayangnya saya tidak terlalu memikirkan dalam-dalam soal Omake dan jangan berharap banyak terhadap saya… saya kadang merasa lelah juga menulis Omake setiap chapter namun saya senang anda menyukainya, terimakasih banyak. Ngomong-ngomong main storynya memang berpusat ke dalam Adventure dan bukan humor (saya tidak memasang tag humor ke dalam fanfic ini), makannya terkesan berat dan serius.
primara: Bukan, klan milik Indra adalah Uchiha, Ootsutsuki adalah nama belakangnya dan Ashura; hanya saja ada yang membuat Shodaime memanggilnya Ootsutsuki. Terimakasih banyak atas pujiannya.
Hana Raikatuji: Namanya juga kurang fokus (kurang minum air putih mungkin), terimakasih atas pujiannya walau saya bingung di mana letak lucunya… saya kurang handal dalam membuat humor.
TsukiNoCandra No Login: Iya, kalau mengganti masa lalu memang akan selalu ada domino effect dan butterfly effect, makannya berbahaya… mari berdoa saja Naruto tidak apa-apa.
Nina: Keduanya agak socially Awkward (Apa lagi Kakashi) sih, makannya mudah mengerjai mereka, hahahah.
AsakiYuuna: Anda tidak sendirian, saya juga agak lelah menulisnya, makannya mulai chapter depan akan saya perpendek. Iya, sama-sama.
Crazzy Lucky Rin: Iya, saya juga senyum-senyum menulisnya. Memang benar, sifat Naruto memang sangat unik dan menarik. Aah saat latihan rasen shuriken juga rambutnya turun karena basah, pas di opening (atau ending ya?) mengenai kedai Ichiraku, Naruto umur lima tahun dengan rambut turun dan basah juga imut bukan main.
: Terimakasih atas pujiannya walau saya tidak tahu letak lucunya di mana, saya kurang handal dalam menulis humor. Sayangnya setelah chapter ini saya akan sibuk jadi mohon bersabar.
Madara's Queen: Iya, Naruto nekad tingkat dewa. Terimakasih banyak, saya akan berjuang.
Azarya Senju: Yah, sifat Naruto sebenarnya sudah unik tapi karena ia jarang dan hampir tidak pernah bersikap anggun membuat yang lain kaget, hahahha.
kaiLa wu: Sejujurnya saya tidak tahu letak lucunya di mana… tapi terimakasih atas pujiannya. Entahlah.
naruruhina: Terimakasih banyak, saya akan berjuang.
boku wa megitsune: Mungkin ya mungkin tidak, Indra bukan guru yang sempurna karena ia agak social awkward dan Ashura kekanak-kanakan dan menjadi perempuan sejati bukanlah hal yang mudah.
yoru no hikari: Mari berdoa saja agar Naruto selalu senang dan selamat.
Vilan616: Mungkin kebiasaannya harus sedikit di kurangi karena terkadang orang lain tidak mengerti bahasa singkat dan bukan hal yang baik untuk terus di lanjutkan, terlebih lagi kelak nanti di saat kerja dan semacamnya. Omake yang saya buat terkesan random dan saya kurang begitu perduli, jadi jangan berharap banyak ya… karena membuat jalan cerita utamanya sudah cukup menguras tenaga dan ide.
khukhuchan: Terimakasih banyak atas doanya.
shieru aozora: mereka semua sedang shyok dengan sikap Naruto. Aah… jangan berharap banyak, saya agak lelah menulis Omake panjang-panjang, menulis jalan cerita utama sudah menguras tenaga dan pikiran saya.
navyfield90: Bila saya ada ide dan tenaga cukup mungkin saya akan coba buat.
Rika Jaya: Karena memang seharusnya saya tidak jawab. Baru selesai arc konoha crush sudah menanyakan soal hal tersebut…
kirito uchiha: Terimakasih banyak atas pujiannya walau saya kurang mengerti di mana letak lucunya Omake tersebut… saya sebenarnya kurang mahir menulis humor.
samuel903: Mengubah masa lalu memang selalu ada konsekuensinya. Entah lah. Terimakasih, saya akan terus berjuang.
Sheirlyn: Terimakasih atas pujiannya dan soal Omake… jangan berharap banyak dengan saya…
MommyQuinnAndDaddyJoker: Karena pada dasarnya Uchiha memang protektif terhadap keluarganya (kalau tidak ada yang menghasut atau mengadudombakan).
Faplovers: Belum ada yang tahu wujud asli Tobi jadi… silakan coba anda pecahkan teka-tekinya~
xxAries-Mintxx: Terimakasih banyak atas pujiannya namun mengenai Omake… jangan berharap banyak terhadap saya. Hahah, saya selama menulis cerita ini juga mulai berfikiran seperti itu.
AySNfc3: Terimakasih walau pada dasarnya tidak semua Omake berbasiskan humor dan… jangan berharap banyak dengan saya mengenai Omake.
ar: Mungkin karena sifat Tomboy memang lebih cocok untuk Naruto.
yoru no hikari: Silakan baca hasil dari Omake tersebut dan mungkin anda akan mengetahui jawabannya.
Untuk yang merasa bingung dengan Omake kali ini, bisa di bilang sedikit sneak peak mengenai ending dari cerita ini, yang baru muncul adalah rute milik yang seumuran dengan Naruto, yang lain akan muncul di chapter depan.
Sekali lagi saya ingatkan bahwa setiap rute TIDAK NYAMBUNG antara satu dengan yang lain, makannya saya menulis rute siapa yang sedang di baca.
Sekian dan terimakasih, sampai jumpa di chapter selanjutnya yang munkin akan memakan jangka waktu yang cukup lama.
Review Please
