Details?

Story © alice dreamland

The Basketball which Kuroko Plays © Fujimaki Tadatoshi

Genre: Romance, Drama

Warning: Typo(s), all in 2nd PoV, slow-built love, AkashixReader, fluff

Detail 21: Mimpi Buruk

"Rissaaaa! Kumohon! Temani aku bicara! Kau juga belum tidur, kan?"

Samar, suara perempuan menggema dalam villa yang dipenuhi keheningan. Sesungguhnya, intonasi biasa dan nada juga tidak membentak—namun dikarenakan suasana sunyi menguasa, lantas dapat mudah dideteksi dari segala penjuru bangunan.

(Tentu kecuali ruangan tertutup.)

Akashi mengerjap, manik mengerling menuju arah suara.

Ruang tamu.

Apa... ia baru saja mendengar suara dari ruang tamu?

"Hufff jadi kau lebih memilih Saitama daripada aku?! Kau kejam Risa!" [21]

Resonansi bunyi terdengar lagi.

Pendapat Akashi makin menguat.

Kau pasti berada di sana.

Hantu? Akashi tidak percaya.

Jarum jam yang mewakili tiap detik terlewat terus berbunyi, memenuhi villa dengan suara kecil bedenting rapi.

Waktu menunjukkan pukul satu pagi.

Akashi berjalan menyusuri lantai dua villa. Ia sendiri heran, bagaimana ia dapat terbangun—namun karena mendapati futonmu kosong dan ia pun tak dapat kembali tertidur, maka Akashi memutuskan berjalan-jalan sebentar (sekaligus terusik akan keadaanmu).

"E-eh?! T-tunggu! Risa! Riiiiisssaaaa! Jangan tutup telponnya—ah, sudah mati."

Dan inilah hasil pencariannya.

Kaki menuruni tangga penghubung lantai satu dan dua, langsung mendapati ruang tamu yang terang akibat lampu menyala.

Serta seorang gadis duduk manis pada sofa, menghadap televisi menyala dengan ponsel pada genggaman—menggerutu pelan akibat kekesalan terhadap teman yang menyempatkan waktu saja tak rela.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

Suara Akashi dari belakang melantun—membuatmu tersentak dan menoleh, mendapati sang lelaki berjalan menuju arah berbekal baju tidur.

Kau mengerjap kemudian tersenyum lega, dihadiahi sepasang mata berkerlip heran. "Aku... terbangun karena bermimpi buruk."

Akashi terdiam seraya mengangguk pelan, memosisikan diri duduk tepat di sebelah—hingga piyama saling bergesek ringan. Manik diarahkan ke depan, tempat benda elektronik terkait memutar siaran yang tak ia ketahui judulnya. Namun dilihat dari karakter serta bahasa, sepertinya...

Anime Shigeki no Kyojin?

Ah, ya.

Memang itu yang kau tonton saat ini.

Sepertinya, kau telah tercemar oleh temanmu yang penyuka anime.

Tapi, tunggu—bagaimana anime tersebut dapat diputar pada jam semacam ini?

Ah, sudahlah. Untuk apa pula Akashi memikirkannya?

Gambar kian berganti, karakter fiksional bertaburan—namun tidak menganggu dan justru dapat kalian berdua nikmati. Menyebabkan diri perlahan larut dalam dunia di balik layar.

"Uhm? Akashi-kun?"

—Namun kau pecahkan kala sebuah pertanyaan menggelitik benak.

"Hn?"

"Kau sendiri mengapa ada di sini?" Tersirat rasa heran yang kentara kala bertanya.

"Hanya terbangun lalu tidak dapat tidur kembali." Tanpa mengalihkan pandang dari anime.

"Oh..."

Keheningan melanda. Pakaian yang saling bergesek tidak membuatmu risi, melainkan sebaliknya—sebab hal tersebut membuatmu merasa tak sendirian. Akashi pun tak ada inisiatif untuk berubah posisi, meski beberapa kali bergerak dan menimbulkan gesekan terjadi.

Angin malam tertimbun dalam bunyi anime berputar, dan tanpa sadar—hawa mendingin serta kantuk menghampiri.

Mendapati dirinya dapat tertidur, Akashi pun berdiri; hendak kembali ke kamar.

Namun terhenti kala ia dapati seseorang menahan lengan piyamanya.

Grep.

Kau.

Refleks kau lepaskan peganganmu, tersentak sesaat. "Uhm, sumimasen."

Akashi menaikkan sebelah alis.

Ini hanya perasaannya atau kau berperilaku sedikit... janggal?

Manik heterokom memicing tajam pada figurmu, mencari tahu. Beragam hipotesis ia rangkai dan diteliti satu per satu—mencari yang paling rasional. Tubuhmu menegang, keringat dingin menyusuri pelipis hingga dagu, serta senyuman kaku menghiasi tampang.

Dan Akashi dapat simpulkan kau takut ditinggalkan.

Dibuktikan dengan perbincangan di telpon dengan temanmu, serta senyuman lega kala dirinya datang menemanimu.

Ya, itu pasti.

Akashi tidak pernah salah—ia selalu benar.

Namun ia pun yakin kau merasa bersalah menahannya, karena kau tahu Akashi pun mengantuk dan ingin segera tidur.

Sebab itu, Akashi pun memutuskan—

"Eh? Akashi-kun?"

—untuk kembali duduk dan menemanimu menonton anime hingga kau tertidur. Membuatnya mendapatimu memandangnya dengan manik berkerlip heran.

Mengerti akan tatapan yang menuntut penjelasan, Akashi mendesis pelan. "Seharusnya kau bilang saja jika ingin ditemani."

Kau tersentak, memandangnya gugup. "T-tapi Akashi-kun kan ingin tidur, aku tidak ingin merepotkanmu."

Akashi terdiam.

Kemudian menghela napas.

Mengapa kau... masih saja memikirkan hal seperti itu? Padahal kalian sudah berbulan-bulan bersama? Dan kau masih saja canggung bersamanya?

"Kau tidak merepotkanku, jadi jangan pikirkan itu lagi dan fokus pada tontonanmu." Akashi bersidekap—mengalihkan pandang ke depan dan berusaha melekatkan pandangan pada layar. Kau mengangguk ragu seraya melakukan hal serupa.

Namun kedamaian tersebut hanya bertahan selama kurang lebih sepuluh detik.

"Ano, Akashi-kun?" Suaramu kembali melantun menyapa pendengarannya.

Akashi memiringkan kepala, menatapmu datar. "Apa?"

Tak memedulikannya, kau tersenyum tulus. "Arigatou sudah mau menemaniku."

Lelaki itu diam sejenak.

Terpaku akan senyumanmu seraya mengerjap sesaat. Pipi tanpa sadar memerah dan detak jantung kembali berpacu tanpa diperintah.

Bunyi percakapan karakter Shigeki no Kyojin menjadi latar suasana peristiwa tercipta, seiring anggukan diterima. Ia mengalihkan pandang, menutup bagian bawah wajah dengan tangan kanan (berusaha menutupi wajah yang sedikit merona), bergumam pelan:

"Ya."

.

[21]: Saitama dari One Punch Man huahahaha /nak

Saya bener-bener minta maaf. Ini sebelumnya udah jadi dua tahun lalu, udah diupdate di Wattpad pula. Tapi karena provider saya ga bisa buka FFn, akhirnya ga buka lagi. Ini entah gmn kjuga gatau, mendadak ada keajaiban :"

Chapter selanjut-selanjutnya juga tinggal copas dari Wattpad, jadi nanti saya usahain pindahin satu per satu—kalo kuota belom habis :"(

Apa masih ada yang nunggu? Keknya ga /lari. Btw kalo beneran masi ada, makasi ya. Lanjutannya kupost minggu depan kalo kuota masih ada.

Balesannya review yang punya akun satu-satu ya, agak lama maafkan ;v;

-Akahime

Anjuuu maaf ya, saya ngak bisa seaktif dulu lagi karena provider—akan saya usahakan lanjut sampai tuntas; hanya saja sekarang sibuk sama sekul :"

Makasi banyak udah ditunggu ya :3

-minami shoko

Gee, makasi banyak sudah ngeluangin waktu untuk komen! Semoga suka chap ini juga ya (kalo baca) :3

-Wako

Anak itu— /apa. Bayangin double Kaori ding wkwkwkw. Makasi komennya :3

-akaa

Done ya ehehe maaf dua tahun /slap. Makasi komennya :3

-yuuki

Done, maaf ya waktu dua tahun /lari. Makasi dah komentar :3

Sekian,

~alice dreamland