Lesson 12

It's all Fun and Games Until... (Part one)


Trevor Something - Into Your Heart

.

Akhirnya aku mendapat tidur nyenyak setelah sekian lama. Minggu lalu, aku nyaris tidak cukup istirahat hanya untuk bahkan melihat mimpi buruk dengan jari-jariku yang gatal ingin mengetik nomor pria tertentu dan bicara dengannya. Apa yang terjadi tadi malam sungguh memuaskan dan meski aku takut untuk berasumsi bahwa semuanya kembali baik-baik saja antara aku dan Sehun, aku tahu setidaknya itu membaik.

Ketika fajar menyingsing, otakku yang lelah mengantuk bahkan tidak ingin meninggalkan surga dari lapisan seprai lembut yang dihangatkan oleh panas tubuhnya. Tidak sepertiku, tadi malam dia tidak bisa tidur nyenyak. Aku terbangun beberapa kali, merasakan entakkan tempat tidur yang mengguncang tubuhku. Itu terjadi dua kali sebelum akhirnya aku sadar, itu Sehun yang tidak bisa tenang. Dia tidur dengan memelukku dari belakang namun barangkali dia mengalami mimpi buruk sehingga membuatnya menggeliat. Aku berbalik untuk membawanya ke dalam pelukanku, membuat kepalanya menempel di dadaku. Dia tenang ketika merasakan jari-jariku mengusap rambutnya dan aku menyenandungkan lagu pengantar tidur lembut, berharap bisa membuatnya keluar dari mimpinya yang mengerikan. Aku mendesah senang merasakan embusan napas lembutnya di lekuk bahuku dan ia tidur dengan damai sepanjang sisa malam setelah itu.

Suara bip dari alarmnya membuatku membuka mata perlahan. Aku masih cukup lelah namun aku memutuskan untuk bangun ketika kurasakan dia bergerak di sampingku. Aku disambut oleh pemandangan Sehun yang melamun mengamatiku dengan senyum manis di wajahnya. Warna merah merembes di pipiku ketika dia meraih daguku dan mengarahkan bibirku pada bibirnya. Dia menanamkan ciuman yang begitu lembut yang membuat hatiku berdebar keras dan tidak bisa menahan senyum.

"Aku suka bangun di sampingmu." Dia berbisik dan aku menyembunyikan wajahku dengan selimut, malu.

Terkekeh, dia menarikku mendekat dan menempelkan bibirnya di keningku. Aku menatapnya dengan mata polos, bertanya-tanya haruskah aku mengatakan apa yang ada dalam pikiranku.

"Katakan." Dia menyeringai. "Aku tahu kau ingin bertanya sesuatu padaku."

Aku gelisah sebelum pada akhirnya membuka mulut. "Apa kau masih marah padaku?"

Seringai menyebar di bibirnya dan aku tidak tahu bagaimana menginterpretasikan reaksinya.

"Sedikit," bisiknya.

Aku merengek. "B-bagaimana cara untuk menebusnya?"

"Apa itu sangat buruk jika aku sedikit marah padamu?" Dia bertanya dengan lembut.

Aku menangkup wajahnya di tanganku sementara bicara. "Katakan padaku apa yang harus kulakukan supaya kau tidak marah lagi?"

"Apa kau mau melakukan apa pun?" bisiknya, mencondongkan tubuh lebih dekat.

"Apa pun," jawabku sebelum dia menarik bibir bawahku dengan giginya.

"Jangan biarkan aku terlalu menguasaimu." Dia menggerutu. "Aku akan memanfaatkanmu dengan egois,"

"Apa yang kau tunggu kalau begitu?" tanyaku dan seketika dia menerkamku, menempatkan dirinya di atasku.

Dengannya, setiap ciuman seperti sebuah petualangan yang unik. Tidak ada dua ciuman yang sama, dan setiap ciuman baru selalu jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku bertanya-tanya, seperti inikah rasanya bebas dari ketidakpastian, dari semacam kebimbangan yang membuatku tidak yakin jika Sehun adalah seorang yang tepat untukku. Ketika dia menciumku, hatiku akan dibanjiri semua cinta dan dibersihkan dari setiap noda kecil ketakutan dari itu. Kurasa aku memiliki banyak alasan untuk percaya bahwa kami ditakdirkan untuk satu sama lain...

Mematahkan ciuman, dia tiba-tiba beranjak dari tempat tidur. Aku terduduk, melihatnya menggeledah lemari dan mengeluarkan kotak kecil tanpa tanda yang kemudian ia serahkan padaku.

"Apa ini?"

"Itu mainan seks," katanya dengan senyum.

"Yeah, tentu saja..." Aku memutar mataku.

"Kali ini aku tidak bercanda." Dia menyeringai. "Dan aku ingin kau menggunakan itu pada tubuhmu..."

"S-sekarang?"

"Jika kau ingin aku memaafkanmu sepenuhnya maka ya, sekarang." Dia masih menyeringai sedangkan aku dengan tidak nyaman membolak balik kotak itu di tanganku. Malu-malu aku membukanya hingga kemudian itu mengungkapkan sesuatu yang tampak seperti penis hitam plastik.

"Kau tahu di mana harus memasangnya, bukan?" tanyanya sembari terkekeh.

Aku mengangguk ragu dan menggigil karena well, aku belum pernah menggunakan mainan seks sebelumnya. Aku merasa gugup memikirkan betapa buruknya itu akan menyakitiku karena jelas itu tampak tidak akan muat untuk menembus anusku.

Sehun menatapku dengan ekspresi geli. Wajahku memerah memikirkan tentang bagaimana di membuatku melakukan semuanya demi dirinya dan bagaimana aku setuju melakukan itu untuknya. Namun begitu aku tidak sama sekali menyesal karena dengan itu aku bisa melihat kilau lapar mengilat pada irisnya ketika aku menyibak selimut untuk mengungkapkan tubuh telanjangku. Aku suka membuat fantasinya menjadi nyata...

"Aku siap," kataku parau.

"Begitu pun aku." Dia menjilat bibirnya. "Apa kau bersemangat, baby?"

"Ya dan agak takut juga," gumamku.

Dia membungkuk untuk mencium lembut bibirku.

"Jangan takut," bisiknya. "Ini akan sedikit menyakitkan, namun rasanya akan berubah menjadi sangat menakjubkan. Kau akan ketagihan, ingin melakukannya lagi dan lagi."

Aku mengerang ketika dia mencium leherku namun dia menjauh di detik berikutnya, membuatku cemberut.

Dia benar meskipun. Ketika Sehun membuatku klimaks dengan jari-jarinya dalam diriku, rasanya begitu nikmat. Tidak ada perasaan yang bisa sebanding dengan betapa menakjubkannya itu.

"Gunakan lube." Dia memerintahkan namun aku hanya bisa menatapnya dengan ekspresi bingung.

"Lube?"

Bergerak menuju laci samping tempat tidur, dia mengeluarkan sebotol kecil berisi cairan bening.

"Lumuri dildo dengan ini." Dia menginstruksikan sementara aku dengan malu-malu mengambil botol itu darinya.

Aku menelan ludah. Semua istilah ini begitu baru bagiku. Lube... Dildo... Semua itu terdengar jahat entah bagaimana.

Aku melihat 'dildo' di tanganku dan berharap semoga ini tidak akan terlalu menyakitiku.

"Jangan khawatir, baby." Sehun terkekeh. "Ini ukuran paling kecil yang bisa aku temukan. Kau akan baik-baik saja,"

Aku membuka tutup botol dan menumpahkan cairan kental licin itu di jari-jariku. Menempatkan botol di samping, aku melumuri mainan plastik di tanganku dengan lube. Aku mendongak menatap Sehun, menyadari senyum lapar di bibirnya.

"Renggangkan lubangmu dengan jarimu pertama-tama." Dia berbisik.

"B-bisakah kau melakukannya untukku?"

"Tidak baby." Dia menggeleng. "Aku ingin kau melakukannya sendiri. Ayo, kau perlu belajar."

Pipiku memerah ketika aku mengarahkan jari basahku yang tertutupi lube pada lubang berkerutku. Kuturunkan pandanganku karena aku tidak lagi bisa menangani tatapan berbahaya Sehun.

"Baiklah, mungkin aku akan membantumu sedikit," katanya tersenyum nakal. "Untuk mendorongmu..."

Aku tersentak ketika dia menciumku lembut, giginya menggigitku pelan namun oh begitu menggoda pada saat bersamaan. Jarinya menjalar lembut dari tengkuk ke pundakku dan aku merasakan dadaku terengah dengan napas berantakan. Ia begitu hati-hati dan aku merasa seperti di mana pun dia menyentuhnya, dia meninggalkan kulitku menjadi sangat sensitif dan kelaparan. Tangannya beristirahat di punggungku kemudian meluncur ke bawah, berhenti pada lekukan pinggangku. Aku terengah-engah karena itu, menatapnya dengan tatapan memuja seolah aku belum pernah melihat seseorang seagung dirinya.

Dia mendorong telunjuk basahku ke dalam lubangku sementara menekan ciuman lebih keras ke bibirku. Aku mengerang dan merengek, merasakan rasa sakit akan jariku yang menembus kerutanku. Namun dia menenangkanku dengan ciuman manisnya.

"Kau melakukannya dengan baik," bisiknya. "Sekarang masuk lebih dalam..."

Kugigit bibirku sementara menarik napas dan mendorong jariku lebih dalam pelan-pelan karena ini sungguh menyakitkan. Dia menciumku berkali-kali, berusaha mengalihkan perhatianku sampai aku memasukkan jari kedua.

"Renggangkan lubangmu," katanya lembut, kurasakan tangannya menyentuh bahuku. Aku mendongak, melihatnya yang menatap dengan lapar ke arah jari-jariku yang memompa keluar masuk. Dengan perlahan kurenggangkan lubangku dengan jari-jariku sebagaimana yang dia katakan, rasa menyengat seketika merobek kesadaranku dan napasku semakin berantakan.

"Sehun..." Aku terengah. Dengan lembut dia memijat tungkaiku yang mengangkang lebar, kemudian meraih penis mengerasku dan mulai memijatnya.

"Begitu seksi..." Dia mengerang. "Aku merinding hanya dengan menyaksikanmu berkeringat dan tegang..."

"Cium aku." Aku memohon, rasa sakit berubah menjadi kenikmatan ketika jariku mulai bergerak keluar masuk secara berirama.

"Masukkan ini," katanya, menyerahkan dildo padaku. "Dan aku akan memberimu lebih dari itu..."

Kutarik jariku keluar untuk mengambil dildo dari tangan Sehun sementara berusaha untuk tidak melihat ekspresi kelaparan yang terlukis di wajahnya. Lagi-lagi aku memerah malu ketika melapisi dildo dengan jari licin basahku dan memosisikannya tepat pada lubang anusku. Sehun menangkup wajahku di telapak tangannya sementara berbisik di bibirku. "Itu akan menyakitkan jika kau terlalu pelan. Hati-hati."

Aku mengangguk dan menarik napas dalam. Sehun membungkuk melahap bibirku sementara dildo mulai menembus lubangku dan aku mencicit dalam ciuman kami. Aku menjerit tertahan ketika itu melebarkanku dan sensasi sakitnya nyaris terlalu parah. Aku merintih, gemuruh rasa sakit yang tajam mengguncang tubuhku, aku masih merasa sakit dari tadi malam dan dildo sungguh tidak membantu. Sehun mencium leherku dengan lembut; tahu betul aku sangat menyukai saat dia menciumku di sana. Aku membiarkan diriku menyesuaikan diri dengan dildo karena meski Sehun mengklaim bahwa ini adalah ukuran paling kecil, bagaimana pun aku belum pernah memasukkan benda apa pun ke dalam diriku sebelumnya.

"Begitu sempit." Dia menjilat bibirnya. "Kau tahu penisku tiga kali lebih tebal dari mainan itu, bukan?"

"Fuck." Aku mendesah.

"Aku tahu." Dia menyeringai. "Karena itulah kau perlu mempersiapkan diri karena aku akan menghancurkan pantat manismu itu..."

Aku merintih ketika dia menjilati daun telingaku, kedua tangannya mengusap punggungku dengan gerakan melingkar. Aku menahan napas ketika aku mencoba menggerakkan dildo. Rasa sakit tajam mengguncang tubuhku lagi namun itu tidak membuatku berhenti. Aku tahu ini akan memudar jadi aku hanya berkonsentrasi pada ciuman lembut yang Sehun tinggalkan di bahu dan dadaku. Dia mulai menghisap tulang selangkaku sementara sodokan dildo berubah menjadi semakin dan semakin nikmat. Lubangku sekarang mulai terbiasa dengan mainan itu dan aku menumbuk titik yang sama seperti tadi malam yang membuatku lemah sepersekian detik namun juga memprovokasiku lebih dari kapan pun.

"Oh baby, kau mulai menikmatinya." Sehun terkekeh.

Aku mengerang menjilat bibirku dan dia membungkuk untuk menggigitnya lembut. Tangannya perlahan meluncur turun dari dadaku, meraih penisku yang keras, bengkak dan bocor.

"Sehun!" Aku menjerit.

"Aku ingin menikmati setiap inci tubuhmu." Dia berdengung. "Jadi mari kita mulai dari penismu."

Mulutnya di penisku sementara aku menyodok lebih cepat dari sebelumnya. Satu tanganku yang berusaha menopang tubuhku untuk duduk tegak gemetar dan aku menyerah begitu saja, jatuh berbaring di tempat tidur dengan tanganku yang terus memompa diriku dengan dildo serta Sehun yang menghisapku. Aku sudah sangat dekat, punggungku melengkung dan mulutku ternganga, berusaha mengeluarkan erangan tercekik. Kurasakan lidah Sehun berputar-putar di kepala penisku yang sensitif, dan kemudian akhirnya tubuhku tersentak ketika aku menyemburkan semuanya ke dalam mulut Sehun dengan tanganku yang masih menyodokkan mainan itu ke dalam, menyiksa pusatku.

Aku mengap-mengap seolah aku telah dipaksa untuk tenggelam ke dalam air, tubuhku begitu lelah sampai aku tidak lagi bisa merasakan kakiku. Kurasakan Sehun menjilati bersih diriku dan lidah lembutnya yang hangat membuatku menggigil.

"Begitu seksi, Luhan!" Akunya dan aku terkekeh ringan. Dia melayang di atasku, memandang tubuhku yang terbaring lemah di bawahnya dalam keadaan basah dan kacau. Dia tampak sangat kelaparan ketika dia membungkuk dan menggabungkan bibir kami, mengerang bahkan dengan sedikit sentuhan jariku di pundaknya.

"Kau begitu suka untuk memuaskanku, ya?" Aku tertawa. Dia masih begitu keras, aku bisa merasakannya di pinggulku ketika dia menekankannya pada kulitku.

"Untuk saat ini, ya," bisiknya. "Segera, aku akan mengambil lebih banyak dari ini darimu..."


.


Aku terkikik melihat tampang frustrasi Sehun.

Aku tengah duduk di bangku pertama kelasnya, nyaris tidak berkonsentrasi pada apa yang dia jelaskan, namun lebih kepada bagaimana penampilan seksinya dengan kemeja serta celana ketat yang menonjolkan pantatnya yang indah dan kaki panjangnya yang seksi. Tulang selangkanya yang keras menonjol mengintip menggoda seolah memanggilku untuk meninggalkan hickey di sana. Aku menggigit tanganku, berusaha untuk tidak terangsang hanya dengan melihat figurnya. Dia bahkan tidak harus menyentuhku dan aku sudah sangat terangsang! Dia begitu luar biasa, segala hal di tubuhnya begitu tanpa cela, termasuk tahi lalat di lehernya. Aku memutuskan akan meninggalkan hickey di sana lain kali.

Pertamanya kupikir Sehun tidak menyadari tatapanku yang seolah menelanjanginya terang-terangan, namun ketika mata kami bertemu, dia menyeringai memberitahuku bahwa dia tahu apa yang kupikirkan. Biasanya aku akan memerah malu ketika dia menyeringai seperti itu namun entah bagaimana kali ini itu malah memicu keberanianku. Aku memandangnya dari atas ke bawah dengan menggoda dan mengusapkan lidah ke bibirku. Kulihat dia menggigil berusaha sebaik mungkin untuk tidak memberi perhatian pada tindakan tidak senonohku. Namun aku senang ketika matanya terus melesat kembali padaku. Kemudian dengan menggoda aku meraba selangkanganku, menangkup penisku di luar celana jinsku.

Aku melihat dia menggigit bibirnya dengan frustrasi dan aku terkekeh, menikmati kegelisahannya. Aku mulai bertanya-tanya seberapa kasar dia akan memperlakukanku malam ini untuk semua godaan yang kulakukan di kelas, dan memikirkannya membuat pinggangku terbakar oleh gairah.

Sayangnya, aku tidak bisa menunggu setelah kelas selesai. Aku harus menghadiri kuliah berikutnya, namun aku akan memastikan sebelum pergi untuk berkedip menggoda pada Sehun yang pasti tidak bisa menahan senyum di wajahnya sembari menggelengkan kepala.

"Profesor Oh?" Sebuah suara berkata dengan manis dan itu merusak rencanaku. Yang tidak kusangka adalah sahabatku tersenyum pada priaku dan mencoba menarik perhatiannya.

"Apa yang bisa kubantu, Yixing?" Sehun berkata dengan sopan. Untuk alasan yang tidak aku tahu, aku ingin menghancurkan sesuatu. Aku tidak pernah merasakan kemarahan yang membakar seperti ini dalam diriku, ingin mendorong sahabatku menjauh dan berteriak padanya karena dia main mata pada Sehun-ku. Aku tidak tahu bahwa aku memiliki sisi posesif ini. Aku selalu merasa Sehun terlalu berlebihan dan bersikap seperti bajingan setiap kali dia menunjukkan kebencian pada Kris. Aku mengerti akhirnya mengapa dia menjadi begitu gelisah dan sangat marah ketika itu, karena saat ini aku merasakan hal yang sama.

"P-Pak." Yixing tergagap. "Umm... Saya tengah mengerjakan sebuah proyek akhir tahun dan saya ingin tahu apakah Anda bisa meninjau proposal yang saya susun,"

"Tentu, itu bukan masalah," kata Sehun sementara tersenyum tampan. Bisa kulihat dengan jelas Yixing terpesona akan senyum tampan Sehun dan seketika aku mengepalkan tanganku.

"Terima kasih!" Yixing memerah. "Saya s-sangat berterima kasih untuk—"

"Ayo Yixing, kita ada kelas." Aku meraih pergelangan tangannya dan menariknya pergi.

"Tapi aku tidak ada kelas." Dia protes namun aku tidak ingin mendengarkannya. Aku membanting pintu ruang kelas Sehun di belakang kami.

"Apa yang kau lakukan?!" Yixing bertanya dengan marah.

"Aku? Kaulah yang berusaha menggoda Dosen Kimia kita!" Aku membentak.

"Aku tidak!" Yixing membalas bentakanku. "Aku hanya meminta bantuannya!"

Aku berdecih dan memutar mataku.

"Dan kalau pun iya, apa urusannya denganmu?" katanya jengkel. "Menjengkelkan sekali kau Luhan..."

Dia mulai berjalan pergi dan aku tidak memiliki kendali atas diriku lagi. Harusnya aku tutup mulut, namun aku tidak bisa menahan ketika kata-kata pahit itu keluar dari mulutku. "Menjauh darinya!"

Yixing berbalik untuk melotot padaku. "Dia Dosenku," katanya. "Dan jika aku membutuhkan bantuannya, aku akan memintanya. Kau tidak bisa menghentikanku dari melakukan itu."

Bibirku mengerut sementara aku memberi tatapan menusuk padanya. Apa yang dia pikir dia lakukan? Aku mengerti permainannya. Dia berusaha mencuri Sehun dariku.

"Kau serius perlu mengendalikan rasa sukamu padanya." Dia memperingatkan. "Dan ingatlah, baginya kau hanya sama saja dengan mahasiswanya yang lain. Kau tidak istimewa."

Aku ingin tertawa dan memberitahunya bahwa aku bukan hanya mahasiswanya seperti yang lain, aku tidak pernah. Kami sangat dekat dan dia hanya bisa bermimpi untuk bisa menjadi akrab dengan Sehun.

Sudah pasti aku lebih istimewa bagi Sehun dibanding dengan mahasiswanya yang lain...

Bagaimana pun aku memutuskan untuk tidak mengatakan semua itu. Ini adalah rahasia yang tidak bisa aku ceritakan pada siapa pun dan saat ini Yixing lebih seperti merupakan musuh daripada teman. Aku tidak akan memberitahunya tentang Sehun dan aku.

"Kau merasa istimewa tanpa alasan..." Yixing bergumam kemudian melangkah pergi. Aku melotot padanya sampai dia menghilang dari pandanganku dan aku memutuskan akan mengawasinya.

Aku kembali ke kelas Sehun, melupakan kuliah bodoh yang harus aku hadiri. Itu tidak penting lagi pula. Aku harus mengklaim posisiku; tidak seorang pun yang bisa mencuri apa yang menjadi milikku. Aku membanting pintu terbuka dan Sehun tersentak, kaget.

"Luhan, apa yang kau—"

Aku tidak memberinya kesempatan untuk bisa mengatakan apa pun, segera menerjangnya dan menekan bibirnya dengan ciuman yang membara. Dia mencicit terkejut namun dengan sayang memelukku erat dan menarikku lebih dekat. Aku mengerang pelan ketika dia meremas bokongku dan aku mulai menggesekkan selangkangan kami.

"Luhan..." Dia gusar. "Berhenti... Kita tidak bisa melakukan apa pun di sini..."

Aku tidak mau mendengarnya dan hanya menyerang lehernya, meninggalkan hickey di sana untuk menandai wilayahku. Sehun mendorongku menekan papan tulis dan menahan tanganku yang mulai berusaha melepas kemejanya.

"Kau kelinci kecil horny." Dia mendesis. "Pertama kau menggodaku seperti itu di kelas... Kemudian sekarang kau menerobos masuk dan tiba-tiba menciumku. Apa yang kau ingin aku lakukan padamu?"

"Bawa aku pulang," rengekku. "Gunakan aku, hukum aku... Aku tidak peduli. Aku hanya membutuhkanmu sekarang juga..."

"Baiklah jika seperti itu yang kau inginkan..." katanya sementara menyerang bibirku dan aku menyeringai penuh kemenangan...

Dia milikku...


.


Aku terbangun dengan rasa lelah. Mengusap mataku, aku mencoba mendudukkan diri namun sengatan tajam yang menusuk punggung bawahku membuatku terjatuh kembali ke tempat tidur dengan rintihan menyedihkan. Tiba-tiba aku ingat bahwa aku berada di kamar Sehun dan beberapa saat lalu, jari Sehun menembusku. Aku begitu marah dan cemburu ketika melihatnya berinteraksi dengan Yixing sehingga aku menyerang Sehun seperti binatang posesif liar dan memohonnya untuk menggunakan tubuhku.

Aku berusaha beranjak dari tempat tidur. Sehun tidak di sampingku dan aku melihat lampu ruang tamu menyala. Kuraih kemejanya yang tergeletak di lantai dan membungkuskannya pada tubuh telanjangku. Melangkah keluar dari kamar, aku melihat Sehun di sofa, bekerja dengan tenang pada laptopnya.

"Hey babe." Dia bicara tanpa melihat padaku. "Apa kau lapar?"

"Ya, jam berapa sekarang?"

"7:30 malam," kata Sehun. "Biarkan aku menyelesaikan ini dengan cepat. Kita bisa makan malam setelahnya,"

"Oke." Aku menguap dan berjalan mendekat padanya. "Apa yang sedang kau kerjakan?"

"Temanmu Yixing membutuhkan bantuan untuk proyeknya," katanya dengan tenang. "Aku baru saja membaca proposalnya dan menambahkan beberapa komentar."

Yixing...

Aku benci bagaimana nama itu membuatku tidak aman. Aku sudah berteman dengan Yixing selama hampir setahun dan harusnya aku tidak membencinya hanya karena dia bicara dengan Sehun. Namun bagaimanapun, niatnya masih belum diketahui. Aku gila jika aku memberinya kesempatan dan membiarkannya merebut Sehun dariku.

"Dia bukan temanku," kataku dengan nada sinis.

"Apa?"

"Aku tidak menyukainya." Aku menggigil dalam kemarahan.

"Kukira kalian berdua teman baik." Dia menatapku dengan ekspresi bingung.

"Tidak lagi," jawabku. "Dia bajingan." Berani sekali Yixing menarik perhatian Sehun dariku?!

"Kelihatannya dia anak yang baik." Sehun mengedikkan bahu. Kukuku menekan telapak tanganku kuat ketika aku mengepalkan tinjuku, menahan kemarahan sementara kemudian aku berkata.

"Apa dia lebih baik dariku, Sehun?" tanyaku dengan polos.

"Eh?" Sehun menoleh, menatapku akhirnya.

"Apa kau lebih menyukai dia daripada aku?"

"Apa yang kau bicarakan, Luhan?"

Perlahan aku membuka kemeja Sehun untuk menunjukkan tubuh telanjangku. Kemeja itu meluncur turun kemudian dengan lembut dari pundakku dan aku melihat mata Sehun melebar menatapku.

"Apa dia lebih seksi dariku?" Aku bertanya pelan sementara berjalan ke arahnya.

"Luhan..."

"Apa yang kau pikirkan tentangnya, Sehun?" Kubiarkan kemarahanku terdengar sedikit. "Apa dia membuatmu terangsang?"

Aku meraih penisku dan mulai meremasnya perlahan. Kulihat dia menelan liur ekstra yang terbentuk di mulutnya kemudian.

"Mengapa kau mengatakan sesuatu seperti itu?" Dia menyipitkan matanya.

Aku berdiri di depannya sekarang, membungkuk ke arah bibirnya sementara dengan hati-hati mengangkanginya. Dia menelan ludah sekali lagi, melihat seringai di wajahku. Punggungku masih sakit ketika aku membuka lebar kakiku untuk naik ke pangkuannya, namun aku tidak peduli itu. Aku gila, cemburu dan sangat gelisah.

"Kenapa menurutmu, Sehun?" tanyaku, mengusapkan jariku pada ujung rahangnya yang tegas. "Kau meninggalkan aku sendirian di tempat tidur untuk mengerjakan sesuatu yang dia minta untuk kau lakukan. Itu membuatku berpikir apakah kau tertarik padanya,"

"Dia mahasiswaku, Luhan." Sehun coba menjelaskan.

"Aku mahasiswamu juga, Sehun," bisikku. "Dan kau ingin menyetubuhiku. Apa itu berarti kau ingin menyetubuhinya juga?"

"Siapa yang menanamkan pemikiran seperti itu di kepalamu?" Dia bertanya dengan jengkel. "Aku tidak pernah berkata seperti itu,"

"Tapi kau memikirkannya, bukan?" Aku menggeram. "Aku tahu Yixing menarik, jadi jelas kau pasti memiliki pikiran seperti itu tentangnya di pikiranmu!"

Dia membalik tubuhku untuk menekanku pada sofa dan aku menjerit karena gerakan itu mengirimkan getaran rasa sakit yang berdenyut di tubuhku.

"Luhannie, kau bertingkah gila," bentaknya padaku. "Aku tidak pernah memiliki pemikiran seperti itu tentang mahasiswa mana pun di kelasku. Kau adalah satu-satunya pengecualian dan aku menciummu sebelum aku tahu kau adalah mahasiswaku!"

Air mata menggenang di mataku dan aku mulai terisak. "K-kalau begitu kenapa kau begitu banyak membantunya?" Aku masih keras kepala.

"Apa kau tahu bahwa aku juga membantu beberapa mahasiswa lain dengan proyek mereka?" tanyanya lembut. "Bukan cuma Yixing. Dia hanya salah satu mahasiswa yang meminta bantuanku dan aku mencoba membantunya, juga yang lain. Nah, itu tidak berarti aku tertarik pada mereka semua, bukan?"

Aku sedikit merajuk ketika dia mengusap mataku dengan lembut, mengerutkan bibirku sementara menggeleng sebagai jawaban, dan dia tersenyum.

"Kau seperti bayi," kekehnya. "Itu menghibur melihat betapa cemburunya dirimu. Bisa kubilang itu sangat menggairahkan..."

Aku mendorong bahunya main-main dan itu hanya membuatnya tertawa lebih keras.

"Bayi bodoh," bisiknya, mengecup bibirku dengan lembut. "Kau lebih dari cukup untukku. Jika aku harus menangani lebih banyak remaja hormonal gila sepertimu, aku bisa gila,"

"Aku sudah dewasa!" Aku memekik, berusaha mendorongnya menjauh, namun dia malah memelukku erat. Tawanya menenangkan pikiran penuh badaiku. Perasaan mengancam bahwa aku mungkin kehilangan seseorang yang berharga cukup mengganggu dan kuharap itu akan segera berlalu...


A/N: I hope you guys enjoyed savage!Lu. XD Thanks..


Jan salah sangka dulu, Profesor Oh miara dildo bukan berarti dia pernah di bawah ya XP

Itu buat orang yang dia bawa pulang. Inget kan kalo dia itu dominan sadis, meski gak nyampe tahap yang parah XP

Btw, Luhan di sini pendiem tapi kalo cemburu ngeri. Eww

Tiba-tiba bayangin kucing lucuk yang mengeong kalo diambil apa pun kepunyaannya.

.

520!