CEK BEHIND THE SCEENE DARK MOON DI PROFILE AUTHOR
.
.
.
Ia melihat sungai kecil yang memisahkan rumah itu dan hutan pinus. Ia berjalan ke arah sungai itu, lalu ia berjongkok di hadapan air sungai. Dan ia melihat bayangan dirinya sewaktu kecil tengah bermain dengan Sasuke kecil. Dirinya sewaktu kecil tengah menyiramkan air ke wajah Sasuke, dan menyebabkan dirinya dulu tertawa lebar, dan dari wajahnya sangat terlihat bahwa Sasuke kecil kelihatan sangat sangat sangat sebal. Lalu suara Kakeknya yang memanggil nama Sakura, dan ketika Sakura menolehkan kepalanya ke asal suara, ia tidak menemukan apapun, dan iapun kembali memutar kepalanya dan tidak menemukan bayangan dirinya dan Sasuke.
Bayangan dirinya dan Sasuke kecil menghilang.
Tapi kali ini dirinya menemukan bayangan dirinya kembali namun dalam versi remaja. Mau tak mau Sakura tersenyum melihat dirinya membuang rokok yang ada di tangan Sasuke dan memarahi lelaki itu habis-habisan. Ah, ia ingat… Itu terjadi saat ia berumur 13 tahun, saat tahun terakhir sebelum Kakeknya meninggal. Mau tak mau Sakura merasa lehernya tercekik kali ini.
Dulu, ia sering membaca, ketika seseorang akan meninggal orang itu akan melihat pandangan masa lalunya. Apakah…
"Apa aku sudah meninggal?" suara Sakura terdengar berbisik pelan.
Tiba-tiba ia melihat asap dari vila Kakeknya. Kakinya melangkah ke arah villa itu, semakin lama semakin cepat. Dan akhirnya ia berdiri di depan pintu kayu ek. Ia mengambil nafas panjang dan mengumpulkan segenap keberanian. Dan, akhirnya mengulurkan tangannya dan membuka pintu itu.
Suara hangat dan berat menyambut dirinya.
"Ah, Sakura-chan ya?"
Tangannya dengan cepat menutup mulutnya sendiri, menahan isakan tangis yang hendak keluar, namun sepertinya matanya menkhianatinya karena dirinya tiba-tiba saja mengeluarkan air matanya. Matanya membelalak, rasa rindu yang membuncah memenuhi dadanya. Kakinya dengan cepat berlari dan ia membiarkan dirinya sendiri menabrak orang tersebut. Ia memeluk kencang orang itu dan membiarkan dirinya menangis terisak-isak di depan orang itu.
"Kakek… Kakek, aku… Kangen."
Ya, orang itu adalah kakeknya.
Satutobi Hiruzen.
.
.
.
Selenavella production
Proudly present
Dark Moon © Selenavella
The character belong to Masashi Kishimoto-san
While, The story is pure mine
.
"Aku lahir kembali dalam wujud yang baru,
Bukan sebagai bulan yang lemah. Tapi, menjadi bulan yang kuat."
.
.
.
LAST ACT : REMEMBER
.
Hari ini adalah hari pertama musim dingin. Ini hari ke 29. Hari ke 29 sejak Sakura koma. Dan, ia tidak menunjukan sedikitpun perubahan. Sasuke nyaris tidak pernah beranjak jauh-jauh dari gadis itu. Sasoripun tidak berbeda jauh. Ayah dan ibu Sakura kini tengah berada di Kafetaria. Meninggalkan Sasori, Sasuke, Naruto, dan Hinata yang menjaga anak mereka.
Bahkan seorang Haruno Rin dan Haruno Seiji nyaris menelantarkan perkejaan mereka. Mereka lebih memilih mengerjakan tugas di rumah, sudah jarang mereka berpergian ke luar kota atau bahkan negri. Mereka terlalu takut. Rasa takut akan kehilangan puteri merekalah yang membuat mereka memilih mengabaikan segalanya.
Sasuke menghela nafasnya. "Ya Tuhan, apa Sakura akan terus begini." Ujar lelaki itu frustasi. Ia mengacak-ngacak rambutnya pelan. "Kenapa semuanya jadi seperti ini…"
Hinata meremas bahu Sasuke pelan. "Ia akan sadar Sasuke. Ia gadis yang kuat. Ia pasti akan sadar."
"Jangan terlalu mellow begini teme, Sakura gadis hebat. Dia pasti akan pulih dengan cepat." Ujar Naruto mencoba menyemangati sahabatnya. Mata biru laut milik pemuda itu mengeras. "Sakura adalah salah satu gadis paling hebat yang kukenal. Dia akan bertahan."
"Tapi… ini sudah terlalu lama…" Gumam Sasuke. Ia menyisir rambut ravennya ke belakang. "Aku… –hanya ingin agar ia bangun kembali. Hanya itu…"
Sasori yang tengah menyenderkan bahunya di dinding melipat tangannya di depan dada. "Adikku itu gadis luar biasa Uchiha. Ini tidak ada apa-apanya, pasti ia akan segera bangun… pasti."
"Semoga." Bisik Sasuke pelan. "…Semoga."
Kepalanya terasa begitu nyeri. Uchiha Sasuke bukanlah Uchiha Sasuke yang dulu, kini ia berubah. Wajah tampannya kelihatan lelah, seperti sudah berumur lebih tua dari seharusnya. Ia nyaris terlihat seperti gelandangan, tanpa ada yang mengurusnya.
Ia tahu benar bagaimana kacaunya dirinya, tapi mau bagaimana lagi? Kepalanya terlalu sibuk memikirkan Sakura, ia bahkan tak memiliki waktu untuk memikirkan hal lain.
"Sasuke."
Ia mengangkat kepalanya, dan mencari asal suara itu. Matanya melebar begitu menyadari siapa orang yang berdiri di lorong rumah sakit. Mata jadenya kelihatan marah, panik, wajahnya bercucur keringat. Melihat Gaara seolah melihat dirinya satu bulan yang lalu.
"Hai, senang melihatmu Sabaku."
.
.
.
Baik Sasori, Hinata, maupun Naruto, semuanya meninggalkan Uchiha Sasuke bersama dengan Gaara. Dua orang itu duduk bersisian di depan ruangan Sakura. Sejak Gaara duduk di sampingnya hingga detik ini, keduanya masih sama-sama terdiam.
"Kenapa tidak ada yang memberitahuku?"
Sasuke diam dan mengulum senyumnya.
Gaara menyisir rambut merahnya. "Kalau bukan karena aku mencari tahu sendiri, aku ragu akan tahu mengenai hal ini," pemuda itu menghela nafasnya dalam-dalam. Matanya menutup rapat. "Aku tidak menyangka bahwa hal ini akan terjadi."
Tidak, tidak pernah ada orang yang tahu bahwa hal ini akan terjadi.
Kau tahu rasanya saat kepalamu di pukul kuat-kuat dari belakang, dank au bahkan tak menyadari bahwa kau akan terpukul? Kurang lebih rasanya begitu. Sasuke sendiri tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Yang ia harapkan adalah Sakura bahagia, tanpanya, dan selalu tersenyum.
Sasuke melirik pemuda di sampingnya. "Hei, Sabaku," ia berhasil membuat Gaara manatapnya. Kedua orang pemuda itu saling bertatapan. "Apa kau sudah mendapat jawaban dari Sakura?"
Gaara menggelengkan kepalanya. "Dia tidak pernah menjawab, tapi kupikir aku tahu jawabannya."
"Mungkin jawaban yang ada di otakmu berbeda dengan apa yang hendak di sampaikan Sakura," kata Sasuke ringan. Pemuda berambut raven itu menatap lurus dinding di hadapannya. "Kau tahu apa yang lucu? Hari keberangkatan kita sama, jamnya hanya berbeda 30 menit, dan yang lebih lucu gate keberangkatan kita bersebelahan."
Ia bisa merasakan tatapan bingung Gaara.
Sasuke tersenyum tipis. "Bisa jadi ia memilihmu. Bisa jadi ia hendak pergi ke gateku untuk menolakku kemudian berlari ke gate keberangkatanmu. Bisa jadi ia menelefonku terlebih dahulu untuk menolakku? Kau terlalu baik Sabaku, aku berani bertaruh setengah populasi perempuan yang kau kenal jatuh cinta padamu. Jadi, apa alasan Sakura tidak akan memilihmu?" Uchiha muda itu mengetuk-ngetukkan kakinya di lantai. "Pada akhirnya aku menyadari. Jika aku tidak bisa memiliki Sakura, maka orang lain yang akan kuberikan restu untuk bersama dengannya hanyalah kau."
Gaara terkekeh pelan. "Kau terdengar begitu dewasa Sasuke, untuk kali ini aku harus mengakuinya," suara pemuda itu terdengar melembut. "Tapi, kurasa kita harus menunggu dulu untuk memberikan pidato kekalahan Uchiha."
Dan Sasuke hanya mendengus menahan tawanya.
Butuh beberapa lama hingga akhirnya ia menyadari, bahwa pada akhirnya jika ia memang mencintai Haruno Sakura, sepenuh hatinya dengan seluruh jiwanya. Walaupun untuk menyadari hal itu, ia membutuhkan banyak hal untuk menyadarkan dirinya.
Dan walaupun enggan, ia harus mengakui, bahwa Sabaku Gaara lebih pantas mendampingi Haruno Sakura. Jauh lebih pantas di bandingkan dirinya. Pemuda itu bisa menjaga Sakura lebih baik darinya, pemuda itu tidak akan menyakiti Sakura seperti dirinya, dan pemuda itu harusnya bisa membuat Sakura bahagia di bandingkan dirinya.
Semesta bertindak begitu lucu padanya.
.
.
.
Ini merupakan hari ke –56. Sejak hari pertama Sakura kecelakaan Sasuke tidak pernah beranjak meninggalkan gadis itu sendirian. Ia dan Gaara bergantian pulang ke rumah, dan pada akhirnya hubungannya dengan Gaara membaik. Bahkan dalam keadaan tidak sadar Haruno Sakura bisa membawa keajaiban padanya.
Hari itu merupakan malam bersalju. Lagu natal mulai terdengar di mana-mana. Saat itu masih pukul 04.45. Lelaki berambut raven itu tengah tertidur seraya memegangi tangan sang gadis yang tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit.
Sebuah gerakan kecil membuat kesadaran pemuda itu kembali.
Sebuah gerakan kecil dari tangan sang gadis membuat sang pemuda bangun dari tidurnya. Ia dengan cepat bangun dan memandangi wajah sang gadis. Takut-takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Tapi, ternyata yang terjadi justru berbeda dengan apa yang ia takutkan. Gadisnya…, kelopak mata gadis itu bergerak-gerak. Lalu terbuka secara perlahan-lahan. Mata itu memandang langit-langit rumah sakit dengan tatapan sayu. Mata emeraldnya akhirnya terbuka.
Sakura sadar!
Rasanya Sasuke begitu lega, kakinya terasa lemas. Ia terlalu bahagia. Demi segalanya yang ada di bumi. Sakuranya, cherrynya sadar kembali. Puji syukur untuk kami-sama!
"Sakura…" gumam Sasuke –nama pemuda itu.
Tangan Sasuke dengan refleks bergerak menuju pipi Sakura dan membelainya perlahan. Gadis itu menoleh perlahan dengan lemah ke arahnya. Mata emeraldnya bertemu dengan mata onyx Sasuke, mata hijaunya itu kelihatan bingung.
Ia tidak bisa menahan senyuman bahagianya, seandainya saja bisa ia mungkin sudah menangis saat ini.
"Kau sudah sadar…kau sadar…," ujar Sasuke pelan berulang-ulang, perutnya terasa tergelitik. Perasaan ini membuat dadanya seakan-akan seperti hendak meledak. Tiba-tiba saja ia berdecih mengingat sesuatu. "Ah, dokter. Ya, kita butuh dokter…" Sasuke terlihat seperti masih belum sadar.
Ia dengan cepat menekan bel untuk memanggil perawat atau dokter, atau siapapun..
Melihat cherrynya sadar kembali adalah sebuah kebahagiaan terbesarnya. Sakura membuka mulutnya, seakan-akan ingin mengatakan sesuatu pada Sasuke, tapi ia kembali menutup mulutnya. Gadis itu masih terlalu lemah bahkan untuk mengatakan sesuatu. Sakura terlihat masih setengah terjaga, masih terlalu lemah untuk melakukan apapun. Sasuke mencondongkan tubuhnya ke arah Sakura . "Ada apa?"
Sakura terdengar berbisik pelan, dan ia mendekatkan telinganya ke bibir gadis Haruno itu. Berusaha mendengar lebih jelas apa yang hendak di katakan Sakura.
"…takut…"
Suara gadis itu nyaris tidak terdengar. Sasuke tertegun. Suara Sakura memang terdengar lebih mirip dengan bisikan dan nyaris tidak terdengar, tapi bagi Sasuke kata-kata itu terdengar sangat jelas. Sasuke tersenyum dengan tulus. "Jangan takut, aku disini. Aku akan selalu berada di sini."
Mata emeraldnya terlihat begitu lemah. Pegangan tangan Sakura di tangan Sasuke mulai menguat, ada apa dengan Sakura? Mata hijau itu kelihatan linglung, takut.
Saat ia hendak bertanya, terdengar pintu di buka. Sasuke menoleh dan melihat para dokter juga perawat bergegas masuk. Ia menoleh ke arah Sakura lagi dan melihat mata Sakura memandangnya dengan tatapan bingung.
Ada apa dengan Sakura?
"Aku akan kembali lagi, ne?"
.
.
.
Dengan sebuket besar lili putih di tangan kanannya, dan tangan kirinya menjinjing sebuah kantung kertas yang cukup besar, Sasuke memasuki rumah sakit. Beberapa suster yang mengenalnya menyapanya, ia yang biasanya hanya mengangguk kini tersenyum menanggapinya. Moodnya dalam keadaan baik, jadi tidak ada salahnya tersenyum bukan?
Sakura yang sadar membuat semua orang—terkecuali Sasuke, Sasori, dan Seiji yang kebetulan berada di rumah sakit, saling berburu datang. Dan saat jam 6 pagi, semua orang sudah berkumpul di sini. Tapi, karena perempuan itu koma dalam waktu yang lama dokter-dokter di rumah sakit melarang orang-orang bertemu Sakura hingga proses pemeriksaan selesai.
Selama prose situ berlangsung Sasuke memilih pulang ke rumah, mandi, membeli bunga dan makanan untuk Sakura. Ia menarik nafas dalam-dalam ketika dirinya sudah berada di depan pintu kamar Sakura.
Ia menaruh kantung kertasnya di tangan kanannya, dan mengetuk pintu itu. Berharap hari Sakura sudah selesai di periksa oleh dokter. Hatinya berdebar-debar seiring dengan dirinya yang memutar kenop pintu kamar rawat Sakura. Akan tetapi, alih-alih menemukan Sakura, ia justru di kejutkan oleh sosok berambut merah di hadapannya.
Keningnya berkerut begitu melihat ekspresi wajah pria di depannya itu. Sasori kelihatan murung, wajahnya pucat, dan matanya terlihat ketakutan.
"Ada apa?"
Pria Haruno itu berjalan ke arahnya. Dan, hal yang berikutnya terjadi membuat dirinya benar-benar ketakutan. Pria itu menangis. Haruno Sasori menangis.
"Sasori ada apa—"
"Sakura…Sakura…"
Dan kata-kata yang berikutnya terdengar dari bibir Sasori sama sekali tidak bisa ia cerna. Dunianya…, semuanya terasa kembali menggelap.
'Karena mungkin pada akhirnya ini adalah hukuman untuknya.'
.
.
.
Sasuke hanya berdiri di depan pintu kaca tanpa berani masuk ke sana, ia menggenggam buket lili putihnya. Mata onyxnya mengamati gerak-gerik wanitanya. Betapa ia ingin berlari ke arahnya dan memeluknya erat.
Tapi hatinya kelewat nyeri begitu menyadari bahwa seorang lelaki tengah berjongkok di depan kursi roda seraya menggenggam tangan Sakura. Ia ragu-ragu melanjutkan langkahnya. Dari kejauhan ia bisa melihat bagaimana cara Gaara menatap Sakura, dan bagaimana Sakura menatap Gaara.
Dan lagi-lagi, hatinya terasa nyeri.
Ia baru saja hendak mundur, tapi mata jade Gaara menemukannya terlebih dahulu. Pemuda berambut merah itu menatapnya, membuatnya menhentikan langkahnya. Dan mata emerald Sakura kali ini mengikuti langkah Gaara.
Mata hijau itu kelihatan takut, bingung, dan hilang.
Gaara kelihatan mengatakan sesuatu pada Sakura, pemuda berambut merah itu bangun tapi sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, tangan Sakura menghentikannya. Tatapan Sakura seolah memohon pada Gaara untuk tidak meninggalkannya—sepertinya. Tapi, Gaara mengacak rambut Sakura sebelum membisikan sesuatu lagi.
Disini, ia dengan bodohnya menatap interaksi dua orang itu, hingga akhirnya Gaara berdiri di depannya. Bahunya di teput pelan oleh Gaara. "Bicara sana, aku ke kamar Sakura duluan."
Dan pemuda Sabaku itu meninggalkannya sendirian bersama Sakura. Butuh beberapa menit, sebelum Sasuke memantapkan hatinya untuk menemui Sakura. Uchiha itu melangkahkan kakinya dan berjalan ke arah Sakura dengan langkah ragu.
Sasuke tersenyum, ia lalu melangkahkan kakinya hingga dirinya berada di hadapan Sakura. Ia lalu berjongkok di depan Sakura yang duduk di atas kursi roda.
"Hey, sudah baikan?" Sasuke tersenyum ke arahnya, ia menaruh buket bunga lili di pangkuan Sakura. "Selamat ya, kau perempuan hebat."
Sakura menatapnya bingung.
"Aku senang kau bisa bangun lagi Sakura. Kau harus tahu bahwa semua orang menunggumu bangun," kata Sasuke. Tangan Sasuke bergerak dan menggenggam tangan Sakura. "Termasuk aku."
Haruno Sakura tiba-tiba menarik tangannya dengan kasar. Dan hal yang ia takutkan terjadi, perempuan ituketakutan menatapnya. Ekspresi takut itu begitu ia benci. Dan harusnya ia menyadari semua yang ia harapkan terlalu mustahil untuk terjadi.
"Gaara." Perempuan itu terlihat ketakutan, ia menggigit ibu jarinya. "Aku butuh Gaara, Gaara kemana?"
"Sakura…," Sasuke menghela nafasnya. Ia merasakan ketakutannya semakin hebat ketika pertanyaan yang ia pikirkan, terucap keluar dari mulutnya. "Kau ingat aku?"
Mata hijau itu menatapnya langsung ke dalam matanya. Keheningan menyelimuti kedua orang itu. Menit-menit itu terasa berlalu begitu lama bagi Sasuke. Jelas ia enggan bertanya hal itu, tapi ia harus mendengar jawaban dari Sakura.
"Maaf…"
Tidak…, kumohon…, jangan…
"Sakura—"
Mata hijau perempuan itu menatapnya dengan tatapan kasihan sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya. Kecelakaan itu mengakibatkan Sakura kehilangan ingatannya. Benturan dari kecelakaan itu berakibat fatal untuk kepalanya. Ketika Sasori memberitahunya keadaan Sakura, mati-matian ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Sasori berdusta padanya.
Tapi melihat keadaan Sakura, ia sadar bahwa kenyataannya apa yang ia takutkan terjadi.
Katakanlah padanya, apa yang bisa membuat Haruno Sakura kembali mendapatkan kebahagiaannya. Dan ia bersumpah ia akan melakukan itu, apapun yang bisa membuat Sakura bahagia, ia akan melakukannya. Karena, saat ini, detik ini, hingga di masa depan dan entah sampai kapan, ia bersumpah bahwa kebahagiaan Sakura akan menjadi prioritasnya,
Dan iapun menangis di pangkuan Haruno Sakura.
.
.
.
Ia merasa tidak nyaman, pemuda di depannya ini terlihat menatapnya penuh harap. Dan ketika gelengan ia keluarkan sebagai jawaban, pemuda itu menangis dengan pilu di pangkuannya. Walaupun ia berusaha, ia tidak bisa mengingat siapa orang ini.
Sasori-san yang mengakui dirinya sebagai Kakak dari Sakura mengatakan bahwa ia kehilangan ingatannya. Dan tiba-tiba saja hari ini banyak orang yang menangis ketika ia mengatakan bahwa ia tidak mengingat mereka. Sejujurnya ia merasa bersalah, tapi ia benar-benar tidak bisa mengingat mereka semua. Tiap orang yang memandangnya penuh harap, itu benar-benar menghancurkan hatinya juga melihat mereka begitu kecewa melihatnya.
Kalau ia membuat mereka sedih begini, bukankah lebih baik ia mati?
Tangisan pemuda di depannya ini menyayat hatinya, seolah-olah hatinya ikut menangis dengan pemuda ini. Walaupun otaknya tidak bisa mengingat orang ini, tapi hatinya seolah-olah mengingatnya. Dan haatinya yang ikut terasa nyeri melihat pemuda ini menangis membuat dirinya yakin bahwa keberadaan pemuda ini sama pentingnya dengan keberadaan Gaara dengannya.
Gaara.
Ia memang tidak mengingat pemuda berambut merah yang tadi, mungkin itu hanya feelingnya belaka, tapi ia merasa begitu aman dan nyaman bersama Gaara. Mungkin itulah alasan mengapa ia begitu ketakutan ketika Gaara berkata bahwa ia akan meninggalkannya untuk mengobrol dengan pemuda asing ini.
"Maaf…," terdengar gumaman serak keluar dari pemuda di pangkuannya itu. Pemuda itu mengangkat kepalanya dan memperlihatkan air mata yang mengalir di pipinya. Senyuman sedih terbentuk di bibir pemuda itu. "Kau pasti kaget."
Ia mengangguk singkat.
"Kenalkan, namaku Uchiha Sasuke."
Sakura mengedipkan matanya berkali-kali. "Kalau boleh aku tahu, kau siapa?"
Pemuda di hadapannya diam beberapa saat sebelum membuka mulutnya lagi. "Kita teman, aku mengenalmu dari kecil bodoh," ujar Sasuke seraya menyeringai ke arahnya. Tangan Sasuke terjulur kembali dan memegang tangannya yang sedari tadi ia gigiti. "Nah Sakura, walaupun kau tidak mengingatku. Aku mengingatmu, jadi kau tidak perlu frustasi kalau kau tidak mengingatku ya."
Ia mendengus. "Mana mungkin aku frustasi."
"Aku ini tampan loh, mungkin saja kau akan frustasi karena tidak mengingatku," canda pemuda itu.
"Yang benar saja," ia mendengus menahan tawanya. "Mana mungkin karena alasan bodoh begitu aku jadi frustasi. Kau mengada-ngada sungguh."
Pemuda ini aneh, begitu bipolar. Sebentar sebentar menangis, tertawa, menggodanya. Cowok ini benar-benar aneh. Tapi sepertinya ia harus terbiasa dengan sikap pemuda ini. Karena, percaya atau tidak ia memiliki perasaan yang mengatakan bahwa cowok aneh ini dan juga Gaara akan berada di sekitarnya dalam waktu yang lama.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
END.
Jangan bakar author dulu ya, silahkan baca Epilog.
NANTI TAPI DICHAPTER DEPAN, NGAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.
.
.
.
Author Note's :
IYAAAAAA AKHIRNYA INI FANFIC TAMAT JUGA! YAELAH WALAUPUN TINGGAL EPILOG SIH. Butuh hampir 3 tahun lebih daaaan akhirnya yeay! Ini endingnya apa coba ngahahahahaha. Bener-bener beda banget sama yang dipikirin awalnya.
Awalnya endingnya ini mau bikin Sakura minta maaf karena salah paham, terus gitu deh. Tapi gak jadi ngahahaha, taunya jadi gini. Awalnya juga Gaara gakan keluar lagi, tapi nyatanya Gaaranya keluar lagi! Daaan untuk selanjutnya bisa baca Behind The Sceene dark moon ya disini : .com
Oh ya, seperti yang saya bilang di chasing perfection, saya ngakak lagi dan lagi baca kotak review, mungkin kotak review telah berubah menjadi kotak perang. Banyak yang komplen, banyak yang protes, bahkan ada juga yang
Pertanyaan-pertanyaan di chapter kemaren :
Happy ending buat Sasusaku ya? : Ini hitungnya Happy ending bukan? Bukan ya? Ini open ending ngahahaha. Happy endingnya buat Sakura udah pasti, tapi sama Sasu apa Gaara ya? Duaduanya baik bangetsss sih jadi susah sekali menentukannya.
Harusnya Ino kecelakaan mati, diperkosa rame-rame atau dapet hukuman lebih berat : Ino banyak banget di benci di fanfic ini ngahahaha, banyak yang bilang kurang pembalasannya. Tapi gimana dong? Seperti yang sudah saya katakan pada reader yang mem PM saya, cerita itu berhenti pada suatu titik yang penulis inginkan. Karena saya gak nulis lagi gimana Ino kesananya, bukan berarti Ino bahagiakan kesananya? gimana kalau pembaca masing-masing membayangkan gimana nasib Ino? Unleash your imagination guys! :D
Dan curhat sedikit ya Ini bener-bener pertanyaan yang bisa bikin saya beneran nangis darah. Kadang ada beberapa orang yang keras kepala dan udah dikasih tau gini masih ngotot dengan pikirannya sendiri. Kalau kalian inginnya begitu, makannya saya memutuskan membiarkan nasib Ino di ending terserah pada pembaca saja :-(
Endingnya jangaaan GaaHina! Ino di pair sama siapa? Apa Ino ngerti sudut pandang Sakura? Saya bukan flamers kok. : Engga GaaHina kok, Gaara sama aku #ditendang. Ino sama siapa ya? Maunya sama siapa? Ino ngerti sama sudut pandang Sakura, tapi dia gak nerima kalau Sakura cuman jadi korban. Ino egois jelas itu trait utamanya, jadi dia mikir dia korban juga. Dia ngerti dia salah, dia tau tapiiiii dia juga mau Sakura ngerti kenapa dia gini. Karena Sakura juga gak mahamin Ino. Iyaaa bukan tahu kok bukan hehehe, tenang aja! :D
Kapan selesainya? : Ini selesai, tinggal epilog.
Sakura kok di bikin koma? Gak bisa nebak endingnya sad atau happy, ini keren banget : Abiiis buat plot juga sih, sebenernya gak direncanain koma, bener-bener ngerombak ending aku ngahahaha. Endingnya apa ya? Bisa sad, bisa happy :D Ihhh makasih sekali pujiannya. Belakangan jarang menemukan pujian di kotak review soalnya ngahahahaha.
Harus happy ending! Udah cukup kecewa sama endingnya Blind. Kenapa 3rd personnya Gaara? Bozaaan, bakalan frustasi kalau endingnya bukan Sasusaku. : Percayalah saya juga pendukung SasuSaku banget '.')/ Happy ending bukan ya? Mm, mungkin iya mungkin tidak. Saya juga kecewa dengan ending blind huhuhuhu. 3rd personnya Gaara abis Gaara mempesona sekaaaaaaali ngahahahhahaa.
Sakura mati? Jangan dong. : Engga mati, cuman amnesia aja. #iyacuman =)))))
Bahagiakan Sasusaku tapi jangan dipaksakan alurnya : Ini maksain ga?
Bentar lagi tamat ya? Feelnya kurang. Aideen dan fireflies kapaan di update : Ini ACT terakhir, tinggal epilog nih! Feelnya kurang ya? Maafin dong, abis author kehilangan passion di bidang tulis nih #apainicurhat. Aideen dan Fireflies seringgg sekali di tanyakan, tapi kayaknya bakalan discontinue sih.
Beda sama summary, disini Sakura kok kesannya menderita. Sasukenya keenakan di chapter awal. Kurang greget apalagi sama Ino. Endignya Sakura yang ujung-ujungnya ngejar Sasuke ke bandara pula : Maafkan beda ya? Abis ini jaman SMP loh nulisnya, jadi plotnya juga belom mateng dan ngikutin aja. Eh taunya malah gini. Ini juga gak sengaja malah endingnya gini. Maklumlah dari SMP ke kuliahkan jadi plinplan gitu. Tapi Dark Moon juga toh broken project makannya kalau kata aku sih ini fanfic gagal.
Kembali dengan pen-name lama neng? Masalah end pair balik lagi pada authorlah. Gak ada yang berhak memaksakan kehendak ttg pair akhir. Hargai segala bentuk buah karya author. Saya yakin author memutuskan pair akhir dengan segala pertimbangan : AKHIRNYA ADA YANG NGEBELA SAYA =)))))) setelah mendapatkan demo yang menggila di kotak review ada juga yang membela saya. Terharu sumpah. Aduh kalau ada di depan saya mungkin kamu udah aku peluk deh.
Sakura itu keselamatannya gimana? Dia lari ngejar Sasukekan? Kok Naruto bilangnya mobilnya kecelakaan? : Dan ini adalah typo saya lagi kayaknya. Awalnya, Sakura kecelakaannya di mobil tapi saya ubah bikin Sakura tertabrak. Kayaknya itu saya lupa ganti deh. Maafkan ya huhuhuhu
Author ganti pen-name : Enggak kok, cuman balik lagi ke pen-name lama, kalau yang udah baca dark moon dari dulu pasti tau :)
Gitu aja ya, makasih buat reviewnya! Nanti disebut di epilog aja yaaa kalian semua! Mwah, I love you guys! Aku capek, dari siang nulis chapter ini dan chapter 2 chasing perfection dan behind the sceene dark moon. Udah dulu ya! Kiss ya!
.
.
.
xoxo.
.
.
selena
