Tadi ngadain vote di instastory, mau Hide and See dulu apa Koleris? Berhubung kalian pada milih Koleris ywda nih gw up..

Padahal Hide and See lagi ngakak2nya gw ngetiknya

Happy reading

.

.

.

.

.

Semoga syair yang dipenuhi penyesalan ini akan menggapai langit

Aku berdoa sepanjang malam berharap aku bisa menyentuh hatimu

Aku belum dewasa

Aku tidak menyangka aku akan seperti ini jadinya

jadi, aku biarkan saja

Senyuman yang kau tinggalkan masih ada dalam hatiku

Jujur, aku membutuhkan cinta yang belum aku dapatkan

Tapi aku ditinggalkan dan menjadi semakin takut

Aku sangat merindukan dirimu dan juga momen itu

Aku sangat merindukanmu

Akhirnya aku merasakan ruang diantara kita

Aku sangat merindukanmu

Air mataku mengalir, kenapa aku tak menyadarinya?

Kau cantik, Sangat cantik

Kau bahkan lebih cantik dari yang lain

Jangan sakit, jangan menangis, aku ada untukmu

Kalau kau mendengarnya, kembalilah

Aku benar-benar merindukan mu

Sangat merindukanmu

Aku menatap diriku berdiri sendirian di cermin

Menatap bayangan mu yang semakin lama semakin mengabur

Aku ketakutan, aku membutuhkanmu

Aku menyesal karena aku baru menyadarinya

Kembalilah padaku

Kenanganku bagai gudang yang luas, seluas samudra

Di dalamnya aku mondar-mandir sendirian tanpa kau di dalamnya

Aku merasakan rasa sepi ini, Meskipun hanya ada sedikit darimu yang tersisa

Aku coba memejamkan mataku dan merasakannya

Aku ingin berdiri di hadapanmu lagi, Memegang bunga yang secantik dirimu

Memakan coklat yang lebih manis dari senyummu

Aku ingin hadir lagi dengan versi yang lebih baik dari yang dulu

Aku gambar momen itu dengan ujung jariku

Seolah momen itu tak akan kembali, aku menangis

Kau bersinar seperti bidadari

Aku ingin menuntunmu kedalam hatiku

Aku ingin memiliki kamu lagi

Sangat cantik, kau sangat cantik

Kecantikan mu membuat bibir ku tersenyum namun mataku menangis

Apakah disana kau menangis juga?

Jangan tinggalkan aku

Jangan pergi

Aku mencintaimu

Aku suka dengan apapun yang kau katakan dan yang kau lakukan

Aku merindukanmu

Air matamu

Kata-kata terakhirmu

Aku merindukanmu

Tolong bukalah hatimu padaku, kembalilah.

.

.

.

.

.

BMG: Beautiful - Wanna One

Penyesalan memang selalu datang di akhir.

Rasanya baru kemarin Luhan mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja tanpa Sehun. Rasanya baru kemarin dia mengatakan bahwa hidupnya jauh lebih bahagia tanpa Sehun. Dan rasanya baru kemarin dia begitu yakin menolak permohonan maaf tulus dari Sehun.

Luhan pikir, setelah dengan begitu jahatnya dia menyakiti Sehun dengan penolakannya akan membuatnya baik-baik saja. Namun ternyata dia salah. Bahkan saat ia menolak permintaan maaf dari Sehun dia begitu sakit, ia bahkan harus meremat dadanya dengan kuat untuk melampiaskan kesakitannya. Dan hingga dua hari berlalu Luhan masih tenggelam dalam kesakitannya. Membuat orang-orang terdekatnya benar-benar khawatir dengan kondisi pisik terutama psikisnya yang belum pulih benar.

'Apa yang harus ku lakukan?', Luhan bertanya pada pantulan dirinya yang terlihat begitu menyeramkan melalui cermin di kamarnya, tertunduk saat menyadari jika ia lah yang sesungguhnya jauh lebih menderita tanpa kehadiran pria itu.

'Sehun-ah bagaimana ini? Kenapa sekarang justru aku yang nyaris mati karena memikirkanmu'

Sehun, pria itu bukanlah pria cengeng dan berhati lembut yang gampang menumpahkan air matanya. Tapi lihatlah kemarin, air mata pria itu tidak berhenti menetes nyaris menggetarkan hati seorang Xi Luhan, membuat kadar cinta yang ia kira sudah menghilang di hatinya kini kadarnya justru semakin bertambah.

Luhan rasa dia tidak bisa terus seperti ini. Jika dia tetap meratapi keputusannya maka Luhan yakin jika sebentar lagi dia lah yang akan mati sekarat sebelum Sehun.

Wanita itu kembali menghadap cermin, merapikan wajah sembabnya dan segera keluar dari kamarnya, berlari tanpa suara untuk meminjam salah satu mobil sang ayah di garasi dan segera melajukannya secepat mungkin. Tidak perduli jika setelah ini ayahnya akan marah pada Myungsoo yang teledor menjaganya atau justru marah pada dirinya yang keras kepala.

'Mianhae appa', ia merafalkan maaf dalam hati, menyesal karena harus mengingkari janjinya dengan sang ayah untuk tidak keluar rumah selama Yifan masih berkeliaran dengan bebas, apa lagi sampai sejauh Seoul seperti apa yang sedang ia lakukan saat ini.

.

.

.

.

.

"Kuperhatikan, wajahmu terlihat lebih segar dari sebelumnya", pria berlesung pipi itu menuangkan segelas air putih untuk tamu tak di undangnya, "Apa Luhan menerima mu?"

Pria yang satunya, yang sedang bersandar nyaman di sofa apartemen sang sahabat sambil memainkan phonsel di tangannya mengernyit melihat air putih di depannya, "Jangan protes, aku sudah membuang alkohol dan minuman soda lainnya di kulkas ku", sebelum mulut berbisa Sehun menyemburkankan bisanya, sang pemilik apartmen langsung menyela. Saat sehun sedang sekarat ia benar-benar membuang semua minuman tidak sehat itu dari lemari esnya, ia bahkan menyembunyikan semua benda tajam yang ia punya. Katakan ia berlebihan, ia ketakutan jika Sehun yang putus asa akan memilih jalan pintas, ia takut jika Sehun akan berpikiran dangkal jika mengingat seberapa 'parah' nya pria itu beberapa hari lalu.

"Pelit..", kata Sehun sarkas, menyindir dompet Chanyeol yang bahkan tidak mampu membeli sebotol jus untuk tamunya.

Chanyeol mengendikkan bahunya, sudah begitu terbiasa dengan sindiran dari mulut Sehun, "Bagaimana? Apa Luhan menerimamu?", tanyanya lagi.

Sehun menghabiskan air putih itu dalam sekali tenggak saat Chanyeol mengingatkannya pada wanita yang sudah membuat hatinya hancur berkeping-keping, "Aku di tolak", jawabnya sambil meletakkan gelas kosong itu di atas meja kaca dengan kuat, sampai retak namun tidak pecah, sama seperti hatinya.

"Gelas ku", Chanyeol mendelikkan mata besarnya, tidak terima saat gelas impornyaa retak begitu saja akibat kemarahan Sehun, "Kau harus berusaha lebih keras lagi", katanya sambil berjalan ke dapur mininya untuk mengambil gelas yang baru. Jika kali ini Sehun memecahkannya lagi maka Chanyeol bersumpah akan menggores wajah tampan Sehun dengan pecahan gelas itu agar Luhan benar-benar tidak mau lagi kembali pada pria jelek sepertinya.

"Apa usaha ku kurang keras?", Sehun bertanya pada sang sahabat yang sudah terlatih dalam hal sepeti ini. Bisa di bilang antara mereka bertiga maka Chanyeol lah yang paling berpengalaman dalam hal memperjuangkan wanita. Jika Kai, sahabatnya yang satu itu mana sudih repot-repot memperjuangkan wanita. Mati satu tumbuh seribu, itu prinsip yang di gunakan Kai yang selalu membuat Sehun mendengus iri.

"Tentu saja, bahkan sebelumnya aku sudah yakin jika Luhan akan menolakmu"

"Dari mana kau tahu?"

"Wanita itu tidak hanya hatinya yang kau sakiti, namun harga dirinya juga kau lukai. Aku rasa dari pada sakit hati, terhinalah yang paling wanita itu rasakan"

Wanita yang kau cintai ini adalah wanita hina

Benar, sejak mereka bertemu kembali sudah berapa kali Luhan mengucapkan kata hina dari mulutnya. Sehun bahkan tidak bisa menghitung berapa kali Luhan menyindirnya dengan kalimat menohok itu, "Jadi, aku harus berusaha lebih keras lagi?"

"Tentu saja, kau tidak hanya harus mengambil hatinya, tapi kau juga harus mengembalikan harga dirinya yang sudah kau rendahkan"

Sehun mengangguk mengerti, jika dia jadi Luhan pun dia rasa dia tidak sudih memaafkan orang yang sudah menghinanya dengan begitu keji, apa lagi Luhan, wanita itu memiliki hati yang selembut sutra. Sehun yakin jika hati Luhan bahkan berkali-kali lipat lebih hancur dari pada apa yang dia rasakan saat ini, "Tapi, bagaimana jika dia menolakku dan terus menolakku?"

"Kau sudah mempunyai Jessica sebagai gantinya"

Puk

Saran laknat dari Chanyeol langsung di hadiahi Sehun dengan lemparan majalah yang sedang tergeletak di kursi, mengutuk saran pria itu yang membandingkan Luhan dengan Jessica. Bagi Sehun tidak ada yang bisa menandingi Luhan. Wanita itu tidak hanya parasnya yang cantik luar biasa hingga membuat Sehun nyaris sinting, namun dia juga memiliki hati yang sebanding dengan kecantikan parasnya. Berbeda juah dengan Jessica. Hell, Sehun tidak ingin membahas temannya yang cantik jelita itu yang saat ini mendadak berubah menjadi wanita jahat di mata Sehun.

"Antar aku pulang, aku malas menyetir"

"Kau bukan malas, tapi takut akan berakhir menceburkan mobil mu ke sungai han", sindir Chanyeol tepat sasaran.

"Baguslah jika kau tahu"

Demi Tuhan, Chanyeol rasanya ingin sekali meremas wajah Sehun yang luar biasa sialan. Untung sahabat.

"Ya.. ya.. ya.., kau tidak perlu menyeretku"

"Kau tahu, setiap kali kau menjadikan apartmen ku sebagai tempat pelarian rasanya aku ingin sekali menjual apartmenku", kata Chanyeol jujur, masih terus menyeret tamu tak di undangnya ke arah parkiran.

"Kenapa? Kau terganggu?"

"Tentu saja, kau tidak hanya mencemari lingkungan bersihku namun kau juga menghabiskan isi lemari es ku"

Astaga, jika bukan sahabat rasanya Sehun ingin sekali menendang kaki panjang pria yang seenak jidatnya menyeretnya seperti hewan peliharaan.

"Masuk..!"

Blam

Saat mengitari mobil menuju ke bangku kemudi rasanya Chanyeol ingin sekali terbahak. Jika dalam kondisi normal jangankan menyeretnya, menyentuh tangannya saja Sehun sudah sangat murka. Tapi berhubung otak normal Sehun sedang bergeser jadilah Chanyeol berlaku seenaknya dan memperlakukan pria itu dengan semaunya, "Mau langsung pulang?"

"Hhmm", Sehun yang kesal menjawab dengan dengungan panjang, malas dengan Chanyeol yang sedang memanfaatkan keadaannya.

"Ngomong-ngomong Hun, bagaimana kabar Luhan terakhir kali kau melihatnya?"

"Ngomong-ngomong Yeol, bagaimana kabar mantan kekasihmu saat terakhir kali kau melihatnya?"

"YAA..!"

"Kenapa? Kesal kan? Aku juga kesal setiap kali kau mengingatkanku pada wanita itu", kata Sehun bersungut-sungut, benar-benar ingin menendang kaki Chanyeol saat pria itu menginjak habis gas mobilnya. Hatinya memang sedang remuk, tapi dia tidak mau mati konyol, apa lagi mati bersama Chanyeol.

"Kenapa kesal? Marah padanya?", tanya Chanyeol yang sudah menurunkan kecepatan mobilnya.

"Aku justru marah pada diriku sendiri", Katanya lirih, selalu menjadi sedih jika mengingat wanita yang terus menghantuinya itu.

"..."

"Terkadang aku iri pada kalian berdua, kau dan Kai begitu mudah jatuh cinta dan berpindah dari satu hati ke hati yang lain. Sedangkan aku...", kadang kala Sehun ingin seperti Kai dan Chanyeol, ingin menjadi pria yang mudah jatuh cinta dan mudah melupakan, bukan malah menjadi pria yang sulit jatuh cinta dan sulit juga untuk melupakan. Sehun sangat tidak menyukai sifatnya yang satu ini, di mana dia harus puas mencintai satu wanita saja, mencintainya benar-benar sepenuh hatinya dan tidak bisa membaginya dengan wanita lain. Sehun tidak suka, dia ingin seperti Kai yang dengan begitu mudahnya jatuh cinta pada berbagai macam wanita dan dia ingin seperti Chanyeol yang begitu mudah move on dan berpindah kelain hati. Jujur dia iri pada sifat kedua sahabatnya, benar-benar iri.

"Tenanglah, Luhan akan menyesal karena sudah menolak pria setia sepertimu", kata Chanyeol yang tahu benar dengan apa yang sedang di pikirkan sahabatnya, pasalnya bukan hanya sekali dua kali Sehun mencoba untuk menjadi dirinya dan Kai, namun selalu berakhir gagal, pria itu tidak bisa bermain dalam hal asmara. Pria itu selalu serius jika sudah menyangkut masalah hati.

"Aku ikut masuk ya, aku merindukan Jae eomma", saat mereka sudah sampai di kediaman Sehun, keduanya memasuki rumah megah itu dengan ekspresi berbeda, jika sang tuan muda di rumah ini memasang wajah masamnya dan langsung menyembunyikan dirinya di kamar, maka Chanyeol yang ceria tersenyum lebar sambil merentangkan kedua tangannya pada wanita cantik yang seusia dengan ibunya.

"Apa kabar cantik?", tanyanya sambil memeluk wanita paruh baya yang masih cantik jelita.

"Sudah lama kau tidak kemari. Di mana Kai?", Jaejoong melepaskan pelukan mereka dan mengusap sayang kepala Chanyeol yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri, sama seperti Sehunnya.

"Kai sedang sibuk dengan calon kekasihnya", katanya yang membuat wanita yang sejak dulu ingin memiliki menantu itu mendengus iri, "Hai Jess", sapa Chanyeol saat ia melihat Jessica melintas di dekat mereka.

"Hai.."

"Mau kemana?"

"Keluar sebentar"

Chanyeol mengangguk, tidak begitu perduli dengan wanita yang akan menjadi bagian hidup sahabatnya yang sepertinya sedang terburu-buru itu.

.

.

.

.

.

Sudah sejak tadi wanita bermata rusa yang sedang resah itu berdiam diri di dalam mobil, memarkirkan mobilnya cukup jauh dari jarak rumah megah yang dulu pernah menjadi tempat tinggalnya selama beberapa belas hari. Mengamati dari kejauhan rumah yang menjadi tempat pria yang ia cintai bernaung.

'Haruskah aku keluar?', gumamnya, ragu harus menemui pria yang dua hari lalu mengemis cinta padanya guna menyudahi segala penderitaan hatinya sampai di sini, atau terus bersembunyi dan membiarkan sakit di hatinya yang lama kelamaan semakin menggerogotinya.

Melihat hari yang semakin sore dan akan membuatnya kemalaman pulang ke rumah, yang mana hal itu bukan lah hal yang bagus mengingat ia pergi tanpa izin, dengan ragu Luhan keluar dari mobilnya, berjalan mengendap-endap menyusuri pagar menjulang rumah Sehun sampai ia tiba di depan gerbang dan berhadapan dengan seorang pria yang cukup ia kenal.

"Nona.."

Luhan tersenyum canggung pada mantan supirnya yang sedang menyapanya dengan senyuman ramah.

"Halo paman..", balasnya canggung.

Pria tua itu tersenyum hangat dan segera mendekati wanita yang pernah ia doakan akan menjadi nyonya di rumah ini, "Ya Tuhan, sudah lama sekali saya tidak melihat nona", ujarnya senang, menatap berbinar pada wanita cantik di depannya.

Luhan hanya menyunggingkan cengiran kekanakannya sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal, dia canggung dan gugup tentu saja, takut-takut ada Jaejoong yang melihat kehadirannya.

"Ada apa nona? Mau bertemu Tuan Sehun? Ayo masuk..!"

Tiiiin..

Luhan dan sang mantan supir kompak menoleh pada suara klakson yang memekakkan telinga, refleks Luhan mundur selangkah saat melihat wanita cantik yang keluar dari mobil tersebut.

"Ada apa paman? Kenapa menghalangi jalan?"

Suasana mendadak canggung saat sang supir melirik pada Luhan yang terdiam mematung. wanita itu bahkan sudah meremat tali tasnya dengan mata yang memerah sempurna.

Wanita pemilik mobil tersebut mengikuti arah pandang sang supir, "Siapa dia?", wanita itu, Jessica melirik penampipan wanita di dekatnya. Mengernyit mendapati wanita cantik yang terdiam mematung di depan rumah calon tunangannya.

"Aku pergi", Baru satu langkah Luhan berbalik, tangannya langsung di cekal Jessica yang sepertinya sedang ingin menginterogasinya.

"Kau siapa?" tanyanya tidak sopan, mata bulatnya meneliti wajah pucat Luhan yang baru pertama kali ia lihat.

"Permisi..", tanpa menoleh Luhan menghempaskan tangan Jessica yang sedang mencekalnya, perasaannya sudah mulai tidak enak saat melihat wanita cantik ini kelaur dari runah Sehun. Perasaannya benar-benar buruk sehingga ia memutuskan untuk segera pergi dari sini, dan Luhan yakin jika wanita yang sedang meneliti penampilannya ini adalah wanita yang akan mengambil Sehun darinya.

"Hei tunggu dulu..", Jessica merupakan wanita keras kepala dengan keingintahuan yang sangat tinggi, jadi tanpa kesulitan yang berarti dia mencekal tangan itu lagi dan berdiri menghadap wanita yang spertinya begitu takut melihatnya, "Kau siapa? Kenapa kau berdiri di depan rumah ini?", tanyanya lagi.

"Nona, biarkan nona Luhan pergi", paman Han yang sejak tadi memperhatikan kedua wanita cantik itu berjalan tergopoh mendekati mereka, melerai tangan Jessica yang sudah membuat tangan halus Luhan memerah.

"Luhan?, jadi wanita ini adalah Luhan?", mata bulat Jessica membola, mengerti kenapa Sehun bisa cinta mati terhadap wanita yang luar biasa cantik ini. Dari matanya saja Jessica bisa melihat kepribadian wanita ini yang sepertinya adalah wanita baik-baik. Terbukti dari mata sendunya dan senyum separuhnya yang walau terpaksa namun terlihat begitu cantik.

"Ada apa kau kemari?", tidak ingin menjadi wanita baik seperti Luhan, dia bertanya ketus setelah ia puas mengagumi paras wanita yang berhasil mengambil hati Sehun.

"Paman aku pergi..", pamit Luhan lagi yang lagi-lagi di halangi oleh Jessica.

"Tidak sopan sekali, aku sedang mengajakmu berbicara", kata Jessica marah, cukup tersinggung pada Luhan yang bahkan enggan menatapnya.

Luhan menarik nafasnya dalam-dalam untuk meredakan kekesalannya, "Aku tidak punya urusan dengan anda", dengan sisa-sisa kesabarannya Luhan berujar, meladeni Jessica yang sepertinya sudah mengetahui siapa dirinya.

"Kau punya urusan dengan ku"

"...", Luhan memilih diam, tidak ingin terbawa emosi yang akan berimbas buruk untuk mentalnya yang belum pulih.

"Untuk apa kau kemari? Untuk menemui Sehun? Masih belum puas membuat hidupnya berantakan?"

Luhan terkekeh sumbang. Geli mendengar tuduhan wanita gila ini.

"Dengarkan aku, pergi dari sini dan jangan kembali lagi, jangan menyakiti Sehun lebih jauh lagi"

Luhan mengernyit, sebenarnya siapa yang menyakiti dan siapa yang di sakiti, kenapa jadi dia yang di salahkan. Tidak tahukah Jessica bahwa ia lah yang jauh lebih hancur dari pada Sehun. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ia punya Luhan berujar, "Aku sudah sejak tadi ingin pergi, kau saja yang menahanku", kata Luhan marah, mengikuti Jessica yang menggunakan bahasa non formalnya.

Refleks Jessica melepaskan tangan Luhan yang sedang ia tahan, "Satu lagi, jangan pernah muncul di hadapan Sehun apa lagi sampai nekat datang kemari", bukan tanpa alasan dia melarang Luhan datang kemari. Dia takut jika Sehun akan semakin sulit melupakan wanita ini. Dia khawatir jika hidup Sehun semakin hari semakin berantakan karena terus memikirkan Luhan.

"Memangnya kau siapa bisa melarangku dan mengaturku?"

"Aku?" tanya Jessica sambil menunjuk dirinya sendiri, ia tersenyum begitu sombong siap untuk menyadarkan Luhan, "Aku adalah tunangan Sehun. Kau dengar, jadi jangan menemui Sehun lagi dan membut hubungan kami semakin berantakan"

Luhan mendongakkan kepalanya untuk menghalau air mata yang hendak keluar saat mendengar kata tunangan keluar dari mulut Jessica, dia memang sudah pernah mendengar jika Sehun akan bertunangan tapi kenapa rasanya sakit sekali saat ia mendengar langsung dari mulut wanita ini. Sekarang dia ingat jika wanita ini adalah wanita yang ia lihat di club malam itu, wanita ini adalah wanita yang membawa Sehun saat Sehun sedang mabuk.

Meninggalkan Luhan yang terdiam mematung, Jesisca pergi dari sana dan kembali memasuki mobilnya. Dia mempunyai urusan yang lebih penting dari pada mengurusi patung cantik bernama Luhan itu. Namun sebelum benar-benar pergi Jessica menurunkan kaca jendela mobilnya dan melirik pada paman Han sambil berujar, "Jangan katakan pada Sehun jika wanita ini kemari, paman dengar?"

"Saya mengerti nona", kata paman Han, dalam hati ia menyumpahi Jessica agar setidaknya ban mobilnya pecah atau menabarak tiang listrik saja sekalian.

Sejak perginya Jessica, dengan lemas Luhan berpegangan pada pagar rumah Sehun, begitu sesak saat niatnya ingin bertemu dengan Sehun dan memperbaiki hubungan mereka tapi justru ia harus menerima kabar menyesakkan yang semakin menurunkan kepercayaan dirinya, "Nona"

"Paman, apa benar jika wanita itu adalah calon tunangan Sehun?"

Tidak bisa menjawab karena tidak tega, paman Han memilih diam, tidak ingin menyakiti hati Luhan lebih jauh dari ini. Menunduk karena ikut sedih melihat wajah wanita yang ia pikir akan menjadi nona muda di rumah ini mengingat seberapa dekatnya ia dan Sehun dulu.

Melihat sang supir yang terdiam Luhan tersenyum getir, menyadari jika hubungannya dengan Sehun memang tidak bisa di selamatkan. Sehun memang menerima segala kekurangannya namun tidak dengan keluarganya terutama ibunya, Jaejoong mana sudih memiliki menantu seperti dirinya, wanita terhormat itu pastilah menginginkan menantu yang berasal dari keluarga terhormat pula.

"Luhan-ah.."

Buru-buru Luhan menghapus air matanya saat mendengar suara yang cukup familiar di ikuti suara derap langkah yang semakin mendekatinya.

"Luhan, kenapa kau di sini, astaga", pria itu, Chanyeol memegang kedua bahu Luhan, memaksa wanita yang sedang menahan tangis itu untuk melihatnya. Dan hati Chanyeol terenyuh saat melihat tatapan mata Luhan yang penuh luka dan kesedihan yang mendalam.

"Kau kenapa?", tanyanya lirih, "Apa yang terjadi dan apa yang membawa mu kemari?"

Luhan menggeleng, menunduk untuk menyembunyikan wajah menyedihkannya meskipun itu percuma.

Melihat Luhan yang terdiam menyedihkan Chanyeol langsung menarik tubuh rapuh itu kedalam pelukan kakunya, berdebar saat dengan refleks ia mengusap rambut halus Luhan. Berdebar karena saat ini ia sedang memeluk wanita yang di cintai sahabatnya atau berdebar karena hal lain, entahlah Chanyeol tidak mengerti. Yang jelas dia tidak ada maksud lain. Sebagai teman dia hanya bersimpati dan ingin menghibur wanita yang tengah bersedih ini.

"Gomawo..", Luhan melepaskan pelukan mereka, menghapus air matanya yang tidak pernah habis dan ingin segera pergi dari sana, dia tidak kuat di sini, dia tidak ingin kembali lagi ke sini, sepertinya Seoul bukanlah tempat yang bagus untuk dirinya "Aku pergi..", katanya parau, bersyukur karena Chanyeol mengerti dirinya dan tidak menahannya.

.

.

.

.

.

"Dari mana saja..?"

Luhan yang baru memasuki rumahnya terlonjak kaget mendengar pertanyaan dengan suara tinggi milik sang ayah, tertunduk saat sang ayah menatapnya marah bercampur khawatir.

"Appa tanya kau dari mana?", tanya Insung lagi masih dengan suara tingginya. Dia tidak ingin marah, namun dia rasa putrinya harus di ingatkan bahwa apa yang dia lakukan saat ini adalah salah karena bisa membahayakannya.

"Dari Seoul", Luhan menjawab serak, masih menunduk takut tidak berani menatap wajah marah ayahnya.

"Seoul? Sendirian?"

"Ne.."

"Kau tahu jika Seoul tidak aman untukmu Luhan. Kau belum aman, apa lagi sejak pria itu di tahan dia sedang gencar-gencarnya mengawasi appa melalui orang-orang yang mungkin saja kau temui di luar sana"

Luhan mendongak, menatap nanar sang ayah yang memarahinya untuk pertama kalinya, "Wae? sampai kapan aku akan hidup seperti seorang buronan seperti ini? sampai kapan appa? aku tidak bersalah tapi kenapa harus aku yang terkurung di sini", Sejujurnya Luhan tidak ingin dan tidak berniat mengeluh dan melampiaskan kesedihannya pada sang ayah. Tapi kesedihan yang tengah di rasakannya membuatnya tanpa sadar meninggikan volume suaranya hingga terdengar marah, ingin menumpahkan kesedihannya dan mengadu betapa tidak bahagianya dia saat ini, "Mianhae" katanya sadar sudah melakukan kesalahan fatal dengan cara membentak ayahnya yang sedang mengkhawatirkannya.

Setelah menghembuskan nafasnya untuk meredam kemarahannya Insung memeluk tubuh mungil sang putri, "Kau baik?"

"Huh?", Luhan menyandarkan kepalanya di dada sang ayah, benar-benar butuh sandaran untuk menumpahkan kesedihan mendalam yang sedang ia rasakan.

"Apa kau baik?"

"Aku tidak", jawab Luhan jujur.

Tidak berujar lagi Insung mengeratkan pelukannya untuk memberikan sedikit kekuatan pada sang putri yang bernasib malang. Tidak tahu apa yang membuat putrinya nekat ke Seoul dan kembali dengan kondisi menyedihkan seperti ini.

"Istirahatlah, kau pasti lelah", takut jika kekhawatirannya akan berubah menjadi kemarahan Insung melepaskan pelukannya dan menghapus wajah basah sang anak. Mencium pucuk kepalanya sambil mengatakan jika ia tidak marah.

Luhan mengangguk, berjalan tertatih menuju kamarnya dan menghempaskan tubuh lelahnya ke kasur, menangis tersedu di sana saat mengingat kejadian beberapa jam lalu. Kejadian yang membuatnya sadar jika Jaejoong benar-benar tidak menyukainya. Sehun dan wanita itu bahkan sudah tinggal bersama yang membuat sedikit banyak hati Luhan tergores lagi karena kecewa. Bukan kecewa pada Sehun karena ia tahu benar jika Sehun hanyalah anak yang tidak bisa menolak kemauan ibunya. Namun kecewa pada Jaejoong yang masih tidak mencari tahu kebenaran yang ada sehingga lebih memilih wanita lain untuk dia jadikan sebagai pengganti dirinya.

Luhan sedih dan rasanya benar-benar ingin menyerah pada kisah cintanya dengan Sehun yang begitu rumit. Luhan sudah lelah, masih banyak pria lain yang bisa menerima dirinya apa adanya dan tidak memandang status di antara mereka seperti apa yang keluarga Sehun lakukan. Tapi, relakah ia melihat Sehun bersama wanita jahat itu? Tidak, sampai kapan pun Luhan tidak akan rela meskipun Jessica jauh lebih baik dari dirinya.

.

.

.

.

.

.

.

Dua pria yang sama-sama memiliki visual yang mengagumkan itu sedang merenung dan berdoa. Berdoa untuk keberhasilan sang sahabat yang sedang memperjuangkan cintanya.

Jujur saja, Kai dan Chanyeol rasanya tidak sanggup melihat Sehun lebih menderita lagi dari ini. Keduanya tidak bisa membayangkan akan seperti apa nasib Sehun jika Luhan kembali menolaknya.

"Aku tidak tahu jika kalian akan sesetia ini"

Dua pria tampan itu mendelik pada satu wanita bermata bulat yang sedang menyindir mereka, "Tentu saja kami setia dengan sahabat kami", kata Chanyeol bangga.

Kyungsoo yan sejak tadi duduk di antara kedua pria itu mencibir, "Dengan sahabat kalian memang setia, tapi dengan wanita?"

"Aku sih setia, tapi aku rasa Kai tidak..", Ujar Chanyeol yang mengundang dengusan keras dari Kai yang tidak terima.

"Tergantung wanitanya, jika dia serius dan bisa memenuhi kebutuhan ku aku pasti setia", Ujar Kai, bermaksud mengkode sang gadis bermata bulat yang sedang mencibirnya.

Chanyeol terkekeh, tahu benar dengan maksud 'kebutuhan' yang Kai ucapkan, "Kebutuhan apa saja Kai?", tanyanya jahil, benar-benar ingin merusak image Kai di depan wanita yang di sukainya.

"Kyungsoo pasti mengerti. Iya kan Kyung?", Kai bersama senyum miringnya benar-benar menjijikkan di mata Kyungsoo.

Setelah meneguk jusnya untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering karena mendengar ocehan dua pria tampan itu, Kyungsoo berujar, "Tidak semua orang mengerti dengan jalan pikiran kotormu wahai Tuan Kim Kai", katanya ketus. Mendelik pada Kai yang terkekeh.

"Tapi kau mengerti kan?"

Malas meladeni Kai, wanita yang sedang mengembangkan bisnis kulinernya itu segera menjauh dari sana. Meninggalkan Kai dan Chanyeol yang sedang mengkhawatirkan sang sahabat yang akan berjuang menemui cintanya lagi.

"Yeol-ah, rasanya aku ingin menyusul Sehun, aku takut dia akan melakukan hal bodoh jika dia tidak berhasil"

"Tenang saja, dia pasti berhasil", ujar Chanyeol yang kali ini sangat yakin jika Sehun akan berhasil. Perjuangan tulus Sehun pasti akan berbuah manis. Chanyeol percaya itu.

.

.

.

.

.

Beruntunglah karena Sehun bukanlah orang yang mudah putus asa. Dari dulu dalam membangun bisnisnya Sehun tidak pernah menyerah saat satu demi satu perusahaan menolak proposal kerja sama yang ia buat dengan susah payah. Sehun pantang menyerah dan terus berjuang membuktikan bahwa ia layak.

Dan sama seperti sekarang, namun yang membedakannya adalah bukan proposal kerja sama yang ia bawa, tapi kesungguhan dan ketulusan lah yang ia bawa yang akan ia persembahkan untuk Luhan.

Jika kemarin dia masih menjadi pria pengecut yang tidak berani memasuki rumah Luhan, namun saat ini dengan kepercayaan dirinya yang setinggi langit dia ingin memasuki rumah itu lagi dan bertemu dengan kedua orang tua Luhan, jika perlu ia akan menculik Luhan seperti apa yang ia lakukan dulu. Dan Sehun rasa jika kali ini Luhan menolaknya lagi maka Sehun benar-benar akan menculik wanita yang ia ketahui masih mencintainya itu. Beruntunglah dia mendapat support penuh dari kedua sahabatnya.

"Anda kemari lagi? Ada yang bisa kami bantu?"

Sebisa mungkin Sehun menyunggingkan senyum kakunya pada penjaga di rumah Luhan. Berlaku sesopan mungkin untuk meninggalkan kesan yang baik pada mereka, "Aku ingin bertemu dengan Luhan", katanya tenang, membuka kaca mata hitamnya yang membuat sang penjaga sedikit terpesona.

"Tunggu sebentar..!", karena ia sudah pernah melihat Sehun sebelumnya yang masuk ke rumah ini bersama nona muda mereka, sang satpam menghubungi sang tuan rumah melalui sambungan telepon, mengatakan jika ada seorang pria yang ingin bertemu dengan putri cantik kesayangan sang pemilik rumah.

"Silahkan ikuti saya Tuan"

Sehun menarik nafas lega, setidaknya ia di izinkan untuk memasuki rumah ini lagi. Masalah Luhan yang akan mengusirnya dia bisa mengurus itu nanti karena dia sudah menyimpan obat bius di balik saku mantelnya untuk ia suntikkan pada Luhan yang menolak kehadirannya.

"Duduklah Tuan..!"

Sehun mengangguk, kembali duduk di kursi yang ia duduki beberapa hari lalu selama sang satpam memanggil sang pemilik rumah, entah itu memanggil Luhan atau memanggil orang tuanya Sehun tidak tahu. Yang jelas ia sudah mempersiapkan dirinya sebaik mungkin. Dalam hati ia berdoa agar tidak melihat Myungsoo yang akan membuat ketenangannya terusik dan berakhir membuat onar di rumah calon mertuanya.

Sehun yang tegang terkekeh saat membayangkan jika ia henar-benar akan menjadi suami Luhan. Khayalannya terlalu jauh, iya, Sehun sadar itu.

"Ini bos orangnya"

Sehun yang sedang bermimpi indah di siang bolong refleks berdiri, membungkuk pada pria paruh baya yang ia tebak adalah calon ayah mertuanya. Ayah mertuanya yang akan menyerahkan Luhan pada dirinya di hadapan pendeta dan ratusan tamu undangan lainnya. Jangan mentertawakannya, kepercayaan dirinya saat ini memang benar-benar setinggi langit.

"Duduklah..!", ujar Insung sambil mendudukkan dirinya di seberang Sehun.

Sehun menurut, cukup gugup saat pria di depannya memiliki tatapan yang jauh lebih tajam dari pada tatapan ayahnya. Tetap menutup mulutnya sementara Insung sedang menyeruput kopi hitam yang baru saja di antarkan oleh pelayan pria di rumah ini. Apa semua yang ada di rumah ini adalah pria? pasalnya sejak beberapa hari lalu Sehun tidak melihat seorang wanita pun di rumah ini selain Luhan.

"Siapa kau dan apa yang membawa mu kerumah ku?", Insung sedang berpura-pura tidak tahu, ingin mengetes seberapa jauh keberanian pria ini untuk mendekati putrinya.

"Annyeong haseyo, Oh Sehun imnida", ujar Sehun sopan sambil membungkuk hormat, bahkan seingatnya ia tidak pernah sesopan ini pada ayahnya yang sangat ia hormati. Lalu kenapa sekarang ia yang di takuti dan biasanya di hormati sekarang justru sedang bertingkah seperti seorang prajurit pada rajanya, seberapa besar hormat yang sedang ia persembahkan pada pria yang sejak tadi menatapnya tajam ini.

Sehun kembali mendudukkan dirinya dan menatap bersungguh-sungguh pada calon mertuanya, "Saya kemari ingin bertemu dengan Luhan", katanya tegas, benar-benar seperti pria gentle yang sedang ingin meminang anak gadis orang.

"Tidak di izinkan", balas Insung tak kalah tegas dengan suara lantang yang menurunkan drastis kadar kepercayaan diri Sehun.

"Kenapa?", tanyanya mendadak lemas, ingin marah sebenarnya, namun dia ingat jika saat ini posisinya adalah seorang bawahan raja, anak buah raja atau apapun itu yang derajatnya lebih rendah dari seorang raja.

"Aku dengar ibumu menginginkan menantu yang berasal dari keluarga baik-baik dan nemiliki status terhormat sama seperti keluarga mu. Lalu kenapa masih menginginkan putri ku?"

Terkutuklah mulut ibunya yang cantik jelita. Rasanya nyali Sehun benar-benar menciut saat Insung menyudutkannya dengan sindiran menohok itu. Itu ibunya, bukan dirinya. Yang dia inginkan Luhan, apa pun statusnya Sehun sudah tidak lagi perduli, "Maafkan ibuku", katanya tulus, benar-benar mengutuk mulut ibunya yang sudah menyinggung banyak orang.

"Putri ku bukan berasal dari keluarga terhormat seperti keluarga mu. Dia memiliki keluarga yang berantakan. Lantas kenapa kau masih menginginkan putriku?"

Sehun memberikan tatapan bersungguh-sungguh yang di milikinya pada Insung sambil berujar, "Saya mencintai putri anda. Benar-benar mencintainya dan hanya menginginkan dia. Saya tidak perduli dengan status sosial di antara kami. Tolong maafkan kesalahan saya dan keluarga saya yang pernah menyakiti putri anda", kata Sehun benar-benar tulus, ia rasanya ingin bertepuk tangan, bangga pada mulutnya yang bisa mengeluarkan kalimat selancar itu sementara jantungnya tengah berlomba ingin melompat keluar. Sehun berharap pria ini akan mengizinkannya bertemu dengan Luhan. Jika tidak maka ia akan menggunakan obat bius di dalam sakunya untuk Insung bukan untuk Luhan.

Insung mengangguk mengagumi keberanian Sehun dan kesungguhan yang di miliki pria itu, "Apa yang membuatmu di malam itu mengabaikan putriku hingga membuatnya nyaris mati? dan apa yang membuatmu kembali menginginkan putriku?", saat mengingat kejadian itu Insung ingin marah, dia ingin sekali memukul wajah menyesal pria di depannya. Insung bahkan sudah mengepalkan tangannya, sedang berusaha menahan dirinya untuk tidak mengingkari janjinya dengan Luhan yang melarangnya menyakiti Sehun.

Sehun diam, tidak tahu harus menjawab apa. Dia salah, ya dia tahu itu.

"Kau tahu, jika saja Luhan tidak melarangku maka sudah sejak kemarin aku membunuhmu", kata Insung yang membuat mata sipit Sehun terbelalak, siapa pria ini kenapa begitu kejamnya ingin membunuhnya, "Tapi beruntunglah, putriku adalah wanita bodoh sehingga meskipun sudah sangat di rendahkan tapi dia masih mencintaimu. Kau beruntung", lanjut Insung yang mengundang senyuman idiot di wajah tampan Sehun. Setidaknya ada satu orang lagi yang meyakinkannya bahwa Luhan benar-benar masih mencintainya terlepas dari rasa sakit yang sedang ia rasakan.

"Apa kau tahu siapa aku?", kata Insung yang ingin menguji keyakinan Sehun lagi.

Sehun menggeleng, lalu setelahnya mengangguk dan menggeleng lagi, dia bingung, "Anda adalah ayahnya Luhan kan?", jawabanya polos yang membuat Insung terkekeh. Jika seperti ini Insung sadar benar kenapa putrinya bisa tergila-gila pada pria yang tidak hanya tampan ini namun juga mempunyai sisi menarik yang tidak di ketahui banyak orang.

"Aku memiliki pekerjaan kotor yang membuat putriku berakhir hidup menderita selama ini"

Sehun mengangguk saja mendengar kalimat ambigu Insung, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

"Mafia, aku adalah seorang mafia yang bisa dengan mudahnya membunuhmu kapanpun aku mau"

Jika saja ia sedang minum kopi di depannya, mungkin Sehun sudah menyemburkan cairan itu ke wajah Insung saking kagetnya.

Sebenarnya Insung berniat menakuti Sehun, menguji seberapa jauh keyakinan pria ini pada putrinya. Dan sepertinya itu berhasil terbukti dari Sehun yang mengkerut takut sambil mengusap bulu kuduknya yang meremang.

Sehun tentu saja kaget, tidak pernah sekalipun dia mendengar jika Luhan memiliki seorang ayah yang bekerja sebagai mafia yang tekenal dengan kekejaman mereka. Tidak pernah sekalipun dia mendengar jika Luhan memiliki soerang ayah yang begitu mengerikan. Pantas saja sorot matanya begitu dingin dan tatapan matanya seolah-olah ingin menghabisinya saat ini juga.

"Tidak usah takut, selama putriku masih mencintaimu aku tidak akan melenyapkanmu", aaah rasanya Insung senang sekali bisa menakuti Sehun yang terkenal dengan kekejamannya di dunia bisnis. Dia tidak menyangka jika Sehun yang biasanya menakuti orang sekarang justru sedang menatapnya was-was.

Sesungguhnya Sehun benar-benar takut, selain kaget dia juga berpikir ulang bagaimana bisa wanita selemah lembut Luhan memilik ayah seperti ini. Tapi siapa pun Insung dan apa profesinya Sehun tidak perduli. Seorang mafia atau seorang psikopat sekalipun Sehun tidak mau tahu. Dia sudah merasakan betapa sekaratnya dia hidup tanpa Luhan, jadi berasal dari mana keluarga Luhan dia tidak perduli lagi. Benar-benar tidak perduli.

"Bagaimana? masih mau dengan wanita yang merupakan anak dari seorang mafia?"

Sehun mengangguk mantap tidak ada keraguan sama sekali, "Aku tidak perduli dengan ayahnya", kata Sehun yang sesungguhnya bukan itu yang ingin dia ucapkan, di berkatilah kegugupan yang sedang dia rasakan, "Maksud saya, saya tidak perduli dengan status orang tua Luhan. Siapa dan apa pekerjaan anda saya tidak perduli", Sehun mengkoreksi kalimatnya dan bahasanya. Tersenyum canggung pada Insung yang tetap memasang wajah datarnya. Membuat Sehun berpikir 'Jadi, ini lah yang orang rasakan saat berhadapan dengan wajah datarku?' gumamnya, mengerti kenapa beberapa karyawannya selalu gugup dan salah bicara padanya, dan sepertinya mulai saat ini Sehun harus belajar pada calon mertuanya untuk membuat orang semakin takut lagi padanya.

"Kau boleh saja menemui putriku", ujar Insung yang mengembalikan senyum idiot di wajah Sehun, matanya bahkan berbinar terang menatap Insung sehingga membuat Insung bergidik ngeri, "Tapi sebelum itu", Insung menyeruput cairan hitam pekat itu lagi membuat Sehun penasaran setengah mati, "Sebelum kau menemui putriku maka dapatkan dulu restu dari ibumu. Aku tidak mau putriku kembali di hina dan di rendahkan seperti dulu"

Bahu Sehun terkulai lemas, senyumnya luntur dengan pikiran berkecamuk, tidak mudah baginya untuk mendapat restu dari ibunya. Ini pekerjaan yang sangat berat untuknya, "Ini akan berat untukku", ujarnya tanpa sadar mencurahkan isi hatinya pada sang calon mertua. Semuanya terasa berat mengingat ibunya sudah tergila-gila pada wanita bermarga Jung itu.

"Aku tidak punya pilihan lain, putriku akan semakin menderita jika ia menerima hinaan itu lagi. Apa kau tahu apa yang terjadi pada Luhan setelah kalian menghinanya di malam itu?"

Jantung Sehun bekerja lebih cepat, dia tidak berani menebak apa yang terjadi pada Luhan di malam itu namun dia penasaran ingin tahu.

"Setelah dia dipukuli dia benar-benar nyaris mati, bahkan setelah lukanya mengering pun dia masih seperti orang mati", suara Insung bergetar, sedih saat mengingat betapa malangnya nasib putrinya, "Setelah kejadian itu Luhan tidak pernah lagi membuka suaranya, dia benar-benar mengunci mulutnya rapat-rapat karena trauma saat ia berteriak meminta tolong kau justru meninggalkannya bersama hinaan yang keluar dari mulutmu", Insung menghapus kedua sudut matanya di ikuti Sehun yang rasanya ingin membunuh dirinya sendiri saat ini juga. Dia tidak tahu jika mulut berbisanya akan berdampak seburuk itu pada Luhan, "Sahabatnya mengatakan jika dulu Luhan adalah pribadi yang ceria dan sangat manja", Sehun mengangguk, membenarkan semua itu karena ia berakhir jatuh cinta karena sikap wanita itu yang periang, "Tapi sekarang sejak dia tinggal bersama ku aku tidak melihat lagi Luhan yang seperti itu. Luhan begitu dingin, dia tidak lagi menyapa orang dengan senyuman ramahnya. Matanya tidak lagi berbinar seperti apa yang sahabatnya katakan. Perbuatanmu, penghinaan kalian benar-benar membunuh kepercayaan diri putriku, kau tahu apa kata dokter?"

Demi Tuhan, Sehun kira Luhan hanya pingsan akibat luka fisiknya, tidak pernah sekalipun Sehun berfikir jika Luhan akan berakhir separah ini.

"Psikisnya benar-benar hancur, dia menderita trauma yang sangat parah. Bahkan saat aku meninggikan volume suaraku tanpa sadar tubuhnya menegang bergetar karena takut. Kalian benar-benar membuatnya terluka parah Sehun-ssi"

Sehun tertunduk lemas, benar-benar merasa berdosa sehingga membuat wanita ceria itu berakhir seperti ini. Pantas saja Sehun tidak lagi melihat senyuman kekanakan Luhan, pantas saja yang ia lihat hanya senyuman getir dan wajah sendu di wajah yang dulu selalu berseri itu. Tatapan Luhan kosong, tidak lagi berbinar seperti dulu dan kenapa Sehun baru menyadarinya sekarang.

"Maafkan aku..", Jika ada kata lain selain maaf Sehun akan mengucapkannya, dia benar-benar berdosa dan dia pantas mendapatkan hukuman. Wajar Luhan tidak menerimanya, wajar jika Insung ingin membunuhnya. Itu wajar, sangat wajar.

"Saat ini traumanya belum sembuh benar, psikisnya masih butuh perawatan lebih lanjut. Maka dari itu, aku tidak mau psikisnya semakin parah jika ia mendapatkan hinaan dari ibu mu lagi. Aku harap kau mengerti Sehun-ssi"

Sehun mengangguk, dia mengerti, dia pun tidak mau membuat Luhan kembali sedih karena kelakuan ibunya. Dia pun tidak mau membuat Luhan berakhir bunuh diri lagi Karna tidak kuat dengan mulut jahat ibunya, 'Maafkan aku Luhan, maaf..'

Masih dengan wajah menyesalnya Sehun menatap memohon pada Insung, "Tapi, bolehkah aku bertemu Luhan? demi Tuhan aku merindukannya", ujar Sehun putus asa namun terdengar begitu lucu bagi Insung. Pria ini pastilah begitu kekanakan saat bersama dengan Luhan. Insung bisa melihat itu. Lihatlah tatapan anak anjingnya yang sedang memohon padanya.

Sejujurnya Insung tidak ingin mengizinkan Sehun bertemu dengan Luhan. Namun saat mengingat betapa seringnya Luhan menangis dalam tidurnya karena merindukan Sehun membuat Insung tidak tega. Melihat Luhan yang keluar dari kamar dengan mata sembab dan langsung berbinar saat Insung mengungkit tentang Sehun membuat Insung benar-benar harus mengesampingkan egonya. Dari saat Luhan melarangnya menyakiti Sehun saja membuat Insung sadar betapa besar cinta yang putrinya berikan untuk Sehun. Insung ingin marah pada Sehun, namun sebagai pria yang 'baru memiliki anak' membuat kebahagiaan putrinya jauh lebih penting dari segalanya, dan Insung rela menelan bulat-bulat kemarahannya seraya berujar, "Silahkan, Luhan ada di rumah ini, cari saja sendiri", katanya lemah, tidak rela namun harus. Sehun dan Luhan sama-sama tengah menderita karena saling merindukan, dan Insung tidak mau menambah penderitaan mereka. Sekejam-kejamnya ia namun jika menyangkut tentang kebahagiaan putrinya dia bisa luluh. Dia tidak sanggup melihat putrinya bersedih lebih lama lagi, "Untuk hari ini saja aku mengizinkan mu. Setelahnya jika kau ingin menemui Luhan lagi pastikan kau membawa restu dari ibu mu. Kau dengar?"

Sehun menatap berbinar, ingin menggenggam tangan calon ayah mertuanya sebagai ucapan terima kasih, namun dia urungkan saat Insung langsung menjauh dan mendelikkan mata tajamnya, seolah-olah mengatakan jangan coba-coba menyentuhku, ada pistol di saku mantelku.

"Gomawo, aboeji", kata Sehun senang, luar biasa senang. Ia bahkan rasanya ingin berjingkrak saat ini juga. Masalah Luhan yang tidak ingin menerimanya itu bisa di urus nanti, yang penting satu restu sudah berhasil dia kantongi.

Puas beruforia seorang diri, Sehun memutar bola matanya hingga tiga ratus enam puluh derajat untuk mencari Luhan. Mencari di mana gerangan wanita itu berada saat ini. Rumah ini besar, dan Sehun sepertinya membutuhkan tenaga ekstra untuk mencari wanita itu. Lagi pula di mana Myungsoo? kenapa sejak tadi pria itu tidak terlihat?.

"Fighting Sehun-ah..", katanya yang membut Insung yang belum memasuki ruang kerjanya terkekeh geli. Membiarkan Sehun mencari Luhan seorang diri tanpa berniat membantu.

Meskipun tidak sabar tapi Sehun tidak terburu-buru, dengan perlahan ia menyusuri lorong demi lorong dan ruangan demi ruangan di lantai satu rumah ini, namun nihil, tidak ada Luhan di sini. Rumah ini begitu sepi tidak seramai saat pertama kali ia kemari. Yang ia temukan hanya beberapa ruangan, kamar yang sedang terkunci dan ada beberapa kamar lain yang sangat berantakan, ia tebak itu adalah kamar pria, mungkin kamar Myungsoo jika di lihat dari dominasi warnanya yang benar-benar seperti kamar laki-laki.

"Kemana mereka? ", Sehun benar-benar membutuhkan seseorang sebagai tempat bertanya. Dia kesulitan mencari wanita itu.

Setelahnya Sehun berlari menaiki tangga rumah Luhan, tidak takut tergelincir sama sekali, justru bagus jika ia tergelincir. Jika ia sakit di rumah ini, menurutnya, Luhan; sang dokter cantik pasti akan dengan senang hati merawatnya sehingga membuatnya bisa berlama-lama di sini.

Sehun menggelengkan kepalanya, merasa sinting saat ide gila itu muncul di kepalanya.

Setibanya di lantai dua Sehun memasuki sekat demi sekat di rumah ini yang sangat banyak. Membuat ia berfikir jika calon mertuanya sedang mengerjainya dan hanya ingin pamer memperlihatkan rumahnya yang besar. Jika ingin pamer seharusnya pria tua itu tidak perlu pamer pada dirinya, namun pamerlah pada ibunya. Sehun mana perduli dengan seberapa banyaknya uang calon mertuanya.

Lelah, Sehun mengusap wajahnya, cukup frustasi karena yang di cari tidak kunjung di temukan.

Merasa perjuangannya belum seberapa Sehun kembali berjalan, memasuki lorong yang lebih hidup dari sebelumnya, dindingnya di dominasi warna soft cream yang begitu hangat, ada beberapa pintu berwarna putih di sana. Dan seketika mata Sehun berbinar saat menemukan gantungan kepala rusa di depan salah satu pintu yang ia yakini adalah pintu kamar Luhan.

Dengan sedikit berlari Sehun menuju pintu itu-,

Cklek...

Kosong, tidak ada Luhan di sini. Namun ia yakin jika ini adalah kamar Luhan. Dari baunya, dari pernak-perniknya ini sangat Luhan sekali, di tambah lagi dengan adanya gantungan di jendela yang Sehun lihat beberapa hari lalu membuat Sehun benar-benar yakin jika ini adalah kamar Luhannya.

Pelan-pelan Sehun menelusuri kamar itu, begitu rindu dengan aroma yang saat ini sedang memenuhi indra penciumannya.

Kamar Luhan memiliki enam jendela besar, tiga menghadap balkon depan rumah dan tiganya sepertinya menghadap taman belakang. Sehun membawa langkahnya ke balkon depan hanya untuk mendapati beberapa mobil yang terparkir rapi dan beberapa penjaga yang ia lihat tadi. Kemudian dia masuk kembali menuju jendela belakang. Mengintip melalu sela-sela trali besi sebelum mendesah lega saat yang dicari sedang duduk manis di bangku taman belakang rumah ini.

Sehun menyandarkan tubuhnya di kusen jendela, menikmati satu macam ekspresi yang sedang Luhan persembahkan saat ini, sendu. Luhannya sedang berwajah sendu meskipun ada Myungsoo dan beberapa pria lain yang sedang menggodanya atau menghiburnya Sehun tidak tahu. Pantas saja Myungsoo tidak terlihat, ternyata pria itu tidak pernah jauh dari Luhan yang membuat Sehun ingin melemparkan sepatunya ke bawah tepat ke wajah menyebalkan Myungsoo.

Sesungguhnya Sehun kesal melihat Luhan yang di kelilingi banyak pria tampan. Ia ingin sekali berteriak memanggil Luhan agar Luhan melihatnya. Namun dia urungkan karena tidak ingin mengganggu waktu kebersamaan Luhan dengan 'teman-teman baru' nya.

Tidak kuat melihat pemandangan di depannya yang membuatnya cemburu, Sehun memilih mendudukkan dirinya di ranjang Luhan, menyandarkan tubuhnya di dashboard sambil memeluk bantal yang menyimpan aroma sang pemilik kamar. Seketika ia terkekeh melihat wallpaper kamar Luhan berwarna pink cerah berdampingan dengan warna biru laut khas kartun pororo, itu pasti ulahnya Baekhyun dan Kyungsoo. Sehun jadi merindukan momen di saat ia bisa bersenda gurau dengan Luhan dan dua gadis cantik itu. Ia rindu saat ia bertengkar dengan dua sahabat Luhan untuk memperebutkan Luhan. Turut menyesal karena secara tidak langsung dia juga menjadi penyebab berpisahnya Luhan dengan kedua sahabatnya.

"Hah.., kenapa lama sekali?", Ingatkah kalian pada sikap Sehun yang paling tidak suka menunggu.

Cklek..

Sehun yang berwajah sepet dan sudah mengantuk langsung tersenyum lebar saat yang di tunggu memasuki kamar, menatap rindu pada Luhannya yang semakin cantik. Menatap rindu pada Luhan yang sedang berjalan seperti robot karena kaget.

"Kemari..!", ujarnya tanpa dosa, melupakan masalah yang sedang terjadi di antara mereka berdua.

Seperti orang bodoh, Luhan berjalan kaku ke arah Sehun. Benar-benar kaku nyaris menyerupai sebuah robot yang mana Sehun sebagai pemegang remot kontrolnya, terus mendekat mengikuti lambaian tangan Sehun.

Saat sudah duduk di depan Sehun, Luhan bengong dengan wajah bodohnya, tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.

Plak

'Apa aku sedang menghayal?', katanya setelah ia menampar keras pipi Sehun. Sedangkan Sehun yang mendapatkan sambutan 'manis' itu meringis perih mengusap pipinya yang sakit. Sakit sungguhan bukan berpura-pura seperti apa yang dulu sering dia lakukakan.

Plak..

"Sakit Luhaaaaaan...", rengeknya manja, langsung mencuri kesempatan dengan cara menumpuhkan kepalanya di bahu Luhan yang masih kaku.

Seakan tersadar, Luhan yang sempat bengong langsung menjambak rambut Sehun yang berada di bahunya, menariknya dengan kuat sehingga menciptakan teriakan menggema dari mulut Sehun.

"Luhan sakit astagaaaa...", Sehun menggapai tangan Luhan yang sedang menarik kuat rambutnya, bahkan saking kuatnya Sehun bisa meraskan beberapa helai rambutnya yang tercabut.

Melihat wajah Sehun yang memerah sempurna karena sakit, Luhan melepaskan jambakannya sambil beurujar bodoh, "Apa aku benar-benar sudah tidak waras?", katanya, pasalnya ini bukan pertama kalinya dia melihat bayangan Sehun di kamarnya.

"Eoh, kau memang tidak waras", kata Sehun sebal, ia membawa tangan Luhan untuk merapikan rambutnya yang berantakan.

Tidak tahu, benar-benar linglung atau hanya berpura-pura Luhan kembali menjambak rambut halus Sehun lagi, terkekeh saat menemukan beberapa helai rambut di tangannya, "Waah, aku benar-benar sudah gila", racaunya geli. Sehun bahkan bergidik ngeri melihat ekpresi Luhan, takut-takut jika Luhan benar-benar gila. Wajar jika Luhan kaget, wajar jika Luhan tidak percaya. Baru kemarin mereka saling menyakiti dengan kebohongan mereka dan tiba-tiba hari ini mereka sudah duduk berdekatan di ranjang yang sama. Alih-alih sakit saat Luhan menjambaknya Sehun justru sedang menatap hangat wajah sendu di depannya, memberikannya tatapan rindu yang membuat mata keduanya memanas.

"Kau tidak mengkhayal", kata Sehun setelah ia puas menatap wajah bingung Luhan. Kembali memeluknya walau tanpa balasan karena Luhan yang masih terdiam kaku. Masih tidak mempercayai apa yang ia lihat.

Gemas, Sehun benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencium bibir Luhan yang sedang terbuka sebesar jari kelingking, melumatnya dengan sepenuh hati setelah sekian lama dia tidak merasakan bibir yang menjadi favoritnya.

Sebelum Luhan benar-benar sadar dan menghajarnya Sehun memperdalam ciuman sepihaknya, ia bahkan tidak menutup matanya untuk menikmati wajah Luhan yang masih sama seperti tadi; bengong.

Ingin menyadarkan patung bodoh di depannya, Sehun menggigit bibir bawah Luhan hingga menimbulkan pekikan kecil dari sang pemilik. Kembali memagutnya dan menelusupkan lidahnya berharap Luhan akan membalas ciumannya.

Sehun menghisap bergantian bibir belah Luhan, satu tangannya memegang pinggang ramping Luhan dan satu tangannya yang lain mengapit rahang sempurna sang wanita.

Hah..

Luhan melepas paksa ciuman sepihak Sehun. Cukup ngos-ngosan mengingat Sehun yang melahap habis bibirnya.

"Sudah sadar?", tanya Sehun sambil mengusap bibir mengkilap basah milik Luhan dengan ibu jarinya.

"Bagaimana bisa kau ada di sini?", tanya Luhan nyaris tak terdengar, dia takut jika saat ini dia hanya sedang bermimpi yang membuatnya sakit saat ia terbangun nanti.

Menyadari ketakutan di raut sendu itu, Sehun mengecup bibir Luhan lagi, "Kau tidak sedang bermimpi", ujarnya, "Dan aku berada di sini karena calon ayah mertuaku sudah mengizinkan", katanya sombong. Sehun bahkan tersenyum lebar saat mengucapkannya.

"Yang benar saja..", kata Luhan tidak habis pikir. Menatap sendu mata Sehun yang juga sedang menatapnya.

Sesungguhnya keduanya hanya sedang berusaha untuk tidak menangis dan menghancurkan momen manis ini. Memutuskan untuk melupakan hari kemarin dan hanya menjalani hari ini seperti tidak ada masalah di antara mereka. Sehun bahkan sudah meremas pinggang Luhan untuk menahan tangisnya, sedangkan Luhan menggigit bibirnya dengan kuat agar air matanya tidak tumpah. Entah keduanya harus bereaksi seperti apa, yang jelas mereka tidak ingin menangis. Cukup kemarin saja mereka banjir air mata dan saat ini mereka tidak ingin mengulangi itu lagi.

"Sehun-ah.."

"Hm..", Sehun hanya bergumam, takut jika Luhan yang sudah sadar akan mengusirnya dan menolak kehadirannnya.

"Sehun-ah.."

"Hm.., Kenapa?", Sehun sudah mempersiapkan diri jika Luhan akan mengusirnya atau menjatuhkannya dari balkon kamarnya.

"Sehun-ah.."

"Apa..?"

"Sehun-ah.."

"Apa Luhan..?"

"Sehun-ah.."

"Apa sayang?.."

Hiks

Tidak bisa, keduanya tidak bisa untuk tidak menjatuhkan air mata mereka, apa lagi saat Luhan yang lebih dulu menubruk Sehun dengan pelukan eratnya, mana bisa Sehun tidak menangis, bahkan air mata pria itu jatuh lebih deras dari pada air mata Luhan. Namun ini bukan air mata kesedihan seperti kemarin. Saat ini dia justru sedang bahagia karena Luhan tidak menolaknya, Luhan tidak mengusirnya dan tidak memberikannya kecupan selamat tinggal seperti beberapa hari lalu.

"Kenapa menangis? Kau tidak suka melihat ku lagi?"

"Kau juga menangis", kata Luhan serak, menyembunyikan wajahnya di dada Sehun karena tidak berani menatap wajah pria itu. Luhan masih teringat dengan jelas betapa jahatnya ia menolak Sehun beberapa hari lalu. Dan saat ini Luhan tidak akan melakukan itu. Dia benar-benar bisa gila jika dia menolak Sehun lagi.

"Serius Sehun-ah, bagaimana kau berakhir ada di kamar ku?"

Di sela-sela tangisnya Sehun berdecak, malas saat Luhan masih meragukannya, "Sudah ku bilang jika ayah mu merestui ku"

Luhan menegakkan dirinya menatap Sehun, "Kau gila, dia bahkan ingin membunuhmu lalu bagaimana bisa dia berakhir merestuimu"

"Kau tahu jika ayahmu ingin membunuhku?", tanya Sehun sambil mengusap bergantian wajah mereka yang basah. Begitu bahagia saat ia bisa merasakan lembutnya kulit Luhan lagi.

"Tentu saja.."

"Lalu kenapa kau melarang ayahmu melakukannya?"

"Aaaah...", sialan, mulut Sehun memang kadang-kadang perlu di beri pelajaran.

"Kenapa? Ayo katakan!"

"Kalau tau begini aku menyesal sudah membela mu"

"Kau membelaku karena kau mencintaiku kan? Benar kan? Kau tidak mau kehilangan aku kan?"

"Aku mencintaimu?", tanya Luhan pada dirinya sendiri, ingin mengelak meskipun itu percuma, "Cih mana sudi", Decihnya yang di balas Sehun dengan kekehan ringan.

"Lalu kemarin siapa yang menangis di depan rumah ku?"

"Kau tahu?", mata cantik Luhan terbuka lebar, tidak pernah menduga jika Sehun akan mengetahui kehadirannya.

"Eoh, kemarin kau menangis karena cemburu pada Jessica. Aku benar kan?"

"Cih..", rasanya Luhan ingin sekali meremas wajah menyebalkan Sehun saat ini.

"Dan Luhan kau tahu, aku marah padamu"

"Marah kenapa?"

"Bagaimana bisa kau menangis di pelukan pria lain tepat di depan rumah ku. Bagaimana bisa kau memeluk pria lain di saat aku nyaris mati memikrikan mu"

Mulai, Sehun yang menyebalkan dengan sikap pencemburunya mulai membuat Luhan sebal, "Keluarlah, aku malas melihat mu", ujarnya sebal. Mendelik pada Sehun yang membalas kemarahannya dengan kekehan.

"Aku tidak akan pulang"

"Kenapa?"

"Aku sakit"

"Sakit apa?"

"Sepertinya ususku bermasalah lagi karena akhir-akhir ini aku tidak makan dengan benar"

"Ooh Ya Tuhan", Luhan berujar panik, di sertai dengan wajah cantiknya yang terlihat khawatir, namun setelahnya, "Tenang saja akan ku panggilkan ambulance untuk mengangkutmu ke Seoul sekalian", katanya yang sudah mengembalikan raut datarnya, tidak tertipu sama sekali dengan acting Sehun yang sangat buruk.

"Luhaaaann"

"Apa?"

"Aku mau kau yang merawat ku"

"Tidak mau, aku sudah tidak lagi menjadi dokter"

"Ayolah.."

"Ayolah kau hanya sedang pura-pura sakit Sehun. Kau pikir aku tidak tahu"

Sehun merengut, Luhan yang sekarang tidak asik karena tidak bisa di bohongi dan tidak mempan lagi dengan akal bulusnya. Jika dulu Luhan dengan segala ketulusannya pasti langsung khawatir saat ia mengeluh sakit. Tapi lihatlah sekarang, wanita itu bahkan sudah siap mengusirnya dari kamarnya.

"Pulang sana, aku mau tidur.. "

"Tidak mau, aku akan tinggal di sini"

"Ada Myungsoo, dia akan menghajarmu jika tahu kau memasuki kamarku"

"Kepalan tanganku lebih besar dari tangannya"

Luhan mendesah lelah, Sehun dan keras kepalanya memang tidak bisa di pisahkan, "Ya sudah, minggir aku mau tidur"

Sehun mengulum bibirnya, Luhan tetaplah Luhan yang berhati lembut dan selalu mengalah padanya.

Saat Luhan sudah berbaring memunggunginya Sehun mendekatkan tubuhnya pada Luhan, memeluk wanita itu dari belakang yang untungnya tidak di tolak oleh wanita yang sudah memejamkan matanya itu.

"Luhan-ie.."

"..."

"Aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu. Jadi, jangan mengusirku apa lagi menolakku seperti apa yang kau lakukan kemarin. Kau tahu itu sangat menyakitkan", rasanya lidah Sehun tidak keluh lagi untuk mengatakan kata cinta pada Luhan. Alasan kenapa dulu dia tidak kunjung mengungkapkan perasaannya dan hanya bisa mengungkapkannya di dalam hati itu karena keraguannya pada status Luhan dan keluarganya. Namun saat ini Sehun benar-benar meniadakan status itu. Sehun benar-benar mencintai Luhan, sangat.

"Kau tahu, jika saja kali ini kau menolakku lagi aku sudah berencana ingin menculikmu lagi. Jadi jangan coba-coba menolakku hm?"

"Berisik...", Luhan berujar ketus, menyamarkan suara seraknya yang bergetar karena ucapan sungguh-sungguh Sehun.

"Apa kau tidak merindukan ku?", Tanya Sehun sebal.

"Tidak.."

"Bohong.."

"Aku tidak"

Sret

Dalam sekejap tubuh besar Sehun sudah menindih tubuh yang lebih kecil, mengundang delikan tajam serta debaran yang menggila di dada wanita cantik yang sedang bersemu itu.

"Katakan jika kau tidak merindukan ku?", kata Sehun menuntut. Marah saat Luhan masih membohongi perasaannya.

"Luhan..!"

"Apa lagi? Kau tahu jika aku sama sekaratnya dengan dirimu", Sehun memejamkan matanya saat jari-jari Luhan menelusuri wajahnya, benar-benar nyaman mendengar pengakuan Luhan yang Luhan sertai dengan usapan halus di punggungnya, "Aku rasa dari pada kau, aku lah yang paling merindukan mu. Kau tahu, aku bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan mu"

"Mulai malam ini kau akan kembali tidur nyenyak, aku akan memelukmu", ujar Sehun, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Luhan. Mengecup lembut bibir Luhan yang sedang dia gigit untuk menahan tangisnya, "Jangan menangis, mulai sekarang aku tidak akan melepaskanmu lagi apa pun yang terjadi. Jadi, jangan mengusirku dari sini hm?"

"Hemm.."

Sehun tersenyum saat Luhan mengangguk ribut dan memeluknya dengan erat. Dia senang, merasa bisa kembali bernafas dengan benar saat Luhan ada di sisinya. Merasa hidup kembali hanya karena ada Luhan di sampingnya.

.

.

.

.

.

Malam harinya, wanita yang sudah mulai kembali tersenyum itu cukup di buat repot karena Sehun yang tidak mau beranjak sedikitpun dari atas tubuhnya. Masih dalam posisi seperti tadi, Luhan sedang mati-matian mendorong tubuh besar Sehun yang sedang berpura-pura tidur. Ingin menjambak Sehun lagi, tapi takut jika Sehun akan meneriakinya. Jadilah ia mengambil phonselnya yang baru di belikan Yixing dan mengirim pesan pada Myungsoo untuk membantunya.

Cklek..

Pintu kamar terbuka, Luhan sedikit memiringkan kepalanya dan melambai pada Myungsoo yang terbelalak kaget. Kembali Luhan mengetikkan pesan pada Myungsoo yang berekspresi seperti sedang melihat hantu.

'Ini Sehun, dia berpura-pura tidur karena tidak ingin pulang. Jauhkan tubuhnya dari ku oppa'

Sesungguhnya Myungsoo ingin memukul pria yang seenaknya memasuki kamar Luhan dan ingin melecehkan sang adik. Namun saat mengetahui jika pria itu adalah Sehun, apa lagi saat Myungsoo melihat senyum di wajah Luhan maka Myungsoo tidak punya pilihan lain selain menarik kerah baju Sehun dari belakang dan mendengus saat pria itu justru berakhir duduk mengangkangi Luhan. Sepertinya Sehun benar-benar pria yang pintar dalam mencuri kesempatan.

"Menjauh dari tubuh adikku atau aku akan melaporkan mu pada ayah Luhan"

Sehun yang sudah menyadari kehadiran Myungsoo mendelik pada pria yang sudah memisahkan tubuhnya dari Luhan. Ingin menonjok wajah Myungsoo jika saja tidak ada Luhan di sini, "Tidak mau, ayah Luhan sudah mengizinkan ku"

Luhan menggaruk batang hidungnya, kesal sebenarnya. Kemudian ia mendudukkan dirinya sehingga terpaksa Sehun mundur namun tetap memegang pinggang Luhan seakan enggan berpisah dengan wanita cantik itu lagi, "Sehun-ah ini sudah malam. Aku bukan ingin mengusirmu tapi bisakah kau keluar dari kamarku? Aku ingin mandi. Kau juga harus mandi kan?"

"Tidak mau, aku tidak membawa baju ganti"

"Kau bisa meminjam punya Myungsoo oppa"

"Kenapa harus meminjam pakaian ku?"

Luhan mendelik pada Myungsoo yang tidak bisa di ajak kerja sama, "Sehun-ah mau ya? Mandilah dulu di kamar Myungsoo oppa setelah itu kau bisa menemui ku lagi, bagaimana?"

"Oke..", kata Sehun mengalah, menuruti kemauan Luhan agar Luhan tidak kesal padanya dan mengusirnya.

"Oppa bawa dia..!"

Pria bermarga Kim itu mencibir Sehun yang langsung menggandeng tangannya. Sedang berpura-pura baik padanya untuk menarik perhatian Luhan. Sedangkan Luhan yang melihat pemandangan di depannya hanya bisa menggeleng saat ia melihat justru Sehun lah yang sedang menyeret paksa Myungsoo untuk keluar dari kamarnya.

"Tidak usah menyeret ku Sehun-ssi. Memangnya kau tahu di mana kamarku?"

Langsung saja Sehun melepaskan tangan Myungsoo dan menjaga jarak darinya saat mereka sudah cukup jauh dari kamar Luhan. Kembali menuruni tangga lagi untuk menuju ke kamar Myungsoo yang jauh lebih rapi dari pada yang Sehun pikirkan.

"Mandilah, itu kamar mandinya. Luhan akan memarahi kita berdua jika kau tidak menurut"

Sehun mengangguk saja, mengikuti kemana arah telunjuk Myungsoo dan mulai membersihkan dirinya. Dalam hati ia mengocehi Luhan yang tidak mau satu kamar mandi dengannya. Bukankah mereka sudah pernah melihat tubuh polos masing-masing? Lalu kenapa Luhan masih malu.

Sshhhh...

Sehun segera menyiram kepala berotak cabulnya dengan air. Memukul kepalanya saat pikiran mesum itu selalu menghantuinya setiap kali ia berdekatan dengan Luhan.

.

.

.

.

.

Setelah menyelesaikan mandi dan makan malamnya tanpa Luhan yang mengurung diri di dalam kamar. Sehun terpaksa memasuki kamar Myungsoo lagi dan duduk di ranjang milik pria berwajah manis itu.

"Myungsoo-ssi.."

"Apa?", Myungsoo yang sibuk dengan Tv nya berdecak malas pada Sehun yang merepotkannya.

"Kenapa kau bisa tinggal serumah dengan Luhan?"

"Luhan adalah adikku", jawab Myungsoo singkat.

"Bukan itu maksudku.."

"Sejak tiga tahun yang lalu aku mendapat bagian untuk menjaga Luhan, putri dari bos ku", jawab Myungsoo tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.

Sehun berjalan medekati Myungsoo, duduk di dekatnya untuk kembali bertanya, "Lalu bagaimana bisa kau berakhir sedekat ini dengan Luhan?"

"Kau tahu betapa ramahnya Luhan. Di awal aku bekerja untuknya aku biasa saja, namun lama kelamaan karena sifatnya yang mudah memgambil hati orang lain aku jatuh hati padanya, aku mencintainya", Ujar Myungsoo yang ingin menggoda Sehun, dan sebelum Sehun melayangkan tinjunya Myungsoo kembali berujar, "Aku bercanda..", katanya sambil terkekeh geli, "Aku pernah sakit, terluka saat aku ikut Tuan Xi bekerja. Dan saat itu Luhan yang merawatku dan menyembuhkan lukaku, dan sejak saat itulah kami dekat dan memutuskan untuk menjalin persaudaraan sampai sekarang", jelasnya lagi yang di angguki Sehun, "Sehun-ssi, aku adalah oppa nya Luhan, seharusnya kau memanggilku hyung bukan malah memusuhi ku", sindirnya pada kelakuan Sehun yang dulu sempat memusuhinya.

Sehun meringis, memberikan senyuman canggungnya pada Myungsoo, "Saat itu aku tidak tahu, aku pikir kau menyukai Luhan. Maaf ya.. ", kata Sehun tidak tulus sedikitpun. Ogah minta maaf pada pria menyebalkan di sampingnya.

"Sudahlah aku mau tidur. Jika kau tidak ingin seranjang dengan ku kau bisa tidur di sofa",

Sehun bergidik membayangkan jika ia harus seranjang dengan Myungsoo. Dengan Kai dan Chanyeol yang ia kenal sejak ia memakai popok saja Sehun enggan seranjang dengan mereka. Apa lagi dengan Myungsoo yang baru ia kenal. Maaf saja Sehun tidak mau.

"Kau tidak ingin tidur? Atau mau ku antarkan pulang sekarang?", Myungsoo terkekeh saat Sehun ingin menonjoknya. Begitu senang bisa menggoda pria yang sepertinya hatinya kembali berbunga lagi, "Tidurlah, jangan banyak omong", Myungsoo mengangguk, menutup matanya yang benar-benar terasa kantuk, wajar saja jarum jam sudah nyaris di angka sebelas. Dia yang sudah tidak mempunyai sesuatu untuk di kerjakan benar-benar merasa bosan. Lebih baik dia tidur dari pada harus menuruti perintah Luhan untuk menjaga bayi tua yang sedang menumpang di kamarnya.

Setelah beberapa belas menit menunggu sampai Myungsoo terlelap, Sehun berjalan mengendap-endap keluar kamar. Kembali menuju kamar Luhan yang langsung membuatnya disuguhi pemandangan menyejukkan yang sudah lama tidak dia lihat.

Luhan yang sedang tidur adalah pemandangan terbaik menurut Sehun. Wajah wanita itu benar-benar damai seakan tanpa beban. Sehun berdoa semoga kehadirannya tidak membangunkan Luhan yang sudah susah payah memejamkan matanya.

"Jangan bangun, aku hanya ingin menepati janjiku untuk memelukmu", Sehun bermonolog. Merangkak perlahan untuk menarik Luhan kedalam pelukannya. Tertawa saat Luhan membuka matanya dan menghadiahinya dengan delikan.

"Tidak baik masuk ke kamar gadis di tengah malam seperti ini"

"Salah mu yang tidak mengunci pintu"

"Aku menunggu mu"

"Kau menunggu ku?"

"Eoh. Aku tahu jika kau pasti akan menelusup masuk ke kamarku", ujar Luhan yang sudah bisa menebak akal bulus Sehun. Pria itu mana mau tidur satu kamar dengan Myungsoo.

"Sepertinya kau sudah mengenal ku dengan baik", kata Sehun senang, mengeratkan pelukannya pada Luhan yang langsung meringkuk nyaman.

Luhan tersenyum, mensyukuri dengan apa yang sudah terjadi hari ini, "Aku ingin tidur, jangan hentikan usapanmu"

"Jika aku terus mengusapmu kapan aku tidur?"

"Nanti, saat aku bangun giliranku yang akan menidurkan mu"

"Baiklah, tapi apa kau serius jika kau ingin tidur?"

"Ini sudah malam dan aku sudah sangat mengantuk"

Sehun merengut, bukan ini yang dia mau, "Kita sudah lama tidak bertemu, seharusnya kau memberikanku ciuman selamat malam sebelum tidur"

Si cantik yang sudah memejamkan matanya terkekeh, "Jauhkan pikiran mesummu jika tidak ingin ku usir", katanya sambil menoyor kepala Sehun yang membuat Sehun semakin merengut, "Ya sudah, masih ada hari esok", kata Sehun sabar, mengalah pada Luhan yang sepertinya benar-benar lebih memilih tidur dari pada menghabiskan malam ini dengan dirinya.

"Selamat malam, aku mencintaimu", kata Sehun lemah, memberikan kecupan di pucuk kepala Luhan sebagai ganti ciuman bibirnya yang di tolak Luhan.

"Aku juga mencintaimu, selamat malam"

Keduanya berharap, semoga saja mulai malam ini mereka berdua bisa tidur nyenyak di temani mimpi indah, dan menghapus semua mimpi buruk yang pernah mereka alami. Masing-masing dari mereka berdoa agar tidak ada yang bisa memisahkan mereka lagi.

Dan ya, kali ini Tuhan mengabulkan doa tulus dari Kai dan Chanyeol untuk sahabat sejatinya. Sehun berhasil memperjuangkan cintanya.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

Baby

Wednesday, 2017 12 13

Cie pada senyum-senyum sendiri

Iya, senyum aja dulu yaa sebelum berakhir mewek lagi kkkkk

9,7K

Review juseyo :*