Riku : Permasalahan akan mulai menaik dari sini. Sorry kalo ketikan gue rada aneh, gue lagi demam (ketularan Yuki). Ini udah setengah dia tulis dan gue lanjutin, mungkin kedepannya gue jarang update, nunggu demam gue turun dulu. Maaf kalau banyak typo dan lain-lain, gue kagak double check soalnya, nanti kalo ada kesalahan tolong ingetin gue jadi nanti gue benerin pas keadaan gue membaik. Mengenai judul chapter disini, maksud movement itu dimana musuh yang tersembunyi mulai bergerak dan menampakkan diri. Thanks sebelumnya.
Warning : T rate, tokoh minor Naruto, ada OC, chara death (maybe more than one chara).
Genres : Action/Adventure/Romance/Friendship/Humor/Mystery/Angst/Tragedy.
Pair : SasoriXSakura/KaoruXMarie (others hint).
Disclaimer : Tokoh Naruto milik Masashi Kishimoto (kecuali OC).
This story belong to Riyuki18, dedicate to all reader.
Please enjoy it and happy read!
.
.
Neverland Side Story
Chapter 19
(Movement!)
.
.
"Sakura… Ada yang ingin kukatakan… Aku menci-" Kaoru dengan sukses berbicara dengan Sakura disebrang sana, sepertinya pemuda itu berniat untuk menyatakan sesuatu pada gadis itu. namun sayang, omongannya terputus begitu saja karena Sasori dengan cepat berhasil merebut handphone itu dari tangan Kaoru.
"Jangan dengarkan dia Sakura! Maaf, tadi temanku… Tolong jangan dipikirkan kata-katanya!" Sasori segera meminta Sakura untuk tidak memikirkan apa yang tadi hendak dikatakan Kaoru pada Sakura dan langsung memutuskan telepon. "Apa yang kau lakukan, hah?" Sasori beralih menatap Kaoru sambil memelototi pemuda itu.
"Kalau kau tidak mau mengatakannya, itu sama saja menyiksa diri sendiri dan akan berimbas padaku!" balas Kaoru yang sekarang mengirim deathglare pada Sasori.
"Ck… " Sasori berdecak sedikit. Sekarang kedua pemuda itu saling terdiam dengan keadaan awkward.
"Aku minta kau segera menyelesaikan masalahmu itu dengan Sakura, kalau tidak aku yang akan turun tangan," ucap pemuda berambut putih yang kemudian segera meninggalkan Sasori sendiri di dalam ruangan itu.
Sasori menghela napas panjang sesaat setelah Kaoru keluar dari ruangan itu. Pemuda berambut merah itu menatap kembali layar handphone-nya. Akhirnya dengan segenap keberanian pemuda itu kembali menelepon Sakura.
"Halo? Sasori-nii? Ada apa sih, sebenarnya?" Sakura bertanya dengan rasa penasaran yang sangat tinggi begitu mengangkat panggilan dari Sasori.
"Sakura… Aku… Ingin bertemu denganmu… Ada yang ingin kubicarakan, apa kau ada waktu?" akhirnya meski penuh dengan keraguan, pemuda itu memberanikan diri untuk mengajak Sakura bertemu dengannya kembali.
"Oh, begitu… Kebetulan aku akan datang ke Sunagakure menemani Tsunade-sama dalam minggu-minggu ini. Mungkin kita bisa bertemu," jawab gadis itu dengan bersemangat yang mengatakan kalau dia sendiri memang ada keperluan bersama Tsunade di Sunagakure.
"Hahaha… Kebetulan sekali, ya. Baiklah, kabari aku kalau kau sudah ada di Sunagakure. Terima kasih sebelumnya!" balas Sasori dengan riang. Kemudian Sasori segera menutup komunikasi dengan keringat dingin yang mengucur.
"Hahaha… Hahahahahahahahaha!" Kaoru masuk kembali lagi ke dalam sambil tertawa. Dia tertawa menunjuk-nunjuk Sasori yang wajahnya sekarang sudah merah padam. Pemuda itu akhirnya duduk sambil bersandar pada pintu karena tidak kuat menahan tawa.
"Apa yang kau tertawakan? Tidak lucu, kau tau!" geram Sasori sambil menggenggam erat handphone-nya tersebut. Kalau saja dia tidak ingat, pasti sudah dilemparkannya handphone itu ke kepala pemuda yang saat ini tengah mentertawainya dengan keras.
"Kau itu, hanya mengatakan hal seperti itu saja kau tidak bisa! Lihat wajahmu sekarang, merah semua! Hahahah… Astaga, kau lucu sekali! Hahahaha!" Kaoru kembali tergelak ketika melihat wajah Sasori yang semakin memerah.
"Jangan tertawa! Kau tidak pernah merasakan sih!" balas Sasori yang sedikit kesal. Lalu Sasori bergegas keluar dari ruangan itu yang disusul oleh Kaoru yang mengelap air mata akibat terlalu banyak tertawa tadi.
.
.
"Kakak! Barusan ada telepon dari Kaito, dia bilang akan segera datang kemari." Tiba-tiba Manma berlari menghampiri Kaoru yang keluar dengan Sasori. Dia mengatakan kalau mereka akan kedatangan tamu. Seketika wajah Kaoru berubah sedikit tegang, tapi tak berapa lama waut wajahnya kembali tenang.
"Kalau begitu kami pulang dulu, cepat sembuh Kaoru dan cepat masuk kampus! Aku yakin Marie pasti merindukanmu!" kata Hery sambil sedikit menggoda pemuda itu dan langsung berpamitan untuk pulang dengan yang lainnya.
"Bicara apa kau!" balas Kaoru yang tiba-tiba saja jadi sedikit salah tingkah begitu mendengar nama Marie disebut.
"Dia titip salam untukmu, lho!" sambar Sasori cepat sambil menyeringai, sambil balas dendam gantian dia yang meledek sekarang.
-ooo-
Disisi lain Rei dan Nathan sedang berlari dari kejaran Dosu, Kin dan Zaku yang sedang mengejar mereka dengan kecepatan penuh.
"Kenapa mereka selalu mengjar-ngejar kita, sih!" gerutu Nathan yang kesal dengan ketiga 'fans' setianya yang selalu mengejarnya tanpa menyerah.
"Takdir!" sambar Rei dengan asal. Keduanya berbelok ke salah satu gang, tapi kali ini mereka beruntung karena gang tersebut bukan jalan buntu. Mereka berdua secepat kilat berlari lurus ke depan. Dosu yang mengejar langsung melompat ke tembok dan berlari di atas tembok itu untuk mendahului Rei serta Nathan, begitu juga Zaku yang melompati tembok lainnya.
Rei dan Nathan langsung berbelok ke dua sisi yang berbeda, keduanya menunggu di ujung sisi tembok tersebut. Ketika dilihatnya Dosu dan Zaku mendekat, Rei dan Nathan langsung menghantamkan pukulan ke wajah kedua orang itu.
BUAGH!
DUAGH!
Rei menghantamkan tas ransel miliknya yang berat itu ke muka Zaku, membuat pemuda berambut jabrik itu terjatuh dari atas tembok. Begitu juga dengan Dosu yang terkena hantaman keras dari tendangan Nathan. Dosu juga terjungkal dari atas tembok. Melihat kedua pengejarnya sedang meringis kesakitan, Rei dan Nathan bergegas berlari meninggalkan tempat itu.
"Kalian berdua ayo cepat bangun!" Kin segera menghampiri kedua rekannya dan menyuruh kedua pemuda itu untuk segera bangun dan kembali mengejar sasaran mereka.
-ooo-
Di tempat yang berbeda terlihat Vliss dan Serena yang sedang berada di airport. Kedua gadis itu tampak sedang mengamati seseorang yang sepertinya baru saja turun dari pesawat. Disana terlihat seorang pemuda memakai kemeja putih yang terbalut rapih dengan dasi hitam. Pemuda itu memakai celana jeans hitam panjang dengan sepatu skets, dan kemejanya sengaja tidak dia masukkan ke dalam celananya, di biarkannya keluar berantakan begitu saja. Meski demikian pemuda itu terlihat cukup berkarisma dengan kacamata bening yang dia kenakan dan menutup matanya yang berwarna biru, sedangkan rambutnya yang berwarna biru tua dibiarkannya berantakan.
Di belakang pemuda itu ada tiga orang yang sepertinya sudah tak asing lagi. Ketiga orang itu adalah Samui, Atsui dan Darui yang berjalan beriringan tak jauh dari pemuda di depannya itu.
"Lapor, aku sudah melihat target semakin mendekat." Vliss tampaknya sedang berbicara dengan seseorang.
"Bagus, kalau ada kesempatan cepat sergap pemuda itu dan tangkap!" ternyata yang memberi perintah pada Vliss dan Serena adalah Temari beserta Kankuro yang juga sedang mengawasi gerak-gerik pemuda yang baru datang itu.
"Dimengerti!" balas Vliss yang kemudian memutuskan kontak dengan Temari dan kembali fokus pada targetnya.
Back to Shiin Mansion…
.
.
"Sudah, sudah! Katanya kalian mau pulang, tapi terus-terusan menggangguku!" Kaoru terlihat kurang nyaman dengan 'serangan' ejekan dari Sasori dan Hery yang semakin menjadi-jadi.
"Ternyata kau bisa bersikap manis juga, ya?" ledek Hery sambil menyeringai begitu dilihatnya Kaoru semakin kewalahan menghadapi ledekan-ledekan dari Sasori dan Hery.
"Hah? Apa? Manis? Sikap memang bisa manis? Setahuku yang manis itu gula dan kue… " Kaoru malah bingung sendiri sambil bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan omongan Hery. Sasori langsung memukul jidatnya sendiri dengan pasrah.
Krik… Krik… Krik…
Semuanya langsung menatap Kaoru dengan tatapan aneh. Ayolah, masa dia tidak bisa menangkap apa maksud perkataan Hery. Seketika itu Sasori langsung menyunggingkan sebuah seringai.
"Maksudnya sikap manis itu adalah sikap yang kuat! Itu hanya kata-kata kamuflase saja," sambar Sasori dengan cepat mencoba untuk membohongi temannya itu. Benar dugaannya, setelah mendengar penjelasan Sasori, Kaoru langsung manggut-manggut mengerti (ngerti apaan coba? Orang dia lagi dikibulin). Shun, Fei, Hery, Reiki dan Aoba langsung jawdrop tak percaya kalau Kaoru percaya begitu saja sama Sasori.
'Hahahah dia pasti belum mengerti apa-apa mengenai istilah-istilah yang ada di dunia nyata! Biar bagaimanapun juga dia masih baru disini.' Batin Sasori langsung tertawa nista dan berniat untuk mengerjai Kaoru lagi nantinya.
"Manma, kau kenapa?" tanya Kaoru yang menyadari kalau raut wajah anak itu berubah menjad muram.
"Siapa gadis yang bernama Marie itu? Kenapa sikapmu berubah saat membahas mengenai gadis yang bernama Marie itu?" tanya Manma yang sepertinya ada aura ketidaksukaan pada Marie.
"Marie itu calon keka-" baru saja Hery mau menjawab pertanyaan Manma tapi mulutnya sudah kemasukan segepok kue yang dilemparkan Kaoru dengan cepat (dia pikir itu kue kartu mungkin).
"Maksudnya pacar?" tanya Manma yang langsung celingukan. "Kakakku tidak mungkin menyukai gadis itu, iya kan?" Manma dengan yakin sekali menyatakan kalau kakaknya tidak mungkin jatuh cinta pada gadis bernama Marie itu. Dia beralih menatap Kaoru, seolah meminta pernyataan yang sependapat dengannya. Tapi pemuda itu hanya diam saja dan hal ini membuat Manma sedikit kesal.
"Seberapa besar kemungkinannya kau bisa jatuh cinta pada gadis bernama Marie itu?" kali ini tampaknya Manma benar-benar serius. Dia kembali bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi.
Plok!
"Jangan bahas itu ya, Manma." Pemuda itu kembali tidak menjawab. Dia menepuk kepala Manma dengan pelan sambil sedikit tersenyum. "Aku akan antar mereka sampai ke depan gerbang." Kaoru bergegas mengantarkan Sasori dan kawan-kawan yang hendak pulang keluar gerbang, sedangkan Manma hanya berdiri sambil memasang raut wajah kesal.
Di bandara Sunagakure…
.
.
Di sana terjadi kegemparan karena tiba-tiba saja ada seorang pemuda yang disergap oleh beberapa orang yang mengaku sebagai anggota kepolisian rahasia Sunagakure, dan tampak ada sosok yang sudah tak asing lagi. Disana ada Vliss dan Serena.
"Cepat angkat tangan kalian ke atas dan berbalik!" Temari selaku ketua pimpinan penyergapan menodongkan senjata ke arah pemuda itu dan menyuruhnya untuk segera merapat ke tembok bersama dengan Atsui, Darui dan Samui.
"Ada apa ini? Apa salah kami?" tanya pemuda itu yang kebingungan kenapa dirinya tiba-tiba disergap.
"Kami mendapat info dari seseorang kalau kau adalah teroris! Sekarang berbalik!" Temari dengan agak kasar menghadapkan pemuda itu ke arahnya dan memeriksa pemuda itu untuk memastikan apakah pemuda itu membawa senjata ataupun benda-benda yang mencurigakan.
"Teroris? Yang benar saja! Ibuku pasti menangis di alam sana kalau tau aku menjadi teroris! Ini pasti hanya kesalahpahaman saja." Pemuda itu terbelalak kaget ketika mendengar tuduhan yang menyatakan kalau dirinya dicurigai sebagai seorang teroris. Dengan cepat dia segera membela dirinya.
"Penjelasannya katakan saja di kantor! Sekarang kau ikut dengan kami!" Vliss segera memborgol kedua tangan pemuda itu dan menariknya.
"Tunggu sebentar, saya yakin ini hanya salah paham saja." Samui segera mencegah tangan Vliss yang hendak menyeret pemuda itu pergi. Tatapannya begitu dingin dan datar, Vliss langsung menatap tidak suka pada wanita itu.
"Dia adalah saudara dari tuan muda kami, namanya Kaito Shiin dan dia sama sekali bukan teroris seperti yang kalian katakan," timpal Darui yang mengatakan kalau pemuda itu adalah warga biasa yang bernama Kaito Shiin.
"Rasanya aku pernah mendengar nama Shiin, tapi dimana ya… " gumam Serena sambil berbisik pelan pada Vliss.
"Yang mereka katakan itu benar! Namaku Kaito Shiin, aku berasal dari Otogakure dan kemari untuk menjenguk saudaraku yang bernama Manma Shiin. Kalau tidak percaya kalian bisa melihat KTP ku," sambar pemuda itu dengan cepat dan langsung menyodorkan KTP miliknya. Temari langsung mengambil KTP itu dan mengamatinya dengan seksama.
"Hmm… " gadis itu mencocokan gambar yang ada di KTP dengan wajah pemuda itu, dan juga melihat data-data kependudukannya. Semua yang dia katakan cocok. 'Aneh sekali… Apa mungkin AK salah memberi informasi? Tapi rasanya tidak mungkin… Ada baiknya aku tetap mengamati pemuda ini.' Temari tampak berpikir sejenak sambil mengamati pemuda itu, tapi pada akhirnya dia menghela napas dan mengembalikan KTP itu pada sang pemilik.
"Lepaskan mereka, tampaknya kali ini kita salah sasaran. Biarkan mereka pergi!" Temari akhirnya memerintahkan semuanya untuk membiarkan pemuda itu beserta tiga pengawalnya untuk lewat.
"Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini," ucap gadis berkuncir empat itu sambil membungkuk, meminta maaf atas tindakan salah tangkap yang mereka lakukan.
"A-ah, sudah tidak apa-apa! Sekarang kami harus pergi dulu, saudaraku pasti sudah sangat menungguku! Permisi semuanya, dan selamat bertugas!" pemuda itu langsung tertawa konyol sambil menggaruk-garukkan kepalanya. Dia segera berpamitan untuk segera pergi. Sesaat pemuda itu sempat berbalik ke belakang dan memberi semangat agar Temari berjuang dalam menjalankan tugasnya, kemudian dia kembali berbalik ke depan.
"Heh… Selamat berjuang… " tiba-tiba saja perangainya berubah setelah menjauhi Temari dan yang lain. Pemuda itu tampak menyeringai licik dan berjalan keluar dari bandara, sedangkan Temari terus memperhatikannya dari jauh dengan tatapan curiga.
"Vliss, Serena. Bukankah di sekolah kalian ada seorang anak dari keluarga Shiin disana?" Temari menanyakan perihal Manma Shiin yang sekolah di Sunagakure high school. Kebetulan Gaara pernah menyinggung masalah pemuda itu sebelumnya dan mengatakan kalau kakak dari anak itu mirip sekali dengan Joker.
"Iya, namanya Manma Shiin. Ada apa?" balas Vliss sambil bertanya balik pada Temari. Dia merasa gadis berkuncir empat itu sedang memikirkan sesuatu.
"Aku minta kalian berdua mendekatinya dan mencari informasi mengenai keluarganya, setelah itu berikan laporannya padaku." Akhirnya Temari meminta kedua gadis itu untuk menyelidiki mengenai keluarga Shiin. Dia sedikit curiga dengan sikap pemuda tadi.
Meanwhile…
.
.
Beeeet…
Zaku melancarkan sebuah tinju pada Rei yang segera dihindari pemuda itu dengan cara merunduk. Kemudian sebuah serangan lain diarahkan ke tubuhnya, Rei segera menahan pukulan itu dengan tas ranselnya untuk melindungi tubuhnya agar tidak terkena hantaman itu. Ketika dilihatnya ada celah, Rei menendang Zaku dengan cukup keras membuat pemuda itu sedikit meringis sambil memegangi perutnya.
Di sebelahnya terlihat Nathan yang juga sedang berkelahi dengan Dosu. Pemuda itu melayangkan beberapa tinju secara acak pada Dosu. Serangannya nyaris mengenai Dosu, tapi tampaknya lawannya itu lebih mahir dalam hal berkelahi, dengan mudah dia menghindari serangan-serangan yang dilancarkan Nathan.
"Kalian berdua berhenti melawan!" akhirnya Kin mengambil jalan tengah. Dia menodongkan sebuah pistol yang diarahkan kepada Rei dan Nathan secara bergantian. Kedua pemuda itu segera terdiam melihat sepucuk pistol yang diarahkan pada mereka.
"Kami sudah muak bermain-main dengan kalian! Sekarang serahkan tas itu pada kami!" Kin berjalan ke arah kedua pemuda itu sambil memberikan isyarat pada Zaku untuk mengambil tas yang ada digenggaman Rei. Dengan kasar Zaku berusaha merebut tas tersebut, tapi Rei tetap melindungi tasnya itu. Zaku sedikit berdecak kesal lalu melakukan isyarat pada Kin. Kin berjalan ke belakang Rei dan Nathan, menyuruh kedua pemuda itu untuk berjalan mengikuti perintahnya.
Tapi sesaat ketika mereka tengah berjalan muncul Arashi yang tanpa terduga memergoki kejadian itu. Shiori yang memang sudah sejak awal mengikuti jejak Arashi ikut keluar dari tempat persembunyiannya. Gadis itu berteriak memperingati Nathan dan Rei.
"NATHAN! REI! HATI-HA-" Shiori yang awalnya ingin memperingati mengenai keberadaan Arashi yang dia duga ingin mencelakai Nathan dan Rei ternyata salah perkiraan, karena Arashi tidak menyerang kedua pemuda itu. Malah sebaliknya, guru berambut biru pucat itu malah menolong Nathan dan Rei. Dia berhasil menendang tangan Kin yang sedang memegang pistol, tentu hal ini membuat Shiori menjadi semakin bingung, apa sebenarnya yang direncakan pria itu.
"Kurang ajar!" dengus Zaku yang kesal karena rencana mereka 'digagalkan' oleh Arashi yang tiba-tiba saja muncul dihadapan mereka. Pemuda itu bergegas mengambil pistol yang tadi terlempar dari tangan Kin dan mengarahkannya pada Arashi.
"Benda itu sangat berbahaya, hati-hati kau bisa melukai orang disekitarmu." Arashi tetap berdiri dengan tenang sambil tersenyum saat menghadapi Zaku, bahkan dia sempat menasehati pemuda itu.
"Berisik!" balas Zaku yang sudah bersiap untuk melepaskan pelatuk pistol tersebut. "Pergi atau kutembak!" ancam Zaku menyuruh Arashi untuk pergi, tapi sepertinya Arashi tidak mau menyerah begitu saja. Dia berjalan perlahan untuk mendekati pemuda yang tengah bingung itu.
"Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu. Sekarang serahkan pistol itu padaku," ucap Arashi yang berusaha membujuk Zaku agar mau menyerahkan pistol tersebut padanya.
"Diam! Atau kutembak dia!" tanpa terduga Zaku mengarahkan pistolnya pada Shiori yang masih terdiam di tempatnya. Gadis itu langsung membeku begitu menyadari adanya sebuah senjata yang diarahkan padanya.
"Shiori… " Nathan menatap cemas pada gadis itu, dia khawatir kalau Zaku benar-benar akan menembaknya.
"Sudah kubilang benda itu berbahaya!" Arashi akhirnya mengambil langkah lebih maju ke depan dan langsung menyergap Zaku. Terjadi pergulatan antara keduanya. Sampai akhirnya terdengar suara tembakan...
BANG!
Letupan timah panas itu akhirnya terlepas dari pelatuknya dan mengarah tepat pada Shiori.
"AWASSS!" Shiori yang ketakutan itu tak bisa bergerak untuk menyelamatkan dirinya sendiri, namun Sasame yang entah sejak kapan berada disana segera menolong gadis itu. Sasame mendorong Shiori agar terhindar dari peluru yang melesat lurus ke arahnya.
BLUGH!
"AKH!" Shiori berhasil terhindar dari maut yang mengancamnya. Gadis itu terjatuh ke samping, tapi malang bagi Sasame. Timah panas itu menembus lengan kanannya, gadis itu segera terjatuh sambil memegangi lengannya yang tertembak itu.
"Zaku, Kin! Ayo pergi dari sini, cepat!" melihat ada orang yang tertembak membuat ketiga orang itu panik. Dosu segera menyuruh kedua rekannya untuk mundur, dan ketiganya langsung melarikan diri dari sana.
"Sasame!" Arashi langsung berlari cepat untuk melihat keadaan Sasame yang tergeletak sambil menahan sakit. Shiori masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi, dia menatap Sasame dengan bingung dan dengan rasa takut. Rei dan Nathan segera ikut menghampiri Sasame.
"Sasame, kau tidak apa-apa?" tanya Rei sambil menatap ngeri dengan darah yang mengalir cukup banyak dari lengan gadis itu.
"Ughh… " gadis itu tidak menjawab apa-apa, dia hanya merintih kesakitan.
"A-aku akan segera memanggil ambulan!" Nathan dengan cepat segera menelepon ambulan.
Dua puluh menit kemudian ambulan itu datang juga. Melihat Sasame mengalami pendarahan di bagian lengannya yang sudah terbalut oleh baju kemeja Arashi, para petugas ambulan segera membawa gadis itu masuk ke dalam ambulan.
"Kalian cepatlah pulang dan jangan khawatirkan keadaan Sasame." Arashi sempat meminta agar murid-muridnya untuk segera pulang ke rumah, setelah itu dia ikut masuk ke dalam ambulan.
.
Ambulan putih itu berjalan menjauhi mereka dan suara sirinenya juga perlahan-lahan menghilang seiring dengan menjauhnya ambulan itu.
'Se-sebenarnya apa yang terjadi… Kenapa jadi begini… ?' Shiori masih terpaku di tempatnya. Gadis itu benar-benar sangat bingung dengan apa yang barusan saja terjadi. Dia yang berusaha untuk memperingati Nathan dan Rei dari Arashi serta Sasame tapi dia malah ditolong oleh orang yang dia curigai.
"Shiori… Ayo pulang. Aku akan mengantarkanmu sampai ke rumah." Nathan melirik gadis itu sesaat dan menyadari kalau Shiori sedang mengalami terapi shock yang cukup hebat, bahkan gadis itu tak menyadari kalau saat ini Nathan tengah menggenggam erat tangannya, kalau Shiori yang biasa, dia pasti sudah berteriak karena senang. Tapi kali ini gadis itu hanya diam sambil memasang wajah shock dan bingung.
"Iya… Aku minta maaf," ucap gadis itu dengan pelan sambil menundukkan kepalanya, terlihat gadis itu mulai menangis. Mungkin dia menangis karena rasa takut yang sebelumnya dia tahan. Siapapun pasti akan ketakutan saat ada seseorang yang menodongkan senjata padanya dan nyaris saja terbunuh.
"Sudah, tidak apa-apa!" Nathan yang menyadarinya langsung meraih gadis itu ke dalam pelukannya. Dia merangkul tubuh Shiori yang bergetar karena takut. "Jangan memangis, ayo kita pulang," ucapnya dengan pelan dan lembut untuk menenangkan gadis itu.
Ketiga remaja itu akhirnya pulang dari tempat kejadian, sedangkan disisi lain tampak Gaara yang sepertinya sedang mengunjungi Kabuto. Apa yang akan dibicarakan Gaara pada Kabuto? Siapa sebenarnya pemuda yang bernama Kaito Shiin itu? Lalu siapa itu AK? Kemudian, apa rencana Sasame dan Arashi yang sebenarnya?
TBC…
Riku : Gue ngetik ini gantiin Yuki, berhubung ceritanya udah terkonsep jadi gue gak terlalu mengalami kesulitan buat menyatukan alurnya. Gue harap masih nyambunglah. Gue rasa bakalan ada adegan drama (yang sempet disinggung dichapter sebelumnya), yang punya ide soal bagian drama boleh disharing. Kami berniat memunculkan Sakura untuk beberapa chapter ke depan, dan sekali lagi gue minta maaf kalau ada yang tidak berkenan dengan adanya chara death nanti (udah diwarning dan mungkin lebih dari satu chara), please gue jangan dicincang.
Untuk sifat Kaoru aka Joker, dia sebenernya bukan polos sih, tapi namanya juga mahkluk NPC yang nyasar ke dunia jadi dia belum mengerti istilah-istilah di dunia nyata (siapa suruh dulunya terlalu sibuk mendekam di Neverland city?). Disini gue juga kasih hint sedikit perasaan Kaoru ke Marie, biarpun sedikit tapi itu jadi clue kalau sebenarnya tanpa ingat pada Marie, dia masih tetap bisa jatuh cinta sama Marie. Sisanya penentuan sikap Sasori ke Sakura, dan mohon jangan bantai gue kalau misalnya penentuan akhirnya tidak berkenan (gue sadar adanya pro kontra sama pair SasoSaku, hey jangan lupakan SasuSasku yang di awal hint Neverland menunjukkan kalau cowok itu juga suka sama si Sakura).
Sekali lagi kami ucapkan (gue mewakili Yuki) terima kasih buat yang mau meluangkan waktu membaca fic ini, kami harap kalian semua yang membacanya dapat terhibur dengan fic yang sederhana dan masih terdapat kekurangannya ini. Selamat menikmati.
.
.
"Thanks for reading".
