LIFE
CHAPTER 20
By Jiyeoon
Warning : TYPO dan bahasa tidak baku
CLING
Donghae tersenyum senang ketika toaster didepannya berbunyi dua kali, tanda roti panggangnya sudah jadi, menaruh telur mata sapi yang sudah dibuatnnya diatas roti gandum berwarna kecoklatan itu, lalu menambahkan selembar salada dan keju slices, terakhir mengoleskan sedikit saus tomat dan mayones. Sarapan sederhananya sudah jadi untuk pagi ini. Masih pukul 5, tapi Donghae tak ingin terlambat dihari pertamanya bekerja.
"Ahjumma, terimakasih sudah meminjamkan dapurnya."
Suaranya yang keras itu berhasil membuat ahjumma pemilik rumah keluar kamar, masih pagi tapi wanita baya itu sudah hendak bergegas ke pasar. Tersenyum teduh sambil menepuk kepala si pemuda berwajah childish.
"Kau bisa menggunakannya kapanpun. Jadi apa yang kau masak pagi ini Donghae-goon?"
"Hanya roti panggang isi telur biasa ahjumma." Balas Donghae sambil tersenyum.
Ahjumma mendesah pelan, menepuk pelan lengan Donghae sedikit kesal. "Aish, padahal bila kau mau menunggu, kita bisa sarapan bersama, ahjumma baru hendak kepasar."
Donghae menggeleng sungkan, tentu dia tidak enak terus menerus ikut makan bersama. Lagipula hari ini dia tidak akan makan sendiri.
"Kyuhyun-goon masih tidur?"
Mengangguk sekali sambil tersenyum, senyuman yang membuat si pemilik rumah gemas sekali dengan si pemuda ini. Diantara penyewa rumahnya, meskipun baru beberapa hari, Donghae adalah favoritenya. Sangat friendly didukung wajah tampan tapi sedikit kekanakan sehingga memberi kesan berjiwa muda, paling ceria dan sopan, berprfoesi sebagai seorang dokter pula, lengkap sekali.
"Aku baru berencana membangunkannya setelah membuat ini." Donghae mengangkat piring dengan 2 potong roti panggang diatasnya, hendak bergegas kekamar.
"Aigoo, rasanya baru beberapa hari kemarin aku menyuruh Kyuhyun-goon menyapamu. Sekarang sudah sangat akrab saja. Pergilah cepat kekamar, anak itu perlu bangun cepat untuk sekolah."
Mengangguk singkat tanda sopan santun, Donghae pergi kekamar sambil tersenyum saja mendengar ucapan si ahjumma, dia tak ada rencana memberi tahu wanita ini tentang hubungannya dengan Kyuhyun, tidak juga penting menurutnya, tau atau tidak wanita ini akan tetap ramah kepada mereka.
Donghae menarik meja pendek ke tengah ruangan, lalu meletakkan sarapan sederhananya diatas meja itu, selanjutnya Donghae bergegas ke kasur. Berjongkok hendak membangunkan Kyuhyun, tapi tidak jadi, justru tangannya yang sudah terangkat hendak menepuk pelan pipi sang adik tadi malah beralih ke kepala sang adik, mengelus pelan surai yang begitu lembut itu, cukup lama dan beberapa kali, menyisahkan aroma shampoo sang adik di jemarinya.
Tersenyum gemas sambil mencium sisa wangi dijarinya. "Aku baru sadar. Kau sudah 15 tahun, tapi masih memakai shampoo wangi buah-buahan."
Tangannya turun perlahan menyadari sesuatu, disusul kedua mata yang berembun. "Tidak ada yang ku tau. Wangi yang kau suka, warna kesukaanmu, makanan favoritemu… "
"Mianhae." Donghae tidak bisa mengendalikan matanya yang mulai berkaca-kaca dengan sendirinya, benar dia itu cengeng, mudah terbawa perrasaan kala semua memorinya bersama Kyuhyun selama di China terlintas. Tidak banyak, seingatnya hanya sampai Kyuhyun berusia lima tahun dia memperlakukan adiknya ini sebagai 'adik.
Perasaan bersalah menyeruak kembali mengigat betapa buruknya kelakuannya dulu, sebuah ketidaksukaan yang tak mendasar karena hasutan orang dewasa. Lalu tangan kanannya terangkat kembali, ingin menyentuh wajah polos itu. Perlahan mengelus satu persatu bagian dari wajah itu, kening yang bagus, alis yang tebal, mata yang indah, lalu tangan itu berhenti di hidung mancung sang adik , tanpa sadar mencubit pelan karena begitu gemas.
Sudah banyak waktu terlewat, banyak yang berubah. Bocah bertubuh gempal kini tumbuh tinggi dan tampan, tapi Donghae masih dapat melihat sisi menggemaskan dari wajah ini, sama seperti 10 tahun lalu.
Kyuhyun membuka mata merasa tidurnya terganggu. Berkedip beberapa kali menyesuaikan cahaya lampu dengan retinanya. Saat kedua retina itu berhasil menangkap tepat objek didepannya - wajah Donghae, Kyuhyun kembali berkedip seolah masih belum percaya. "Daebak, ini bukan mimpi." Gumamnya.
"Tentu. Ini bukan mimpi. Lihatlah diujung sana, sampah bekas cemilan kita kemarin bahkan tidak muat ditempat sampah." Donghae berdiri, sebelah tangannya mengacak pinggang, lalu sebalah lagi mengarah kearah meja belajar. "Dan itu, Laptopku yang mati total. Itu nyata, dia tidak tahan saat kau dengan kejamnya memaksa menginstall game yang memakan memori besar. Lalu…"
"Lalu kedua mata kita yang bengkak bekas menangis banyak sebelum tidur." Potong Kyuhyun. Tersenyum teduh, Kyuhyun menatap dalam kedua mata sang kakak. Masih sedikit merah dan bengkak, walaupun belum bercermin Kyuhyun dapat merasakan kedua mata miliknya pun pasti dalam kondisi yang sama, saat ini saja masih terasa perih. "Benar, ini bukan mimpi. Benar, kemarin malam aku tidur dalam rengkuhanmu Donghae hyung. Terimakasih Tuhan."
Tak ingin kembali larut dengan perasaaan seperti itu, Donghae menghembuskan nafas pelan beberapa kali. Mengalihkan percakapan, Donghae menarik tangan Kyuhyun dengan paksa, membuat adiknya terduduk dikasur. "Cepatlah cuci muka Cho Kyuhyun, aku sudah membuat sarapan." Tangan Kyuhyun ditariknya lagi, hendak memaksanya berdiri, tapi kali ini tidak semudah tadi. "Wae? Aish jangan jadi pemalas. Ini sudah pagi, kau sekolah bukan? Aku juga harus ke rumah sakit secepatnya."
'Tidak pernah terbanyang olehku, kita bisa larut dalam percakapan seakrab ini.' Kyuhyun dalam hati berucap lega.
"Hyung, kita sama-sama bolos bagaimana?"
"Jangan jadi setan Kyuhyun. Aku tidak berbohong saat aku bilang aku merindukanmu, tapi ini hari pertamaku kerja. Jangan menghasutku, ok?"
Kyuhyun manyun mendengar kata 'setan', lalu matanya melirik jam dinding dibelakang Donghae, masih pukul 5.15, masih banyak waktu. Kembali dia mendongak, memandangi wajah sang hyung yang berdiri didepannya.
"Kau mulai lagi. Apa semalaman kemarin tidak puas?" Donghae sadar betul Kyuhyun senang sekali memandangi wajahnya, dari kemarin seperti itu, memandangi berpuluh detik tanpa berkedip, seolah meneliti setiap inci kulit wajahnya, seperti ada bagian dari wajahnya yang berbeda dengan orang kebanyakan.
"You are extremely handsome hyung." gumam Kyuhyun.
"Eh?" alis Donghae terangkat, random sekali adiknya ini berbicara. "Yeah I know Kyuhyun, everybody knows, the world knows." Donghae tersanjung, mulai membanggakan visualnya.
"That's one of the reasons I'm not tired of looking at your face. Perfect!" Lanjut Kyuhyun.
Lama-lama Donghae merasa geli sendiri. "You are so random! You sound like my girlfriend!"
"Hahaha" Kyuhyun tertawa ringan. Mengabaikan protes sang hyung, tangan Kyuhyun terangkat melingkari pinggang Donghae, memeluk manja kakaknya, membenamkan sebelah pipinya diperut sang hyung. "And you are so warm. I feel protected under your arms." Ucapnya tulus.
"Tetaplah seperti ini Hae hyung, jangan berubah. Berjanjilah untuk terus disisiku."
Donghae terharu, tangannya terangkat, mengelus pelan pundak sang adik yang masih memeluk pinggangnya erat. Mengangguk sekali, menyanggupi janji yang dimohon adiknya. "Eumm, I promise."
'Seperti kau yang sudah disisiku sekarang, apa suatu hari nanti dia bisa berubah sepertimu?'
.
.
.
Hari senin mereka lewati seperti biasa. Mereka bertiga berangkat kesekolah bersama tanpa mengetahui Kyuhyun tidak tidur dirumah semalam. Menghabiskan waktu disekolah seperti biasa, Dengan Ryeowook yang kembali menghindari Kibum, Kyuhyun yang tak tau apa-apa kembali belajar bersama Changmin sepulang sekolah untuk persiapan olimpiade. Ryeowook dan Kibum berpisah didepan pintu gerbang sekolah, Ryeowook berjalan ke kiri hendak ke kafe, sedang Kibum ke arah berlawanan. Kibum membiarkannya saja, dia sedang tidak ingin adu mulut sore ini. Melirik jam tangannya, hampir pukul 3 ternyata,
"Aish…" meskipun menggerutu karena lelah, tapi Kibum tetap lekas berlari ke halte, tidak ingin terlambat sampai ke restoran.
.
.
PRANG
"Ah.."
Gaduh tercipta ketika seorang pelayan menabrak Kibum dengan nampan berisi semangkuk soup vichyssoise panas, menyisahkan Kibum yang memegangi lengan kanannya kesakitan. Soup tumpah mengenai lengan kanan Kibum, pacahan mangkuk berserakan dibawah kakinya, untungnya Kibum cepat tanggap, dia mundur sebelum kuah soup itu mengenai bagian lain tubuhnya.
"Maaf! A.. aku tidak sengaja, maafkan aku Kibum-ssi."
"Ah…" ringis Kibum sekali lagi, benar-benar perih dan panas. Baru saja dia sampai ditempat kerja, mengganti seragam sekolahnya dengan seragam restoran, baru hendak melangkah ke posisinya didepan meja kasir, kecelakaan kecil ini terjadi. Lagi! Perlu digaris bawahi, ini bukan yang pertama, dan orang yang menabraknya adalah orang yang sama.
"Heejoon-ssi!" Seorang gadis menghampiri mereka, dengan wajah merah menahan marah, Kalau Kibum tidak salah ingat namanya Yeonhee, seorang pelayan senior. "Kau sengaja kan?" tuduh gadis itu kesal.
Orang yang dipanggil Heejoon itu menggeleng cepat, wajahnya mulai merah karena diituduh. "Apa kau bilang? Sudahku bilang aku tidak sengaja!"
"Tidak sengaja? Berkali-kali tidak sengaja. Belum seminggu Kibum-ssi bekerja disini, sudah 3 kali kau menumpahkan sesuatu kelengannya! Dan kau masih bilang tidak sengaja. Pertama teh melati, kemarin ponche, keduanya minuman hangat, sehingga mungkin tidak terlalu panas. Tapi kali ini kau menumpahkan sup yang baru mendidih! Keterlaluan!" Gadis itu menyingkap lengan seragam putih Kibum, meringis melihat bekas kemerahan dikulit putih itu, beberapa bagian bahkan seperti mengelupas. "Bagaimana ini, lukanya cukup parah." Lirihnya.
"Yeonhee sunbae. Gwenchana. Sudahlah." Kibum berusaha menenangkan rekan kerjanya ini.
"Ini bukan kedai sempit berukuran 5 kali 5 meter, tempat ini adalah restoran bintang lima, banyak jalur lain untuk lewat, dan kau memilih melewati area dekat kasir untuk melayani pelanggan? Kalau bukan sengaja, apa namanya! Jawab aku!" Bukannya berhenti, gadis itu malah semakin menyuarakan kecurigaannya.
"Yeonhee sunbae." Kibum berusaha menarik gadis itu mundur tapi si gadis tetap bergeming.
'Bonus untukmu. Kau hanya perlu mengganggu anak itu dengan cara apapun. Kau boleh melukainya.'
'Tapi kenapa chef?'
'Dia mengambil posisimu bukan? Kau pasti juga kesal dengannya.'
'Ani, maksudku, bukankah anda sendiri yang menerimanya sebagai pegawai. Kalau anda tidak suka, kenapa anda menerimanya?'
'Dia teman baik keponakanku. Sudah rahasia umum aku tidak pernah menerima seorang pelajar bukan? Tapi menolaknya akan membuat keponakanku kesal. Jadi ada baiknya membuatnya tak betah dengan sendirinya, untuk itu, aku perlu dirimu.'
Heejoon masih mengelak. "Sudah kubilang aku tidak sengaja! Kau tidak boleh menuduh sembarangan! Dan pelankan suaramu Yeonhee-ssi, kau ingin manajer tau kau membuat keributan?" lalu pria itu berjongkok, membersihkan pecahan mangkuk akibat ulahnya.
"Yak, yang membuat keributan itu dirimu!"
Kibum tidak tahan, lebih tepatnya dia tak ingin membuat masalah, terlebih saat beberapa pelanggan mulai memusatkan perhatian kepada mereka, ditariknya secara paksa gadis itu menuju ruang loker.
Yeonhee menarik laci dibagian bawah lemari locker, yang ternyata adalah tempat menaruh berbagai perlengkapan pertolongan pertama. Menarik kotak kayu bertanda plus dari laci itu, mengangkatnya sambil menuntun Kibum duduk dikursi, selanjutnya memilih beberapa obat luar untuk luka bakar. Tangan gadis itu secara terampil mengoleskan beberapa obat di bagian kulit yang merah dan mengelupas, mengoleskannya dengan pelan sekali, tapi mungkin karena begitu sakit, Kibum masih meringis sedikit.
"Perih sekali ya?"
"Kulitku rasanya seperti terbakar. Perihnya sampai ke tulang." Kibum tidak melebih-lebihkan, memang itu yang dia rasakan sekarang. Kalau tidak ingat kerja, dia sudah berlari ke klinik atau rumah sakit terdekat.
"Sepulang ini, pergilah ke rumah sakit atau klinik, aku takut ini saja tidak cukup. Ah bagaimana ini.." Gadis itu kembali melengos memperhatikan luka Kibum dengan posisi dekat seperti ini.
Kibum mengangguk tanpa berbicara. Dalam hati berterimakasih kepada gadis ini yang secara sukarela mau mengobati lukanya, jujur saja, Kibum tidak begitu familiar dengan obat luka seperti ini, luka yang kemarin saja cuma dia olesi salep. Belum lagi Yeonhee adalah satu-satunya pegawai yang mau berbicara dengannya.
"Kau masih bisa menggerakkan tanganmu kan?" tanyanya khawatir.
"Jangan khawatir. Aku paling hebat dalam menahan sakit." jawab Kibum pelan, pilihan kalimatnya barusan membuat teman kerjanya mengeryitkan alis sebentar.
"Aku yakin Heejoon oppa sengaja melakukannya. Untuk itu aku meminta maaf atas namanya." Gadis itu melilitkan kain kasa secara terampil, merobek pembungkus plaster dan menempelkannya dikain kasa itu.
"Apakah sunbae…"
"Betul." Potong Yeonhee. "Aku adalah kekasihnya. Heejoon oppa dulunya sama sepertiku, karirnya disini dimulai dari seorang part time waiters, lalu menjadi pegawai tetap setelah 3 tahun, kemudian karena kinerja yang baik dia naik tingkat menjadi kasir untuk shift sore. Baru seminggu dia diposisi itu, lalu kau datang."
"Ah…" Kibum merasa tidak enak. Tau sudah Kibum alasan kenapa pegawai satu itu secara sengaja 3 kali menumpahkan sesuatu yang panas kelengannya.
"Jangan merasa bersalah! Walaupun rumor itu benar, itu tidak dapat membenarkan perilakunya kepadamu."
"Rumor?" Kening Kibum mengeryit.
"Rumor bahwa kau diterima kerja disini karena berteman dengan keponakan chef Yerim, pemilik restoran. Kau langsung mendapat posisi kasir terlepas kau hanya part time worker yang masih dibawah umur dan seorang pelajar." Jawab Yeonhee. "Jadi Kibum-ssi, apa rumor itu benar?" tanya gadis itu enteng tanpa sungkan.
Kibum tidak berusaha menyembunyikannya, dia mengangguk sekali menjawab pertanyaan gadis itu.
"Ah.." Gadis itu meringis. Menepuk pelan pundak Kibum menguatkan. "Jadi benar, pantas saja semua pegawai memusuhimu. Bersabarlah ne! Tenang saja, Noona ini berbeda, aku tidak iri seperti mereka. Aku tidak ambil pusing dengan hal seperti itu, aku setuju koneksi adalah hal penting di jaman seperti ini."
Kibum mengerti, jenjang karir direstoran besar seperti ini tidak mudah, perlu kinerja yang bagus dan dedikasi bertahun-tahun untuk naik tingkat. Sementara dia, orang baru langsung mendapat posisi yang enak. Jadi ini alasan teman-teman kerjanya tidak begitu friendly terhadapnya. Tidak mengganggu seperti Heejoon, mereka hanya mengabaikannya, menatapnya dengan pandangan tak suka dan berbicara ketus jika ada perlu. Kibum sebenarnya tidak pedulli, mereka baik atau tidak kepadaya tidak memberi pengaruh apapun, tapi jujur dia sedikit risih.
"Sunbae.."
"Noona." Sela yeonhae.
"Ne, noona. Bagaimana bila aku berbicara pada manajer untuk berganti posisi dengan Heejoon-ssi?"
Yeonhee menggeleng. Menepuk sekali lagi pundak Kibum untuk menenangkan. "Kau tidak perlu melakukannya hanya karena merasa tidak enak hati. Itu akan merugikanmu, gaji pelayan dan kasir itu berbeda. Kau tau?"
"Aku memang merasa tidak enak, tapi bukan karena merasa bersalah pada Heejoon-ssi saja. Aku tidak nyaman karena merasa dimusuhi seluruh orang disini. Noona pikir enak diperlakukan seperti itu setiap hari?"
"Benar juga." Yeonhee prihatin, kasihan dengan remaja yang seharusnya diwaktu ini membuka buku untuk belajar. Bekerja sampai malam hari mencari uang, tapi ditempat kerja malah dimusuhi oleh seluruh rekan kerjanya. Yoenhee menatap Kibum sedikit kagum, pasti anak didepannya ini memiliki mental yang kuat.
"Lakukanlah, jika kau yakin itu akan membuatmu nyaman Kibum-ah."
.
.
.
Permintaannya begitu mudah dikabulkan manajer restoran. Sehingga hari ini Kibum langsung bertukar posisi dengan teman kerjanya yang mencelakainya tadi. Kibum mudah beradaptasi, dia terampil mengerjakan apapun, dulu di Busan dia sempat bekerja menjadi pelayan juga. Seakan tidak ada luka dilengannya, Kibum tetap bekerja dengan normal dan giat.
Kibum berfikir ini meja terakhirnya untuk dibersihkan dan membayangkan untuk segera pulang, sebelum manajer memanggilnya untuk melayani tamu diruang VIP.
"Tamu VIP di jam segini?" tanya Kibum heran. Ini sudah lewat jam 10 malam, sebenarnya jam kerjanya sudah berakhir 15 menit lalu jika ia tidak begitu rajin memilih pulang terakhir membersihkan beberapa meja.
"Ne, tamu Chef Yerim. Beliau sendiri yang menyuruhmu melayani mereka."
Kibum berfikir cepat, tangannya meremas napkin yang dipegangnya, tanpa sadar merasa gugup. "Seorang pria?"
"Ne? Ada apa?"
.
Dan disinilah mereka, disalah satu ruang VIP di restoran itu. Yerim tersenyum tenang, seolah menggambarkan dia tidak tahu apapun, sedang Siwon dihadapannya menatap Kibum terkejut, pertemuan yang tidak terduga, tidak pernah terlintas dipikirannya dia akan bertemu anak itu disini. Kenapa? Kenapa anak itu harus bekerja disini. Sekali lagi diliriknya anak itu diam-diam, ketika Kibum mendekat dan menuangkan segelas wine yang sebelumnya diminta Yerim.
"Ada apa Siwon? Kau daritadi menatap pegawaiku. Apa kau mengenalnya?" Wanita itu tersenyum, senyuman yang sama seperti biasa, paling pintar dalam bersandiwara. Pertanyaan itu memberikan reaksi yang berbeda antara Siwon dan Kibum. Kibum tidak terpengaruh namun jelas seperti tengah membangun pertahanan, sedang Siwon tiba-tiba merasa gugup tanpa alasan.
Siwon menatap Kibum sekali lagi, tak terbayang bagaimana anak ini begitu hebat dalam pengendalian diri. Sangat tenang, melakukan tugasnya sebagai pelayan.
"Ah, tidak.." jawabnya sambil tersenyum kaku.
"Kau boleh keluar. Aku akan memanggilmu jika memerlukan sesuatu lagi." Perintah Yerim. Kibum mengangguk sekali, membungkuk singkat sebelum berlalu.
Dan ketika pintu itu ditutupnya. Pertahanan dirinya perlahan terbuka, Kibum bersandar lemas dibalik pintu tersebut, tangannya meremas kuat celana kain hitam yang digunakannya, menutup matanya erat begitu lelah. "Aku tau ini pasti akan terjadi, tapi kenapa aku masih gemetar seperti ini." lirihnya lelah, menyusul kepalanya yang dia senderkan pelan didepan pintu. Jujur dia lelah harus terus menerus melihat wajah orang itu. Dunia yang sempit, hidup yang keras memaksanya mengabaikan banyak hal. Kibum merasa diinya konyol dan tidak tahu malu.
Ini keputusannya, dia yang memilih tetap bekerja meskipun tau siapa Yerim itu. Demi uang, Apapun akan dilakukannya untuk uang, mengabaikan rasa takut dan harga diri.
"Harga diri?" lirihnya. "Cih.."
.
.
.
Ryeowook pulang telambat, teman kerjanya lagi-lagi memintanya membantu merangkai bunga untuk dihias didepan cafe. Itu bukan tugasnya, tapi dia adalah orang yang paling susah dalam menolak. Ryeowook berjalan menuju halte setelah sebelumnya memastikan pintu cafe terkunci rapat.
"Ah… hari yang panjang .. dan masih belum berakhir." Keluhnya. Berjalan di trotoar dengan menyeret langkah, jujur dia lelah dan ingin segera pulang, tidur nyenyak beberapa jam, jika tidak ingat ada beberapa materi yang belum dikuasainya.
Terdengar suara debuman keras dibelakangnya, beberapa orang disekitanya ikut terkejut. Ryeowook menoleh kebelakang, seorang pria dengan motor besar menabrak tong sampah. Sampah pelastik bercecaran disekitar troatoar, beberapa bahkan mengenai pinggiran jalan. Bukan hal asing melihat pengendara seperda motor mengambil jalur pejalan kaki di area ini, Ryeowook mendoakan agar polisi patrol segera melintas dan menindaknya.
"Pasti mabuk." cibir Ryeowook. Baru hendak berbalik melangkah, dia dikejutkan saat lampu motor besar itu mangarah tepat kearahnya, cahaya kilat berwarna kuning itu reflek membuat kedua matanya menyipit, lalu motor itu melaju tepat kearahnya.
Lima meter..
Dua meter…
Kakinya seakan kaku untuk menjauh. Kembali, debuman keras didengarnya, disusul punggung dan kepalanya yang sakit menghantam aspal. Ryeowook merasa tubuhnya didorong seseorang, yang kemudian menghalanginya dari tubrukan badan motor, seseorang yang membiarkan dirinya sebagai tameng menggantikan dirinya.
Semua terjadi begitu cepat, Ryeowook bahkan tidak sempat melirik plat motor saat si pengemudi cepat-cepat melajukan kembali motornya, kabur. Lalu matanya melirik orang dihadapannya, yang juga kini sama tengah berusaha duduk.
"Kim Yesung?" lirihnya saat berhasil duduk.
"Gwenchana?" tanya Yesung dengan nafas berburu. Nampak sekali habis berlari kencang.
Kedua mata Ryeowook membulat sempurna saat melihat darah menetes dipelipis Yesung, lalu Ryeowook dapat melihat memar dibagian bawah matanya. Pandangannya turun kelengan kiri Yesung, ada darah yang juga menetes cukup banyak. Ryeowook yakin ada luka robek dilengan yang ditutupi sweeter yang tak begitu tebal itu. Motor tadi menabraknya dengan keras, laju dan tepat ke tubuh Yesung, Ryeowook bisa embayangkan betapa sakitnya.
Dengan merangkak, Yesung maju mendekatinya. "Aku bertanya, apa kau terluka?" Yesung bertanya tak sabar dengan wajah penuh emosi, tangannya meremas pundak Ryeowook tak sabar.
Mengangguk sekali dengan tubuh gemetar. "Aku baik, tapi.. kau.."
"Syukurlah.." suara Yesung memelan, disusul matanya yang tertutup rapat, kepalanya jatuh bersandar dipunggung Ryeowook.
"Kim Yesung.." seru Ryeowook panik. Tangannya yang masih gemetar coba membaringkan kepala Yesung dipangkuannya. "Kim Yesung…" lirihnya tak sadar menangis.
Ryeowook mendongak dengan mata berkaca. Melihat banyak orang yang berkerumun menjadi saksi kecelakan tadi.
"Seseorang tolong hubungi 119." Mohonnya.
.
.
.
.
.
.
TBC
