Rowling adalah siapapun yang mengerjakan tugas Rowling.


Hermione Granger khawatir kalau dia sudah berubah Jahat.

Perbedaan antara Baik dan Jahat biasanya mudah dikenali, dia tak pernah paham kenapa orang lain mempunyai sebegitu banyak masalah tentangnya. Di Hogwarts, "Baik" itu Profesor Flitwick dan Profesor McGonagall dan Profesor Sprout. "Jahat" itu Profesor Snape dan Profesor Quirrell dan Draco Malfoy. Harry Potter … itu termasuk salah satu kasus-kasus tak biasa di mana kamu tak bisa mengetahui hanya dari melihat. Dia masih mencoba memahami Harry termasuk sisi mana.

Tapi waktu menyangkut dirinya sendiri … .

Hermione merasakan terlalu banyak kesenangan mengalahkan Harry Potter.

Dia selalu lebih baik dari Harry di tiap kelas yang mereka ambil. (Kecuali untuk mengendarai sapu yang seperti kelas olahraga, itu tak termasuk.) Dia memperoleh poin Asrama yang sebenarnya hampir tiap hari di minggu pertama mereka, bukan karena hal-hal heroik aneh, tapi hal-hal cerdas seperti mempelajari suatu mantra dengan cepat dan membantu murid lain. Dia tahu poin Asrama yang seperti itu adalah yang lebih baik, dan bagian terbaiknya adalah, Harry Potter juga tahu itu. Dia bisa lihat di mata Harry tiap kali dia memenangkan poin Asrama sebenarnya yang lain.

Kalau kamu memang Baik, kau harusnya tak sebegitu menikmati menang seperti ini.

Itu dimulai di hari saat perjalanan kereta, walau butuh waktu beberapa saat untuk mulai menyadari pusaran anginnya. Tidak setelah malamnya barulah Hermione mulai sadar seberapa banyak dia biarkan bocah itu mempermainkannya.

Sebelum dia bertemu Harry Potter dia tak pernah melihat satu orang pun yang dia benar-benar ingin kalahkan. Kalau seseorang tak melakukan sebaik dia di kelas, adalah tugasnya untuk membantu mereka, bukan menghinanya. Itulah artinya menjadi Baik.

Dan sekarang ...

… sekarang dia menang, Harry Potter selalu mengernyit tiap kali dia memperoleh poin Asrama lain, dan itu terasa sebegitu menyenangkan, orangtuanya sudah memperingatkannya tentang obat-obatan terlarang dan dia curiga kalau ini jauh lebih menyenangkan dari itu.

Dia selalu menyukai senyuman yang diberikan para guru padanya waktu dia melakukan seuatu dengan benar. Dia selalu suka melihat deretan panjang tanda centang di tes yang terjawab benar sempurna. Namun sekarang ketika dia melakukan dengan baik di kelas dia akan dengan santai melihat sekeliling dan melihat sekilas Harry Potter menggertakkan giginya, dan itu membuatnya ingin menyemburkan lagu seperti film-film Disney.

Itu Jahat, bukan begitu?

Hermione Granger khawatir kalau dia sudah berubah Jahat.

Dan kemudian suatu gagasan datang padanya yang menghapus seluruh ketakutannya.

Dia dan Harry sedang memasuki suatu Percintaan! Tentu saja! Semua orang tahu apa artinya kalau satu pemuda dan satu pemudi mulai berkelahi setiap saat. Mereka sedang saling rayu satu sama lain! Tak ada yang Jahat tentang itu.

Adalah sesuatu yang tak mungkin kalau dia hanya menikmati membuat murid paling terkenal di sekolah babak belur dalam pelajaran, seseorang yang ada di dalam buku dan berbicara seperti buku, anak laki-laki yang entah bagaimana melenyapkan sang Pangeran Kegelapan dan bahkan menggencet Profesor Snape seperti serangga kecil menyedihkan, anak laki-laki yang, seperti kata Profesor Quirrell, dominan, atas semua tahun pertama Ravenclaw kecuali Hermione Granger yang benar-benar melindas si Anak Laki-Laki yang Bertahan Hidup dalam seluruh kelasnya kecuali mengendarai sapu.

Karena itu adalah sesuatu yang Jahat.

Tidak. Itu adalah Percintaan. Itulah yang terjadi. Itulah sebabnya kenapa mereka selalu berkelahi.

Hermione lega dia mengetahui hal ini tepat waktu untuk hari ini, ketika Harry akan kalah dalam kontes membaca-buku mereka, yang seluruh sekolah sudah tahu tentangnya, dan dia ingin mulai menari murni hanya karena luapan kegembiraan.

Saat ini 2:45 pm hari Sabtu dan Harry Potter tinggal menyelesaikan membaca setengah dari Sejarah Sihir Bathilda Bagshot dan Hermione menatap jam kantongnya saat itu berdetik dalam kepelanan menakutkan ke arah 2:47 pm.

Dan seluruh ruang rekreasi Ravenclaw menyaksikan.

Bukan hanya para tahun pertama, beritanya sudah menyebar seperti susu tumpah dan setengah Ravenclaw berkerumun dalam ruangan, menjejalkan diri dalam sofa-sofa dan bersandar di lemari-lemari buku dan duduk di lengan kursi-kursi. Semua enam prefek ada di sana termasuk Gadis Kepala Hogwarts. Seseorang sampai harus melemparkan Mantra Penyegar Udara hanya untuk supaya ada cukup oksigen di situ. Dan keriuhan percakapan sudah mengecil jadi bisikan yang sekarang menghilang ke dalam kesunyian total.

2:46 pm.

Tekanan udaranya sudah tak tertahankan. Kalau itu adalah orang lain, siapapun itu, kekalahan orang itu akan sudah jadi kesimpulan yang jelas.

Namun ini adalah Harry Potter, dan kau tak bisa mencoret kemungkinan kalau dia akan, suatu saat di beberapa detik selanjutnya, mengangkat tangan dan menjentikkan jarinya.

Dengan kengerian seketika dia sadar bagaimana Harry Potter mungkin bisa melakukan hal itu. Itu akan seperti dia yang ternyata sudah menyelesaikan membaca setengah bagian kedua dari buku itu … .

Pandangan Hermione mulai mengabur. Dia mencoba membuat dirinya sendiri bernapas, dan mendapati kalau dia benar-benar tak bisa.

Tinggal sepuluh detik, dan dia masih belum mengangkat tangannya.

Lima detik lagi.

2:47 pm.

Harry Potter dengan hati-hati menempatkan pembatas ke dalam bukunya, menutupnya, dan menyingkirkannya.

"Aku ingin memperingatkan untuk kepentingan kelanjutan," kata si Anak Laki-Laki yang Bertahan Hidup dalam suara jelas, "kalau aku hanya perlu menyelesaikan setengah buku lagi, dan aku menjumpai sejumlah penundaan tak terduga–"

"Kau kalah!" jerit Hermione. "Kau memang! Kau kalah dalam kontes kita!"

Ada hela napas bersamaan saat semua orang mulai bernapas lagi.

Harry Potter memberinya Pandangan Api Membara, tapi Hermione sedang melayang dalam lingkaran cahaya putih murni dan tak ada satu hal pun yang bisa menyentuhnya.

"Apa kau sadar minggu macam apa yang kualami?" kata Harry Potter. "Makhluk lebih lemah lain akan kesulitan untuk membaca delapan buku Dr. Seuss!"

"Kau yang membuat batasan waktu."

Pandangan Api Membara Harry bertambah panas. "Aku tak punya cara logis untuk mengetahui kalau aku harus menyelamatkan seluruh sekolah dari Profesor Snape, atau dipukuli di kelas Pertahanan, dan kalau aku katakan kepadamu bagaimana aku kehilangan seluruh waktu antara 5 pm dan makan malam di hari Kamis kau akan berpikir kalau aku gila–"

"Awww, kedengarannya seperti seseorang termakan kekeliruan perencanaan."

Keterkejutan murni tampak di wajah Harry Potter.

"Oh itu mengingatkanku, aku sudah menyelesaikan membaca tumpukan pertama buku-buku yang kau pinjamkan padaku," kata Hermione dalam wajah tak bersalah terbaiknya. Beberapa dari tumpukan itu merupakan buku berat, juga. Dia penasaran berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk selesai membacanya.

"Suatu hari," kata si Anak Laki-Laki yang Bertahan Hidup, "ketika keturunan jauh Homo sapiens melihat lagi ke belakang ke sejarah galaksi dan bertanya-tanya bagaimana bisa semuanya berakhir sebegitu buruk, mereka akan menyimpulkan kalau kesalahan awalnya adalah ketika seseorang mengajari Hermione Granger bagaimana caranya membaca."

"Tapi kau tetap kalah," kata Hermione. Dia menempatkan tangan ke dagunya dan terlihat merenung. "Sekarang apa tepatnya yang harus diambil dari kekalahanmu, aku penasaran?"

"Apa?"

"Kau kalah taruhan," Hermione menjelaskan, "jadi kau harus membayar denda."

"Aku tak ingat menyetujui hal semacam itu!"

"Benarkah?" kata Hermione Granger. Dia meletakkan pandangan merenung di wajahnya. Kemudian, seolah-olah gagasan itu baru saja terpikir olehnya, "Kita akan mengambil suara, kalau begitu. Semua di Ravenclaw yang merasa kalau Harry Potter harus membayar, angkat tangan kalian!"

"Apa?" jerit Harry Potter lagi.

Dia berbalik dan melihat kalau dia dikelilingi lautan tangan yang terangkat.

Dan kalau Harry Potter melihat lebih cermat, dia akan memperhatikan kalau kebanyakan penonton sepertinya adalah gadis-gadis dan seluruh wanita di ruangan itu mengangkat tangan mereka.

"Stop!" teriak Harry Potter. "Kalian tak tahu apa yang akan dia minta! Tidakkah kalian sadar apa yang sedang dia lakukan? Dia memaksa kalian membuat komitmen lebih dulu, dan kemudian tekanan dari konsistensi akan membuat kalian menyetujui apa pun yang dia minta setelahnya!"

"Jangan khawatir," kata prefek Penelope Clearwater. "Kalau dia meminta sesuatu yang tak masuk akal, kami bisa tinggal merubah pikiran kami. Benar, semuanya?"

Dan kemudian ada anggukan bersemangat dari seluruh gadis-gadis yang sudah Penelope Clearwater beri tahu tentang rencana Hermione.


Sosok sunyi dengan tenang menyelinap melewati aula dingin dalam dungeon Hogwarts. Dia harusnya hadir di ruang tertentu pada pukul 6:00 pm untuk bertemu seseorang, dan jika memungkinkan memang lebih baik untuk tiba lebih awal, demi menunjukkan rasa hormat.

Tapi ketika tangannya memutar kenop pintu dan membukanya masuk dalam ruang kelas gelap, sunyi, tak terpakai, sudah ada siluet berdiri di tengah-tengah barisan meja tua berdebu. Satu siluet yang memegang tongkat kecil bercahaya hijau, melemparkan cahaya pucat yang bahkan tidak sampai menerangi dia yang memegangnya, jangankan ruangan sekitar.

Cahaya dari lorong menghilang saat pintu diayun dan tertutup di belakangnya, dan mata Draco memulai proses penyesuaian pada cahaya redup.

Sosok siluet itu perlahan berbalik menghadapnya, mengungkapkan wajah berbayangan yang hanya tersinari sebagian oleh cahaya aneh hijau.

Draco sudah mulai menyukai pertemuan ini. Tetap pakai cahaya dingin hijau, buat mereka berdua lebih tinggi, beri mereka kerudung dan topeng, pindahkan mereka dari ruang kelas ke pemakaman, dan itu sudah sama seperti awalan dari setengah kisah-kisah yang teman ayahnya ceritakan tentang Pelahap Maut.

"Aku ingin kau tahu, Draco Malfoy," kata sosok siluet itu dalam ketenangan mematikan, "kalau aku tak menyalahkanmu atas kekalahanku baru-baru ini."

Draco membuka mulutnya dalam protes tanpa berpikir, tak ada kemungkinan alasan kenapa dia harus disalahkan–

"Itu adalah diakibatkan, lebih dari yang lain, karena kebodohanku sendiri," lanjut sosok berbayangan itu. "Ada banyak hal lain yang bisa kulakukan, di tiap langkah selama perjalanannya. Kau tidak memintaku untuk melakukan tepat seperti yang kulakukan. Kau hanya meminta bantuanku. Akulah yang dengan tak bijak memilih metode itu. Tapi faktanya tetap bahwa aku kalah dalam kontes hanya dalam setengah buku. Tindakan dari idiot peliharaanmu, membuatku kehilangan waktu. Lebih dari yang kau tahu. Waktu yang, pada akhirnya, terbukti kritis. Faktanya tetap, Draco Malfoy, bahwa jika kau tak meminta bantuan itu, aku akan menang. Dan bukannya … malah … kalah."

Draco sudah mendengar tentang kekalahan Harry, dan denda yang Granger sudah minta darinya. Beritanya menyebar lebih cepat dari yang bisa dibawa oleh burung hantu.

"Aku mengerti," kata Draco. "Aku minta maaf." Tak ada lagi yang bisa dia katakan kalau dia ingin Harry Potter menjadi temannya.

"Aku tak meminta pemahamanmu atau penyesalanmu," kata siluet gelap itu, masih dengan ketenangan mematikan. "Namun aku baru saja menghabiskan dua jam penuh dalam kehadiran Hermione Granger, berpakaian memakai pakaian yang harus kusediakan, mengunjungi tempat-tempat mengagumkan di Hogwarts seperti air terjun kecil yang terlihat seperti ingus, ditemani sejumlah gadis-gadis lain yang bersikeras atas aktivitas seperti menaburkan kelopak mawar hasil Transfigurasi di sepanjang jalan kami. Aku baru saja menjalani suatu kencan, keturunan Malfoy. Kencan pertamaku. Dan ketika aku mengatakan kalau sudah waktunya balas budi itu dibayar, kau akan membayarnya."

Draco mengangguk dengan khidmat. Sebelum sampai ke tempat itu dia sudah mengambil persiapan bijak dengan mencari tahu setiap detail yang bisa diketahui dari kencan Harry, supaya dia bisa menyelesaikan tawa histerisnya sebelum waktu perjanjian, dan tidak melakukan suatu faux pas dengan tertawa terus-menerus sampai hilang kesadaran.

"Apa kau berpikir," kata Draco, "kalau sesuatu yang menyedihkan harus terjadi pada gadis Granger–"

"Sebarkan perkataan dalam Slytherin kalau si gadis Granger adalah milikku dan siapapun yang ikut campur dalam urusanku mayat mereka akan kusebarkan dalam wilayah yang cukup luas untuk mencakup dua belas bahasa lisan berbeda. Dan karena aku bukan Gryffindor dan aku menggunakan kelicikan bukannya serangan langsung seketika, mereka tak perlu panik jika aku terlihat tersenyum padanya."

"Atau kalau kau terlihat dalam kencan kedua?" kata Draco, membiarkan sedikit saja nada skeptis dalam suaranya.

"Tidak akan ada kencan kedua," kata siluet yang diterangi pendar hijau dalam suara sebegitu menakutkan hingga itu terdengar, bukan hanya seperti seorang Pelahap Maut, namun seperti Amycus Carrow di satu waktu itu tepat sebelum Ayah menyuruh menghentikannya, dia bukanlah sang Pangeran Kegelapan.

Tentu saja itu adalah masih merupakan suara tinggi anak kecil yang belum berubah dan ketika kau gabungkan itu dengan kata-kata sebenarnya, yah, efeknya jauh berbeda. Jika Harry Potter memang suatu saat menjadi Pangeran Kegelapan selanjutnya, Draco akan memakai satu Pensieve untuk menyimpan salinan dari ingatan ini di suatu tempat yang aman, dan Harry Potter tak akan berani mengkhianatinya.

"Tapi mari kita bicara tentang masalah yang lebih menyenangkan," kata sosok berbayangan-hijau itu. "Mari kita bicara tentang pengetahuan dan kekuatan. Draco Malfoy, mari kita bicara tentang Sains."

"Ya," kata Draco. "Mari kita bicarakan."

Draco bertanya-tanya seberapa banyak dari wajahnya yang bisa terlihat, dan seberapa banyak yang ada dalam bayangan, dalam pendar hijau menakutkan itu.

Dan walau Draco menjaga wajahnya tetap serius, ada senyuman dalam hatinya.

Dia akhirnya merasakan percakapan dewasa yang sebenarnya.

"Aku tawarkan padamu kekuatan," kata si sosok berbayangan, "dan aku akan katakan padamu tentang kekuatan itu dan juga harganya. Kekuatan yang datang dari mengetahui bentuk dari realita dan dengan demikian memperoleh kendali atasnya. Apa yang kamu pahami, bisa kamu kendalikan, dan itu adalah kekuatan yang cukup untuk berjalan di Bulan. Harga dari kekuatan itu adalah bahwa kamu harus belajar untuk menanyakan pertanyaan tentang Alam, dan jauh lebih sukar, menerima jawaban Alam. Kamu akan melakukan percobaan, melakukan pengujian dan melihat apa yang terjadi. Dan kamu harus menerima arti dari hasil-hasil itu ketika mereka mengatakan kalau kamu salah. Kamu akan harus belajar bagaimana caranya kalah, bukan padaku, tapi kepada Alam. Ketika kamu menemukan dirimu berdebat dengan realita, kamu harus membiarkan realita menang. Kamu akan menemukan ini menyakitkan, Draco Malfoy, dan aku tak tahu apakah kamu kuat dalam hal ini. Mengetahui harga yang harus dibayar, apakah masih merupakan keinginanmu untuk belajar kekuatan manusia?"

Draco mengambil napas panjang. Dia sudah memikirkan tentang ini. Dan sangat sukar melihat bagaimana dia bisa menjawab pertanyaan ini dengan cara yang lain. Dia sudah diperintahkan untuk mengambil tiap kesempatan persahabatan dengan Harry Potter. Itu hanya belajar, dia tidak menjanjikan untuk melakukan apa pun. Dia selalu bisa menghentikan pelajarannya kapan pun … .

Memang jelas ada sejumlah hal tentang situasi ini yang membuatnya terlihat seperti perangkap, tapi dalam perasaan yang sesungguhnya, Draco tak bisa melihat bagaimana ini bisa berubah jelek.

Tambah lagi Draco sedikit banyak memang ingin menguasai dunia.

"Ya," kata Draco.

"Sempurna," kata si sosok berbayangan. "Aku sudah mengalami suatu minggu padat, dan akan butuh waktu untuk merencanakan kurikulum untukmu–"

"Aku punya banyak hal yang aku perlu lakukan juga untuk mengkonsolidasikan kuasaku di Slytherin," kata Draco, "dan juga pekerjaan rumah. Mungkin kita harus memulainya di Oktober?"

"Terdengar masuk akal," kata sosok berbayangan itu, "tapi yang aku maksudkan adalah untuk merencanakan kurikulum untukmu, aku perlu tahu apa yang akan kuajarkan padamu. Tiga gagasan terpikir olehku. Yang pertama adalah aku mengajarimu tentang pikiran manusia dan otak. Pilihan kedua adalah aku mengajarimu tentang semesta fisik, seni yang berada di jalur menuju ke Bulan. Ini menyangkut sejumlah besar angka-angka, tapi untuk pikiran jenis tertentu angka-angka itu lebih indah dari apa pun yang bisa diajarkan Sains. Apa kamu suka angka-angka, Draco?"

Draco menggelengkan kepala.

"Jelas bukan yang ini kalau begitu. Kau akan belajar matematikamu suatu saat, tidak langsung, kupikir. Pilihan ketiga adalah aku mengajarimu tentang genetika dan evolusi dan pewarisan, apa yang kalian sebut darah–"

"Yang itu," kata Draco.

Sosok itu mengangguk. "Aku sudah duga kau akan mengatakan itu. Tapi aku pikir itu akan jadi jalan paling menyakitkan untukmu, Draco. Bagaimana jika keluargamu dan teman-temanmu, para penganut darah murni, mengatakan satu hal, dan kamu menemukan kalau hasil eksperimen mengatakan yang lain?"

"Maka aku akan mencari tahu bagaimana membuat hasil ekperimen itu mengatakan jawaban yang benar!"

Ada jeda, saat sosok berbayangan berdiri di sana dengan mulut terbuka sesaat.

"Um," kata si sosok berbayangan. "Bukan begitu cara kerjanya. Itulah hal yang aku coba peringatkan padamu di sini, Draco. Kau tak bisa membuat jawabannya keluar jadi sesuatu seperti yang kau mau."

"Kau selalu bisa membuat jawabannya keluar seperti yang kau inginkan," kata Draco. Itu memang hal paling pertama yang para tutornya ajarkan padanya. "Itu cuma masalah menemukan argumen yang tepat saja."

"Tidak," kata sosok berbayangan, suaranya naik dalam frustasi, "tidak, tidak, tidak! Kalau begitu kau akan memperoleh jawaban salah dan kau tak bisa pergi ke Bulan dengan cara itu! Alam bukanlah manusia, kamu tak bisa mengelabuinya untuk mempercayai hal lain, jika kau mencoba mengatakan kalau Bulan terbuat dari keju kau bisa berdebat berhari-hari dan itu tak akan mengubah Bulan! Apa yang kau bicarakan adalah rasionalisasi, seperti memulai dengan selembar kertas, bergerak langsung ke garis bawah, memakai tinta untuk menulis 'dan karena itulah, Bulan terbuat dari keju', dan kemudian bergerak ke atas untuk menulis beragam argumen pintar di atas. Entah Bulan memang terbuat dari keju atau tidak. Di saat kau menulis garis bawahnya, itu sudah dianggap benar atau salah. Entah seluruh kertas itu berakhir dengan kesimpulan yang benar atau kesimpulan yang salah sudah ditetapkan ketika kau menulis garis bawahnya. Jika kamu mencoba memilih antara dua koper mahal, dan kamu menyukai salah satu yang berkilau, tak peduli argumen cerdas apa yang kau karang untuk membelinya, aturan sejati yang kau gunakan untuk memilih koper yang mana untuk diperdebatkan adalah 'pilih yang berkilau', dan seberapa efektif aturan itu dalam memilih koper yang baik, itulah koper yang akan kau peroleh. Rasionalitas tidak bisa dipakai untuk memperdebatkan sisi yang sudah ditetapkan, kegunaan satu-satunya yang mungkin dipakai adalah menentukan sisi mana untuk diperdebatkan. Sains bukan untuk meyakinkan seseorang kalau para penganut darah murnilah yang benar. Itu politik! Kekuatan sains datang dari mengetahui seperti apa sebenarnya Alam itu yang tak bisa diubah dengan berdebat! Apa yang bisa sains lakukan adalah mengatakan pada kita bagaimana cara kerja darah yang sebenarnya, bagaimana sebenarnya para penyihir mewarisi kekuatan mereka dari orangtua mereka, dan apakah pada keturunan Muggle memang lebih lemah atau lebih kuat–"

"Lebih kuat!" kata Draco. Dia sudah mencoba untuk memahami ini, kerutan bingung di dahi tampak di wajahnya, dia bisa melihat bagaimana itu sedikit banyak masuk akal tapi itu jelas bukan seperti yang pernah dia dengar sebelumnya. Dan kemudian Harry Potter mengatakan sesuatu yang tak mungkin Draco biarkan lewat. "Kau pikir para darah lumpur itu lebih kuat?"

"Aku tak memikirkan apa pun," kata sosok berbayangan. "Aku tak mengetahui apa pun. Aku tak mempercayai apa pun. Garis bawahku belum tertulis. Aku akan mencari tahu bagaimana caranya menguji kekuatan magis dari keturunan Muggle, dan kekuatan magis para darah murni. Jika uji cobaku mengatakan kalau keturunan Muggle lebih lemah, aku akan percaya kalau mereka memang lebih lemah. Jika uji cobaku mengatakan kalau keturunan Muggle lebih kuat, aku akan percaya kalau mereka memang lebih kuat. Mengetahui hal ini dan kebenaran lainnya, aku akan memperoleh sejumlah kekuatan–"

"Dan kau mengharapkan aku untuk mempercayai apa pun yang kau katakan?" Draco menuntut dengan panas.

"Aku mengharapkanmu untuk melakukan uji coba itu sendiri," kata sosok berbayangan itu dengan sunyi. "Apakah kamu takut dengan apa yang akan kamu temukan?"

Draco menatap pada sosok berbayangan itu untuk sesaat, matanya menyempit. "Jebakan bagus, Harry," katanya. "Aku harus mengingatnya, itu sesuatu yang baru."

Si sosok berbayangan menggelengkan kepalanya. "Itu bukan jebakan, Draco. Ingat–aku tak tahu apa yang akan kita temukan. Tapi kamu tak bisa memahami alam semesta dengan berdebat dengannya atau menyuruhnya datang kembali dengan jawaban berbeda kali berikutnya. Ketika kamu mengenakan jubah seorang ilmuwan kamu harus melupakan semua politikmu dan argumen dan faksi dan keberpihakan, bungkam ketergantungan mati-matian dari pikiranmu, dan berharaplah hanya untuk mendengar jawaban dari Alam." Sosok berbayangan itu berhenti. "Kebanyakan orang tak bisa melakukannya. Itulah sebabnya kenapa hal ini sukar. Apa kamu yakin kamu tak ingin belajar tentang otak saja?"

"Dan kalau aku mengatakan padamu kalau aku lebih baik belajar tentang otak," kata Draco, suaranya sekarang tegas, "kau akan berkeliling dan mengatakan pada orang-orang kalau aku takut pada apa yang akan kutemukan."

"Tidak," kata sosok berbayangan itu. "Aku tak akan melakukan hal semacam itu."

"Tapi kau mungkin akan melakukan uji semacam itu sendiri, dan kalau kau memperoleh jawaban salah, aku tak akan ada di sana untuk mengatakan apa pun sebelum kau menunjukkannya pada orang lain." suara Draco masih tegas.

"Aku akan tetap bertanya terlebih dulu padamu, Draco," kata sosok berbayangan itu dengan tenang.

Draco berhenti. Dia tak menyangka itu, dia kira dia sudah melihat jebakannya tapi … . "Kau akan lakukan itu?"

"Tentu saja. Bagaimana bisa aku tahu siapa yang bisa diperas atau apa yang bisa kita tuntut dari mereka? Draco, aku katakan sekali lagi kalau ini bukanlah suatu jebakan yang kupersiapkan untukmu. Paling tidak tidak untuk dirimu secara pribadi. Jika politikmu berbeda, aku akan mengatakan, bagaimana jika hasil uji coba itu menunjukkan kalau para darah murni lebih kuat."

"Benarkah."

"Ya! Itulah harga yang siapapun harus bayar untuk menjadi seorang ilmuwan!"

Draco mengangkat satu tangan. Dia harus berpikir.

Sosok berbayang, diterangi pendar hijau itu menunggu.

Tak butuh waktu lama untuk memikirkannya, meski begitu. Jika kau membuang seluruh bagian membingungkannya … maka Harry Potter sedang merencanakan untuk bermain-main dengan sesuatu yang bisa menyebabkan ledakan politik besar, dan merupakan suatu tindakan gila untuk begitu saja meninggalkannya dan membiarkannya melakukan hal itu sendirian. "Kita akan mempelajari darah," kata Draco.

"Sempurna," kata sosok itu, dan tersenyum. "Selamat atas kesediaanmu untuk menanyakan pertanyaannya."

"Terima kasih," kata Draco, tak cukup mampu menjaga ironi keluar dari suaranya.

"Hey, apa kamu pikir pergi ke Bulan itu mudah? Bersyukurlah ini hanya menyangkut merubah pikiranmu sesekali, dan bukannya suatu pengorbanan manusia!"

"Pengorbanan manusia akan jauh lebih gampang!"

Ada jeda sesaat, dan kemudian sosok itu mengangguk. "Benar juga."

"Lihat, Harry," kata Draco tanpa banyak harapan, "aku kira gagasannya adalah untuk mengambil seluruh hal yang Muggle tahu, menggabungkannya dengan hal yang penyihir tahu, dan menjadi master atas kedua dunia. Bukankan jauh lebih mudah untuk sekadar belajar seluruh hal yang Muggle sudah ketahui, seperti hal-hal Bulan, dan menggunakan kekuatan itu–"

"Tidak," kata sosok itu dengan gerakan menggeleng tajam, membuat bayangan hijau bergerak di sekeliling hidung dan matanya. Suaranya berubah suram. "Kalau kamu tak bisa belajar seni seorang Ilmuwan untuk menerima realita, maka aku tidak boleh memberitahumu hal apa yang penerimaan tadi sudah temukan. Itu akan seperti seorang penyihir kuat memberitahumu tentang gerbang yang tak boleh dibuka, dan segel yang tak boleh dilanggar, sebelum kamu membuktikan kecerdasan dan kedisiplinanmu dengan selamat dari bahaya-bahaya lebih kecil."

Sentakan beku terasa di tulang punggung Draco dan dia merinding tanpa sadar. Dia tahu itu terlihat bahkan dalam cahaya temaram. "Baiklah," kata Draco. "Aku mengerti." Ayah sudah memberitahunya berkali-kali. Ketika seorang penyihir yang lebih kuat memberitahumu kalau kamu belum cukup siap untuk tahu, kamu tidak mengorek lebih jauh kalau kamu ingin hidup.

Sosok itu memiringkan kepalanya. "Benar. Tapi ada sesuatu yang lain yang kau harus pahami. Ilmuwan pertama, sebagai seorang Muggles, tak memiliki tradisimu. Pada awalnya mereka tak memahami tentang pengetahuan berbahaya, dan mengira kalau semua hal yang diketahui harus dibicarakan dengan bebas. Ketika pencarian mereka berubah berbahaya, mereka memberi tahu politisi mereka hal-hal yang harusnya tetap merupakan rahasia–jangan melihat seperti itu, Draco, itu bukan kebodohan sederhana belaka. Mereka jelas cukup pintar untuk mengetahui rahasia itu di awalnya. Tapi mereka adalah Muggles, itu adalah kali pertama mereka menemukan sesuatu yang benar-benar berbahaya, dan mereka tidak memulai dengan tradisi kerahasiaan. Ada suatu perang yang sedang berlangsung, dan ilmuwan di satu sisi cemas kalau mereka tidak bicara, ilmuwan di negara musuh akan memberi tahu politisi mereka lebih dulu … ." Suaranya memanjang dengan kentara. "Mereka tidak menghancurkan dunia. Tapi cukup dekat. Dan kita tidak akan mengulangi kesalahan itu."

"Benar," kata Draco, suaranya sekarang sangat kaku. "Kita tidak akan. Kita penyihir, dan mempelajari sains tidak membuat kita jadi Muggle.

"Seperti yang kamu katakan," kata siluet yang diterangi pendar hijau. "Kita akan membangun Sains kita sendiri, suatu Sains magis, dan Sains itu akan memiliki tradisi yang lebih cerdas dari awal mulanya." Suara itu bertambah tegas. "Pengetahuan yang aku bagikan denganmu akan diajarkan bersamaan dengan disiplin dari penerimaan kenyataan, tingkat dari pengetahuan ini akan dikuncikan kepada kemajuanmu dalam disiplin itu, dan kau tak akan membagi pengetahuan itu dengan mereka yang belum belajar disiplin itu. Apa kamu menerima hal ini?"

"Ya," kata Draco. Apa yang harus dia lakukan, mengatakan tidak?

"Bagus. Dan apa yang kamu temukan sendiri, akan tetap kamu jaga untuk dirimu sendiri kecuali kamu berpikir kalau ilmuwan lain sudah siap untuk mengetahuinya. Apa yang kita bagi di antara kita, tidak akan kita beri tahu pada dunia kecuali kita setuju kalau memang aman untuk diketahui dunia. Dan entah apa pun politik kita dan pengabdian kita, tak peduli perang macam apa yang sedang berlangsung. Mulai dari hari ini, itu akan menjadi tradisi dan hukum dari sains di antara para penyihir. Apa kita sepakat dalam hal itu?"

"Ya," kata Draco. Sebenarnya ini memang mulai terdengar cukup menarik. Para Pelahap Maut sudah mencoba menguasai dengan cara menjadi lebih menakutkan dari yang lain, dan mereka masih belum benar-benar menang. Mungkin inilah waktunya untuk mencoba menguasai memakai rahasia. "Dan kelompok kita tetap tersembunyi selama mungkin, dan semua yang terlibat di dalamnya harus menyetujui peraturan kita."

"Tentu saja. Pasti."

Ada jeda yang amat singkat.

"Kita akan membutuhkan jubah yang lebih bagus," kata sosok berbayangan, "dengan penutup kepala dan sebagainya–"

"Aku juga baru saja memikirkan itu," kata Draco. "Kita tak perlu satu jubah baru, meski begitu, hanya kerudung jubah untuk dikenakan. Aku memiliki satu teman di Slytherin, dia akan mengambil ukuranmu–"

"Jangan beri tahu dia untuk apa, walau begitu–"

"Aku tidak bodoh!"

"Dan jangan pakai topeng untuk sekarang, tidak ketika hanya kau dan aku saja–" kata sosok berbayangan.

"Benar! Tapi di masa depan kita perlu memiliki satu tanda khusus yang dimiliki seluruh pelayan kita, Tanda Sains, seperti seekor ular yang memakan Bulan di lengan kanan mereka–"

"Itu disebut PhD dan bukannya itu membuat jadi terlalu mudah untuk mengenali orang-orang kita?"

"Huh?"

"Maksudku, bagaimana jika seseorang berkata seperti 'oke, sekarang semuanya gulung jubah kalian yang menutupi lengan kanan kalian' dan orang kita jadi seperti 'whoops, maaf, sepertinya aku ini seorang mata-mata'–"

"Anggap aku tak mengatakan apa pun," kata Draco, keringat seketika muncul di sekujur tubuhnya. Dia perlu pengalih perhatian, cepat– "Dan sebutan apa yang kita pakai? Pelahap Sains?"

"Tidak," kata sosok berbayangan perlahan. "Itu kedengaran tak cocok … ."

Draco mengusapkan lengan jubahnya di keningnya, menyeka bulir-bulir lembab. Apa yang sudah dipikirkan si Pangeran Kegelapan? Kata Ayah Pangeran Kegelapan itu cerdas!

"Aku tahu!" kata sosok berbayangan itu tiba-tiba. "Kau masih belum paham, tapi percaya padaku, ini cocok."

Saat ini Draco akan menerima 'Pengunyah Malfoy' asalkan itu mengubah subjek pembicaraan. "Apa itu?"

Dan berdiri di tengah-tengah meja-meja berdebu di ruang kelas tak terpakai dalam dungeon Hogwarts, siluet Harry Potter yang diterangi pendar hijau membuka kedua tangannya dengan dramatis dan berkata, "Hari ini akan menandai lahirnya … Konspirasi Bayesian."


Satu sosok sunyi tertatih dengan lelah melewati lorong-lorong Hogwarts dengan tujuan Ravenclaw.

Harry pergi langsung dari pertemuannya dengan Draco ke acara makan malam, dan bertahan di sana nyaris cukup lama untuk menelan beberapa gigitan cepat makanan sebelum pergi tidur.

Itu bahkan masih belum 7 pm, tapi itu sudah jauh melewati waktu tidur Harry. Dia menyadari tadi malam kalau dia tak akan bisa memakai Time-Turner pada hari Sabtu sampai setelah kontes membaca buku sudah selesai. Tapi dia masih bisa memakai Time-Turner pada Jumat malam, dan memperoleh waktu dengan cara itu. Jadi Harry memaksakan diri tetap terjaga sampai 9 pm di hari Jumat, ketika kerangka pelindungnya terbuka, dan kemudian menggunakan empat jam sisa pada Time-Turnernya untuk kembali ke 5 pm dan terjatuh dalam tidur. Dia terbangun di sekitar 2 am di Sabtu pagi, seperti yang sudah direncanakan, dan membaca tanpa jeda untuk dua belas jam berikutnya … dan itu masih belum cukup. Dan sekarang Harry akan tidur sedikit lebih awal untuk beberapa hari ke depan, sampai siklus tidurnya menyesuaikan lagi.

Lukisan di pintu menanyakan Harry suatu teka-teki bodoh yang diperuntukkan untuk sebelas tahun yang dia jawab bahkan tanpa kata-katanya sampai melewati pikiran sadarnya, dan kemudian Harry terhuyung melewati tangga menuju ruang kamarnya, berganti pakaian ke dalam piyamanya dan terjatuh ke atas ranjangnya.

Dan menemukan kalau bantalnya terasa sedikit menggumpal.

Harry mengerang. Dia duduk dengan terpaksa, berputar di ranjangnya, dan mengangkat bantalnya.

Ini menyingkapkan satu catatan, dua Galleons emas, dan satu buku berjudul Occlumency: The Hidden Arte.

Harry mengangkat catatannya dan membaca:

Wah, kamu memang memperoleh masalah dan dengan cepat. Ayahmu tak bisa dibandingkan denganmu.

Kamu sudah membuat suatu musuh kuat. Snape memerintah kesetiaan, kekaguman, dan ketakutan seluruh Asrama Slytherin. Kamu tak bisa mempercayai satu pun dari Asrama itu sekarang, entah mereka mendatangimu dalam samaran bersahabat atau menakutkan.

Mulai sekarang kau tidak boleh menatap mata Snape. Dia adalah pengguna Legilimency dan bisa membaca pikiranmu kalau kamu melakukannya. Aku sudah menyertakan satu buku yang mungkin bisa membantumu untuk belajar melindungi dirimu sendiri, walau hanya sedikit yang bisa kamu lakukan tanpa satu tutor. Tetap kamu bisa berharap untuk paling tidak mendeteksi penerobosan.

Supaya kamu bisa menemukan suatu waktu tambahan yang bisa dipakai untuk mempelajari Occlumency, Aku sudah menyertakan 2 Galleon, yang merupakan harga dari lembaran jawaban dan pekerjaan rumah untuk kelas Sejarah Sihir tahun pertama (Profesor Binns sudah memberikan ujian yang sama dan tugas yang sama setiap tahun sejak dia mati). Sahabat barumu si kembar Weasley pasti bisa menyediakanmu satu salinan. Tak perlu dikatakan kalau kamu tidak boleh ketahuan memiliki barang tadi.

Tentang Profesor Quirrell sedikit aku tahu. Dia adalah seorang Slytherin dan seorang Profesor Pertahanan, dan itu dua nilai buruk untuknya. Pertimbangkan dengan hati-hati tiap nasihat yang dia berikan padamu, dan jangan beri tahu apa pun padanya apa yang kamu tak ingin tersebar.

Dumbledore hanya berpura-pura gila. Dia teramat sangat cerdas, dan jika kamu terus memasuki lemari dan menghilang, dia pasti akan menyimpulkan kepemilikanmu atas suatu jubah penghilang jika dia memang belum menyimpulkannya. Hindari dia kapan pun memungkinkan, sembunyikan Jubah Gaib di suatu tempat yang aman (BUKAN kantongmu) kapan pun kamu tak bisa menghindarinya, dan melangkahlah dengan sangat hati-hati dalam kehadirannya.

Tolong lebih berhati-hati di masa depan, Harry Potter.

Santa Claus

Harry memandangi catatan itu.

Itu memang terlihat seperti nasihat yang cukup baik. Tentu saja Harry tidak akan berbuat curang dalam kelas Sejarah bahkan biarpun mereka memberinya satu kera mati sebagai profesor. Tapi Legilimency Severus … siapapun yang mengirim catatan ini mengetahui banyak rahasia penting dan bersedia memberi tahu Harry tentangnya. Catatan itu masih memperingatkannya tentang Dumbledore mencuri Jubah Gaib namun di titik ini Harry benar-benar tak memiliki petunjuk apa pun kalau itu adalah pertanda buruk, itu bisa saja kesalahan yang bisa dipahami.

Sepertinya ada suatu intrik yang terjadi di dalam Hogwarts. Mungkin jika Harry membandingkan cerita-cerita antara Dumbledore dan sang pengirim-catatan, dia bisa menciptakan suatu gambar gabungan yang bisa jadi akurat? Seperti jika mereka berdua sepakat atas sesuatu, kemudian …

… terserah … .

Harry menjejalkan semuanya ke dalam kantong dan menaikkan Quiternya dan menarik selimut menutupi kepalanya dan meninggal.


Itu adalah Minggu pagi dan Harry sedang memakan panekuk di Aula Besar, menggigit tajam cepat, melirik dengan cemas ke arah jamnya tiap beberapa detik.

Itu adalah 8:02 am, dan tepatnya dalam dua jam dan satu menit, itu akan jadi tepat satu minggu sejak dia melihat para Weasley dan menyeberang ke dalam Peron Sembilan Tiga Perempat.

Dan gagasan itu terpikir olehnya … Harry tak tahu apakah ini adalah cara yang valid untuk berpikir tentang alam semesta, dia tidak tahu apa pun lagi, tapi itu sepertinya mungkin … .

Kalau … .

Tak cukup banyak hal-hal menarik yang terjadi padanya selama satu minggu ini.

Ketika dia sudah selesai memakan sarapan, Harry berencana untuk pergi langsung ke kamarnya dan bersembunyi di tingkat bawah kopernya dan tak berbicara pada siapapun sampai 10:03 am.

Dan saat itulah Harry melihat si kembar Weasley berjalan ke arahnya. Salah satu dari mereka sedang membawa sesuatu yang tersembunyi di balik punggungnya.

Dia harus berteriak dan melarikan diri.

Dia harus berteriak dan melarikan diri.

Apa pun itu … itu bisa jadi adalah …

... grand finale-nya...

Dia benar-benar harus berteriak dan melarikan diri.

Dengan perasaan pasrah bahwa alam semesta akan datang dan mendapatkannya bagaimanapun juga, Harry terus mengiris panekuk memakai garpu dan pisaunya. Dia tak mampu menghimpun energi. Itulah kenyataan menyedihkannya. Harry sekarang tahu bagaimana perasaan yang dirasakan orang-orang ketika mereka letih berlari, lelah mencoba melarikan diri dari takdir, dan mereka hanya terjatuh ke tanah dan membiarkan iblis bertaring dan bertentakel dari neraka tergelap menyeret mereka pada takdir tak terkatakan mereka.

Si kembar Weasley semakin mendekat.

Dan terus mendekat.

Harry memakan gigitan lain panekuk.

Si kembar Weasley tiba, meringis cerah.

"Halo, Fred," kata Harry dengan muram. Salah satu kembar mengangguk. "Halo, George." Kembar lainnya mengangguk.

"Kau terdengar lelah," kata George.

"Kau harus gembira," kata Fred.

"Lihat apa yang kami bawa untukmu!"

Dan George mengambil, dari belakang punggung Fred–

Satu roti dengan dua belas lilin menyala.

Ada satu jeda, saat meja Ravenclaw menatap mereka.

"Itu tak benar," kata seseorang. "Harry Potter lahir tanggal tiga puluh satu Jul–"

"DIA DATANG," kata satu suara hampa besar yang memotong menembus seluruh percakapan seperti suatu pedang es. "DIA YANG AKAN MENCABIK-CABIK–"

Dumbledore melompat dari tahtanya dan lari melewati Meja Utama dan menyambar wanita yang mengatakan kata-kata mengerikan itu, Fawkes muncul dalam sekejap, dan ketiganya menghilang dalam kilatan api.

Ada jeda terkejut ...

... diikuti dengan kepala-kepala yang berbalik ke arah Harry Potter.

"Bukan aku yang melakukannya," kata Harry dalam suara letih.

"Itu adalah suatu ramalan!" desis seseorang di meja. "Dan aku berani bertaruh kalau itu adalah tentang kamu!"

Harry menghela napas.

Dia berdiri di atas kursinya, mengangkat suaranya, dan berkata dengan sangat lantang lebih keras dari percakapan yang mulai berjalan, "Itu bukan tentang aku! Sudah jelas! Aku tidak datang ke sini, aku sudah di sini!"

Harry duduk lagi.

Orang-orang yang tadi melihatnya berbalik lagi.

Seseorang lain di meja berkata, "Kalau begitu itu sebenarnya tentang siapa?"

Dengan suatu sensasi tumpul, dan berat, Harry sadar siapa yang belum ada di Hogwarts.

Sebut saja itu tebakan asal-asalan, tapi Harry punya perasaan kalau sang mayat hidup Pangeran Kegalapan akan menampakkan diri pada hari-hari ini.

Percakapan berlangsung di sekelilingnya.

"Belum lagi, mencabik-cabik apa?"

"Aku pikir aku mendengar Trelawney mulai berkata sesuatu dengan awalan 'S' tepat sebelum Kepala Sekolah memegangnya."

"Seperti ... sukma? Surya?"

"Jika seseorang akan mencabik-cabik Matahari kita akan benar-benar ada dalam bahaya!"

Itu sepertinya cukup tak mungkin menurut Harry, kecuali dunia memiliki hal-hal mengerikan yang sudah pernah mendengar gagasan-gagasan David Criswell tentang pengangkatan bintang.

"Jadi," kata Harry dalam nada lelah, "ini terjadi tiap sarapan hari Minggu, bukan begitu?"

"Tidak," kata seorang murid yang mungkin ada di tahun ketujuhnya, mengerutkan dahi dengan serius. "Tidak."

Harry mengangkat bahu. "Terserah. Ada yang mau kue ulang tahun?"

"Tapi itu bukan ulang tahunmu!" kata murid yang tadi memprotes.

Itu adalah tanda bagi Fred dan George untuk mulai tertawa, tentu saja.

Bahkan Harry berhasil memberi senyuman lelah.

Saat potongan pertama diberikan padanya, Harry berkata, "Aku sudah mengalami minggu yang benar-benar panjang."


Dan Harry sedang duduk di tingkat bawah kopernya, menutup rapat dan mengunci supaya tak ada yang bisa masuk, selimut ditarik menutupi kepalanya, menunggu selesainya minggu ini.

10:01.

10:02.

10:03, tapi hanya untuk memastikan … .

10:04 dan minggu pertama selesai.

Harry menghembuskan napas lega, dan dengan berhati-hati menarik selimut dari kepalanya.

Beberapa saat kemudian, dia muncul ke dalam udara terang disinari mentari dalam kamarnya.

Tak lama setelahnya, dan dia ada di ruang rekreasi Ravenclaw. Beberapa orang melihatnya, tapi tak ada yang mengatakan apa pun atau mencoba berbicara padanya.

Harry menemukan satu meja tulis yang bagus, menarik satu kursi nyaman, dan duduk. Dari kantongnya dia mengambil sehelai kertas dan satu pensil.

Mum dan Dad sudah memberi tahu Harry dalam kata-kata yang jelas pasti bahwa meskipun mereka memahami entusiasmenya untuk meninggalkan rumah dan pergi dari kedua orangtuanya, dia harus menulis pada mereka tiap minggu tanpa gagal, hanya supaya mereka tahu kalau dia masih hidup, tidak terluka, dan tidak diracun.

Harry memandangi lembaran kosong kertas. Mari kita lihat … .

Setelah meninggalkan orangtuanya di stasiun kereta, dia sudah ...

… berkenalan dengan bocah yang dibesarkan oleh Darth Vader, berteman dengan tiga orang paling usil di Hogwarts, bertemu Hermione, kemudian ada insiden dengan Topi Seleksi … . Senin dia diberi satu mesin waktu untuk mengatasi kelainan tidurnya, memperoleh jubah penghilang legendaris dari penolong tak dikenal, menyelamatkan tujuh Hufflepuffs dengan memelototi lima anak lebih tua yang menakutkan dan salah satunya mengancam untuk mematahkan jarinya, sadar kalau dia memiliki suatu sisi gelap misterius, mempelajari Frigideiro di kelas Mantra, dan memulai persaingannya dengan Hermione … . Selasa memperkenalkannya dengan Astronomi yang diajarkan oleh Profesor Aurora Sinistra yang baik, dan Sejarah Sihir yang diajarkan oleh hantu yang harusnya diberi upacara pengusiran setan dan digantikan dengan tape recorder … . Rabu, dia dinyatakan sebagai Murid Paling Berbahaya di Ruang Kelas … . Kamis, mari kita jangan memikirkan tentang hari Kamis … . Jumat, insiden di Kelas Ramuan, diikuti dengan dia memeras Kepala Sekolah, diikuti dengan Profesor Pertahanan membuatnya babak belur di dalam kelas, diikuti dengan Profesor Pertahanan ternyata adalah manusia paling keren yang masih berjalan di muka bumi … . Sabtu dia kalah taruhan dan menjalani kencan pertamanya dan mulai menebus Draco … dan kemudian ramalan tak terdengar Profesor Trelawney pagi ini yang bisa jadi mengindikasi kalau Pangeran Kegelapan yang abadi akan menyerang Hogwarts.

Harry menata bahan-bahannya dalam hati, dan mulai menulis.

Untuk Mum dan Dad:

Hogwarts itu sangat menyenangkan. Aku belajar bagaimana melanggar Hukum Kedua dari Termodinamika dalam kelas Mantra, dan aku bertemu dengan seorang gadis bernama Hermione Granger yang membaca lebih cepat dariku.

Aku pikir lebih baik kita biarkan sebegitu saja.

Anak yang menyayangi kalian,
Harry James Potter-Evans-Verres.