BE MINE
BTS fanfiction
KookV
Rating: T-M
Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)
Warning: BL, Mpreg, Typo selalu mengintai
Cast: All BTS member and others
Previous
"Hmmm." Taehyung menggumam. "Kau tidak pergi ke kantor?"
"Aku bisa bekerja dari rumah, aku akan jarang pergi ke kantor kecuali ada sesuatu yang benar-benar penting dan tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan aku."
"Apa yang terjadi?"
"Kau pingsan."
"Pingsan?" Taehyung melempar tatapan bingung.
Jungkook menaiki ranjang rawat yang cukup besar untuk ditempati oleh dua orang dewasa. "Kau kelelahan itu yang dokter katakan." Tangan kiri Jungkook bergerak pelan, membelai pipi kanan Taehyung. Kulit Taehyung tampak lebih pucat dari biasanya. Kini tangan kiri Jungkook beralih menggenggam telapak tangan Taehyung. "Kau tidak boleh melakukan pekerjaan berat dan menambah waktu istirahat."
"Pekerjaan berat apa? Aku hanya mengemasi barang."
"Itu yang dokter katakan Tae, aku mohon jangan membuatku cemas lagi. Biarkan aku menjagamu dan merawatmu."
Taehyung menatap wajah Jungkook, dia ingin membantah namun Jungkook terlihat begitu tulus dan Taehyung merasa sangat egois jika dia terus menyakiti Jungkook. Pada akhirnya Taehyung hanya mengangguk lemah. Jungkook memeluk tubuh Taehyung erat. "Aku akan mendapatkan kepercayaanmu lagi Taehyung, kau jangan meragukan ucapanku."
BAB DUA PULUH SATU
"Di luar terlalu ramai." Keluh Taehyung.
"Semua akan baik-baik saja." Ucap Jungkook meyakinkan keraguan Taehyung.
Tanpa mengatakan apapun Taehyung memperbaiki topi dan masker yang dikenakannya, begitupun dengan Jungkook. Seokjin dan Namjoon benar-benar sibuk di kantor mereka tidak bisa menjemput Taehyung dan Jungkook di rumah sakit.
"Kita kembali ke apartemenku."
"Hmm." Taehyung hanya menggumam pelan.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" Jungkook berdiri di hadapan Taehyung.
"Kepalaku sangat berisik sekarang aku tidak tahu apa yang sedang aku pikirkan."
"Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah pulang, pikirkan itu saja."
"Di luar ramai sekali apa kau tidak melihat berita tadi? Bagaimana kita bisa keluar dengan utuh dari tempat ini? Bagaimana? Sebutkan caranya!" Taehyung melipat tangannya di depan dada.
"Kita tidak bisa melarikan diri, kita hadapi."
"Jawaban yang benar-benar cerdas." Balas Taehyung, dia terdengar sangat kesal. Dan bahkan berjalan mendahului Jungkook.
Di pintu belakang rumah sakit, kerumunan pencari berita terlihat mengerikan. Taehyung ingin kabur saja sekarang. "Aku minta Namjoon hyung menjemputku. Ah!" Taehyung terkejut karena seseorang menggenggam tangan kanannya.
"Kita tunjukkan jika kita lebih kuat dari semua berita itu."
"Ah itu…,"
Taehyung belum melengkapi kalimatnya, ketika Jungkook memeluk pinggangnya dan membimbingnya untuk berjalan melewati kerumunan. Jepretan lampu kamera, dan semua pertanyaan membuat Taehyung benar-benar tidak nyaman. Ia merapatkan tubuhnya pada Jungkook.
Pintu mobil penjemput dibuka, Jungkook mendorong pelan tubuh Taehyung memasuki mobil. Jungkook masuk setelah Taehyung duduk dengan aman di dalam mobil. "Kenakan sabuk pengamanmu."
Taehyung hanya mengangguk pelan, melepas topi dan maskernya kemudian berniat menarik sabuk pengaman, ketika ia melihat kerumunan di sisi kanan mobil. Mereka membawa papan dengan tulisan bernada kasar.
Jeon Jungkook dan Kim Taehyung menari di atas penderitaan orang lain
"Penderitaan siapa?" Taehyung menatap Jungkook.
"Biarkan mereka mengatakan hal sesuka hati, kita yang tahu kenyataannya."
"Tapi Jungkook…,"
"Hentikan. Jangan mengisi kepalamu dengan hal yang tidak penting." Jungkook berucap pelan kemudian mengetuk pelun dahi Taehyung.
Tidak tahan lagi Taehyung memeluk erat Jungkook, menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher kanan Jungkook. "Aku tahu melarikan diri bukanlah jawaban, tapi aku tidak tahan lagi, bisakah kita pergi dari tempat ini? Aku tidak pernah diserang media seperti sekarang. Jungkook."
"Tae tenanglah." Jungkook mencoba menenangkan Taehyung dengan ucapan lembut. "Jungkook melirik sopirnya, mengisyaratkan kepada sang sopir untuk bergegas menaikkan kecepatan setelah mereka berhasil melewati kerumunan.
.
.
.
"Hentikan tatapan itu Yoongi hyung!" Jimin menggeram pelan.
"Lama sekali! Langsung keluar dan katakan pada laki-laki itu untuk mengendalikan mantan pacarnya!"
"Kita akan menarik perhatian, Yoongi hyung."
"Kau ini terlalu lama, aku yakin kau turunan siput!"
"Aku bukan…., Yoongi hyung! Astaga!" Dengan panik Jimin bergegas melompat turun dari mobil dan berlari menyusul Yoongi. Mereka berada di pinggiran Seoul, tiga jam dari pusat kota hanya untuk menemui seseorang.
"Permisi. Apa Anda yang bernama Mark Tuan?"
"Ya."
Laki-laki itu berwajah tampan, tinggi, dan terdengar ramah. Mark Tuan menyipitkan kedua matanya menatap Yoongi lekat-lekat. "Suga?"
Yoongi tersenyum lebar menampakan deretan gigi rapinya. "Bisakah kita bicara sebentar?"
"Oh Tentu. Silakan masuk ke rumah saya."
"Di sini saja cukup." Balas Yoongi, ia menoleh ke belakang dan mendapati kekasihnya tengah bersembunyi di balik salah satu tiang listrik. "Dasar Siput." Maki Yoongi.
"Jadi apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya? Anda orang terkenal dan saya hanya seorang pengajar."
"Ahh ini tentang—sebaiknya kita bicara dengan santai bagaimana?" Yoongi tersenyum canggung, berbicara dengan orang asing menyusahkan tapi demi Taehyung dia akan melakukan apapun.
"Tentu."
"Hmm…," Yoongi mencoba mencari topik pembicaraan sebelum topik utama. "Apa mengajar TK itu menyenangkan?"
"Tentu saja menyenangkan, meski anak-anak kadang merepotkan." Mark tersenyum lebar di akhir kalimat.
"Sudah berapa lama bekerja di sini?"
"Sekitar dua tahun."
Yoongi meneliti wajah Mark, dia terlihat muda. Tentu saja dia belum lama bekerja di tempat ini. Yoongi memaki di dalam hati, merutuki kebodohannya. "Yugyeom. Kau mengenalnya?"
"Ka—kau mengenal Yugyeom?"
"Tentu saja, dia merintis karir di dunia hiburan tentu saja aku tahu, meski kami tak akrab." Yoongi menoleh ke kanan, ke arah bangunan sekolah TK. Rasanya tidak patut membicarakan masalah Yugyeom di depan bangunan yang identik dengan anak-anak polos. "Kita bicara di dekat mobilku, bagaimana?"
Yoongi melihat kening Mark berkerut. "Hanya sebentar!" ucap Yoongi yang terdengar seperti paksaan.
"Tidak, kita bicara di sini saja."
"Astaga! Aku tidak akan menculikmu, kau pasti dengan mudah bisa mengalahkanku, jika aku berniat buruk."
"Kita bicara di sini." Tegas Mark.
Yoongi nyaris mengumpat, dia kesal sekarang. "Kau tahu berita tentang Yugyeom, aku yakin itu. Jangan berpura-pura, kau tidak hidup di goa. Setelah putus dengan Jungkook, Yugyeom bersamamu dan setelah itu dia tidak pernah menjalin hubungan dengan laki-laki lain."
"Bisa saja Yugyeom tidur dengan laki-laki lain."
"Anak itu bukan darah daging Jungkook."
"Aku juga tidak yakin itu anakku."
"Aku yakin itu anakmu, setelah putus denganmu Yugyeom praktis tinggal di asrama agensi sampai hari debutnya. Dia tidak bisa berhubungan dengan dunia luar."
"Mungkin dia berhubungan dengan seseorang di dalam agensi."
"Aku tahu bagaimana peraturan di agensi Yugyeom. Agensi itu milik kakakku, jadi tutup mulutmu dan akui saja jika itu anakmu."
"Kenapa aku harus melakukannya? Yugyeom tidak menginginkannya?"
"Ahh rupanya begitu, jika kau sama menyebalkannya seperti Yugyeom jangan salahkan aku jika hidupmu dan hidup keluargamu menderita."
"Min Yoongi!" Mark berteriak mencengkeram lengan kanan Yoongi. "Jauhi keluargaku." Geram Mark.
Meski postur mereka berbeda, Yoongi sama sekali tak merasa terancam. "Aku juga memberimu peringatan, jauhkan Yugyeom dari keluargaku."
Yoongi menahan sakit akibat remasan Mark pada lengan kanannya, dia berharap Jimin tidak melompat keluar dari persembunyiannya lalu menjadi pahlawan kesiangan, itu akan menghancurkan seluruh rencana yang sudah dia susun.
"Yugyeom mencoba menghancurkan pernikahan adikku. Aku akan melakukan segala cara untuk membuat adikku bahagia, termasuk bertindak kotor. Kau ingin pembuktian dari ucapanku? Mark Tuan."
"Baiklah jika itu yang kau inginkan, aku akan berbicara dengan Yugyeom. Jika Yugyeom bersikeras?"
"Ancamanku masih berlaku."
"Jadi aku harus memaksa Yugyeom untuk menarik semua ucapannya?!" Mark berteriak geram.
"Jangan berteriak kau tidak mau menarik perhatian para pejalan kaki, dan rekan kerjamu kan?"
"Kau menyebalkan Min Yoongi, kau orang paling menyebalkan yang pernah aku akui."
Yoongi tersenyum lebar. "Jangan salah menilaiku, aku ini orang yang sangat menyenangkan. Salahkan takdirmu karena bertemu dengan Yugyeom."
Mark menghembuskan napas kasar, tidak ada gunanya berdebat dengan Yoongi. "Aku akan berbicara dengan Yugyeom, itu anakku. Aku harus bertanggungjawab, maaf aku hanya mengerjaimu tadi. Ternyata wajahmu lebih manis dibanding yang aku liihat di televisi."
"Urus saja Yugyeom, dan ingat ancamanku masih berlaku."
"Tentu." Mark tersenyum diakhir kalimat membuat Yoongi mendesis kesal kemudian berlari pergi. "Siput kita pulang!"
"Yoongi hyung!" untuk kedua kalinya Jimin berlari mengejar Yoongi.
Dengan kesal Yoongi membanting pintu mobil, menarik sabuk pengaman kasar. Jimin melirik Yoongi. "Ada apa? Bagaimana pembicaraan kalian? Aku nyaris keluar dan memukul Mark."
"Dia mengataiku manis. Brengsek!"
Jimin nyaris tertawa tapi dia urung, Perang Dunia akan meletus jika dia berani tertawa. "Manis bukan pujian yang buruk."
"Bodoh!" Yoongi menatap Jimin sengit. "Itu pujian yang buruk, aku rapper. Tidak seharusnya dikatakan manis dan imut. Mulai besok aku ikut kau ke Gym."
"Untuk apa?"
"Membentuk otot! Aku tidak akan dikatakan manis dan imut lagi, kepalaku mendidih sekarang. Aku ini rapper keren! Katakan jika aku keren Park Jimin?!"
"Aku tidak terbiasa berbohong Yoongi hyung."
"Park Jimin sial!"
"Yoongi hyung jangan menjabak rambutku!"
"Rasakan!" dengus Yoongi setelah melepaskan rambut Jimin. "Jalankan mobilnya, aku harus menghubungi seseorang."
"Siapa?"
"Kakakku."
"Untuk?"
"Mendiskusikan nasib Yugyeom."
"Yoongi hyung jangan terlalu kejam."
Yoongi hanya tersenyum miring, Jimin menelan ludah kasar dan memilih untuk fokus pada jalanan. Yoongi sedang dalam mode setan, sebaiknya dia tidak diganggu.
.
.
.
"Kupikir kalian kembali ke apartemen, untung aku pulang lebih awal." Ucap Seokjin sambil membantu Jungkook membukakan pintu kamar Taehyung.
Taehyung tertidur di perjalanan, dia terlihat kelelahan. Setelah Jungkook membaringkan tubuh Taehyung ke atas tempat tidur, Seokjin melepas sepatu Taehyung dan menyelimuti tubuh Taehyung sebatas dada.
"Rencana awal kami akan kembali ke apartemen."
"Kenapa berubah?"
"Taehyung terganggu dengan kerumunan pencari berita."
"Astaga…," keluh Seokjin. "Padahal aku sudah mengerahkan orang untuk menyingkirkan mereka, tetap saja mereka bisa menemukan jalan untuk mendekat."
"Taehyung mengatakan jika dia tidak tahan lagi, dan ingin pergi dari Negara ini, itulah yang bisa aku tangkap dari kalimatnya."
"Pergi dari Negara ini?" Seokjin mengamati wajah tidur adik satu-satunya, dia tidak bisa membayangkan berpisah dari Taehyung dalam waktu yang lama.
"Aku akan berbicara dengan Taehyung, Seokjin hyung jangan cemas." Ucap Jungkook menyadari keengganan Seokjin.
"Aku sudah membayangkan yang bukan-bukan…," ucap Seokjin dengan nada canggung kemudian mengipasi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Tapi jika itu yang terbaik aku tidak bisa mencegah kalian untuk pergi."
"Kita akan membicarakannya lagi nanti, aku yakin Taehyung juga tidak ingin tinggal jauh dari Seokjin hyung."
"Jika kalian benar-benar pergi, kalian akan tinggal dimana?"
"Seokjin hyung kami belum memutuskan apa-apa."
"Negara pertama yang terlintas di pikiranmu?"
Jungkook menggeleng pelan. "Sama sekali belum ada."
Seokjin tersenyum. "Sebaiknya kau tidur juga. Kau terlihat lelah. Aku akan membangunkan kalian saat jam makan malam."
"Terimakasih Seokjin hyung."
Seokjin melangkah keluar meninggalkan kamar Taehyung berpikir jika Taehyung pergi sudah membuat suasana hatinya buruk. "Aku berpapasan dengan sopir Jungkook tadi, mereka ke sini? Tidak jadi ke apartemen?"
Seokjin mengangkat wajahnya dan mendapati Namjoon masih dalam balutan jas kerjanya. "Kau sudah pulang?" Seokjin berjalan mendekati Namjoon, kedua tangannya bergerak ke atas melonggarkan dasi Namjoon.
"Ada masalah apa?" Namjoon menghentikan gerakan kedua tangan Seokjin.
"Taehyung…,"
"Ada apa dengan Taehyung?"
"Dia tidak tahan dengan semua pemberitaan dan ingin tinggal jauh dariku, bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi? Kami tidak pernah berpisah, aku tidak bisa—aku tidak bisa membayangkan tinggal jauh dari Taehyung."
"Kita akan membicarakannya dengan Jungkook dan Taehyung, kita akan mendapatkan penyelesaian yang terbaik. Aku janji." Namjoon menghapus air mata yang lolos dari kedua mata indah Seokjin.
"Kau janji?"
"Aku janji." Gumam Namjoon lalu memeluk Seokjin erat.
.
.
.
"Jungkook!" Taehyung berteriak dengan keras memanggil nama sang suami.
BRAK!
Suara pintu kamar mandi terbuka kasar, membentur dinding. Jungkook berlari keluar dari kamar mandi tergopoh-gopoh sambil berusaha mengikatkan tali jubah mandinya. "Tae! Apa kau terjatuh?! Bagian mana yang sakit?! Apa kau berdarah?!"
Kedua mata Taehyung menatap tajam layar laptop di hadapannya. Dia sedang memikirkan sesuatu dengan sangat serius. Tidak peduli dengan kecemasan Jungkook. "Aku harus mendapatkan album ini, Jungkook lihat. Kau fans BigBang aku yakin itu, kita harus mendapatkan album ini beserta tanda tangan seluruh anggota BigBang."
"A—Apa?" Jungkook tidak percaya dengan semua kalimat Taehyung. "Apa yang kau katakan tadi?"
"BigBang Made full album. Kita harus mendapatkannya, aku menginginkannya. Apa masih kurang jelas?!"
"Ah iya, BigBang Made full album."
"Bagus, dengan tambahan?"
"Tambahan tanda tangan seluruh anggota. Ya, aku mendengarnya dengan jelas."
"Kau bisa mendapatkannya?"
Jungkook tersenyum. "Tentu saja aku akan mendapatkannya, apa ada hal lain yang kau butuhkan?"
"Tidak."
"Aku kembali ke kamar mandi."
"Hmm." Taehyung bergumam kemudian kembali sibuk dengan laptopnya.
"Jika membutuhkan hal lain tinggal teriak saja."
"Ya." Jawab Taehyung singkat. Jungkook memerhatikan Taehyung selama beberapa detik sebelum memutuskan untuk kembali ke kamar mandi.
"Tae?"
Taehyung tersenyum melihat wajah Seokjin yang menyembul dari balik pintu kamar. "Masuklah Hyung."
Seokjin tersenyum sembari melangkah masuk dan duduk di pinggir ranjang bersama Taehyung. "Melihat apa?"
"Album BigBang, Seokjin hyung mau? Jungkook akan mendapatkannya."
"Ya aku menginginkannya. Makan malam siap, kau sudah mandi?" Taehyung menggeleng pelan. "Dasar pemalas!" gemas Seokjin sambil menarik ujung hidung Taehyung membuat sang adik tertawa. "Tae." Lalu tatapan Seokjin berubah sendu, ia lepaskan tarikannya pada hidung Taehyung.
"Ada apa Seokjin hyung? Wajah Hyung terlihat sedih?" Taehyung bertanya disertai tatapan kecemasan.
"Kau akan tinggal di Negara lain?"
Dengan semua tekanan dari para pencari berita, dan semua gosip-gosip murahan itu rasanya mudah untuk menjawab pertanyaan Seokjin. Tapi kedua mata Seokjin yang berkaca-kaca membuat Taehyung tidak tega. "Aku tidak akan meninggalkan Seokjin hyung."
"Aku tidak ingin menjadi alasan untuk menahanmu, jika kau benar-benar ingin pergi."
Taehyung langsung memeluk leher Seokjin. "Aku tidak akan tinggal jauh dari Seokjin hyung."
Seokjin tersenyum sambil mengusap punggung Taehyung pelan. "Itu melegakan Tae."
TBC
Terimakasih untuk semua pembaca, terimakasih review kalian babytae jeon, HelloLSn, juney532, jieontiara, Sity JoyRise, tsukitsukii, Ismafebry, Akatsuki, taennie, Aya, MinReri Kujyou, Lvdhani, Tamu, pxxjm0809, rahma12desti, VampireDPS, bangtaninmylove, athensvt, Strawbaekberry, ParkceyePark, Nam0SuPD, jeontaehyung7, Kyunie, Park RinHyun Uchiha, vivikim406, Albus Convallaria majalis, broke lukas, GaemGyu92, yoongiesugar. Sampai jumpa di chapter selanjutnya, gak akan lama lagi jadi bersabar ya para pembaca bentar lagi end. Tahan dulu kalo mau muntah saking banyaknya chapter. Bye Bye
