Fate/Abnormal
Pride of Emperor
Haloo! Zhitachi muncul lagi nih!
Sebenarnya target Zhitachi untuk beberapa chapter mendatang akan diperlama lagi, entah kenapa pada chapter 19 dan seterusnya seakan seperti dipercepat. Entahlah, Zhitachi sudah bingung lagi.
Ehem, bagi para Readers yang sedikit kecewa karena heroine utama kita mati, Zhitachi akan sedikit beri kejutan di chapter ini. Seperti apa itu? Langsung kita baca yah...
Sebelum mencapai ke jalan cerita, akan ada beberapa fakta yang Zhitachi jelaskan tentang FF ini...
1. Roh Gilgamesh yang merasuki Taira merupakan Gilgamesh pada era keemasannya.
Kita pernah dikejutkan tentang munculnya Gilgamesh di tubuh Taira. Namun, tahu kah kalian bahwa Gilgamesh yang sempat merasuki Taira merupakan Gilgamesh di era pertamanya loh! Atau secara singkatnya Gilgamesh tersebut merupakan raja yang memimpin rakyatnya dengan kejam.
Kita bisa melihatnya bahwa pandangan Taira Gilgamesh sangat tajam dan terkesan merendahkan, walau ia sedang berhadapan dengan Rider sekalipun. Walau begitu, karena roh tersebut belum sepenuhnya menguasai pikiran Taira (Hanya 30% saja), ia bisa dengan mudah dikeluarkan melalui sugesti.
2. Taira akan terikat kontak dengan Enkidu dan Ea.
Ini masih belum ada pembahasan karena belum ada di chapter sebelumnya. Namun akan ada cerita bahwa Taira akan melakukan kontak dengan Enkidu untuk mengendalikan kekuatan dari Gilgamesh. Setelah itu ia akan menggunakan kekuatan dari raja pahlawan ini untuk mengendalikan Ea.
3. Tujuan sebenarnya dari Nana Dan.
Sudah disebutkan bahwa Nana Dan berusaha membentuk sebuah peradaban dimana manusia Homunculus akan memimpin dunia ini. namun rencana itu gagal ketika Diana membunuhnya.
4. Ikatan takdir antara Nana Dan, Fujimaru Karin, dan Diana Winterluck.
Zhitachi tidak akan menjelaskannya secara rinci karena ini bakal menjadi spoiler untuk cerita baru Zhitachi. Jadi Zhitachi kasih info sedikit yah. Ehem, mereka bertiga terlibat langsung dalam perang HGW di Sumeria. Ada alasan lain kenapa Nana Dan mengikuti perang ini karena tidak lain untuk mendapatkan kitab pusaka yang dimiliki keluarga Einzbern (Di chapter 19, Nana Dan mengatakan bahwa ia sudah mempelajari kitab tersebut).
Sepertinya itu dulu yang Zhitachi sampaikan, untuk fakta selanjutnya bisa dijelaskan di chapter depan...
Pada Chapter sebelumnya, Rider memanggil Noble Phantasm nya ke tanah Adachi. Memunculkan dua piramid besar dengan ribuan Sphnix keluar dari celah pintu piramid. Di waktu yang sama, Dan memberi perintah terakhir sesaat ketika ia terbunuh oleh Diana dengan memberi perintah untuk membangkitkan sekali lagi Noble Phantasm Rider, sehingga muncul satu piramid lagi dari atas langit. Melihat hal itu, Diana memerintahkan Lancer untuk melesatkan Gae Bolg ke Rider. Walau Rider sudah menghilang, namun Noble Phantasm nya masih tetap ada. Karin muncul ketika Taira hendak di serang oleh Sphinix. Secara menduga Taira terbunuh tepat di hadapannya ketika sebuah laser mengarah ke dada Taira, cerita pun berlanjut...
And so, daripada kelamaan mending langsung baca aja yah...
Disclaimer: Type-Moon, Ufotable, Delight Work Inc.
Genre: History, Supranatural, Tragedy, Action.
Character: All Classes Servant, OC, Chara in Fate Stay Night UBW.
Rate: T+ up to M.
Song : Kyoumei no True Force (OP) and Edelweiss (ED).
Sinopsis: Kekacauan Grail Wars kelima telah selesai secara tidak terduga, membuat Emiya Shiro menjadi bintang utama dalam Grail Wars ini. 5 tahun kemudian, keluarga Satou masih tidak menerima kekalahan telak pada Grail Wars sebelumnya dan bertekad mendatangkan kembali perang tersebut. Tanpa ada bimbingan pengatur perang, Grail Wars keenam menjadi tidak seimbang, sehingga tragedi 5 tahun yang lalu kembali terulang, di waktu yang sama, namun di tempat berbeda. Siapakah yang mampu menghentikan kekacauan Grail Wars kali ini?.
*A/N: Cerita ini Zhitachi ambil dari alur sesudah Emiya Shiro menyelesaikan sekolah sihirnya di inggris bersama Rin Tohsaka. Untuk lagu bisa Readers cek di chapter sebelumnya*.
~Not Like, Don't Read~
Chapter Twenty One: Endless Despair and Hope.
Karin melangkah pelan sembari melihat Taira dengan tatapan kosong.
*Tap! Tap! Tap!*.
*Tap!*.
Langkahnya terhenti ketika ia berdiri di depan Taira. Kedua pupil matanya nampak sudah kosong, tidak ada cahaya maupun pancaran tatapan dari mata itu. Hanya kekosongan dan kehampaan yang terlukis.
Ia melihat Taira tengah terbaring dengan mata masih terbuka, ia tidak melihat gerakan dada Taira sedang bernafas, bahkan tidak merasakan sedikitpun aura kehidupan darinya.
"Taira-chan" Panggil pelan ke arah Taira, namun tidak ada jawaban.
"Taira... Taira... Taira?".
Karin terus menerus memanggil nama adiknya, namun tidak ada jawaban. Pupil matanya semakin kelam.
"Taira-Taira-Taira-Taira-Taira!".
Kali ini ia memanggilnya dengan nada sedikit keras, namun sama saja, tetap tidak ada jawaban.
"TAIRA ! ! ! ".
Karin berteriak keras ke arah udara, menimbulkan ledakan udara di sekitar dirinya.
*Set!*.
Karin sedikit membungkukkan tubuhnya, ia memanggil puluhan portal biru dari belakang tubuh, memanggil puluhan senjata transparan. Kedua tangannya membuat pedang secara paksa.
"HUAAAAA!".
*Wush!*.
Karin melesat ke arah Sphinix dengan kecepatan tinggi, meninggalkan lesatan angin yang kuat.
*Set!*.
Ia sudah berada di udara, tempat para Sphnix tengah terbang. Beberapa Sphnix menoleh ke arah Karin dan terbang mengarah kepadanya.
Karin melebarkan sekali matanya, dua tombak besar menancap di bawah salah satu tubuh Sphnix. Tidak menunggu lama ia melakukan dua tebasan dari arah depan.
*Slash! Slash!*.
*Wush!*.
"HIAA!".
Karin muncul di belakang tubuh Sphnix yang tertebas itu, melakukan tebasan lagi dari arah tersebut.
Ia menghilang lagi, kini muncul di samping kanan, melakukan tebasan lalu menghilang lagi.
Karin melakukan itu dengan timing loop sebanyak 7 kali, membuat monster tersebut benar-benar sudah mati oleh tebasannya sendiri.
*Set!*.
Karin membuang sepasang pedang yang sudah rusak ke tanah, ia mengambil sepasang pedang lain yang berada di portal. Ia melesat ke arah Sphnix dan melakukan tebasan tanpa henti.
*Set! Slash! Set! Slash! Set! Slash!*.
*Set!*.
*Slash! Slash! Slash!*.
Tidak disadari olehnya, kedua mata Karin meneteskan darah dan terus mengalir ke bawah. Ia terus melakukan tebasan demi tebasan walau matanya sudah mengeluarkan darah.
Ketika pedangnya sudah tumpul, ia akan membuangnya dan mengambil yang baru. Karin melakukan hal itu dalam rentan waktu cukup singkat dan terus mengulangnya.
Sphnix yang mengincar bagian terlemah Karin justru terkena jebakan lesatan senjata dari portal Karin. Ia memasang secara otomatis kekuatan itu jika pelindungan terlemahnya di serang.
Ketika tubuhnya sudah terluka, ia akan melakukan regenerasi dan memperbaiki sel yang rusak secara cepat, bahkan hampir seperti mendekati kutukan.
Dalam mode seperti itu, sangat mustahil untuk membunuh Karin. Bahkan menyentuhnya saja sama halnya kematian.
Karena terlalu lama, Karin memanggil ratusan portal dan melesatkan seluruh senjatanya ke puluhan Sphnix yang berada di udara. Walau begitu, serangan tersebut seakan seperti tidak mengurangi jumlah mereka.
Setiap kali mereka dibantai, para Sphnix baru akan muncul dari dua piramid. Hal itu akan terus terjadi selama piramid itu masih ada.
Karin bernafas terengah-engah ketika satu jam melawan para Sphnix. Seluruh pori di kulitnya mengeluarkan darah, hampir seperti sekujur tubuhnya dipenuhi oleh darahnya sendiri.
Walau begitu, ia masih berdiri tegak sembari mengendalikan keberadaan portalnya.
"Aku akan mengorbankan semuanya!".
*Wung!*.
Kali ini ribuan portal muncul di belakang Karin, menghiasi langit malam dengan warna biru dari portal. Seluruh Sphnix terbang ke arahnya secara bersamaan.
"HUAAAA!".
Karin melesat ke arah kerumunan Sphinix usai mengambil sepasang pedang.
Di tempat lain, Diana melihat gumpalan biru kecil yang ada di langit dari tempatnya berdiri. Ia merasa hatinya sangat sakit.
Ia merasa seperti tengah tersiksa perasaannya. Rasa sakit yang belum ia rasakan seperti tengah menggerogoti dadanya.
"Apa kau akan berbuat sampai seperti itu, Senpai".
"HUAAAA!".
Karin menghempaskan tangan kanannya ke belakang, menggerakkan seratus senjata di portal, melesatkannya seakan seperti peluru.
*Wush! Jleb! Jleb! Jleb!*.
Puluhan bahkan hampir ratusan Sphinx tumbang di bawah tombak dan pedang Karin. Belum sampai di situ, Karin memerintahkan ratusan portal untuk memuntahkan kembali segala hal yang ada di dalam brangkas ilusi.
Air mata darah terus mengalir di pipi Karin, pori-pori kulit kini terbuka dengan mengeluarkan darah. Keringat panas seakan tengah membakar kulitnya telah ia rasakan.
Rasa sakit yang sebenarnya tidak ia rasakan sekarang masih belum apa-apa daripada perasaan hatinya setelah kehilangan Taira untuk kedua kali. Pengorbanan tanpa batas yang sudah ia berikan kepada Cawan seakan seperti kutukan baginya. Harapan kecil bernama keinginan hanya akan membawanya menuju kegilaan. Semua pengorbanan itu seakan sia-sia ketika Taira mati di hadapan dirinya. Ia seperti orang terkuat namun tidak mampu menyelamatkan satupun orang yang ia sayangi, walau dia sudah memiliki kekuatan sehebat ini.
Jiwanya sudah hilang, bahkan untuk satu inci di jarinya belum cukup untuk menghitung jumlah kapasitas jiwa yang ia miliki. Perasaannya sudah tumpul, tidak menginginkan apapun selain menghancurkan dunia ini. Kali ini ia benar-benar dikecewakan oleh dunia ini, seakan seperti mengutuknya.
Cahaya yang telah menyinarinya selama 10 tahun sudah hilang dari hatinya, sosok yang menuntun dirinya menuju kebahagiaan telah sirna. Dirinya seperti boneka mati yang telah dibuang, tidak ada yang memungutnya karena sudah tidak memiliki arti lagi.
Andai diriku berani jujur kepada dirinya, maka aku tidak merasa beban itu seberat ini. Jika saja aku melarangnya mengikuti perang ini, mungkin ia sudah hidup bahagia denganku.
"HUAA!".
Karin melesatkan ratusan senjata ke Sphinx, meruntuhkan formasi mereka dan membuatnya terbang tak tentu arah.
Kekuatan yang aku miliki seperti memperkuat kutukanku, hidup damai seperti memaksaku untuk tinggal di dasar neraka bersama dosaku.
*Wush! Jleb! Jleb! Jleb!*.
*Set!*.
"HIIAA!".
*Slash!*.
Karin melesat usai melesatkan beberapa senjata, menebas satu Sphnix yang tengah terdiam karena terhalau oleh 7 tombak menancap di tubuh.
Apakah ini balasan atas keserakahanku, tuhan! Apa kau akan mengambil segalanya lagi ketika diriku telah bahagia! Jawab aku!.
Seekor Sphinx datang dari atas dirinya dan menghempaskan Karin ke bawah. Ia sempat terombang-ambing di udara untuk sesaat, mengembalikan posisinya menjadi semula dan kembali melesat.
Jika kau menjawab pernyataanku dengan kata tidak berguna, aku bersumpah akan menjatuhkanmu dari tahta langit dan membawa kalian bersujud di kaki keadilan! Aku tidak peduli lagi dengan kutukan, dosa, dan penyesalan. Penyesalanku sudah menghilang bersama kebahagiaanku! Hidup dan dosaku sudah ada semenjak keserakahan atas egoku menjadi kutukan. Apa yang aku harapkan dari tubuh yang sudah hancur ini?.
*Slash!*.
Karin melakukan lesatan tebas satu kali, namun dampak serangannya berjumlah empat kali sayatan kepada Sphinix.
Karin menggigit kedua gignya dengan kuat, perasaan yang telah lama menumpuk seakan turun membanjiri amarahnya.
"HUAAAA!".
Ia berteriak menghadap ke langit, perasaan ini seperti berkejolak di tubuhnya, memaksanya ingin keluar secara penuh. Teriakan keras nan bergema membuat para Sphinx juga ikut berteriak, memberi respon seakan tengah bertarung argumen.
Aku hanya ingin satu... Satu saja, tidak lebih dari itu... Jika kau sosok yang menciptakanku dari tanah, berikan aku kekuatan untuk merubah kesalahanku.
"TA... IRA!" Ucapnya perlahan disaat ia berteriak.
~ZHITACHI~
Sementara itu...
Taira membuka matanya secara mendadak, ia mengubah posisinya yang semula terlentang menjadi duduk. Wajahnya menoleh ke arah samping kanan dan diteruskan ke arah kiri, mencoba untuk memahami kenapa dia ada di sini.
Ia dikelilingi oleh dunia yang serba putih, tidak ada apapun selain langit dan tanah berpasir berwarna putih di sini.
Tangannya beralih ke arah dada, ia yakin bahwa dadanya telah terkena laser oleh Sphinx. Ia menduga bahwa dirinya sudah mati dan sedang berada di dunia para arwah berkumpul. Namun sekarang, dadanya kembali seperti semula. Tidak ada lubang maupun luka, justru itu aneh, bukan?.
Jika benar, kenapa hanya dia saja yang ada di tempat ini?.
Pertanyaan selanjutnya adalah dimana Karin dan Saber berada? Ia tahu bahwa sebelum dirinya tertembak, ia masih sempat bertemu dengan mereka berdua. Bertarung bersama Saber untuk mengalahkan Sphinx, bertemu dengan Karin ketika dirinya diselamatkan dari serangan Sphinx.
Namun sekarang, tidak ada siapapun selain ia sendiri.
"Dimana aku?".
*Wush!*.
Tiupan angin yang sedikit kencang tertiup ini dari arah kirinya. Jauh dari sana ada tempat atau dunia yang berbeda dengan tempat ini. Terlukis dengan warna darah di atas langitnya, tempat itu seakan menjadi pertanyaan lain buat Taira. Angin ini seperti mengajaknya untuk mendatangi tempat itu.
"Kenapa di sana seperti berbeda?".
*Set!*.
Taira berdiri dari posisi duduk dan melangkah pelan ke tempat tersebut.
Zouken tengah berdiri di depan gerbang sembari memandangi dua piramid yang tengah berdiri di kota Adachi. Ia tersenyum iblis ke arah tersebut.
"Lakukan tugasmu, Assasin".
"Baik".
*Wush!*.
Assasin segera pergi untuk melanjutkan rencana.
Dari kejauhan ada seseorang tengah bersandar di persimpangan tak jauh dari posisi Zouken berada. Orang tersebut tidak menampilkan wajah karena tertutup bayangan tembok dan memakai penutup jaket di kepala.
Orang itu tersebut tersenyum misterius kemudian pergi menjauhi persimpangan jalan.
*Set!*.
Archer mendarat di reruntuhan gedung bersama Machi saat tengah diangkat Bridal Style. Ia menurunkan Machi usai mencari tempat yang datar.
"Di-Dimana Taira-kun?".
"Aku juga tidak tahu".
Machi melihat Saber tengah duduk bersama Taira yang tengah tertidur di pangkuannya. Machi segera melangkah mendekati Saber.
Archer tahu bahwa ada yang tidak beres dengan keadaan Taira. Kenapa disaat seperti ini Taira tertidur di pangkuan Saber selain... terluka?.
Ia mempertajam tatapannya, kali ini ia menoleh ke wajah Saber. Tatapan dari Saber seakan seperti kosong, menandakan tengah mengalami gangguan mental.
'Apa yang sebenarnya terjadi di sini?'.
*Wush!*.
Ia menoleh ke arah atas ketika sesuatu tengah jatuh ke bawah.
"MASTER!".
*Set!*.
Archer segera melesat sebelum Machi sempat menoleh, ia menangkap tubuh Machi dan segera menjauhi tempat tersebut.
*Dum!*.
Satu Sphinx jatuh di posisi Machi berdiri sebelumnya, lengkap dengan puluhan tombak menancap di tubuh Sphinx tersebut.
Machi dan Archer menoleh ke arah atas, ia melihat seperti lesatan cahaya tengah mengarah ke Sphinx yang ada di udara.
"Si-Siapa yang ada d-di atas, A-Archer?".
Archer mempertajam penglihatannya,
"Itu... Karin-dono".
Karin berdiri di udara sembari bernafas berat, di lengan kiri belakangnya tepatnya di sayap belakang telah tumbuh sebuah besi perak berbentuk aneh seakan seperti sayap yang terbuat dari besi. Di dekat mata kanannya terdapat besi kecil berbentuk bulan sabit perak melingkar di samping kanan. Beberapa pola ukiran bergaris berwarna merah kini ada di tubuh Karin dari lengan, merambat ke leher dan berakhir melewati dahinya. Matanya berubah menjadi merah kekuningan.
"Kikislah tubuhku! Aku tidak peduli jika tubuh ini menjadi seorang Servant! Akan kulenyapkan para biadap ini ke ujung neraka!".
Karin menghempaskan lagi tangan kanannya, memunculkan ratusan senjata dari portal dan melesatkannya.
Archer terkejut merasakan kekuatan dari Karin, ia yakin kekuatan dari Karin sekarang sudah mendekati seorang Servant. Terlebih lagi kekuatan misterius yang mampu menyembuhkan luka parah bahkan mendekati kematian dalam sekejap sudah membuatnya yakin bahwa kekuatan tersebut bukan dari tubuhnya melainkan dari hal lain, singkatnya kekuatan itu seperti milik seorang Servant.
Jika ia memiliki kekuatan mata yang mampu melihat misteri, ia yakin bisa membaca kekuatan sebenarnya dari Karin. Hal semacam itu jelas tidak ada di kehidupannya, ia hanya bisa membaca pergerakan lawan, kekuatan, dan strategi lawan dengan berdasarkan insting.
Ia sempat menoleh ke arah piramid yang menjulur ke atas, beberapa pintu terbuka dengan Sphinx keluar dari pintu tersebut, terbang ke udara dan mengarah ke Karin.
Jika seperti ini terus, perjuangan Karin akan sangat sia-sia. Ia sudah mengeluarkan kekuatan yang ia miliki untuk melenyapkan para Sphinx, namun monster tersebut justru terus-menerus tambah. Mungkin jika kedua piramid itu dihancurkan maka kemunculan dari Sphnix akan terhenti. Yang artinya, hanya seorang Servant yang memiliki kekuatan harta mulia dengan kelas Anti-Fortress.
Lalu, siapa yang memiliki kekuatan sekuat Anti-Fortress itu?.
Sementara itu...
*Set!*.
Taira kini berada di dunia berwarna serba merah. Tempat sebelumnya terlukis berwarna putih polos, namun kini di tempat ini hanya ada warna merah. Dunia putih itu masih terlihat dari posisi ia berdiri, walau tempat ini hanya beberapa saja yang berwarna merah.
Langkahnya masih terus berjalan seakan seperti mengajaknya melangkah. Ia seperti mendengar suara yang tengah memanggil namanya.
Langkah kakinya terhenti ketika melihat sebuah pedang berbentuk aneh tengah terikat rantai emas di atas sebuah batu berukuran sedang.
"Akhirnya kau datang juga" Kali ini suara tersebut nampak jelas seperti keluar dari pedang aneh itu.
"Apa kau yang memanggilku?" Tanya Taira ke arah pedang tersebut.
"Kau benar, aku yang selama ini terus memanggil namamu".
"Kenapa kau memanggilku ke tempat seperti ini, apa ada hal yang kau perlukan denganku?".
"Sebenarnya ini bukan keperluan namun sebuah penawaran".
"Penawaran?".
Suara tersebut tidak terdengar untuk beberapa saat,
"Apa kau tidak merasa bahwa dirimu sudah mati?".
Taira terkejut mendengarnya,
"Aku... Sudah mati?".
"Serangan waktu lalu telah menghancurkan jantung yang kau miliki dan membunuhmu seketika".
Taira menoleh ke arah bawah sekali,
"Kau benar, aku memang terkena serangan tersebut. Namun, aku merasa seperti belum mati".
"Huahaha! Kau mengatakan bahwa dirimu di tempat ini masih hidup? Kau memang orang menarik seperti yang ia katakan".
"Apa maksudmu?".
"Lupakan, kali ini aku ingin menawarkan sebuah tawaran khusus untukmu".
"Apa itu?".
"Aku akan menghidupkan dirimu dan memberimu kekuatan dari Age of God, membuatmu sepadan dengan para dewa. Namun, akan ada bayaran untuk kekuatan ini".
Taira terdiam sesaat,
"Bagaimana jika aku menolak?".
Suasana menjadi sunyi untuk beberapa saat,
"Apa boleh buat, lihatlah sendiri".
*Wush!*.
Suasana tempat berubah menjadi ruang hologram, menampilkan Karin tengah melawan para Sphinx dengan nafas terengah-engah, melihat Saber tengah menjaga tubuhnya dengan tatapan kosong.
Ia lebih terkejut ketika melihat tubuh Karin terluka akibat penggunaan kekuatan yang berlebihan.
"Nee-san".
*Wush!*.
Suasana menjadi seperti semula,
"Jadi? Apa jawabanmu?".
Taira masih terdiam untuk memikirkan tawaran tersebut. Ia masih belum tahu dampak dari kekuatan yang akan ia dapatkan. Namun, jika ia menolak sama saja membiarkan kakaknya mati oleh para Sphinx. Belum lagi seluruh penduduk kota Adachi dan kota di sekitarnya akan menjadi target selanjutnya oleh monster Sphinx.
"Apa bayaran untuk kekuatan itu?".
"Aku akan menyegel seluruh tubuh intimu ke dalam dunia pararel, menciptakan replika lain tubuhmu dan membuatnya menjadi seorang manusia yang memiliki jalur penghubung khsusus antar kekuatan para dewa".
"Hanya itu? Berarti, walau aku menggunakan kekuatan yang berasal dari dirimu, aku masih hidup?".
"Ya, kau masih hidup, namun hanya dengan tubuh palsumu. Tubuh aslimu akan tetap tersegel di dunia pararel untuk selamanya, aku akan memisahkan ingatanmu dari tubuh asli ke tubuh replika".
Taira terkejut mendengarnya, ia mempertajam pandangannya.
"Apa yang akan terjadi dengan tubuh palsu itu jika terluka?".
"Sama halnya seperti manusia biasa, kau akan mati jika terluka parah. Hal ini juga akan berdampak ke tubuh aslimu di dunia pararel. Namun, kau akan kembali sembuh jika organ inti tidak hancur atau rusak".
Taira terdiam usai mendengar ucapan tersebut, ia menggenggam telapak tangan kanan dengan erat. Mengambil keputusan seperti ini tanpa perencanaan sama saja tindakan bodoh.
Namun, jika ia tidak mengambil jalan ini, akan banyak orang yang terbunuh oleh Sphinx. Mungkin ini jalan terbaik untuk mengalahkan monster itu beserta tempat habitatnya.
"Baiklah, aku menerima tawaranmu".
"Kalau begitu kemarilah! Tarik gagang pedang ini maka kau akan mendapatkan kekuatan itu".
Taira melangkah ke arah pedang tersebut.
*Set!*.
Taira berdiri di atas gagang pedang tersebut, menggerakkan kedua telapak tangan dan memegang gagang pedang.
"Ingatlah, setiap kau menggunakan kekuatan ini, kau akan kehilangan hal yang ada di tubuhmu sebagai bayaran. Entah itu perasaan, rasa sakit, darah, bahkan kematianmu. Kau akan mengorbankan segalanya yang kau punya".
Taira melebarkan pupil mata,
"Segalanya?".
Terlintas di ingatannya tentang kakaknya yang tengah tersenyum ke arahnya, bercanda gurau, menemaninya saat sedang sakit ataupun di waktu senggang. Ingatannya beralih ke dapur dimana dirinya dibantu oleh Machi ketika memasak, berangkat bersama ke sekolah, duduk di atap berdua, dan saling membantu membersihkan dojo. Ingatannya berganti ketika ia pertama kali bertemu dengan Saber. Melihatnya bertaruh nyawa hanya karena tubuhnya yang lemah, tersenyum lembut nan indah kepada dirinya yang lemah. Ia seperti tidak peduli orang yang ada di depannya itu lemah atau kuat.
Jika ia menarik pedang ini, maka ia akan mengorbankan semua kebahagiaan itu. Hanya untuk kekuatan ini ia tidak menyangka bahwa pengorbanan tersebut terlalu beresiko.
Ia mungkin tahu alasan kenapa kakaknya mampu mengarahkan Rider dan membelah sungai Shima. Ia pasti sudah mengorbankan hal yang berharga untuk mendapatkan kekuatan semacam itu.
Dirinya tidak ingin kakaknya merasakan penderitaan yang selalu ia sembunyikan melalui senyuman. Taira ingin menghilangkan pengorbanan tanpa batas tersebut dengan kekuatannya sendiri. Kali ini adalah tugas seorang adik untuk membimbing kakaknya.
"Aku tidak peduli, selama ini bisa menyelamatkan banyak orang, aku akan menanggungnya".
"Heh! Kau memiliki nyali yang kuat, tapi aku tidak menertawakannya... Kemarilah! Tariklah aku dan bawahlah kedamaian yang kau bicarakan itu".
*Set!*.
Taira menarik perlahan pedang yang terlapisi emas berbentuk gelombang yang ada di bagian depan gagang.
*Trang!*.
Satu rantai yang mengikat pedang tersebut telah putus, beberapa ranta juga ikut demikian.
"HIAA!".
Taira menarik pedang itu sekuat tenaga, membuat pedang tersebut terangkat dari batu.
*Set!*.
Taira mengangkat pedang tersebut ke udara, seberkas cahaya perlahan berjalan ke tubuh Taira dari lubang batu yang sebelumnya tempat tertancapnya pedang. Ia memejamkan mata sembari merasakan sebuah kekuatan tengah masuk ke dalam tubuhnya.
Serpihan cahaya perlahan membentuk sebuah replika aneh di kakinya, sesaat kemudian menjadi pecah dan menampilkan sepasang jirah emas dari sepatu sampai ke siku.
Kali ini serpihan cahaya merambat ke pinggang. Sama seperti sebelumnya, serpihan tersebut membentuk sebuah bentuk aneh kemudian pecah dan menampilkan armor emas yang menutupi pinggang sampai ke paha. Ada beberapa kain merah di sepasang samping pinggangnya.
Serpihan cahaya berjalan ke dada kiri dan membentuk sebuah armor yang menutupi dada tersebut. Di lengan kiri bagian atas juga terbentuk sebuah armor berukuran lebih besar dari armor dada dengan warna emas.
Kini serpihan emas berjalan ke tangan kanan dan membentuk sebuah sarung tangan hitam dengan dilapisi armor emas di ujung atasnya. Beberapa pola ukiran bergaris berwarna merah muncul di sekitar dada depan dan belakang Taira, berjalan ke perut lalu merambat menuju ke kedua lengan dan berakhir di pangkal dagu.
Ia membuka kedua matanya, menampilkan pupil merah di mata kanan dan biru di mata kiri. Dunia merah perlahan bergetar dan terkikis.
Di dunia nyata tubuh Taira terangkat ke udara dan mengeluarkan cahaya emas, membuat Saber terkejut sembari menutup matanya.
*Wush!*.
*Dum!*.
Karin terhempas ke tanah usai melesat dengan kecepatan tinggi.
"Ukh!".
*Set!*.
Karin mencoba untuk berdiri walau tubuhnya sudah sangat lemah, kedua matanya sempat menoleh ke tubuh Taira yang tengah mengambang di udara sembari mengeluarkan cahaya.
"Ta... ira?".
*Sring!*.
Cahaya emas semakin menyilaukan, membuat seperti sebuah matahari yang tengah menyinari malam.
Sebuah bola berukuran besar bercahaya perlahan turun ke tanah, sebuah kaki kanan dengan dilapisi armor emas keluar dari cahaya tersebut. Perlahan demi perlahan menampil sosok seorang pemuda bertelanjang dada dengan memegang pedang berbentuk aneh.
*Tap! Tap!*.
Kedua langkahnya telah menyentuh tanah, ia menghempaskan pedang tersebut ke samping, membuat bola emas yang ada di belakang dirinya menghilang.
Ia menoleh ke arah Saber yang tengah terkejut, ia tersenyum ke arahnya dengan lembut.
"Maaf sudah membuatmu lama, Saber".
"Ma-Master?" Ucap Saber disaat terkejut, ia perlahan kembali sadar.
"MASTER!".
*Set!*.
*Pluk!*.
Saber segera berdiri dan langsung memeluk erat Taira. Taira yang terkejut segera membalas pelukan tersebut menggunakan tangan kiri.
"MASTER! MASTER! MASTER!" Panggil keras Saber ke arah Taira dengan nada tangis dan bahagia.
"Iya-Iya, aku ada di sini".
*Tap! Tap!*.
Karin berjalan dua langkah dengan pincang, ia menoleh ke arah Taira dengan tatapan terkejut.
"Taira... Masih hidup... Tairaku... Taira!".
*Deg!*.
*Set!*.
*Bruk!*.
Ia merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa di tubuhnya, membuatnya terjatuh ke tanah. Ia mencoba mengangkat wajahnya ke depan.
"Taira!".
*Graw!*.
Teriakan keras dari beberapa Sphinx tengah terbang ke arah Taira. Taira melepaskan pelukan dan menoleh kembali ke arah atas, ia memajukan tangan kirinya ke atas.
"Diamlah kau di sana!".
*Wush!*.
*Jleb! Jleb!*.
Sphnix mendadak berhenti terbang ketika dua tombak keluar dari portal emas yang muncul di samping tubuh Sphinx. Bukan hanya Sphinx tersebut yang terluka, melainkan seluruh monster Sphinx yang ada di udara juga terkena serangan tersebut.
Taira menoleh ke arah Karin ketika seekor Sphinx hendak membunuhnya ketika ia tengah terbaring tidak berdaya.
*Wush!*.
*Duak!*.
Taira muncul di samping Sphnix dan menendang wajah monster itu dengan kuat, memaksanya terhempas ke arah samping dengan kuat.
"Hia!".
*Jleb! Jleb!*.
Dua tombak menembus jantung Sphinx itu dan membuatnya mati. Taira segera membawa Karin ke tempat aman.
*Set!*.
*Tap!*.
*Set!*.
Taira menaruh Karin di samping Saber, Ia mengubah posisinya kembali menjadi berdiri.
"Kali ini aku akan melindungimu, Nee-san".
"Tai-ra".
*Set!*.
*Tap! Tap! Tap!*.
Taira berbalik arah dan berjalan menjauhi Karin dan Saber. Pedang tumpul yang ia pegang perlahan berputar dengan bagian lain berputar tidak sama arah.
"Aku akan menghentikan kekacauan ini menggunakan kekuatanku!".
*Tap!*.
Ia berhenti tak lama kemudian, Taira memasang tatapan tajam ke arah piramid.
"Aku akan membawa kembali peninggalan itu ke makamnya...".
Taira mengangkat pedang tersebut ke udara, udara dan tekanan perlahan menjadi tidak beraturan. Beberapa ruang diskorsi muncul di sekitar pedang tersebut.
"... Bersama dengan perang ini!".
~TBC~
Akhirnya! Untuk chapter selanjutnya merupakan chapter terakhir untuk cerita ini. Para Readers jangan bersedih karena di chapter tersebut akan ada kejutan yang menanti. Perang Cawan kali ini tidak akan berakhir begitu saja, masih ada beberapa skema kosong yang mungkin akan diceritakan pada chapter selanjutnya atau di FF baru.
Ehem, akhirnya Taira telah kembali dengan satu set kekuatan dari raja pahlawan atas bantuan pedang Ea. Apakah kekuatan yang ia dapatkan itu terbatas, ataukah akan sama seperti di era keemasaan dari raja pahlawan itu sendiri?.
Untuk itu jangan lewatkan terus cerita milik Zhitachi ini yah...
Oke, mungkin itu saja yang Zhitachi sampaikan, sampai jumpa di minggu depan...
*Kritik dan Review dari Reader sekalian akan sangat memotivasi Zhitachi untuk menjadi lebih baik*.
