Disc: Highschool DxD bukan punya saya

Author: Ikki

Rating: K+

Chapter 21 Awal kekacauan di Roma

Ketika kami sampai di Roma, kami melihat sesosok yang tak asing bagi kami. Dengan cepat Saji berkata.

"Bukankah itu Irina teman dari Xenovia."

Saat ia mengatakan hal itu Irina sedang menyuruh beberapa pekerja, mengangkat barang yang terselimutkan kain putih.

"Bagaimana Ikki apa kita harus menghampirinya dan berbicara."

"Aku sih ikut denganmu saja, 'Saji"

"Baiklah kalau begitu! ayo kita hampiri dia"

Kami pun mendekati irina saat kami dekat dengannengan dia sedang menunjuk beberapa pekerja.

"Hati hati jangan sampai jatuh benda ini adalah artefak berharga yang sudah berusia ratusan tahun."

Irina berkata demikian agar orang yang bertugas membawa benda tersebut lebih berhati-hati. Tapi aku masih penasarasn dengan benda itu, namun kusimpan itu yang penting adalah berbicara dengan Irina dulu. Lalu ketika kami mendekat saji mengambil bagiannya.

"Irina-san apa yang kau lakukan disini?"

Irina menoleh kearah kami dan ia mengencangkan wajahnya ketika melihat kami.

"Kalian berdua sedang apa kalian berada disini?"

"Kami sedang melakukan perjalanan untuk memberikan sebuah surat, kepada pimpinan malaikat kalau tidak salah namanya Michael."

Irina menyipitkan matanya ketika aku menyebutkan nama Michael, ayolah aku hanya ingin menyerahkan surat ini berlibur sebentar dan besok pulang itu adalah rencanaku.

"Ada urusan apa kalian dengan Michael- sama?"

Saji menjawab pertanyaan yang diajukan oleh irina.

"Kami hanya akan menyerahkan sebuah surat, dan setelah itu kami berlibur lalu besok kami pulang benar kan. 'Ikki?"

Mendengar jawaban Saji aku menganggukan kepala, tanda konfirmasi atas ucapannya. Aku pun menambahkan.

"Surat ini penting jadi harus diserahkan kepada Michael sendiri."

"Hm kalau begitu tunggu saja malam nanti."

Hheeeeehhhh!

"Memangnya kenapa?"

"Karena Michael-sama sekarang sedang mempersiapkan pemberkatan untuk 4 kardinal yang akan dilantik. Juga Beliau sedang mengatur beberapa urusan, jadi kusarankan kau datang saja nanti malam ke Saint Petrus Katedral."

Saint Petrus Katedral bukankah itu adalah gereja terbesar, dan termegah yang ada di Roma dan dunia. Rumornya katedral itu dibangun untuk menghormati muridNya yang paling setia yaitu Rasul Petrus. Tapi pikiranku masih terganggu dengan benda yang sekarang sudah dimasukan kedalam mobil pengangkut, benda apa sebenarnya itu.

Saji langsung menimpali.

"Bagaimana ini Ikki, Michael-sama sepertinya sedang banyak urusan apa kita harus menunggu?"

"Hah! Mau bagaimana lagi karena surat ini tak boleh dititipkan, jadi kita harus menunggu dan datang pada acara tersebut."

"Tapi Ikki disini banyak orang suci, dan kemungkinan dalam acara tersebut terdapat malaikat juga yang hadir, 'bukan?"

Saji temanku satu ini kadang sedikit memiliki kehati-hatian yang tinggi, aku mengerti sekarang kenapa Kaichou merekrutnya menjadi iblis. Dia memiliki naluri alami dan Insting yang tajam.

"Ucapanmu ada benarnya Saji tapi mau bagaimana lagi, kita harus datang kesana. Lagi pula jangan khawatir kita kan diberi gelang penyamar energi oleh Azazel."

Mendengar ucapanku temanku ini tersimpul dan berkata kepadaku.

"Kau benar juga Ikki ,kenapa aku tak kepikiran yah."

Irina yang kami tinggalkan merasa terganggu dan menyela.

"Oi kalian ini! sudah datang kesini tak diundang tapi malah mengabaikanku!"

"Maafkan kami Irina-san!"

Mendapaati kami meminta maaf padanya, dia membusungkan dadanya disertai dengan tangan didepan lalu menggerakan telapaknya kekanan dan kekiri sembari berkata.

"Ya ya karena aku adalah orang yang baik hati aku memakluminya, jika kalian tidak ada urusan sebaiknya cepat kalian pergi!"

Heehh!

Kejamnya apakah begitu yang disebut baik hati, dan lagi kau menganggap hal itu adalah kebaikan hatimu. aku hanya berharap malam cepat datang, dan aku segeran menyerahkan surat ini pada Michael-sama. Setelah itu pulang ke jepang tapi kepalaku juga masih terusik, dengan benda yang berselimutkan kain putih itu.

"Ano Irina-san apa aku boleh bertanya?"

"Tentu saja jika ada yang kau ingin tanyakan silakan!"

"Ano benda yang dibungkus kain besar dan berbentuk salip itu apa?"

Ia seperti sedang berfikir dan menimbang sesuatu. Apa benda seperti itu sangat penting bagi organisasi mereka ya, sampai- sampai memberitahu hal tersebut kepada orang yang bukan anggota seperti kami dilarang. melihat Ia menunjukan sifat khawatir buru-buru aku menyentil

"Kalau perkara tersebut membuatmu tak nyaman, aku tak masalah jika kau tetap tutup mulut."

"Bukan begitu hanya saja benda terebut merupakan benda ynag paling penting bagi gereja, karena hanya benda tersebut dan beberapa artefak lain yang merupakan peninggalan Tuhan. Jadi itu sedikit agak rahasia!"

"Oh jadi begitu rupanya! Tak apa aku tak terganggu akan hal tersebut kok."

"Tapi aku akan memberitahumu."

"Heh?"

"Benda itu adalah Holy Cross Helena. Yang masih berukuran 2 meter."

"Holy Cross Helena? apa benda itu benar bnear ada?"

"Sungguh itu adalah Holy Cross Helena, lagi pula dari tiga benda peningalan Tuhan yang ditemukan oleh Saint Helena. Hanya benda ini yang tersisa dua benda lainnya menghilang tanpa sebab."

Dua benda lainnya berarti saint Helena menemukan tidak hanya Holy Cross tersebut, benar juga dibuku dijelaskan bahwa saint Helena. Menemukan Holy Cross, Holy Robe, dan Holy Nails. Tiga benda tersebut adalah peninggalan Tuhan yang penting selain dari longinus.

Selagi aku berpikir begitu mobil pengangkut tersebut mulai berangkat, menjauhi kami dan sisa panitia menyusul untuk mengiring perjalanan dari Holy Croos menuju saint Petrus Katedral. Disaat itu lah aku baru menyadari kalau Azazel sensei tak memberi kami tiket untuk menginap, jadi kuberanikan diri berbicara pada Irina.

"Ano Irina san boleh kami ikut denganmu?"

"Eh Ikki apa maksud ucapanmu?"

"Saji apa kau dapat tiket menginapa di hotel Roma dari Azazel senei?"

Mendapati pertanyaanku saji melebarkan mata, dan membuka mulutnya lebar seraya berkata.

"Eehhh Shimata kau benar, kita bahkan tidak diberi tempat untuk menginap. Kuso Azazel sensei benar benar keterlaluan, lihat saja nanti kau AZAZEL SNSEIIIIIII!"

Other side

Duduk dengan tenang sesosok pria berponi pirang dikursinya, dan meja didepannya penuh dengan dokumen-dokumen penting yang tertumpuk. Menandakan ia belum menyentuhnya dalam beberapa waktu.

"Fiuh! sialan dokumen ini tidak pernah berkurang sama sekali."

Keluhan keluar dari mulutnya karena mendapati, dokumen yang ada didepannya tidak pernah berkurang malah semakin bertambah. Lalu sesosok pria lain datang sembari membawa setumpuk dokumen lain, membuat sang penerima menekukan wajahnya kembali.

"Ini laporan yang minggu lalu baru selesai direkap. Mattaku! Kalau kau hanya menatap dan tidak menyentuhnya sama sekali, bagaimana kerjaanmu bakal kelar. 'Azazel dono."

Yang diceramahi memasang wajah malas dengan mencolekan jarinya ke telinga, seolah kalimat tersebut selalu dia dengar manakala bertemu dengan orang ini.

"Kau selalu saja menceramahiku seenaknya aku ini adalah pimpinanmu, Baraqiel"

Baraqiel yang mendapat ucapan itu hanya mampu memasang senyum, ketika mendapati jawaban tersebut lalu ia kembali bersua.

"Apa penelitianmu pada bocah itu berhasil?"

"Heh maksudmu Ikki tenang saja anak itu sepertinya menarik, dan lagi Ia menganggapku ayahnya meskipun aku sedikit tidak percaya."

"Oh jadi kau dianggap ayah olehnya, aku tak menyangka hal itu akhirnya datang juga padamu."

"Mah begitulah tapi sepertinya dia menyembunyikan sesuatu, entah apa itu yang pasti kita akan mengetahuinya nanti."

"Menyembunyikan sesuatu apa maksudmu?"

"Ya ini hanya cerita lama saja tak usah kau pikirkan."

Sembari berkata seperti itu Ia memperhatikan mejanya, dan mendapati dua buah kertas bertuliskan nama hotel untuk menginap satu malam. Azazel menarik bibirnya ketika melihat kertas tersebut.

"Ya ampun aku malah membuat mereka, tidur dijalanan Roma malam ini."

Baraqiel kemudian melihat benda ditangannya, dan menyadari arti yang diucapkan oleh pinpinannya

"Haah kau malah menyusahkan mereka, setelah meminta tolong pada mereka kejam sekali kau ini Azazel-dono."

Back to Ikki

Atas permintaan Ikki akhirnya mereka bertiga mengikuti Irina menuju ke tempat tinggalnya, untuk sementara sembari menunggu acara pelantikan 4 kardinal agung dimulai.

"Upacaranya dimulai pada pukul 12 malam tepat, jadi kita punya waktu beberapa jam untuk istirqhat sembari menunggu. Aku akan menyajikan sesuatu tunggu sebentar."

Baik Ikki dan saji hanya memunculkan senyum yang dipaksakan, karena menyusahkan Irina.

"Ano Irina maafkan kami yang malah merepotkanmu."

"Iya itu benar, saat kami kesini kami lupa menanyakan tempat menginapnya."

Irina yang mendapati hal tersebut menarik bibirnya dan berkata.

"Tak apa lagi pula kalian telah membantu, membereskan masalah kami dengan mengalahkan Kokabiel. Baiklah aku akan kebelakang dulu tunggu sebentar."

Saat irina kebelakang untuk menyiapkan sesuatu baik Ikki dan Saji bergumam

"Kussooo datang jauh-jauh malah merepotkan orang, sialan kau sensei!"

"Aku tak percaya kita malah ditelantarkan begini oleh Azazel!"

Ya itulah umpatan yang keluar dari mulut mereka untuk Azazel yang bukanya bersimpati, malah tersenyum puas seolah baru menjebak seekor mangsa.

Aku tak menyangka malah merepotkan orang lain seperti ini, Azazel sensei benar- benar keterlaluan. Tapi aku penasaran bagaimana Irina bisa tinggal ditempat seperti ini.

Apartemen ini bukan sembarangan hanya orang yang memiliki jabatan khusus saja, di gereja yang dijinkan tinggal di tempat seperti ini.

Irina kembali muncul dari dalam dapur, dengan membawa nampan berisi hidangan dan jus jseruk. senyum ramah terlukis diwajahnya seraya menawarkan sajian kecilnya.

"Silakan dinikmati!"

Aku dan Saji menanggapi dengan malu.

"Ano Irina maaf terlalu merepotkan."

"Iya kami janji akan membayarnya nanti."

"Kalian berdua tidak usah khawatir, lagi pula kalian kesini ada urusan dengan Michael sama, 'bukan."

"Umu!"

"Kalau begitu sudah tugasku, sebagai bawahan malaikat untuk melayani kalian."

Mendengar jawaban dari Irina Aku dan Saji berdiri, lalu menundukan kepala seraya berkata.

"Irina kami benar benar berterima kasih!"

Lalu kami bertiga hanyut dalam percakapan, Aku dan Saji menceritakan kronologi penyerangan. Dan bagaimana kami kelompok Sitri dan Gremory melawan Kokabiel.

"Jadi begitu kalian bersama sama melawan Kokabiel?"

"Hm kami kelompok Gremory dan Sitri bersama sama, melawan Jenderal malaikat jatuh Kokabiel."

Saji lalu menyahuti.

"Iya meski kami dua kelompok hendak dibunuh tapi beruntungnya, datang Queen dan Knight dari Sirzech sama. Sebenarnya mereka yang menghabisi Kokabiel, kekuatan kami masih belum cukup untuk menghadapinya."

Saat Saji mengatakan hal itu aku merasakan sesuatu di hatiku yang mengesalkan. Aku bahkan tidak bisa berbuat banyak saat itu, Aku dan saji merenung bahwa kami tidak berguna saat itu. Lalu irina bersuara.

"Tapi faktanya kalianlah yang melawan dan menahan serangan Kokabiel, sampai datang utusan dari Sirzech-sama itu luar biasa bukan."

"Heh?"

"Maksudku Kokabiel merupakan malaikat jatuh yang tertulis dalam kitab suci, jadi menahan serangan darinya merupakan pencapaian yang patut diapresiasi."

Irina benar tak peduli jika kami gagal mengalahkannya, tapi kami berhasil menghalau serangannya. dan itu sudah cukup lain waktu, kami pasti akan menang melawannya.

Kringg kringgg kringggg

"Ah itu telepon rumahku mereka pasti panitia yang tadi siang, mengantar Holy Cross Helena tunggu sebentar."

Irina beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri telepon untuk menjawabnya. Tapi perasaanku sangat aneh saat ini.

Wajah irina terlihat cemas sesaat, setelah menjawab panggilan teleppon. Kemudian ia membentak.

"Bagaimana bisa hal tersebut terjadi!"

Aku dan saji saling menatap curiga lalu kami menganggukan kepala, memahami bahwa sesuatu yang tak beres sedang terjadi disini.

Kluk

Bruk

Irina membanting gagang telepon dan menjatuhkan tubuhnya kebawah, seraya tangannya memegang wajahnya menahan tangis. Aku dan saji sontak berdiri dan menghampirinya.

"Woi apa yang terjadi?"

"Benar ucapkan sesuatu?"

Ia dengan terisak berusaha menyampaikan, apa yang membuatnya shock.

"Hiks...hikss...bagaimana...ini...kalau benda..itu...hilang maka...acaranya akan berantakan."

"Benda? Benda apa yang hilang?"

Aku yang menyadari apa yang terjadi langsung menimpali.

"Irina ayo kita kesana aku yakin ada petunjuk yang ditinggalkan oleh pencuri tersebut."

Saji yang masih bingung hanya berkomentar.

"Tunggu pencuri? sebenarnya apa yang dicuri itu?"

Irina menjelaskan kepada Saji.

"Sebenarnya Holy Cross Helena yang tadi siang diantar tadi sudah sampai, tapi saat akan dipindahkan ke saint Petrus tiba tiba sekelompok orang mencurinya."

"Ja...jadi benda itu sudah dicuri!"

Aku yang merasa pasti ulah mereka, kembali berkata dengan tegas.

"Irina Saji ayo kita pergi ke Saint Petrus Katedral cepat!"

Aku bergegas ke pintu keluar untuk pergi kesana, saat aku memegang knop pintu Irina dengan santai berkata.

"Tunggu, memangnya kau tahu jalan ke Saint Petrus Katerdral?"

Otak membeku ditempat mendengar ucapannya, shimata benar aku belum tahu cara kesana karena ini pertama kalinya bagiku. Tapi aku pernah melihat peta arah kesana, Tapi tetap saja aku masih belum paham seluk beluknya. Menutupi maluku aku berujar.

"Ya..ya aku pernah melihatnya di peta dulu!"

Ciiihhh...

Mereka menatapku dengan rasa curiga.

"Neh pergi ke tempat yang tak kau tahu seluk beluknya, biasanya akan berakhir tersesat."

Geehh!

"Dan lagi kalau kau tidak tahu, setidaknya bilang saja jangan sok tahu seperti itu."

"Kuso baik-baik aku memang tidak tahu jalan kesana puas!"

Saat aku menagatakan hal tersebut mereka berdua tertawa lepas.

Hahahahahahah!

"Woi aku tak bercanda"

"Hihih kami juga tak bercanda kau itu aneh."

"Ahhah Ikki itu benar."

Mereka menertawakanku karena ketidaktauhuanku tentang Roma, lalu dari dalam mindsetku terdengar suara.

[Hahaha mereka benar kalau tidak tahu, jangan berlagak sok tahu. 'Partner.]

"Taiga kau juga ikutan"

[Maafkan aku partner tapi kelakuanmu mencairkan suasana, sekarang Irina tidak khawatir lagi sepertinya.]

"Hah kau benar taiga!"

Saat aku memutuskan link dengan Taiga, mereka masih tertawa kekeh. Aku juga sedikit lega karena kondisi irina sedikit membaik, setelahnya aku berkata kepada Irina dan Saji dengan serius.

"Ahem baiklah, sekarang Irina tuntun kami kesana tolong ya!"

Irina sedikit tersentak dengan ucapanku, dan kemudian ia menganggukan kepala.

"Baiklah aku akan mengantar kalian berdua kesana."

Aku saji dan Irina berangkat dengan cara terbang tentunya, Irina ku gendong di belakangku. udara malam yang dingin menambah kesan bahwa malam ini kami tak bisa beristirahat.

"Niatnya kami ingin liburan ketika kami sampai sini, setelah memberikan surat kepada Michael san tapi malah seperti ini."

Saji juga berujar.

"Kau benar sepertinya kita terlibat masalah lagi, kuharap tidak terlalu parah seperti kita menghadapi kokabiel dulu."

"Kuharap juga begitu, 'Saji."

Kali ini Irina berkata kepadaku dan tentu kepada Saji juga.

"Gomenne, aku masih belum mengerti juga siapa yang bisa-bisanya mencuri artefak suci itu."

"Menurutku pasti ulah dari mereka!"

Saji kemudian bertanya kepadaku yang nyatanya, dari tadi dia merasa riskan ketika aku mengatakan kata mereka.

"Sejak pertama dari bandara kau dan Azazel sensei selalu berkata, mereka dan mereka memangnya siapa mereka itu ikki?"

Irina pun ikut menambahi.

"Benar kenapa seolah kau yakin, kalau ini ulah mereka yang kau sebutkan itu. 'Ikki."

"Gomenne merahasiakannya dari kalian Saji dan Irina, mereka yang kusebutkan adalah organisasi "Elementali"."

Keduanya membeo dengan bersamaan.

"Elementali!"

"Benar Elementali adalah paham yang beranggapan, bahwa Tuhan adalah semu atau tak ada."

Irinna langsung menimpali.

"Apakah mereka itu Atheis."

"Tidak para Atheis itu menganggap Tuhan tidak ada, tapi mereka juga punya prinsip kebaikan menghasilkan kebaikan dan keburukan menghasilkan keburukan."

Saji yang memasang wajah rumit berkata.

"Ano Ikki bisa kau jelaskan lebih baik, aku tak begitu paham."

"Aku juga hanya punya kemampuan sedikit untuk menjelasakan, singkatnya Atheis menolak Tuhan tanpa mengabaikan aspek spiritual. Tapi Elementali mereka bukan hanya menolak Tuhan, tapi juga semua yang tak bermateri terkecuali emosi dan fikiran. Itu bisa mereka terima diluar itu mereka menolak secara ekstrim."

Setelah aku menjelaskan singkatnya, kepada mereka Irina membuka suaranya.

"Tapi kenapa mereka menyerang Gereja, dan bahkan hendak menghancurkan peninggalan milik Tuhan?"

"Kalau itu kita akan mengetahuinya segera."

Lalu irina menunjuk gereja besar nan megah, dengan obelisk ditengah lapangan besar. Kurasa tempat ini mampu menampung ribuan pengikut gereja yang taat, terlebih biasanya tempat ini akan ramai saat hari-hari besar kekeristenan.

Aku dan Saji mendarat dengan mulus ditempat yang ditunjuk, tempat ini agak jauh dari gereja tersebut. Alasannya agar kami tak menimbulkan kecurigaan orang-orang, setelahnya kami lalu menuju gereja tersebut.

Saat kami sampai, tempat tersebut sudah dipasangi garis kuning. Agar orang yang memiliki kepentingan tidak mencoba mendekat. Lalu irina menunjukan sesuatu kepada seorang berjas hitam, dan kami dibiarkannya lewat.

"Ikki, Saji, ikuti aku kita akan masuk kedalam gereja guna menggali informasi lebih lengkap."

"Ha'i!"

Aku dan Saji mengucapkan kalimat itu, dan mengikuti Irina dari belakang. Memasuki sebuah gedung yang megah dan penuh kesucian, terima kasih pada sensei yang memberikan kami gelang tersebut sehingga. Kami bisa tahan akan aura suci di sekitar tempat ini.

"Sungguh kami tidak tahu apa yang terjadi, hal itu terjadi begitu cepat. Ketika kami berdua sadar benda tersebut sudah hilang."

Itu adalah kalimat yang kudengar ketika sampai didalam ruangan aula, dan disana berlutut dua orang yang kuduga adalah panitia yang bertugas mengangkut barang tersebut. Lalu ada dua pria besar yang satu berambut pirang dengan wajah lembut namun berwibawa, sedang satunya sama lembut dengan rambut kuning. Lalu sang pria berambut kuning bertanya.

"Lalu apa kalian mengetahui ciri ciri fisik dari pencuri benda itu?"

Dua orang itu menggelengkan kepala seraya berucap.

"Kami tidak mengetahuinya Michael-sama!"

Aku dan Saji terkejut bukan main jadi dia Michael-sama orang hendak kami temui, dan merupakan pimpinan malaikat lalu siapa pemuda yang berada disampingnya.

"Kejadian ini akan membuat kita dilecehkan oleh Religi lain. Sial seharusnya aku juga ikut mengawasi."

Aku dengan berani menyela.

"Ano kalian berdua! Apa melihat petunjuk atau ada benda yang ditinggalkan."

Melihat ku yang menyelanya Ia memunculkan light spear, dan menghunuskannya padaku.

"Ada apa dua iblis ini masuk kemari, apa kau yang membawa mereka berdua. 'Irina?"

Irina yang ditanya menjawab gugup.

"Aku... aku..."

Saji dengan tegas menyela.

"Kami datang atas keinginan kami sendiri, lagipula Irina tak menyuruh kami ikut. Ini sepenuhnya adalah tindakan kami."

Medengar ucapan Saji sang malaikat tadi kembali bersua.

"Keinginan kalian apa kalian berdua hendak menolong tahta Tuhan, atau kalianlah yang sesungguhnya mencuri salip tersebut. Cepat serahkan atau kalian akan menyesal."

Aku mengepalkan tanganku karena kesal dengan ucapannya, dan menggertakan gigiku lalu bergumam

"Gomen jika kehadiran kami mengganggu tapi, kami datang kesini bukan untuk menolong tahta Tuhan dalam injil."

"Eh?"

Baik saji dan Irina menggumamkan kalimat tersebut kemudan saji bersua.

"Ikki apa maksudmu bukankah kita ha-"

"Memang benar tadi tujuanku begitu, tapi Aku juga punya alasan untuk menolaknya bukan. Setelah apa yang diucapkan olehnya."

Sang malaikat tadi dengan lantang berkata.

"Benar iblis seperti kalian harusnya pergi, tidak patut kalian berada disini."

Aku semakin mengepalkan tanganku menahan emosi, kemudian aku teringat tentang satu peristiwa didalam sejarah Bible.

"Heh meskipun kau bilang seperti itu tapi jangan lupa bahwa, bangsa kami lah iblis yang telah membuat Tuhan dalam injil kewalahan."

Aku menarik sudut bibirku setelah mengucapkan itu, lalu sang malaikat tadi mengeraskan wajah dan menggertakan giginya seraya berkata.

"Kuso beraninya kau berkata seperti itu didepanku, aku pasti akan menghabisimu atas nama Tuhan dalam Injil!"

"Heh Atas nama Tuhan dalam injil! Saji apa kau masih ingat tentang ucapan kokabiel waktu itu."

Saji yang kutanya menjawab dengan tenang.

"Tentu saja aku masih ingat fakta kalau Dia sudah-"

Malaikat agung Michael berkata dengan tenang, namun memiliki wibawa dalam kalimatnya.

"Cukup sampai disitu saja, Dulio tidak baik kalau kau menghina mereka sebelum tahu tujuan mereka, 'bukan?"

Dulio yang mendapat teguran seperti itu, langsung terperanjat seraya memohon.

"Maafkan saya Michael-sama, saya janji tidak akan mengulanginya lagi."

"Kuharap juga begitu."

Setelah mengucapkan itu ia menatapku, cahaya matanya begitu tenang dan lembut. Auranya juga berwibawa jadi ini adalah sang tangan kanan Tuhan Michael sama. baik Aku dan saji berlutut tanda menyesal atas tindakan kami.

"Mohon maafkan tindakan kami Michael sama!"

"Jadi apa tujuan kalian datang kemari?"

Saji menjawab pertanyaan Micher-sama.

"Sebenarnya kami adalah utusan dari Azazel, untuk menyerahkan surat undangan untuk anda benarkan, 'Ikki."

Aku menganggukan kepala saat Saji meminta konfirmasi.

"Itu benar Michael-sama kami adalah utusan Azazel untuk anda, tapi aku masih penasaran dengan pencuri Holy Cross Helena. Kalau diijinkan dengan kerendahan hati saya, bolehkah saya membantu mencari benda tersebut."

"Azazel ya, kalau kau memang ingin membantu itu boleh saja. Tapi ada apa Azazel mengirimku surat."

"Tentang itu aku akan menyerahkannya setelah Holy Cross ditemukan."

"Baik itu adalah perjanjiannya, mulai sekarang mohon kerjasamanya"

"Ha'i Michael sama."

Aku memandang Saji dan Ia menarik bibirnya seraya berkata.

"Cih baiklah aku ikut keinginanmu Ikki."

"Arigatou Saji."

"Dengan satu syarat!"

"Eh?"

"Pulang nanti kau harus mentraktirku ya?"

"Wakata!"

Setelah mengatakan itu aku menanyakan kedua orang yang membawa salip tersebut.

"Kalian berdua apa sang pencuri, meninggalkan jejak atau sejenisnya?"

Mereka menjawab.

"Entahlah saat kami sadar benda tersebut sudah hilang!"

Lalu salah satu orang berkata.

"Kalau tidak salah aku mendengar seseorang berkata seperti ini 'aku adalah saksi saat AnakNya menumpahkan darahNya, aku adalah saksi terciptanya Longinus terkuat Spear of Destiny, dan aku adalah saksi dimana dosa manusia ditebus oleh Anak SulungNya. Jika kau menginginkan Holy Cross tersebut maka tebak, dan hancurkanlah 2 pilar yang menjaganya. kemudian setelah itu datangilah 'sang aku' untuk mengambil apa yang yang menjadi milikmu' itu yang kuingat."

Dulio berkata dengan kasar.

"Tunggu kau tidak mengatakan apapun saat aku bertanya, dan hanya memberikan benda bodoh itu. kenapa kau malah memberi tahu hal tersebut kepadanya."

Aku tersentak dengan apa yang diucapkan oleh orang tersebut, tidak salah lagi ini ulah mereka.

"Elementali aku pasti akan mengalahkanmu dalam permainanmu sendiri."

And cut

Minna ini chapter 21, disini adalah percikan awal untuk konflik di Roma versiku. Aku berharap konflik ini selesai dalam beberapa chapter aja untuk selanjutnya ke pertemuan tiga fraksi. Jika ada yang merasa ini alurnya lambat gomen, aku gak bisa sembarangan mensekip karena hasilnya nanti malah aku kehabisan ide. Pokoknya tolong ikuti terus perjungan Ikki ya.

Dan untuk para reader saya sangat berterima kasih karena masih setia, dan terakhir gomen kalau masih banyak typonya yah. Itu aja sepertinya untuk actionnya aku juga masih merancangnya, harap kalian menantikannya dengan sabar.

Jaa nee