Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
~ A DREAM ~
[ Chapter 20 ]
.
.
.
.
Haruki menyampaikan keinginannya untuk menjadi seorang dokter, ayah dan ibu masih tidak memberinya ijin, tapi setelah aku ikut berbicara dengan mereka, ayah dan ibu akhirnya mau dan membiarkan apa yang ingin di lakukan Haruki.
Sebelum menjadi seorang mahasiswa, aku akan mendonorkan kulitku pada Haruki, ini sebagai janjiku padanya dan dia akan bebas keluar tanpa rasa malu lagi, kedua orang tuaku pun setuju jika ini keinginan Haruki.
Setelahnya, adikku itu bebas keluar dan aku pun juga akan bebas pergi tanpa ada rasa bersalah padanya dan dia tidak akan di ganggu Ino.
.
.
[Kota Ame]
Aku ke kota Ame dan Haruki ke kota Kiri, kami berpisah demi keinginan dan cita-cita masing-masing, aku ke kota Ame bukan untuk kuliah, aku hanya berbohong pada kedua orang tua, aku mencari kerja dan akan berusaha hidup mandiri, aku rasa tidak perlu bergantung lagi dengan keluarga Yamanaka, Ino akan terus mempermasalahkan hal ini, lagi pula melihat ibu di perlakukan lebih baik, aku merasa sudah cukup.
"Bagaimana dengan nama kita?" Tanyaku pada Haruki sebelum dia pergi, hingga sekarang aku masih menggunakan nama Haruki dan orang-orang pun tahu kalau aku Haruki.
"Tenang saja, nama tak berarti apapun, aku akan menggunakan nama kakak, apa kakak tidak apa-apa?" Ucapnya.
Dia sudah terbiasa menjadi 'Sakura', dan seluruh ijasahnya menggunakan namaku, dia akan memasuki jenjang perguruan tinggi, dia tidak bisa seenaknya mengubah namanya, aku saja yang bisa mengubah namaku kembali.
"Aku tidak masalah selama itu membuat senang." Ucapku.
"Aku akan menggunakan marga ayah." Ucapnya dan membuatku bingung, kenapa harus menggunakan nama ayah?
"Kenapa?"
"Kakak harus tahu, setelah kita pergi, ibu memenjarakan ayah dan sekarang hidupnya benar-benar menderita, aku rasa itu sudah cukup untuknya."
"Untuk pria seperti itu, tidak perlu di kasihani lagi."
"Itu sudah berlalu, kak, tolong jangan katakan pada ibu, aku akan menggunakan marga ayah dan akan membawa ayah ke kota Kiri, setidaknya dia akan bersikap lebih baik." Ucap Haruki.
Dia sempat bercerita jika tanpa sengaja Haruki bertemu ayah di jalanan dan dia menjadi gelandangan, aku tahu, sejak awal sikap Haruki itu sangat baik, dia terlalu baik, bahkan sampai memaafkan ayah begitu saja.
"Kau benar-benar keras kepala, jika ayah kembali jahat, katakan saja padaku, aku akan memukul pria tua itu." Ucapku, sekedar memberi tahu pada Haruki agar tidak begitu saja peduli pada ayah kandung kami.
Saat tiba di Ame, aku menggunakan nama asliku dan tetap menggunakan marga Yamanaka, Yamanaka Sakura dan Haruki akan tetap menggunakan namaku dan memakai marga ayah, Haruno Sakura, hanya agar tidak membingungkan orang-orang jika ada dua Haruno Sakura, aku harap ibu tidak marah besar jika mengetahui hal ini, aku rasa selama ini Haruki cukup tertekan akan apapun yang ingin di lakukannya dan ibu selalu menjadi bayangannya, setelah ini aku harap semuanya akan baik-baik saja.
Aku mulai menjalani kehidupanku dari nol, menyewa sebuah kost dan bekerja di sebuah restoran sebagai pelayan, aku tahu keluargaku yang sekarang kaya-raya, tapi aku tidak ingin kembali bermasalah dengan Ino, setiap uang yang di kirim ke rekeningku, aku alihkan pada Haruki, aku rasa dia lebih layak mendapatkannya dan dia juga tinggal bersama ayah kandung kami.
"Sakura, americano antar ke meja 4."
"Baik." Ucapku dan bergegas membawakan secangkir kopi itu, menaruhnya di meja dan tatapanku tertuju pada seorang pemuda yang sibuk membaca sebuah buku, rambut hitam dan sorot mata yang terlihat tajam nan dingin itu, anehnya, aku merasa tidak asing padanya, tapi ini pertemuan pertama kami.
"Ada apa? Nona?"
Tersadar akan lamunanku. "Ma-maaf, silahkan kopinya." Ucapku dan bergegas pergi, aku terus terfokus akan wajah pemuda itu, dia memang cukup tampan, tapi bukan karena ketampanannya, aku hanya merasa tidak asing.
Bodoh! Bodoh! Bos akan menegurku jika kerjaku tidak beres.
.
.
.
.
Esoknya, aku melihat pemuda itu kembali lagi, atau mungkin hanya restoran ini menjadi favoritnya, mungkin jika dia sudah bosan, dia akan mencari restoran lainnya, di lihat dari penampilannya, pemuda itu mungkin seorang mahasiswa, oh ya, aku jadi ingat pada Haruki, bukannya sekarang dia sedang liburan semester, aku harus menghubunginya dan menanyakan kabarnya dan juga kabar pria tua itu, aku hanya tidak ingin dia memukul adikku lagi.
Saat jam istirahat, aku lelah, membawa nampan dan berlari ke sana dan kemari, restoran ini cukup terkenal dan aku sangat beruntung bisa bekerja disini.
"Kakak!" Teriaknya, kenapa dia begitu heboh saat aku menghubunginya?
"Bisakah kau tidak teriak?"
"Ma-maaf, aku sangat senang kau menghubungiku, berkali-kali aku menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif."
"Maaf, aku hanya sedang melarikan diri dari ibu."
"Ibu akan mencarimu jika kau tak bisa di hubungi terus menerus."
"Akan ku pikirkan cara kabur yang lainnya." Ucapku dan aku bisa mendengar suara tawa Haruki. "Sekarang bagaimana keadaanmu?" Tanyaku.
"Aku baik-baik saja."
"Pria tua itu?"
"Ayah juga baik-baik saja, dia sangat ingin meminta maaf pada kakak."
"Jangan biarkan aku berbicara dengannya, aku masih marah padanya."
"Baiklah. Kabar kakak bagaimana?"
"Aku sibuk bekerja, aku harus mengumpulkan uang yang banyak dan berkeliling kota."
"Kakak sangat senang berkeliling, padahal jika mengatakan pada ayah Inoichi dia akan mengabulkannya dengan mudah."
"Aku tidak mau berurusan dengan Ino lagi, dia itu akan tahu apapun meskipun kita menyembunyikannya, dan kau, jangan terlibat apapun dengan Ino, kau dengar itu, cukup saat dia membuatmu dalam masalah."
"Baik, kak."
"Baiklah, aku sudah harus kerja lagi." Ucapku.
Pembicaraaan kami telah selesai, setidaknya aku merasa lega dia baik-baik saja, bahkan nada suaranya terdengar ceria, ayah mungkin sudah berubah, hanya aku saja yang masih sulit memaafkan sikap buruknya yang dulu, aku hanya kecewa ketika dia menyia-nyiakan kami demi uang dan kekuasaan, sekarang dia mendapat karmanya, jika bukan karena Haruki, dia sudah menjadi gelandangan seumur hidup.
Kembali ke dalam restoran dan seseorang menghalangi jalanku, pemuda ini lagi, kali ini bukan aku yang menatapnya, dia menatapku dengan tatapan tenang itu, ada apa? Apa wajahku terlihat aneh?
"Ma-maaf, aku harus lewat." Ucapku.
"Apa kita pernah bertemu?" Tanyanya.
"A-aku rasa tidak, kemarin itu pertemuan pertama bagiku." Ucapku.
Pemuda ini aneh, baru saja datang ke restoran ini dan sudah bertanya aneh-aneh padaku, aku juga hanya merasa familiar dengannya, tidak Sakura, kau hanya terbujuk oleh wajah tampannya, pemuda tampan ini pasti punya pacar, jangan berurusan dengan orang tampan, sainganmu akan sangat banyak.
"Aku harus bekerja." Ucapku dan bergegas pergi, aku tidak bisa berlama-lama, bosku akan marah jika aku melewati jam istirahat.
Kembali bekerja, kembali sibuk, apa aku harus resign? Gajinya lumayan, tapi kerjanya cukup berat.
"Sakura, bisakah kau tinggal sebentar lagi? Hanya sampai jam 8 malam saja, seorang pelanggan meninggalkan tasnya, mungkin dia akan datang kembali, jika sudah lewat jam 8 malam dan dia tidak datang, kau bisa pulang." Ucap bosku.
Menatap ke arah pegawai yang lainnya, dari sekian banyak pegawai, kenapa hanya aku saja? Padahal mereka juga bisa.
"Maaf yaa Sakura, aku ada janji."
"Aku juga."
"Aku tidak bisa pulang malam, busnya cukup sulit di area rumahku."
Ya-ya kalian keluarkan saja alasan apapun, aku tahu kalian hanya ingin cepat pulang.
"Baik, bos." Ucapku, pasrah.
Setidaknya mereka mau mengerjakan bagianku, aku hanya perlu duduk santai, jika pemilik tas ini tidak datang, aku bisa pulang dan membawa kunci restoran pada bosku, rumah kami berdekatan jadi aku bisa sekalian mengantarkan kuncinya.
Melirik jam, sudah jam 7 malam, tinggal sejam lagi, kenapa orang itu bisa ceroboh seperti ini? Apalagi meninggalkan tasnya, atau mungkin dia punya identitas atau sebuah alamat yang ada pada dompetnya, maaf, aku tak bermaksud lancang untuk menggeledahnya, aku hanya ingin tahu pemilik tas ini.
Membuka tas itu dan ada beberapa buku saku di dalamnya, membaca sampulnya, ilmu tenang kedokteran, selain itu ada dompet, sebuah pulpen, dan juga ponsel. Astaga! Orang ini sangat-sangat ceroboh, di dompetnya mungkin ada tanda pengenalnya, sebelum membuka dompet kulit berwarna hitam itu, ponselnya berdering, hanya sebuah panggilan nomer, apa aku angkat saja?
"Halo, maaf, pemilik ponsel ini melupakan tasnya." Ucapku.
"Apa tas itu berada di restoran?" Suara laki-laki dan tak asing, sepertinya aku pernah mendengar suara yang terdengar berat ini.
"Benar, apakah anda pemilik tas ini?"
"Aku melupakan tasku dan terburu-buru pergi."
"Silahkan datang kembali ke restoran, aku akan menunggu anda."
Akhirnya, jika sejak tadi bisa seperti ini, kenapa tidak dari tadi saja! Aku sudah ingin pulang dan masih tertahan di tempat kerja.
Sudah jam 8 lewat, orang yang berjanji akan mengambil tasnya ini lama sekali, sebaiknya keluar restoran saja, menguncinya dan menunggu di depan restoran, merepotkan, aku akan minta bonus pada bos! Ini termasuk lembur 'kan?
Seseorang datang, eh? Apa ini yang dinamakan jodoh? Ah tidak-tidak-tidak, aku tidak percaya dengan hal semacam itu, kami bertemu kembali, kenapa pemuda itu selalu saja muncul seperti ini?
"Aku pemilik tas itu." Ucapnya.
Heeee...! Dia lagi!
"I-ini tasnya, temanku menemukannya dan menyimpannya untuk anda, silahkan di cek dulu." Ucapku.
"Terima kasih." Ucapnya. Dia bahkan tidak mengecek tasnya, hanya mengatakan terima kasih, pemuda yang aneh, dia percaya begitu saja.
Sekarang sudah cukup larut, sudah hampir jam 9, ini gara-gara pemuda ceroboh ini!
"Baiklah, aku harus pulang." Ucapku dan pamit padanya.
"Tunggu, aku ingin sekedar berterima kasih."
"Tidak perlu."
"Di tas ini sangat banyak benda penting, aku harap hanya untuk sebuah traktiran. Tolong jangan ada penolakan."
"Ba-baiklah."
Kenapa semua orang hari ini sangat memaksa? Aku harus segera pulang, jika terlalu malam suasana jalannya akan sangat sepi.
"Aku juga akan mengantarmu pulang." Ucapnya.
Apa dia sedang membaca pikiranku? Dasar pemuda aneh, baru saja bertemu sudah seperti ini, aku harus waspada, biasanya yang sok akrab atau ingin dekat begini punya maksud tertentu.
Dia mengajakku di sebuah restoran, padahal aku bekerja di restoran dan sekarang makan di restoran lain, bosku pasti akan kecewa, tapi aku tidak peduli, karena mereka tidak menerima tugas menunggu ini aku sudah sangat lapar.
"Pesan saja apa yang kau inginkan." Ucapnya.
Pemuda baik, meskipun tatapannya terlihat menyebalkan, seperti sebuah tembok es tanpa ekspresi, aku jadi sulit menebak sebenarnya dia benar-benar baik atau hanya pura-pura. Aku sudah memesan beberapa makanan, pemuda ini sibuk dengan ponselnya.
"Apa kau seorang mahasiswa?" Tanyanya.
"Tidak, aku tidak kuliah." Ucapku.
"Kenapa?"
"Aku sibuk bekerja dan aku rasa tidak ada jurusan yang sangat ingin aku targetkan, aku hanya ingin bekerja dan mengumpulkan banyak uang." Ucapku, aku terlalu ceplos untuk orang asing di hadapanku. "Ma-maaf aku terlalu banyak bicara." Ucapku, malu, dia pasti menganggapku gadis aneh atau gadis matrealistis, hanya ingin uang saja, bodoh kau Sakura!
"Cita-cita yang unik."
Apa? Itu bukan cita-cita! Itu hanya tujuan hidup! Aku ingin segera bisa menjadi orang lebih baik lagi tanpa adanya campur tangan ayah tiriku yang kaya raya itu.
"Ya, anggap saja seperti itu."
"Namamu Yamanaka Sakura?"
"Ba-bagaimana kau tahu?"
"Ada tertulis pada papan nama di seragammu."
Aku melupakan hal itu, setiap pegawai akan punya nama agar mudah di salahkan jika mengecewakan pelanggan.
"I-iya, namaku Yamanaka Sakura, dan anda?"
"Apa aku perlu menyebutkan namaku juga?"
Siaaal! Orang ini bukan cuma wajah yang menyebalkan, tapi sikapnya juga, uhk, aku gatal ini mencubitnya.
"Ti-tidak apa jika tidak ingin mengatakannya." Ucapku, malu, aku pikir dia sedang berkenalan. Masa bodoh dengan namamu tuan asing!
"Uchiha Sasuke, namaku Uchiha Sasuke."
"Oh." Ucapku singkat, pada akhirnya di sebutkan juga.
"Aku rasa margamu tak terdengar asing di Konoha."
"Kau tahu Konoha?"
"Aku tinggal di Konoha."
"I-ini sangat kebetulan, aku juga dari Konoha, jadi apa kau sedang berlibur?" Ucapku.
"Hn, jangan mengalihkan pembicaraan nona, apa benar kau orang bermarga Yamanaka?"
"Tentu saja, itu adalah marga ayahku, sebenarnya secara biologis dia hanya ayah tiri."
"Bagaimana mungkin orang seperti dia menelantarkan anaknya di kota ini."
"Hey, jaga bicaramu, ayah tiriku orang yang super duper baik, dia tidak menelantarkanku, tapi aku yang kabur darinya."
"Apa ada sebuah masalah dalam keluarga kalian?"
"Cukup tuan, kau terlalu ikut campur, lagi pula aku tidak mengenal anda, kenapa anda berbicara sangat banyak?"
"Hanya penasaran padamu."
Tolong seseorang tampar wajahku, pemuda ini sedang menggodaku? Aku tetap akan bertahan, aku tidak boleh tergoda dengan wajahnya dan gombalannya.
Pesanan kami akhirnya datang, aku harus cepat makan dan cepat pulang, aku tidak ingin terlibat dengan orang yang tidak ku kenal, meskipun dia mengatakan kenal dengan ayah Inoichi.
"Sampai disini saja, terima kasih atas traktirannya dan juga sudah mengantarku, aku harap tidak perlu bertemu lagi." Ucapku dan bergegas masuk ke dalam rumah kostku, mungkin sedikit kasar, tapi aku harus tetap menjaga diri termasuk dari pemuda yang tak di kenal.
.
.
TBC
.
.
update.
jadi di chapter ini, awal pertemuan Sasuke dan Sakura, sasuke emang sejak dulu kek gini hingga jadi dokter, masih ingat sikap Sasuke yang di chapter sebelumnya, dulunya pun sama.
mimpi hanya mimpi, hanya sebagai tanda, tidak berarti akan sama persis dengan masa lalu, jadi di chapter kemarin hingga beberapa chapter ke depan adalah kebenaran,
untuk pertanyaan yang muncul di review, di jawab satu-satu lewat chapter yaaa. :)
.
.
See you next chapter.
