20

SELANGKAH DI DEPAN

.

.

.

Sambil berlutut, Kai menyambar potongan daging domba dari lantai dan menggigitnya seperti singa, menyobek daging, dan melemparkan tulangnya ke tumpukan tulang. Setelah melahap enam potong lagi, dia memegangi perutnya. Wajahnya agak hijau, menahan isi perutnya tetap di dalam.

Pintu sel berderit membuka. Saat mendongak, dilihatnya Jisung tampak basah oleh keringat, lengan bawahnya berdarah. Dia membawa dua gelas berisi air panas.

"Sudah kuduga kau pasti kebanyakan makan," kata Jisung seraya menaruh gelas berisi minuman berbusa ke hadapannya. "Sedikit rebusan beras panas bisa menenangkan perutmu. Andai ada sedikit peppermint atau jahe segar, bisa jadi ramuan bagus untuk pencerna−" Soojung menyadari Kai sedang menatapnya, lalu berdeham dengan suara batuk yang gagah. "Oh, abaikan. Minumlah."

Kai mencicipi minuman itu dan menaruhnya, keningnya berkerut. "Bukankah kau terlambat untuk tugas mencari Storian?"

"Kubilang pada Profesor Moon aku harus menginterogasimu dulu," jawab Soojung dengan tegas sambil duduk menghadapnya.

Inilah sebabnya aku menyelamatkan dia, Soojung memarahi dirinya, menyandarkan bahu besarnya ke dinding. Kai pasti akan mengatakan di mana Storian disimpan. Itulah alasannya; bukan karena Soojung peduli pada sang pangeran. Dia menatap Kai dengan tajam, otot-ototnya tegang, dan kembali berkonsentrasi pada tujuan.

"Beri tahu aku, Kai."

"Untuk kesekian kalinya, Chanyeol dan aku menguburnya supaya tidak ditemukan Soojung dan Kyungsoo," bantahnya. "Kami menyembunyikannya di bawah batu bata yang longgar. Aku tidak tahu bagaimana Storian bisa berpindah tempat." Dia menyadari Jisung tengah memperhatikannya, lalu menunduk malu. "Dengar, aku tidak akan berbohong padamu. Tidak setelah apa yang kau lakukan untukku."

"Kalau begitu, siapa yang mengambilnya? Apa mereka sudah menginterogasi Chanyeol?" tanya Soojung, perutnya terasa mulas.

"Pfff. Kalau dia ada, sejak awal pasti dia sudah menyerahkan pena itu pada guru," gerutu Kai sambil menendang sepatu botnya hingga terlepas. "Chanyeol tipe murid yang patuh pada peraturan dan perintah guru. Lagipula, sudah berhari-hari tidak ada yang melihat yoda itu lagi. Dia tidak pernah suka dengan anak-anak lainnya."

"Tapi Castor bilang kita akan celaka kalau tidak menemukan−"

"Karena Storian merefleksi jiwa pemiliknya," gumam Kai seraya berbaring. "Kalau sampai jatuh ke tangan Dekan Seo, akan ada banyak anak laki-laki yang mati di akhir kisah. Dan tentu saja, dimulai dengan kematianku."

Kematianku. Kata itu menyerang Soojung lebih keras dibandingkan bayangan akan kematian seisi Hutan. Soojung selalu mengira ini adalah kisahnya, dengan Kai sebagai penjahat menurut versinya. Namun sekarang, dia tersadar: Bagi Kai, ini adalah kisahnya dan dia berhak mendapatkan akhir bahagia, sama sepertinya.

"Permohonan Kyungsoo," ujar Soojung lirih. "Bagaimana kau bisa mendengarnya?"

Kai terdiam sejenak, rahangnya menegang. "Umurku sembilan saat ibuku pergi. Waktu itu tengah malam, dan aku sedang tidur di sayap barat istana. Aku tiba-tiba terbangun dalam keadaan basah keringat dan terhuyung ke jendela tanpa tahu sebabnya. Hatiku terasa ditusuk dan terkoyak. Hal terakhir yang kulihat adalah ibuku pergi menunggang kuda kesukaanku, berderap ke Hutan." Jarinya menelusuri celah antara bata-bata di dinding. "Aku terbangun dalam keadaan yang sama ketika aku merasakan permohonan Kyungsoo. Dia ingin aku mendengarnya." Matanya basah. "Dan aku yakin itu benar."

Soojung menggigiti kuku kotornya dengan gelisah. "Mungkin memang benar," katanya, seperti bicara pada dirinya sendiri. "Mungkin cuma ada sesuatu yang... menghalangi."

Kai mengusap matanya dan duduk tegak. "Kau teman yang baik, Jisung. Kau tidak perlu menolongku."

Soojung menggeleng. "Aku tidak bisa membiarkanmu mati," bisiknya, tak mampu menatap lawan bicaranya.

"Tahun lalu, Soojung juga bilang begitu. Dia bersumpah akan melindungiku saat Uji Dongeng, lalu meninggalkanku sekarat sendirian. Kurasa itulah bedanya antara laki-laki dan perempuan," tutur Kai sambil memainkan lubang di kaus kaki kotornya.

Soojung akhirnya mendongak, mata besarnya berkedip-kedip.

Kai mengangguk. "Percayalah, aku tahu. Dia persis sejahat yang diceritakan buku dongeng itu."

Soojung menahan diri. "Bisakah kau ceritakan lagi tentang dia?"

"Dia adalah gadis tercantik yang pernah kulihat. Rambutnya pirang sepertimu−dan setelah kulihat-lihat, mata hijaunya juga sangat mirip dengan matamu," kata Kai sambil melirik Jisung. Teman sekamarnya memalingkan wajah, kikuk. Kai cepat-cepat menunduk. "Tapi di balik itu tidak ada apa-apa. Setiap kali aku memberinya kesempatan baru, aku hanya melihat lebih banyak kebohongan. Dia menginginkan pangeran hanya untuk memilikinya, sama sekali tidak peduli dengan diriku yang sebenarnya. Aku tidak pernah mengerti apa yang membuat Kyungsoo berpikir dia layak diselamatkan."

"Mungkin kau tidak mengenal Kyungsoo seperti Soojung mengenalnya."

"Aku tahu Kyungsoo dulu adalah seorang yang berjiwa Baik dan berhak mendapatkan kebahagiaan bersama seorang pangeran," ujar Kai ketus. "Sekarang dia mengorbankan cinta sejati demi sesuatu yang di luarnya kelihatan seperti cinta. Soojung sengaja berbuat begitu padanya. Penyihir itu merusaknya."

"Itu karena kau memaksa putrimu untuk memilih," balas Soojung dengan marah, wajahnya memerah. "Kau bertanggung jawab atas takdirmu sendiri, Kai. Bukan Kyungsoo. Dan bukan Soojung."

Kai merengut tanpa mengatakan apa-apa.

"Kenapa perempuan tidak bisa mendapatkan keduanya? Kenapa dia tidak bisa memiliki cinta pangerannya sekaligus cinta pada sahabatnya?" tanya Soojung lirih.

"Karena kita bertambah dewasa, Jisung," Kai menghela napas. "Sewaktu kau masih kecil, bagimu sahabat adalah segalanya. Tapi setelah kau menemukan cinta sejati, semua berubah. Persahabatanmu tidak akan pernah sama seperti sebelumnya. Karena tidak peduli seberapa besar usahamu untuk menjaga keduanya, kesetiaanmu hanya akan bisa tertanam pada salah satunya." Dia tersenyum sedih pada teman sekamarnya. "Itulah kesalahan terbesar Kyungsoo. Dia tidak bisa melihat bahwa persahabatannya dengan Soojung berakhir saat dia mengizinkan dirinya mencintaiku."

Soojung merasa dinding-dinding otot yang membungkus tubuhnya mengendur, seakan Kai telah mengucapkan kebenaran yang selama ini diingkarinya. Malam itu, Kyungsoo seharusnya mencium Kai dan menikmati kehidupan Akhir Bahagia. Malam itu, seharusnya dia pulang sendirian, sementara teman satu-satunya melanjutkan hidupnya bersama seorang laki-laki.

Namun Soojung menulis ulang kisah mereka. Dia merenggut kembali sahabatnya.

Demi apa?

"Sudah terlambat," ujar Kai lirih, kembali berbaring dan menatap langit-langit yang gelap. "Aku tidak akan mencintai siapa-siapa lagi."

"Mungkin Soojung membutuhkan Kyungsoo lebih dari kau membutuhkannya. Mungkin Kyungsoo adalah sesuatu yang paling mendekati cinta yang bisa dimiliki Soojung. Mungkin pada dasarnya Soojung berbuat Kebaikan!" Soojung bersikeras, matanya berkaca-kaca. Dia pun sedikit menyesal karena terbawa emosi. Meski begitu, dia harap Kai bisa memahaminya.

Kai mengangkat kepalanya, tampak marah.

"Tidakkah kau mengerti? Kau bisa menemukan orang lain," kata Jisung, suaranya bergetar. "Tapi Soojung tidak."

"Kau sama payahnya dengan seorang Pembaca," kata Kai suram. "Hanya ada satu cinta sejati. Hanya satu."

Kedua anak laki-laki itu saling melemparkan tatapan tajam sebelum berpaling dalam keheningan. Dua siluet terbentuk di bawah obor yang hampir padam.

Jisung bangkit dan menyeret tubuhnya. "Ayo."

"Apa?" tanya Kai spontan. "Aku tidak boleh meninggalkan sel−"

Jisung menatapnya dengan galak. "Bedanya kau dan aku, kau pangeran yang selalu mematuhi aturam. Sedangkan aku tidak. Kau dan Chanyeol, ternyata kalian punya kesamaan yang boring."

Kai menatap teman barunya yang menunggu tak sabar.

"Hanya anak hebat yang berani memerintahku," gumam Kai sambil beranjak.

Jisung menahan pintu. "Kau tak akan menyangka."

.

.

.

Pada saat gladi resik di Aula Makan, Pollux membentak lima gadis Never berwajah kebingungan dengan riasan tebal serupa badut. Mereka memakai baju cheongsam yang tidak pas. "Untuk terakhir kalinya, kalian adalah metafor hidup untuk Uji Dongeng yang mungkin akan merenggut nyawa ..."

"Pertunjukan ini terlihat lebih mematikan daripada Uji Dongeng," bisik Luna pada Yura yang mengabaikannya dan dengan riang menyiapkan burka-burka serta hiasan kepala angsa untuk adegan berikutnya.

Luna memperhatikan Amber dan Victoria di seberang ruangan, berbisik-bisik sementara mereka mengecat salah satu perlengkapan adegan. Luna menyimpulkan celah ganjil di antara mereka adalah Kyungsoo. "Kalau saja aku tahu Klub Buku akan berakhir seperti ini, aku mau masuk paduan suara saja," desahnya, mengubah bulu angsa menjadi arugula, lalu menyebrang untuk menimbrung percakapan mereka.

"Kira-kira untuk apa Dekan menggunakan ramuan Merlin?" tanya Victoria.

"Apa mungkin dia menggunakannya untuk dirinya sendiri?" tanya Kyungsoo, masuk lebih dalam ke jubahnya, sehingga yang dilihat kedua temannya hanyalah sepasang mata cokelat gelap besar.

"Pertama, kita tahu ramuan itu bisa mengubah wujud Dekan jadi laki-laki. Kedua, dalam keadaan terlihat atau tidak, matamu terlalu besar dan sentimentil untuk diandalkan. Dasar burung hantu," kata Amber.

"Yah, aku kan tidak tahu kalau kita kerja sukarela sebagai kru panggung," bela Kyungsoo, sementara tikus-tikus Victoria bergantian mandi di dalam cat dan berguling di atas perlengkapan panggung.

"Kau tidak punya ide tempat yang lebih bagus untuk kita bertemu−"

"Karena aku terlalu sibuk berusaha untuk tidak mati−"

"Memangnya kau pikir kami tidak?" balas Victoria dengan galak. "Kita berusaha mati-matian supaya bisa masuk tim Uji untuk berjaga-jaga kalau saja semua ini berantakan−"

"Apa menurut kalian Dekan mengirim murid perempuan ke kastel laki-laki seperti apa yang Yuba dan kita lakukan?" tanya Luna ringan sambil merenungkannya, seraya mengunyah selada hijau.

Gadis-gadis lain menoleh padanya.

"Kalau benar, mungkin itu alasan kenapa Soojung belum menemukan Storian," tutur Luna. "Dekan mungkin saja mengirim salah seorang gadis dalam wujud laki-laki dan menyembunyikan pena itu supaya kau tidak bisa membuat permohonan. Tahu kan, untuk memastikan Uji Dongeng berjalan sesuai rencana."

Victoria mengerjap-ngerjap. "Mungkin aku harus mulai makan sayuran."

"Dan siapa kira-kira si cewek penyembunyi Storian itu?" Amber melirik, kelihatan kesal karena belum mendapatkan ide.

"Seulgi," jawab Kyungsoo seraya menarik jubah untuk menampakkan wajahnya. "Jubah ini miliknya, kan? Dia juga menyembunyikan seragam cowok di bawah tempat tidurnya. Dan juga, dia begitu memuja Dekan. Pasti dia!"

"Nanti kami akan cari tahu sesuatu darinya," ujar Victoria sambil bergeser menutupi wajah Kyungsoo. "Tapi Uji Dongeng tinggal dua malam lagi. Soojung harus menemukan Storian, paling lambat besok. Apa warna lampionnya malam ini?"

"Di luar sana tidak kelihatan apa-apa. Semua tertutup kabut," kata Kyungsoo dengan sedih. "Aku menggantung lampionku di jendela. Tapi lampionnya belum bisa terlihat selama masih berkabut."

"Dia harus berhasil membawa Storian. Kalau tidak, kita semua harus ikut Uji itu," desak Amber.

Kyungsoo sudah cukup ketakutan, dan ketakutan di wajah Amber membuat perutnya terasa seperti jelly. "Dekan juga menyimpan peta Hutan Biru dan menandai Gua Sian," katanya kemudian.

"Gua Sian?" Amber, bertukar pandang dengan Victoria. "Itu cuma dekorasi di gerbang selatan. Dalamnya gua tidak lebih dari 50 kaki. Apa yang mungkin tersembunyi di sana?"

"Yah, kedua pihak sekolah membatalkan pra-Uji. Jadi kita tidak bisa mencari tahu," keluh Kyungsoo, menghilang kembali ke dalam jubahnya.

"Kecuali dia sudah memberimu izin."

Kyungsoo melihat Amber yang menatapnya penuh arti.

"Sepanjang pengetahuan Dekan, saat ini kau masih berada di Hutan Biru bersama Yuba."


Ketika jam berdentang di tengah malam, Kyungsoo menyelinap ke Hutan Biru yang berkabut menuju gerbang selatan, transparan di balik jubahnya. Belum pernah dia melihat kabut seperti ini. Gumpalan putih berputar-putar menutup setiap ujung rumput biru. Kyungsoo memaksakan akomodasi penuh pada matanya. dia menyipit ke arah Sekolah Laki-laki yang terlihat kabur, tidak satu bata pun dapat dilihatnya.

Ini pasti kebetulan, pikirnya. Satu-satunya cara dia berkomunikasi dengan Soojung terganggu cuaca yang ganjil.

Peringatan Lady Kwon melayang-layang dalam ingatannya. "Seohyun selalu selangkah di depan."

Kyungsoo menyingkirkan pikiran itu dan terus berjalan jauh memasuki Hutan, bergerak pelan supaya tidak menabrak pohon atau hewan yang sama-sama dibutakan oleh kabut. Dalam keheningan yang mencekam, dia merasa pikiran tentang Kai bertambah kuat dari yang bisa diredamnya. Semakin dia menyangkalnya, Kai semakin terasa nyata.

Kekuatan dirinya mulai runtuh. Kyungsoo berusaha berkonsentrasi lebih keras pada jalan yang tertutup kabut. Segera setelah dia sampai di rumah kuburannya nanti, dia akan membakar semua buku dongeng yang ada di bawah tempat tidurnya. Jangho akan menjadi tempat yang benar-benar tanpa pangeran.

Dia merasakan jalan yang dilaluinya mulai menanjak curam. Artinya, dia sudah melewati lahan labu dan mendekati gerbang selatan. Besok adalah malam Uji Dongeng, diramaikan dengan pertunjukan drama Pollux dan pengumuman tim. Pada saat itu, Dekan Seo dan Profesor Moon sudah memasang jebakan di Hutan. Mereka sepakat bahwa Gua Sian adalah tempat terlarang. Jadi, apa yang disembunyikan Dekan di sana?

Kelinci putih bergegas melewati sepatunya, menggendong bayinya di mulut, lalu menghilang ke dalam kabut putih seakan terhapus dari halaman. Kyungsoo menyusuri jalan dengan hati-hati, selangkah demi selangkah, sampai dilihatnya sekilas dinding batu biru kehijauan di depan sana.

Gua Sian terletak di atas tebing, di sudut selatan Hutan Biru, terselubung di balik lebatnya pohon-pohon cemara raksasa. Bentuknya seperti susunan gelembung yang terdiri dari tiga lingkaran, lubang-lubang hijau laut yang berbeda ukuran. Kyungsoo memandang gua-gua itu di atas langkan, tidak yakin bagaimana cara naik ke sana. Tentu saja dia akan kehilangan jubahnya kalau bermogrif.

Satu-satunya pilihan adalah memanjat salah satu cemara biru itu dan melompat ke tebingnya. Beruntung, cabang-cabang pohon cemara itu tebal dan kokoh sehingga Kyungsoo bisa sampai di atas dengan cepat. Bersyukur, ada duri-duri kecil yang menuntun tangannya dalam kabut. Akhirnya, dia sampai pada cabang tertinggi. Setelah menarik napas panjang, dia melompat tanpa terlihat ke batu bergerigi, dan hanya sedikit gemetar saat mendarat.

Kyungsoo meneliti barisan gua di hadapannya: tiga lingkaran berlainan ukuran seperti di kisah Goldilock−gua pertama terlalu besar, yang kedua terlalu kecil, yang ketiga pas. Lehernya terasa panas dan gatal di balik jubah tembus pandangnya. Perasaannya mengatakan bahwa apapun yang tersembunyi di dalam gua-gua itu akan menjawab pertanyaan mengapa Seo Joohyun ada di dongengnya, dan apa yang dia rencanakan untuk mengakhiri dongengnya.

Dengan kaki gemetar, Kyungsoo melangkah ke gua raksasa pertama, merasakan ujung jarinya berpendar emas bak obor. Dinding guanya berwarna biru laut mengilap, memantulkan sinar redup dari jari pendar serta wajah tegangnya. Selangkah demi selangkah, dia bergerak menyusuri kaca itu, meneliti setiap incinya. Hanya meerworm dan kumbang yang kadang terlihat, sampai dia tiba di ujung yang buntu.

Kyungsoo mengerutkan kening dan mundur, hendak menuju gua kedua. Namun lubangnya tidak lebih besar dari piring makan sehingga hanya kepalanya yang bisa masuk. Lebih buruk lagi, isi gua ini lebih sempit daripada yang pertama; hanya dinding-dinding kosong dan beberapa gumpalan jamur yang terlihat di bawah sinar jari pendarnya. Kyungsoo mengeluarkan kepalanya, merasa kesal.

Apa yang kulakukan di sini? Dia memarahi dirinya sendiri sambil menjejakkan langkah ke gua ketiga. Seharusnya aku menunggu Soojung di kastel, pikirnya, sambil menerangi gua berukuran sedang dan kosong itu.

Sahabatnya sebentar lagi akan kembali dan membawa Storian. Tahun lalu, Kyungsoolah jagoannya, si penutup kisah yang bersedia melakukan apapun untuk memulangkan mereka. Sekarang giliran Soojung. Itu sebabnya kenapa Soojung memenangkan tantangan menjadi laki-laki, bukan dia. Kali ini Soojung adalah sang pangeran yang tidak akan mengecewakannya.

Setelah memadamkan jari pendarnya, Kyungsoo bergegas kembali ke mulut gua−dan berhenti mematung. Dia mengangkat jari pendarnya, berkedip ketakutan.

Sekawanan kupu-kupu biru menyerbunya dari balik kegelapan, menusuk tubuhnya yang tak terlihat seperti lebah, dan merobek habis jubahnya. Kawanan kupu-kupu itu sengaja bergerak ke arahnya dengan kecepatan tinggi, mendepaknya keluar dari kulit ular, dan mengempaskannya ke pinggiran tebing.

Di balik kepakan sayap mereka, Kyungsoo sempat melihat kulit dan bajunya mulai tampak di bawah sinar bulan, secuil demi secuil. Mereka merenggut bagian jubahnya yang tersisa lalu terbang pergi meninggalkan embusan kencang yang membuat Kyungsoo terempas dari langkan.

Kyungsoo jatuh dari tebing dan berteriak, menggapai-gapai dalam kabut. Tulang ekornya mendarat pada semak-semak cemara yang kusut dan lembap. Memar dan nyeri, Kyungsoo menengadah untuk melihat kerumunan kupu-kupu menghilang dalam kabur, menebar sisa serpihan jubah hitamnya ke Hutan bagai abu.

Kyungsoo sulit bernapas, perasaan bersyukur bisa selamat menyingkirkan kepanikan atas kejadian tadi. Dekan sengaja menancapkan peta itu di ruang kantornya supaya ditemukan olehnya. Artinya, Dekan tahu bahwa dirinya selama dua hari ini tidak berada di Hutan Biru bersama Yuba, ataupun bersama Soojung.

Tanda bahaya meraung-raung di dalam kepalanya dan Kyungsoo sudah siap berlari.

Dia berlari cepat menuruni jalan berkabut, melupakan rasa sakit, berusaha mengingat-ingat di mana letak sarang si jembalang. Cabang-cabang pohon dan duri-duri merobek seragamnya selagi tubuhnya membungkuk ke tanah, menelusuri lembah kecil di antara Kebun Pakis dan Semak Biru. Tak jauh dari tempatnya berdiri, dilihatnya kepulan asap hitam membumbung dari salah satu lubang tanah. Kyungsoo menelungkup dan menyembulkan kepalanya melalui celah−

Terlambat.

Rumah Yuba sudah dihancurkan. Setiap incinya terbakar habis, kecuali beberapa daun bunga hydrangea yang bertebaran di atas benda-benda hangus. Jembalang itu tak terlihat di mana pun.

Perutnya terasa mulas. Kyungsoo bangkit berdiri dan menyaksikan kabut yang tiba-tiba surut, seolah tugasnya sudah selesai. Halimun menipis, jejaknya tersedot kembali ke Sekolah Perempuan, menghilang di ruang kantor tertinggi.

Kyungsoo melihat jendela Dekan Seo di atas, dikelilingi kupu-kupu yang kembali pulang. Senyuman gigi putihnya berkilau menembus kegelapan seperti kucing Cheshire.

Senyuman yang mengatakan bahwa Seohyun mengetahui di mana Soojung berada sekarang. Selama ini, dia memang selangkah di depan mereka.

Perlahan, Kyungsoo menoleh dan menyaksikan kabut menghilang di sekitar Sekolah Laki-laki, meninggalkan kastel itu dalam keadaan jelas terlihat di malam hari, di bawah pancaran sinar bulan.

Tidak ada sinar hijau di jendela-jendelanya.

Tidak ada tanda-tanda dari sahabatnya sama sekali.

.

.

.

"Bukannya kau harus mencari Storian?" tanya Kai di lorong gelap, berusaha mengikuti rambut Jisung yang pirang bergelombang melewati kamar-kamar guru. "Ini sudah lewat tengah malam−"

"Mau menunjukkan sesuatu padamu dulu," kata Jisung, menyelip di antara dua kolom batu sempit.

"Kita mau ke mana?" keluh Kai, perutnya masih kembung sejak pesta makan di bawah tanah tadi. "Aku mau mandi dan tid−" dia terdiam.

Mereka berdua berdiri di balkon guru yang terletak di atas Hutan Biru, memerlihatkan pemandangan luas lahan hutan yang disinari cahaya bulan itu. Kabut aneh dan dingin membelah di udara, seakan kabut tebal baru saja lewat.

Setelah udara di Hutan lebih jernih, Kai bisa melihat daun-daun serta rerumputan memijarkan kilau biru dingin. Angin menyapu pepohonan palem dan bunga-bunga seperti alunan harpa, menyuarakan desah lautan yang teratur. Di dekat gerbang utara, Lahan Pakis biru elektrik bertabur spora putih terbang tertiup angin ke arah jalan kecil di barat. Di jalur bagian timur, dedaunan biru safir pohon-pohon dedalu rontok bersama setiap embusan angin. Gua Sian di selatan tampak bayangan-bayangan lingkarannya di atas lahan labu.

Kai sudah pernah melihat banyak keindahan dari pengalamannya berkelana bersama orangtuanya sewaktu kecil; gua seindah surga di Pegunungan Berbisik, danau peri di Avalon, oase Ikan Harapan di Padang Pasir Shazabah. Namun dari ketinggian ini, sang pangeran melihat Hutan kecil berpagar, murni dari segala kejahatan di dunia, seolah memperlihatkan keindahan surga. Dua malam dari sekarang, dia akan menjadi salah satu yang mengubahnya jadi neraka.

Tiba-tiba dia melihat gerakan di dekat gerbang, bayangan manusia menyelinap keluar Hutan. Kai menyipitkan mata−

"Mau ikut duduk tidak?" kata Jisung di belakangnya.

Kai menoleh dan melihat Jisung sedang duduk di langkan marmer lebar, kedua kakinya bergantungan di atas Hutan.

"Atau masih tetap mau mandi?" sindir teman sekamarnya.

Kai memanjat ke langkan dan duduk lebih dekat dengan Jisung ketimbang dalam situasi biasa. Dia tidak pernah menyukai ketinggian.

"Bagaimana tanganmu?" tanya Kai, memeriksa luka teman sekamarnya, masih segar dan berdarah. "Aku tidak mau kau sampai terinfeksi hanya gara-gara menyelamatkanku."

Jisung menarik tangannya, menatap Hutan di kejauhan. "Bagaimana kau bisa tidur sementara kau tahu kau akan membunuh dua gadis itu? Dua gadis yang masing-masing pernah mencintaimu?"

Kai terdiam sejenak. "Selalu ada pihak ketiga di dalam dongeng, Jisung. Sepasang kekasih, dan si penjahat. Pada akhirnya, harus ada seseorang yang mati. Saat Kyungsoo menyelinap ke menaraku, saat dia menyerangku, dia sudah membuat akujadi penjahatnya." Dia menatap Jisung dengan tajam. "Dan aku tidak keberatan meminta peran itu kalau berarti mempertahankan hidupku."

Kai menyadari teman sekamarnya terbengong-bengong. Pipinya bertambah merah, lebih merah lagi, hingga tawa Jisung meledak sampai matanya berair.

"What the heck, dude?" Kai mendengus.

"Tadinya semua hanya mau mendapatkan cinta. Sekarang semua mau saling bunuh,"Jisung cekikikan sambil mengusap matanya. "Tidak ada yang tahu kebenarannya."

"Tanpa bermaksud menyinggung, memangnya kau tahu apa?"

Jisung tertawa dan menangis lebih keras, menutup wajahnya dengan tangan.

"Kau lebih parah dari cewek," gerutu Kai.

Suara tawa Jisung semakin melengking. Namun ketika melihat raut wajah Kai yang mengeras, tawanya mereda jadi engahan dan kemudian hening.

Jauh di bawah sana, jangkrik mengerik dengan ketukan yang tidak teratur. Kai melirik seekor burung bangau menyeberangi Sungai Biru, sementara dua tupai berkejaran di birai jembatan. Besok, Profesor Moon dan Dekan para gadis itu akan menyebar perangkap di Hutan. Hewan-hewan akan bersembunyi sampai Uji selesai dan bahaya berlalu.

"Jadi, seperti apa istanamu, Jisung?"

Teman sekamarnya mengerjap-ngerjap. "Istana?"

"Kau pangeran, bukan? Kau tidak mungkin tinggal di gubuk bambu, kan?"

"Oh, ya−seperti, emm... istana kecil. Bentuknya seperti... pondok."

"Kedengarannya nyaman. Aku tidak pernah suka tinggal di istana yang terlalu besar. Waktuku seharian habis untuk mencari-cari orang. Apa keluargamu tinggal bersamamu?"

"Hanya appaku," jawab Jisung kecut.

"Setidaknya kau punya ayah," desah Kai. "Tidak ada apa-apa yang akan kutemui setelah selesai sekolah nanti. Hanya istana yang kosong, para pelayan yang suka mencuri, dan kerajaan yang gagal."

"Menurutmu kau bisa bertemu ibumu lagi?"

Kai menggeleng. "Aku juga tidak mau. Ayah menetapkan hukuman mati untuknya. Kalau usiaku sudah 17 tahun, aku jadi raja. Aku harus menghormati keputusan ayah kalau kelak aku bertemu ibu."

Jisung memutar tubuh menghadapnya dengan terkejut, tapi Kai cepat-cepat menyipitkan matanya ke arah langit.

"Kau harus mencari Storian, Jisung. Sebentar lagi langit terang."

"Bagaimana mungkin kau bisa melukai ibumu?" tanya Jisung tak percaya. "Aku rela melakukan apa saja demi bertemu dengan ibuku lagi. Apapun. Itu akan jadi Akhir Bahagia sesungguhnya untukku." Jisung mendesah dan membungkuk. "Tapi aku tidak seperti Kyungsoo. Tidak ada yang mendengar permohonanku."

"Ibumu... seperti apa dia?"

"Namanya Yoona. Artinya 'cantik'. Aku masih ingat wajahnya setiap kali melihat hal-hal indah yang disukainya, seperti kupu-kupu terbang di jalan saat musim semi. Dia sering berkata padaku bahwa suatu hari nanti, aku akan terbang jauh seperti mereka−mencari kehidupan yang lebih indah daripada hidupnya, ke suatu tempat di mana semua impianku terkabul. 'Jangan biarkan ada orang yang menghalangi akhir bahagiamu. Jangan sampai ada orang yang menghalangi cinta sejatimu,' katanya dulu. Tapi ulat tidak bisa memahami kupu-kupu," tutur Jisung, suaranya pecah.

Kai menyentuh bahunya. Jisung bersandar padanya dan akhirnya menangis.

"Teman satu-satunya merebut satu-satunya laki-laki yang pernah dicintainya," ujar Jisung. "Aku tidak mau berakhir seperti eommaku. Sendirian dan kesepian."

Kedua anak laki-laki itu dikelilingi hening yang semakin pekat.

"Aku belum pernah bertemu cowok yang mau jadi kupu-kupu," kata Kai pelan.

Jisung mendongak. Keduanya saling menatap, kaki mereka bersentuhan di langkan.

Kai menelan ludah lalu melompat ke balkon. "Ayo, kita cari pena itu."

"Tunggu−"

Namun sang pangeran sudah berlari pergi, tersandung-sandung di lorong sebelum menghilang dalam gelap.

Tangan Soojung perlahan meraba tempat yang tadi diduduki Kai di langkan itu. Dia menyuruh dirinya sendiri untuk segera pergi ke menara perak untuk mencari Storian selama masih ada waktu , lalu mengajak Kyungsoo pulang dengan harapan mereka. Namun dia tetap duduk di sana, sendirian di atas Hutan, sampai sinar matahari pagi memecah kegelapan.

.

.

.

Triple update!

Go read the next chapter : )

ps: Ada pelajaran yang bisa diambil dari chapter ini :)