NARUTO BELONG BABE KISHI
JUST WANT YOU
OOC,ABAL,ANEH,GAK NYAMBUNG,GAJE,TYPO .
Mereka makan dengan rasa canggung. Sebenarnya hanya Naruto dan Hinata yang merasa canggung disini. Ibu Hinata –Hanami- saat ini terlihat memakan makannya dengan begitu tenang bahkan terlihat sangat anggun.
"Ibumu terlihat biasa saja" Bisik Naruto pada Hinata yang duduk disampingnya.
"Kau tidak pernah dengar kata diam-diam menghanyutkan!" bisik Hinata balik.
"Ibumu seperti itu!" sebelum Hinata menganggukan kepalanya untuk menjawab Naruto hanami sudah terlebih dulu mengintrupsinya.
"Sampai kapan kalian terus berbisik seperti itu!" ucapan Hanami yang berhasil mengagetkan Naruto dan Hinata.
Hanami meletakkan sumpitnya dan memandang dua orang yang memandang balik dirinya.
"Hinata pasti terus mempengaruhimu untuk megikuti keinginannya bukan, Nak Naruto! Dia memang seperti itu. Maaf atas kelakuan tidak mengenakannya, ya!"
"I-itu tidak masalah"
"Kau sangat baik!. Tidak seperti anakku yang sedikit kurang waras ini!"
Naruto dan Hinata diam. Mereka seperti pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya.
"Em! Bibi bolehkah aku menginap disini?" Hinata langsung menoleh kearah Naruto saat Naruto tiba-tiba bertanya seperti itu. Naruto tidak mengatakan soal dia akan menginap tadi. Dia hanya mengatakan akan pulang larut. Larut sampai pagi maksudnya.
"Kau mau menginap?" tanya Hanami.
Ibunya pasti akan menjadikan dirinya pesuruh dadakannya Naruto setelah ini dan Naruto pasti akan meminta yang aneh-aneh.
"A-apa boleh?"
"Tentu saja! Aku sudah lama menantikanmu berkata seperti itu" Hanami tersenyum kearah Naruto sebelum menoleh kearah Hinata.
"Hinata kau dengarkan!" Hinata beralih menoleh Ibunya.
"Siapkan kamar Hanabi untuk Nak Naruto tidur malam ini!" sudah Hinata duga.
"Ah! Tidak perlu repot-repot Bibi. Aku bisa tidur dikamar Hinata!." Hinata kembali menoleh kearah Naruto dan menatap tajam Naruto.
Naruto hanya melirik biasa kearah Hinata dan melanjutkan bicaranya.
"Pasti Hinata juga tidak suka jika barang-barang yang berada dikamar adiknya aku sentuh!"
"Hee... jangan! seprei dan bantalnya penuh dengan air liurnya. Kau pasti tidak bisa tidur karena gatal-gatal! Kamar Hanabi lebih steril. Hanabi akan baik-baik saja!"
"Aku tidak pernah mengotori seprei dan bantalku dengan air liurku!" ucap sela Hinata membela dirinya. Dia memang tidak pernah melakukankan itu emm.. maksudnya jarang.
"Ah! Jadi kau sudah mengganti seprei dan sawal bantalnya! Baiklah kau bisa tidur dikamar Hinata, Nak Naruto!"
"Apa!"
"Siapkan air panas dan Siapkan juga baju ganti untuk Nak Naruto pakai" ucap Hanami mutlak dan Hinata hanya bisa menghela napasnya.
"Kusarankan sebelum kau tidur jangan melihat wajah Hinata, Nak Naruto. Kau bisa mimpi buruk nanti!"
.
Saat Naruto sedang melihat-lihat interior kamar Hinata yang akan dia tempati malam ini, tiba-tiba Hinata datang dari pintu yang tidak dia tutup dan melemparkan kasar baju ganti untuk dia pakai kekasur yang berada disana.
"Waw! Kasar sekali" ucap Naruto sambil mengambil baju itu. Naruto mengeryitkan dahinya.
"Apa ini baju Ayahmu? Kenapa modelnya seperti milik remaja." Hinata yang akan pergi dari kamarnya yang terjajah malam ini langsung berhenti dan berbalik kearah Naruto saat Naruto berbicara padanya.
"Itu milik Kakak sepupuku!" Hinata berbalik untuk segera keluar dari kamarnya dengan membanting pintu kamarnya dan tidak berselang lama terdengar teriakan marah dari Ibu Hinata.
"Aku hampir saja berlari pulang!" ucap Naruto dan segera pergi kekamar mandi di kamar itu untuk membersihkan dirinya.
Setelah Naruto selesai mandinya yang sangat lama. Hampir empat jam dia berada didalam kamar mandi kamar Hinata hanya untuk menghabiskan sampo dan sabun milih Hinata untuk mengubah baunya agar sama dengan bau Hinata. Dia sekarang terlihat sedang tidur tertelungkup sambil membenamkan kepalanya dibantal Hinata. Menghirup dalam aroma Hinata yang tertinggal di bantal itu.
"Aku seperti pria mesum" gumam Naruto. Baru sadar dianya.
Naruto menolehkan kepalanya dan tersenyum saat melihat boneka rubah berada disampingnya. Itu boneka pemberiannya. Hinata menyimpannya dengan baik.
Naruto bangun dari tidurnya dan meraih boneka rubah itu. Menghirup bau boneka itu yang baunya sudah berubah dari pertama kali dia berikan pada Hinata.
"Sepertinya kau sangat senang tinggal disini." ucap Naruto sambil memainkan tangan boneka rubah itu.
"Hinata pasti sering memelukmu, bukan! Tercium dari baumu tau!"
"Jaga matamu saat Hinata sedang berganti baju!. Dasar!" Naruto menyentil kepala boneka rubah itu.
"Bagaimana jika kita bertukar tempat, hm! Kau jadi diriku dan aku jadi dirimu" Naruto memeluk boneka rubah itu. Dia memang kurang waras.
"Pasti kau tidak mau, huh!" bisik Naruto dan menjatukan dirinya untuk tidur. Malam ini dia akan bermimpi sangat indah dimana didalam mimpinya Hinata sedang memakai gaun putih yang sangat menawan. Harapnya.
.
.
.
Naruto dan Hinata berjalan beriringan dilorong sekolah. Mereka akan menuju kelapangan baseball. Naruto sudah menganti bajunya dengan seragam kusus klub baseballnya. Hari inilah laga persahabatan antara KHS dan SHS akan dimulai.
"Berdirilah ditempat dimana kau bisa melihatku dan aku bisa melihatmu dengan jelas!"
"Aku mengerti!" jawab Hinata sambil menganggukan kepalanya.
"Teriaki namaku dengan kencang!"
"Itu akan sulit untukku!" Naruto berhenti dan menatap Hinata.
"Cih! Sekali-kali cobalah keluar dari zonamu untuk kekasihmu ini!" ucap Naruto sambil berkacak pinggang. ucapanya terdengar seperti candaan ditelinga Hinata.
"Tapi aku sudah terlalu nyaman dengan zonaku!" ucap Hinata sambil mengayun-ayunkan tangannya.
"Ck! Berikan aku sesuatu untuk kemenanganku nanti!" Naruto berganti melipat tangannya.
"Aku mengerti!" Hinata meletakkan tangan dikepalanya. Tanda hormat. Dan memperlihatkan cengirannya pada Naruto.
.
Naruto menghampiri salah satu pemain dari SHS yang dia kenal yaitu Gaara.
"Aku tidak akan mengalah darimu!" ucap Naruto sambil mengulurkan tangannya. Dia sudah lama tidak bertemu dengan kawan lamanya ini.
"Aku tidak akan kalah darimu!" Gaara menyambut uluran tangan Naruto dan tersenyum.
"Cih! Mampirlah kerumah!" ucap Naruto sambil melepaskan tangannya.
"Aku akan mampir!"
"Baiklah! Mari kita berjuang" Naruto memeluk sebentar Gaara. Pelukan ala para pria dan Naruto segera pergi untuk menuju timnya.
Peluit tanda dimulainya pertandingan sudah berbunyi. Suasana sangat ramai dilapangan baseball KHS saat ini. Semua penonton saling bersorak-sorak untuk tim yang mereka dukung. Meneriaki pemain idola mereka.
Tibalah saat giliran Tim KHS menjadi penjaganya dan Narutolah yang bertugas menjadi Pitchernya. Naruto berjalan menuju keposisinya dengan santai sambil memainkan bola yang berada ditangannya. Naruto melirik kearah seseorang yang menjadi sebab akibat dia selalu tebar pesona sejak awal pertandingan dimulai. Hinata. Naruto tersenyum kearah Hinata dan mengedipkan sebelah matanya.
Hinata yang melihat Naruto berkedip kearahnya langsung membuatnya tertawa pelan. Berbeda dengan para siswi KHS yang melihat kedipan Naruto Untuk Hinata. Suasana riuh langsung berubah hening dengan tatapan cemberut dari para siswi yang tanpa berani menghina Hinata saat melihat kedipan Naruto mengarah pada Hinata.
Tapi tidak berselang lama suasana lapangan kembali riuh saat Naruto melemparkan bolanya begitu keras sampai membuat pemain lawan tidak bisa memukul bola lemparan dari Naruto. Strike, Better Out. Naruto ahlinya dalam bidang ini.
Giliran Gaaralah yang menjadi Batter selanjutnya. Dia mengambil ancang-ancang untuk memukul bola dari lemparan keras Naruto.
"Aku akan marah jika kau tidak bisa memukul bolaku Gaara!" ucap Naruto sambil mengarahkan genggaman bolanya pada Gaara.
"Aku tidak akan sungkan!" ucap Gaara yang sudah siap dengan lemparan dari Naruto. Naruto menyeringai mendengarnya dan melemparkan bolanya dengan sekuat tenaga.
TING
Bola berhasil dipukul oleh Gaara yang membuat suasana menjadi semakin riuh. Naruto yang melihat bolanya melambung melewati atas kepalanya berinisiatif melompat untuk menangkap bola yang melambung itu.
Tapi naas bola tidak berhasil diraih dan kaki Naruto mendarat dengan tidak sempurna yang menyebabkan kakinya terkilir cukup parah.
Sasuke yang siap dalam kondisi apapun langsung berlari menuju bola yang melambung itu saat melihat Naruto yang tidak berhasil menangkap bolanya. Sasuke berhasil menangkap bolanya dan langsung dia lempar begitu keras menuju temannya yang menjaga Base sebelum pemain lawan berhasil sampai pada Base itu.
Tim medis sekolah langsung berlari kearah Naruto dan membawanya menggunakan tandu ketepi lapangan. menyemproti kaki Naruto dengan sprey pereda nyeri untuk pertolongan pertama.
"Dasar ceroboh! Sok pamer" omel Sakura yang sedang mengobati kaki Naruto yang bertugas menjadi tim medis saat ini.
"Tapi aku tetap terlihat keren, bukan" cada Naruto pada Sakura. Dia dalam keadaan suasana yang baik saat ini jadi dia mau bercanda sedikit dengan Sakura.
"Cih! Dasar!"
Hinata yang berada disisi lain lapangan terus melihat pemandangan yang berada disebrangnya. Terlihat Naruto sedang bercanda dengan Sakura yang mengobati dirinya. Mereka tertawa bersama. Mereka berdua benar-benar terlihat sangat akrab. Hinata menggelengkan kepalanya saat pikirannya mulai melayang kemana-mana. Hinata mendekatkan ponsel yang berada digenggamnya ketelinganya. Dia pasti akan mengganggu jadi dia harus segera pergi dari sana seperti tidak pernah melihat apa-apa. dan tanpa sadar ada sepasang mata yang melihat gerak-geriknya sejak tadi.
Hinata berdiri dijembatan yang berfungsi menjadi penghubung gedung KHS yang lain. Cukup lama dia berdiri disana bahkan sampai pertandingan baseball antara KHS melawan SHS berakhir. Dia bahkan tidak tau apa Naruto masih bisa melanjutkan permainannya sampai akhir atau tidak. Ada Sakura disana. Semau akan baik-baik saja.
Hinata mengeluarkan ponselnya dari saku roknya. Ponselnya lagi-lagi tertukar. Kali ini dialah yang ceroboh. Dia asal mengambil handphone dimeja yang dia dan Naruto tempati dikantin tadi saat mereka berdua pergi untuk mengisi perut mereka disana sebelum pertandingan dimulai.
Sebenarnya Hinata berniat mengganti ponselnya agar Naruto dan dia tidak keliru lagi membawa ponsel mereka dan dia juga tidak perlu menuruti perintah Naruto yang harus berpura-pura menjadi dirinya saat Sakura menghubungi ponsel Naruto saat ponsel Naruto sedang dia bawa. Hidupnya penuh dengan kepura-puraan. Tapi naruto mengatakan dia juga akan mengganti ponselnya sama persis dengan ponsel yang dia beli jika dia sungguh mengganti ponselnya. Itu akan percuma.
Hinata menyalakan ponsel Naruto dan mulai melihat-lihat isinya. Ini pertama kalinya dia menggledah isi ponsel Naruto. Sebelumnya dia hanya membuka folder pesan. Tidak apa-apa lagi pula Naruto sering menggledah isi ponselnya, pikir Hinata.
Hinata membuka galeri foto diponsel Naruto. Begitu banyak foto Naruto bersama temannya. Hinata tersenyum saat melihat foto-foto itu. Naruto terlihat sangat akrab dengan te,an-temannya, tapi senyumnya pudar saat melihat foto dibarisan cukup akhir difolder foto yang dia buka. Foto Naruto bersama Sakura. Mereka terlihat tersenyum bahagia didalam foto itu.
"Apa aku hanya menjadi penghalang?" gumam Hinata pada dirinya sendiri.
Hinata mengingat cerita Naruto tentang dirinya yang terus berusaha membalas cinta Sakura untuk dirinya selama hampir empat tahun.
"Akhirnya usahanya berbuah manis"
"Ternyata kau disini!" Hinata tersentak saat mendengar suara orang yang seperti berbicara padanya. Dia langsung mematikan ponsel Naruto dan menoleh keasal suara.
"Uchiha-san!" terlihat Sasuke yang berjalan kearahnya dan berhenti disampingnya.
"Sedang apa kau disini?" tanya Sasuke dengan nada yang tidak terlalu dingin.
"A-aku sedang menjawab panggilan diponselku!" mungkin Sasuke melihat kepergiannya dilapangan tadi, pikir Hinata
Sasuke tau jika Hinata sedang berbohong. Sasuke melihat gerak-gerik Hinata sejak Naruto diangat menuju kepinggir lapangan untuk diobati. Bahkan Sasuke tau jika Hinata pura-pura menerima telpon saat akan pergi meninggalkan lapangan baseball. Itu terlihat jelas karena Sasuke melihat jika Hinata langsung mendekatkan ponsel yang dia genggam ketelinganya tanpa menggeser layarnya.
"Bagaimana pertandingannya?"
"Kami menang!"
"Benarkah! Selamat!"
"Naruto, tidak bisa mengikuti pertandingan sampai akhir!"
"Bagaimana keadaanya?"
"Tanyakan pada Sakura!"
"..." Hinata hanya diam
"Apa kau cemburu?" tanya Sasuke tiba-tiba.
"Eh!"
"Bukankah mereka terlihat sangat akrab!"
Hinata tau maksud Sasuke. Dia memalingkan wajahnya kedepan dan menundukan kepalanya sambil mengeluarkan senyumnya.
"Kau tau semuanya bukan, Uchiha-san!"
"Jika yang kau maksud itu tentang Naruto. Ya! Mungkin aku mengetahui semuanya!"
Hinata mendongak sambil terus memperlihatkan senyumnya.
"Sepertinya cinta Haruno-san akhirnya terbalas."
"Kau berpikir seperti itu!"
"Empat tahun bukanlah waktu yang singkat! Naruto-kun terus berusaha, begitu juga Haruno-san. Saat seseorang terus berusaha dengan keras, pasti suatu hari nanti akan membuahkan hasil yang manis meskipun itu membutuhkan waktu yang lama, bukan"
"Kau berpikir seperti itu" ucap Sasuke mengulang ucapannya. gadis didepannya saat ini benar-benar tidak tau apa-apa.
"Cinta karena terbiasa bersama. Sepertinya teori itu berlaku untuk mereka berdua"
"Apa kau berniat akan merelakan mereka berdua bersama?"
"Sejak awal aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya bertugas untuk membantu Naruto-kun. Pergi saat sudah ada yang menempati Hati Naruto-kun. Jadi jika bantuanku sudah tidak diperlukan lagi maka aku harus pergi, bukan!"
"Haruno-san sangat mencintai Naruto-kun. Dan sekarang penantian panjangnya telah terbalas. Sepertinya inilah akhir dari sandiwara kami" Hinata menoleh kearah Sasuke dan menampilkan senyum manisnya.
"Saat Naruto melepasmu nanti!. Bagaimana jika kau terjebak oleh permainan yang dia buat"
"Maksudmu?" Hinata mengeryitkan dahinya bingung.
"Bagaimana jika kau tanpa sadar telah jatuh cinta pada Naruto karena sandiwaranya!"
"Maksudmu aku terbawa suasana karena sandiwaranya ini?"
"Seperti itu!" Sasuke mengeryit saat melihat Hinata kembali tersenyum.
"Aku telah jatuh cinta padanya sejak lama!" Sasuke membelalakan matanya mendengar perkataan Hinata.
"Tapi jika bukan akulah cintanya. Aku bisa apa!. Bahagia saat melihat orang yang kita cintai bahagia. Meskipun bukan kitalah penyebab kebahagian itu. Aku akan berusaha mempraktekkan teori itu. Jika takdir tentang nasib kita bisa kita ubah, berbeda dengan cinta. Karena cinta tidak harus memiliki. Aku akan tetap bahagia dengan cintaku ini!"
"Jika benar kalau kau tidak bisa bersama dengan Naruto dan ada orang yang menawarkan sebuah cinta untukmu. Apa kau akan menerimanya?" Hinata menampilkan wajah berpikirnya.
"Aku akan menolaknya!"
"Kenapa?" tanya Sasuke menuntut.
"Karena aku tidak mau menyakitinya. Karena pasti aku tidak akan bisa membalas cintanya sebesar dia memberikan cintanya padaku"
"Bagaimana kau tau?"
"Aku hanya merasa jika cintaku ini tidak akan berubah sampai kapanpun!"
"Bagaimana jika dia mengatakan jika dia akan berusaha untuk membuatmu berbalik mencintainya dengan cinta yang sama besarnya"
"Aku akan mengatakan jangan menyiksa perasaanmu untuk hal yang belum pasti untukku karena aku tidak ingin menyakiti orang baik sepertimu, terima kasih sudah mau mencintai orang sepertiku. Maafkan aku! Aku akan mengatakan itu"
"Bagaimana jika kau menyesal karena telah menolak orang itu suatu hari nanti!"
"Aku akan mengingat hari dimana aku menolaknya dan karena sebab apa aku menolaknya!"
Sasuke tersenyum. Sekarang dia tau kenapa gadis yang berada didepannya dan pria yang sedang terbaring diUKS saat ini bisa bersama. Mereka berdua sama-sama bodoh.
"Mirip sekali" gumam Sasuke.
"Apa?" Hinata mengeryit saat tidak terlalu mendengar perkataan Sasuke.
"Naruto berada diUKS sekarang!"
"Tapi pasti sudah ada Haruno-san yang menjaganya"
"Siapa yang menjadi kekasihnya saat ini!"
"Kau benar! Baiklah! aku harus pergi menemuinya" Hinata menganggukkan kepalanya pada Sasuke dan berpamitan pergi menuju UKS.
Sasuke berbalik melihat punggung kecil Hinata yang berjalan menuju kedalam gedung KHS.
"Seharusnya Ibuku bisa terhasut dan melakukan hal yang sama padaku agar aku memiliki alasan untuk mendekatimu!" gumam Sasuke sambil terus menatap punggung Hinata.
Hinata berbalik menatap Sasuke sebelum memasuki gedung KHS.
"Tadi kau terlihat sangat keren, Uchiha-san!" ucap Hinata sedikit berteriak karena jarak mereka yang sudah cukup jauh saat ini dan dia menampilkan senyum manisnya sebelum dia kembali berbalik berjalan masuk kegedung KHS.
Sasuke tersentak dan sedikit bersemu saat melihat senyum Hinata.
"Dia memperhatikanku"
.
.
.
Hinata membuka pintu UKS dan menemukan Shizune yang sedang duduk dikursinya.
"Kau mau menjenguk kekasihmu yang sedang sekarat saat ini, Hyuuga-san!" ucap Shizune menggoda saat melihat siapa yang membuka pintu markasnya.
Hinata hanya tersenyum canggung saat mendengar perkataan Shizune.
"Baiklah sepertinya aku akan mengganggu jika aku terus berada disini" Shizune mulai berdiri sambil merapikan kertas-kertas yang berada dimejanya.
"T-tidak, kau sama sekali tidak mengganggu Shizune-nee!"
"Aku tau, tapi aku tetap harus pergi untuk menyerahkan laporanku pada Tsunade-sama" ucap Shizune sambil memperlihatkan laporannya pada Hinata. Dia sedang menggoda Hinata tadi.
"Baiklah. Aku harus pergi. Nikmati waktu kalian!".
Hinata berjalan menuju kesalah satu bilik tempat tidur pasien diruang itu. Hinata melihat Naruto sedang memejamkan matanya saat dia sudah sampai disamping ranjang yang Naruto tiduri saat ini. Hinata melihat kearah kaki Naruto yang terbalut oleh perban dan beralih kembali kewajah terpejam Naruto.
Hinata tersenyum saat melihat wajah Naruto. Dia pura-pura tidur terlihat dari bibirnya yang berkedut menahan senyum. Hinata menduduki kursi lipat yang berada disampingnya. Hinata mengulurkan tangan dan mengelus rambut Naruto.
"Apa masih sakit?" Naruto menganggukan kepalanya sambil terus memejamkan matanya.
"Apa masih sesakit saat pertama kali?" Naruto menggeleng dengan matanaya yang masih terpejam.
Saat Hinata masih asik mengelus rambut Naruto dia tidak sengaja melihat dari balik gorden yang memisahkan dari ranjang lainnya sebuah rambut berwana bable gum yang sedikit menyembul terlihat dari tempat Hinata duduk. Hinata tau siapa pemilik rambut yang mencolok itu.
Hinata menghentikan elusannya dikepala Naruto dibarengi dengan Naruto yang bangun dari tidurnya dan membuat Naruto tidak sadar jika Hinata tiba-tiba menghentikan elusannya.
"Kenapa kau duduk disana. Duduklah disini" ucap Naruto sambil menepuk tempat kosong disamping dia duduk.
Hinata menurut dan berpindah duduk disamping Naruto. Tapi baru saja dia menyamankan duduknya dengan tiba-tiba Naruto memeluknya dari samping.
"Ada Sakura disebelah" bisik Naruto dan membuat Hinata mengurungkan niatnya untuk menolak perlakuan Naruto padanya.
Hinata sedikit membelalak saat Naruto mengatakan itu. jadi Naruto tau jika Sakura disana.
Naruto mengambil kesempatan saat Hinata hanya diam saat dia memeluknya dengan dia menelusupkan kepalanya keleher Hinata dan menghirupnya dalam. Dia suka bau Hinata. Ini seperti sakau.
"Jika kau terus mengendus leherku. Aku akan menendang kakimu yang terluka!" ucap Hinata sedikit berbisik.
Naruto melepaskan pelukannya dari tubuh Hinata dan mendecakkan lidahnya.
"Ck! Kau benar-benar tidak bisa diajak bermesraan." Hinata hanya diam tidak memperdulikan ucapan Naruto. Naruto menyeringai saat dia memiliki ide lain.
"Aw! Kepalaku!" Hinata langsung menoleh kearah Naruto yang sedang memegangi kepalanya.
"Ada apa dengan kepalamu?" tanya Hinata sedikit panik.
"Kepalaku terasa begitu... kepalaku... kepalaku...!" ucap Naruto sambil mulai menjatuhkan kepalanya diatas paha Hinata.
"Ah~! Ini lebih baik!" ucap Naruto saat kepalanya sudah menempel dipaha milik Hinata.
"Hei!"
"Ah! Kaki yang sakit dalam posisi yang tidak baik!" Naruto membalikkan posisinya menjadi menghadap keperut rata Hinata.
"Ini sangat nyaman!"
Hinata hanya mendengus saat melihat kelakukan Naruto tapi Hinata langsung membelalakan matanya saat Naruto memeluk pinggangnya dan menenggelamkan kepalanya diperutnya yang rata itu.
"Naruto-kun!"
"Kau tau Hinata! Aku pernah membayangkan masa depanku dimana kau juga ada didalamnya!" Hinata hampir tersedak mendengarnya.
"Hm! Seperti apa?" tanya Hinata sambil mengelus kembali rambut Naruto. Percuma menolak. Naruto memeluknya terlalu erat.
"Kita menikah dan aku sering tidur dipangkuanmu seperti ini setelah aku pulang dari bekerjaku" Hinata tersenyum dengan bibirnya yang dia tarik kebawah.
"Kau mengelus lembut rambutku dan aku mengecupi perut buncitmu yang didalamnya terdapat anak kita!" Hinata hampir saja tertawa jika dia tidak ingat jika disamping tempat mereka sekarang terdapat Sakura yang pasti mendengar percakapan mereka. Naruto sedang bersandiwara, pikir Hinata. Tapi khayalannya terlalu berlebihan.
"Tapi masa depan yang seperti itu masih lama untuk kita!" ucap Hinata lembut.
"Sebentar lagi kita lulus dan aku bisa menikahimu setelah upacara kelulusan kita!" Hinata tersenyum. Sepertinya Naruto berhak atas piala Oscar.
"Bukankah kau harus melanjutkan bisnis ayahmu! Kau pewaris tunggal!"
"Karena itulah aku akan menikahimu setelah upacara kelulusan kita. Aku pewaris tunggal dan aku harus segera mempunyai pewaris selanjutnya untukku nanti! Kebanyakan para pewaris menikah diusia muda, bukan!"
"Bukan itu yang aku maksud!" Naruto sedikt mendongak melihat Hinata yang menatapnya.
"Lalu?"
"Kau salah jurusan! Kau tidak tau tentang akuntansi. Kau tidak akan mengerti tentang laba-rugi perusahaanmu nanti dan kau pasti tidak tau bagaimana cara memutarkan uang perusahaanmu agar perusahaanmu tetap berada diwilayah aman! Kau mungkin akan ditipu oleh karyawanmu!"
"Bukankah ada kau!. Kau bisa menjadi sekretarisku. Sekretaris pribadiku dan perusahaan!"
"Tapi pasti ayahmu akan tetap menyuruhmu untuk melanjutkan sekolah dijurusan bisnis!"
"Kalau begitu aku bisa menjadi mahasiswa yang beristri!" ucap Naruto sambil menenggelamkan kembali kepalanya diperut Hinata. Naruto tau pasti Hinata sedang menganggapnya bercanda. Tapi dia tidak bercanda. Jika Hinata mengatakan dia mau dinikahi olehnya maka Naruto akan menikahi Hinata saat itu juga.
"Kau itu!. Dasar keras kepala!" ucap Hinata sambil mengelus kembali kepala Naruto yang sempat terhenti tadi.
Hinata menatap menerawang kedepan tanpa menghentikan elusannya dikepala Naruto. Dia sedang memikirkan tentang Naruto yang pergi meninggalkannya dan berpaling pada Sakura. Jika itu terjadi maka dia akan benar-benar jarang bersama Naruto. Disaat dia menjadi kekasih pura-puranya Naruto saja dia sangat sedikit memiliki waktu bersama dengan Naruto apalagi jika Naruto sudah tidak membutuhkannya lagi.
Hinata mengedipkan matanya untuk menghilangkan perasaan egoisnya. Dia sudah mengatakan dia akan bahagia jika Naruto bahagia meskipun kebahagian Naruto bukan darinya. Itu pasti sakit. Tapi dia tidak boleh egois. Dia ingin Naruto bahagia tidak ada yang lain. Dan dia akan memanfaatkan waktu kebersamaannya dengan Naruto sebaik mungkin sebelum Naruto benar-benar pergi darinya. Hinata tersenyum saat memikirkan semua itu.
Naruto yang menenggelamkan kepalanya diperut Hinata sedikit melirik kearah wajah Hinata. Dia mengeryit saat melihat Hinata menatap kosong kearah depan. Tapi tidak berselang lama dia tersenyum saat melihat Hinata tersenyum.
'Aku tidak peduli jika kau akan menertawakanku nanti'/ 'Aku tidak peduli jika kau akan menertawakanku nanti'
.
.
Hanami mengelus rambut Hinata yang terbaring dikasur kamarnya sendiri dengan tatapan sedihnya.
"Apa seharusnya aku membiarkanmu bersikap kurang ajar pada siapapun. Apa selama ini pelajaran yang aku ajarkan padamu itu salah. Hinata!"
TBC
