Author Notes :
Hiya, folks! Buseeeet hampir setaun gak pernah diupdate (parah banget!)
Maaaaaaaf karena tambah lama cerita ini tambah ngawur, tapi makasih untuk yang masih tetap setia membacanya.
Buat adek-adek yang masih polos, maafkan kakakmu ini ya karena cerita ini mengandung banyak graphic writing yang bisa membuat jantung deg-degan! Saatnya ganti rating demi keselamatan umat!
(Rating M: ON)
As usual, reviewnya ditunggu.
Enjoy!
Disclaimer :
I DO NOT OWN BLEACH. TITE KUBO DOES.
Chapter 21
A Day with Grimmjow
Ulquiorra bukan tipikal Arrancar yang suka tidur seperti Grimmjow. Espada stoic ini lebih memilih untuk tidur sebentar dan beraktivitas dalam waktu yang lama. Selama ini Ulquiorra tidur tiap harinya hanya berkisar dua hingga tiga jam saja, dan itupun kalau dia memaksakan diri untuk pergi tidur.
Tiga jam sejak dia memejamkan matanya untuk beristirahat, secara otomatis sepasang mata emerald itu terbuka sesuai rutinitasnya.
Ulquiorra memandang lurus ke langit-langit kamar lalu perlahan dia mengusap kedua mata indahnya. Ini bukan di kamarnya yang biasa. Terkejut, Ulquiorra terduduk lalu segera melihat keadaan sekitarnya. Penataan ruang yang seperti ini… tentu bukan kamarnya.
Espada keempat menoleh ke arah sosok yang saat ini masih tertidur lelap. Gadis berambut orange yang sekarang sedang tersenyum dalam tidurnya.
Bibir tipis Ulquiorra menyunggingkan senyuman kecil.
'Orihime Inoue…'
Disentuhnya rambut panjang Orihime yang mencolok di antara seprai putih itu, kemudian diciumnya. Wangi yang sangat disukai Ulquiorra. Karamel.
'Tidak pernah kupikirkan sebelumnya bahwa aku bisa tidur satu ranjang dengan gadis manusia. Terlebih lagi, tidur dengan gadis yang sempat ingin kubunuh saat pertama kali bertemu dengannya…'
Terhanyut dalam pikiran di waktu lampau, akhirnya lamunan singkat itu terhenti saat Orihime menggulingkan tubuhnya ke arah Ulquiorra. Sambil tetap tersenyum manis, tentunya. Orihime tetap cantik walaupun dia sedang tidur. Seperti yang Ulquirora duga sejak dulu, cara tidur Orihime tidak seperti Grimmjow yang tidak bisa diam ataupun seperti Yammy yang tidur dengan dengkuran sumbangnya.
'Bak seorang putri tidur… seperti ini pun kamu sungguh mempesona, Orihime…'
TIba-tiba Ulquiorra merasakan ada sesuatu yang menyentuh pinggangnya. Sepasang mata emerald pun langsung tertuju pada arah rangsangan…
… dan ternyata lengan Orihime sudah melingkar dengan erat di pinggang Ulquiorra. Seperti anak kecil yang tidur dengan memeluk boneka beruang kesayangannya…
Ulquiorra membiarkan putri Las Noches itu untuk memeluk pinggangnya seperti ini, toh tidak ada yang perlu dikhawatirkan…
Namun saat pandangan matanya tertuju pada tubuh Orihime…
… Ulquiorra sontak melebarkan kedua matanya. Bagaimana tidak, dari sudut ini dia bisa dengan jelas melihat 'aset' berharga milik seorang wanita. Atau lebih tepatnya, belahan indah yang katanya adalah tujuan utama penglihatan dari 70% pria di muka bumi.
'Kendalikan dirimu, Ulquiorra!'
Masih dengan jantung yang deg-degan, Ulquiorra mencoba mengalihkan perhatiannya ke arah balkon kamar. Masih gelap, berarti waktu masih lama sampai gadis berambut orange ini mendapatkan sarapannya pagi ini.
Untungnya Orihime yang masih tidur itu segera melepaskan lengannya, lalu berguling pelan lagi sehingga tubuhnya memunggungi Ulquiorra. Cuatro Espada menggelengkan kepalanya. Sungguh tidak bisa diam gadis ini, pikirnya. Dengan perlahan, lengan Ulquiorra yang sekarang ganti memeluk Orihime, melingkari tubuh gadis itu hingga sekarang mereka tidur bersebelahan, berhadap-hadapan lagi. Ulquiorra membenamkan dagunya di puncak kepala Orihime. Jemari rampingnya menyusuri rambut orange gadis itu lagi.
Terdengar suara nafas Orihime yang pelan, tanda si gadis masih tidur nyenyak. Tanpa ragu, Ulquiorra mencium dahi pemilik Shun Shun Rikka itu.
"Ulquiorra…"
Ya ampun. Mengapa di saat seperti ini Orihime justru mengigau? Ulquiorra memaki dalam hati. Suaranya itu pun terdengar sepuluh kali lebih menggoda dari biasanya, membuat Espada pucat itu agak sulit membedakan apakah sekarang ini sudah menjelang fajar atau belum. Sepasang mata kelabu kemudian bertemu dengan mata Ulquiorra. Orihime terbangun.
"Orihime? Kamu terbangun? Maafkan aku," spontan Ulquiorra langsung meminta maaf, karena tahu saat ini masih masuk waktu tidur Orihime.
Orihime menggeleng lalu mendekatkan dirinya pada Ulquiorra. Dengan perlahan Orihime menidurkan tubuh Ulquiorra yang dari tadi terduduk. Ulquiorra sedikit bingung karena toh dia sudah tidak bisa tidur lagi, jadi untuk apa dia berbaring lagi? Lebih baik segera berpamitan dan keluar dari kamar Orihime, sebelum ada yang tahu… apalagi kalau sampai penciptanya tahu dia menghabiskan semalam dengan putri kesayangannya.
"Orihime, aku-"
"Tidak mau. Jangan pergi dulu, Ulquiorra. Aku masih ingin bersamamu," seakan bisa menebak apa yang akan Ulquiorra katakan, Orihime langsung memotongnya.
"Aku harus kembali ke kamarku. Bisa gawat kalau Aizen-sama sampai tahu aku di sini bersamamu semalaman…"
"Nanti aku akan bilang pada Aizen-sama kalau aku tidak enak badan, jadi kamu khawatir dan berinisiatif untuk menjagaku. Bagaimana?" Orihime tersenyum dengan polos.
Kenapa hal itu tidak pernah terpikirkan sebelumnya? Pintar.
"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan, Orihime. Tapi aku harus tetap meninggalkan kamarmu sebelum waktu sarapanmu," Ulquiorra berkata sambil tersenyum tipis.
Orihime tanpa malu-malu mencium dahi Espada keempat lalu tersenyum polos, senyum yang sangat disukai Ulquiorra.
"Terimakasih, Ulquiorra."
Orihime membuka matanya. Rasanya tidak ada tidur yang lebih baik daripada semalam. Ah… walaupun dia pernah tidur dengan kakaknya, pasti terasa berbeda bila tidur dengan lelaki lain. Wajah Orihime sontak memerah begitu dia ingat kalau semalam…
Oh ya ampun. Tidur dengan Ulquiorra.
Tidak ada kejadian aneh-aneh sih… kecuali beberapa momen yang membuat jantungnya hampir meloncat keluar itu. Ciuman, pelukan dan sentuhan Ulquiorra…
Gadis berambut orange tersebut kemudian mengulurkan tangannya ke sisi di sebelahnya, mencari sosok Espada pucat penjaga setianya. Namun yang dia rasakan hanyalah hamparan lembut dari seprai tempat tidur. Tidak ada bagian yang kusut atau terlipat, yang ada hanyalah seprai putih itu sudah tertata dengan rapi.
'Ulquiorra sudah bangun duluan ya… ternyata memang dia menepati janjinya,' Orihime bergumam, namun tidak bisa dipungkiri kalau dia sedikit kecewa.
Orihime merenggangkan otot-otot tubuhnya, lalu menguap kecil dan dia mengusap kedua matanya yang masih ngantuk dengan punggung tangannya. Ingat kalau sebentar lagi Ulquiorra akan kemari membawa sarapannya, Putri Las Noches itu segera memilih untuk mandi. Orihime merasa tidak percaya diri kalau harus berhadapan langsung dengan Ulquiorra setelah semalam Espada keempat itu tidur di kamar ini.
Di kamar mandi, seperti biasanya Orihime tersenyum pada bayangannya di cermin. Well, tinggal di Las Noches tidak mengubah penampilannya secara total. Tubuhnya masih langsing dan seksi, namun Orihime menghela nafas saat melihat rambutnya yang berantakan. Disisirnya jalinan orange itu dengan jemarinya, dan Orihime teringat saat semalam, jemari pucat milik Ulquiorra-lah yang menari menyusurinya.
'Dia tampak dingin, tapi ternyata… dia hangat.' Pikir Orihime.
Bahkan panas, bukan? Ingatkah kamu betapa panasnya perlakuan Ulquiorra padamu semalam? Duh, jika tangannya kemarin tidak berhenti, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebuah suara nakal berbisik di telinga Orihime, berhasil membuat gadis itu menutup muka merahnya dengan kedua telapak tangannya.
Mengetahui bahwa sudah beberapa menit dia melamun di depan cermin, Orihime segera membuka gaun tidurnya dan memilih untuk mandi dengan shower air dingin, untuk menenangkan pikiran nakalnya pagi ini. Oh Orihime.
Tidak lama setelah Orihime selesai berpakaian, terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Karena sudah waktu makan, pasti yang di balik pintu adalah Arrancar pucat. Dibukanya pintu itu, diiringi senyum yang menghiasi bibir merah Orihime.
"Ulquiorra!" sapa Orihime.
Namun alis gadis itu terangkat karena yang ada di hadapannya adalah Grimmjow.
"Pagi, Pet-sama. Sayangnya aku bukan Ulquiorra," tanpa banyak cing-cong Grimmjow langsung masuk ke dalam kamar Orihime, sambil membawa nampan berisi sarapan di tangan kirinya.
"Lho, dimana Ulquiorra?" tanya Orihime bingung.
Grimmjow meletakkan nampan itu di meja lalu duduk di sofa dengan santai, seakan kamar ini adalah miliknya. Dasar Grimmjow. "Ulquiorra dipanggil Aizen-sama. Ada panggilan darurat, katanya. Tapi yang dipanggil Aizen-sama cuma dia saja tuh."
Jantung Orihime langsung berdebar. Aduh, apa jangan-jangan Aizen-sama tahu kalau semalam dia dan Ulquiorra bersama sampai pagi di kamar ini?
Grimmjow mengernyitkan alis. "Kamu kenapa, Pet-sama? Wajahmu memerah," Grimmjow berkomentar sambil terkikik, "… khawatir?"
Orihime tidak mau banyak bertingkah, jadi dia hanya duduk di sebelah Grimmjow dan membuka nampan sarapannya pagi ini. Air liur menetes saat melihat isinya. Assorted muffin dan juga croissant. Teh earl grey dan juga sekotak kecil coklat.
'Wow. Aromanya lezat sekali. Jadi sayang jika dimakan,' Orihime berkata dalam hati.
"Makan sarapanmu, Pet-sama. Kalau kamu tidak makan aku bisa diomeli Si Pucat," Grimmjow seakan bisa membaca pikiran Orihime.
"Ah? Iya, Grimmjow. Aku makan sekarang." Orihime kemudian mengambil muffin coklat dan mulai memakannya. Rasanya seperti surga! Di kota Karakura sepertinya tidak ada muffin seenak ini!
Grimmjow tiba-tiba mengendus sekitarnya, membuat Orihime tertawa.
"Jika kamu mencari aroma yang enak, sumbernya berasal dari sarapanku, Grimmjow." Orihime memberi tahu.
Grimmjow menggeleng dengan kebingungan. "Bukan aroma kue itu, Pet-sama. Tapi kenapa aku mencium bau Ulquiorra? Dia kan tidak ada di sini."
Untung saja Orihime tidak sedang menelan muffin, atau jika iya, dia pasti tersedak.
"Bau Ulquiorra?" ya ampun Grimmjow, memangnya kamu anjing pelacak?
"Yup. Seakan-akan dia semalaman berada di sini. Agak samar, tapi aku bisa mencium baunya…" Grimmjow beralih memandang Orihime yang sedang merona, lalu akhirnya Sexta Espada menyeringai. "Ahaaa… jadi semalam dia berada di sini."
"Grimmjow!" Orihime kaget, panik karena tebakan Grimmjow benar.
"Kalian tidur bareng? Wah Ulquiorra harus berterimakasih padaku karena berkat usaha dermawan dariku yang menyatukan kalian dengan serbuk bunga," Grimmjow terkikik lagi, tapi suaranya justru makin keras.
"Grimmjow! Ya ampun! Pelankan suaramu!"
"Apa yang kalian lakukan semalam?" dalam sekejap Grimmjow bersonido di atas tempat tidur Orihime, lalu seringaian mesum terpatri di bibirnya dan dia berkata simpel "Ooh."
Orihime sekarang berdiri, panik campur malu. Dia sudah tahu apa maksud dari kata sederhana Grimmjow itu. Espada berambut biru tersebut pasti sedang berpikir yang bukan-bukan!
"Hmm… Ada sisa reiatsu Ulquiorra di sisi tempat tidurmu yang sebelah sini, Pet-sama," Grimmjow menunjuk sisi tempat tidur dimana semalam Ulquiorra berbaring, "… dan baunya yang samar-samar ini… oh… menarik sekali, mengarah ke sisi sini juga…" sekarang Grimmjow terkekeh-kekeh sambil menunjuk sisi dimana Orihime biasa berbaring.
"Grimmjow! Jangan tertawa seperti itu!" Orihime menghampiri Grimmjow yang duduk berjongkok di atas tempat tidur, makin malu rasanya.
Pandangan Grimmjow teralihkan pada boneka kucing biru yang ada di pojok tempat tidur. Boneka pemberiannya.
"Kau masih menyimpannya, Pet-sama?" Grimmjow bertanya sambil memeluk boneka buatannya itu.
Syukurlah, Grimmjow melupakan topik pembicaraan yang sebelumnya.
"Tentu saja, Grimmjow. Itu kan hadiah darimu, dan aku menyukainya." Orihime duduk di tepi tempat tidur, mengelus kepala boneka miliknya itu pelan.
Mendengar perkataan seperti itu… Grimmjow seketika merasa tenang. Setelah semalaman tidak bisa tidur karena kesal (ingatkah dengan apa yang dilakukan Nnoitra dan Nel di lapangan pasir?) dan Lilynette meminjam kamarnya, Grimmjow harus mengawali harinya dengan bad mood. Ditambah dengan Ulquiorra yang tiba-tiba memintanya (atau menyuruh?) mengantar sarapan Orihime.
"Pet-sama," panggil Grimmjow.
"Ya?"
"Apa kamu menyukai Ulquiorra?" pertanyaan yang spontan, benar-benar Grimmjow!
Wajah Orihime memerah. Apa-apaan ini? Hari masih pagi tapi Grimmjow telah memberikan banyak shock pada jantungnya!
"K-kenapa kamu bertanya seperti itu, Grimmjow?" suara Orihime sedikit bergetar, dia memang tidak pandai berbohong dan jaim.
Grimmjow menyeringai lagi. "Jawab saja, Pet-sama. Aku dan beberapa Espada lain sudah ada firasat kalau Kelelawar Pucat itu menyukaimu, dan terbukti dari betapa protektifnya dia padamu saat di Hutan Menos. Nah, sekarang aku bertanya padamu."
"T-tapi…" Orihime tampak ragu. Apa perlu dia memberitahu Grimmjow tentang perasaannya pada Ulquiorra? Gadis itu sendiri baru saja memberitahu Ulquiorra isi hatinya semalam… dan tanpa disangka ternyata penjaganya itu memiliki perasaan yang sama…
Wajah Grimmjow tiba-tiba mendekat. Hidung mancung Espada keenam itu bahkan hampir menyentuh pipi Orihime yang merona. "Pet-sama? Aku bertanya padamu," dia mengulangi.
Orihime malah gemetaran. Apakah tidak apa-apa, jika memberi tahu Grimmjow…? Bagaimana kalau dia memberi tahu Aizen-sama?
Grimmjow mundur lalu menepuk kepala Orihime. "Aku tidak akan bilang pada Aizen-sama. Aku janji, Pet-sama."
Wow. Grimmjow berjanji pada seorang gadis manusia. Aizen-sama pasti bangga padanya.
"Aku… menyukainya," Orihime akhirnya menjawab malu-malu, "… aku menyukai Ulquiorra. Aku sayang padanya."
Grimmjow baru mau berkata, tapi Orihime memotong lagi.
"Tapi bisakah kita bersama? Pada dasarnya… aku musuh kalian. Aku berada di pihak yang sama dengan Soul Society, kau tahu…" suara Orihime mengecil.
"Pet-sama…"
"Dan aku tidak tahu apa yang ada di benak Aizen-sama… jika beliau tahu aku menyukai Arrancar kesayangannya. Mungkin karena Aizen-sama membutuhkanku… beliau tidak akan menyakitiku tapi… Ulquiorra?"
Inilah yang Orihime takutkan sejak dulu. Berada di sini cukup lama… sebagai gadis manusia biasa, dia tidak bisa menghindari takdir, bukan? Takdir bahwa dia bisa jatuh cinta pada musuh.
Arrancar pucat yang dulu menculiknya.
Ulquiorra Schiffer.
Grimmjow tampak sedikit terkejut karena gadis berambut orange di sebelahnya ini sekarang menangis. Well, ini cukup mengherankan Grimmjow karena semenjak dia dekat dengan Orihime, gadis itu tidak pernah menangis. Kalau dulu sih… Orihime pernah menangis karena dia menakut-nakutinya, tapi baru kali ini dia melihat Orihime menangis karena hal seperti ini.
"Aku telah jatuh cinta padanya, Grimmjow! Perasaan ini… ya Tuhan… salahkah ini?" Orihime tampak putus asa. Dia jadi semakin takut memikirkan apa konsekuensi yang menghadang mereka di depan. Aizen-sama, teman-teman Orihime…
Arrancar itu pada dasarnya tidak memiliki perasaan. Mereka sudah mati. Jiwa mereka sudah mati.
Tapi… akhir-akhir ini di Las Noches sepertinya ada anomali yang tak lazim.
Berapa banyak public display of affections yang Grimmjow ketahui dan dia lihat?
Pertama, bagaimana seorang seperti Starrk mampu membuat 'Ice Queen' seperti Hallibel bertekuk lutut? Jatuh cinta pada Espada pertama yang tukang tidur itu?
Lalu, bagaimana dia bisa menduga kalau saingan abadinya, Ulquiorra, bisa overprotektif pada gadis manusia seperti Orihime? Dan semua tindakan Ulquiorra selalu menjadikan Orihime sebagai prioritas utama. Topeng tanpa ekspresi Ulquiorra musnah sudah jika berada di dekat Orihime.
Dan Nel…
Uhhh sial.
Memikirkan Nel langsung membuat Grimmjow teringat kejadian semalam. Melihat betapa akrabnya dua Arrancar yang habis berlatih tanding di lapangan pasir itu. Dia masih ingat bagaimana cara Nnoitra memandang Nel, sudah berbeda dari saat mereka bertemu lagi di Hutan Menos. Tidak ada kebencian dan rasa jijik. Mata violet si jangkung itu jelas memancarkan kerinduan.
Terasa sesak seperti semalam, jika Grimmjow teringat juga dengan wajah salah tingkah Nel saat Nnoitra menggendongnya bak seorang pengantin. Sepasang mata indah yang sempat membuat Grimmjow kagum itu… memancarkan perasaan yang sama seperti apa Nnoitra pancarkan untuknya.
Dan dia merasa… sedih. Rasanya seperti ditinggalkan.
"G-Grimmjow?" panggil Orihime, khawatir karena Grimmjow tiba-tiba melamun. Dia sudah mengusap air matanya dengan tangan.
"Ah…" Grimmjow tersadar dari lamunan klise, lalu mengalihkan pandangannya ke si empunya suara.
Orihime jadi bingung sekarang. "Apa kamu baik-baik saja, Grimmjow? Kamu seperti… tidak berada di sini untuk beberapa saat."
"Aku baik-baik saja, Pet-sama. Hanya ada sesuatu yang kupikirkan…" jawab Grimmjow sambil mengacak-acak rambutnya. Ah kacau, Nel membawa efek buruk untuk otaknya…
"Hmm? Boleh aku tahu?" Orihime bertanya polos.
"Misalkan… uh…." Grimmjow agak bingung untuk memulai, karena selama ini mana pernah dia curhat tentang Nel? "… Oh ya! Misalkan Ulquiorra memiliki seorang rival dan sejauh yang kamu tahu… mereka berdua selalu bertengkar dan adu mulut…"
Orihime memasang muka 'sepertinya-aku-tahu' pada Grimmjow.
"… lalu suatu hari mereka berdua ini mulai mengurangi frekuensi adu mulutnya dan ternyata malah ketahuan sedang bersenda gurau. Bahkan wajah Ulquiorra memerah saat rivalnya ini memeluknya…"
Orihime terkejut dan memasang muka jijik pada Grimmjow. Apakah Grimmjow sudah memeluk Ulquiorra? Tidak mungkin! Tapi mereka kan suka bertengkar dan adu mulut… Teman bertengkar. Rival. Jangan bilang…
Grimmjow mengacak-acak rambutnya lagi, frustasi. Sulit untuk menjelaskannya pada Orihime. "… tapi saat diteliti lebih detail, pandangan Ulquiorra pada rivalnya itu seperti… rindu? Demikian juga dengan pandangan si rival kepada si Pucat."
Oke. Orihime mulai mual sekarang. Oh Tuhan jangan sampai asumsi terburuk Orihime itu…
"Jadi… apa yang ingin kamu tanyakan padaku, Grimmjow?" tanya Orihime ragu. Pikiran aneh tentang Grimmjow dan Ulquiorra sedang berkecamuk bak badai dalam pikiran polosnya.
"… apakah emosi yang ada di antara Ulquiorra dan si rival, Pet-sama?" Grimmjow akhirnya bertanya inti dari ceritanya.
Orihime menghela nafas. "Sulit untuk mengatakannya, Grimmjow. Tapi aku rasa Ulquiorra… jatuh cinta pada si rival."
Orihime merasa nyeri. Masa sih dia cemburu dengan si rival yang diceritakan Grimmjow, dimana menurut Orihime, orang yang dimaksud oleh Grimmjow itu adalah Grimmjow sendiri.
"Jadi… mereka saling jatuh cinta, begitu?" tanya Grimmjow lagi, semakin penasaran untuk memastikan.
Orihime mengangguk. "Dari benci jadi cinta kan mudah, Grimmjow…"
Ternyata. Ulquiorra. Cinta. Pada. Grimmjow?
Katakan ini cuma mimpi!
Orihime sedih, entah mengapa dia merasa dipermainkan. Sialan Ulquiorra, batinnya. Kemarin sudah bersikap romantis, bahkan menciumnya berkali-kali tapi ternyata di belakang dia ada perasaan dengan Grimmjow? Sungguh… terlalu.
Mata sapphire Grimmjow terbelalak saat melihat putri Las Noches itu menangis lagi.
"Ya ampun, Pet-sama? Kenapa kamu menangis lagi? Apa aku salah ya bercerita itu padamu?" Grimmjow panik.
Suara sesengukan Orihime terdengar dari gadis itu. "Habisnya… hiks, Ulquiorra ternyata tidak jauh cinta padaku."
Grimmjow mengangkat alis. Bingung. "Hah?"
"Tadi kamu bilang padaku kalau Ulquiorra dan si rival berpelukan dan Ulquiorra memancarkan sinar cinta pada si rival dan sebaliknya. Berarti… rival itu yang dia cintai, bukan?" Orihime makin sesengukan.
"Lho, tunggu dulu Pet-sama…" Grimmjow menggaruk-garuk rambut birunya. Ada yang tidak pas deh.
"Berarti yang dicintai oleh Ulquiorra itu kamu, Grimmjow!" nada suara Orihime meninggi lalu dia menunjuk Grimmjow dengan telunjuknya. Terbakar api kecemburuan tapi tetap meneteskan air mata.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Kedipan-kedipan mata dari sepasang mata sapphire.
Dan terdengar ledakan tawa.
"HAHAHAHAHA! Ya ampun Pet-sama….! HAHAHAHA!" Grimmjow memeluk perutnya sambil terus tertawa.
"Grimmjow! Jadi benar ya apa dugaanku? Kamu juga menyukai Ulquiorra?" Orihime makin panik melihat Grimmjow tertawa terpingkal-pingkal seperti ini.
"B-Bukan begitu Pet-sama… HAHAHAHA! Aku? Dan Ulquiorra? HAHAHAHA! Kamu salah paham!" air mata keluar dari mata Grimmjow. Sumpah, dia tidak tahan untuk menjaga gengsinya. Grimmjow sekarang berbaring di kasur empuk Orihime, sambil tetap tertawa.
"Hei, aku serius, Grimmjow!" Orihime jadi kesal karena Sexta Espada berkata tidak jelas.
"Tidak mungkin itu terjadi, Pet-sama! Lebih baik aku mencium Yammy daripada harus jatuh cinta dengan Ulquiorra! HAHAHAHA!" Grimmjow berguling-guling di atas tempat tidur.
Orihime memukul perut Grimmjow yang sixpack itu, tepat di dekat lubang Hollownya. "Tapi tadi kamu bilang-"
Pukulan itu tentu tidak terasa sakit bagi Grimmjow, justru tergantikan oleh rasa geli.
"Tidak ingatkah, Pet-sama yang manis…? Tadi aku berkata 'misalkan' di awal ceritaku yang maha dahsyat itu." Grimmjow mengingatkan setelah akhirnya bisa mengendalikan diri untuk tidak tertawa lagi.
Orihime tersadar lalu menutup wajahnya yang seperti kepiting rebus. Grimmjow benar.
"Anu-"
"Pet-sama cemburu padaku? Jika aku ceritakan pada Ulquiorra, pasti dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa!" Grimmjow menyeringai jahil. Sungguh menyenangkan mengganggu gadis manusia yang satu ini, pikirnya.
"Jangan bilang pada Ulquiorra! Ya ampun Grimmjow… itu memalukan!" teriak Orihime panik, lalu mulai memukul-mukul dan dada Grimmjow yang bidang itu.
"Bagaimana ya…? Aku ingin melihat Cuatro Espada tertawa. Mungkin menyeramkan, tapi aku ingin melihatnya, Pet-sama…"
Sungguh menyebalkan dan jahil!
"Grimmjow! Jangan lakukan itu! Tolong! Kumohon!" Orihime masih berusaha mati-matian. Namun karena Grimmjow kembali terkekeh, Orihime menarik kerah baju Arrancarnya.
Yang sialnya, tidak berhasil menarik tubuh si Sexta karena justru dialah yang terjatuh menimpa tubuh Grimmjow. Well, ini cukup mengagetkan Grimmjow. Dia tidak pernah berada di posisi ini sebelumnya dengan Orihime… (dengan beberapa Arrancar perempuan selain Nel dan Hallibel sih pernah, mengingat sifat Grimmjow yang suka main-main). Baru kali ini dia melihat wajah Orihime sedekat ini. Hidung mereka hampir bersentuhan dan Espada berambut biru itu terpesona dengan keindahan mata kelabu pemilik Shun Shun Rikka.
Saat tubuhnya merasakan sesuatu yang lunak menyentuh dadanya yang bidang dan keras, wajah Grimmjow langsung memerah. Sial, sial, sial. Dada gadis itu tepat di atas tubuhnya.
"Pet-sama," Grimmjow mengingatkan betapa bahayanya posisi mereka saat ini.
"Ah… m-maaf! G-Grimmjow… a-aku tidak sengaja!" Orihime panik lalu buru-buru berdiri, namun terjatuh lagi karena tersangkut rok Arrancar miliknya yang menjuntai. Tindakan ini makin memperburuk keadaan. Bagaimana sih rasanya jika ada gadis seksi menggeliat di atas tubuhmu?
"Sial. Jangan bergerak lagi, Pet-sama!" Grimmjow menahan gerakan Orihime dengan memeluk tubuh ramping Orihime.
Orihime seketika panik. G-Grimmjow memeluknya?
"Diam sebentar, Orihime."
Asap sepertinya keluar dari kedua telinga Orihime. Mana pernah Grimmjow memeluk sambil menyebut namanya seperti ini? Dia baru akan berusaha melepaskan diri dari Grimmjow lagi sampai-
"Sebentar saja. Tolong. Aku tidak mau berbuat yang aneh-aneh padamu." Suara Grimmjow terdengar seperti memohon.
Suara Grimmjow yang satu ini membuatnya langsung terdiam. Walaupun jantungnya berdetak tidak karuan saat ini, Orihime berusaha sekuat tenaga untuk tidak bergerak seperti apa yang Grimmjow minta.
Mereka terdiam untuk beberapa saat sampai aroma manis itu tercium di hidung Grimmjow.
Oh sial. Inikah yang selalu memabukkan Ulquiorra? Wangi karamel yang tercium dari rambut orange Pet-sama?
Sangat memabukkan. Tubuh Grimmjow terasa ringan, dia memejamkan matanya dan spontan mendekatkan bibirnya pada leher Orihime, dimana wangi manis itu bercampur dengan suara samar dari pembuluh nadinya. Saat bibir itu bersentuhan dengan kulit lehernya, Orihime mengerang pelan.
Suara erangan itu langsung menyadarkan Grimmjow. Dia membuka kedua matanya dengan terkejut dan melihat putri Las Noches itu juga memejamkan matanya, sedikit gemetar dan tampak ketakutan. Segera dijauhkan tubuh gadis itu darinya, dan Grimmjow langsung menunduk-nunduk minta maaf.
"Maafkan aku, Pet-sama! Tidak seharusnya aku berbuat seperti itu padamu! Maafkan aku!" cih, Grimmjow malu sekali. Tidak pernah dia kehilangan kontrol seperti ini jika bersama perempuan.
Orihime menyentuh satu bagian di lehernya yang masih terasa panas karena sapuan bibir Grimmjow tadi…
"T-tidak apa-apa, Grimmjow. Maafkan aku. Seharusnya aku tidak memukulmu…"
Hening. Keduanya merona merah. Jelas saja canggung.
"Maafkan aku, Orihime. Sungguh aku minta maaf," Grimmjow minta maaf lagi. Ah, hancur sudah persahabatannya dengan Orihime gara-gara kebodohan dan nafsunya! Grr!
"Tidak apa-apa. Jangan dilakukan lagi saja ya…" Orihime tersenyum, walau masih malu-malu.
Pagi itu pun dilanjutkan dengan Orihime melanjutkan sarapannya. Atmosfer canggung itu tak kunjung hilang, menyebabkan tidak ada perkataan lain yang terucap selain 'Terima kasih' dari mulut Orihime saat gadis itu telah menghabiskan sarapannya. Grimmjow pun hanya mengangguk pelan lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Makan siang hari itu diantarkan oleh Arrancar pelayan, sehingga Orihime tidak bertemu dengan Ulquiorra lagi. Sebenarnya dia bersyukur, karena Orihime tidak tahu harus bersikap seperti apa setelah… yah… kejadian dengan Grimmjow tadi.
Di lain pihak, Grimmjow mondar-mandir tidak menentu di depan pintu kamar Ulquiorra. Dia tahu kalau Ulquiorra belum kembali dari rapat dengan Aizen-sama. Sebagai laki-laki dan (bisa dibilang) orang yang dekat dengan Ulquiorra… dia merasa tindakan di kamar Orihime tadi sungguh tidak fair untuk Cuatro Espada. Ulquiorra kan sudah meminta tolong Grimmjow untuk menggantikan tugasnya, tapi mengapa dia dengan bodohnya malah termakan nafsu! Aduh!
"Sedang apa di depan kamarku, Sexta? Ada urusan denganku?"
Ya, dan akhirnya si empunya kamar muncul. Panjang umur.
"Ulquiorra? Sudah selesai rapat?" tanya Grimmjow.
Ulquiorra sedikit bingung. Ada yang tidak beres dengan geliat Grimmjow kali ini. "Seperti yang kau lihat, Grimmjow. Baru saja selesai. Dan karena makan malam masih lama, aku mau istirahat dulu."
"Aku mau bicara denganmu, Ulquiorra. Sangat penting…" Grimmjow terdengar ragu-ragu, "… mengenai Pet-sama."
Ulquiorra langsung dengan cepat menyuruh Grimmjow melanjutkan pembicaraan di kamarnya. Begitu mereka sampai, mereka duduk di sofa di ruang baca, tempat nyaman yang biasa.
"Ada apa dengan Orihime, Grimmjow?" Ulquiorra langsung bertanya to the point.
Di luar dugaan, Grimmjow langsung menunduk pada Ulquiorra. Tindakan yang sama seperti apa yang dilakukannya pada Orihime tadi.
"Grimmjow-"
"Maafkan aku, Ulquiorra! Aku telah melakukan suatu kesalahan! Sungguh aku tidak bermaksud demikian! Pukul aku saja, tidak apa-apa!" Grimmjow berkata sangat cepat sehingga Ulquiorra agak sulit mencerna perkataannya.
"Bicaramu ngelantur, Grimmjow. Aku tidak mengerti," jawab Ulquiorra sambil menghela nafas.
"Tadiakumemeluknyatahu!"
"Maaf? Aku tidak mendengarnya dengan jelas," Ulquiorra makin tidak mengerti.
"Tadi aku memeluk Pet-sama! Maafkan aku, aku tidak sengaja! Tadi cuma kecelakaan!"
Nah, sekarang baru dia bicara dengan jelas. Lho? Sepertinya ada sebuah kata yang seharusnya tidak ada di tempat… Memeluk?
"Kamu memeluknya?" Ulquiorra berkata dingin dan reiatsu-nya mulai terasa menyesakkan.
"Cuma kecelakaan!" Grimmjow mulai panik. Bisa gawat kalau Ulquiorra mengamuk dan melakukan resurreccion di kamar ini!
Ulquiorra menggeram lalu mengarahkan jari telunjuknya ke arah wajah Grimmjow. Sexta Espada bisa melihat kumparan energi berwarna hijau di ujung jari itu. Cero yang siap ditembakkan. "Ceritakan padaku. Serici-rincinya."
Grimmjow menelan ludah.
Setelah Grimmjow selesai menjelaskan panjang lebar dan mendetail tentang kronologis kecelakaan tadi (pelukan), Ulquiorra menurunkan jarinya yang sudah gatal ingin menembakkan cero, lalu memasukkan kembali ke saku hakamanya. Dia duduk menyilangkan kakinya, bertopang dagu seakan bosan, namun tatapan matanya yang sinis membuat Grimmjow merinding.
"Itu saja?" tanyanya.
Aduh, Grimmjow belum menceritakan pada Ulquiorra saat dia mencium leher Orihime… bisa mati di tempat kalau menceritakan itu pada Espada pucat ini.
"Grimmjow Jaegerjaquez. Aku bertanya padamu, jawab."
"Sebenarnya…" jreng-jreng-jreng… entah mengapa suhu ruangan terasa lebih dingin. Mungkin karena tatapan ingin membunuh dari Ulquiorra itu…
"Sexta. Semakin diulur begini… aku semakin tidak nyaman," entah hanya kebetulan atau berniat mengancam, Ulquiorra menekuk-nekuk buku-buku jarinya hingga berbunyi.
"Tadi Pet-sama berbaring di atasku bukan?" Grimmjow mencoba memulai.
"Lalu?"
Sexta Espada berkeringat walaupun tidak panas. "… wanginya seperti karamel. Memabukkan, ya?"
Diliriknya Ulquiorra dari sudut mata sapphirenya. Di luar dugaan, Ulquiorra justru tersenyum. Yang berarti keadaan bertambah buruk.
"Lalu?" tanya Ulquiorra lagi, makin menuntut tidak sabar.
Hancur sudah image cool Cuatro Espada. Berkat Grimmjow. Rasanya urat kepalanya tampak jelas di kulit pucatnya itu.
"Err…" Grimmjow menggaruk-garuk bagian kepalanya yang tidak gatal, "… tapi jangan marah, Ulquiorra. Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, semua ini murni kecelakaan."
"Lalu?" nada suara Ulquiorra meninggi. Ya ampun, kenapa tangannya memegang Murcielago?
"Aku mencium lehernya. Hanya sekali."
Hening.
Suasana makin tidak enak. Reiatsu Ulquiorra makin menyesakkan!
"Oi, Ulquiorra? Katakan sesuatu. Aku jadi takut kalau kamu diam begi-"
Belum selesai mengatakan kalimat tersebut, Ulquiorra sudah bersonido tepat di depan tubuh Grimmjow dan memukul pelan dahi Grimmjow dengan jari telunjuknya. Grimmjow terpental sedikit, namun tidak cukup untuk membuatnya terjatuh dari sofa.
"Kalau ini bukan di kamarku, kamu pasti sudah mencicipi cero milikku, Grimmjow. Tidak bisa dimaafkan," ucap Ulquiorra datar.
Grimmjow mengelus dahinya yang tadi dipukul Ulquiorra. Terasa nyeri dan sedikit berasap… seperti yang sudah diduga dari Ulquiorra.
"Kamu tidak mau melanjutkan, Ulquiorra?" Grimmjow merasa bahwa masih ada yang mengganjal di pikiran Ulquiorra.
"Sebenarnya aku masih ingin menghajarmu dan menghancurkanmu berkeping-keping, itupun kalau kamu masih berbentuk kepingan," Ulquiorra berdiri dari sofa lalu melangkah pelan ke kamar tidurnya.
Ini membuat Grimmjow makin heran. Halo? Ingatkah dulu waktu di Hutan Menos? Waktu Grimmjow memeluk Orihime dan 'menembak' gadis itu? Ulquiorra langsung menendangnya di hadapan Arrancar lain tanpa belas kasihan!
"Ulquiorra! Ada apa denganmu, sih? Kamu tidak seperti biasanya…" Grimmjow menghampiri Ulquiorra dan merangkul Espada pucat itu.
Ulquiorra menghela nafas. "Aku baru saja diceramahi Aizen-sama mengenai berbagai macam hal. Salah satunya Orihime. Aku tidak tahu apa yang ada di benak beliau tadi, saat beliau tahu kalau hubunganku dan putri Las Noches itu berlangsung sangat signifikan. Gin-sama saja sampai menyeringai. Aku sedikit takut, dan jujur aku khawatir."
"Maksudmu… Aizen-sama tahu tentang hubunganmu dan Pet-sama? Kalau kamu… menyukainya?" Grimmjow sekarang terdengar seperti seorang kakak yang khawatir dengan adiknya.
Ulquiorra menggeleng. "Beliau tidak tahu perasaanku, tapi tahu tentang kedekatanku dengan putri kesayangannya itu," sekarang dia menghela nafas.
"Sudahlah Ulquiorra! Ayo semangat lagi! Biar begini aku mendukungmu dengan Pet-sama kok." Grimmjow menepuk bahu Arrancar pucat di sebelahnya.
Ulquiorra menghela nafas. Baru kali ini dia merasa lega… Grimmjow ada di sebelahnya sekarang. Walaupun tadi intronya menyebalkan sih.
"Aku tidak jadi istirahat. Latih tanding denganku, Grimmjow." Ulquiorra berkata datar.
"Kamu yakin, Emospada?" Grimmjow tampak ragu. Baru saja beberapa menit yang lalu Ulquiorra tampak kelelahan, sekarang ingin latih tanding dengannya?
"Aku belum selesai menghajarmu karena sudah mencium leher gadisku."
Grimmjow menyeringai. Baiklah. Apapun yang penting si Pucat ini tidak lesu, karena tidak menarik untuk mengganggunya kalau begitu.
Chapter 21 (akhirnya) selesai!
Hampir setahun nggak update, jadi kangen :)
Terimakasih untuk semua yang tetap setia membaca fanfic ini. Maaf kalau review chapter sebelum2nya gak dibales. Aku jarang onlen lewat komputer sih :(
Cerita ini masih belum berakhir!
Apakah rencana Aizen-sama selanjutnya? Bagaimana hubungan Ulquiorra dan Orihime setelah ini? Apakah Nnoitra dan Nel akan jadian? Bagaimana dengan kucing biru kesayangan kita, akankah ada cinta lagi untuknya yang malang itu? Pengen tahu? Stay tuned!
As usual, review atau kritik ditunggu ya!
