Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
A Way
Pada musim ini duka dititipkan ke pangkuanmu yang rapuh.
Air matamu luruh, menjatuhi sesuatu yang masih bisa kau sentuh, namun tak lagi bisa kau rengkuh.
Dan, cukupkah dadaku menjadi palung bagi gigil jiwamu?
o
o
o
o
o
Chapter 21
Hidup bagaikan mimpi. Perumpamaan ini cukup mewakili keadaan mereka sekarang, di mana batas antara kenyataan dan mimpi seakan begitu tipis. Begitu pula antara kebahagiaan dan kesedihan. Suasana duka cita seketika menyergap semua orang yang tadi sedang berada di kediaman Uchiha Fugaku di detik Sakura menangkap gemetar suara Shisui.
Berita yang disampaikan Shisui langsung membuat mereka syok. Ino mengalami kecelakaan tabrak lari. Sakura tahu bahwa ia tak memiliki waktu panjang untuk bertanya tentang bagaimana semua terjadi. Ia langsung menangis sambil menyampaikan kabar itu.
Fugaku meminta maaf pada tamu-tamunya sebab ia harus segera ke rumah sakit. Mereka sangat memahami keadaan ini, oleh karena itu mereka justru menawarkan diri untuk menemani Mikoto yang sekonyong-konyong terduduk lemas. Entah mengapa cobaan seolah tak pernah jengah menghampiri keluarganya.
Kini, sampailah ketiga pria Uchiha, Naruto, Sakura, dan Izumi di rumah sakit. Shisui nampak sedang memberikan keterangan kepada dua orang polisi sebelum kedua polisi itu memberi hormat pada ketiga pria Uchiha yang baru saja datang. Itachi langsung menelpon anak buahnya dan menyuruh mereka menyelidiki kejadian ini.
"Bagaimana dengan Ino? Bayinya?" cecar Sakura.
Tak ada jawaban meski itu hanya sebuah gelengan kepala. Shisui sepenuhnya diam dan hanya menatap Sakura dengan mata yang sarat akan duka juga amarah. Firasat wanita itu langsung tak enak. Sejurus kemudian, ia dan Izumi langsung berjalan cepat dan masuk ke ruangan di mana Ino sedang menerima perawatan.
Seorang polisi yang bertugas untuk meminta sejumlah keterangan dari korban nampak duduk sambil menulis sesuatu di atas kertas. Pria itu duduk di sofa yang terletak di seberang tempat tidur Ino. Menyadari kedatangan mereka, ia pun berdiri dan ketiganya saling membungkukkan badan.
Melihat perut Ino yang tidak besar seperti yang terakhir dilihat, perasaan Sakura dan Izumi langsung mencelos. Sakura benar-benar ketakutan meski ia sudah sempat menduga hal ini saat melihat Shisui tadi.
"Bagaimana dia?" tanya Sakura dengan sangat gugup.
"Nyonya Uchiha masih belum sadar setelah ... menjalani operasi untuk mengangkat jazad bayinya, Pengacara Haruno," jawab pria itu.
Antara ngeri dan tak ingin percaya, Sakura dan Izumi tak dapat menahan tangis. Dengan tatapan menusuk, Sakura menuntut penjelasan lebih lanjut pada polisi itu. Sang polisi akhirnya menjelaskan kronologi kejadian perkara sesuai dengan keterangan yang diutarakan oleh Shisui yang tadi menghampiri istrinya tergeletak di pinggir jalan. Beruntung, Ino tidak sendirian sebab ada dua orang remaja yang mencoba menolongnya.
Menurut keterangan para remaja tersebut, mereka sedang melintasi jalan itu sebelum samar-samar melihat sebuah mobil SUV hitam menabrak Ino, namun kabur setelahnya. Diduga pengemudi sengaja melakukannya sebab Ino sempat berlari. Sayang sekali mereka tidak berhasil menghapal plat nomor mobil itu karena jalanan di sana memang merupakan titik paling gelap. Mereka juga tak berani langsung menolong Ino saat sebelum ia ditabrak.
Mereka sangat frustrasi saat tidak ada kendaraan melintas, sedangkan mereka tidak mungkin membawa Ino dengan sepeda motor. Menghubungi rumah sakit terdekat pun jawabannya membuat mereka makin panik; mereka harus menunggu setidaknya 15 menit karena lokasi kejadian yang cukup jauh. Salah satu dari mereka menemukan tas Ino yang terlempar beberapa meter dari tubuhnya tergeletak, kemudian ia mengambilnya dan menemukan ponsel Ino. Begitulah ia dapat menghubungi Shisui yang memang sedang mencari sang istri.
"Dan, sekarang aku sedang menunggu nyonya Uchiha siuman agar aku dapat meminta keterangan," ujar polisi itu mengakhiri penjelasannya.
"Ini artinya Ino belum mengetahui soal ... bayinya, bukan?" tanya Sakura memastikan dugaannya yang lain.
Gelengan lemah yang ditunjukkan sang polisi membuat Sakura dan Izumi menghela napas berat. Pengacara muda itu menarik rambut bagian depannya ke belakang dengan tangan. Ia frustrasi.
"Apa yang harus kulakukan?" bisik Sakura.
Izumi yang juga mendengarkan penuturan polisi itu tiba-tiba tersentak. Ia baru ingat akan sesuatu. Di rumahnya ada satu mobil SUV hitam yang biasa digunakan oleh asisten ayahnya. Kalau ia tak salah ingat, pria itu sempat menggunakannya setelah Madara menelpon dan menyuruhnya datang ke kantor.
Tanpa pamit, ia menghambur keluar. Sakura yang terkejut pun segera mengejar untuk menyusul Izumi. Sial! Meskipun tubuh Izumi lebih pendek darinya, wanita itu bisa berlari kencang hingga Sakura agak ngos-ngosan. Untungnya, ia berhasil mencekal lengan Izumi.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Sakura.
"Menemui ayahku. Kami punya mobil SUV hitam-"
"Kau tidak bisa langsung menuduhnya!" potong Sakura. "Kita tak punya bukti."
Memejamkan matanya dengan erat, Izumi mencoba menepiskan perasaan tegangnya. Bagaimana bisa ia harus bersabar?
"Kau boleh pulang dan memastikannya, tapi jangan langsung menuding," lanjut Sakura.
"Baiklah!" Izumi berseru sebelum Sakura melepaskan cekalannya.
Kalau mau mengikuti emosi, Sakura pun memiliki kecurigaan yang sama sejak dalam perjalanannya menuju ke sini. Tapi, ia tak mengutarakannya karena lebih mencemaskan keadaan Ino.
Dengan gontai Sakura berjalan kembali ke tempat di mana semua orang berada. Belum lenyap kelelahannya, kini keterkejutan menyambut dirinya. Ia mendengar tangisan sahabatnya. Tangisan itu lebih terdengar seperti raungan yang begitu memilukan. Ia pun berlari hendak menghampiri Ino, namun Naruto dan Itachi sudah terlebih dulu menghalangi.
"Aku mau melihatnya," pintanya di sela tangis.
"Tidak sekarang, Sakura-chan. Biarkan tim medis dan kak Shisui yang menanganinya!" jawab Naruto.
Sakura tak sanggup lagi menahan kekesalannya, maka ia pun menggeram sambil meronta ingin dilepaskan. Menyadari betapa kuatnya tenaga wanita itu, Itachi langsung mengurung tubuh Sakura dari belakang, mendekapnya sangat erat. Wanita itu pun menangis.
"Tidak ...!"
Akhirnya, ia pun lelah memberontak melawan tenaga sang kekasih yang jauh lebih kuat. Tubuhnya melemah dan seakan sendi lututnya lumpuh, ia pun melorot ke bawah. Ia benar-benar akan terduduk di lantai andai Itachi tidak memeganginya. Pria itu berusaha menenangkan sang kekasih yang sekarang menangis tak karuan.
"Aku mohon, Itachi, biarkan aku melihatnya!" mohonnya.
"Sssh ... ." Itachi mencoba menenangkan kekasihnya itu. "Tidak sekarang, Sayang," ujarnya, mengulang jawaban Naruto.
Untuk kedua kali dalam hidupnya setelah kematian sang ayah dan ibu, Sakura merasa tidak berdaya. Ia terus menangis mendengar teriakan Ino yang kian menyayat hati. Ia tak ingat berapa lama, namun Itachi tak pernah mengendurkan dekapannya.
XxX
Lenguhan lirih terdengar saat Itachi baru saja hendak memejamkan mata untuk berpikir dalam. Ia dapat merasakan geliat tubuh lemah yang kepalanya tersandar di pangkuannya setelah setengah jam lamanya wanita itu tertidur karena kelelahan. Perlahan mata Sakura membuka dan Itachi langsung disambut oleh tatapan kosong kekasihnya. Kabut duka masih belum pergi dari kedua bola mata terindah yang pernah ia jumpai.
Tangis Sakura kembali meluncur bebas melalui sudut-sudut mata. Ia sepenuhnya sadar bahwa semua ini bukanlah mimpi. Kesedihan yang ia rasakan terlampau nyata.
Dengan hati-hati, Itachi membantunya duduk sebelum merapikan rambut halus sang kekasih. Sakura masih belum mengatakan apa-apa, kecuali kembali terisak lemah. Direngkuhnya tubuh rapuh itu dalam pelukan, berharap bahwa ia akan berhasil membuat Sakura berhenti menangis.
"Bagaimana bayinya?" tanyanya.
"Sasuke dan ayah sedang mengurusnya."
"Apa aku boleh menemui Ino?" pinta Sakura.
"Hn," gumam Itachi. "Dengan satu syarat: kau tidak boleh histeris setelah melihatnya."
Wanita itu mengangguk, kemudian Itachi mengecup kening Sakura dengan lembut sebelum ia menuntun kekasihnya ke ruangan Ino. Jantung Sakura tiba-tiba berdegup kencang ketika ia semakin mendekati ruangan itu, seakan ia akan menemui sesuatu yang teramat buruk.
Ia berharap ini bukanlah degup terakhirnya saat ia melihat keadaan Ino. Wanita yang habis ditimpa kemalangan itu terbaring di atas kasur dengan mengenakan straitjacket; baju pengekang yang biasa dikenakan pada pasien yang melakukan tindakan agresi dan destruktif pada dirinya sendiri. Berbagai spekulasi terburuk menghantui pikiran Sakura.
"Ino," panggilnya.
Ino sama sekali tidak merespon. Ia hanya terdiam dengan mata yang menatap kosong ke arah langit-langit ruangan. Mata biru kehijauan Ino nampak seperti lautan yang ditinggalkan ikan-ikan dan tempat wafatnya terumbu karang. Tanpa kehidupan. Di sampingnya, Shisui setia menemani sambil mengelus kepalanya.
Dengan kuat, Sakura meremas tangan kekar Itachi. Ia tak sanggup menyaksikan sahabatnya yang biasanya selalu ceria dan ceriwis menjadi seperti ini.
"Kemarilah, Sakura!" panggil Shisui dengan suara serak.
Pengacara wanita itu pun melangkah ragu-ragu. Sesampainya di sana, ia sama sekali tak berani memeluk Ino. Ia takut. Ia takut kalau Ino sama sekali tidak membalas pelukannya, tapi Ino memang tak akan bisa membalas sebab tangannya tersembunyi di balik pakaian itu.
"Apa ... yang terjadi?" Akhirnya Sakura mampu berkata-kata.
Selang beberapa detik, Shisui menjawab, "Psychological shock. Dia mengamuk dan beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Tadi dokter sudah menyuntikkan penenang."
Sakura sudah menduganya sejak awal saat ia mendengar raungan Ino dan semakin yakin saat pertama melihat wanita itu mengenakan straitjacket. Jiwa Ino pasti terhantam dan terganggu. Syok psikis yang dialami Ino pastilah disebabkan oleh kehilangan bayinya. Semua orang hanya berharap kalau ia tak akan berlama-lama seperti ini.
Sebelum pembicaraan berlanjut, pintu ruangan kembali terbuka, menampakkan Mikoto yang sedang dirangkul oleh Fugaku. Wanita paruh baya itu langsung menghambur dan memeluk sang keponakan menantu. Sepertinya ia tak peduli apakah pelukannya akan dibalas atau tidak. Ia hanya bertindak menuruti nalurinya sebagai ibu; sesuatu yang tak sanggup Sakura lakukan.
"Harusnya kau langsung ke rumah, Nak. Mengapa kau sangat bandel?" ujar Mikoto penuh penyesalan.
Meski Ino tak bereaksi, ibu dari dua putra itu tak menyerah memberikan kasih sayangnya. Ia terus memeluk dan mengelus rambut Ino. Terus dan terus sampai air mata Ino mengalir di atas wajahnya yang masih kosong itu.
"Aku harus bicara denganmu, Sakura," ujar Shisui sebelum mengalihkan pandangan ke arah Itachi. "Kau boleh menyusul kalau kau mau."
Itachi menganggukkan kepala saat wanita berambut merah muda itu menatapnya, seakan meminta persetujuan. Keduanya meninggalkan ruangan dan berjalan menuju tangga darurat, tempat paling sepi dan nyaman untuk mereka bicara.
"Kak," panggil Sakura.
Ia justru menjadi orang yang memulai pembicaraan yang seharusnya Shisui lakukan. Pria itu memandangnya.
"Kurasa ... kita tak bisa melanjutkan misi kita. Tidak denganmu," katanya lagi.
Alis Shisui samar tertarik saling mendekat. "Aku baru mau membicarakannya," balasnya.
Hembusan napas berat, namun lega lolos dari rongga dada Sakura. Ia pun mengangguk kecil dan berkata, "Ini yang terbaik. Demi Ino."
"Tidak."
Jawaban Shisui pelak membuat Sakura mengernyit tak mafhum.
"Aku akan berhenti selama Ino belum sehat, tapi kau dan yang lain harus tetap maju," lanjut lelaki itu.
Merasa terkejut, Sakura semakin mengernyit sambil menggeleng tak percaya. Padahal ia sangat yakin bahwa Shisui yang laling tahu ada sesuatu yang janggal dengan kecelakaan Ino. Peristiwa itu terjadi di titik paling gelap sepanjang jalan menuju rumah Itachi dan tidak dekat dengan CCTV yang dipasang untuk memantau lalu lintas jalanan. Namun, hal ini pun tampaknya tidak membuat Shisui gentar, apalagi mundur.
Sakura sudah cukup merasa gila dan trauma. Jika itu dirinya yang diserang, mungkin ia bisa menahannya sebab ia dapat mengukur ketahanan dirinya sendiri. Nyatanya, yang terjadi tidak seperti itu. Ino bahkan kehilangan bayinya.
"Aku tidak mau!" tolaknya.
"Sakura benar, Shisui," timpal Itachi yang tahu-tahu sudah menyusul mereka. "Aku tidak mau mengorbankan siapa pun lagi demi kepentingan diriku. Aku dan timku bisa menyelesaikannya."
Shisui menatap tajam sepupunya.
"Aku lebih percaya jika kalian tetap maju bersama. Itu yang aku minta," balasnya. Ia tampak tidak akan mengubah pendiriannya yang kukuh itu.
Sakura mendesah, sedangkan Itachi memijit pangkal hidungnya. Pria itu tahu bahwa ketika Shisui sudah bersikeras terhadap kemauannya, maka tak akan ada yang sanggup menghentikannya. Terkutuklah para pria Uchiha! Mereka memang memiliki kesamaan yang bisa jadi tidak menguntungkan seperti ini.
"Keras kepala! Apa demi ambisimu untuk mengungkap ini semua kau jadi tidak memedulikan apa pun lagi?" ujar Sakura.
"Jika kita tidak menghentikan siapa pun keparat ini, akan semakin banyak yang dikorbankan!" Suara Shisui mulai meninggi.
"Aku tidak bisa dan aku tidak sanggup!" Sakura berseru. "Tidak, setelah apa yang terjadi hari ini," tegasnya.
"Kau bisa, Sakura! Karena kau Pengacara Haruno Sakura," balas Shisui dengan suara tegas dan tak kalah sengitnya.
Alis rapi Sakura menukik tajam mendengar perkataan Shisui. Entah mengapa hal itu justru terdengar seperti penghinaan terhadap dirinya, seakan ia gagal sebagai seseorang yang biasanya berhasil menyelesaikan kasus berat sekali pun. Ia merasa gagal, juga tersudut.
"Kau sudah tidak waras!" desis wanita itu. "Demi Tuhan, Kak, yang menjadi korban adalah anakmu sendiri!"
"Justru itu!" seru Shisui. Ia sudah tak mampu menahan amarahnya. "Justru karena yang celaka adalah anak dan istriku, aku tidak akan tenang sampai aku melihat si pelaku membusuk! Tidak, sebelum aku meremukkan kepalanya!"
Suara engahannya menjadi pengiring hening yang terasa menegangkan. Sakura masih menautkan alis sedemikian rapat, antara marah dan terkejut karena ia belum pernah melihat Shisui kehilangan kendali, sementara Itachi mulai merasakan emosi yang sama.
"Harusnya kalian tidak perlu repot-repot membantu keluargaku. Aku benar-benar jadi merasa tidak berguna," ujar Itachi, memecah keheningan.
Shisui dan Sakura sontak mengarahkan perhatian padanya. Itachi yang selalu nampak kuat itu kini terlihat rapuh. Mereka menyadari ada perasaan bersalah yang begitu besar yang ia rasakan.
Meski demikian, Shisui menyeringai sinis. "Kau akan semakin tidak berguna jika kau mundur," cela Shisui.
"Kau!"
Dengan cekatan, Sakura menahan lengan kekasihnya yang hampir melayangkan tinju pada Shisui. Menyaksikan kedua pria Uchiha yang berseteru sengit dalam diam itu membuat Sakura sedikit gentar. Ia bahkan tak pernah melihat Itachi semarah ini pada Sasuke.
"Kumohon, hentikanlah, kalian berdua!" desisnya.
"Selesaikanlah apa yang sejak awal kau mulai, Pengacara Haruno!" balas Shisui ketus sebelum ia meninggalkan mereka berdua.
Lambat laun, kemarahan yang Sakura tahan habis-habisan itu berubah menjadi isakan yang menyesakkan. Ia merasa paru-parunya akan segera meledak karena ia merasa seperti disalahkan. Namun, di sisi lain Shisui memang benar, dialah yang memulai segala sesuatunya. Ia tak menyangka bahwa ia telah bermain-main dengan orang yang salah; si pelaku terlalu berbahaya.
Pikirannya yang mendadak dangkal karena kekalutan itu serta merta hanya bisa kembali mencurigai Madara. Logikanya yang sedang sakit itu cuma mengingat hal itu.
"Sakura," panggil Itachi.
Wanita itu tersentak dan kembali dari jalan pemikiranya sendiri, lalu memandangi kekasihnya. Ia sampai melupakan keberadaan Itachi.
"Kau tak perlu terlalu memikirkan perkataannya. Kau tahu emosinya sedang sangat labil karena kejadian ini. Biarkan aku yang menyelesaikannya sendiri kali ini," kata Itachi.
Sakura menggeleng kuat. "Kita akan melakukannya bersama. Aku sudah berjanji untuk tidak akan membiarkanmu bertindak bodoh lagi, bukan? Lagipula, Kak Shisui benar, akulah yang salah dengan memulai semuanya hingga mengorban-"
Perkataan itu tak mencapai akhir saat bibir Itachi membungkamnya. Sakura dapat merasakan perasaan bersalah dan tertekan yang sama seperti yang ia rasakan. Mereka pun sama-sama tak ingin kehilangan satu sama lain, tidak juga dengan orang-orang yang mereka kasihi.
Sepasang kekasih itu saling menatap saat Itachi menyudahi ciumannya. Ia memandangi Sakura dengan raut sedih.
"Kau ingat obrolan panjang kita kemarin?" tanyanya, membuat Sakura mengernyit untuk kesekian kalinya. "Friedrich Nietzsche, 'Beyond Good and Evil'; 'Segala sesuatu yang dilakukan karena cinta selalu terjadi di luar kebaikan dan kejahatan'. Untuk apa kau melakukan semua ini untukku dan keluargaku?"
"Tentu saja karena aku menyayangi kalian," jawab Sakura. "Dan aku mencintaimu."
"Apa kau masih menganggap kejadian saat kau mengikutiku ke hotel adalah kejahatanku?"
Sakura menggeleng. Ia tahu Itachi melakukannya demi melindunginya dan juga orang-orang yang pria itu cintai.
Itachi tersenyum tipis sambil mengusap pipi Sakura. "Kalau begitu, kenapa kau menyalahkan dirimu sendiri? Lagipula, yang kau lakukan sama sekali bukanlah kejahatan, Sayang."
Antara lega dan tersipu karena Itachi memanggilnya seperti itu, Sakura kembali menangis. Bukan tangisan menyesakkan seperti tadi, tetapi sesuatu yang membebaskannya dari rasa sesak itu. Seperti biasa, Itachi selalu berhasil menenangkannya.
Hanya Itachi yang bisa melakukan itu.
XxX
Izumi memandangi sang ayah yang mengenakan celana dan jas hitam dengan kemeja putih di dalamnya. Tak ada aksesoris lain seperti cincin safir biru Sri Lanka yang biasa melingkar di jarinya. Tidak pula dengan Izumi yang biasa mengenakan macam-macam hiasan Wanita itu hanya mengenakan mofuku; kimono berwarna hitam polos yang biasa dikenakan saat acara pemakaman. Ia juga tidak mengenakan riasan wajah.
Ia benar-benar gagal memahami ayahnya. Apakah pria itu memang begitu jahat? Izumi sudah melaksanakan rencananya. Malam saat semua orang telah terlelap, ia yang masih terjaga mengendap-endap ke garasi belakang di mana dua mobil yang bukan mobil utama diparkir. Termasuk SUV hitam yang ia curigai itu.
Matanya membulat begitu ia menemukan penyok yang tidak terlalu kentara di bamper depan sebelah kiri. Tidak dalam, namun ia masih bisa mengetahuinya. Dari yang ia temukan tadi malam, ia masih saja menemui suatu keganjilan. Jika letak Ino tergeletak ada di sebelah kanan seperti penuturan remaja-remaja yang diam-diam ia selidiki sepulang dari rumah sakit, bagaimana bisa penyoknya ada si sebelah kiri?
Atau mungkin, setelah ditabrak Ino masih sempat menyebrang-
"Kita akan terlambat kalau kau terus melamun," kata Madara, memutus rangkaian formula logikanya.
Izumi terperanjat dengan pekikan halus. Melihat keterkejutan putrinya, Madara sedikit memicingkan mata, namun tak ia pedulikan lagi. Ayah dan anak itu bergegas pergi ke pemakaman sebab upacaranya dimulai satu jam lagi.
Sesampainya di sana, pelayat yang seakan tak terhitung sudah berkumpul. Untungnya, bagi orang-orang yang dianggap kerabat selalu disediakan jalur khusus agar tidak berdesakan. Izumi dan Madara berjalan di jalur itu dalam diam, sementara sang anak perempuan masih sibuk dengan analisa-analisanya.
"Izumi-san," seseorang menyapa.
Tak hanya Izumi, Madara ikut menoleh dan mereka bertemu Tobirama yang berdiri di hadapan mereka. Ia tampak sangat gagah. Madara melirik Izumi sekilas, kemudian pelan-pelan menghela napas saat mendapati putrinya yang sedikit tersipu. Ia sempat merasa tersinggung saat putrinya lebih memilih berjalan dengan Tobirama setelah mereka membungkukkan badan.
Sebuah tangan mendarat pelan di bahu Madara. Hashirama, si pengganggu yang tak pernah dewasa itu.
"Jangan merengut!" kata Hashirama berbisik. "Ah, maksudku, aku tahu kita sedang berduka, tapi cukup kau tunjukkan wajah surammu itu hanya untuk upacara ini. Biarkan anak-anak itu berdua, Otou-chan!"
"Hn?" Madara menoleh, melemparkan tatapan mengerikan.
Seperti biasa, Hashirama akan mengabaikannya. Ia justru berkata, "Tobirama itu adikku, Madara. Kalau dia menikahi putrimu, bukankah secara tidak langsung aku menjadi menantumu juga?" godanya.
"Urusai!" balas Madara, kemudian meninggalkan kawan lama yang ia kenal sejak mereka masih berkuliah tersebut.
XxX
Angin musim gugur bertiup kencang pagi itu, mengantar dingin yang menggigit. Namun, sekencang apa pun hembusannya, angin itu tidak akan mampu menghempas jauh kedukaan yang dirasakan oleh mereka yang merasakan kehilangan. Mereka semua terlarut dalam keheningan.
Sakura yang mengenakan mofuku berdiri di samping Itachi, sejajar dengan keluarga Fugaku dan Shisui. Naruto dan rekan-rekan media harus berdiri di belakang kerumunan. Ia tidak boleh tampak dekat dengan keluarga Uchiha. Semua orang ada di sana, termasuk Madara dan Danzo beserta orang-orangnya. Sai juga terpaksa harus tetap bergabung dengan rombongan Danzo, namun ia sempat melirik Naruto, seakan sedang mengirim sinyal tertentu.
Di antara semua yang hadir di sana, justru Ino-lah satu-satunya yang tidak hadir. Wanita itu masih bungkam karena terlalu berduka. Belum ada perkembangan dari kondisinya dan ini membuat Sakura, Shisui, dan keluarga Fugaku semakin bersedih.
Prosesi demi prosesi pemakaman berlalu. Untuk pertama kalinya mereka melihat Shisui menitikkan air mata. Mereka tahu bahwa ia dan Ino saling terhubung meski mereka tidak sedang berdekatan sebab mereka sama-sama kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Seorang bayi mungil yang bahkan belum diberi kesempatan untuk melihat dunia. Bayi yang selalu mereka nantikan kini sudah tidur dalam palung bumi yang seakan tidak terukur kedalamannya hingga tak akan mampu tangan mereka merengkuhnya. Dalam ceruk yang memisahkan kehidupan dengan kematian.
Tak lama setelah pemakaman usai, sebuah telepon dari rumah sakit diterima dan membawa kabar bahwa Ino sempat mengalami syok hingga tersengal. Shisui dan yang lain bergegas ke sana.
XxX
Masker oksigen yang bertengger di hidung mungil dan mancung Ino membuat Shisui semakin terpukul. Semua orang memahami perasaannya yang takut akan kehilangan sang istri; satu-satunya keluarga inti yang ia punya. Namun, ia merasa lega saat dokter mengatakan bahwa Ino sudah melewati masa kritis yang sempat dialami lagi.
"Kalian makan saja dulu, biar aku yang menjaga istriku," ujar Shisui.
"Kau juga perlu menjaga kesehatanmu, Shisui. Makanlah dengan kami, biar Itachi dan Sakura yang berjaga. Mereka sudah sempat sarapan sebelum pemakaman," balas Fugaku.
Shisui menggeleng. Mereka tak kuasa menyanggah penolakannya, maka mereka pun meninggalkan Shisui, Sakura, dan Itachi di sana. Putra mendiang Uchiha Kagami itu duduk di luar bersama Itachi, sementara Sakura sedang mencoba mengajak Ino mengobrol agar Ino segera sadar. Di saat itulah Hashirama, Izumi, dan Tobirama datang dengan membawa sebuah buket bunga dafodil. Kedua pria Uchiha yang sempat terkejut juga heran dengan kehadiran Izumi bersama para pria Senju itu menyambut kedatangan mereka.
"Aku tak bermaksud menyinggung, tapi sebaiknya Paman tidak usah masuk karena Ino tidak bisa diajak bicara sama sekali," ujar Shisui.
Kerutan yang muncul di beberapa bagian wajah Hashirama menampakkan betapa ia khawatir dan prihatin akan keadaan Ino.
"Baiklah, aku paham. Tapi, bolehkah aku melihatnya dari kaca jendela?" tanya Hashirama.
Setelah Shisui mengangguk, Hashirama berjalan mendekati kaca jendela dan melihat sang pasien. Matanya membulat saat melihat Ino yang nampak seperti mayat hidup meski sudah tak mengenakan jaket pengekang lagi. Pria tua itu hanya menggelengkan kepala.
"Aku punya kenalan dokter terbaik di Suna jika kau membutuhkannya," ujarnya dengan suara yang terdengar serius.
"Aku akan memberitahu Paman saat aku memerlukannya," jawab Shisui.
"Kapan pun. Jangan sungkan-sungkan."
Mengetahui bahwa tidak ada yang bisa mereka lakukan di sana, kedua pria Senju itu meninggalkan rumah sakit, sementara Izumi tinggal di sana dan menyusul Sakura. Shisui dan Itachi kembali larut dalam kebisuan, tak banyak yang bisa mereka bicarakan dalam keadaan seperti ini. Entah sudah berlangsung berapa lama mereka terdiam.
Mereka membelalakkan mata meski tak terlalu kentara saat melihat siapa yang datang selanjutnya. Seakan ada alarm tanda bahaya, keduanya seketika berdiri memasang mimik tegang. Madara datang bersama sekretarisnya.
Mencoba bersikap wajar, Shisui dan Itachi membungkukkan badan untuk memberi salam. Madara hanya bergumam, lalu melirik pintu ruangan Ino. Hal ini disadari oleh kedua pria Uchiha muda dan Shisui tahu ia harus segera mencari cara agar Madara tidak masuk ke sana.
"Istriku sedang tidak bisa diajak bicara, Paman," ujar Shisui.
Satu alis Madara terangkat. Ia seakan tidak peduli dengan perkataan Shisui.
"Aku hanya ingin melihat. Siapa yang bilang aku akan mengajaknya bicara?" balasnya.
Andai saja mereka tidak sedang berada dalam situasi duka sekaligus menjalankan rencana, mereka pasti sudah terang-terangan mengkonfrontasi pria itu. Shisui terpaksa mengangguk dan mempersilakan Madara masuk. Ia juga tahu bahwa Madara akan sulit dihentikan.
Keterkejutan juga tak lepas dari Sakura, apalagi Izumi. Kedua wanita itu sontak berdiri tegang, namun melihat kedua pria Uchiha muda yang berdiri di belakang Madara, mereka pun hanya mengangguk sebelum memberikan tempat mereka untuk Madara.
Aura penuh kuasa Madara membuat empat orang yang lainnya merasa tegang dan geram di saat yang bersamaan. Pria itu bahkan masih punya muka untuk mengunjungi Ino dan Izumi merasa sangat malu atas sikap ayahnya.
"Ah, buruk sekali keadaanmu, Yamanaka," gumamnya sambil memandang dingin wanita yang menatap dengan pandangan kosong ke langit-langit kamar.
"Dia juga seorang Uchiha," tukas Izumi tak terima. "Lagipula, kenapa Ayah di sini?"
Madara mendengus tanpa mengalihkan perhatiannya pada wanita yang sedang berbaring tak berdaya itu. Ia sepenuhnya mengabaikan pertanyaan sengit putrinya.
"Hh!"
Shisui, Itachi, Sakura, dan Izumi tercengang ketika mendengar Ino mendesah dalam masker oksigennya. Masker itu semakin berembun seiring desauan Ino yang semakin intens. Ino bahkan menggerakkan bola matanya hanya untuk memandang Madara. Ada rasa sakit yang juga sampai dirasakan oleh mereka, sementara Madara hanya sedikit memicing tajam.
"Hh!" desahnya lagi sambil sekuat tenaga mengangkat tangannya.
Suami dan ketiga kerabat Ino pun menegang sampai sulit bergerak. Selain itu, mereka juga menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Suara ringkikan terdengar saat Ino kembali kesulitan bernapas. Matanya tetap lurus menatap Madara yang juga memandangnya dengan tajam. Mata Ino yang tadinya kosong, sekarang menampakkan emosi. Ketakutan.
Grep!
"Ngh!" Lenguhan panjang kesakitan Ino yang kini terdengar seiring tangannya yang berhasil mencengkeram lemah tangan Madara.
o
o
o
o
o
Bersambung...
A/N: Wah, menulis chapter ini saya malah ikutan sedih dan tegang wahaha. Yup, cerita kembali berjalan seperti siput, mana panjang lagi. Bersabarlah, teman-teman! Hmmm kayaknya rumpiannya topiknya samaan hahaha. Oke.
sitilafifah989, chiharu rainy, BalgisAnisya: Yuhuuuu... Kompakan banget pertanyaannya hahaha. Di sini udah kejawab lah ya. Maafkan daku kalau kudu sad gini huhuhu.
Unnihikari: Yeee... Pokoknya jangan berhenti di tengah jalan lho. Btw, makasih banget ya udah suka sama karyaku ini huhuhu.
Name wulansetia: Haaai. Salam kenal dan happy reading yaaa.
Annis874: Yuhuuuu! Akhirnya gak lupa mention kamu hahaha. Happy reading dan selamat hmmm selamat apa ya... Nangis? Huhuhu.
Hanazono yuri: Udah nih. Keep reading yaaa #smooch
Meli209: Aku juga pura-pura sibuk lah hahaha!
Lacus Clyne 123: Makasih... Ini udah sehat banget malah. Iya ini kayaknya ada yang jahatin Ino hohoho.
Chorphile: Seneng baca review kamu hehehe. Ya saya usahain ending-nya smooth. Hihihi.
Andromeda no Rei: Heu... Sekalinya dateng, review nya ngerapel hahaha. Tapi gpp, aku suka baca apa aja kok wekekeke. Asal gak suruh ngebaca hati Itachi #uwo. Hmmm Neji emang udah kelihatan dari awal kalau gak suka. Ng... Soal Tobirama...hohohohoho #kabur. Soal antologi itu, aku tunggu kabarmu pokoknya and I will be glad to work with you guys huhuhu.
Guest: Hai! Makasih ya udah baca dan suka sama cerita ini. Tunggulah update berikutnya.
Febri593: Hahaha enggak kok. Kayaknya Madara juga gak cocok kalau bunuh diri huhuhu.
MelaniEdelstein: Wekekekekek... Habis suka aja bayangin ItaSaku begitu. Itachi kan juga kayaknya punya sisi yang suka malu-malu dan Sakura yang kadang-kadang juga gitu tapi lebih gampang mengungkapkan perasaan. Dan si Ino yaaah... Beginilah huhuhu.
Pokoknya, terima kasih buat kalian yang tetep setia ngikutin cerita ini dan semoga kalian tetep semangat. Jangan lupa review yaaa. Muaaahhhhh!
