***021: I'm sorry
"Kalian harus pergi dan keluar dari tempat ini, Kyoya-nii, Takeshi-kun. Dengan segera membawa dokumen-dokumen yang kita dapat itu sebelum ada yang menyadari keberadaan kita." Nada lembut dan berbisik, kecemasan yang terlihat mengeluap tanpa disadari. Anak laki-laki yang disebutkan namanya itu hanya terpaku. Dengan raut wajah tidak di mengerti. Kewaspadaan memenuhi gerak tubuh mereka. Keinginan memenuhi tubuh mereka untuk menolak permintaannya, tapi tidak ada kata yang terucap.
"Ap- Tapi Tsuna kurasa Chrome yang seharusnya keluar dari tempat ini. Maaf Chrome aku tidak bermaksud buruk." Takeshi melirik kearah satu-satunya anak perempuan di antara mereka. Kyoya mendengarkan perkataan mereka sambil berjaga bila ada yang mendekati mereka. Pintu keluar hanya ada satu disana. Dengan dua orang penjaga berjaga di depan sana.
"Tidak masalah Takeshi-kun. Boss juga berpikiran sama denganmu. Namun saat ini kita tidak tau keberadaan kita dimana, dengan aku berada disini Mukuro-sama pasti dapat melacak keberadaanku. Walaupun nantinya aku dan Boss berpindah tempat. Kurasa kalian berdua haruslah keluar dari sini. Aku akan baik-baik saja disini." Takeshi menatap dengan lembut ekspresi datarnya melembut menjadi senyuman kecil yang jarang diperlihatkan. Tsuna memberikan senyuman yang sama juga. Menghela nafas panjang Takeshi mengalah.
"Tiga orang datang dari arah kanan. Bersenjata. Flame user. Lebih baik kita cepat keluar dari sini." Kyoya tiba-tiba berbicara dengan nada terdesak. Mata nya melirik Tsuna sebelum menarik Takeshi mengikuti jalan keluar yang cukup jauh. Api kabut Chrome menyentuh dua orang yang berjaga keluar.
"Chrome, kita juga sebaiknya cepat."
"Hai Boss"
Ia tidak mengingat berapa lama ia terdiam. Knuckle kehabisan kata-kata menatap mata anak perempuan angkatnya itu. Penuh kelembutan dan kecemasan, mengingatkan dengan seorang wanita yang ia kenal. Hubungannya dengan wanita itu sejujurnya agak meresahkan. Bukan karena wanita itu melainkan karena dirinya. Ia yang terperangkap dalam penjara keraguan miliknya.
"Tenang saja, Knuckle. Kita harus dapat menerima semuanya apa adanya. Saat ini kita hanya bisa bersabar menunggu. Aku yakin mereka akan kembali walau nanti aku tidak ada disini karena penyakit yang merengerogotiku ini. Ku harap kau dapat melindungi mereka. Apapun yang terjadi, aku percaya padamu"
"Sebaiknya kita kembali Mansion Vongola." Knuckle mengatakan dengan tiba tiba. Pria berambut putih berjalan keluar dengan perlahan. Kyoko dan Ryohei berjalan di belakangnya. Saling bertatapan. Dengan nada yang kecil Kyoko mengatakan permintaan maafnya pada sepupu di sebelahnya.
Kyoko dapat merasakan dengan jelas tatapan peringatan dari sepupunya. Bukan niatnya untuk memberitahukan apapun pada Knuckle san. Hanya saja mungkin saja akan lebih baik jika ia mengetahuinya… seperti Elena..
"Maaf memanggil kalian tiba-tiba. Tapi beberapa saat lalu, utusan dari Talbot mengatakan bahwa ia memanggil kita semua. Termasuk kalian, kuharap kalian tidak masalah dengan hal ini." Perkataan Giotto disambut dengan senyuman tenang dari Dino dan Enma. Mukuro hanya melirik sambil bergumam sesuatu di bawa nafasnya. Elena di sebelahnya, hanya tertawa kecil sepertinya mendengar gumaman anak angkat laki-lakinya. Salah satu tangannya mengelus dengan lembut rambut Mukuro. Tentu Mukuro dengan senang hati menerima perlakuan itu dari sang ibu.
Dilain sisi kereta(kuda) yang mereka tumpangi untuk sebentar saja ini. Daemon memerhatikan istrinya yang tersenyum senang mendengar perkataan dari anak angkatnya. Ia tidak terlalu mempermasalahkannya jika itu membuat Elena senang. Walaupun terkadamh anak laki-laki itu sering membuatnya kesal,
"Lagipula, untuk apa kita membawa kereta kuda ini sih? Mansion Talbot dan Mansion Vongola dapat dikatakan hanya bertetanggaan. Kita dapat melewati hutan Vongola dan masuk melalui taman belakang mansion Talbot." Lampo menghela nafas panjangnya, antara senang karena dapat keluar dari mansion atau kah kesal karena tidur siangnya terngganggu. Belum lagi perasaan antara senang atau sedih akan bertemu dengan kedua adik angkatnya.
"Sudahlah, Lampo. Aku rasa Talbot-san memiliki alasannya sendirinya kan. Tidak mungkin ia mengatakannya tanpa alasan." Asari dengan tenang mengatakan, sebilah pedang di sebelahnya. Senyuman tenang di wajahnya, sedikit membuat beberapa orang menjadi lebih cemas. Pastinya siapapun yang menangkap Takeshi belum tentu akan hidup. Terutama setelah menglihat kilatan kekesalan di mata Asari.
Perjalanan singkat itu hanya di ikuti gerutuan beberapa orang dan juga tawa kecil beberapa orang. Untuk sesaat mereka dengan bebas berbahagia. Walaupun .. di belakang pikiran mereka tetap saja ada yang menganjal.
"Mukuro." Dengan cepat mereka menantap orang yang memanggil nama itu. Primo menghela nafas lega nya. Ia tersenyuman pada anak lelaki sedikit lebih tua dari anak angkatnya. Menaikan alisnya, Mukuro berjalan menuju Spanner yang terlebih dahulu muncul di depan mereka. Spanner terlihat membisikkan sesuatu pada Mukuro.
"Saya permisi duluan, Primo. Talbot-san telah menunggu anda di dalam." Kedua anak laki-laki langsung meninggalkan mereka. Dino dan Enma saling bertatapan sebelum berjalan mengejar keduanya. Mereka melambaikan tangan ke arah generasi pertama sebelum pergi.
"Sampai bertemu lagi Primo-san."
"Maaf memanggilmu dengan tiba-tiba Mukuro. Aku dan Talbot telah menyelesaikan mesin pelacak Dying Will Flame. Ada kemungkinan kita akan menemukan mereka. Sejujurnya dengan bahan seadanya mungkin tidak dapat bekerja cepat kita harus menunggu dengan sabar. Karena mesin ini baru ia memerlukan sedikit identifikasi dengan mengunakan api kabutmu. Jika kau tidak masalah tentu saja." Spanner menuntun mereka menuju ruangan yang cukup gelap. Dino dan Enma mengikuti di belakang keduanya. Keduanya melirik ruangan yang rada familiar bagi mereka. Berbagai alat alat yang kurang mereka mengerti berserakan dimana-mana. Sofa di tengah ruangan telah dipindahkan menjadi di sudut ruangan. Bersamaan dengan meja.
"Apa kau yakin ini akan berhasil, Spanner?" Dino mengusap rambutnya, dengan mata yang penuh kekhawatiran. Jika terjadi side-effect tentu tidak akan mengenakkan .
"Kita lihat saja. Dengan api kabut milik Mukuro, alat itu akan mencari api kabut yang mirip dengan miliknya alias api kabut Chrome. Sebelah sini Mukuro, kau hanya perlu mengeluarkan api kabut yang sedang saja dan memasukkannya kedalam tabung ini." Ia menunjuk tabung yang mirip dengan botol kaca berukuran sedang. Bersambung dengan kabel-kabel ke mesin yang tidak ia ketahui kemudian ke .. laptop. Dino hanya dapat bertanya dalam dirinya, darimana mereka mendapat kabel dan laptop ini?
"Darimana kalian mendapatkan Laptop dan kabel-kabel seperti ini? Dan mesin itu bagaimana kau dapat membuatnya dengan waktu sesingkat ini?. Hampir satu setengah hari berlalu." Tanpa basa-basi Enma mengatakannya sekaligus. Hampir yang semua Dino pikirkan beberapa detik lalu. Spanner melirik Enma dan tersenyum kecil sebelum menutup kembali botol kaca berisi api kabut milik kemudian menaruhnya ke tempatnya kembali.
"Fufu~ aku juga penasaran. Sebenarnya mudah saja bagiku membuat ilusi benda itu."
"…Dan belum tentu berfungsi dengan benar. Terutama jika kau yang membuatnya."
Banyaknya orang yang terus berlalu lalang, Knuckle memutuskan untuk mengandeng masing-masing tangan anak angkatnya. Ia masih memikirkan apa yang dikatakan Kyoko beberapa saat yang lalu. Sedangkan anak perempuannya melirik kiri dan kanannya dnegan senyuman yang besar. Ryohei disisi lain terpaku tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Mereka terus berjalan dengan tenang.
Apakah sebenarnya lebih baik—
Ryohei menggelengkan kepalanya. Ia tidak boleh memberitahukan apapun. Ia telah berjanji pada Tsuna. Sesekali Kyoko melirik sepupunya. Seperti dugaannya bahkan sepupunya itu tidak dapat tenang. Pasti memikirkan hal yang sama dengannya.
"Tuan Knuckle!" seorang pemuda yang tidak mereka ketahui menghampiri dan memberhentikan perjalanan pulang mereka. Pemuda itu terlihat tergesa-gesa dan kehabisan nafas. Keringat bercucuran dari dahinya.
"Akhirnya saya menemukan anda. Mohon maaf menganggu waktu anda bersama anak-anak. Saya adalah utusan dari Tuan Talbot. Tuan Talbot menginginkan kehadiran anda dan anak-anak di mansionnya. Ia mengatakan untuk berdiskusi masalah sesuatu. Saya telah memesan sebuah kereta kuda di dekat sini anda sebaiknya langsung segera berangkat." Mata pemuda itu penuh kekhawatiran, Knuckle tersenyum kecil dan mengikuti kemana pemuda itu membawa mereka.
"Tentu saja" Ryohei tersenyum kearah sepupu perempuannya. Mereka telah mencapai kata sepakat. Konsekuensinya mereka tanggung bersama. Dengan suara yang kecil secara bersamaan Kyoko dan Ryohei berkata dengan nada yang lembut.
"Maaf Tsuna. Maaf"
.
.
"…-san apapun yang terjadi apa yang akan kami beritahu ini tidak boleh di ketahui oleh orang lain termasuk semua anggota keluarga Vongola. Kecuali jika kami yang memberitahu mereka. Apa kau akan percaya dengan apa yang akan kami katakan?"
Author: Terima kasih banyak akan semua bentuk dukungan yang telah diberikan oleh para pendukung cerita ini ya! ^^
Ngak nyangka ya sudah 2 bulan sejak terakhir ff ini di update. Dan, akhirnya chapter ini selesai namun terlalu pendek menurut saya dan kurang memuaskan hati nurani saya. Di harapkan para pembaca setia ff ini dapat dengan senang membaca chapter ini ya!
Post: 6/6/2018
Jangan lupa!
Review!
Favorite!
Follow!
See you next time!
