"THE QUIET"
"Baekhyun-ah!"
Baekhyun melambatkan larinya setelah ia melihat Seohyun melambaikan tangan padanya dari halte bus. Ia menarik nafas, lalu berjalan menghampiri gadis yang sedang duduk menunggunya di halte bus tersebut.
Siang hari ini cuaca sedikit lebih dingin dari biasanya. Namun Baekhyun tidak repot-repot berpakaian. Ia baru saja sampai di rumahnya dan segera kembali pergi setelah mendengar Victoria berada di rumah sakit. Tanpa bersiap-siap lagi, Baekhyun mengambil jaket apapun yang bisa ia capai dan segera pergi menemui Seohyun. Baekhyun hampir saja panik jika saja gadis itu tidak menjelaskan kenapa Victoria bisa berakhir di rumah sakit.
"Luhan bilang alasannya karena kecapaian. Tapi selebihnya ia tidak apa-apa. Ia hanya akan di rawat beberapa hari. Aku menelfonmu kemarin untuk mengabarkan hal ini. Dan kami berencana menjenguknya hari ini"
Jelas Seohyun dari telfon sebelum Baekhyun memutuskan untuk ikut menjenguk Victoria bersama gadis itu.
"Dimana yang lain?"
Tanya Baekhyun. Bus mereka akhirnya datang dan mereka berdua segera naik ke dalamnya.
"Tiffany eonnie dan Taeyeon eonnie bilang mereka akan menyusul nanti. Aku juga sudah memberitahu yang lain. Mereka bilang mereka juga akan menyusul"
Baekhyun menghela nafas panjang. Setelah duduk dan merasa lebih tenang, Baekhyun menyandarkan kepalanya ke jendela bus.
Terakhir kali ia bertemu Victoria adalah sehari sebelum camp. Baekhyun ingat hari itu mereka tidak berbicara. Sampai saat ia akhirnya berhasil berbicara, teman sebangku nya itu malah membalas nya dengan jawaban singkat dan tatapan dingin.
Baekhyun terdiam sejenak. Dan seketika itu juga ia mulai merasa tidak yakin apakah menjenguk Victoria adalah ide yang tepat.
Baekhyun menatap keluar jendela. Menonton gedung demi gedung bergantian dan pejalan-pejalan kaki yang terlewati. Namun, pikirannya tetap tidak lepas dari bayangan teman sebangkunya itu.
Sudah beberapa hari Baekhyun tidak berbicara pada Victoria. Dan ia tidak tahu apa yang terjadi dengan gadis itu. Kenapa ia tiba tiba berhenti berbicara pada Baekhyun. Dan sekarang, gadis itu berada di rumah sakit.
Baekhyun merasa masalah tidak kunjung berhenti berdatangan kepadanya.
"Ia terlihat baik-baik saja"
Gumam Baekhyun sambil mengingat-ingat Victoria pada hari itu. Victoria terlihat baik-baik saja di mata Baekhyun. Yang berbeda hanyalah sikap Victoria yang tiba-tiba menjauh darinya.
"Ne?"
Baekhyun menoleh ke arah Seohyun dan tersadar bahwa gadis di sebelahnya itu mendengar gumamannya.
"Tidak. Maksudku, ia terlihat baik-baik saja kemarin"
Ujar Baekhyun.
Mereka kembali terdiam. Seakan tenggelam dengan pikirannya masing-masing. Baekhyun kembali berpikir dan mengingat-ingat apa yang terjadi padanya dan Victoria. Meskipun sekeras apapun ia berpikir, ia masih tidak bisa menemukan alasannya.
Baekhyun awalnya berpikir bahwa mungkin Victoria sedang dalam mood yang jelek. Namun, setelah Victoria memberi jawaban dan tatapan dingin padanya hari itu, Baekhyun merasa mungkin secara tidak sengaja ia melakukan kesalahan kepada Victoria. Tetapi semakin di pikirkan, Baekhyun malah semakin tidak mengerti dimana ia melakukan kesalahan. Dan hal itu membuatnya frustasi.
"Baekhyun-ah"
Baekhyun tersentak kecil. Keluar dari lamunannya setelah mendengar Seohyun memanggilnya.
"Ya?"
Baekhyun melihat Seohyun menatapnya dengan sedikit ragu. Namun, gadis itu akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kata-katanya.
"Sebenarnya, Victoria eonnie tidak baik-baik saja"
Baekhyun melebarkan matanya mendengar pernyataan Seohyun. Ia pun menatap gadis itu dengan pandangan bertanya-tanya.
"Victoria eonnie memang tidak sehat akhir-akhir ini"
Jelas Seohyun membuat Baekhyun kebingungan.
Benarkah? Baekhyun merasa Victoria baik-baik saja.
"Aku menyadari hal itu 4 hari yang lalu saat kita makan siang. Kau ingat aku berseru saat aku memegang tangan Victoria eonnie? Suhu badannya panas, tapi ia bersikeras bahwa ia baik-baik saja"
"Esok harinya, ia masih tidak membaik. Aku menemaninya ke UKS saat makan siang. Aku sudah menganjurkannya untuk pulang. Tapi ia bilang ia akan segera membaik setelah beristirahat"
Baekhyun mengerjap mendengar penjelasan Seohyun dan mencoba mengingat-ingat kejadian 4 hari yang lalu. Ia mencoba mengingat makan siang mereka hari itu. Waktu itu, Baekhyun dan Victoria makan siang bersama Taeyeon, Tiffany dan Seohyun.
Baekhyun mencoba mengingat lebih jauh. Hari itu hari terakhir Baekhyun benar-benar berbicara dengan Victoria. Ia ingat ia masih sempat bercerita tentang Chanyeol dan Kris pagi itu. Lalu ia mengingat Victoria dan Sunny pulang ke rumahnya hari itu untuk mengerjakan tugas.
Jika Victoria sudah merasa tidak baik sejak hari itu, bagaimana bisa Baekhyun tidak menyadarinya?
"Ia.. Ia tidak mengatakan apapun padaku. Hari itu kami pulang ke rumahku. Tapi ia tidak mengatakan apapun"
Ujar Baekhyun. Ia mencoba mengingat kembali. Victoria hari itu memang berlaku sedikit aneh. Ia berjalan sedikit terhuyung dan lambat dari biasanya. Tapi Baekhyun tidak merasa hal itu sebagai masalah yang besar.
"Ia berhenti berbicara padaku setelah hari itu. Ia bahkan menghilang setelah bel istirahat... Jadi, ia ke UKS bersamamu?"
Seohyun menatap Baekhyun lagi. Lalu gadis di sebelahnya itu menghela nafas dan mengangguk pelan.
"Setelah mendengarnya masuk ke rumah sakit, Sunny eonnie bercerita pada kita bahwa Victoria eonnie sempat terhuyung di jalan menuju ke rumahmu. Sunny eonnie sudah mencoba untuk menyuruh Victoria eonnie pulang lebih dulu. Tapi ia malah berkata ia baik-baik saja dan tinggal di rumahmu lebih lama, bahkan setelah Sunny eonnie pulang"
Jelas Seohyun.
"Dan Victoria eonnie juga memberi tahu hal yang sama padanya. Sama seperti yang ia katakan padaku dan para eonnie,"
Seohyun berhenti sejenak sebelum ia melanjutkan kata-katanya.
"Untuk tidak memberitahumu tentang kondisinya"
Baekhyun terdiam. Mencoba memproses semua penjelasan Seohyun ke dalam kepalanya.
"Kenapa?"
Tanya Baekhyun.
"Kenapa ia tidak memberitahuku? Kenapa ia malah berhenti berbicara padaku?"
Seohyun menatap Baekhyun sekali lagi dan kembali menghela nafas pelan.
"Untuk hal itu, aku rasa Victoria eonnie ingin kau mencari jawabannya sendiri"
Bus yang mereka tumpangi berhenti di sebuah halte dan Seohyun sadar bahwa mereka sudah dekat dengan halte tujuan.
"Kita akan sampai sebentar lagi"
Baekhyun menoleh ke arah layar di atas pintu bus yang menunjukan nama halte yang akan menjadi perbehentian selanjutnya. Lalu ia kembali menyandarkan punggungnya pada bangku.
Baekhyun tidak menyadari semua hal yang telah Seohyun jelaskan. Ia sama sekali tidak tahu. Dan ia merasa sedikit bersalah karena tidak menyadarinya.
Apakah mungkin Victoria berhenti berbicara padanya karena hal ini? Karena ia tidak menyadarinya?
Tapi semua nya tidak akan menjadi serumit ini jika Victoria memberitahunya dari awal bukan? Kenapa ia malah menyembunyikan hal ini dari Baekhyun?
Baekhyun masih merasa bingung meskipun ia telah mendengar penjelasan dari Seohyun. Masih banyak pertanyaan nya yang belum terjawab.
Mereka akhirnya sampai di halte tujuan. Dan merekapun segera turun dan berjalan ke arah rumah sakit di mana Victoria di rawat.
Baekhyun dan Seohyun tiba di lobby rumah sakit. Rumah sakit itu adalah rumah sakit yang berbeda dari rumah sakit di mana Seohyun di rawat waktu itu. Namun menurut Baekhyun semua rumah sakit sama saja. Semua rumah sakit berbau sama dan ia tidak pernah menyukainya.
"Seohyun noona!"
Baekhyun memutar tubuhnya ke arah asal suara tersebut dan menemukan Luhan berdiri di sana diikuti oleh Sehun di belakangnya.
"Annyeong, Luhan-ah, Sehun-ah"
Luhan tersenyum sambil membalas sapaan Seohyun. Tidak lupa juga untuk menyapa Baekhyun sambil menyikut anak laki-laki di sebelahnya. Dan seperti biasa, Sehun akhirnya (terpaksa) ikut menyapa dengan sapaan yang datar.
"Ayo ikut aku. Aku akan mengantar kalian ke kamar noona"
Luhan menuntun mereka masuk ke dalam lift lalu berhenti di lantai rawat inap di mana Victoria di rawat. Jantung Baekhyun berdegup kencang. Ia tidak bisa mengelak bahwa ia merasa gugup.
Mareka sampai di depan salah satu kamar. Baekhyun bisa membaca nama Victoria terselip di depan pintu. Kemudian, Luhan dengan perlahan membuka pintu.
"Noona, teman-temanmu datang. Aku dan Sehun akan makan di bawah"
Ujar Luhan.
Baekhyun bisa mendengar suara lirih menjawab pernyataan Luhan dari balik tirai. Lalu Luhan dan Sehun meninggalkan mereka berdua di sana. Baekhyun melirik ke arah Seohyun. Gugup. Dan seakan mengerti, Seohyun mengangguk lalu berjalan lebih dulu ke arah tempat tidur.
Pucat dan lelah. Itulah hal pertama yang terbesit di kepala Baekhyun saat melihat Victoria berbaring di tempat tidur dari balik tirai yang menutup nya tadi. Seohyun berseru, menyapa Victoria dengan hangat. Baekhyun bisa melihat Victoria tersenyum tipis, membalas pelukan singkat Seohyun.
Seohyun menaruh keranjang buah yang sedari tadi di genggam nya ke meja kecil di samping tempat tidur Victoria. Lalu ia menoleh ke belakang. Baekhyun menelan ludahnya saat mata Seohyun dan Victoria mengarah padanya.
"Aku lupa membeli minuman. Aku akan ke bawah sebentar, Oke?"
Ujar Seohyun lalu berbalik menuju ke arah pintu keluar. Sebelum Seohyun keluar, ia melewati Baekhyun dan menepuk pundaknya. Memberi dorongan dan menggumamkan kata semoga berhasil sebelum akhirnya lenyap di balik pintu.
Baekhyun yang sekarang berdiri di depan tempat tidur menelan ludahnya sekali lagi. Ia tidak bergerak untuk beberapa saat. Tidak yakin apa yang harus ia lakukan di tengah-tengah suasana canggung seperti ini. Yang bisa ia pikirkan sekarang adalah sosok gadis yang sekarang sedang terbaring lemah di depannya itu.
Baekhyun bertanya-tanya mengapa ia tidak menyadari bahwa teman sebangkunya itu sakit. Ia merasa sedikit ngilu melihat betapa terlihat sakit nya Victoria saat ini. Ia kelihatan seperti kehilangan banyak darah meskipun sejauh yang Baekhyun tahu, Victoria tidak memiliki anemia. Rambutnya jatuh terurai di sekitar tulang pipinya yang pucat.
Merasa sudah cukup lama dalam kesunyian. Baekhyun memberanikan diri untuk melangkah maju dan berdeham.
"Kau terlihat... sakit"
Ujar Baekhyun. Ia memberanikan diri untuk menatap mata gadis di depannya itu. Lalu melangkah mendekati tempat tidur.
"Kenapa.. Kenapa kau tidak mengatakan apa-apa padaku?"
Tanyanya. Baekhyun masih menatap mata Victoria. Begitu juga sebaliknya. Baekhyun tidak berani mengartikan dengan pandangan apa Victoria menatapnya sekarang. Kemudian, gadis itu memutuskan kontak mata dengan Baekhyun dan menghela nafas pelan.
"Bahkan di situasi seperti sekarang, kau masih tidak bertanya apa aku baik-baik saja"
Suara Victoria terdengar lemah, namun jelas di telinga Baekhyun. Baekhyun tidak yakin apa yang ia pikirkan saat mendengar perkataan Victoria. Ia berdiri di sana. Mencari hal yang tepat untuk di katakan. Tapi pada akhirnya, ia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa.
Mereka sekali lagi jatuh dalam kesunyian. Namun, seakan bisa membaca ekspresi yang tampak pada wajah Baekhyun, Victoria mulai berbicara.
"Aku merasa tidak sehat sejak awal minggu ini. Tapi aku juga mengira bahwa aku hanya kelelahan. Jadi aku kira aku akan baik-baik saja jika aku beristirahat sebentar"
Victoria memulai. Suasana di sekitar mereka terasa sangat sunyi sehingga Baekhyun bisa mendengar kata-kata nya dengan jelas. Meskipun ia mengatakannya dengan suara yang lemah.
"Waktu hari itu, saat aku merasa tubuhku tidak kunjung membaik, aku ingin mengatakannya padamu. Tapi pagi itu, kau terlihat tidak kalah pucat denganku. Dan aku memutuskan untuk menunda dan mendengarkan apa yang terjadi padamu"
Victoria menarik nafas sejenak. Ia memejamkan matanya sebelum ia kembali melanjutkan kata-katanya.
"Aku tidak keberatan. Tapi aku merasa lelah saat itu. Aku mencoba memberimu jalan keluar Baekhyun-ah, aku tidak berbohong saat aku bilang aku benci melihatmu terus murung dan kebingungan. Tapi entah kenapa, aku merasa lelah. Aku lelah saat kau terus mengeluh namun terus melarikan diri dari masalahmu"
"Aku lelah terus bertanya hal yang sama dan aku lelah kau selalu menjawab dengan jawaban yang sama. Maka dari itu, aku memutuskan untuk tidak mengatakan kondisi ku padamu. Aku berharap kali ini bukan aku yang bertanya"
Baekhyun mematung di tempatnya. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Setiap kata demi kata yang di keluarkan Victoria terdengar semakin berat. Semakin menyakitkan. Dan perlahan, membuat Baekhyun merasa semakin sesak.
"Saat kau meminta untuk mengerjakan tugas hari itu, aku merasa kondisi ku memburuk. Tapi aku tetap tidak ingin mengatakannya padamu. Aku menyetujuinya dan Sunny menyadari keadaanku. Ia menolongku turun dari bus. Ia memintaku untuk pulang dan bilang bahwa ia akan memberitahumu kalau kondisi ku sedang tidak baik. Tapi aku menolak"
"Sampai di penghujung hari, kau memintaku untuk tinggal sebentar dan kembali bercerita tentang keadaanmu. Pada saat itu, aku sadar kau tidak akan menyadari kondisiku"
Victoria terdiam setelah mengatakan hal itu. Sementara di sisi lain, Baekhyun mendapati dirinya tidak bisa berkata-kata.
Ia tidak tahu. Selama ini ia selalu datang pada temannya itu. Mengeluh dan bercerita. Namun, ia tidak pernah tahu apa yang gadis itu rasakan.
Baekhyun tersadar. Seakan mencoba menguatkan semua pernyataan Victoria, pikiran Baekhyun membawanya mengingat. Bahwa setiap kali bertemu, Baekhyun akan selalu bercerita tentang dirinya. Ia akan bercerita tentang Chanyeol, tentang Kris, namun tidak pernah tentang Victoria. Tidak pernah sekalipun hal itu terbesit di pikirannya. Dan ia tidak mengira sebelumnya bahwa ia akan melukai sahabatnya itu dengan sikapnya.
Ia tidak sadar ia telah menganggap enteng orang-orang di sekitarnya. Terlalu berpusat pada masalahnya. Sehingga ia tidak menyadari apa yang terjadi pada teman-temannya. Apa yang dipikirkan teman-temannya. Dan meskipun ia mungkin tidak pantas, ia merasa menyesal.
Ia menyesal berpikir bahwa Victoria hanya sedang dalam mood yang jelek. Ia menyesal berpikir temannya itu akan baik-baik saja dalam waktu dekat.
Namun ia salah. Dan lebih buruknya, ia sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Baekhyun merasakan sengatan di balik bola matanya. Ia ingin mengucapkan kata maaf. Namun tidak ada sekecil pun suara yang bisa keluar dari tenggorokannya.
"Aku mungkin berlebihan. Dan mungkin aku membuatmu seakan berada di posisi yang salah. Tapi Baekhyun-ah,"
Baekhyun mengangkat wajahnya untuk menatap sahabatnya itu.
"Saat itu aku berharap kau bertanya apa yang terjadi padaku. Aku berharap kau bertanya tentang keadaanku. Tapi bahkan setelah aku berhenti berbicara padamu, kau tetap tidak melakukannya"
Victoria berhenti sejenak. Menahan suara nya untuk pecah. Kemudian Baekhyun melihatnya menarik nafasnya dengan berat, sebelum ia melanjutkan kata-katanya.
"Aku berharap sekali saja, kau lah yang bertanya tentang keadaanku. Bukan sebaliknya"
Baekhyun merasakan sengatan di balik bola matanya menguat. Suara Victoria terdengar lirih dan bergetar. Membuat udara di sekitar mereka terasa berat di bahu Baekhyun.
"Baekhyun-ah,"
Victoria kembali membuka mulutnya. Baekhyun mencoba mengabaikannya, namun, ia sadar bahwa Victoria juga sama tersiksanya seperti dia. Ia bisa melihat mata gadis itu berkaca-kaca.
"Bolehkah aku meminta sesuatu?"
Baekhyun mengangguk.
"Bisakah kita tidak bersama untuk sementara? Aku merasa kita berdua butuh waktu untuk memikirkan hal ini"
Ujar Victoria. Lemah namun cukup jelas di telinga Baekhyun.
"Bisakah kau melakukannya?"
Baekhyun merasa ia tidak akan bisa menahan air matanya lebih lama lagi. Ia mengangguk sekali lagi. Mencoba menyembunyikan rasa sakitnya.
"Arasseo"
Baekhyun mendengar dirinya sendiri berucap. Ia menunduk. Berusaha untuk menyembunyikan raut wajahnya dari sahabatnya tersebut.
"Aku, permisi sebentar"
Baekhyun berbalik ke arah pintu, tepat saat pintu terbuka dan menampakan Seohyun, beserta teman-temannya yang baru saja datang. Tapi, Baekhyun tidak bisa peduli. Ia menerobos tanpa melihat lagi wajah teman-temannya. Ia bahkan tidak peduli dengan panggilan dan wajah bingung yang mereka berikan. Ia hanya ingin keluar dari sana. Berlari dan menjauh dari sana.
Baekhyun berlari sepanjang koridor. Tidak peduli dengan tatapan orang-orang dan seruan dari suster dan petugas. Ia hanya perlu berlari. Tidak peduli kemana ia akan mengarah. Sampai akhirnya ia menubruk seseorang dan hampir kehilangan keseimbangannya.
Baekhyun sudah siap untuk jatuh. Namun orang itu menangkapnya. Baekhyun mengadah untuk melihat orang yang di tubruknya itu dan ia mulai menangis sesaat setelah melihat wajah orang tersebut.
"Yah, ada apa? Kau kenapa?"
Baekhyun mendengar suara orang itu samar-samar. Namun ia tak bisa peduli. Dadanya terlalu sakit untuk peduli. Dan nafasnya terlalu sesak untuk menjawab.
Baekhyun membenamkan wajahnya pada tubuh orang itu dan akhirnya, membiarkan dirinya sendiri menangis.
.
.
"Minum ini,"
Baekhyun mengangkat kepalanya dan melihat Chanyeol menyodorkan sekaleng minuman di depan wajahnya. Baekhyun menghela nafas. Lalu ia mengambil minuman itu dari tangan Chanyeol.
Chanyeol duduk di sebelah Baekhyun. Yang tepatnya sedang duduk di salah satu kursi tunggu di lantai bawah rumah sakit. Ia baru saja sampai di rumah sakit setelah ia mendapat kabar teman-temannya akan menjenguk Victoria yang sedang sakit. Lalu, ia bertemu (tepatnya di tabrak) Baekhyun di koridor.
Chanyeol awalnya terkejut. Lalu akhirnya memutuskan untuk membawa Baekhyun ke tempat yang lebih tenang setelah ia berhenti menangis.
"Kau sudah merasa lebih baik?"
Baekhyun meneguk minumannya. Kemudian ia menjawab dengan mengangguk.
Ia merasa lebih tenang setelah menangis.
Baekhyun melirik ke pemuda di sebelahnya, dan merasa agak bersalah karena telah mengotori kaus pemuda itu.
"Mian,"
Ujar Baekhyun membuat Chanyeol menoleh. Chanyeol mengikuti pandangan Baekhyun ke arah kausnya. Lalu ia mendengus sambil tersenyum.
"Yah, kau harus tahu aku baru saja membelinya"
Ujar Chanyeol memberi Baekhyun muka kesal yang di buat-buat. Baekhyun membalasnya dengan tatapan tajam.
"Yah, aku sudah minta maaf"
Balas Baekhyun tidak kalah terdengar kesal. Lalu ia kembali meneguk minumannya.
Chanyeol di sisi lain tersenyum kembali. Memperhatikan Baekhyun meneguk minumannya.
"Apa yang terjadi?"
Baekhyun berhenti saat mendengar pertanyaan tersebut. Sesaat kemudian, ia menurunkan gelasnya dan menerawang ke depan. Ia memutar gelas kalengnya sebelum menghela nafas sekali lagi dan mulai berbicara.
"Yah, Chanyeol"
Pemuda di sebelahnya menoleh dan berdeham sebagai balasan.
"Apakah aku teman yang buruk?"
Ada jeda sebentar setelah Baekhyun mengeluarkan pertanyaannya sambil menunggu dengan penasaran. Lalu pemuda di sebelahnya menjawab.
"Tidak"
Jawab Chanyeol.
"Tapi kau jelas teman yang jelek. Terutama saat menangis seperti tadi"
"Yah!"
Chanyeol tertawa saat menerima pukulan di bahu nya dari Baekhyun. Baekhyun tidak bisa mengelak untuk tersenyum. Merka tertawa sejenak sebelum akhirnya kembali terdiam. Meminum minuman mereka masing-masing. Setelah mereka terdiam dalam waktu yang cukup, Baekhyun kembali membuka mulutnya.
"Jika temanmu tiba-tiba tidak berbicara lagi padamu, apa yang akan kau lakukan?"
Baekhyun bertanya.
Ada jeda lagi sebelum Chanyeol menjawab. Kali ini, jeda itu cukup lama. Baekhyun menatap pemuda di sebelahnya meminum sisa minumannya, lalu menunggu jawabannya dengan penuh harap.
"Sejujurnya, aku sudah lama tidak berbicara pada seorang teman"
Chanyeol memulai.
"Aku tidak tahu di mana awalnya, tetapi tiba-tiba kami tidak sering berbicara lagi"
Baekhyun menoleh pada pemuda di sampingnya. Menaruh semua perhatiannya pada cerita pemuda itu.
Ia tidak pernah tahu Chanyeol juga pernah merasakan hal yang sama. Dan Baekhyun tidak bisa mengatakan ia tidak penasaran dengan teman yang sedang Chanyeol bicarakan itu.
"Awalnya aku merasa bingung. Aku mulai berpikir mungkin aku melakukan kesalahan. Aku menunggu nunggu saat yang tepat untuk bertanya padanya apa yang salah. Tapi suatu hari, sesuatu terjadi dan membuatku tidak bisa melakukannya"
Lanjut Chanyeol. Ia mengadu kedua bibirnya, menyimpulkan senyum tipis sebelum ia kembali melanjutkan.
"Aku sempat berpikir untuk menyerah mencoba. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk menghampirinya. Dan kau tahu apa yang terjadi selanjutnya?"
Tanya Chanyeol, yang di balas langsung dengan gelengen dari Baekhyun.
"Teman itu berkata padaku untuk tidak menghindarinya"
Baekhyun mendapati matanya bertemu dengan kedua mata Chanyeol. Membuatnya tersadar bahwa ialah teman yang Chanyeol bicarakan.
Sebelum ia bisa mengatakan apa-apa, Chanyeol memutus kontak mata mereka dan tersenyum sekali lagi.
"Aku rasa, hal yang paling penting adalah menghadapinya. Apapun masalah yang kalian hadapi, berhentilah berlari"
Ujar Chanyeol.
"Aku membutuhkan waktu lama untuk menyadari hal itu. Semoga itu tidak terjadi padamu"
Chanyeol kembali menoleh pada Baekhyun dengan senyum yang masih tersimpul di wajahnya. Membuat Baekhyun tidak bisa menolak untuk mendengus dan ikut tersenyum.
Apa yang di katakan Chanyeol benar.
Jika saja mereka lebih cepat menyadari hal itu, keadaan tidak akan menjadi seperti sekarang.
Dan jika saja Baekhyun bertanya tentang keadaan Victoria saat itu, mereka tidak akan seperti menjadi seperti ini.
Baekhyun sekarang mengerti. Selama ini, Victoria terus berusaha membuatnya menyadari hal itu. Victoria telah berusaha membantunya tersadar bahwa ia harus berani menghadapi masalahnya. Namun, Baekhyun terus melarikan diri. Ia terus lari dari masalahnya. Ia terus menghindar. Menghindar dari Kris. Menghindar dari Chanyeol. Ia tidak berusaha menyelesaikan semuanya, namun terus mengeluh. Menyalahkan apa yang telah terjadi.
Baekhyun mengerti kenapa Victoria melakukan semua ini. Dan ia menyesal pada dirinya sendiri karena hal ini harus terjadi dulu untuk membuatnya tersadar.
"Semangatlah Baekhyun"
Baekhyun tersadar dari lamunannya saat tangan Chanyeol mengacak rambutnya. Ia mengadah, lalu mendapati pemuda itu tersenyum dan melepaskan tangannya.
Baekhyun tersenyum tipis. Membenarkan rambutnya sambil masih merasakan rasa hangat yang membekas dari telapak tangan Chanyeol di puncak kepalanya.
Ia sudah pernah sekali kehilangan pemuda itu. Dan ia tidak ingin menyesal lagi untuk kedua kalinya.
Baekhyun tidak ingin kehilangan Victoria.
Dan ia harus menghadapinya.
Sekarang, yang bisa ia lakukan adalah maju ke depan.
Dan pada akhirnya, berhenti berlari.
DUM DUM DUM
Annyeong!
Apa kabar para pembaca? ^^
Akhirnya author bisa meng upload chapter baru dan kali ini triple chapter ! :D
Pertama-tama Author ingin berterimakasih kepada para pembaca (yang lama maupun yang baru) yang telah meninggalkan review selama author hiatus ^^
Dan sekali lagi, author minta maaf kepada para pembaca yang sudah lama menunggu :(
Di bawah ini author akan menjelaskan beberapa hal. Sepertinya ini agak panjang jadi mungkin yang tidak ingin membaca author persilahkan untuk skip bagian ini ^^
Pertama, author ingin menjelaskan tentang kelanjutan fanfic ini. Sudah lama sejak author update terakhir, dan dalam chapter terakhir yang author update, author sudah mengatakan bahwa author akan usahankan untuk melanjutkan fanfic ini (meskipun tidak dalam tempo seperti dulu). Author memaklumi jika banyak para pembaca lama yang sudah tidak membaca cerita ini lagi. Dan author tidak mengharapkan para pembaca masih menunggu karena author tahu author sudah tidak update dalam waktu yang sangat lama. Author memaklumi segala alasannya
Tapi, seperti yang author bilang, author masih akan berusaha untuk meneruskan fanfic ini sampai selesai. Fanfic ini punya arti sendiri untuk author. Jadi author akan tetap melanjutkannya.
Dannnn, untuk para pembaca yang masih ada di sini, author ingin mengucapkan banyak terimakasih telah menunggu. Terimakasih telah membaca dan memberi kesan/pesan maupun kritik ^^ Author sangat menghargainya.
Yang keduaaaaaa, author di awal bilang ini adalah triple update. Tapi sebenarnya hanya ada 2 chapter baru. Yang satunya lagi adalah hasil edit dari chapter 19 TANGLED ^^ Author sengaja men delete dan meng upload ulang chapter 19 yang telah di edit untuk kelanjutan cerita ^^
Terakhir, author tidak tahu harus bilang apa lagi tapi sekali lagi, terimakasih untuk para pembaca yang masih membaca OURS ^^ Author belum bisa menjanjikan kapan author akan kembali meng update, tapi author akan usahakan untuk tidak memakan waktu lama :))
Untuk pesan/kesan/diskusi/kritik dan yang lainnya, silahkan cantumkan di review ^^ Author akan senang jika bisa melihat respon pembaca sekarang x3
Jeongmal Khamsahamnidaaaa
xoxo
3
