AN: Chapter 25…!

Hy smuanya... :D

Pada nungguin Chapter ini ya?

Jangan terlalu berharap sama Chap ini deh... :P

Thanks buat semua pembaca dan yang pereview... :)

Selamat Membaca…

Disclaimer : GS dan GSD Bukan Milik Author…

This Is Impossible!

Chapter 25

Normal POV

28/10/2012

Langit kota ORB terlihat begitu cerah malam ini. Butiran bintang-bintang, yang bertaburan juga turut menambah keindahannya. Di depan sebuah rumah sederhana milik keluarga Athha, terlihat sebuah mobil sport berwarna merah baru saja terparkir dengan rapi.

Sesaat kemudian, seorang pemuda keluar dari mobil itu. Pemuda itu mengenakan jaket semi formal berwarna firebrick dan celana panjang berwarna hitam. Samar-samar terlihat kemeja berwarna putih, di balik jaket yang tidak terkancing itu. Rambut navy blue miliknya, benar-benar rapi dan berkilau malam ini. Memberikan nilai tambah pada penampilan pemuda itu, yang sebenarnya sudah hampir sempurna. Qalaupun saat ia berpenampilan apa adanya.

Ia merapikan sedikit kerah bajunya, setelah menutup pintu mobilnya. Lalu ia membuka pintu belakang mobil itu dan mengambil sebuah buket bunga, yang indah dari dalam mobilnya.

Setelah ia menutup dan mengunci mobil mewahnya, pemuda itu menyempatkan diri untuk mengintip ke jam tangan clasic berwarna perak yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Dilihatnya, sekarang masih jam 6.27 sore, sedikit lebih awal dari waktu yang ia perkirakan. Senyum tipis terukir di wajah pemuda bermata emerald itu, ketika ia mengangkat wajahnya dan menatap rumah yang ada di hadapannya. Beberapa detik kemudian, ia melangkah dengan penuh percaya diri menuju rumah itu. Ia menekan bel rumah tersebut dan menunggu sambutan dari penghuninya di depan pagar.

Tidak lama kemudian, pintu kayu rumah itu terbuka, dan muncullah sosok pria yang familiar bagi pemuda tampan bermata emerald itu.

"Kira?" tanya Athrun, agak kaget melihat Kira yang menyambut kedatangannya.

Kira tersenyum, ketika ia melihat Athrun berdiri tegap di depan pagar teralis. "Kau sudah datang, Ath?" tanyanya sambil melangkah menghampiri Athrun. "Masuklah!" ujarnya, yang sekarang membukakan pagar.

Athrun mengangguk kecil, lalu melangkah masuk. "Kenapa kau ada di sini?" tanya Athrun sambil menoleh pada Kira, yang masih menutup pagar di belakangnya.

Kira menoleh ke arah Athrun, lalu melangkah melewatinya. "Aku di minta oleh ayah Catha, untuk menengok keadaan Catha. Karena beliau sedang pergi ke luar kota," Kira membukakan pintu rumah untuk Athrun dan memberikan gerak-isyarat, agar Athrun masuk ke dalam. "Lagipula, aku juga datang ke sini untuk menemani Lacus," Kira melangkah masuk ke ruang tamu, diikuti oleh Athrun.

"Lacus?" tanya Athrun semakin heran. Sekarang ia baru saja memasuki ruang tamu.

Kira duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu. Ia mengangguk dan berkata, "Yup, dia ingin membantu Catha untuk persiapan kencan kalian malam ini," Kemudian senyum usil terukir di wajahnya, ketika ia melihat wajah Atrun di hiasi oleh rona merah, walaupun tipis. "Duduklah! Aku rasa sebentar lagi, Catha akan siap," tambahnya.

Athrun hanya mengangguk kecil untuk merespon Kira, lalu ia menghampiri sofa yang berhadapan dengan Kira. Masih terlihat samar-samar rona merah tersisa di pipinya, ketika pemuda berambut navy blue itu telah duduk sepenuhnya di sofa itu.

"Buket bunga yang indah," komentar Kira, setelah mata amethyst-nya memperhatikan buket bunga di pangkuan Athrun dengan seksama.

Athrun menunduk sejenak untuk memandang buket bunga yang ia bawa. Memang benar apa yang dikatakan oleh Kira, buket bunga berwarna merah yang di pangkuannya itu terlihat sangat indah, dihiasi oleh pita berwarna kuning keemasan di sekelilingnya.

Athrun kemudian mengangkat wajahnya dan tersenyum penuh arti. "Aku tahu, karena itulah aku membawanya ke sini," kemudian, Athrun melihat Kira juga ikut tersenyum sambil mengangguk kecil.

"Ayo cepat, Cagalli! Athrun sudah menunggumu," suara Lacus yang terdengar dari kejauhan, berhasil menarik perhatian dua orang pemuda yang masih duduk nyaman di tempat mereka masing-masing.

Spontan Athrun dan Kira menoleh ke arah pintu masuk ruang tamu. Lagi-lagi mereka mendengar suara dari luar, suara Cagalli yang berkata, "Tapi, Lacus. Baju ini, aku-."

"Sudahlah! Baju itu sangat cocok untukmu," potong Lacus.

Menyadari bahwa suara kedua gadis tadi semakin mendekat, Athrun segera berdiri dari posisinya dan mengeratkan genggaman tangannya pada buket bunga yang ia bawa.

Setelah beberapa detik berlalu, terlihat sosok Lacus menarik-narik tangan Cagalli, agar ikut masuk ke ruang tamu. Sesaat kemudian, akhirnya Lacus berhasil membawa Cagalli masuk ke ruang tamu bersamanya. Memperlihatkan sosok Cagalli kepada pemuda, yang dari tadi menanti kedatangannya.

Mata emerald Athrun seketika itu melebar, mulutnya sedikit terbuka dan ekspresi wajahnya jadi sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Kedua mata emerald itu terus memandangi sosok Cagalli, memperhatikan dari ujung rambut hingga ujung kaki gadis itu dengan seksama.

Gadis berambut pirang itu kini mengenakan gaun sederhana, namun elegan berwarna lime green yang panjangnya mencapai lututnya. Ia memakai scraf berwarna khaki di lehernya dan menghiasi rambut indahnya dengan pita berwarna merah. Sebagai sentuhan akhir, rupanya Cagalli bahkan mengenakan sepasang high heels berwarna coklat keemasan di kakinya. Rona merah jelas nampak menghiasi wajah manis Cagalli. Ia bahkan tidak berani mengarahkan tatapan mata amber-nya ke mata emerald Athrun secara langsung.

"Sudah kubilang, baju itu sangat cocok untukmu," suara Lacus yang sekarang sudah berdiri di depan Kira, membuat Athrun dan Cagalli menoleh ke arah gadis berambut pink itu.

Lacus dan Kira sekarang tersenyum lebar memandang kedua teman mereka. "Athrun bahkan tidak bisa berkata apa pun lagi karena terpesona olehmu, Cagalli," tambah Lacus sambil mengedipkan sebelah matanya.

Seketika itu juga, wajah Athrun memerah. Begitu juga dengan Cagalli, rona merah di pipinya menjadi semakin jelas terlihat. Spontan mereka berdua mengalihkan pandangan mereka ke lantai secara bersamaan. Sedangkan Kira dan Lacus, hanya bisa tertawa kecil.

Beberapa saat kemudian, Athrun yang berdiri menghadap Lacus dan Kira, akhirnya membalikkan badannya untuk kembali menghadap Cagalli. Lalu ia tersenyum, sesaat setelah menatap gadis yang masih terus menundukan wajahnya.

"Ini, untukmu," ujar Athrun sambil menyodorkan buket bunga, yang ada di genggamannya pada Cagalli.

Mata amber Cagalli membesar, ketika ia melihat buket bunga merah yang ada di hadapannya. Kemudian ia mengangkat wajahnya untuk menatap Athrun. "Bunga ini?" tanyanya.

"Ya, bunga ini untukmu," Athrun mengangkat sedikit buket bunga Kagaribi di tangannya. "Bunga ini sesuai dengan namamu," Athrun tersenyum lembut. "Dan bunga ini juga sangat cantik, sepertimu," tambahnya.

Spontan wajah Cagalli kembali merona. Ia sempat mengalihkan sejenak pandangannya ke sembarang arah. Namun akhirnya ia menerima buket bunga dari Athrun sambil tersenyum malu. "Um, terima kasih, Athrun."

Athrun hanya tersenyum semakin lebar, lalu ia melihat Cagalli melangkah melewati dirinya dan menyerahkan buket yang baru saja ia berikan pada Lacus.

"Wah, seleramu bagus, Ath," komentar Lacus, yang memperhatikan buket bunga di tangannya.

"Haha, aku tahu," jawab Athrun. "Jadi, ayo berangkat, Princess?" tanya Athrun, yang sudah menghampiri Cagalli. Sekarang ia mengulurkan tangan kanannya pada Cagalli.

Cagalli menoleh ke arah Athrun, dan menatap tangan yang diulurkan untuknya. "Eh? I-iya," jawabnya grogi. Kemudian ia menyambut tangan Athrun dan tersenyum manis.

"Bolehkah aku memulangkannya setelah lewat tengah malam?" tanya Athrun tiba-tiba kepada Kira dan Lacus, saat ia dan Cagalli sudah berdiri di depan pagar rumah Cagalli.

Pertanyaan itu membuat Cagalli tersentak. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun terpotong oleh Kira yang menjawab, "It's Okay, enjoy your time!"

Jawaban Kira, membuat gadis bermata amber menatapnya tajam. "Kira! Apa yang kau-."

"Kuncinya akan aku letakan di tempat biasa," potong Kira lagi. Lalu ia menatap Cagalli dengan Just-go-glare.

"..."

"Kalau begitu, kami pergi dulu," pamit Athrun sambil membalikkan badannya dan memandu Cagalli, menghampiri mobilnya.

"Ya, hati-hati ya..." seru Lacus riang.

Athrun membukakan pintu mobilnya untuk Cagalli. Setelah Athrun membantu Cagalli masuk ke mobil, ia menutup pintunya dan menuju ke kursi pengemudi. Setelah ia menempati kursinya dan memasang sabuk pengamannya, ia segera menyalakan mesin mobilnya dan melesat pergi, meninggalkan kediaman keluarga Athha.

=.-.-.-.-.-. C .-.-.-.-.-. Y .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. Z .-.-.-.-.-.=

Beberapa menit kemudian, Athrun dan Cagalli tiba di sebuah restoran yang terkesan mewah dan elegan dari luar.

Cagalli hanya tercengang, ketika ia memperhatikan tampilan restoran yang ia tuju dari balik kaca mobil. Ia sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di restoran semewah ini sebelumnya.

"Athrun?" panggilnya sambil menoleh pada Athrun di sampingnya.

"Hm?" jawab Athrun tanpa menoleh, karena ia masih mengemudikan mobilnya memasuki area restoran.

"Kita akan makan di sini?" tanya Cagalli.

Athrun tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepalanya. Sekarang mata Cagalli membesar karena tidak percaya. "A-apa? Tapi, tempat ini," Cagalli bingung dalam menyusun kata-kata yang ingin ia utarakan. "Aku belum pernah ke tempat seperti ini, Athrun," hanya itu yang akhirnya sanggup ia ucapkan.

Athrun tertawa geli karena mendengar perkataan Cagalli barusan. Setelah Athrun memarkir mobilnya dengan sempurna, ia menoleh dan menatap Cagalli dengan mata emerald-nya yang bercahaya. "Kau sudah mengajakku ke tempat, yang belum pernah aku datangi dan makan kebab, yang belum pernah aku makan sebelumnya," Athrun tersenyum lembut. "Jadi, sekarang adalah giliranku."

Cagalli sempat terdiam sejenak. Memang benar, Cagalli mentraktirnya makan kebab yang merupakan makanan baru bagi Athrun. Tapi itu hanya kebab di Andy's Kebab. Sebuah kedai biasa yang sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan restoran mewah, yang ada di hadapan mereka sekarang.

"Ta-tapi, Athr-."

"Sudahlah, anggap ini sebagai tanda terima kasi ku padamu," Athrun menunduk, wajahnya mendadak menjadi lesu. "Sekaligus sebagai permintaan maafku," tambahnya, dengan sedikit lirih.

Menyadari perubahan pada ekspresi wajah dan suara Athrun, pandangan mata amber Cagalli melembut. Cagalli kemudian menggapai tangan kiri Athrun, yang berada di peseneling dengan tangan kanannya. Membuat Athrun tersentak kaget dan spontan menatap Cagalli.

Cagalli tersenyum manis pada Athrun. "Baiklah kalau begitu," ujarnya lembut.

Athrun tersenyum bahagia, ketika mendengar perkataan Cagalli. Sontak ia meletakkan tangan kanannya di atas tangan Cagalli, yang masih menyentuh tangan kirinya. Mengusap-usap punggung tangan halus gadis bermata amber, yang duduk di sampingnya dengan lembut selama beberapa detik. Lalu ia turun dari mobilnya, membukakan pintu untuk Cagalli dan mendampinginya melangkah menuju restoran di depan mereka, yang bernama Belle Rose.

Athrun sekarang berjalan menuju Belle Rose, dengan menggandeng erat tangan seorang gadis berambut pirang di sampingnya. Sesekali ia memandang gadis yang berjalan bersamanya dari sudut matanya, dan mendapati gadis itu tertunduk dengan rona merah terlihat menghiasi pipinya. Membuat Athrun tidak bisa menyingkirkan senyuman, yang dari tadi terukir di wajahnya yang tampan.

Setelah mereka di sambut oleh seorang pelayan restoran di pintu masuk, mereka segera dipandu menuju ke sebuah meja kosong dan duduk saling berhadapan. Setelah itu, pelayan restoran tersebut memberikan daftar menu pada mereka dan menjelaskan beberapa menu. Ada banyak menu andalan yang ditawarkan, misalnya seperti SalmonFishcakes dan berbagai jenis Steak yang disediakan restoran itu.

Athrun mengamati beberapa nama makanan yang ada di daftar menu yang ia pegang. Sesaat setelah pelayan selesai memberikan penjelasan mengenai beberapa menu spesial, Athrun mengangguk kecil. Ia melipat dan meletakkan daftar menunya di atas meja, lalu menatap ke arah pelayan yang dari tadi setia berdiri di samping mejanya.

"Baiklah, aku pesan Warm Roquefort Salad, Roast Seabass dan Café au lait. Yang terakhir, aku ingin memesan Iced Berries with White Chocolate Sauce, untuk makanan penutupnya," ujar Athrun, menatap pelayan yang sekarang sedang mencatat semua pesanannya tadi. Sesaat kemudian, pelayan itu mengangguk kecil, dan Athrun mengalihkan pandangannya ke depan.

Mata amber Cagalli saat ini tengah sibuk menelusuri setiap nama makanan, yang tertera dalam daftar menu yang ada di tangannya. Ia berusaha sekeras mungkin untuk menemukan nama makanan yang familiar baginya.

"Kau sudah memutuskan untuk memesan apa?" suara Athrun, berhasil membuat Cagalli tersentak dan menatap ke arahnya.

"Eh? Um, aku..." mata Cagalli kembali menatap ke daftar menu untuk sesaat, lalu ia kembali menatap Athrun. "Aku ingin makan Beef Bourguignon dan Chocolate Fondant Saja," hanya itu makanan yang menarik perhatiannya. Setidaknya ia tahu apa itu Chocolate Fondant dan ada kata-kata "Beef" di nama hidangan yang ia pilih tadi. Tidak mungkin jika itu adalah makanan yang terlampau aneh 'kan?

Athrun mengangguk kecil. "Lalu, makanan pembuka dan minumnya?"

'Ugh, apa harus dengan makanan pembuka?'

Cagalli kembali mengamati beberapa nama makanan yang tertera di daftar menu Starters. Gawat, tidak ada makanan yang ia kenali.

Melihat Cagalli yamg kebingungan, Athrun bertanya, "Apa kau suka jamur?"

Cagalli lagi-lagi tersentak dan menatap Athrun sejenak, lalu ia mengangguk kecil untuk meresponnya.

"Kalau begitu, kau pesan Mushroom Feuilleté saja!" usul Athrun, mencoba untuk membantu Cagalli dalam menentukan pilihannya.

Cagalli mengangguk dan menjawab, "Ya, boleh saja. Dan aku ingin minum Rose tea."

Athrun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu ia memandang pelayan yang baru saja selesai menulis pesanan Cagalli. Setelah membacakan ulang, pesanan Athrun dan Cagalli, pelayan itu pamit dan beranjak pergi meninggalkan mereka.

Suasana hening menyelimuti mereka selama beberapa menit. Cagalli mengedarkan pandangannya, untuk memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Restoran tempat di mana ia berada sekarang benar-benar terkesan mewah dan resmi. Kebetulan pengunjung restoran tidak terlalu ramai, sehingga tidak merusak nuansa elite dan elegan di dalam restoran. Di dalam hatinya, Cagalli sangat bersyukur karena Lacus memaksanya untuk memakai gaun ini. Bagaimana jadinya, jika ia tadi mengenakan celana jeans dan T-Shirt sederhana kesukaannya?

"Bagaimana? Kau suka tempat ini?" suara Athrun, membuat Cagalli menatap lurus ke pemuda yang duduk di hadapannya itu.

Cagalli mengedipkan matanya sebelum mengukir senyuman tipis di wajahnya dan menjawab, "Iya, tentu saja," Cagalli mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya sesaat, lalu kembali menatap Athrun. "Tempat ini bagus," tambahnya.

Athrun tersenyum, setelah mendengar ucapan Cagalli. Tetapi sesaat kemudian, ia melihat Cagalli menundukan wajahnya, sambil berkata, "Tapi..."

Athrun mengangkat alis matanya. "Tapi... Kenapa?"

Cagalli tetap tertunduk, ia memandangi sejumlah pisau dan garpu dengan berbagai bentuk dan ukuran tertata rapi di hadapannya. "Aku, benar-benar tidak tahu soal makanan Perancis," ia mengalihkan pandangannya ke Athrun. "Maksudku, garpu dan pisau sebanyak ini...?" mata amber Cagalli kembali menatap ke arah peralatan makannya.

Athrun tersenyum lembut. Ia mengistirahatkan kedua sikunya di atas meja, lalu menyangga dagunya dengan kedua punggung tangannya. "Jangan khawatir, akan kutunjukkan cara menggunakan semua pisau dan garpu itu."

Cagalli kemudian menatap Athrun, dan mengangguk kecil untuk meresponnya.

Beberapa menit kemudian, makanan pesanan mereka datang satu per satu. Athrun dan Cagalli menikmati makan malam mereka dengan diselingi oleh tawa dan canda. Mereka juga bertukar cerita mengenai kehidupan pribadi mereka. Alunan musik klasik yang dimainkan oleh beberapa pemain musik di panggung, yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat mereka, semakin membuat Athrun dan Cagalli merasa nyaman dan betah, menikmati moment yang indah malam ini.

Namun pada akhirnya, mereka memutuskan untuk meninggalkan restoran, setelah sekian lama larut dalam percakapan mereka. Sekarang ini, Athrun sudah mengemudikan mobilnya untuk meninggalkan area restoran.

"Sekarang kita pergi ke mana?" tanya Cagalli penasaran.

"Bagaimana kalau nonton di bioskop?" usul Athrun, sambil tersenyum.

"Nonton? Memangnya ada film bagus?" tanya Cagalli.

Athrun mengedikkan bahunya. "Kita lihat saja nanti."

Cagalli menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia menatap ke luar jendela sesaat, lalu memandang sekelilingnya. "Ngomong-ngomong, kenapa sekarang kau bawa mobil? Di mana motormu?"

Athrun tersenyum tipis. "Ya, tidak mungkin 'kan? Kalau aku membawa gadis secantik dirimu berkencan dengan motor, Princess..." jawaban Athrun, sukses menghasilkan Death-glare dari Cagalli yang ditujukan langsung padanya. "Ahaha, jangan menatapku seperti itu!" Athrun menyempatkan diri, untuk melirik Cagalli sejenak. "Motorku ada di rumah," ia kembali menatap jalan raya. "Mobil ini baru saja aku dapatkan dari orang tuaku beberapa hari yang lalu," Mata emerald Athrun mendadak menjadi sayu. "Sebagai hadiah," tambahnya.

Cagalli mengangkat alis matanya. "Hadiah?"

Athrun mengangguk kecil, lalu ia menghela nafas dan berkata, "Besok adalah hari ulang tahunku," dengan volume pelan.

Cagalli hanya terdiam sejenak, lalu ia menanggapi Athrun dengan, "Oh…" dan ia kembali menatap ke luar jendela.

=.-.-.-.-.-. C .-.-.-.-.-. Y .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. Z .-.-.-.-.-.=

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di sebuah gedung bioskop di pusat kota ORB. Sekarang Athrun dan Cagalli sedang mengantri untuk membeli tiket.

"Jadi?" Athrun menoleh pada Cagalli yang berdiri di sampingnya. "Humor? Action? Horor? Romance?"

Cagalli terlihat sedang memikirkan jawaban terbaik yang akan ia berikan untuk Athrun. Sesaat kemudian, ia tersenyum dan menjawab, "Action."

Walaupun di dalam hatinya, Athrun sempat kaget mendengar jawaban dari Cagalli, ia akhirnya mengangguk. Biasanya para gadis akan memilih untuk menonton film bertemakan romance, tapi...

Beberapa saat kemudian, Athrun menggelengkan pelan kepalanya untuk menghentikan pemikiran panjang tidak berguna di dalam otaknya. Lalu ia mengaitkan jari-jarinya di antara jari-jari mungil Cagalli, dan membawa gadis yang sekarang tengah blushing itu maju hingga ke loket pembelian tiket.

Setelah itu, mereka berdua membeli 2 bungkus pop corn dan 2 gelas soda untuk persediaan mereka selama menonton. Setelah menunggu selama beberapa menit, akhirnya mereka masuk ke ruang theater untuk menikmati film yang akan ditayangkan selama kurang lebih 2 jam di sana.

=.-.-.-.-.-. C .-.-.-.-.-. Y .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. Z .-.-.-.-.-.=

T – B – C

AN : Hmm… Kencan yang… Biasa banget... Hahaha.

Tenang, Readers... Kencan mereka belum berakhir... :D

Masih ada moment AsuCaga di Chap selanjutnya… XD

See you...