The One
In the End, You are Still 'The One'
By: 0312_luLuEXOticS
Cast: Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Kim Joon Myun, Kris, Others
Pairing: HunHan, ninja!ChanBaek n SuDo
Genre: BL, Fluff, Romance, Hurt&Comfort
Rate: T
Lenght: 24
Warning: Boys Love, typo(s) bertebaran, abal, gaje
A/N: Annyeong^^
Mian mian mian karena baru update setelah hampir 1 bulan :'( Dan karena Liyya merasa amat sangat bersalah, ini Liyya bawa Chap END yang SUPER PUANJAAAAANG! Siap-siap bantal kalau ngantuk ya -_- Gak usah banyak cingcong(?) lagi deh, langsung ke TKP aja :D
.
HAPPY READING^^
.
Preview Chapter:
"Karena itu, Luhan Hyung! Mau kah kau memberikanku kehormatan untuk bisa kembali menyandang gelar sebagai kekasihmu lagi?"
Luhan menggigit bibir bawahnya cukup keras, bersamaan dengan air mata haru yang terus mengalir di wajahnya. Bersamaan dengan matanya yang terus berkedip-kedip agar dia bisa melihat apa yang ada di depannya depan dengan jelas. Bersamaan dengan kepalan tangan Sehun yang terbuka sempurna. Dan sepasang 'Couple Ring' di telapak tangan Sehun seolah tersenyum manis padanya.
~O.O~
Part A
Hening.
Semuanya terdiam. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Yang terdengar hanya suara musik yang terus mengalun indah. Yang terdengar hanya detak jantung yang berdebar kencang dari dada masing-masing. Yang terdengar hanya isak tangis Luhan yang begitu pelan dan perlahan memudar.
Luhan menatap 'Couple Ring' di tangan Sehun, kemudian beralih menatap Sehun yang masih menatapnya dengan tatapan penuh cinta nya. Menatap lurus ke dalam iris hitam milik namja tampan yang pernah menjadi kekasihnya itu. Entah kenapa, dia masih merasa ragu untuk menerima Sehun kembali. Berharap dengan menatap mata itu, keraguannya akan menghilang dengan sendirinya.
Dia lalu mengalihkan pandangannya untuk menatap ke sekelilingnya. Menatap teman-temannya yang juga menatapnya, menunggu jawaban Luhan. Dan akhirnya menatap Baekhyun yang tersenyum manis padanya dan menganggukkan kepalanya pelan. Seolah mengatakan, 'Say YES, Hyung! I know you'll be happy!' padanya.
Tak bisa dipungkiri, dia ingin sekali menjawab 'iya'. Dia sangat sangat ingin mengucapkan kata itu kemudian memeluk Sehun seerat mungkin. Namun untuk sesaat, keraguan itu kembali menghampirinya. Rasa takut untuk kembali disakiti oleh orang, yang bahkan setelah semua yang terjadi, masih sangat dicintainya itu kembali menyelimuti pikirannya.
"Kau benar-benar menyesali apa yang terjadi dan ingin aku kembali padamu, Sehun-ah?" tanya Luhan setelah terdiam menatap Sehun cukup lama. Sehun hanya tersenyum dan mengangguk. Mengabaikan rasa pegal yang menjalari tangan kanannya yang masih tergantung di depan wajah Luhan.
"Kau melakukan ini semua untukku? Agar aku menerimamu kembali?" Sehun kembali menganggukkan kepalanya.
Luhan memejamkan matanya, menghirup nafas dan menghembuskannya perlahan, kemudian kembali membuka matanya untuk menatap Sehun —lagi. "Lalu, jika aku berkata tidak," Luhan menggantungkan kalimatnya. "Jika aku menolak untuk menerimamu kembali. Jika aku menolak untuk memberikan kesempatan itu apa yang akan kau lakukan, Sehun-ah?" tanya nya.
Sehun terkejut mendengar pertanyaan Luhan. Hanya sesaat, karena detik kemudian dia berhasil menutupi keterkejutannya dan kembali memasang wajah 'cool' dan senyum manisnya. Seolah dia tidak terganggu dengan pertanyaan itu. Seolah jantungnya tidak berdebar kencang karena Luhan mungkin akan benar-benar menolaknya. Dia ingat kata-kata Kris kalau harus terlihat tegas di depan Luhan. Dia tidak boleh terlihat tidak yakin.
"Apa kau masih akan terus mengejarku setelah itu?" tanya Luhan lagi.
Sehun tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. "Aniyo!" jawabnya. Tersenyum puas saat melihat wajah terkejut Luhan. "Jika itu Sehun yang dulu, mungkin dia akan berkata 'iya', Hyung. Tapi seseorang mengatakan padaku untuk belajar melepasmu jika kau memang tidak menginginkan kehadiranku di sisimu," ujarnya mantap.
"Besides, kau sendiri yang mengatakannya padaku saat itu, Hyung. The least thing I could do when you keep pushing me away is letting you go! Karena itu, jika kali ini kau juga tetap menolakku, maka aku akan menganggap mungkin memang itu yang terbaik untukmu, Hyung. Dan jika memang kau menginginkan itu, jika dengan begitu kau akan bahagia, maka aku akan melepasmu dan menjauh darimu," lanjutnya.
"Menjauh?" tanya Luhan. "Apa maksudmu dengan itu?"
"Aku akan pergi, Hyung!" jawabnya. "Where to?" tanya Luhan lagi.
"Entahlah!" Sehun mengedikkan bahunya. "Yang jelas jauh darimu. Karena aku tidak mungkin menghabiskan waktuku di dekatmu jika hanya sebagai seorang Dongsaeng. Aku tidak bisa."
Luhan mengerutkan keningnya tak suka mendengar jawaban Sehun. "Berapa lama?" tanya nya lagi. "Hmmmmm, long enough. Atau mungkin selamanya," jawab Sehun, tersenyum dalam hati melihat Luhan yang semakin mengerutkan keningnya.
"Oh Sehun! Apa kau sedang mengancamku sekarang?"
"Aniyo!" Sehun menggelengkan kepalanya innocent. "Aku hanya menjawab pertanyaanmu apa adanya, Hyung. Apa ini terdengar seperti sebuah ancaman bagimu?"
"Definitely YES, Oh Sehun! Kau berkata kalau kau akan meninggalkanku jika aku tidak menerimamu! Apa namanya kalau bukan 'mengancam'?!" ucap Luhan geram. Jelas tidak suka dengan ide itu.
"If you say so, Hyung!" jawab Sehun santai. "Tapi Hyung, mengapa kau harus merasa terancam? Bukankah seharusnya kau senang karena akhirnya aku bisa melepasmu? Karena akhirnya aku tidak akan mempersulit dirimu lagi?"
"MWO?"
"Eum, karena akhirnya semua akan menjadi lebih mudah un—" Sehun menghentikan kalimatnya saat melihat air mata yang kembali menggenang di pelupuk mata Luhan. "H-Hyung!?" panggilnya bingung saat setetes air mata itu berhasil lolos dari mata indah Luhan bersamaan dengan wajahnya yang tertunduk. "Hyu—"
"Nappeun Namja!" ucap Luhan dengan kepala tertunduk. "Eh?" Sehun melepaskan genggaman tangannya pada tangan kanan Luhan dan meraih wajah manis Luhan yang masih tertunduk agar menatapnya.
Puk
"Nappeun Sehun!" Dan kepalan tangan mungil itu bertemu dengan dada bidang Sehun.
Puk. Lagi. Puk. Lagi. Dan lagi. Tidak sakit memang, toh Luhan tidak benar-benar memukulnya dengan tenaga penuh. Dan Sehun hanya mendiamkannya, menerima semua pukulan kecil Luhan, menunggu Luhan untuk melanjutkan kalimatnya.
"You can't do this to me, Oh Sehun! That's not fair!" ucap Luhan, masih memukuli dada Sehun. "Suatu hari kau datang di kehidupanku dan membuatku jatuh cinta padamu. Di lain hari kau memintaku untuk bersabar menunggumu membalas cintaku. Di kemudian hari kau memberikan kejutan dan berkata kalau kau mencintaiku. Membuatku seakan mejadi orang paling bahagia di dunia ini. Lalu Jongin datang dan kau meninggalkanku. Kau menorehkan luka dihatiku kemudian mengobatinya. Lalu menggoresnya, kemudian mengobatinya dan akhirnya melukainya lagi."
Luhan mengambil nafas dalam kemudian melanjutkan ucapannya. Mata sama sekali tidak menatap Sehun, melainkan tangan mungilnya yang masih bertabrakan dengan dada bidang Sehun. Tidak perduli bulir-bulir air mata yang terus mengalir di wajahnya.
"Lalu, setelah aku merasa bisa menerima hubungan Hyung-Dongsaeng yang kita jalani, you came and gave me all those surprises. Mempersiapkan semua ini untukku. Membuatku tersentuh. How could you do this to me? Kau membuatku menangis kemudian membuatku kembali mencintaimu. Dan sekarang, setelah kau membuat perasaan yang berusaha ku pendam sedalam mungkin kembali muncul di permukaan, kau mengancam akan meninggalkanku jika aku tidak menerimamu kembali?!" Luhan beralih menatap Sehun. Mata merah, hidung mungilnya yang juga merah, bibir yang terperangkap di antara gigi atas dan bawahnya. Jika ini adalah waktu yang lain, Sehun pasti sudah menggantikan tugas gigi Luhan dengan senang hati.
"That's not FAIR, Sehun-ah! You know I can't even breath nor live properly without you, yet you're still threatening me like this! Bagaimana aku bisa bernafas dan hidup jika kau pergi? Ini tidak adil! Kau tidak adil, Sehun-ah. Bagaimana bisa kau selalu berhasil membuatku memaafkanmu dengan mudah dan melupakan semua kesalahan yang kau lakukan padaku?" Sehun mengedipkan matanya berkali-kali mendengar ucapan Luhan. Apakah itu berarti Luhan menerimanya kembali?
"H-Hyung!" ucapnya pelan. "Mianhae!" ucapnya lagi sembari menghapus bulir-bulir air mata yang masih setia membasahi wajah Luhannya.
"I hate you, Oh Sehun!" ucap Luhan kembali memukuli dada Sehun dengan tangan kanannya. "I really do hate you!" ucapnya lagi kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
GREPP
"Hyung, uljima. Aku membuat surprise ini bukan untuk membuatmu menangis, Hyung." Sehun meraih tubuh Luhan dan merangkuhnya ke dalam pelukannya. Sedikit merasa bersalah melihat Luhan yang kembali menangis karena ulahnya. It's supossed to be their oh-so-happy day, right? Jadi seharusnya 'Malaikat' nya tidak menangis melainkan tersenyum bahagia.
"Shhhh, mianhae, Hyung! Uljima. My words, I'll take it back. All of it. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Hyung. Apapun yang terjadi. Meskipun kau menolakku. Meskipun kau hanya akan menjadi seorang Hyung untukku. Aku akan selalu ada di sisimu, Hyung! Geuronnikka, jangan menangis lagi, hmm?" pinta Sehun sambil terus mengusap punggung Luhan. Sesekali, mencuri kesempatan, mecium puncak kepala namja manis tersebut.
"I hate you, Oh Sehun! I hate you! I hate you!" ucap Luhan masih memukul pelan dada Sehun dengan telapak tanganya.
"I know, Hyung. I know. I'm sorry!" jawab Sehun menempelkan dagunya di atas puncak kepala mantan kekasihnya itu.
Suasana kembali hening untuk beberapa saat. LCD yang sebelumnya masih terus menampilkan slide show foto Luhan telah berhenti dari tadi. Beberapa pasang mata yang berada di sana pun hanya terfokus pada dua sosok yang masih berpelukan di depan mereka. Penasaran dengan jawaban final apa yang akan diberikan oleh Luhan.
Namun baik Luhan maupun Sehun tidak ada yang menyadarinya. Keduanya terlalu larut dalam perasaan masing-masing. Luhan masih sedikit terisak dalam pelukan Sehun yang –mesikpun ingin disangkalnya— terasa sangat menenangkan. Dan Sehun juga masih setia menenangkan Luhan agar berhenti menangis. Tersenyum lemah saat iris matanya bertemu dengan tatapan prihatin dari teman-temannya. Senyuman yang berubah menjadi tatapan bingung saat Luhan akhirnya Luhan membalas pelukannya dan menggenggam erat baju bagian belakangnya. Seolah hidupnya bergantung padanya.
"Hyung?" panggil Sehun tak yakin dengan arti dari pelukan Luhan saat itu. "Hyu—" Kalimat itu terputus saat Luhan akhirnya membuka suaranya.
"Jangan pergi, Sehun-ah. Jangan melakukannya lagi. Jangan menyakitiku lagi. Jangan meninggalkanku lagi dan tetaplah di sisiku. Please!" ucap Luhan pelan. Sangat pelan namun cukup keras agar bisa didengar oleh Sehun. Sangat pelan hingga Sehun bahkan hampir tidak bisa mendengarnya. Hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari bibir Luhan.
Untuk beberapa detik, Sehun mengedipkan matanya, mencoba mencerna ucapa Luhan. Dan saat dia merasakan kalau pelukan Luhan di pinggangnya semakin erat dengan Luhan yang menyamankan posisinya di dalam pelukannya, barulah kalimat Luhan tercerna dengan sempurna dalam otaknya. Menghasilkan senyuman lebar, sangat lebar, di wajah tampannya.
"Jangan pernah meninggalkanku lagi, Sehun-ah!" ucap Luhan lagi yang langsung dibalas dengan anggukan penuh semangat dari Sehun yang semakin mempererat pelukannya pada tubuh Luhan. Membawanya sedekat mungkin dengan tubuhnya.
"I won't! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, Lu. Cross my heart!" jawab Sehun kemudian menatap teman-temannya, menganggukkan kepalanya pada mereka dan kembali tersenyum lebar. Mengucapkan 'Terima kasih' pada mereka tanpa suara.
Tidak perlu mendengar apa yang dibisikkannya pada Sehun untuk mengetahui apa jawaban Luhan. Hanya dari gestur tubuh serta senyuman lebar yang terbentuk di wajah Sehun, mereka sudah bisa menebaknya. Hhhhhh. Syukurlah. Sepertinya mulai saat ini, semuanya akan kembali seperti sedia kala lagi.
"Sehun-ah!" panggil Luhan pelan beberapa saat kemudian. "Hmmmm?"
"Apa semua orang masih menatap kita?" tanya nya. "Eum, wae?"
"Eottokhae? Bagaimana caranya kita pergi dari sini kalau semuanya masih menatap kita? Aku malu, Sehun-ah!" rengek Luhan. Sehun terkekeh pelan mendengarnya. Lihatlah. Baru selang beberapa menit saja sejak mereka kembali seperti dulu dan sifat manja Luhan muncul(?) dengan sendirinya. Seolah mereka tidak pernah bertengkar beberapa minggu yang lalu.
"Aiiisss! Ini masalah serius, Sehun-ah. Jangan tertawa!" omel Luhan, masih dengan berbisik.
"Gwaenchanna, Lu! Kalau kau malu untuk melihat mereka, aku tidak keberatan jika kau terus bersembunyi di dalam pelukanku. Kau tahu? Aku akan dengan senang hati menyembunyikanmu!" jawab Sehun.
"Yaaak! Sehun-aaaaahhh!" rengek Luhan lagi. Wajahnya sudah semerah bunga Mawar yang siap dipetik. Sehun kembali terkekeh pelan dan mencium pelipis Luhan dengan sayang.
"Gomawo, Luhan-ah! Untuk kesempatan dan kepercayaan yang kembali kau titipkan padaku. Kali ini, aku pastikan untuk menjaga kepercayaan itu sebaik mungkin."
~O.O~
"Wow! Sejak kapan rumah kita berubah menjadi seperti ini?" tanya Baekhyun saat melihat keadaan rumah mereka. Seingatnya, tadi siang, sebelum dia pergi ke Lotte World bersama Luhan, keadaan rumah tidak seramai ini.
Seusai acara surprise di han River tadi dan setelah membereskan semua peralatan yang digunakan tadi, mereka semua memang sengaja meninggalkan keduanya di sana. Memberikan Sehun dan Luhan waktu untuk berdua saja. Mereka sendiri langsung pulang, namun tidak ke rumah masing-masing, melainkan ke kontrakan LuBaekSoo. Mempersiapkan surprise party yang mereka, minus Baekhyun, rencanakan untuk HunHan.
"Hanya dekorasi ringan, Hyung. Tidak usah lebay!" jawab Kyungsoo acuh kemudian segera berjalan menuju dapur, namun tidak sebelum memberikan perintah pada tiap orang yang hadir di sana. "Kris Hyung, Jongdae-ah, bantu aku membawa makanannya ke ruang tamu!" titahnya.
"Lay Hyung, tolong siapkan alat pemanggangnya. Kau bisa kan?" tanya nya yang langsung diangguki oleh Lay sebelum berlalu menuju TKP. "Baiklah. Dan untuk Tao, bisa tolong bawakan dagingnya dan bantu Lay Hyung?" Tao hanya mengangguk paham dan melakukan apa yang diminta oleh Kyungsoo kemudian menyusul Gege nya itu. Sang 'Eomma' kemudian beralih pada Baekhyun dan Chanyeol.
"Kalian berdua. Tugas kalian adalah yang paling penting! Menyambut Luhan Hyung dan Sehun di depan. Dan jangan lupa, pastikan untuk memberi aba-aba jika mereka sudah terlihat. Arrasseo!" Titahnya lagi kemudian menarik tangan Suho untuk mengikutinya ke dapur. Mereka masih harus merias cake untuk HunHan. Meninggalkan Baekhyun yang masih terbengong bingung di tempat mereka berdiri.
"Kajja!" Chanyeol menggenggam jemari mungil Baekhyun dan menuntunnya menuju teras rumah untuk menunggu kedatangan Hunhan. Hanya Tuhan yang tahu entah dimana kedua orang itu berada dan berapa lama mereka harus menunggu di sana.
Sesampainya di sana, Chanyeol langsung mendudukkan dirinya di atas kursi dan meraih Baekhyun untuk duduk di pangkuannya. "Begini lebih hangat," ucapnya saat Baekhyun membuka mulutnya untuk protes. Sebenarnya bukan protes, mengingat pangkuan Chanyeol adalah tempat duduk favoritnya, dia hanya sedikit terkejut saja.
Baekhyun duduk menyamping dengan kedua tangan panjang Chanyeol yang melingkar di pinggang langsingnya dan dagu yang bertengger manis di bahunya. "Hey," panggilnya pelan, membuat Baekhyun sedikit bergidik geli saat deru nafas kekasihnya itu menerpa ceruk lehernya. "Mengapa kau mengerutkan keningmu, cantik? Apa kau tidak suka dengan acara yang kita siapkan untuk Luhan Hyung?" tanya nya.
Baekhyun menggeleng lemah dan menatap kekasihnya kemudian menyandarkan kepalanya di ceruk leher Chanyeol. "Aniyo. Aku hanya memikirkan Luhan Hyung," ujarnya. "Kali ini, Luhan Hyung akan benar-benar bahagia kan?" tanyanya.
Chanyeol tersenyum tipis dan menarik Baekhyun agar menatapnya kemudian mencium bibir itu sekilas. "Tentu saja, chagi-ya! Kau lihat sendiri kan? Luhan Hyung terlihat sangat bahagia tadi. Sehun melakukan semua yang dia bisa untuk Luhan Hyung, dan aku yakin kali ini dia pasti tidak akan mengacaukannya lagi. Atau kalau tidak, dia tidak hanya akan kembali berhadapan dengan kepalan tangan kananmu tapi juga tanganku!"
"Tch!" Baekhyun mendecih kemudian kembali menyandarkan kepalanya di perpotongan leher kekasihnya. Menyembunyikan rona merah di wajahnya. "Aku harap begitu," ucapnya.
"Mengapa kau jadi meragukan Sehun? Bukankah waktu itu kau selalu membanggakannya dan mengomel padaku karena tidak bisa seromantis Sehun?" goda Chanyeol sambil mengusap-usap pipi merona kekasihnya.
"Yaaaaah! Jangan ingatkan itu, Yeollie!" Baekhyun mem-pout-kan bibirnya dan Chanyeol terkekeh pelan meskipun dia tidak bisa melihat bibir 'pout' nya Baekhyun. "Bukankah aku sudah minta maaf?" Chanyeol semakin terkekeh, namun tidak menjawab.
"Bagiku, Yeollie adalah yang paling romantis!" Baekhyun mencium dagu Chanyeol sekilas sebelum kembali meringkuk manja dalam pelukan Chanyeol. Mencari kehangatan di sana. Menghasilkan senyuman paling lebar yang pernah Chanyeol punya.
. . .
"Hyung!" pekik Kyungsoo kaget ketika merasakan sepasang tangan melingkar manis di pinggangnya dari arah belakang. "Apa yang kau lakukan? Kita harus menyelesaikan kue nya sebelum Luhan Hyung datang. Nan—"
Chu~
Sebuah kecupan manis di pipi kirinya menghentikan rentetan kalimat yang akan keluar dari bibir Kyungsoo sekaligus pergerakan tangannya yang sedang menghias kue untuk Luhan dan Sehun.
"H-Hyung!" panggilnya gugup.
"Ssssttt. Jangan perdulikan aku, teruskan saja apa yang sedang kau lakukan. Aku hanya ingin memelukmu seperti ini, Yeobo! Seharian kau sibuk mempersiapkan ini itu untuk Luhan Hyung, aku merindukanmu."
Blussshhh
Kyungsoo menggigit bibir bawahnya menahan senyuman lebar yang siap terbentuk di wajah manisnya. Akhirnya dia hanya membiarkannya saja saat Suho meletakkan dagunya di pundak kirinya. Dan setelah berhasil menetralkan detak jantungnya, dia kembali meneruskan pekerjaannya menghias kue untuk HunHan.
"Kau tahu? Melihatmu membuat kue seperti ini mengingatkanku pada hari itu. Saat pertama kali aku melihatmu di kelasku. Aku pikir, untuk seorang pemula, kau terlalu ahli saat itu. Dan semakin hari, aku semakin yakin kalau kau memang sudah ahli. Lalu mengapa kau mengambil kelas memasak saat itu, hmmm? Katakan padaku! Apa kau sengaja mengikuti kelas itu agar bisa berkenalan denganku?" goda Suho, membuat rona merah di pipi Kyungsoo semakin menyala.
"A-aniyo. Tentu saja tidak. Luhan Hyung yang memintaku untuk menemaninya," bohong Kyungsoo mencoba mengabaikan godaan Suho dan lebih memfokuskan diri pada kue nya yang hampir jadi.
"Jeongmal?"
"Eum. Te-tentu saja," jawabnya sedikit gugup.
Chu~
Suho memiringkan kepalanya dan mencium sekilas leher Kyungsoo yang terpampang nyata di depan matanya. Tersenyum senang saat dia merasakan tubuh namja yang dipeluknya itu sedikit begetar karena ulahnya. "Baiklah jika kau berkata seperti itu," ujarnya.
"Mmmmm, karena Luhan Hyung dan Sehun sudah baik-baik saja, apa besok kita bisa menghabiskan waktu berdua?" tanya Suho setelah beberapa saat hanya diam di sana sambil memperhatikan gerak-gerik tangan Kyungsoo.
Kyungsoo segera membalikkan badannya, memainkan jemari tangannya di kemeja bagian depan Suho. "Maaf karena aku terlalu sibuk dengan urusan Luhan Hyung," ucapnya menatap Suho dengan tatapan 'maaf' nya.
Suho menggenggam jemari Kyungsoo dan menggelengkan kepalanya. Memberikan 'angel smile' nya pada namja bermata bola tersebut sebelum menjawabnya. "Gwaenchanna. Kau mau menginap di apartemenku malam ini? Dengan begitu, besok aku bisa memilikimu seharian."
"Eh? Mengapa harus menginap? Hyung kan bisa menjemputku besok pagi-pagi sekali," tanya Kyungsoo. Suho menangkup wajah Kyungsoo dengan kedua tangannya dan menatapnya lekat. "Hmmmm, kau benar juga. Tapi aku ingin kau menjadi orang yang pertama ku lihat saat aku membuka mataku besok. Eottokhae?"
Blusshhh
"Hyuuung!"
"Aigooooooo! Istriku cantik sekali!" ujar Suho gemas kemudian memajukan wajahnya untuk merasakan bibir manis Kyungsoo.
"Kyungieeeeeeeeeee!"
Dan teriakan itu sukses membuat keduanya gelagapan. Kyungsoo sontak mendorong tubuh Suho agar menjauh darinya dan memalingkan wajahnya malu.
"Kenapa ekspresi kalian seperti itu?" tanya Chanyeol. "Hmmmmm, jangan bilang kalian melakukan yang 'iya-iya' di dapur!" seru nya lagi menatap curiga pada pasangan Eomma-Appa yang tengah beridiri canggung di depannya, membuat Kyungsoo semakin merona hebat.
"A-aniyo, Hyung! Kami tidak melakukan apa-apa!" elak Kyungsoo cepat, membuat Baekhyun semakin curiga. "Benarkah? Eomma tidak melakukan hal-hal nakal di atas meja makan?" tanya nya usil.
"HYUNG!"
"Aeeeeyyyy!" Baekhyun menutup kedua telinganya. "Arrasseo arrasseo! Tidak perlu berteriak seperti itu, Kyungsoo-ya," cibirnya. "Aku cuma mau bilang, Luhan Hyung akan segera sampai. Dia sudah berada di dekat halte."
"Dari mana kau tahu, Hyung?" tanya Kyungsoo. "Tentu saja aku bertanya padanya. Siapa juga yang mau menunggu tidak jelas entah sampai kapan di luar," jawab Baekhyun santai dengan Chanyeol yang mengacungkan jempolnya, bangga dengan ide briliant kekasihnya itu. Sedangkan SuDo, hanya bisa memutar bola matanya dengan kelakuan 'couple aneh' di depan mereka.
. . .
"Luhan-ah!" panggil Sehun. Mereka baru saja pulang dari sungai Han dan sedang berjalan menuju rumah Luhan. Awalnya, Sehun ingin mengajak Luhan untuk menginap di apartemennya, tapi Kyungsoo bilang mereka harus pulang malam itu. Jadilah sekarang dia mengantarkan Luhan pulang dengan perasaan tidak rela.
Sepanjang perjalanan bahkan saat mereka duduk di dalam bis tadi, Sehun sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya pada jemari mungil Luhan. Membawa tubuh Luhan agar dekat dengannya. Mengusap jari manis Luhan dimana cincin yang sama parsis dengan yang dipakainya melingkar manis. Sesekali mengangkat jemari Luhan dan mencium punggung tangannya dengan lembut.
"Luhan-ah!" panggilnya lagi membuat kupu-kupu di perut Luhan serasa memberontak untuk keluar agar bisa terbang dengan bebasnya.
"Luhan-ah! Lu—"
"Sehunnie! Mengapa kau terus memanggilku?" Luhan menghentikan langkahnya dan menatap Sehun dengan pipinya yang telah bersemu, membuat Sehun juga menghentikan langkahnya. Dia tidak menjawab pertanyaan Luhan. Hanya tersenyum semanis mungkin dan menatap lekat manik mata indah milik Luhan.
"Me-mengapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Luhan salah tingkah. Sehun kembali tersenyum manis mendengar pertanyaan Luhan. Senyuman yang selalu berhasil membuat Luhan semakin jatuh cinta pada namja tampan itu.
"Sehun—"
Chu~
Sehun mencium hidung mungil Luhan sekilas. Membuat Luhan merona sempurna dan menghentikan kalimatnya. "Aku hanya ingin memanggil namamu, Lu! Aku ingin memastikan kalau ini bukan mimpi. Kalau aku benar-benar boleh memanggilmu seperti itu lagi," ujar Sehun sambil membelai lembut pipi Luhan yang terasa hangat di tangannya. "Wae? Kau tidak suka karena aku terus memanggilmu?"
"A-aniyo!" jawab Luhan cepat. "Aku,, aku suka. Suka sekali. Hanya saja..." Luhan menggantungkan kalimatnya.
"Hanya saja?"
"Setiap kali Sehunnie memanggilku dengan suara dan nada seperti itu, jantungku akan berdetak sangat kencang seperti bom waktu yang siap meledak. Aku takut dia akan benar-benar meledak jika Sehunnie terus-terusan memanggilku begitu," jawab Luhan pelan dengan kepala yang tertunduk malu.
Sehun sedikit menurunkan wajahnya agar sejajar dengan wajah Luhan yang masih tertunduk malu. Menarik dagu Luhan dengan tangan kanannya dan mendekatkan wajahnya. Membuat debaran di jantung Luhan semakin menggila di dalam dadanya. Luhan ingin menutup matanya karena malu, tapi entah mengapa, mata Sehun yang sedang menatap lurus ke dalam matanya selah menghipnotis dirinya dan mengunci seluruh pergerakan Luhan. Dia hanya bisa berdiri terpaku di sana, bahkan saat Sehun semakin mendekatkan wajahnya, mempersempit jarak di antara mereka.
Sehun mengalihkan tangan kanannya dari dagu Luhan dan menarik tangan kiri Luhan. Menuntunnya menuju dadanya sendiri. "Apa kah dia berdetak kencang seperti ini?" tanya Sehun. Luhan menatap tangannya yang berada di dada kiri Sehun. mengedipkan matanya takjub. Jantung Sehun. Dia juga...
"Kau juga melakukan hal yang sama pada jantungku, Lu. Bahkan saat kau hanya diam di depanku seperti ini, kau sudah membuatnya gila!"
Blussssshhhh
Chu~
"Pipimu merah, Lu!"
Blusssshhhhh
"Sehun-aaaaaahhhhh!"
"Kekekekeke, kyeopta!" Sehun terkekeh kecil dan mencubit gemas pipi Luhan. "Kajja!"
Luhan hanya bisa mengikuti langah kaki Sehun dengan wajah masih tertunduk malu. Untungnya tangannya digenggam erat oleh kekasihnya itu, atau tidak, bisa dipastikan kalau dia akan menabrak entah apapun yang ada di hadapannya.
'Eh? Kenapa rumahnya terlihat sangat sepi? Apa Baekhyun dan Kyungsoo sudah tidur? Tidak biasanya mereka tidur sebelum aku kembali,' pikir Luhan saat melihat keadaan rumahnya yang sangat sepi. Bahkan lampu ruang tamu pun dimatikan. 'Aniya. Mengingat kejadian yang baru saja terjadi, tidak mungkin mereka sudah tidur. Paling-paling mereka sedang merusak kamarku sambil menungguku datang!'
Cklekk
Luhan membuka pintu rumahnya, masih menggenggam tangan Sehun, masuk ke dalam dan meraba-raba dinding untuk mencari sakelar lampu. Klik
"SURPRISE!"
Dan dia langsung dikejutkan oleh penampakan semua teman-teman dekatnya di ruang tamu yang didekor indah. Sepertinya ada pesta. Tapi pesta apa? Pikirnya. Apalagi Kyungsoo dan Baekhyun menghampirinya dengan cake di tangan Kyungsoo. Siapa yang ulang tahun?
"Happy belated birthday, Luhan Hyung, Sehun-ah!" ucap Baekhyun. "Karena kita belum sempat merayakan ulang tahun kalian berdua, maka kami putuskan untuk merayakannya malam ini. Sekaligus sebagai ucapan selamat karena kalian sudah jadian lagi!" jelas Kyungsoo saat melihat wajah cengo HunHan. "Nah! Sekarang, berhenti memasang wajah 'cengo' seperti itu dan cepat tiup lilinnya, atau kuenya akan menjadi kue lilin!" seru Baekhyun.
Luhan menatap kedua Dongsaengnya haru dan segera berhambur ke pelukan mereka segera setelah lilin ditiup dan cake berpindah ke atas meja. "Gomawoyo, nae Dongsaeng!" ujarnya haru.
"Mungkin ini memang pesta yang sangat sederhana sekali. Namun kami harap kalian menyukainya," ucap Kris. "Aniyo!" sahut Luhan cepat. "This is perfect!"
Tidak seperti kebanyakan pesta degan soju atau bahkan bir dimana-mana, pesta mereka terbebas dari itu. Hanya ada makanan, lots of it, beberapa cemilan, cola, dan jangan lupakan daging yang sedang dipanggang oleh Lay dan Tao di sudut ruangan.
Luhan menatap satu-persatu teman-temannya yang datang dan menyadari satu hal. Dia benar-benar beruntung memiliki banyak teman yang baik seperti mereka. Teman yang bahkan rela membuang waktu luangnya untuk dirinya. Tidak perlu diragukan lagi. Pesta sederhana ini adalah pesta yang paling sempurna di matanya.
Ada Lay dan Tao yang sedang duduk manis sesekali tertawa melihat pemandangan di depan mereka. Dua temannya yang bahkan sebenarnya tidak begitu dekat dengannya. Luhan hanya mengenal mereka melalui Kris dan berbincang dengan mereka beberapa kali saja. Mungkin karena mereka berdua sahabat Kris dan merasa tidak enak pada Kris jika tidak ikut berpartisipasi. Mungkin juga mereka berdua memang menganggapnya sebagai sahabat. Atau mungkin keduanya. Yang jelas, Luhan sangat berterima kasih pada mereka berdua. Tidak mustahil kan kalau mereka bisa menjadi lebih dekat setelah ini?
Ada juga Chen yang tengah menyanyi di tengah-tengah mereka dengan diiringi musik yang berasal dari DVD player di ruang tamu. Hoobae nya di kampus yang juga merupakan satu-satunya sahabat Sehun. Luhan benar-benar merasa belum cukup berterima kasih pada Chen karena sudah bersedia menjaga dan merawat Sehun saat itu. Dia membuat 'mental note' dalam hatinya untuk melakukannya nanti. Mungkin dia akan membelikan sesuatu untuknya sebagai ucapan rasa terima kasihnya.
Kemudian ada Chanyeol dan Suho yang menjadi rapper dan backing vocal dari Chen. Dua orang dengan kepribadian yang sangat berbanding terbalik. Chanyeol yang hyper, dan Suho yang sangat kalem.
Luhan selalu merasa iri pada kemampuan Chanyeol yang selalu bisa tersenyum bahkan tertawa selebar mungkin setiap harinya. Seolah tidak ada beban dan kesedihan dalam hidupnya. Hanya ada kebahagiaan di sana. Kebahagiaan yang tidak pernah sungkan untuk dibaginya pada teman-temannya. Dalam hati yang paling dalam, dia juga sangat berterima kasih pada Chanyeol yang membagi kebahagiaan itu pada Dongsaengnya, Baekhyun. Membuatnya selalu tersenyum setiap harinya.
Dan Suho, namja yang biasa dipanggilnya 'Appa'. Sosok yang paling dewasa di antara mereka semua. Suho dan semua kata-kata bijaknya. Suho dan segala kedewasaannya. Suho dan semua nasihat-nasihatnya. Suho yang, sama seperti Chanyeol, telah membawa kebahagiaan berlimpah untuk adiknya yang lain. Suho yang sangat mencintai Kyungsoo.
"Baekkie-ya! Jangan hanya duduk diam di situ. Aku ingin mendengar nyanyianmu!" seru Chanyeol seraya menarik tangan kekasihnya itu dan membawanya ke tengah-tengah ruangan. "Arrasseo! Aku akan menyanyikan sebuah lagu. Tapi Kyungie harus ikut bernyanyi denganku!"
"Loh!? Mengapa aku dibawa-bawa, Hyung? Shireo!" tolak Kyungsoo. Namun akhirnya dia mengikuti keinginan Baekhyun yang sudah mengeluarkan 1001 jurus aegyo nya. 'Huft. Dasar maniak aegyeo!' cibir Kyungsoo dalam hati.
Luhan tersenyum sendiri melihat hal itu. Jangan ditanya seberapa besar rasa syukur Luhan karena memiliki 'duo ajaib' —seperti yang dikatakan Sehun— itu bersamanya. Dua Dongsaeng yang selalu ada dalam sedih dan bahagianya. Dua Dongsaeng yang selalu menjahilinya. Yang selalu menggodanya. Yang sangat menyayanginya. Dua Dongsaeng yang selalu meminjamkan bahu dan dada hangat mereka saat Luhan menangis. Dua Dongsaeng yang selalu melindunginya agar dia tidak terluka. Dua Dongsaeng yang sangat dia sayanginya. Baekhyun dan Kyungsoo. Luhan benar-benar tidak bisa membayangkan seperti apa hidupnya jika saja saat itu dia tidak bertemu Baekhyun dan Kyungsoo. Dan dia juga tidak ingin membayangkannya.
Pandangan mata Luhan lalu beralih pada namja yang saat ini duduk di sampingnya. Namja yang mengenalkannya akan pahit-manis nya cinta. Namja yang membuatnya tersenyum bahagia bahkan hanya dengan mendengar suaranya. Namja dengan kulit seputih salju dan hidung sempurnanya, serta tatapan mata tajam dan senyum manisnya yang selalu membuat Luhan jatuh cinta padanya lagi dan lagi setiap harinya. Namja yang selalu berhasil membuat jantung Luhan berdetak sangat kencang tiap kali dia berada di dekatnya. Namja yang tengah menggenggam erat tangan mungilnya. Menyalurkan kehangatannya lewat tautan tangan mereka. Namja yang sangat dicintainya. The Love of his Life.
Oh Sehun.
Chu~
Luhan bahkan belum sempat mencerna apa yang terjadi di dalam otaknya saat tiba-tiba saja otaknya memerintahkannya untuk mencium Sehun. Hanya sebuah ciuman simple dan singkat di ujung bibir Sehun, namun cukup membuat Luhan salah tingkah sendiri saat Sehun menatapnya dengan satu alis terangkat dan seringaian jahil di wajahnya. Dia bahkan bisa melihat bagaimana teman-temannya terkesiap saat melihat dia yang mencium Sehun tadi. Dan jangan lupakan aura jahil yang memancar dari 4 Dongsaengnya.
Grebb
Namun belum sempat Sehun mengeluarkan kata apapun, Luhan sudah lebih dulu memeluknya dan menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan Sehun. Mengabaikan seruan-seruan jahil yang dilontarkan ChanBaekSuDo padanya. Mengabaikan teriakan gemas Tao saat melihat tingkah Luhan —yang menurutnya— sangat imut. Dia hanya terus bersembunyi di sana sampai dirasanya kalau suasana sekitar mulai tenang dan perhatian semuanya tidak lagi tertuju padanya.
"Ini sudah sangat malam. Kalian berdua menginap di apartemenku saja malam ini. Besok pagi baru pulang. Bagaimana?" Luhan menolehkan kepalanya ke asal suara. Suara ini! Bagaimana mungkin dia hampir melupakannya?
Kris Wu. Sahabat baiknya. Pahlawannya. Sahabat yang selalu memberi dukungan penuhnya untuknya. Sahabat yang bahkan rela mengorbankan kebahagiaannya sendiri untuknya. Memiliki Kris dalam hidupnya, Luhan merasa seperti seorang Aladin yang memiliki lampu wasiat di tangannya. Karena Kris —entah bagaimana caranya— selalu muncul di hadapannya saat dia benar-benar membutuhkan kehadirannya. Seperti sang Jin yang melakukan apapun yang diminta Aladin, Kris juga seperti itu. Tentu saja Kris Wu jauh lebih baik darinya. Karena Kris melakukan semua untuk Luhan bahkan tanpa dia memintanya. Membuat Luhan terkadang merasa kalau dia sudah sangat jahat karena membiarkan Kris melakukan semua itu untuknya.
Saat melihat Lay dan Tao yang kembali ke sudut ruangan untuk membantu Kyungsoo yang kembali memanggang daging untuk mereka, perlahan, Luhan beranjak dari tempat duduknya menuju sahabatnya itu. Tentu saja tanpa tatapan cemburu dari Sehun kali ini. Luhan tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka berdua, yang jelas dia merasa sangat senang melihat Sehun yang sepertinya sudah bisa menerima Kris kehadiran sebagai sahabatnya.
"Hei!" panggil Luhan pelan dan mendudukkan dirinya di samping Kris. "Gomawo!" ujar Luhan membuat Kris mengerutkan keningnya. "Untuk semuanya," lanjut Luhan. "Untuk semua yang kau lakukan untukku. Untuk kebahagiaan ini."
"Aeeeeyyyy. mwoyaaa? Mengapa tiba-tiba kau berbicara seperti itu, Princess? Sebagai sahabat yang baik, sudah seharusnya kan kalau aku membuat sahabatku bahagia!" tutur Kris narsis.
"Tch! Whatever!" Luhan memutar bola matanya melihat aura narsis di sekitar Kris. "Tapi, bukankah ini sudah waktunya kau memikirkan kebahagiaanmu sendiri, Tuan Wu? Berhentilah mengkhawatirkan dan memikirkan kebahagiaanku. Bukan aku tidak suka. Hanya saja, aku merasa tidak pantas untuk itu. Seseorang sepertinya lebih pantas mendapatkannya," lanjutnya saat tak sengaja pandangan matanya betemu dengan pandangan seseorang di sudut sana. Seseorang yang sepertinya memperhatikan mereka sedari tadi. Seseorang yang tersenyum canggung pada Luhan saat pandangan mereka bertemu dan segera memalingkan wajahnya malu.
"Sepertinya dia menyukaimu, Kris!" ujar Luhan. "Dia?" Kris mengangkat alisnya bingung. "Eum," angguk Luhan. "Dia!" lanjutnya. Kris mengikuti arah tatapan mata Luhan dan mengerutkan keningnya.
"He's my bestfriend, Princess!" ujarnya. "So?"
"Dia tidak mungkin menyukaiku seperti itu. Lagi pula dia lebih muda dariku!"
"Lalu? Apa aku bukan sahabatmu? Dan apa itu berarti kau lebih menyukai seseorang yang lebih tua?"
"Tentu saja kau juga sahabatku, Lu! Tapi kau berbeda. And NO! Bukan berarti aku menyukai yang lebih tua. Itu hanya berlaku untuk satu orang saja. Tapi 'dia'? I dont think so."
"Waaeeee? Memangnya apa yang membuatku berbeda darinya?"
"Kau menjadi sahabatku jauh setelah aku menyukaimu. Sedangkan dia, kami sudah bersahabat sejak dulu. Dan jika tiba-tiba perasaan itu berubah, aku tidak yakin apakah itu adalah sesuatu yang baik untuk hubungan kami atau sebaliknya."
Pletakk
"Kau terlalu banyak berfikir, Tuan Wu!" tukas Luhan setelah berhasil menyentil jidat Kris. "Cinta itu tidak akan serumit itu jika hatimu mau membuka diri. Pertanyaannya adalah, apakah kau mau membuka hatimu untuk cinta itu atau tidak? Sahabat atau bukan, itu sama sekali bukan masalah dalam cinta. It's either you Love him then you Know him, or you Know him then you Love him. Jika kasus yang terjadi padaku adalah yang pertama, cinta tidak menutup kemungkinan terjadi pada kasus yang ke dua. Kau lebih dulu mengenalnya, berteman baik dengannya, mengetahui semua sifat dan sikapnya, merasa nyaman berada di dekatnya dan akhirnya kau jatuh cinta padanya," tutur Luhan panjang lebar.
Kris terdiam. Ini pertama kalinya semenjak mereka bersahabat Luhan berbicara seperti ini. Dan jujur saja, ini terasa sedikit aneh baginya, karena biasanya, dia lah yang berbicara seperti itu. "Hei! Mau dengar pendapatku?"
Kris mendengus pelan mendengar pertanyaan Luhan. "Tch! Kau memplagiat kalimatku, Lu! Kau harus membayar untuk copyright nya!" ucapnya berlagak marah namun menganggukkan kepalanya pada akhirnya.
"Dari apa yang aku lihat, kau bukannya tidak yakin mengenai perubahan status kalian berdua, Kris. Kau hanya tidak mau membuka kesempatan untuk cinta itu. Tidak harus dia sebenarnya. It can be anybody. Karena tidak ada yang tahu kapan cinta menghampiri kita. Sekali saja kau mau membuka pintu hatimu untuk seseorang yang benar-benar pantas menempatinya, bukan tidak mungkin cinta itu akan menghampirimu segera. Mungkin saat kau pulang nanti, mungkin juga saat kau memulai harimu esok, atau mungkin lusa, minggu depan, bulan depan. You just have to give it a try to know that!"
Kris menatap Luhan lama sebelum kemudian tersenyum dan mengacak-acak rambut Luhan. "Aku tidak tahu kalau kau bisa berkata sebijak itu, Princess! Aigoooo, kau jadi lebih dewasa sekarang!" ujarnya.
"Kau tahu? Mereka bilang, cinta membuatmu melakukan hal-hal yang tak terduga. Jika kau meyikapinya dengan benar, cinta juga bisa membuatmu berfikir lebih dewasa," jawab Luhan. Kali ini, dia membiarkan saja saat Kris mengacak rambutnya seperti itu. "Dan tentu saja aku belajar dari sang ahli! Hehehehehe."
"Tch!" Kris hanya mendecih pelan menanggapinya dan kembali tersenyum. Mengalihkan pandangannya pada namja yang dimaksudkan Luhan tadi. Namja yang telah dikenalnya dengan baik sejak dulu dan selalu ada di sampingnya. Namja yang bahkan mungkin mengenalnya lebih baik dari pada dia mengenal dirinya sendiri. Namja yang tengah tersenyum malu padanya saat pandangan mereka bertemu.
"Aku rasa, aku akan mencobanya!" ujar Kris. "You know. Membuka hatiku untuk cinta itu."
Luhan tersenyum senang mendengarnya dan menepuk bahu Kris pelan. Sebuah isyarat kalau dia akan selalu ada untuk mendukung dan membantunya. Sama seperti Kris yang selalu ada untuknya di hari-hari yang lalu.
~O.O~
OKE! Part A berakhir di sini. Part B bakal FULL HunHan looooh ;) Semoga semuanya suka ya :D
