Rated: T

Disclaimer: Mashasi Kishimoto

Warning: typos, crack pair, late updated

SasuTen slight ItaTen

Read it wth ur own risks(:

Couple words from author:

Well karena author gasabar pengen selesaiin fic ini (ide untuk fic baru mulai bermunculan dan gasabar pengen nge post) jadi author ngebut apdet chappy 25 walaupun yang baca belum terlalu banyak hehe. jadi author mau selesain fic ini sebelum ide untuk fic barunya ilang hoho. author pengen mengucapkan terimakasih sama semua readers yang sudah membaca dan mengikuti fic yang rasanya gaakan selesai ini hehehe. tapi tenang aja sebentar lagi fic ini tamat kok hehe. saking panjangnya ini fic sampe yang request pun hilang entah kemana huhu:( padahal author janjinya cuman bikin 10-15 chappy tapi ternyata membengkak sekali :( tapi gapapa lah asalkan para readers tetep puas dan gabosen sama ceritanya:D oke sementara ini untuk Ran, balasan review mu bener-bener aku bales di PM hehehe (kemaren lupa PM kamu, dasar author pikun .) hoho oke langsung aja ya chappy 25:)

Chapter 25

Sudah sekitar satu minggu Tenten dirawat dirumah sakit. Kondisi gadis itu semakin melemah setiap harinya, dan Dr. Hamilton mengumumkan operasi Tenten akan dilakukan tiga hari lagi. Kini kondisi Tenten bukan lagi sebuah rahasia. Bahkan Gustav yang saat itu tengah mempersiapkan pertunjukan akhir musim dingin di London, terbang kembali ke New York bersama beberapa teman lama Tenten untuk menjenguk Tenten setelah mendengar kabar itu.

Itachi dan Ino juga tak absent untuk menemani Tenten, sementara Tenten, berusaha terlihat ceria dihadapan semua orang, lalu kondisi aslinya kembali muncul ketika ia sendirian. Tsunade dan Susune belum kembali ke Jepang, menurut mereka tidak ada yang lebih penting daripada kesembuhan Tenten saat ini. Karenanya Tenten sangat bersyukur karena kakak beradik itu menetap di New York untuk menemani Tenten, karena hanya merekalah keluarga yang dimiliki oleh gadis itu. Tsunade, Susune dan Sasuke adalah orang yang paling sering menemani Tenten. Sasuke selalu datang setiap hari, meskipun laki-laki itu semakin sibuk dengan persiapan recitalnya, ia tetap menyempatkan diri untuk menjenguk Tenten dirumah sakit.

Namun Sasuke merasa sikap Tenten semakin berubah belakangan ini. Gadis itu lebih sering terdiam dan tak mengacuhkannya, mereka bahkan mulai jarang mengobrol. Awalnya Sasuke merasa tidak ada yang aneh dengan hal ini, mengingat kondisi Tenten yang lemah. Tetapi suatu pagi, ketika Sasuke datang menjenguk Tenten seperti biasa, gadis itu menatap Sasuke dengan tajam lalu bertanya dengan ketus. "Kenapa kau selalu datang setiap hari?"

"Hn?" Gumam Sasuke sambil menatap Tenten yang tengah berbaring diranjangnya. Gadis yang dulunya terlihat ceria dan sehat itu, kini terlihat jauh lebih kurus, jauh lebih pucat, dengan lingkaran hitam yang jelas dikedua matanya. Ruam berwarna biru pun mulai muncul di lengannya. Tenten benar-benar terlihat rapuh, dan satu-satunya hal yang bisa menunjukan bahwa ia masih berjuang dan bertahan hidup adalah sinar di matanya.

Mata hazel itu masih terlihat bersinar. Tenten menatap Sasuke sesaat sebelum akhirnya memalingkan wajahnya. "Kau tidak perlu datang setiap hari." Gumam Tenten datar. Sasuke mengangkat kedua bahunya.

"Aku tidak keberatan."

"Tidak, kau pasti keberatan. Recitalmu akan diadakan beberapa minggu lagi." Kata Tenten dengan suara yang naik satu oktaf.

"Tapi aku tidak-"

"Pergilah Sasuke, lakukan apa yang bisa kau lakukan sebelum kau terjebak bersamaku disini." Sasuke mengerutkan keningnya.

"Tapi, panda-"

"Pergilan." Sahut Tenten dengan suara serak, masih tidak memandang Sasuke. "Kumohon pergilah." Kata Tenten dengan suara lirih.

Sejak hari itu Tenten selalu menolak untuk bertemu dengan Sasuke.

xXx

Sasuke meneguk bir didalam kaleng digenggamannya yang tinggal seperempat lalu melemparkannya kearah tempat sampah, tapi kaleng itu meleset dan membentur lantai kayu apartemen Sasuke, menciptakan bunyi nyaring yang membuat Sasuke mengerang. Laki-laki itu menjulurkan tangannya kesamping, meraba lantainya, mencari sisa-sisa bir yang semalam ia beli. Tapi tangannya tidak berhasil menemukan satu kaleng pun. Sasuke menggeram kesal. "Persetan! Kenapa aku bisa jadi pemabuk sinting seperti ini!" Geramnya sambil beranjak berdiri dan berjalan mondar-mandir di ruang tengahnya.

Sudah dua hari sejak Tenten menyuruhnya keluar pagi itu, dan selama dua hari itulah Sasuke merasa hidupnya hancur berkeping-keping. Sasuke jadi lebih sering marah, ia membentak-bentak semua krew recitalnya, membentak pramusaji tempatnya menikmati waktu makan siang, pokoknya membentak semua orang. Tidak hanya itu, sudah dua hari ini Sasuke selalu menghabiskan malamnya dengan meminum bir-bir kaleng yang ia beli di toko 24 jam.

Sasuke mendesah lalu menyenderkan tubuhnya di dinding. Besok Tenten akan dioperasi, dan Sasuke tidak tahu kabar gadis itu?! tentu saja hal ini membuat Sasuke dilanda frustasi berat. Laki-laki itu tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja Tenten mengusirnya seperti itu, ia tidak mengerti jalan pikir panda itu.

Seketika itu juga, bel intercom Sasuke berdering, membuat laki-laki itu tersentak kaget lalu segera berlari kearah pintu.

"Siapa?" Tanyanya datar. "Bisa kau buka pintunya sekarang? Kalau kau masih ingin berlama-lama mengunciku disini, setidaknya belikan alat pemanas agar aku tidak mati membeku."

Sasuke mendesah lalu memencet tombol untuk membuka pintu gedung, beberapa menit kemudian bel apartemennya berbunyi, tanpa buang-buang waktu Sasuke langsung membuka pintu apartemennya.

"Apa maumu, Itachi?" Tanya Sasuke tanpa basa-basi, laki-laki itu sedang tidak ingin berbasa-basi dengan siapapun, bahkan mungkin Sasuke akan menendang tamunya keluar kalau bukan Itachi yang menjadi tamunya.

"Demi Tuhan, sejak kapan kau menjadi seorang pemabuk? Tubuhmu lebih menjijikan dibanding sapi berkeringat dipertengahan musim panas." Sasuke mendengus dan ngeloyor masuk kedalam apartemennya, mempersilahkan kakaknya masuk tanpa berkata-kata.

Setelah ia menghempaskan tubuhnya diatas sofa, Sasuke menatap tajam kakaknya dan bertanya. "Apa maumu?"

"Simpan pertanyaanmu sampai kau selesai mandi sementara aku membereskan kaleng-kaleng sial ini. Aku tidak sudi mengobrol dengan pemabuk bermulut alcohol sepertimu." Kata Itachi yang terlihat mengumpulkan kaleng-kaleng bir yang berserakan disekitar tempat sampah.

"Kau mulai terdengar seperti Kaa-san." Gumam Sasuke kesal. "Jangan alihkan pembicaraan Uchiha Sasuke, kau berhutang sebuah penjelasan masuk akal kenapa kau meminum benda haram ini setelah aku selesai menyingkirkannya, jadi cepat mandilah." Kata Itachi tajam.

Sasuke mendengus kesal lalu berjalan dengan terhuyung-huyung kekamar mandi. Sekarang Sasuke menyesal kenapa ia tidak mabuk-mabukan di bar, ia tidak menduga kakaknya akan mengunjunginya tiba-tiba seperti ini. Beberapa menit kemudian, Sasuke keluar dari kamar mandi dengan sehelai kaus dan celana abu-abu panjang. Sementara Itachi sudah selesai mencuci semua kaleng-kaleng bir itu dan sudah dikemas didalam plastic hitam. siap untuk dibuang.

"Jadi apa maumu, Itachi?" Tanya Sasuke ketika abangnya duduk dihadapannya. "Sepertinya kau yang harus menjelaskan padaku terlebih dulu tentang semua kaleng-kaleng bir itu, kaa-san pasti akan mengutukmu kalau sampai tahu." Kata Itachi datar. Sasuke mendengus kesal lalu menyenderkan tubuhnya. "Panda." Itachi memincingkan matanya, untuk sesaat ia bingung apa yang dimaksud oleh adiknya, tapi akhirnya ia tahu siapa 'panda' itu.

"Ada apa dengan Tenten?" Tanyanya. Sasuke menghela nafas panjang.

"Sudah dua hari aku tidak bertemu dengannya."

"Lantas? Kenapa kau tidak menemuinya sekarang? Kau sudah tahu bukan kalau ia akan menjalani operasi pertamanya besok pagi? Aku dan Ino baru saja menjenguknya tadi." Penjelasan panjang lebar Itachi sepertinya tidak banyak membantu. Sasuke semakin merasa kalut karena berarti dialah satu-satunya orang yang tidak ingin Tenten temui. Kemarin sore, Naruto sudah menjenguk Tenten, dan bodohnya sahabatnya itu menceritakannya pada Sasuke dengan nada riang gembira, yang membuat Sasuke hampir saja mencekik leher menejer sekaligus sahabatnya itu.

"Dia tidak ingin menemuiku." Kata Sasuke dengan suara tercekat. Itachi mengerjap kaget. "Mengapa tidak?" Sasuke mengangkat kedua bahunya.

"Entahlah, aku juga tidak mengerti.." Itachi terdiam sejenak, lalu berkata. "Aku yakin Tenten hanya gugup karena operasinya."

"Tapi hanya aku satu-satunya orang didunia ini yang tidak ingin ditemuinya." Ujar Sasuke dengan nada frustasi, Itachi menghela nafas panjang, lalu akhirnya berkata. "Aku akan bicara dengannya." Sasuke menoleh menatap kakaknya dengan tatapan kaget.

"Apa?"

"Aku akan bicara padanya, agar ia mau menemuimu." Sasuke terdiam sejenak lalu akhirnya tersenyum. "Terimakasih, Itachi."

"Well, aku tidak menganggap semua ini gratis. Akan kutagih semuanya suatu hari nanti, adik kecil."

xXx

Tenten terdiam memandangi jendela ruang rawatnya. Mata gadis itu terlihat sendu, kilatan kebahagiaan dimata hazel itu sudah menghilang.

'Sasuke ingin menemuimu.'

Tenten menggelengkan kepalanya dan memejamkan kedua matanya. Tidak. Ia tidak ingin menemui Sasuke. Tidak sekarang. Tidak sampai hatinya benar-benar yakin. Air mata mulai menusuk-nusuk matanya ketika melihat wajah Itachi tadi sore, ketika laki-laki itu kembali menjenguknya seorang diri dan meminta Tenten untuk membiarkan Sasuke datang dan menjenguknya.

Tenten tidak bisa. Ia tidak ingin bertemu dengan Sasuke. Ia tidak ingin perasaannya pada Itachi berubah. Setelah semua kebaikan Sasuke, setelah ciuman singkat itu, setelah pernyataan Sasuke. Ia takut perasaannya akan berubah, ia tidak ingin mencintai Sasuke, ia tidak bisa.

'Tidakkah kau tahu bahwa Sasuke sangat mencintaimu, Tenten? Dia membutuhkanmu.'

Tenten membekap mulutnya, mencegah sesegukannya meledak. Ia tidak bisa mencintai Sasuke, karena menurutnya hal itu hanya akan membuat Sasuke terluka.

xXx

Dan keesokan harinya. Tepatnya jam 07:45, Tenten meminta Itachi untuk menelpon Sasuke. Gadis itu ingin bertemu dengan Sasuke, sekali saja. Untuk pertama kalinya Tenten mengakui pada dirinya sendiri, bahwa ia memerlukan Sasuke saat ini.

xXx

Sasuke terbangun ketika mendengar suara ponsel berdering keras disamping kepalanya. Laki-laki itu mengerjap beberapa kali, seolah mengumpulkan nyawanya yang sedikit demi sedikit turun memasuki raganya. Untuk sepersekian detik Sasuke sempat bingung dimana ia tidur sekarang, ia tidak bisa mengenali benda-benda disekelilingnya, kepalanya terasa berat dan nyeri, akibat bergadang semalaman sambil meminum enam kaleng bir.

Setelah matanya mulai focus dan sel-sel otaknya mulai berfungsi, Sasuke segera menoleh kesamping dan menyambar ponselnya yang masih berdering. Sasuke mengerang kesal karena matanya masih kesulitan membaca huruf dilayar ponselnya yang berdering. Setelah mengetahui siapa yang menelponnya, Sasuke segera menerima telepon itu.

"Ada apa, Itachi?" Tanya Sasuke dengan suara parau.

"Suaramu seperti seorang pemabuk yang habis berdansa dengan ribuan wanita." Sasuke mengerutkan kedua alisnya, kakaknya pasti tahu kalau Sasuke meminum bir lagi semalam.

"Ada apa sebenarnya, Itachi?" Tanya Sasuke sekali lagi, tanpa menggubris kata-kata tajam abangnya. "Kau ingat betulkan hari ini Tenten-"

"Operasi. Ya aku tahu." Sela Sasuke sambil duduk diatas tempat tidurnya yang nyaman. "Nah, sekarang sebaiknya kau bangun dari tempat tidurmu dan sikat semua badanmu sampai bersih." Sasuke kembali mengerutkan kedua alisnya. "Karena Tenten membutuhkanmu sekarang."

xXx

Sudah tak terhitung lagi berapa pelanggaran yang sudah dilakukan oleh Sasuke pagi itu. laki-laki itu mengemudi layaknya orang gila, menerobos lampu merah, melaju di pinggir jalan, hampir menyerempet beberapa mobil, tidak memakai sabuk pengaman dan mengemudi diatas 60 km/jam di tengah kota. Untungnya tidak ada polisi disepanjang jalan menuju rumah sakit, jadi Sasuke terbebas dari tilang dan keharusan untuk membayar denda.

Sepanjang jalan laki-laki itu tak henti-hentinya berdoa seraya menenangkan dirinya. Sekarang laki-laki itu disini, di dalam lift rumah sakit. Sasuke mengetuk-etukan kakinya dilantai lift, menandakan bahwa ia sedang gelisah. Lift itu terasa melaju lebih lambat bagi Sasuke saat itu.

'Semoga gadis itu baik-baik saja, semoga gadis itu baik-baik saja.' Kalimat itulah yang terus terngiang dikepala Sasuke. Yang terpenting bagi Sasuke saat ini adalah Tenten. TING! Dentingan lift membuat tubuh Sasuke tersentak. Begitu pintu lift platinum itu membuka, Sasuke segera melangkah keluar. Dari kejauhan Sasuke bisa melihat Tsunade dan Susune yang berdiri diambang pintu ruang rawat Tenten, Sasuke segera menghampiri dua wanita itu.

"Sasuke." Ucap Tsunade ketika merasakan kehadiran Sasuke.

"Tsunade-baa-san, dimana Tenten sekarang?" Tanya Sasuke dengan nafas tersengal-sengal. Tsunade tersenyum getir.

"Dia berada didalam bersama Itachi dan Ino, lebih baik kau cepat kesana, sekitar sepuluh menit lagi operasinya dimulai." Sasuke mengangguk dan tanpa membuang-buang waktu langsung melangkah memasuki ruang rawat Tenten.

Tsunade benar, Tenten terlihat sedang mengobrol dengan Ino dan Itachi saat itu. Tenten menoleh kearah Sasuke dan langsung memintanya mendekat tanpa suara. Hal itu membuat Ino dan Itachi ikut menoleh kearah Sasuke, keduanya memberi tatapan mengerti lalu segela melangkah keluar. Meninggalkan Sasuke dan Tenten disana. Setelah pintu kamar tertutup, Sasuke mengalihkan pandangannya kearah gadis yang setengah berbaring bersandarkan bantal-bantal dengan beberapa alat yang tidak Sasuke kenali menempel ditubuh kurus Tenten. Ia mendapati dirinya tidak tahu harus mengatakan apa. Sepanjang perjalanan, Sasuke sudah menyusun beberapa bait kalimat yang ingin dikatakannya pada Tenten, banyak sekali yang ingin ia tanyakan pada gadis itu. tetapi setelah berdiri ditengah-tengah kamar dan berhadapan dengan Tenten, Sasuke bingung harus berkata apa. Isi pikirannya menguap begitu saja.

"Halo, Sasuke. Bagaimana kabarmu?"

Suara Tenten terdengar parau namun berusaha dibuat seceria mungkin, dan suara itu menyentakkan Sasuke dari lamunannya. Ia melihat jemari Tenten memainkan ujung selimut dipinggangnya dengan gugup. Mata hazelnya menatap Sasuke sekilas, lalu beralih memandang kearah lain.

"Sekarang sudah lebih baik." Jawab Sasuke seraya berjalan menghampiri tempat tidur Tenten dan duduk dikursi besi yang beberapa menit yang lalu diduduki oleh Ino.

Tenten menelan ludah dengan susah payah dan membasahi bibirnya yang pucat dan kering, lalu kembali menatap Sasuke. Meskipun gugup Tenten tetap senang Sasuke berada disini. Sementara Sasuke memperhatikan Tenten yang kembali membuang tatapannya. Ia memperhatikan pipinya yang dulu terlihat chubby, kini terlihat tirus. Lalu lingkaran hitam disekitar matanya, kalau saja Tenten mencepol rambutnya lagi, gadis itu pasti benar-benar terlihat seperti panda. Namun sepertinya Tenten tidak lagi bisa mencepol rambutnya, gadis itu terpaksa memotong rambut auburnnya karena rontok. Intinya Tenten terlihat rapuh dan dada Sasuke terasa nyeri karenanya.

"Ini kedua kalinya kau menghindariku." Kata Sasuke memecah kesunyian diantara mereka. "Kenapa kau menghindariku lagi, panda?" Sasuke bisa melihat sesuatu berkelebat dimata gadis itu, namun ia mengerjap dan mata hazelnya kembali kosong seperti tadi. "Aku tidak pernah menghindarimu." Bantahnya. Setelah menghela nafas panjang, Tenten kembali meneruskan. "Aku hanya tidak ingin kau membuang waktumu disini."

"Apa maksudmu membuang waktuku disini?" Tanya Sasuke sambil mengernyitkan hidungnya. "Aku mohon Sasuke, aku tidak ingin bertengkar lagi dengan-"

"Tolong jangan menghindariku." Tenten menatap Sasuke sejenak, lalu memalingkan wajah dan menatap lurus kedepan, kearah vas bunga yang kosong. Sasuke mencondonghkan tubuhnya kedepan, sebelah tangannya terulur hendak menyentuh tangan Tenten, namun tepat sebelum ujung jemarinya menyentuh punggung tangan Tenten, Sasuke mendadak ragu dan menghentikan gerakannya. 'Apakah panda akan menarik tangannya ketika aku menyentuhnya?' Batin Sasuke, laki-laki itu tidak bisa menghadapi penolakan apapun dari gadis itu sekarang, ia merasa hatinya tidak akan kuat menghadapinya kalau hal itu terjadi, akhirnya Sasuke menarik kembali tangannya. "Kalau aku membuatmu marah, maafkan aku."

Tenten mengerjap lalu berbisik. "Aku tidak marah padamu."

"Aku.." Suara Sasuke tercekat dan ia harus berhenti sejenak untuk mengendalikan diri. Selama ini ia menganggap dirinya bukan orang yang gampang terbawa perasaan, tetapi kali ini berbagai emosi berkecamuk dalam dirinya dan membuatnya sesak. "Doakan operasiku berjalan dengan lancar ya, Sasuke." Suara getir Tenten membuat Sasuke menengadah menatap gadis itu.

Tenten terlihat tersenyum pada Sasuke, meski bibir mungil gadis itu melengkung lebar membentuk seulas senyum yang lebar, namun Sasuke bisa melihat dengan jelas didalam mata hazel Tenten, bahwa gadis itu tidak tersenyum. Bibirnya tersenyum tapi tidak sampai kematanya.

"Aku akan selalu mendoakanmu. Semoga berhasil. Aku akan menunggumu kembali." Kata Sasuke sambil tersenyum dan akhirnya menyentuh tangan Tenten.

"Berjanjilah padaku, panda." Gadis itu menatap Sasuke. "Apa, Sasuke?"

"Berjanjilah kau akan berjuang didalam ruang operasi nanti. Berjanjilah kau akan bertahan sampai melewati masa-masa kritismu." Sasuke menghela nafas dalam-dalam lalu melanjutkan kata-katanya.

"Berjanjilah kau akan membiarkanku berada disisimu saat semua ini selesai. Mungkin kau tidak membutuhkanku, mungkin kau masih menganggapku laki-laki kejam yang bisanya memerintah orang seenaknya." Sasuke terkekeh lemah saat mengingat betapa jahatnya ia pada Tenten dulu. Wajah Sasuke kembali serius, mata onyxnya menatap mata hazel Tenten.

"Tapi ketahuilah, bahwa aku membutuhkanmu. Sangat." Setetes air mata meluncur dipipi Tenten, cepat-cepat gadis itu seka dengan punggung tangannya, namun Sasuke sudah terlebih dulu melihatnya. Sejumput harapan terbit dihati Sasuke. Tenten tidak akan menangis kalau kata-kata Sasuke benar-benar tidak berpengaruh padanya bukan?

Kali ini Sasuke memberanikan diri untuk menggenggam tangan Tenten. Gadis itu tidak menolak saat tangan besar Sasuke menggenggam tangan mungilnya. "Karena aku mencintaimu, Tenten."

Saat kata-kata itu meluncur dari bibir Sasuke, sebuah isakan lirih terdengar dari mulut Tenten. Tanpa aba-aba Sasuke berdiri dan mendekat kearah Tenten, merentangkan kedua tangannya, hendak merengkuh tubuh mungil Tenten.

"Kemarilah." Sasuke bisa merasakan jantungnya bergedup sangat kencang ketika kedua tangan besarnya melingkar di tubuh mungil Tenten, tubuh gadis itu gemetar karena sesegukan. Sementara Tenten hanya bisa menangis dipelukan Sasuke seraya menyesap harum mint dari tubuh Sasuke sebanyak-banyaknya, ia tahu bahwa harum itu akan membuatnya lebih rileks. Setelah beberapa saat berpelukan, Sasuke memutuskan untuk melepaskan pelukannya, seiring masuknya beberapa suster dan seorang dokter pria paruh baya.

"Aku tidak suka mengganggu, tapi kuharap kau sudah siap dengan operasinya, Tenten." Ucap dokter itu sambil tersenyum singkat kearah Sasuke lalu langsung menatap Tenten. Tenten mendesah lembut lalu menoleh menatap Dr. Hamilton, ia tersenyum dan berkata.

"Aku siap."

xXx

Sudah sekitar lima jam lampu diatas pintu ruang operasi itu menyala. Sudah sekitar lima jam Tenten dibawa masuk ke ruang operasi, dan disinilah mereka. Tsunade, Susune, Sasuke, Ino dan Itachi, tengah duduk di kursi ruang tunggu sambil menunggu dan berdoa. Seorang perawat sesekali datang dan mengabarkan perkembangan didalam ruang operasi kepada Tsunade dan Susune, sejauh ini perkembangan yang disampaikan cukup positif.

Sasuke meletakan kedua tangannya diatas paha dan menopang kepalanya yang terasa akan meledak. Kecemasan dan kekhawatiran mengumpul disana, berdesak-desakan, membuat kepala Sasuke terasa membesar dua kali lipat. Pikiran Sasuke melayang ke saat sebelum gadis itu dibawa keruang operasi. Ketika kedua tangannya menarik gadis mungil itu kedalam pelukannya, terasa dingin dan rapuh. Laki-laki itu mendesah dan menatap kesekitar, menangkap raut kecemasan yang sama diwajah semua orang. Sasuke mengetuk-etukan kakinya dilantai lalu menatap lurus kebawah.

'Apa yang terjadi setelah semua ini selesai? Jika panda berhasil selamat dari operasi itu? Apa hubungan kami akan kembali canggung? Atau mungkin.. atau mungkin panda akan menjawab pernyataanku? Tapi bagaimana jika.. bagaimana jika panda tidak berhasil?' Sasuke menggeleng kasar, berusaha menghapus suara-suara kecil dikepalanya. Laki-laki itu mendesah lirih dan mengaitkan kesepuluh jemarinya, memejamkan kedua matanya, lalu berdoa.

'Semoga Panda baik-baik saja, kumohon Tuhan.. semoga panda baik-'

Tiba-tiba melangkah memasuki ruang tunggu dengan wajah lelah, memotong doa Sasuke. Tanpa disadari, Sasuke melompat berdiri dan menghampiri dokter itu dengan langkah panjang, diikuti oleh Tsunade dan Susune.

"Operasinya berjalan dengan baik." segera menenangkan orang-orang yang sudah mengerubunginya. "Semuanya berjalan sesuai dengan perhitungan dan harapan kami. Kami sudah melakukan semua yang kami bisa, sel kanker sudah berhasil kami angkat, dan mengenai pengeroposan tulang akut hanya bisa kami atasi dengan pemasangan brace. Jadi Tenten harus mengenakan brace selama kurang lebih satu tahun kedepan."

Sasuke menghembuskan nafas yang secara tak sadar ia tahan sedari tadi. 'Setidaknya panda berhasil melewati semua ini.' Dr. Hamilton memperbaiki letak kaca matanya lalu kembali berkata.

"Yang bisa kita lakukan sekarang hanya menunggu Tenten untuk melewati masa kritisnya, kami para dokter juga masih harus memperhitungkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi setelah operasi." menoleh menatap Tsunade dan Susune secara bergantian lalu berkata.

"Anda keluarga dari Tenten?"

"Iya dokter."

"Bisa saya bicara dengan anda berdua sebentar? Saya ingin menanyakan beberapa riwayat kesehatan umum Tenten." Tsunade dan Susune mengangguk, ketiga manusia itupun segera menghambur meninggalkan Sasuke.

Sasuke tersenyum tipis seraya melangkahkan kakinya kearah kursi ruang duduk, lututnya terasa lemas, kepalanya terasa ringan. Tubuhnya dibanjiri rasa lega. Sasuke kembali mengaitkan kesepuluh jarinya dan berbisik.

"Thanks God."

xXx

Ino mengenakan mantelnya lalu berjabat tangan dengan Tsunade.

"Terimakasih kau sudah datang, Ino." Ino tersenyum simpul lalu berkata. "Bukan masalah, Baa-chan. Tenten sahabatku, aku harus datang disaat-saat tersulitnya, sudah kewajibanku." Setelah berpelukan singkat dan mengucapkan selamat tinggal, Ino melangkah keluar dari gedung rumah sakit itu.

Setelah Tenten dipindahkan ke ruang intensive care unit, Itachi dan Sasuke segera pulang, sementara Ino memilih untuk menemani Tsunade dan Susune sebentar. Saking asiknya mengobrol, Ino tidak sadar bahwa hari sudah beranjak malam, sudah jam dua belas malam, dan Ino yakin mencari taxi yang masih berlalu lalang sangat sulit. Ino mendesah kecil lalu mendorong pintu kaca rumah sakit dengan satu tangan. Terpaksa ia harus berjalan kaki.

"Akhirnya kau keluar juga." Ino hampir saja berteriak kaget ketika melihat Itachi berdiri menjulang dihadapannya. Ino melangkah mundur lalu bertanya dengan mata mengerjap kaget. "Itachi-senpai? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Ino heran. "Aku menunggumu pulang." Jawab Itachi sambil mengangkat kedua bahunya, Ino mengangkat sebelah alisnya.

"Kukira kau sudah pulang dengan Sasuke tadi."

"Aku hanya mengantarnya pulang lalu kembali kesini untuk menunggumu. Kau tahu, ini sudah malam dan aku tidak ingin kau keluyuran sendirian." Ino merasakan kedua pipinya memanas, namun langsung menepis semua itu. itachi sudah jelas-jelas tidak ingin bersamanya, ia sudah jelas-jelas menolak Ino.

"Aku tidak apa-apa, aku bisa pulang sendiri. Kau tidak perlu repot-repot mengkhawatirkanku." Kata Ino sambil mengangkat wajahnya dengan angkuh dan berjalan melewati Itachi, namun dengan gesit Itachi menangkap tangan Ino.

"Biarkan aku mengantarmu pulang, kumohon." Ino memejamkan matanya. Ia tidak ingin berinteraksi lagi dengan Itachi, ia tidak ingin Itachi mempermainkannya lagi. Sudah cukup Itachi memainkan hatinya selama ini, ia tidak ingin Itachi melakukannya lagi.

"Aku mohon." Kata Itachi sekali lagi. Ino mendesah lirih lalu akhirnya mengangguk. "Baiklah."

Mereka pun duduk didalam mobil jeep Cherokee milik Itachi. Tidak ada yang bicara selama perjalanan, sampai akhirnya mereka sampai diapartemen Ino. Gadis itu merapatkan dirinya dibalik mantel tebalnya lalu berkata.

"Terimakasih atas tumpangannya, senpai."

"Sudah seharusnya aku mengantarmu pulang." Ino menoleh menatap Itachi lalu berkata dengan rahang menegang.

"Dengar, senpai. Aku tahu kau sudah berjanji menjagaku saat itu.. tapi.. kumohon jangan jadikan janji itu beban untukmu. Aku tidak ingin kau terpaksa melakukan semua ini." Kata Ino, gadis itu yakin bahwa Itachi terkejut mendengar kata-katanya. 'Bagus Ino, kau sudah mengatakannya, let that boy know it.'

"Itu saja, terimakasih atas tumpangannya sekali lagi." Setelah berkata seperti itu, Ino segera membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Itachi. Gadis itu segera melangkah menuju gedung apartemennya tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.

Yap chappy ini author buat lebih panjang hehe, karena sepertinya author ga akan apdet lumayan lama karena udah mau masuk liburan dan biasalah sebagai artis hollywood, jadwal arisan sesama artis numpuk (apaan sih thor?!) hoho, anyway segini aja kata-kata tambahan dari author. thanks for reading and kindly gimme reviews, thx xoxo