Title : Missin' U
Genre : Brothership, Family, Hurt, Tragedy, Drama
Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum, Shim Changmin, Park Jungsoo, Kim Heechul
Rated : Fiction T
Warning : Typo(s), Geje, Bored, Drama, Bad Plot, Ooc(Out of Character). Dia *nunjuk Cho Kyuhyun* masih diusahakan milik saya. Jangan mengcopy paste meskipun menyertakan nama. Don't like it? Don't read it!
Disclaimer : All cast isn't mine. I own only the plot.
Summary : Dulu aku mengira tak ada yang salah dengan persaudaraan kita. Sekarangpun aku masih berpikir begitu. Tapi hyung, mengapa kau berubah? Aku merindukanmu yang dulu, yang memelukku ketika musim dingin datang, yang menggandengku ketika musim semi datang. Hyung—12 tahun, apa kau tak merindukanku?
.
.
©PrincessKyunie©
Present
.
Enjoy reading!
.
.
Chapter 24
Pagi harinya Kyuhyun sudah tak menemukan Kibum ketika membuka pejaman matanya. Menghela nafas, Kyuhyun memilih masuk kedalam kamar mandi. Ia ingat, hari ini dia ada jadwal kuliah pagi. Setelah mengenakan kembali baju miliknya dia segera meraih ranselnya.
Menuruni anak tangga, Kyuhyun bisa melihat punggung Nyonya Kim yang nampak sibuk menyiapkan sarapan didapur, terlihat familiar meski sesungguhnya yang mengenang dimatanya adalah sosok Ibunya yang lain. Dengan keberanian yang dia paksakan, anak itu mendekat, berdehem untuk mengambil atensi Nyonya Kim.
"Sudah siap?" Nyonya Kim bertanya dengan raut kaget yang kentara. Kyuhyun jadi merasa tak enak. "Masih jam 8" lanjutnya setelah melirik sekilas pada jam dinding yang terpasang tak jauh dari sana.
"Aku ada kuliah pagi" Kyuhyun merutuk kalimatnya yang terselip nada canggung disana. "Kibum hyung sudah pergi?"
"Dia sedang olahraga dengan Ayahmu" Nyonya Kim tersenyum menyadari Kyuhyun memulai pembicaraan dengannya meski dengan nada dan sikap canggung yang kentara. Tak masalah. Dia meyakinkan dirinya sendiri.
"Sejak kapan dia suka olahraga?" Kyuhyun bergumam sambil duduk di kursi pantry.
Nyonya Kim tersenyum mendengar gumaman Kyuhyun. Kibum memang tak terlalu suka olahraga. Tunggu! Bukankah dulu Kibum suka olahraga? Entahlah. Nyonya Kim bahkan baru tersadar. Ya Tuhan, dia melewatkan banyak tentang Kibum. Dia hanya fokus pada lukanya kehilangan Kyuhyun tanpa menyadari banyak perubahan pada Kibum. Ibu macam apa dia?
"Bu?" panggilan itu membuat Nyonya Kim tersentak. Wanita itu memokuskan kembali tatapannya pada Kyuhyun. "Semalam—kalian mendengarnya kan?"
Kyuhyun tak mau memberikan harapan pada Nyonya Kim seperti dia tak mau memberikan harapan pada Kibum. Berat? Tentu saja. Dia harus memilih antara keluarga kandung atau keluarga angkatnya. Bukan yang seperti itu sebenarnya. Dia hanya harus memilih tinggal bersama orang tua kandungnya atau dengan Tuan Cho.
"Rasanya" jeda, "Kau baru saja memutuskan hubungan darah kita" Kyuhyun melihat luka disana.
Anak itu menggenggam erat tangannya dibawah meja sambil menunduk. Ia merasa bersalah. "Bukan seperti itu, Bu" katanya dengan suara pelan. "Aku tetap putramu, tapi disana ada seseorang yang hanya hidup untukku. Aku tidak bisa mengabaikannya" mata Kyuhyun mengembun. Padahal dia sudah janji tak akan melukai siapapun lagi, tapi dia bahkan membuat Ibunya merasa diabaikan.
"Aku akan sering kemari, menginap sekali-sekali. Aku juga satu kampus dengan Kibum hyung. Aku ada disekitar kalian. Jadi tidak ada yang berubah, selain bahwa aku tak bisa tinggal seatap dengan kalian" tambah Kyuhyun dengan cepat.
Nyonya Kim melihatnya, tatapan mata penuh kesungguhan putra bungsunya, juga tatapan memohon dan bersalah. Ia terluka tentu saja. Namun dia tak mau egois. Dia sudah bersyukur bahwa Kyuhyun mau memanggilnya Ibu, bahkan berjanji tak akan memutus hubungan darah mereka. Seperti kata Kyuhyun, tak akan ada yang berubah selain bahwa putra bungsunya itu tak bisa tinggal serumah dengannya. Jadi beliau lekas tersenyum, mengusak puncak kepala Kyuhyun dengan sayang. Ketika Kyuhyun akhirnya mendongak, Nyonya Kim segera mengangguk. Dan dia tak menyesal, karena setelahnya dia bisa melihat senyum merekah dibibir Kyuhyun.
"Terimakasih"
"Tidak. Terimakasih, Kyu"
Nyonya Kim kemudian membalikan badan. Beliau menghela nafas, menahan gejolak keegoisan yang bisa kapan saja menguasainya. Kyuhyun juga berhak bahagia. Kyuhyun pasti sudah memikirkannya masak-masak ketika memutuskan hal ini. Dan demi keutuhan keluarganya, kali ini dia rela memendam keegoisannya.
"Mau nasi goreng?"
"Aku suka sereal" kata Kyuhyun. Nada yang digunakan anak itu sudah tak secanggung tadi. Matanya melihat sereal didalam lemari kaca.
"Baiklah. Ibu siapkan" Kyuhyun tadinya mau menolak, tapi melihat begitu berbinarnya wajah Nyonya Kim. Dia memilih diam sambil memeriksa smartphone-nya. Semalaman setelah menelpon Tuan Cho, dia menonaktifkan smartphone-nya.
"Susu cokelat?"
Kyuhyun mengangguk, "Ya"
"Ibu sudah pernah bilang belum? Kau itu aneh—atau unik? Tak ada yang memakan sereal dengan susu cokelat dikeluarga kita, hanya kau" Nyonya Kim menyodorkan semangkuk sereal ke depan Kyuhyun.
"Aku sudah bilang belum?" Kyuhyun mendongak, ikut mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang diajukan Nyonya Kim. "Ada perbedaan spesifik yang dirasakan lidahku ketika meminum susu cokelat dan vanilla?" tanyanya. Nyonya Kim menggeleng, menangkupkan wajahnya untuk fokus pada wajah Kyuhyun. Bocah gembul yang dulu suka merengek itu sudah sebesar ini. Meski kesan imut masih menempel pada Kyuhyun namun sekarang Kyuhyun juga tampan. Keluarga Cho menjaganya dengan baik.
"Rasa susu vanilla lebih hambar, aku suka susu cokelat. Rasa manisnya cocok dilidahku"
Bersamaan dengan jawaban Kyuhyun itu, Kibum dan Tuan Kim datang. Kalau Tuan Kim memilih mendudukan dirinya disamping Kyuhyun, Kibum lebih memilih berjalan ke arah lemari es, mengambil sebotol air mineral dingin dan meneguknya hingga tandas.
"Jangan percaya padanya. Dia hanya menyukai susu cokelat sebab pernah tersedak susu vanilla dulu" Kibum menoleh dengan bibir menyeringai membuat Kyuhyun meliriknya dengan tatapan siap 'membunuh'. Kibum selalu suka jika Kyuhyun mulai menatapnya dengan tatapan seolah siap 'membunuh'. Itu terkesan lebih imut.
Tuan Kim menyukai interaksi ini. Memang bukan interaksi seperti saat mereka kecil dulu, tapi ini jenis interaksi yang disukainya. Pria itu melirik istrinya yang juga nampak menyukai interaksi kedua anaknya. Dan ketika dua pasang mata itu bertemu, Tuan Kim dapat melihat kebahagiaan disana.
"Terserah katamu saja lah" itu suara Kyuhyun yang memilih mengakhiri perdebatan dengan Kibum –yang entah apa lagi. Anak itu sudah kembali sibuk dengan semangkuk sereal dihadapannya. Mengabaikan betapa semangatnya Kibum mendebatkan hal konyol bersamanya tadi.
"Kau sudah rapi?" Tuan Kim baru sadar jika Kyuhyun sudah berpakaian rapi meski ingat itu pakaian yang dikenakan anak itu kemarin. Ingatkan Tuan Kim untuk mengajak Kyuhyun berbelanja secepatnya.
Kyuhyun mengangguk disela mengunyah serealnya. "Aku ada kuliah jam 9" jawabnya.
"Kenapa tidak bilang padaku kau ada kuliah pagi?" Kibum bertanya dengan kesal.
"Kau tak bertanya" Kyuhyun menyahut acuh. Anak itu menghabiskan serealnya sebelum berdiri. "Kalau begitu aku berangkat dulu"
"Tunggu! Tunggu! Aku antar"
Kyuhyun memutar bola matanya dengan ekspresi jengah yang kentara dimata Tuan dan Nyonya Kim. Namun belum sempat protes, Kibum sudah berlari kearah kamarnya. Kalau Kibum itu Changmin, sudah pasti dengan senang hati Kyuhyun akan mengabaikan perintah itu. Dia akan segera berlalu dan mengabaikan betapa akan murkanya sahabat tiangnya itu. Tapi ini Kibum. Kakaknya. Dan mereka masih belum dalam hubungan dimana dia bisa bersikap seenaknya.
"Aku tidak punya pilihan lain kan?" Kyuhyun meringis pada kedua orang tuanya sebelum kembali mendudukan dirinya disana dengan canggung.
.
.
Kyuhyun menatap punggung Kibum yang baru saja berlalu. Kecanggungan yang entah mengapa tercipa diantara mereka saat didalam mobil tadi hanya mampu membuat Kyuhyun berdecak sebal. Tak ada pembicaraan. Hanya suara lembut Lee Seung Chul yang menemani perjalanannya bersama Kibum tadi. Begitupun ketika sampai dikampus, Kibum ikut turun bahkan mensejajari langkahnya meski dia mengerang menolak diantarkan Kibum. Dan sebuah keberuntungan datang. Kibum mendapat telepon –yang entah dari siapa, yang mengharuskannya membatalkan niat mari-mengantar-Kyuhyun-sampai-kelas.
Kyuhyun tak paham kenapa kecanggungan kembali tercipta diantara mereka. Padahal semalam dia dan Kibum sudah selayaknya kakak-adik sungguhan. Bahkan tadi dia sempat mendebatkan hal konyol dengan Kibum. Ah iya, mungkinkah karena perkataannya semalam? Kyuhyun akui, dia tak seharusnya menghancurkan suasana yang dibangun Kibum semalam. Mereka –dia dan Kibum, baru saja kembali pada peran yang sebanarnya –sebagai Kakak dan adik, dia seharusnya diam saja dulu. Tapi, Kyuhyun tak mau Kibum atau siapapun terlalu berharap banyak sedangkan dia sendiri tak yakin dengan dirinya. Kyuhyun takut. Dia tetap saja penakut. Dia takut menggores luka lagi –meski baru dia sadari pagi tadi bahwa dia sudah menggores luka baru lagi untuk mereka.
Menghela nafas panjang, Kyuhyun akhirnya kembali berjalan menuju kelas pertamanya. Namun dengan pikiran yang masih berkelana mencerna tindakannya. Sekarang dia tak boleh egois, dia harus memikirkan dengan kepala dingin. Bohong kalau dia tak senang kalau keluarga kandungnya menginginkannya lagi, itu harapannya saat kembali ke Seoul. Tapi kini dia menyadari satu hal, ada orang lain yang menjadikan dirinya hidupnya. Orang yang bekerja hanya untuk memberinya hidup yang lebih baik, orang yang sejak 12 tahun silam menjadi tempatnya bersandar, orang yang Kyuhyun yakini memahaminya lebih dari siapapun didunia ini. Tuan Cho. Pemilik nama akhir yang tersemat juga pada namanya. Daddy-nya.
Orangtuanya masih punya Kibum, dan mereka masih bisa hidup tanpa dirinya –setidaknya selama 12 tahun ini. Sama seperti Daddy-nya yang hanya memiliki Kyuhyun saja.
"Hey! Kyuhyun!" tersentak, Kyuhyun sudah mendapati Changmin berjalan beriringan dengannya, plus tatapan mata yang menyiratkan pertanyaan. Sepertinya Kyuhyun melewatkan pertanyaan yang keluar dari mulut Changmin.
"Kenapa?"
"Ketus sekali" protes Changmin. "Aku mau memberitahumu kalau kau baru saja melewati ruang kelas pertama kita"
"Apa?" Kyuhyun berhenti lalu menoleh pada Changmin yang langsung memberi kode untuk melihat ruangan yang dilewatinya.
"Ah!" dan Kyuhyun langsung berbalik arah, masuk kedalam ruang kelas yang sudah ramai dengan Changmin yang menggerutu betapa tidak tahu terimakasihnya dia.
"Jaejoong hyung akan datang, Yunho hyung juga" Changmin membuka kembali percakapan setelah kembali mendapati Kyuhyun akan tenggelam dalam lamunannya. Keduanya sudah duduk dideretan paling atas, paling jauh dari pandangan dosen, tempat strategis kalau mau melamun selama pelajaran berlangsung. Changmin tahu Kyuhyun tak terlalu suka mata kuliah pertama mereka hari ini.
"Mereka bertanya padaku apakah perlu mengirim rangkaian bunga untukmu atau tidak" lanjut Changmin ketika Kyuhyun menoleh padanya. "Menurutmu bagaimana?" basa-basi hanya untuk mengulur waktu Kyuhyun melamun.
"Tidak buruk"
"Kau kenapa sih?" akhirnya Changmin tak tahan juga. Kyuhyun ada masalah, Changmin tahu. Dan pertanyaan Changmin itu tak terjawab karena kelas sudah dimulai dan dosen didepan sana mengamatinya dan Kyuhyun.
.
.
Kyuhyun meletakan ransel diatas sofa sebelum berjalan mengambil sebotol air mineral dan meneguknya sampai setengahnya. Tuan Cho tidak ada dirumah –sepertinya sedang sibuk mengurusi persiapan pameran, untungnya dia selalu membawa kunci cadangan, jadi sekarang dia tidak sedang duduk melamun menunggu daddy-nya diluar sana.
Tepat ketika Kyuhyun hendak meneguk kembali air mineral dibotol yang dipegangnya, smartphone-nya berbunyi. Sebuah panggilan dari nomor asing. Tapi Kyuhyun yakin itu nomor Kibum. Seharian ini dia berhasil menghindari Kibum dan hampir gagal saat tiba-tiba Kibum sudah berdiri diluar kelas terakhirnya. Dan Kyuhyun tak pernah merasa sebahagia ini ketika dosennya menyuruhnya membawa tugas teman-temannya keruangan sang dosen. Dengan dalih itu dia berhasil menghindari Kibum. Dan tadi, sebelum menyelinap keluar kampus, Kyuhyun sempat melihat Kibum berbicara dengan Changmin. Dan karenanya Kyuhyun yakin nomor asing yang sejak lima belas menit lalu menghubunginya itu adalah nomor Kibum.
"Kok tidak diangkat, Kyu?"
Kyuhyun tersedak, buru-buru menepuk dadanya. "Astaga, Dad!" protesnya. Jantungnya juga berdegub cepat membuat Kyuhyun meringis. Tuan Cho segera mendekat, membawa Kyuhyun untuk duduk di sofa.
"Tidak apa-apa, Dad. hanya terlalu kaget" Kyuhyun tersenyum menenangkan.
"Sudah makan malam?" Kyuhyun menggeleng. "Baiklah. Tunggu disini, akan Daddy buatkan makan malam untuk kita" pria paruhbaya itu berdiri dengan senyum mengembang, melupakan fakta bahwa wajahnya begitu menunjukan kelelahan yang bahkan bisa dibaca oleh Kyuhyun.
Kyuhyun mengangguk, mengamati Tuan Cho yang berjalan masuk kedalam dapur kecil mereka. Ada kebahagiaan sendiri yang Kyuhyun lihat ketika Tuan Cho menawarkan makanannya pada Kyuhyun, dan karenanya Kyuhyun tak bisa menolak, meski sejujurnya melihat wajah kelelahan Tuan Cho membuat Kyuhyun merasa tak enak. Tapi dengan itu Kyuhyun semakin yakin dengan keputusannya. Pria ini, orang yang tidak punya ikatan darah dengannya, pria baik hati yang ditemuinya malam itu, adalah orang yang pantas dia pertahankan.
"Hanya ada telur" Tuan Cho melongok dari pintu dapur. "Kupikir kau akan menginap lagi di mansion keluarga Kim, jadi belum sempat belanja" katanya kembali menghilang dari pandangan Kyuhyun.
"Besok aku yang belanja" Kyuhyun tersenyum. "Ngomong-ngomong Dad" suara Tuan Cho bergumam sebagai jawaban dia mendengarkan terdengar. "Aku sudah mengatakan tidak bisa tinggal dengan mereka. Jadi jangan coba mengusirku" ada hening cukup lama dari arah dapur, suara sendok dan mangkuk tidak terdengar untuk beberapa saat. Kyuhyun sendiri masih tetap mengamati pintu dapur dalam diam, menunggu reaksi yang akan ditunjukkan Tuan Cho.
"Kalau Daddy mengusirku, aku tidak punya tempat kembali" Kyuhyun kembali bersuara.
Kemudian suara sendok dan mangkuk yang beradu kembali terdengar, lalu Tuan Cho muncul dipintu dapur. "Mana ada seorang Ayah yang tega mengusir putranya?" tanyanya dengan sebuah senyum.
Kyuhyun mengangguk sambil balas tersenyum. Ingin mendekat kemudian memeluk Tuan Cho namun diurungkannya ketika melihat bekas air mata diwajah Tuan Cho. Kyuhyun tak suka melihat Tuan Cho menangis, apapun alasannya. Dan Kyuhyun yakin, kalau sekarang dia memeluk Tuan Cho, Daddy-nya itu akan menangis –termasuk dia. Jadi, dia memilih hanya memasang senyum lima jarinya kemudian mengalihkan pandangannya kearah smartphone-nya yang bergetar –lagi.
Bukan nomor asing, namun nama Changmin yang mengirim pesan. Menatap Tuan Cho yang akhirnya kembali menghilang masuk kedalam dapur dan sejurus kemudian terdengar suara menggoreng telur dadar, Kyuhyun meraih smartphone-nya. Pemuda itu mendengus ketika membaca pesan yang dikirimkan Changmin padanya.
'Cepat hubungi Kibum hyung sebelum dia meneror waktu makan malamku!'
.
.
Heechul menatap kesal pada Kibum yang sejak dia dan Jungsoo datang, hanya fokus pada smartphone-nya. Entah menelpon siapa, tapi ketika diangkat Kibum segera mengancam dengan suara rendah, yang bahkan membuat Jungsoo dan Heechul mengkerut terintimidasi.
Dia sedang tak ada kerjaan dan sejak siang sudah mengganggu Jungsoo dikantornya. Memaksa Jungsoo mengantarkannya pulang, Heechul malah meminta diantar ke mansion Kim. Hanya ada Kibum saat mereka datang. Kata satpam didepan, Paman dan Bibi Kim sedang ada pertemuan bisnis dan baru kembali nanti malam.
"Menelpon siapa sih?" akhirnya mulutnya yang banyak bicara itu bertanya.
Jungsoo melirik Heechul sekilas ketika menyimpan 3 jus jeruk diatas meja ruang keluarga. Kemudian kembali fokus menonton berita. Nampak tak terlalu peduli dengan kelakuan Kibum yang terlalu bukan Kibum sekali –setidaknya dimata Heechul.
"Kau bertengkar dengan pacarmu?" pertanyaan itu sukses membuat Kibum –bahkan Jungsoo, memfokuskan diri pada Heechul. "Terlihat khawatir sekali. Kalau bukan pacar, siapa lagi?" Heechul maupun Jungsoo memang tak pernah mendengar kalau Kibum berkencan karena sikap dan sifat Kibum yang terlalu dingin. Namun bukan berarti sepupu mereka yang tampan –oh mereka harus mengakuinya, tidak berkencan diusianya kini kan?
Sebelum Kibum buka suara, dering smartphone-nya terdengar. Wajah Kibum terlihat sumringah sekaligus lega. Jadi Heechul yang tadinya berniat merebut smartphone Kibum memilih mengamati sepupunya itu –bersama Jungsoo.
"Kyuhyun!" satu panggilan itu disambut antusian Heechul dan Jungsoo yang langsung mendekat kearah Kibum.
"Kenapa menghindariku?!" Kibum tak pernah bertanya dengan nada yang terdengar marajuk begini.
Terdengar helaan nafas disebrang. "Siapa yang menghindarimu? Kau sendiri yang datang disaat aku sedang belajar, datang lagi saat aku sedang ada tugas"
"Aku menunggumu didepan gerbang. Tapi kata Changmin kau sudah pulang duluan" ini bentuk protesan lain dengan nada merajuk.
"Mana kutahu hyung menungguku" suara dentingan sendok dan piring terdengar. "Aku pulang dengan selamat" ada jeda, "Jangan merecoki Changmin. Dia mau makan malam katanya" kemudian ada percakapan yang didengar Kibum, namun samar.
"Kau sudah mau makan malam?" sebuah pertanyaan basa-basi. Entahlah, Kibum rasa Kyuhyun akan mengakhiri panggilan kalau dia tak mengajukan pertanyaan.
"Iya" terdiam, "Hyung sudah makan?"
Seulas senyum mengembang dibibir Kibum. "Hm"
"Bohong. Dia bahkan tidak menyentuh makan malamnya" ini suara Heechul. Tadi saat Heechul dan Jungsoo datang, seorang maid tengah membujuk Kibum untuk makan malam, tapi diabaikan Kibum.
Kibum mendelik pada sepupunya itu. Belum sempat dia bereaksi, smartphone-nya sudah pindah ke tangan Heechul. "Hallo, Kyu. Ini Heechul hyung"
"Heechul hyung?"
"Jangan bilang kau hilang ingatan, sampai melupakan aku" dengusan Heechul terdengar.
"Sedang apa disana?"
"Pertanyaan macam apa itu?"
"Astaga hyung. Kalau mau bicara tak penting besok saja. Sayang sekali pulsaku terbuang percuma"
Heechul mendelik. Sedangkan Jungsoo dan Kibum sama-sama mengulum senyum, hendak tertawa namun ditahan. Kyuhyun tetaplah Kyuhyun. Pemuda itu cute dengan cara yang aneh. Seperti saat ini contohnya.
Sebelum Heechul mengomel, Kibum kembali meraih smartphone-nya. "Besok kau ada waktu kan? Ayo jalan-jalan. Kita berempat, aku, kau, Ayah dan Ibu"
Hening.
"Baiklah. Jam 9, aku akan kesana" Kyuhyun menjawab tanpa ragu. "Kibum Hyung?" Kibum tersenyum dan bergumam sebagai jawaban. "Jangan telat makan. Maag-mu bisa kambuh" ada kehangatan yang dirasakan Kibum karena perhatian kecil dari Kyuhyun. "Kalau begitu aku tutup dulu, hyung. Sampaikan salamku pada Ayah dan Ibu, juga Heechul dan Jungsoo hyung"
"Baiklah. Sampaikan salamku pada Tuan Cho"
Kyuhyun bergumam diseberang sebelum sambungan dimatikan. "Ayo makan malam, hyungdeul"
Heechul mencibir Kibum yang berjalan meninggalkan mereka untuk menuju ruang makan. Namun mengikutinya bersama Jungsoo disampingnya yang berbicara dengan suara pelan. "Aku bahagia, Heechul-ah" yang dibalas Heechul dengan rangkulan. Tak perlu mengatakannya karena Heechul-pun merasakannya. Dia juga bahagia.
*TBC*
Hallooooo~ saya balik lagi dengan fanfic Missin' U yang udah jamuran. Hehe
Ada yang masih inget ceritanya? Kalau gak inget, baca ulang ya
Setelah ngurusin skripsi yang masih bikin pusing, aku beralih nulis fanfic dulu nih. Pas udah jadi langsung aku post. Jadi maaf kalo ada typo(s) soalnya belum aku baca berulang kali.
Makasih yang masih sering nanyain kapan fanfic ini update, jadi inget aku punya banyak hutang fanfic ^^
Oya, selamat tahun baru semuanya~ semoga di tahun 2018 ini apa yang kita rencanakan bisa terwujud ya, aamiin
Thank you yang ngasih vote sama komen, saya seneng banget
Btw, arti missin' u (missing you) buat kalian itu apa sih? Kehilangan atau merindukan?
Sampai jumpa di chapter selanjutnya yang entah kapan ya~
