Title : (Bad) Blood #24 [Dimana?]

authornim : innochanuw

disc : warn!boyxboy! boyslove! violet-word-and-action? Fantasy! Drama?! Rate-up?! –plis the plot is mine, the characters are belongs to their family and agency. DON'T LIKE DON'T READ~!

Cast : all ikon's members, song jaerim (SM's model and actor), f(x)'s victoria song, song joongki (actor), song hye kyo (actress), pair : still normal

.

.

.

(previous part)

"Ka-kakakku akan kemari! Kumohon jangan mendekat atau kau akan mati!"

"Ma-mati?" Junhoe mengulas senyum tipis di bibirnya yang pucat. Langkah kaki terseoknya seketika terhenti. "Ke-kenapa aku mati kalau aku sebenarnya sudah mati? Mati kedua kalinya?"

Ti-tidak...

Ti-tidak mungkin!

A-aku ingat semuanya! Genangan darah itu, kemunculan mama, duel maut, Joongki hyung, bloodbond...

Deg!

Bu-bukankah harusnya aku yang mati?

Ja-jangan-jangan...Junhoe juga...?

Tidak.

Tidak mungkin.

Aku memegangi erat kepalaku, sekelebat memori dan bayangan buruk yang tidak kuinginkan berputar-putar tersetel bergantian di kepalaku.

Rasanya kepalaku sakit, mau pecah.

Rasanya aku mau mati saja!

"TI-TIDAK MUNGKIN! GOO JUNHOE!"

"Astaga Song Yunhyeong, apa yang terjadi?!"

Aku yang memaksakan kedua mataku terbuka langsung memandang sekeliling.

Sebuah kamar.

Di rumah...layak?

Aku ada dimana?

Tidak mungkin.

Aku baru saja terbangun dari mimpiku atau aku baru saja berada di mimpiku?

Dimana semuanya?

Mana Goo Junhoe? Seharusnya dia ada disini bukan menemaniku?

"Kenapa dari semua nama yang ada, justru nama anak sialan itu yang kau teriakkan, sayang?"

.

.

.

(Author POV)

Yunhyeong menggerakkan kepalanya ke asal suara.

Yang terlihat hanyalah mamanya yang sedang tersenyum di sebelah ranjangnya.

"I...ini di...mana?"

Rumah ini terlalu asing untuk menjadi rumahnya dulu atau rumah orang tuanya.

Yunhyeong sama sekali tidak ingat pernah tinggal di rumah ini.

"Setelah meneriakki nama vampir sialan itu, suaramu malah tergagap-gagap sayang?"

Sepasang mata besarnya membola.

Mamanya yang barusan menyebut Junhoe sebagai 'anak sial'

Benar-benar mamanya.

Rahang Yunhyeong terkatup rapat.

"Mama."

"Dimana Junhoe?"

"Wah? Lancar lagi ya bicaranya? Sudah sehat?"

"MAMA!"

Brak!

"A-ada apa ini? Kenapa teriak-teriak?"

Yunhyeong menoleh dan mendapati seorang perempuan belia dan Chanwoo sama-sama mendobrak pintu.

Perempuan itu mirip sekali dengan...

"Eunji?!"

"Yunhyeong oppa?" Buru-buru Eunji mendekat ke sisi ranjang Yunhyeong yang lain. Segera ia mengecek satu persatu anggota tubuh kakak kesayangannya itu. "S-syukurlah oppa baik-baik saja..."

"Kenapa kamu bisa ada disini?" Kepalanya celingukkan ke segala arah. "Mana suamimu? Dia tidak marah? Katanya aku bisa forced blood bond kalau melihatnya..." Matanya seketika menyipit. "Dia tidak melakukan kekerasan kan? Atau kalian justru cerai? Astaga, kau terlihat lebih kurus dan...dewasa! Dia merawatmu dengan baik kan? Pasti suamimu tidak bisa memasak...Bahkan aku jauh lebih baik dari-"

"Syukurlah hyung baik-baik saja."

Sudut matanya baru menyadari ada orang lain di ruangan ini.

"Jung Chanwoo!" pekiknya cukup nyaring. Kalau saja dia tidak ingat tangan kanannya masih terinfus, mungkin sudah direntangkanlah tangannya itu untuk memeluk yang termuda disini.

"E-eh hai hyung," Chanwoo tersenyum kikuk setelah sebelumnya ia menghela nafas lega. "Tak kusangka hyung akan seaktif ini, untuk ukuran vampir yang tak sadarkan diri selama 2 bulan, hyung terlalu sehat untuk-"

"Mana yang lain?" Yunhyeong menanyakan pertanyaan yang sama di dalam mimpinya. Ketimbang yang terjadi di mimpi, yang ia lihat hari ini lebih mirip seperti mimpi. Adiknya yang tidak pernah muncul sebatang hidung pun muncul dan mengkhawatirkannya, seharusnya dia bahagia bukan?

Iya kan?

Tapi kenapa terasa kosong?

Pemuda Song ini hendak mencolek bahu Chanwoo yang nampak kebingungan saat baru ingat tangannya terinfus.

Jadi aku benar-benar sakit? Ini di rumah sakit? Pantas saja...kupikir vampir tidak memerlukan medis...

"Ah yang lain sedang..."

"Berarti mereka ada disini kan?"

"I-iya," jawab Chanwoo terlihat aneh dengan kegugupannya.

Lalu Yunhyeong menghela nafas lega.

Rasa kosong di dadanya separuh menghilang mendengarnya sampai...

"Ohhh! Pemuda-pemuda tampan yang kebingungan di depan kantin itu temanmu ya, Chanwoo-ya? Teman kakakku juga dong?Asik,kakak punya teman juga!"

...Yunyeong baru menyadari satu hal.

Teman-teman? Apa dia menganggap mereka semua itu temannya? Atau mereka apa menganggapnya teman juga?

Setelah berjuang dan saling menolong hampir setengah tahun ini...Apa tidak aneh jika keterikatan mereka tidak disebut sebagai pertemanan?

Murid-murid di kelasku juga menyebutku teman mereka dan kita bisa saling bekerja sama dalam satu kelompok tapi membicarakan keburukkanku di belakang...

Bukankah seorang Song Yunhyeong yang selalu berdiri sendiri di posisi juara pertamanya dan tak pernah mengandalkan orang lain seharusnya tidak punya teman? Bukankah Song Yunhyeong sendiri pernah menyombongkan dirinya karena bisa sejauh ini berkat usahanya sendiri?

Kemana perginya Song Yunhyeong dulu yang berkoar-koar tidak memerlukan teman karena bisa melakukannya sendiri dan teman itu dianggapnya tidak pernah ada yang setia?

Yunhyeong tercekat.

Aku...termakan ucapanku sendiri.

Aku...banyak berubah...Apa ini perubahan yang bagus?

"Jung Chanwoo."

Chanwoo yang baru saja memakan pisang di atas nakas hasil kupasan menoleh. "Nde?"

"Apa aku ini temanmu? Ani, sahabatmu mungkin? Apa aku sahabat kalian semua?" tanyanya lirih, sangat lirih.

"Ya? Hyung bilang apa?"

"Apa aku sangat berharga bagi kalian semua?"

"Tentu saja!" seru kedua remaja yang berbeda jenis kelamin ini.

"Awalnya aku kira hyung itu berharga karena visual luar biasa yang terlalu mulus untuk dibiarkan terluka. Atau karena tak pernah melihat hyung tertawa atau menangis tapi ternyata bukan hanya itu karena kami..."

"...SAYANG PADAMU!" lanjut adiknya, Eunji histeris sebelum mencubiti pipi kakak keduanya itu.

"Harusnya aku yang bertanya kak, apa kakak selama 6 bulan –ani, 3 bulan di dunia baik-baik saja? Kakak terlihat banyak memiliki luka dan kurus...Tangan kakak juga terbentuk, omo! Badannya juga! Astaga kakak lembutku ini kemana perginyaT_T"

"Kkkk~Apa hyung tau kalau Hanbin dan Donghyuk menangis bersama saat melihatmu tak sadar-sadar juga? Jiwon hyung juga tapi pura-pura sok kuat, Jinani hyung juga menangis tapi langsung pergi karena malu! Kita semua benar-benar mengkhawatirkanmu dan menunggu saat ini. Ah, apa aku harus memanggil yang lain juga?"

Yunhyeong merasa...senang.

Yunhyeong merasa...begitu dicintai.

Belum pernah selama ini dia merasa begitu dicintai orang lain.

10 tahun ia hidup, Yunhyeong berpikir bahwa dia adalah orang paling bahagia di dunia ini karena semua orang mencintainya. 7 tahun sisanya ia habiskan untuk menyebut dirinya sendiri tak pernah merasakan kasih sayang dari awal, semua orang menyayanginya karena dia diharapkan akan menggulingkan kekuasaan vampir dan meningkatkan derajat witch, diharapkan membuat kekuasaan vampir semakin kuat, atau takut kehilangan pekerjaan di istana karena posisinya sebagai putera mahkota.

Semua orang menyayanginya dengan alasan, bukan dengan alasan sederhana seperti 'karena dia itu Song Yunhyeong'.

Semua orang menyayanginya agar ke depannya dia bisa dimanfaatkan. Tidak benar-benar ikhlas menyayangi.

Yunhyeong menoleh sejenak ke arah mama yang tetap terlihat anggun dengan posisi membelakangi jendela kamar yang masih gelap namun menunjukkan waktu sebentar lagi mendekati pagi hari untuk ukuran usianya yang tak muda lagi.

Apa...aku pantas untuk menerima semua perhatian ini? semua sikap baik ini?

Mamanya yang sejak awal tidak memasang ekspresi apapun akhirnya tersenyum lalu mengangguk kecil.

Sejak awal, Yunhyeong tidak suka dengan manusia dan berhubungan dengan mereka –seperti pertemanan bukan karena manusia itu egois dan munafik.

Tapi karena ia tidak percaya dengan adanya kasih sayang di dunia ini termasuk kasih sayang yang ada dalam hubungan pertemanan.

Oh, ngomong-ngomong soal kasih sayang...

"Kemana Joongki hyung? Aku sudah sangat senang melihat Eunji tapi akan lebih lengkap kalau kita semua berkumpul sekarang dan kembali seperti semu-"

Eunji menghela nafas,. "Kakak kan tau," Bibir bawahnya sedikit ia gigit. "Masa lalu tidak akan bisa terulang dan berubah...sama halnya dengan Joongki oppa."

"Arrayeo geunyang...," Lidahnya terlalu kelu untuk mengeluarkan sangkalan. Mungkin dia belum sepenuhnya sehat, sekarang kepalanya mulai sedikit terasa seperti berputar dan punggungya agak sakit karena dipaksa merubah posisi tubuh dari tidur panjangnya ke duduk selonjor.

"Aku tau hyung daripada siapapun, hyung pasti akan kembali seperti dulu lagi kok. Dia hanya seperti...orang amnesia mungkin?"

Sebut saja Yunhyeong terlalu naif dan berpikir positif. Dia masih percaya dengan kakaknya setelah percobaan pembunuhan tak terhitung jumlahnya. Apa itu bisa dikatakan wajar?

"Ya ya, apalagi setelah pertempuran kemarin seharusnya Joongki hyung akan kembali ke seperti semu-"

"Song Yunhyeong...Jangan banyak mengharapkan kakakmu."

Yunhyeong menatap horror mamanya.

"Ma-maksud mama...apa?"

"Kau lupa atau pura-pura lupa? Pertempuran waktu itu. Otakmu tidak geger kan? Apa kau yakin mereka selamat?"

Rasanya seluruh dunianya runtuh saat itu juga.

"Ja-jadi...mereka...?"

Tiba-tiba saja matanya memanas dan dengan cepat, banyak tumpukkan air di pelupuk matanya.

"Maldo andwae...Joongki hyung...?"

Tidak ada yang bersuara. Eunji memilih untuk menundukkan kepalanya dalam sembari meremas ujung roknya sementara Chanwoo memasang ekspresi datar.

Mama? Jangan ditanya.

Tolong Tuhan, jangan bilang setengah dari rasa kosong di hatiku ini karena kehilangan mereka berdua. Kumohon.

"Ju-junhoe ju-juga?" Sebenarnya Yunhyeong menahan diri untuk tidak menanyakannya. Dia tidak terlalu ingat teriakkan saat sadar tapi ucapan menyakitkan dari mamanya membuatnya yakin bahwa dia meneriakkan nama Junhoe. Tubuhnya juga terasa terlalu bugar, memilih untuk pura-pura lupa atas kejadian ganjil (dengan alasan 'aku kan baru sadar' setelah sadarnya adalah pilihan terbaik untuk tidak menambahkan api, apalagi baik adik dan Chanwoo sendiri terlihat menghindari topik membahas kedua orang tersebut.

Tapi dia tidak bisa berdiam diri sekarang. Yunhyeong pikir semua menghindari topik Goo Junhoe karena dialah inti masalah disini tetapi ternyata tidak, menanyakan perihal kakaknya dan menyakini bahwa kakaknya akan berubah juga tetap sama; tidak ada jawaban.

"Kenapa kau tidak mementingkan kakakmu sendiri daripada bocah itu huh?"

Yunhyeong menatap tajam mamanya. "Dia soulmateku, mah."

"Kenapa kau bisa yakin dia itu soulmatemu?" Untuk pertama kalinya, pemuda Song ini melihat mamanya yang biasanya melempar senyum (entah palsu atau apa) saat ini menyeringai kecil. "Kau terlanjur pingsan dan dia terlanjut mati."

"MAMA!"

"Kenapa?" Suara Mama Song mengeras. "Aku tidak salah kan? Dia sudah ma-"

"SEMUANYA KELUAR DARI SINI! AKU TIDAK MAU MELIHAT KALIAN LAGI! SEMUANYA PERGI! KALIAN SAMA SEKALI TIDAK MENYAYANGIKU!"

"Siapa bilang ada yang menyayangimu dengan tulus, sayang?"

"Su-sudah, mah."

"Ja-jangan memancing suasana, Yang Mulia Ra-"

"KUPERINTAHKAN SEMUANYA PERGI!"

Brak!

Sesuai dengan perintahnya, tiba-tiba saja Mama Song, Eunji, dan Chanwoo tertarik menuju ke pintu yang masih terbuka lalu saat mereka sudah berada di luar, pintu langsung terbanting tertutup.

Clik.

Dan terkunci.

Langsung saja Yunhyeong menutupi wajahnya sendiri dengan bantal dan terisak disana.

Seorang Song Yunhyeong menangis.

Song Yunhyeong ternyata bisa menangis.

Ternyata bisa merasakan sakit hati juga.

Ternyata bisa merasakan kekosongan hati juga.

Ternyata bisa...tau cinta juga.

Seorang Song Yunhyeong akhirnya menggunakan perasaannya lagi.

Tidak mau sakit hati tapi menggunakan perasaan.

Konyol, bukankah sudah kuperintakan tidak ada rasa manusiawi dalam berhubungan dengan siapapun?

Lucu.

Aku seperti manusia saja.

Padahal bukan.

Dari awal memang aku tidak seharusnya hidup.

Kalau aku tidak ada, kakak pasti tidak kesulitan menjadi tahta karena anak lelaki satu-satunya.

Kalau aku tidak ada, tidak ada manusia tidak jelas jenisnya dan menyusahkan semua orang.

Kalau aku tidak ada, tidak ada juga persaingan antara kakak dan Junhoe.

Mungkin tidak ada dan tidak mengenal siapa itu Goo Junhoe.

"Hah."

"Haha."

"Hahaha."

"Bodoh sekali kau, kemana Song Yunhyeong yang hidup sekedar hidup? Yang hidup hanya untuk melihat kakaknya yang pastinya tidak akan sebaik dulu? Song Yunhyeong yang gila perhatian dan egois? Yunhyeong yang hidup berusaha tanpa ada perasaan dan teman tetapi memimpikan hidup normal layaknya manusia? Yunhyeong yang tidak suka manusia karena tidak setia dan tidak suka manusia jenis aneh karena merusak hidupnya?"

"KAU SAJA BUKAN MANUSIA BODOH, BERHENTI MENGHARAPKAN HIDUP NORMAL DAN LANJUTKAN SAJA MEMBENCI DIRIMU SENDIRI!"

"HAHAHAHAHAHAHAHA!"

Tawanya masih berlanjut saat tubuhnya yang sempat telentang untuk bertemu muka dengan bantal kembali terduduk sempurna.

Ia memandang kedua telapak tangannya dengan ekspresi jijik.

Sihir sialan ini...Kalau saja...Kalau saja...

Kali ini dia kembali merasakan apa yang dirasakan oleh dirinya saat setuju untuk mengikuti Joongki keluar dari istana.

'...tidak apa-apa aku kehilangan semuanya. Aku lebih memilih kehilangan sihirku ketimbang kehilangan kakak!'

Seharusnya...Sejak awal sihirku ini lebih baik tidak ada saja. Disegel saja terus sampai mati.

.

.

.

"Appa?"

"Wah, aku terkejut."

"Jangan berpura-pura punya ekspresi, yah. Aku tau pasti kabar aku sudah siuman itu tersebar kemana-mana. Suara dan wajahmu pasti sangat datar dan itu tidak cocok sama sekali."

"Haha, baik-baik. Seharusnya kau berterimakasih padaku karena bisa keluar dari sana dan berubah menjadi seseorang yang lebih baik lagi setelah kumasukkan kesana."

"..."

"Inikah yang kudapatkan darimu hm? Ayah tidak becanda bilang bahwa ayah terkejut kau ternyata menelepon."

"Rasanya aku mau sumpah serapah kalau ayah tanya responku."

"Aneh rasanya menyebut dirimu ayah dan kau menyebut dirimu sendiri ayah."

"Aku tau. Jadi ada apa?"

"...Appa sama sekali tidak berubah."

"Apa yang kau harapkan huh?"

"Benar juga, di dunia kejam ini tidak ada yang bisa lagi kuharap-"

"Dengarkan aku sebentar."

"Untuk apa? Semuanya percuma. Kau juga sudah terlalu lambat untuk mengajakku bicara. Kemana saja kau selama ini? Membiarkanku remaja sendiri? Kau pikir karena sikapmu itu, aku akan dewasa dan mandiri sendirian seperti Joongki? Sekarang aku sudah besar, aku bisa memutuskan pilihanku sendiri dan tidak akan mendengar kata-kata-"

"Kakakmu belum mati."

"A-apa?"

"Joongki. Song Joongki. Joongkimu belum mati."

.

.

.

Tok tok tok!

"H-hyung? Kau di dalam?"

"Yak! Paboya! Kau pikir dia akan menyaut huh?"

"E-eh iya, benar juga ya..."

Donghyuk asik berdebat dengan Hanbin yang mengulas senyum kikuk saat Jinhwan merengsak maju.

"Biar aku saja."

Tok tok tok!

Semuanya terdiam.

"Halo, Song Yunhyeong."

Masih tak ada jawaban.

"Ini aku, Kim Jinhwan. Hyungmu."

Tetap tak ada jawaban.

"Aku tau kau mendengarkanku. Aku tidak mengharapkan responmu karena aku tau kau pasti sangat terguncang sekarang jadi dengarkan saja-"

"Untuk apa mendengarkanmu. Semuanya sia-sia. Semuanya sudah berakhir. Aku sudah tamat, kerajaan yang diagung-agungkan raja vampir itu sudah tamat."

"Song Yunhyeong, dengarkan aku dulu-"

"Memangnya kau siapa sampai aku harus mendengarkanmu? Sampai aku harus menurut padamu? Hanya karena lebih tua kan? Kau bukan hyungku, bukan siapa-siapa bagiku. Teman? Sahabat? Hah, tidak mungkin. Itu tidak pernah ada."

"Aku, Song Yunhyeong tidak akan pernah mempunyai teman ataupun sahabat."

"Yunhyeong hyung, tolong dengarkan sebentar."

"UNTUK APA AKU MENDENGARKAN KALIAN? KALIAN BUKAN SIAPA-SIAPA! MENDENGAR SUARA KELUARGAKU SAJA AKU TIDAK AKAN MENURUT!"

"Ah, tunggu dulu. Apa aku punya keluarga? Hahahaha~"

"O-oppa..."

Yunhyeong yang tengah menatap jendela ruang rawatnya langsung mengepalkan tangannya yang berlumuran darah; dipaksakannya untuk mencabut jarum infus disana.

"Kau pikir aku akan terpengaruh, nae dongsaengie?"

"Terkejut ya? Aku memang seperti ini, haha."

"Song Yunhyeong itu dibuat seharusnya tak memiliki hati agar pemerintahan akan ada di tangannya."

"Song Yunhyeong yang kau kenal dulu sudah lama mati, semenjak kepergian tanpa aba-aba dari adiknya."

"Ka-kakak..Hiks!" Eunji mengusap kasar airmatanya yang menitik. Tubuhnya sedikit bergetar karenanya. "Ma-maafkan aku karena aku salah kak...Aku harus cepat-cepat dinikahkan agar tidak terlibat forced karena keluarga kita berada di kelas tertinggi vampir dan memiliki dua orang vampir laki-laki-"

"Aku tidak bertanya dan tidak peduli."

"Ka-kakak..." bruk!

"Astaga! Song Eunji!"

"Nu-nuna! Sadarlah!"

"A-ayo bantu dia berdiri!"

Yunhyeong masih terus menatap langit yang perlahan menunjukkan cahayanya.

Percakapan telepati dengan sang ayah masih terus terngiang di kepalanya.

"Ma-maksud ayah?"

"Kau akan tau sendiri nanti. Ini keputusan kakakmu untuk menghilang jadi aku tidak berhak untuk ikut campur masalahnya. Tunggu saja sampai dia muncul."

"Apa kakak..."

"Ya, benar. Dia merasa berdosa karena menyakitimu. Untuk alasan perilaku kasarnya sebelum hari itu, aku tidak berhak untuk menjelaskannya."

"Bagaimana dengan Junhoe?"

"..."

"Appa?"

"..."

"Jujur saja."

"Ayah tidak menyukai anak itu."

"Tapi itu alasan terlalu objektif, masih banyak keunggulannya dibandingkan kesalahannya. Sebagai raja seharusnya, aku bijaksana."

"Namun ini menyangkut anakku sendiri. Dan benar kata pepatah, ketika nilai setitik rusak susu sebelanga wajar manusia hanya melihat kesalahannya saja."

"Tapi kita bukan manusia."

"Aku tau."

"Aku tidak bisa selamanya menghalangi kalian berdua karena bagaimanapun kalian sudah ditakdirkan untuk bersama. itu bukan hakku dan tidak berarti apa-apa karena kalian berdua nampaknya sama-sama keras kepala untuk sekedar menurut."

"Tapi dia nampak tidak mencariku sama seka-"

"Belum dan aku tidak tau alasannya."

"Datang saja ke sekolahmu pagi nanti, kau bisa menemuinya."

Sudah Yunyeong putuskan.

Hari ini, hari dimana kesadarannya kembali, dia akan kembali juga ke sekolah.

Hidup seperti manusia.

Bertingkah seperti manusia.

Rasanya rindu juga 'berpura-pura' dan hidup mulus seperti dulu.

Ah, tidak.

Apakah hidupnya akan monoton atau sama saja seperti dulu setelah semuanya terjadi?

Yunhyeong jadi tak sabar untuk bertemu dengan 'teman-teman'nya.

Apa mereka merindukannya?

Ah, bukan itu pertanyaannya.

Apa mereka mengingatnya? Mungkin saja nama Song Yunhyeong sudah terhapusnya atau dimaki-maki.

...

Telan sj aku

Aku rela

:")

HEBEDE NDUTTTT /ala nam joo hyuk di weightlifting kim bok joo/

CIE 20 TAHUN:")

CIE BARENGAN ABANG RASA ADEKNYA HANBIN KESAYANGANMU (re: Changkyun)

CIE BARENGAN MOONBIN (aih kok bisa, siapa yang lahir duluan coba?!)

CIE UDAH GEDE:") BISA MINUM SEPERTI HARAPANMU DONG DEK (halah, gabisa minum juga kek June:")

CIE DIRAYAIN YG(?) YANG KEDUA KALINYA(?) EHE.

Harapannya? Gausah ya, kamu kan udah punya harapan dari pensmu yang ngaku istri itu:) kamu mah jadi harapanku sj tq ((cukup ikon kambek aja kok, stop jepang-jepangan tlg:"))

(((((btw ini buat yang request yunjunnya cepat. Tolong ini sudah pangkas berapa part ya)))