Segelinding nanas tampak sedang melakukan sesuatu dengan cawan keramik dan beberapa tabung kimia berisi cairan warna warni. Ruang klub penelitian supranatural yang menjadi tempatnya bereksperimen itu remang cahaya. Matahari tak diijinkan mengintip dari balik tirai, memberi privasi mencurigakan untuk sosok semistis kabut dalam hutan yang dalam.
"Kufufu, " dia tertawa tak lazim, menambahkan hawa dingin ke penjuru ruangan yang sudah nampak angker sampai luar.
Ia mengambil segenggam tanaman bunga yang dengan susah payah ia curi dari rumah kaca klub berkebun. Cukup sulit menerobos masuk rumah kaca luas yang bahkan bisa dibilang hutan kecil dengan banyak tanaman wajar dan tidak wajar di sana. Dia bahkan sempat tersesat saat ingin keluar setelah mendapatkan apa yang ia cari, beruntung ada lubang tikus yang cukup untuk dia gelindingi.
Dia menambahkan beberapa cairan tak dikenal yang tidak ingin Author tahu. Menghaluskannya menjadi cairan kental berwarna merah berbau anyir. Suasana horor menebal ketika kabut tipis muncul hingga sesosok semangka muncul di belakang nanas yang meracik ramuan mencurigakannya. Sebuah ember air di tangan kirinya.
"Nufufu, apa sudah selesai?" sang semangka memastikan, rencana mereka berdua sudah dimatangkan dan semoga berhasil. Rokudo punya harga diri untuk sukses.
"Kufufu, tenang saja. Aku sudah hampir selesai dengan persiapannya." sang nanas menyeringai lalu menunjukkan apa yang barusan dia buat.
"Baik, aku akan mulai dengan korbannya." semangka itu berbalik, dia mencelupkan sebongkah dry-ice ke ember airnya sebelum mengenakan tudung jaketnya lalu keluar dari ruang klub absurd itu bersama kabut.
Disclaimer, Amano Akira
Ruang komite OSIS tampak hening dan penuh sesak menyaingi gudang. Beberapa properti acara yang sudah disiapkan untuk musim depan mendominasi kekosongan.
Tiga orang siswa masuk dengan kardus di tangan mereka. Yamamoto Ugetsu mengarahkan dua temannya untuk meletakkan barang di tempat yang masih muat. Knuckle dan Lampo menurut saja. menghela napas lega karena tugas mereka sebagai kuli OSIS hari ini berakhir.
"Senpai, sudah 'kan? Lampo-sama sudah capek." Remaja hijau bermata malas menguap lalu meregangkan tubuhnya. Padahal dia yang paling sedikit bekerja.
"Kau harus mengerjakan segalanya dengan to the MAX Lampo!" Knuckle mengangkat kepalan tangannya. Ugetsu hanya tertawa pelan.
"Maa, maa, ini yang terakhir. Jadi kalian bisa santai seka-" belum juga Ugetsu menyelesaikan kalimatnya, kabut masuk dari pintu mereka masuk tadi disertai tawa horor. Mereka bertiga sweatdrop dan menyatukan pikiran. "Kita segera pulang." Ugestu setengah memerintah. Sebagai kohai yang baik, mereka haruslah menuruti senpai demi kebaikan diri sendiri. Lagi pula, tidak ada yang mau berurusan dengan pucuk-pucuk jantan yang mencari masalah.
Hibari Alaude berjalan tegap menuju ruang ketua OSIS, dia baru selesai berpatroli di area SD, SMP dan SMA Namimori. Hanya tinggal memastikan sang ketua tidak bolos dari pekerjaannya saja yang harus dia pastikan. Ketua idiot itu kadang bisa menggunakan missdirection jika sedang serius tidak mau berurusan dengan paperwork.
Baru Alaude sampai di lantai tiga, banyak keganjilan yang Alaude gagal paham sudah tersedia di sepanjang lorong hingga ruang OSIS. Ruang ketua OSIS ada di dalam ruang OSIS itu sendiri, jadi Alaude tidak bisa menghindari hal absurd ini. perempatan besar sudah melekat di kepala mayonaise-nya.
Jendela yang di tutup di sepanjang lorong, lampu yang berkedip-kedip mengikuti suara klik-klik-klik dari salah saru ruang kelas. Kabut yang berasal dari sela pintu ruang OSIS, aroma besi berkarat, lampu yang mati satu persatu mengikuti langkah Alaude. Tidak mau Alaude akui ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Mungkin karena ada dua pucuk yang mengerjakan kajahilan tahunan ini. Demi monyet unyu punya kakaknya, Alaude berdoa semoga ada dokter sepesialis untuk dua Rokudo ini.
Alaude memegang kenop pintu dan menahan napas lalu membukanya. Asap putih tebal membawa aroma 'darah' jatuh mengguyur Alaude. Ruang OSIS masih berisi asap putih yang seharusnya menjadi kabut itu. Alaude hanya bisa melihat warna putih dan siluet. Tawa nu/kufufufu terdengar menggema di ruang yang penuh sesak oleh properti itu.
Dengan sabar Alaude menunggu, kabut itu menipis dan beberapa kerlip cahaya terlihat di antara barang-barang di sana. Dengan teliti Alaude mengabsen tiap sudut, bayangan dan siluet. Lalu melempar borgolnya di sisi terjauh ruangan dekat jendela. Suara merintih dan bedebum terdengar lalu suara langkah mendekat dari luar ruangan.
Tidak perlu menggunakan intuisi tingkat hiper untuk tahu siapa yang memiliki langkah terburu-buru yang menghentak itu. Alaude menyelamatkan diri dengan kabur ke ruang ketua OSISnya. Kabur? Oh tentu saja dia harus! Dia masih mau hidup, menghindari kekesalan dan anak panah dari senpai guritanya itu adalah hal yang absolut untuk sekarang ini! tentu saja Alaude tidak mau mengakui kalau senpai guritanya itu hebat! Tidak! G hanya seram kok... ya... 'kan?
TBC
FYI : SMA Namimori
(kelas 1) Rokudo Mukuro, Bovino Lampo
(kelas 2) Hibari Alaude, Sasagawa Knuckle, Rokudo Spade
(kelas 3) Sawada Ieyasu/Giotto, G, Yamamoto Ugetsu
/sorry G, kau hanyalah seorang bujangan yang hidup sendirian, jangan tanya ada hubungan sama Gokudera pa kagak! :v/
SMPNamimori
(kelas 1) Sawada Tsunayoshi, Gokudera Hayato, Yamamoto Takeshi
(kelas 3) Dokuro Chrome, Hibari Kyoya, Sasagawa Ryohei
Ada OMAKE-nya, cuma cari sendiri. Tolong jangan ember ya Natsu Yuuki-san, anda febeleeessss :"V
sankyuu~ zhichaloveanime, Caeliayuuki, Cocoa2795, Natsu Yuuki, Sarasa Riani, Hikage Natsuhimiko, Kuroshi Charlice, Axerleoulus Xenon Xeluarixion, Xx-Aotsuki-xX, shinobu millieur, Ssora0, Cloud the First Tsurugi, Zara Zahra, Remah-Remah Rengginang, Renkou-tachii, tatsumi lover, Guest, Kyuushirou, AkabaneKazama
