Chaptter 25

.

.

.

Mohon maaf yang sebesarbesarnya teman2... Ada yang merindukanku? PLAAAAAAAAKKKK

.

.

Aku tahu ini sangat lama, so late.. im so sorry about that. Well, semua tidak bisa berjalan sesuai yang aku inginkan. Ketika sudah dibuat, mentok separuh.. selanjutnya, bisanya dilanjutkan hari berikutnya. Disiplin waktu itu sulit, jika harus tepat waktu juga sulit.. buat ibadah tepat waktu aja.. amppuun dah.. Tuhan ampuni hamba...

.

.

.

Warning alur sinetron masih ON, so jangan harap ini akan cepat. Masalah/ konflik cerita ringan, aku lebih mengutamakan hubungan bitter sweet Sasu-Sasku.. bagaimana stranger menjadi dekat.. lebih ke itu..

So, jika bosan atau tidak suka, sumangga skip or abaikan aja...

.

.

.

Sekali lagi, maaff... aku masih berjuang di perjalanan hidup yang begitu memenjara... Karena masih bolak balik ke rumah sakit ya mohon dimaklumi ya.. hehehe..

Dozo...

.

.

.

SAKURA'S LOVE STORY

.

Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Sabaku no Gaara,

Uzumaki Karin, Ino Yamanaka, Shimura Sai, Namikaze Naruto, Madara Uchiha, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.

.

Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.

saya Cuma minjem nama dan karakternya.

Cerita murni dari saya.

.

=SATA ERIZAWA PRESENT=

.

WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC,

.

Rated: T

.

ALUR SINETRON

.

===========ITADAKIMASU==========

.

.

.

.

Sakura sudah tak memiliki banyak tenaga lagi untuk berdebat dengan Sasuke. Ia sudah pasrah dengan kelelahan ini..."Aku sudah memikirkannya, Sasuke..."

"..."

.

.

.

"Ayo kita bercerai!"

.

.

.

.

Sasuke terdiam mendengar penuturan istrinya yang tengah berbadan dua itu. Bercerai ya? Menurut kamus bahasa yang ia baca, bercerai adalah berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan. Intinya adalah berpisah dari ikatan pernikahan yang sudah terjalin. Sasuke. Dapat. Memahaminya. Dengan. Sangat. Jelas. Dan. Gamblang. Otak jeniusnya memang tak bisa ditawar lagi.

Karena Sasuke jenius, maka otaknya kembali loading.

Sakura meminta cerai darinya. Sakura sedang mengandung. Mengandung anaknya. Jika bercerai sekarang, bagaimana nasib anaknya? Nasib Sakura setelahnya? Apa mereka berdua bisa hidup dengan baik tanpanya? Lalu, siapa yang akan menemani Sakura lahiran nanti? Bukankah biasanya si ayah bayi harus menemaninya? Bagaimana dengan bayinya? Susu formulanya? Popok bayinya? Siapa yang harus mengantarnya untuk imunisasi? Siapa dokternya? Bagaimana dengan mainan bebek kuning yang dipencet bisa berbunyi itu?

Lalu.. Jika jadi bercerai sungguhan..

Bagaimana ia harus menjalani hari-harinya tanpa anak dan istrinya? Apa itu susah? Apa itu mudah? Apa ia akan kesepian? Apakah kakek akan memarahinya? Ah itu sih tentu saja, ibunya dan sang nenek pasti juga akan memarahinya habis-habisan. Ia tidak yakin, satu hari dapat kuliah dari ibunya itu cukup. Ibunya itu kalau sudah ngomel, maka akan lupa waktu. Itu sangat seram. Dulu, saat ia jatuh dari sepeda aja, Ibunya ngomel sampe 3 jam. Dan parahnya, ia hanya bisa duduk terdiam sambil menundukkan kepala. Ia bahkan sampai tidak bisa ke kamar kecil.

Dan masih banyak lagi kemungkinannya...

Intinya, jika ia bercerai dengan Sakura... bukankah itu akan sangat merepotkan?

Iya merepotkan..

Sangat malah..

Lebih merepotkan dari pada ngurusin protes klien yang keras kepala.

.

.

Ship, itu hasil akhir pemikiran otak jenius Sasuke yang super itu. XD

"Istirahatlah, kau masih lemah!" Sasuke hanya membenarkan selimut tidur Sakura.

"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Sakura membenarkan posisi tidurannya dengan menatap Sasuke.

"..."

"AKU INGIN KITA BERCERAI!" Sakura berkata mantap di depan Sasuke.

Sasuke berhenti membenarkan selimut Sakura. Ia lalu membalas menatap tajam Sakura. Sangat tajam, jauh lebih tajam dari tatapan mata Sakura. Ia berusaha mengunci Sakura kedalam kelamnya mata onyxnya. Memaksa wanitanya itu untuk terpenjara dalam tatapannya. Ia lalu memajukan wajahnya sedikit demi sedikit. Memangkas ruang antara ia dengan Sakura. Sakura sedikit goyah ketika mengetahui jarak yang semakin dekat dengan Sasuke. Ia mengedipkan matanya. Ia merasa terintimidasi Sasuke yang terus saja memangkas jarak di antaranya. Terus, terus, dan terus semakin dekat.

Sakura bahkan bisa merasakan hembusan nafas hangat Sasuke di depan wajahnya... Ini sudah sering ia rasakan ketika ia begitu dekat dengan suaminya.. rasanya.. seperti.. kangen?

"Ke-kenapa dengannya? Apa yang hendak ia lakukan? Kenapa dia malah semakin memajukkan wajahnya? Aku hanya meminta bercerai darinya, kenapa dia malah tidak menjawabnya? Duhh... semakin dekat saja wajahnya. Loh, apa Sasuke setampan ini ya? Memang tampan sih, tapi apa hari ini dia ini bertambah tampan? Poni rambutnya acak-acakan. Matanya sayu. Kurang tidur pasti itu... Matanya tajam, tajam seperti silet, aku kadang takut untuk menatapnya. Sangat dingin dan gelap... Hidungnya, masih always mancung, dia tidak oplas, kan? Tidaaak, apaan sih... lalu... bi-birnya... glupp.. aku menelan ludahku...Tunggu... bukankah ini... se-seperti yang wa-waktu itu?... Kiss?... Ki-kiss?.. Sasuke a-akan melaku-kukannya padaku? Sa-saat ini? Heeee... nani kore?... Moouuu..." Gugup Sakura yang langsung memejamkan matanya. Ia mencoba menjauh tapi tidak bisa. Sasuke terus saja mencoba mendekatinya. Semakin dekat dan tak terelakkan lagi.

"Saat aku menyuruhmu istirahat, kau harus istirahat! Aku belum makan sejak kemarin, dan itu membuatku sangat lapar!" Kata Sasuke di telinga Sakura.

.

.

.

Sakura membuka matanya cepat... "He? La-lapar?" ... Kruuuyuuuuk... Benar Sakura mendengar suara perut Sasuke. Ia lalu mendorong pelan bahu Sasuke dan melihat ke arah perut Sasuke... Padahal ia sudah mengandaikan apa yang akan terjadi dengannya, tapi ternyata Sasuke hanya ingin mengatakan jika Sasuke sedang lapar. Jadi ciumannya batal ya? Tidak jadi? Bukankah tadi pose pas untuk berciuman?

Huwaaah, apa-apaan ia ini? Kenapa wajahnya memerah? Ini sungguh memalukan. Harusnya Sasuke yang malu karena perutnya tiba-tiba bernyanyi, kenapa dia yang lebih malu?

Apa yang kau harapkan sih, nyonya Uchiha?

"..." Sasuke menatapnya biasa.

Sakura bingung... "Ano ne, Sasuke.. aku ingin kita berce..uuuupppp"

.

.

.

.

Dan... Sasuke sungguh menciumnya.

.

.

.

.

.

.

Sasuke melepaskan ciuman itu. Ia menatap mata Sakura yang membesar karena terkejut. Jika ini adegan film, maka ia akan mengambil kembali arwah Sakura yang melayang diudara. Memasukkannya kembali ke dalam raga Sakura. XD.

Sasuke memegang bahu Sakura... "Aku tidak suka dibantah dan kau sudah terlalu banyak membantahku akhir-akhir ini. Tapi tenang saja, aku memaafkanmu. Istirahatlah..! Aku tidak mau bayi itu ikutan sakit karenamu!"Kata Sasuke sambil melihat ke arah perut Sakura. Sakura mengikuti arah penghlihatannya. Kemudian Sasuke bangkit lalu mengacak-acak pelan rambut Sakura... "Aku ke kantin dulu, jika butuh apa-apa, panggil saja Shikamaru! Jaa.."

Sasuke meninggalkan Sakura yang bengong karena bingung.

Bayi?

Ikutan sakit?

Karena dirimu?—ahh, maksudnya dirinya? Karena dirinya? Sakura kembali menatap perutnya?

Bayi?

Ia lalu memegangi perutnya.

Lagi... Bayi?

Di dalam perutnya?

Ada bayi?

...

..

.

BAYIIIIIIIIIIII?

Matanya kembali membulat. Jauh lebih bulat dari tadi.

Jika di dalam perutnya ada bayi, itu artinya... ia tengah mengandung?

Ha-hamil?

HAMIL?

Bagaimana bisa? Bagaimana dengan tanda-tandanya? Muntah? Mual? Sepertinya tidak... Ia coba mengingat kembali. Ahh, masuk angin itu. Awalnya ia duga seperti itu.

Tidak mungkin...!

Hamil?

Anak siapa? Bukankah orang yang menyentuhnya hanya orang itu saja? Ya.. ya memang hanya orang itu saja. Tapi masak bisa? Bukankah baru beberapa kali. Ma-maksudnya, ya.. ya itu.. anu.. di saat seperti ini? Batin Sakura bergemuruh. Sungguhkah ia sedang hamil?

Anak Sasuke?

"HEEEEEEEEEEEEEEE?" Teriak sakura cukup keras.

Di luar kamar inap sakura...

"Hmm, dia sudah baikan rupanya.." Gumam Sasuke... Ia sudah menduganya jika Sakura akan sangat terkejut.

Shikamaru juga cukup kaget karena teriakan Sakura yang terdengar dari luar kamar inap. "Sasuke-sama, Nona Sakura..."

"Dia baik-baik saja... Aku ke kantin dulu, maaf Shikamaru, tolong jaga dia!"

"Hai, Sasuke-sama.."

Sasuke menepuk bahu Shikamaru. Tanda jika ia sangat mengandalkan sahabat sekaligus bodyguardnya itu. Setelah itu, ia lekas menuju ke kantin rumah sakit.

Shikamaru menatap punggung tuan mudanya yang menjauh. Menghilang di kejauhan batas matanya memandang. Ada hal yang melegakan di hatinya, sebagai sahabat yang sudah sejak dulu berada di samping Sasuke, baru kali ini ia melihat Tuan Mudanya itu... tersenyum... Bukan berati Sasuke tidak pernah tersenyum, hanya saja, kali ini, senyum yang Sasuke tunjukkan itu berbeda. Jauh lebih ikhlas dan terlihat... bahagia?... Entah apa ia salah mengartikan atau bagaimana, yang jelas ia ikut bahagia karenanya. Semoga ini pertanda baik.

Haruskah ia melaporkan kejadian ini pada Tuan Besar?

Rasanya tidak perlu, toh Tuan Besarnya itu akan segera datang.

.

.

.

Sakura's Love Story

.

.

.

Mendengar kabar kehamilan Sakura, ibu, Ibu Mertua, dan nenek Chiyo langsung menyerbu rumah sakit. Menyerbu kamar Sakura. Saking bahagianya, Mikoto bahkan sampai memberi hadiah pakaian bayi pada Sakura. Membuat Sakura speachless saja. Bayangkan saja, Ibunya dan Ibu mertuanya saling adu argumen soal anak Sakura nanti. Ibu Sakura pro anak cowok, sedangkan mertuanya pro anak cewek. Karena tidak sependapat, merekapun saling membandingkan keunggulan anak harapan mereka. Mereka bahkan sudah membahas masa depan si anak. Mau kemana, sekolah dimana, jadi apa... Sakura hanya diam saja, ia enggan menanggapinya. Terang saja, anaknya saja belum lahir, masak sudah memikirkannya sampai sejauh itu? Dirinya sendiri bahkan sulit menerima jika ia tengah berbadan dua. Perutnya masih cukup rata, bisa saja Sasuke membohonginya, kan? Bisa saja hasil tes yang Sasuke tunjukkan kemarin itu juga bohong.

Pukul satu siang, ia mulai terbebas dari keluarganya. Lega. Bukan apa, tapi sungguh, tadi itu sangat berisik. Ia ingin istirahat saat keadaan sepi seperti ini. Jika ada Sasuke, ia sungguh tak bisa istirahat dengan tenang. Yang jelas, ia hanya tidak tahu bagaimana memasang wajah di depan Sasuke. Setelah hari kemarin, ia memilih untuk menghindari Sasuke, menghindari berbicara dengan suaminya itu. Ia tidak memiliki stok kosa kata untuk berbicara dengan Sasuke. Maka dari itu, meski Sasuke menemaninya di rumah sakit, ia memilih untuk sok pura-pura tidur. Sasuke pasti tahu apa yang ia lakukan, tapi sepertinya Sasuke memilih untuk membiarkannya. Haruskah ia berterima kasih?

/

Perasaan lain mulai datang, kenapa ia merasa sangat nyaman jika Gaara berada di dekatnya? Rasanya seperti dulu, seperti saat masa indah di SMA. Masa dimana dengan mudahnya untuk tertawa. Sebenarnya sih ada rasa yang sulit dijelaskan. Awalnya terasa mengganjal. Seperti, bagaimana ekspresi Gaara saat mengetahui dirinya sedang hamil? Gaara adalah mantan kekasih loh... Hmm, bodoh jika ia masih terlalu percaya diri, saat gaara menyapanya dengan senyuman hangat, sudah pasti Gaara baik-baik saja, kan? Kisahnya dengan Gaara sudah berakhir, begitulah Sakura mengartikannya.

"Masih marah? Sudah dua hari, Sakura.."

"Pulanglah sana! Aku tak masalah sendirian di rumah sakit.."

"Bisakah kau menjawab dengan senyuman seperti yang kau lakukan saat dengan Gaara tadi?"

"Gaara-senpai itu orang baik, Sasuke, tentu saja aku bisa tersenyum saat berbincang dengannya. Maaf saja, aku tak bisa melakukannya dengan orang jahat." Sakura mencoba menyindir.

Sasuke menghela nafas. Ia hanya mencoba menyabari sikap Sakura yang berubah-ubah akhir-akhir ini... "Baiklah, aku memang orang jahat dan Gaara-senpai-mu itu orang yang paling baik. Luapkan saja semua asa marahmu padaku, aku akan senang hati menerimanya..."

"Mudah sekali kau mengatakannya! Aku memang sangat ingin melakukannya, Sasuke. Sangat... Tapi, aku sudah lelah dan aku ingin segera menyudahinya."

"Kau tak bosan ingin membahasnya lagi?"

"Aku tak akan bosan sampai kau menyetujuinya."

Ini akan kolot seperti yang sudah-sudah..

"Kehidupan ekonomimu akan sulit jika kita bercerai.."

Itu memang fakta. Sasuke benar adanya. "Tak bisakah kau memilih kata-kata yang pantas, hei Tuan?... Secara ekonomi memang akan seperti itu, tapi aku akan melaluinya."

"Terlalu berat jika anak itu sudah lahir.."

Sasuke mencoba dewasa, tapi sakura masih ngeyel. Ngeyel ingin tetap bercerai. Hingga akhirnya sang Tuan Besar Uchiha datang menjenguk. Ekslusif dari Australia langsung ke rumah sakit di Tokyo Jepang tanpa mampir rumah.

Secara teknis, kakek Madara sudah tahu seluk-beluk masalah yang dialami kedua cucunya itu. Shikamaru adalah data basenya. Ia adalah sosok orang tua yang sudah cukup berpengalaman di kehidupan dunia. Sebagai orang tua, ia akan memberikan ilmu dari semu pengalaman yang ia sudah jalani. Melihat kedua cucunya saling bertengkar serius seperti ini, membuatnya harus melakukan sesuatu. Ini penting, tak hanya untuk kebaikan Sakura dan Sasuke, tapi juga untuk dirinya sendiri, ia memiliki motif lebih besar dari sekedar menjaga hubungan baik Sakura dan Sasuke. Apakah itu? Kakek Madara sendiri sudah lama menyimpannya di dalam pintu rahasia hidupnya.

/

Usai menyuruh Sasuke keluar, kakek Madara berniat mengobrol empat mata dengan Sakura. Ada hal yang perlu ia sampaikan kepada cucu menantunya itu. Dan hal itu sangat besar. Sudah lama ia ingin mengatakannya,tapi belum memiliki waktu yang tepat. Kali ini adalah waktunya..

"Kau ingin mendengarkan sebuah kisah?" Tanya kakek Madara.

"Sebuah kisah?" Rada tak yakin dengan ungkapan kakek Madara, setahunya, kakek mertuanya itu bukan orang yang suka mendongeng sebelum tidur. Tapi ia ingin mendengarnya, sudah lama ia tidak berbincang dengan sang kakek. Iapun lalu mengangguk menyetujuinya.

"Dahulu ada seorang teman kakek, dia sangat baik dan pekerja keras. Dia memiliki impian yang besar. Suatu saat, ia harus menikahi wanita yang tak dicintainya karena suatu perjodohan. Karena teman kakek itu adalah orang yang baik, maka ia mencoba berbakti kepada orang tuanya dengan menikahi wanita mencoba menjalani kehidupannya. Pelan-pelan. Sulit itu jelas. Selang tiga tahun pernikahan, hadirlah seorang putri cantik di dalam pernikahan mereka..."

Ini kisah yang menarik, setidknya memiliki kemiripan dengan apa yang ia alami... "Apakah mereka akhirnya bahagia?"

"Masalah kehidupan itu selalu datang dan pergi, Sakura... Begitupun kehidupan rumah tangga teman kakek. Semua menganggap jika dengan hadirnya anak di antara mereka, maka mereka akan bisa saling mencintai dan hidup bahagia selamanya. Itu hanyalah sebuah harapan semu, teman kakek melakukan kesalahan besar.. Dia memilih meninggalkan keluarga kecilnya demi impian besarnya. Dia memilih mewujudkan impiannya..."

"Aku tahu jika impian seseorang itu sangat berarti, tapi apa itu sulit untuk mewujudkannya bersama orang yang ada di sampingnya?"

"Itu kesalahan teman kakek, dia berfikir jika anak dan istrinya itu akan menghalangi impiannya..."

"Itu sangat jahat, kek..."

Kakek Madara menggeleng... "Kakek bilang teman kakek adalah orang yang sangat baik... dia memang sangat baik... Dia meninggalkan keluarga kecilnya untuk impian besarnya itu benar adanya, tapi... dia akan kembali saat impian besarnya itu terwujud.. Ia ingin mempersembahkan segala pencapaian impiannya kepada anak dan istrinya..."

"Lalu, apa dia sungguh kembali?"

"Dia kembali... Hanya saja..."

"Hanya saja?"

"Saat ia kembali, anak dan istrinya sudah menghilang entah kemana. Ia hanya bisa meratapi apa yang sudah ia lakukan. Egonya membawa petaka. Meski niatnya bagus, tapi karena ia tak mengatakan apa yang sejujurnya, maka semua menjadi penyesalan yang sangat besar dan tak berujung... Ia ingin keluarga kecilnya kembali, ia mencarinya setiap waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Bahkan...Tahun berganti tahun... ia tak pernah lelah mencoba mencarinya.. Pada akhirnya, dia meninggal karena penyesalan atas perbuatannya."

"Miris sekali..."

"Begitulah... Semua yang terjadi di dunia ini itu tak mungkin hanyalah sebuah kebetulan. Tuhan pasti sudah merencanakannya... Di saat teman baik kakek tak bisa menemukan keluarga yang ditinggalkannya, kini kakek malah menemukannya.. Itu juga sebagian janji kakek kepadanya..."

"Menemukan mereka?"

"Hn, dan dia sekarang tengah mengandung keturunan Uchiha."

Mata Sakura membesar... Benarkah ini? Dari kisah panjang yang kakek mertunya ceritakan mengungkap kenyataan yang begitu besar? Dan semua sudah terskenario dengan apiknya oleh Tuhan Yang Maha Kuasa? "Jadi teman baik kakek itu...?"

"Ya, Senju Hashirama, kakek kandungmu.."

"Kakekku?" Ia mencoba menata hatinya yang kaget bukan main. Ia ingat samar-samar tentng silsilah keluarganya, tapi memang benar jika ia tidak mengenal bagaimana sosok kakek kandungnya. Ibunya tidak pernah bercerita apapun soal kakeknya. aPa jangan-jangan ibunya juga tidak tahu?

"Sayang sekali, di saat aku menemukan kau dan ibumu, nenekmu sudah tiada sejak kau kecil. Maafkan kakek yang begitu lama mencari kalian..."

Cerita macam apa ini?

Keajaian?

Takdir?

Sungguh.. Ini sungguh di luar kuasa Sakura. Melihat begitu tulusnya kakek Madara menceritakan semua ini, memaksanya untuk mempercayainya. Kisah ini sungguh nyata terjadi. Jadi, selama ini yang sudah terjadi dalam hidupnya memiliki benang merah? Ia bertemu kakek Madara yang terluka, ia menyumbangkan darahnya, lalu ditawari sebuah pernikahan untuk memperbaiki hidupnya. Takdir Tuhan tertulis apik.

"Maaf, kakek tidak mengatakannya sejak awal. Kakek hanya ingin mencri waktu yang tepat saja. Andai saja waktu itu kakek tidak tertusuk pisau dan kau tidak menemukan kakek, maka mungkin kakek tidak mencari tahu latar belakangmu dan kau tidak ada di sini. Kakek bersyukur, kakek bisa menemukanmu dan ibumu. Dengan begitu, janjiku dan hashirama bisa terpenuhi... Nah Sakura, apa kau marah dengan kesalahan kakekmu?"

"..."

"Jujurlah..."

"Aku rasa kakekku hanyalah orang yang bodoh yang begitu pengecut tak mengungkapkan apa yang ia rasakan sebenarnya... Tapi, aku tahu jika dia sudah mendapatkan karmanya... Aku tidak memiliki hak untuk membencinya. Justru aku bersyukur, meski aku tidak pernah bertemu dengannya, tapi aku bahagia karena ternyata... aku memiliki seorang kakek..." Sakura tersenyum tulus.

Kakek Madarapun membalas senyuman cucu menantunya. "Jadi, kau mengerti kan maksud kakek menceritakan kisah ini padamu?"

"..."

"Apa kau sungguh-sungguh membenci ayah dari janin yang kau kandung, Sakura?"

"..." Sakura meremas seprei tempat tidurnya.

"Bocah bodoh itu memang keterlaluan... Tapi kakek tidak ingin kalian bernasib sama dengan Hashirama..."

"..."

"Kalian sudah dewasa, kalian sudah bisa menentukan keuntungan dan dampaknya. Kakek hanya memberi jalan."

"Arigatou, Madara-jiisan..."

/

/

/

Sakura's Love Story

/

/

/

Taman Rumah Sakit...

Sakura berjalan-jalan di sekitar taman rumah sakit untuk menghilangkan rasa bosan yang menderanya. Ia berjalan penuh rasa sewot. Harapan bosannya hilang berubah menjadi rasa kesal yang menjadi-jadi.

"Aku bilang tidak perlu mengikutiku!" Kata Sakura. "Pergi sana!"

"Kau masih lemah, Sakura..." Kata Sasuke.

"Aku tidak selemah itu!" Sakura kembali berjalan sambil meneteng tongkat gantungan infusnya.

Sasuke meraih bahu Sakura dan menatap Sakura tajam..."Kenapa kau susah sekali dibilangi sih? Kau itu masih lemah, kau perlu banyak istirahat! Kondisimu belum pulih!" Suara Sasuke meninggi.

Sakura menhempaskan tangan Sasuke dari bahunya... "Jangan menyentuhku!" Sakura membalas menatap tajam.

Sasuke mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya cepat. Mood swing Sakura sungguh keterlaluan... "Kau hanya perlu menganggapku tidak ada kan beres..." Walau ketus, tapi yakinlah Sasuke menghawatirkan Sakura.

"Bagaimana bisa, kau itu nyata, kau itu hidup dengan raga!"

"Dengar Sakura, aku adalah suamimu! Kita menikah secara sah. Kau mengandung anakku saat ini, bisakah kau mengesampingkan egomu saat ini demi anak kita?"

"..."

"Bisakah kau sedikit lebih dewasa lagi? Aku tahu aku salah, untuk itu..." Sasuke membelai pipi Sakura.. "...Maafkan aku!" Suara Sasuke melembut.

"Sa-Sasuke?... " Air mata Sakura menetes. Sasuke minta maaf kepadanya dan mengakui kesalahannya?

Sasuke cukup terkejut saat melihat air mata istrinya. Ia lalu menarik senyumannya. Seharusnya ia lakukan ini lebih awal tanpa perlu kucing-kucing dengan istrinya... Ia memeluk Sakura penuh kehangatan. Menghadirkan sensasi nyaman. Ia mengecup pucuk kepala Sakura dan mengelus rambut Sakura yg sudah Sakura potong itu.

Sasuke mendengar isak tangis Sakura di dalam pelukkannya.

Sakura memeluknya semakin erat. Ia bisa merasakan cengkraman kuat di kemeja putihnya. Membuat Sasuke kembali menyunggingkan senyuman tipisnya.

Sakura sudah luluh... Luluh sungguhan atau memng efek mood swing Sakura karena sedang hamil? Haruskah ia memastikannya sekali lagi?

"Kau ingin aku berlutut untuk meminta maaf kepadamu?" Tawar Sasuke.

Sakura menggeleng di dalam pelukkan Sasuke.

"Jadi... apa kau memaafkanku?"

Sakura mengangguk.

Sasuke ingin melihat wajah Sakura, tapi Sakura menolaknya. Ia kembali mengeratkan cengkraman kedua tangannya... "Biarkan seperti ini lebih lama lagi...!"

/

/

/

.

.

.To be continued...

.

.

.

.

Mentok segitu dulu,,,

Seperti yang aku bilang.. jadi ceritanya kenapa ini sangat lama updatenya, karena aku lagi banyak ujian kehidupan. Ayahku Juli oprasi.. ada masalah ma ginjalnya.. seingatku, aku sudah penah bilang di chapter depan jika aku masih bolakbalik ke RS. Selama terhitung dr April kemarin sampai saat ini.. masih harus kontrol... bener-bener belom bisa konsen buat nulis. Pikiranku masih untuk ayahku... jadi harap maklum ya...

.

.

.

Tetap semangat, meski dunia kadang mengkhianati kita...