CH 25

Babak terakhir sebuah 'Game' yang mempertaruhkan hidup-mati petarungnya akan dimulai. Para Petarung telah di kerahkan, sistemnya adalah satu lawan satu, Death Match. Gerbang dimensi yang digunakan sedikit berguncang dan tak seperti biasanya, dan setelah ia sadar ujungnya ada di ketinggian 1000 kaki di udara. Yang Takuya lihat dimana mana adalah padang pasir, dari ujung ke ujung. Meski ada beberapa batu berbagai macam ukuran, bahkan ada yang sebesar gunung.

Dia merapalkan sihir angin dan dia mendarat tanpa kesulitan "Eh? Musuhku belum datang." gumamnya sambil menggaruk belakang kepalanya, keheranan. Dia menoleh kesana kemari sambil berjalan tak tentu arah. Angin yang berhembus terasa kering dan membuat perasaan tak enak. Tapi Takuya terus berkeliling, memeriksa bebatuan bahkan menyibak pasir. 'Aku ingin ini cepat berakhir'

"Halo? Ada orang disana?"

Takuya seketika menoleh ke arah suara itu datang. "Ayolah! Masa tak ada orang pun disini?! INI DIMANA ELAH!" teriak orang itu.

"… Kazu? Kau sedang apa disini?" Takuya memiringkan kepalanya dan berjalan menuju sosok yang membelakangi dirinya itu.

"Eh?" Takao berbalik. Masih mengenakan jubah yang biasa dia pakai dan seragam kurir.

"…" keduanya sama-sama terdiam, saling menatap dengan muka bodoh masing-masing.

"Pfft! Hahahahaha! Astaga! Aku berpikir kalau tak masalah siapapun asalkan ada orang disini, dan aku malah bertemu denganmu! Man, kita memang ditakdirkan bersama!" tawa Takao renyah seperti biasanya, dia merangkul bahu Takuya dan menggoyangnya bersahabat, wajahnya juga memancarkan kegelian dan kelegaan, dibanding dengan wajah dan suaranya yang tadi…

Itu membuat Takuya juga ikut tertawa "Hahaha tapi serius, bagaimana bisa kau ada disini, Kazu?" sebaiknya Takuya tidak menceritakan tempat apa ini. Ia tidak ingin kawan baiknya panik, meskipun dia juga sepertinya tidak terlalu panik kalau tau yang sebenarnya.

"Sebenarnya sampai tadi aku melakukan pekerjaanku sebagai kurir seperti biasa, karena kau pergi pelanggan cewek kita berkurang dan setiap hari ada saja cewek yang modus ingin tau gimana kau saat jadi kurir dan meminta foto yang ada kau-nya tanpa memberi apapun selain sweet-talk, teman-teman mengutukmu termasuk aku. lalu saat aku berjalan sambil melamun sehabis mengirim barang tiba-tiba aku ada disini." Kata Takao menjelaskan dengan serius.

Tampang Takuya lempeng "uh, yeah, gitu ya" entah harus apa dia menanggapi ini.

TENNGG!

Takuya terkejut saat pertanda game babak terakhir ini dimulai. Ia mengalihkan perhatiannya dan menatap langit di segala penjuru. Sebelum ini mereka memberitahu kalau pertanda game babak ini dimulai dengan sedikit berbeda, kalau babak-babak sebelumnya langsung dimulai begitu pindah tempat, sekarang menunggu aba-aba terlebih dahulu, sebuah bunyi akan berdentang saat kedua pemain bertemu karena luasnya medan. Hal itu bisa di gunakan para pemain untuk menyiapkan perangkap, dan menjalankan rencana mereka dengan lebih berhati hati.

Takao masih ada disini, Takuya masih belum menemukan musuhnya, tapi bel itu sudah berbunyi. Jangan-jangan…. Tidak mungkin-!

Takuya berbalik kearah Takao dengan cepat "Kazu! Kau-"

SLASH

Mata birunya terbelalak

Takao tak berekspresi di depannya, menatap takuya kosong. Tangannya terangkat di selimuti oleh sihir hitam yang memanjang dan membentuk pedang. Garis berwarna hitam menjulur seperti tanda kutukan, membuat kulit Takao mempunyai ukiran meliuk yang rumit seperti dosa. Bagian putih matanya menjadi hitam dan mata silvernya menyala sinis. Seperti bukan manusia.

Takuya memegang bahu kirinya yang tadinya masih mempunyai lengan, darah mengucur deras dan menciprat beberapa kali karena tekanan jantung "AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKH!" teriakannya sangat memilukan. Saking sakitnya dia menitikkan air mata dan berlutut. nafasnya langsung tak beraturan, Takuya lalu menggertakkan giginya dan merapalkan sihir penyembuh, menahan teriaknya walau lengannya masih terasa sangat sakit.

BLAARRR! GRATAK GRATAK!

Tanah di bawah Aomine retak, membentuk seperti jaring laba-laba, "KEPARAT!" teriaknya penuh amarah, Seijuurou dan seishirou juga kehilangan control emosinya, Midorima melepaskan aura sihirnya yang normalnya dia tahan. Para penduduk berteriak penuh amarah. Mereka langsung melempari layar itu dengan batu. Tak diketahui oleh mereka, portal sihir terbuka dan keluar orang orang berjubah yang menyeluarkan aura mana hitam mereka, menonton kerusuhan.

Aomine yang sudah buta akan amarah langsung melompat akan menghancurkan layar tapi dia terpental oleh semacam pelindung layar itu. Semua orang melihat kearah dimana tawa sinis beberapa orang terdengar, itu adalah orang orang Tenebris. Para penduduk, Midorima dan Aomine langsung merapalkan mantra dan saling menyerang tanpa aba-aba dan para penduduk langsung mengangkat senjata mereka. Mereka menghancurkan kepala kambing yang di bawa salah satu dari orang orang Tenebris itu, membuat para bawahan orang orang Tenebris itu marah dan menyerang mereka juga.

Akashi bersaudara melotot ke arah layar, "Dasar busuk" hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Seijuurou mengingat betapa marahnya mereka sampai tak bisa di sampaikan hanya dari kata-kata. Yang Tenebris bawa kesini ternyata memang bukan hanya perwakilan dalam game. Mereka berniat menghabisi pihak lawan dan mendapatkan apa yang mereka mau disini.

Lalu portal sihir kedua terbentuk, yang keluar dari sana adalah para petinggi penyihir tenebris, bahkan yang mereka kira sudah mati, sekarat atau tak sadarkan diri seperti yang ada di pihak mereka. Makoto menyeringai melihat keadaan, pihaknya lebih diuntungkan "bantai mereka" katanya dengan seringai.

Pihak Akashi langsung membagi menjadi dua tim, satu untuk melindungi penduduk dan teman mereka yang tak bisa bertarung, yang selain itu, termasuk penduduk yang bisa bertarung dan support mereka adalah tim untuk bertarung melawan Tenebris.

Selama pertarungan berlangsung barikade sihir dimensi yang memisahkan dimensi tempat mereka dan tempat bertarung hancur, tanah retak hebat, teriakan panik terdengar dimana mana, tempat lain terbentuk karena dimensi yang menyatu, angin topan berbagai ukuran turun dari langit, petir hitam dan putih saling berbenturan, awan menjadi semakin gelap dan pekat. Dari celah celah tanah yang retak itu muncul gelembung bersinar. Mereka tidak tahu hal ini terjadi hanya di sini atau tempat lain mengalami hal yang sama.

Murasakibara terbangun, berlari keluar dan melihat keadaan yang kacau tersebut "Atsushi! Bantu Shintarou!" teriak Seijuurou, Murasakibara mengangguk dan langsung membentuk barikade untuk melindungi warga dan membantu teman temannya, melapisi pelindung yang Midorima buat. Seishirou sibuk menenangkan warga yang panik, sambil berusaha untuk terus mendorong mereka untuk tetap kuat dan melakukan apa yang mereka bisa. Jujur saja ini jauh lebih sulit yang yang Seishirou bayangkan.

Kembali ke Takuya dan 'Takao'…

"KALIAN APAKAN TAKAO KAZUNARI?!" bentak Takuya, selagi tangannya merapalkan sihir penyembuhan ke lengannya agar ia tak kehilangan lebih banyak darah. Tak ada sihir yang mengembalikan organ/bagian tubuh yang terputus atau rusak oleh sihir hitam menjadi sedia kala.

Lawannya, dalam wujud Takao memiringkan kepalanya "Takao Kazunari adalah kepribadian yang diciptakan untuk membaur dengan makhluk mana putih dan mendekati wadah The Hidden One"

Mata Takuya melebar "Oh," beberapa kali dia berkedip. Jadi dengan kata lain, makhluk ini sengaja mendekatinya, mendapatkan hatinya secara perlahan, lalu secara brutal merobek kepercayaannya. Ini sangat ironis dan lucu hingga Takuya tak bisa tertawa karenanya.

Takuya mengambil nafas dalam-dalam dan mendongak, matanya memanas saat bibirnya menyulas senyum pahit "…oh god" dia sudah mulai muak, dan- Deg! Jantungnya terasa sakit dan sesak yang tidak wajar, mungkin saja hatinya sudah hancur berkeping saat ini? Entahlah, Takuya sudah lelah.

Dia menundukkan kepalanya sembari menghembuskan napas berat, kembali menatap 'Takao' di hadapannya"…. Kau bukan Hanamiya dan anak buahnya tapi sepertinya kau adalah petinggi Tenebris. Siapa kau?" Takuya menatap penuh benci kearah 'Takao', lingkaran sihir telah terbentuk di tanah tempatnya berpijak. 'Takao' melihat mata Takuya yang mulai menampakkan warna merah, lalu ungu, lalu kembali berwarna biru langit lagi.

'Takao' yang melihat itu meletakkan satu tangan ke punggung, berlutut dan meletakkan tangan satunya ke dadanya. Kepalanya menunduk dalam "Saya datang untuk menyambut Anda, Tuan. Kami adalah 'Tenebris', pengikut setia anda menuju kehancuran total dan kebangkitan kembali." 'Takao' melihat kearah Takuya "kami menunggu perintah anda"

Takuya memejamkan matanya. Dia mengerti, sangat mengerti. Karena itu, dia tidak peduli lagi. Dia menghentakkan kaki Kanannya ke tanah, membentuk retakan ke lapisan bumi yang besar dan memanjang lalu kaki kirinya bergeser, membukanya.

Retakan tanah itu membentuk vertikal melalui sela kaki 'Takao', Tanah terbuka dan memperlihatkan sungai Magma yang sangat panas menyala merah di sana. Aliran itu naik mengikuti gerakan Takuya yang menggerakkan tangannya ke atas. 'Takao' melompat sesaat sebelum semburan magma menyentuh sehelaipun bajunya. Dinding magma terbentuk menyerupai aurora yang menyala oranye-merah, Takuya menghentakkan kakinya yang satu lagi ke tanah dan terangkat sebuah Batu yang menyerupai lempengan lalu menaikinya sebagai pijakan di aliran magma yang ia kendalikan, Takuya mengarahkannya ke 'Takao' yang terdiam. 'Takao' menghirup nafas panjang dan menghembuskannya kencang ke arah serangan Takuya, di depan mulutnya tercipta lingkaran sihir yang membuat udara yang ditiupkannya menjadi hitam, lalu membuat ombak magma itu menjadi batu vulkanik dalam sekejap.

Takuya melompat menyamping menghindari angin hitam itu. Lalu saat masih di udara Takao berada di atasnya seperti teleport. Dengan cepat merea berbenturan sihri dan terlempar jauh, tapi jarak itu cepat tertutupi oleh sihir teleport, pertarungan dengan kecepatan tak kasat mata di mulai dan arena terlihat seperti penuh dengan rentetan sihir dan kerusakan yang di bawanya.

Takuya melepaskan nafas api layaknya naga, dan 'Takao' membelokkan sihirnya dengan sihir berbentuk tameng transparan besar. 'Takao' lalu mengubah bentuknya menjadi cambuk dan menghentakkannya dengan cepat berkali kali, menyerang Takuya yang menghindar dengan kecepatan sekaligus di support dengan sihir petir miliknya. Lalu saat ada celah di antara serangan itu, Takuya melesat maju, sekejap dia sudah berada di hadapan 'Takao', Takuya yang masih di selimuti sihir petir melayangkan tendangannya keatas mengincar dagu, 'Takao' melengkungkan tubuhnya kebelakang untuk menghindar. Dengan Kecepatannya takuya tak mau memberi celah, saat serangan pertamanya gagal dia melayangkan serangan kedua, kaki yang masih di udara dia ayunkan kebawah, petir tunggal dari langit mengikuti ayunan kakinya kebawah yang bagaikan Palu dewa petir. Tapi itu tak mengenai 'Takao'. 'Takao' menggunakan sihir untuk menukarkan dirinya dengan bayangannya. Tapi meskipun begitu, baju bagian perutnya robek dan terlihat luka bakar dan bekas listrik di sana.

'Dengan pertarungan sesengit inipun… aku belum merasakan kehilangan mana ataupun rasa lelah sama sekali' Takuya teringat akan makhluk itu yang mengatakan kalau dia 'memodifikasi' tubuhnya. Takuya akan memanfaatkan itu untuk mengakhiri ini. Sedikit puas diri karena apapun tujuan makhluk itu, dialah yang diuntungkan.

Pikirannya terhenti oleh sihir tingkat tinggi yang 'Takao' rapalkan. Dia melepaskan aura hitam yang meluas dan membumbung tinggi, menciptakan sesuatu yang menyerupai tiang hitam menembus awan. Mata peraknya menyala nyala di dalam pusaran sihir hitam yang luar biasa, Takuya memendamkan kakinya ke tanah untuk membuatnya tetap berdiri di tempat. Pusaran sihir itu menarik apapun seperti angin topan raksasa, suara yang dihasilkan pun juga menakutkan.

Takuya menyipitkan matanya dan mengangkat tangannya untuk menghalangi debu masuk ke mata, melihat mana sihir sebanyak itu menghadirkan ketakutan dan keputusasaan yang cukup besar di hatinya, tapi tekadnya masih membara. Dia tidak akan kalah, dia tidak boleh kalah, dia tak ingin kalah.

Lalu pusaran itu terfokus menjadi satu titik, membentuk bola seukuran bola voli dengan pinggiran berwarna ungu. Melihat itu takuya langsung berpikir.

'Hal itu sangat berbahaya'

'Jangan sampai dilepaskan'

'Setidaknya jangan sampai kena'

Takuya mendecih, apa yang harus di lakukan untuk menghadapi 'itu'?

Tak sempat dia merencanakannya, 'Takao' langsung melepaskan bola itu dan itu menjadi sebuah laser raksasa yang menyerang lurus. Karena Takuya tak tau apa yang akan terjadi jika serangan itu terlepas lebih jauh dia memilih untuk menghadapinya dengan sihir yang terpikirkan saat itu juga.

"The Eye of Black Hole!" Serangan laser hitam itu telak mengenainya, tapi serangan itu lalu berputar dan memusat karena di serap oleh mata kanannya yang berubah hitam sepenuhnya, menjadi lubang yang menghisap segalanya. Takuya tau kalau sekali mantra ini di gunakan, matanya tidak akan kembali seperti semula, tapi itu tidak masalah.

Kedua kekuatan besar yang di lepaskan menyebabkan angin ribut mengelilingi mereka, tanah dan debu kembali berterbangan, sebagian besar ikut terserap. 'Takao' tersenyum tipis, seperti mengatakan bahwa ia memiliki banyak waktu dan tidak keberatan untuk terus bertarung melawan Takuya.

Tak bisa membiarkan situasi ini berlanjut Takuya memilih untuk menyerang juga, ia hentakkan kakinya, lingkarah sihir berwarna kuning muncul, dan tanah yang di pijakinya mencuat keatas secara berurutan menuju 'Takao', Tapi dengan lihai dia menghindar, menyingkirkan serangan sebelumnya dengan mengayunkan kedua tangannya ke arah luar. Lalu 'Takao' menghentakkan tongkatnya kuat menuju Takuya yang belum bersiap. Serangan tersebut mengelubungi Takuya sepenuhnya. menjadi Bola hitam yang melayang.

"Sepertinya hati Akashi Takuya yang menghalangi anda untuk bangkit lebih cepat, Tuan"

Dia mengangkat kepalanya yang semula tertunduk, melihat ke bola hitam pekat yang berisi Takuya "Semua yang ada di dalam sana adalah semua keputusasaan dari Akashi Takuya dari informasi yang kami dapatkan"

Tak lama kemudian Bola itu pecah seperti gelembung dan keluar angin berwarna perak, tubuh Takuya terjatuh lemas dengan kedua tangan dan kakinya menopang tubuhnya. Terbatuk, nafasnya terdengar seperti orang sekarat, dia seperti mandi keringat. Kakinya berkali kali tergelincir saat dia mencoba bangkit, tangan penopangnya gemetar hebat.

"… hah… hah.. kau pikir…. *uhuk* aku akan… kalah… DENGAN TRIK MURAHAN ITU HAH?!" dengan teriakan itu Takuya berhasil berdiri dengan kedua kakinya, terlihat kepayahan. Takuya merasa kakinya seperti jeli tapi tatapan matanya tetap membara, binar itu sedikit goyah seperti tertiup angin sepoi.

"…. Ternyata masih belum berhasil. Tidak apa, akan saya lakukan perlahan" tongkatnya telah hancur tapi hal itu memang tak begitu berpengaruh. 'Takao' mengangkat tangannya, jari telunjuknya mengarah ke Takuya seperti membidik. Beberapa lingkaran sihir seukuran peluru muncul di udara dan ujung telunjuknya, langsung menembakkan peluru yang tak terhitung jumlahnya.

Karena dia masih belum stabil Takuya tak punya pilihan lain selain mundur.

Merapalkan sihir sebelum serangan sampai, bumi menelannya. Meninggalkan 'Takao' di tanah lapang tak bertepi yang berombak seperti lautan badai.

'Takao' melihat sekeliling sebelum kembali tersenyum tipis "Akan saya lakukan perlahan, demi kebangkitan anda yang sempurna"

.

.

"Sial, apa Game bodoh itu masih belum selesai?!" ucap Kasamatsu lepas kendali.

Kota Anzen memang seperti biasanya. Jika kita melihat di Kotanya sendiri, tapi kita bisa melihat bahwa penjagaan kota di perketat. Ini adalah perintah dari pusat melihat organisasi tenebris kembali bangkit, peperangan yang terasa stagnant kembali berjalan menuju akhir.

Dari kejauhan mereka mengetahui sepasukan penyihir hitam mendekati kota di hari para perwakilan pergi. Sejak saat itu mereka bertarung habis-habisan dan banyak yang berpikir kalau ini berkaitan dengan jalannya Game. Otomatis banyak yang berharap Game itu segera berakhir.

Semua Cabang Kota pengamanan mengalami penyerangan. Untuk membantu Cabang Jepang, Pusat yang berada di daratan jauh sebelah Barat mengirimkan bala bantuan yang dipimpin oleh Jenderal Perempuan pertama di Amerika, Alexandra Gracia.

"Jika kau masih ada kekuatan dan waktu untuk mengeluh, lebih baik kau membantu sisi Selatan, mereka membutuhkan bantuan" Moriyama yang menjadi penyampai pesan antar pasukan tiba, dia melompat dari atas, dan membawa bunga liar entah dia dapat dari mana. "Alex-san mana?"

Kasamatsu menghela nafas lelah "Sedang rapat strategi"

"Hm… kalau kau sedang apa?" tanyanya lagi sambil duduk di sebelah Kasamatsu, Kasamatsu menatapnya aneh tapi tetap di jawab.

"Berjaga. Begitu rapat selesai kami akan berangkat ke garis depan sementara yang lain mundur"

"Ooh…" Mereka berdua lalu tenggelam dalam pikiran dan doa masing masing sementara mata mereka jauh memandang ke depan.

.

.

Seijuurou lagi lagi menghadap Hanamiya. Tapi kali ini mereka tidak sendiri. Di sisi Seijuurou adalah Seishirou dan di sisi Hanamiya adalah Reo. Mereka saling bertatapan sengit dan latar belakang mereka adalah medan perang habis habisan seperti akhir dunia.

"HALO?! KUPIKIR INI BUKAN SAATNYA BAGI KALIAN UNTUK SALING BERTATAPAN?! MEMANGNNYA KALIAN APA?! ANTAGONIS CEWEK DI OPERA SABUN?!" Teriak Aomine di kejauhan dan-

BLAAAARRR GRAK! GRAAK!

Di susul oleh ledakan, suara petir dan tanah retak yang bercampur dan sahut menyahut.

"Ahomine! Dasar perusak suasana!" kobaran api menyala di sudut mata dari tinju Kagami.

"Selamat pagi putri Bakagami, maaf ya mengganggu tidur cantikmu. Penjagamu saat ini sedang kepayahan!" satu tebasan kuat memotong dua lawan yang langsung jadi asap hitam, satu berhasil menghindari itu.

"Aku gak butuh penjaga payah hanya bermodal tampang sepertimu!" meludah darah dari serangan terakhir yang mengenai kepala merah-hitam.

Mengambil satu nafas panjang dalam sepersekian detik, Seijuurou, Hanamiya, Reo dan Seishirou juga memulai pertempuran mereka.

Takuya kembali bangkit, dia mengaktifkan kapsul sihir yang dia bawa dan 40 persen mananya pulih. 'Ini adalah batas maksimum kapsul-kapsul ini menyimpan kapasitas mana…' tubuhnya diselimuti aura hijau-memulihkan diri sendiri. Dia mempunyai sekitar sepuluh kapsul di kantungnya, 'aku harus menggunakan mereka baik baik'

Takuya langsung melompat begitu menyadari tanah yang dia pijak berubah menjadi lumpur hisap dalam radius tigapuluh kilometer, dengan sihir angin dia mempertahankan posisinya di udara, lalu dari belakang sosok 'Takao' yang menyimbangi ketinggiannya muncul puluhan lingkaran sihir yang masing masing memunculkan tombak besar dengan konsentrasi mana yang tinggi, seketika tombak tombak itu meluncur beritu 'Takao' mengangkat tangannya. Untuk menahannya Takuya merapalkan perisai sihir beberapa lapis sembari mengambil jarak.

DASH! DASH! DASH!

Hujan bunga api bermunculan akibat benturan kekuatan sihir yang besar satu sama lain. Tapi, perisai Takuya tak kuat menahan serangan tombak yang begitu besar dan bertibu tubi.

PRAAANG!

Perisainya pecah. Takuya lari dari serangan tombak yang mengikutinya dengan kecepatan tinggi, dia bermanuver menghindari tombak-tombak itu apaun yang terjadi. Dia langsung menghampiri 'Takao' tapi lawannya itu menghilang seperti kepulan asap. Takuya mendecih, dia langsung berbalik dan merapalkan sihir cahaya yang membentuk pedang dan memotong tombak-tombak itu saat telah menjadi satu garis lurus di belakangnya.

Takuya terengah-engah, keringatnya bercucuran dan 'Takao' dalam keadaan yang sama, pandangan meruncing. Masing masing memasang kuda kuda bertarung, dan keduanya kembali melesat maju.

.

.

.

.

7 hari 7 malam waktu yang terlewat

Tapi seperti bertahun-tahun lamanya.

Bertahun tahun dalam peperangan malam hari tanpa akhir.

Kapan ini akan berakhir?

Kapan pagi akan menyingsing?

Bahkan bulan dan bintang pun tak terlihat

Bisakah kita menang?

Peperangan ini sangat berbeda dari yang sudah-sudah.

Semua dimensi telah menjadi satu, setelah Kedua sihir tingkat tinggi 'Takao' dan Takuya berbenturan lagi, semua bertemu.

Beberapa bagian tubuh pemilik mana putih menghitam, mengeluarkan miasma, mereka kira mereka tidak akan bisa begitu. Itu adalah tanda mana putih mereka perlahan menjadi hitam karena terlalu lama dan sering kontak. Sedikit ketakutan awalnya, tapi kini mereka telah pasrah dan berpikir kedepan menghiraukan kondisi tubuh. Tugas para medis adalah memperlambat kecepatannya untuk meluas ke seluruh tubuh.

Seorang pemuda di atas langit. Mungkin yang terparah dari semuanya. Tak terlalu terlihat wajahnya, mereka hanya bisa melihat baju yang compang camping dan tubuh bertelanjang kaki.

"Takuya… dia…"

Memunggungi mereka, bahunya naik turun mengatur nafas. Masih dirasakan tekad darinya.

"Badannya mulai rusak"

Kukunya sudah berwarna hitam, Ujung jari kaki dan betisnya menghitam, lengannya juga mulai memiliki bercak berwarna hitam yang memiliki sesuatu yang memanjang keluar, tajam. Orang orang yang tidak tau akan mengira kalau orang orang seperti ini adalah salah satu komplotan penyihir hitam yang menyamar. Tapi bukan, penyihir akan kembali ke wujud asli mereka begitu mana mereka habis tak bersisa atau kontak dengan mana hitam terlalu sering dan lama dalam jumlah banyak. Mereka hanya akan menjadi sesuatu yang lain (masuk dalam tidak teridentifikasi, biasanya mereka langsung menghilang, diperkirakan ke dataran tak terjamah).

Jiwa manusia yang bersinggungan dengan entitas lain dalam penciptaannya. Itulah penyihir.

Awan pekat dilangit menggulung, melingkar, pusatnya di 'Takao', sepertinya dia akan memanggil sesuatu-

Dan tak hanya di satu tempat

Mereka yang ada di medan MistGound pasti mengingatnya, makhluk mimpi buruk mereka saat itu, membangkitkan kembali keputus-asaan mutlak. Membuat mereka berlutut dengan bibir gemetar dan pandangan horror ke langit.

'… sudah… tidak mungkin'

'…"Aku" sudah tidak bisa lagi… seseorang…'

'Ah… pasti seseorang…'

Mereka semua sudah terlalu terbiasa diselamatkan seseorang yang mungkin tidak mereka kenal, bahkan setelah masalah selesaipun mereka hanya akan berucap terima kasih dan memuji, seakan itu sudah seharusnya.

Bagaimana kalau seseorang mereka lelah dan sama putus asanya dengan mereka?

Dari balik awan hitam yang bergulung ganas itu adalah makhluk gigantik yang bungkuk dengan perawakan lebih dari mengerikan, kaki kakinya yang berbagai bentuk menjuntai dan berayun, sayap yang robek, tubuh hitam legam dan raungan yang membekas di ingatan. Kengeriannya tak bisa, tak cukup jika hanya disampaikan dengan kata-kata. Yang melihatnya hanya bisa berlutut putus asa, menahan nafas dan melebarkan matanya selagi membiarkan semangat hidupnya padam begitu saja.

"Mido-chin, cepatlah ke yang lain… itu adalah makhluk yang tak boleh ada… punahkan itu di sini, sekarang!" Midorima juga mengerti maksudnya, itu adalah perasaan yang langsung ada di hatinya begitu merasakan kehadiran 'itu'. Dia langsung melepas pelindungnya dan keluar barier, menuju medan perang.

"TAKUYA!" Midorima melihat lagi tubuh Takuya yang biasanya penuh dengan energi dan mana yang meluap-luap, sekarang cahaya keduanya meredup, jika ini di teruskan nyawanya akan dalam bahaya.

"Kh…!" Takuya mengangkat kepalanya, pergerakan Midorima terhenti saat melihat mata merah menyala dan senyum yang lebar mencapai telinga, selain itu di wajahnya hanya hitam yang terlihat. Takuya memegangi kepalanya, terlihat kesakitan "Ja.. jangan kesini…"

'Sialan! Jadi benar ini yang kau incar?! Śūn'ya!' Miasma yang menguap dari tubuhnya seperti meledak, melingkupi area luas. 'Tak akan kubiarkan kau keluar!'

Memanfaatkan keadaan takuya yang sekarat, The Hidden One bangkit.

"TAKUYA!" teriak Midorima yang menyebabkan yang lain pecah konsentrasi, sejumlah pertempuran besar terhenti juga karena merasakan tekanan hawa kehadiran yang sangat besar, dingin, sangat hampa dan kosong.

"Kh… AAAAAAAAAAARGHHHHH!" teriak Takuya kesakitan dalam ledakan Miasma dan berputar menyelilingi sosoknya yang menahan makhluk itu mengambil alih tubuhnya.

"Why don't you rest a bit? You're dying"

"You're doing it too much, I'm not sure about others doing it the same, tough"

Tangan manusia yang menutupi wajah itu menyingkir, wajah tampan manusia itu tergantikan oleh kosong yang tersenyum lebar, miasma yang berputar lalu menyelimutinya dan menjadikan sosok yang semula manusia itu sosok yang lain.

Imayoshi di kejauhan merasakannya, ia tak tersenyum, matanya terbuka, terdapat hawa negatif yang menguar di udara "Apa… ini…" bawahannya mendobrak pintu panik, para penduduk tak bisa menahannya lagi dan mereka membuat kerusuhan di depan kantor pemerintahan. petugas kebingungan mengambil langkah pengamanan.

Koganei dan Hayama yang terbatuk darah di camp Medis menggigil merasakannya, pastinya semua prajurit merasakannya karena indra mereka yang kuat. Yang lain, termasuk para petinggi dunia yang sedang rapat di dalam kantor mereka merasakan mual dan kecemasan yang tak diketahui. Tidak enak, tidak enak.

Belum lagi di lapangan terdapat sesuatu yang buruk turun dari langit seakan akan hari penghakiman telah tiba.

Crink…

Rantai-rantai hitam dan berkarat seperti peninggalan kuno muncul di udara, jubah hitam berkobar dari miasma, isinya hitam pekat dan kosong. Dari tudung kepalanya terlihat sepasang sinar seperti Alpha Centauri merah dan senyum seperti lobang dari neraka, melebar dari sisi ke sisi. Sosok itu membungkuk memegang deathscythe yang meliuk dan bersisi tajam. Batu batu yang sebesar gunung melebur menjadi gundukan pasir lainnya hanya dengan sentuhan helai jubah makhluk itu.

Diantara sorak sorai para penyihir hitam, para penyihir dan penduduk yang ada di sekitar sana gemetar dalam kengerian, Midorima bergumam "Inikah… the Hidden Ones itu?"

.

.

.

.

TBC


Fic berjudul "Hana Taisen" di fandom naruto oleh Datenshi no Uzumaki benar benar membantuku mengerjakan chapter ini (inspired). Aku sangat menyukai fict buatan dia. Selain fandom Naruto dia juga menulis di fandom Kurobas, Free, Magi dan banyak lagi. Jika kalian berkenan mampirlah! Btw fictnya berbahasa inggris.

Aku berasa malu sendiri liat Aomine nyerang layar. Bodo banget