.
"My Lovely, Fernandes"
By: Uchiha-Cla/Karura-Clarera
FAIRY TAIL FANFICTION
Disclaimer: Mashima Hiro-sama
Warnings: AU, OOC, Hasil seorang amatir, Alur Cepat!
.
A/N:
Wah, maaf maaf karena baru update. Sebenarnya Karu lupa mau update *ditampar* Okeydeh, sekadar info aja, untuk chap ini mungkin alurnya akan lebih cepet lg dari chap sebelumnya. Karena apa? Yah, Karu bilang kan di chap lalu kalau Karu udah ga sabar buat ngelarin MLF. hehe. Tapi bagi yang ingin protes atau marah (?) silakan tulis direview, ya. Hehe, HAPPY READING! ^^
PREVIOUSLY ON MLF
Erza sudah dipindahkan ke ruang rawat inap kelas VIP. Sebenarnya, sudah hampir sebulan ia koma. Alat bantu pernapasan dan berbagai selang infus sebagai sumber nutrisinya terus setia menempel di kulit Erza...
"Jellal, seorang dokter akhirnya bersedia untuk menangani Erza. Malam ini ia akan mengoperasi Erza. Jadi sekarang kita akan memindahkannya ke rumah sakit dokter itu." ucap Loke di ponsel yang terdengar bagai pekikan girang dari sang adik Erza itu. Jellal membuka mulutnya karena tidak percaya. Perlahan air mata bahagianya turun dari pelupuk matanya. Ia tidak terlalu mendengarkan kata-kata Loke setelah itu. Yang jelas, pada akhirnya Erza memiliki harapan. Soal berhasil atau tidak Jellal tidak terlalu memikirkannya, sebab ia yakin bahwa Erza akan pulih seperti semula!Jellal memutus hubungannya dengan Loke dan langsung meluncur gesit ke kamar Erza untuk membantu Loke membereskan barang-barang. Wajahnya sedikit cerah mendengar kabar baik itu.
Tanpa ia sadari..Ini adalah awal dari badai yang sesungguhnya...
CHAPTER 24
'Akhir dari Awal'
Tertanggal 1 Agustus 2015, Pukul 7 Malam
Erza segera dipindahkan..
Ia hanya memiliki waktu empat jam untuk bertahan setelah alat-alat bantunya dilepas. Ambulans berdengung ini melaju cepat.. menuju sebuah rumah sakit yang terletak di Fiore bagian Utara, dibutuhkan dua jam untuk sampai ke sana.
Jellal dengan setianya menggenggam tangan Erza yang dingin selama di ambulans. Ia meratap pada gadis yang bernapas dibantu selang kecil yang teralur dari mulut hingga batang tenggorokannya. Gadis Scarlet itu.. terlihat begitu menyedihkan.. Jellal seringkali meneteskan air matanya hanya dengan melihat keadaan Erza.
Sampailah di rumah sakit yang dituju. Ambulans ini segera diparkirkan di depan pintu masuk lalu beberapa perawat segera memberikan tindakan pada Erza. Jellal ikut membantu untuk menurunkan Erza dari ambulans. Saat yang sama, mobil sedan yang membawa Loke, Evergreen, Elfman, dan juga Juvia pun juga tiba.
Jellal tidak terlalu menghiraukan rombongan belakangnya sebab ia terlalu fokus pada Erza.
Erzanya akan segera dioperasi. Dokter di rumah sakit ini – yang merupakan teman Laxus – bilang ia dapat menyembuhkan Erza dengan cara operasi penarikan inti sel Etherion yang tersebar. Jellal bahagia, sekaligus.. takut..
Apakah operasi ini akan benar-benar menjamin Erza hidup?
Tak lama, mereka sampai di depan ruang operasi. Para suster yang menggeret ranjang Erza itu segera melesat masuk ke dalam ruang operasi.
"Maaf, hanya perawat dan dokter yang diperbolehkan masuk." Tegas seorang perawat pria sambil menghalangi langkah Jellal memasuki ruang operasi itu. "kami akan segera memulai operasinya. Harap tunggu di sini dan kami akan menginformasikan keadaan Scarlet-san setelah operasi selesai." Tambah perawat itu yang kemudian berlari masuk ke ruangan bersama perawat lain dan Erza.
Jellal menghempaskan tubuhnya pada kursi yang ada di depan ruang operasi. Rombongan yang ia tinggalkan tadi pun mulai berdatangan. Banyak orang berdatangan untuk menunggu operasi Erza. Loke, Ever, Elfman, Juvia, Lucy, seluruh Fairy Tail, bahkan ada Lyon, Sherry, tak lupa juga Saber Twins+Hibiki.
Gray dan Natsu coba bergurau dengan Jellal agar pemuda itu tertawa yah setidaknya tersenyum dan lupa akan ketegangannya tapi gagal karena Jellal hanya tersenyum hambar. Rasa khawatirnya melebihi segalanya saat ini. Akhirnya Gray dan Natsu malah bertengkar dengan Sting dan Rogue juga Minerva. (?)
"Eh, ya, omong-omong kalian ini juga korban Fase Eight, bukan? Tapi kenapa kalian kelihatan sehat-sehat saja?" tanya Gray pada Sting dan Rogue juga Minerva di tengah pertengkaran mereka. Natsu yang baru menyadari akan hal itu pun menyetujui.
"Heh, kau ini bertanya tidak tepat pada waktunya, ya..." timpal Sting sambil geleng-geleng kepala.
"Minerva mengalami gangguan pada mata dan syukurlah dapat ditangani dengan operasi mata. Sedangkan aku dan Sting entah kelainan apa, karena sejak kecil kami sudah berusaha diobati ke sana kemari. Yah, meskipun berujung pada kematian ayah kami." Terang Rogue dengan datar.
Gray dan Natsu mengangguk pelan. "Hm, begitu." Gumam mereka serempak.
Beberapa detik kemudian, langkah kaki beberapa orang terdengar di lorong tempat tunggu itu. Seluruh penunggu Erza menoleh kepada 3 dokter yang sedang berjalan cepat ke ruang operasi.
Mata Jellal membulat sempurna dan ia langsung bangkit berdiri serta terbelalak mengetahui siapa di antara tiga dokter itu. "Tou-san..?" beonya dengan mengepalkan tangan. "apa yang kau lakukan di sini?!" ucapnya lagi dengan penekanan.
Jellal hendak menghampiri Siegrain yang ada di tengah-tengah dua dokter lain yang adalah Laxus dan temannya, namun Laxus mencegatnya. "Aku yang akan bertanggungjawab, Jellal. Professor Siegrain hanya datang untuk membantu." Tutur Laxus dengan mencengkeram bahu kanan Jellal.
"Tapi...!"
"Tousan akan berusaha sebisa mungkin, Jellal. Tousan yakin operasi ini akan berjalan lancar dan akan membuat Erza terbebas dari penderitaannya. Tolong anggap ini sebagai pertanggungjawaban atas dosa yang telah kubuat, Jellal.. Maaf karena tousan telah mengatakan hal kasar beberapa tempo lalu." potong Siegrain dengan tulus. Kedua matanya menatap Jellal yang memandangnya sinis.
Jellal menundukkan kepalanya dalam diam.
"Lagipula Prof Sieg yang mencetuskan ide untuk operasi ini, Fernandes-san. Jadi, mohon pengertiannya." Cetus teman dokternya Laxus.
Setelah berkata begitu, Laxus menepuk-nepuk pelan kepala Jellal dan segera berlari ke dalam ruang operasi bersama Siegrain dan teman dokternya. Begitu debaman pelan pintu ruang operasi yang tertutup itu terdengar, suasana di ruang tunggu itu sangat sepi. Hanya keheningan yang mengisi atmosfer saat ini. Jellal yang sudah kehilangan sejatinya kembali terduduk di sebelah Loke.
"Tenang.. Erza akan kembali sehat!" ucap Loke dengan nada yakin. "tousan-mu menemui aniki beberapa hari yang lalu dan tousan-mu yang memohon-mohon agar segera menjalankan operasi untuk Erza. Dia begitu tulus.. Dia sangat berniat untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Jellal.." jelas Loke yang entah kenapa malah membuat Jellal makin membisu dalam tundukannya.
"Laxus-nii melakukan operasinya di sini karena ini adalah rumah sakit milik ayah temannya. Syukurlah Lahar-san (temannya Laxus) bersedia meminjamkan rumah sakitnya malam ini.." tambah Loke dengan suara serak. Setelah berkata demikian, ia mengatupkan kedua tangannya dan berdoa dalam hati.
Jellal melirik ke sekelilingnya dan semua orang di ruang tunggu ini menutup matanya untuk berdoa. Pemuda berambut biru itu menangis dan akhirnya ia juga ikut berdoa.
Kesunyian, ketegangan dan ketidakpastian di ruang tunggu operasi ini berlangsung selama lima jam. Belum ada yang memberikan kabar. Hal itu membuat Jellal semakin cemas... Firasatnya tidak baik...
.
.
Ketegangan di ruang tunggu itu terpecahkan seiring Lahar keluar dari ruang operasi. Semua penunggu Erza termasuk Jellal langsung berdiri untuk menanti kata-kata dokter itu.
"Bagaimana cucu saya, Lahar-sensei? Bagaimana?" tanya Ever sambil menangis tersedu-sedu. Degup jantung semua orang yang menantikan kata-kata dari mulut sang dokter berkacamata itu.
Lahar menghela napas keras. Wajahnya terlihat sangat lelah bahkan keringat dingin yang merayapi pelipisnya masih terlihat jelas. Ever jadi mengguncang-guncangkan tubuh Lahar karena tidak segera menjawabnya.
"Baasan, hentikan." Sergah Loke seraya memeluk neneknya yang masih berbanjir air mata itu.
"Maaf..." akhirnya Lahar mulai membuka mulutnya. Sebuah kata yang membuat jantung Jellal berhenti. Apa maksudnya.. apa?
Lahar kembali menghela napas lelah dan menyeka keringatnya dengan punggung tangannya. "Maaf, membuat kalian menunggu lama, Ever-sama. Operasinya sukses dan Erza telah terlepas dari masa kritisnya. Selain itu kita juga berhasil mengangkat Etherion yang ada di tenggorokan Erza-san. Sekarang ia sedang tidur dan sebentar lagi dipindahkan ke ruang rawat inap. Terima kasih..."
Mendengar penjelasan Lahar, Jellal terduduk di lantai putih itu dan menumpahkan air mata bahagia yang tak dapat ditahannya. "Terima kasih... terima kasih, Tuhan!" ucapnya seraya menutup matanya dengan lengan kanannya. Begitupula Loke dan Ever yang mana tangisan mereka berubah menjadi kebahagiaan. Sting dan Natsu menepuk-nepuk Jellal dan menghiburnya untuk berhenti menangis dan malah berujung mencibir Jellal.
Siegrain dan Laxus kemudian keluar dari ruang operasi serta tersenyum puas karena operasi berhasil. Jellal menghampiri ayahnya itu dengan sedikit ragu, namun didorong oleh Natsu dan Sting. "Terima kasih, Tousan.. aku minta maaf juga karena telah membentakmu." tutur Jellal dengan singkat. Siegrain tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
Teman-teman Erza pun bersorak senang dan ruang tunggu yang tadinya bagai ruang kosong itu sekarang dipenuhi oleh sorakan bahagia.
Namun, sorak kebahagiaan itu kembali menjadi keheningan begitu sepuluh orang berseragam lengkap dan mengantungi pistol itu datang ke tengah mereka. Baik Ever maupun yang lain sedikit heran pada orang-orang berseragam hitam itu.
Jellal menoleh pada Siegrain yang memandang orang-orang itu dengan ratapan pasrah.
"Siegrain Fernandes, anda kami tangkap atas tuduhan sebagai anak buah Zeref, ilmuwan Etherion." Ujar salah satu orang itu sambil menunjukkan lencana polisinya.
Siegrain tersenyum getir sedangkan Jellal menatap beku pada ayahnya saat ini. Ke-kenapa..? jadi ini akhirnya.. batin Jellal.
Elfman pun berdeham dan mendekati Siegrain. Ia memalingkan wajah pada putranya yang sudah lama pergi itu. "Ikutlah, jangan berusaha lari lagi." Ucap Elfman dengan nada tinggi, tapi terselip sebuah perasaan sedih di dalamnya.
Mendengar itu, Siegrain tersenyum getir lagi. "Kau memang selalu sama, tousan.. aku memang sedikit benci padamu di saat kau mengusirku, tapi..." ucapan Siegrain terhenti sejenak. "maafkan aku, tousan... aku sungguh menyesal.. maaf, aku adalah anak yang durhaka dan tak tahu diri... aku serahkan Jellal padamu, tousan.." terang Siegrain tanpa memandang ayahnya itu. Elfman membungkam ia tidak tahu harus membalas apa. Kenyataannya ia sangat mengharapkan anaknya kembali, sayang akhir dari kisah Siegrain tidak seindah dibayangkannya.
Polisi memborgol tangan Sieg setelah Sieg melepas jas putihnya. Sebelum berlalu, Siegrain menatap Jellal. "Jellal... meski kau memang serupa denganku, tapi aku tak pantas mengatakannya. Karena aku begitu hina. Bahkan aku tak berani lagi mengatakan bahwa aku adalah ayahmu.. Kau berbeda denganku. Jaga Erza baik-baik!" pesan Siegrain untuk terakhir kalinya.
"Hn, itu pasti." Balas Jellal dengan sebuah anggukan. Siegrain pun ikut mengangguk dengan seulas senyum tipis lalu akhirnya berjalan mengikuti polisi-polisi itu. "Kuharap kau dapat memaafkanku, anakku." Ini memang yang terbaik untuknya. Begitu pasukan polisi dengan tahanan mereka, Siegrain, pun menjauh pergi Elfman menghela napas keras dan meneteskan airmatanya.
"Kau tetaplah Fernandes, putraku, Siegrain..." gumam Elfman yang dapat didengar Juvia. Cucu perempuannya itu menepuk-nepuk punggung kakeknya untuk tenang.
'Tertanggal 1 Agustus 2015, Pukul 23.48...
Berakhirnya Fase Eight dan berakhirnya pula kejayaan dan kebahagiaan keluarga Fernandes di Fiore...'
.
.
Setelah kejadian itu, akhirnya seluruh rahasia Fase Eight terbongkar di seluruh dunia. Ribuan korban Fase Eight melakukan gerakan dengan meneriakkan hukuman mati pada ilmuwan Etherion itu, juga meminta pertanggungjawaban. Tapi setelah kejadian itu juga, ribuan orang kritis karena Fase Eight terselamatkan berkat serum penangkal Etherion yang dititipkan Siegrain pada Laxus.
Ketenaran Professor Siegrain digantikan oleh dr. Laxus.
Pihak pengadilan memutuskan hukuman penjara seumur hidup untuk Zeref, penjara 25 tahun untuk Mavis dan Siegrain. Oh ya, penangkap ilmuwan Etherion juga mencari keberadaannya Precht, setelah diselidiki Precht ternyata telah meninggal lima tahun yang lalu.
Pelaku dibalik Fase Eight ini memang diketahui sebagai perbuatan Zeref dan juga Siegrain. Hal itu berdampak pada nama keluarga Fernandes, sebab identitas Siegrain jadi terbongkar. Daratan Fiore.. mulai tidak percaya pada walikota mereka, Elfman Fernandes. Bahkan banyak media mulai menjelek-jelekkan nama baik keluarga Fernandes.
Nama baik keluarga Fernandes benar-benar tercemar dan jatuh.
Kekayaan keluarga Fernandes dianggap sebagai perbuatan kotor dari Elfman Fernandes. Banyak orang menuduh Elfman juga ikut terlibat dalam proyek Fase Eight ini. Hal itu, membuat Elfman mengundurkan diri dari pekerjaannya. Seluruh perusahaan miliknya di Fiore pun ia tutup. Keluarga Fernandes kini dikucilkan, dijauhi, tidak disukai. Fernandes memang tidak memiliki alasan kuat untuk menangkis segala hinaan tidak benar itu. Karena kenyataannyalah Siegrain berasal dari keluarga Fernandes.
Elfman yang telah renta sedikit depresi, ia pun sering mengurung dirinya di kamar meski telah dihibur berkali-kali oleh Juvia.
Begitupula Jellal, ia hanya selalu berada di samping ranjang Erza dengan wajah pucat. Keadaannya malah makin membuat Loke prihatin. Loke memahami bagaimana perasaan Jellal.
Melihat ayahnya ditangkap dan diolok ribuan orang...
Melihat kakeknya lengser dan mengunci dirinya di kamar...
Secara tak langsung, itu membuat Jellal semakin terpuruk... dan menyedihkan..
Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 7 Agustus 2015, akhirnya Erza siuman. Jellal yang membuncah bahagia langsung memeluk Erza yang masih ringkih itu. Loke yang tidak mau kalah pun ikut memeluk Erza.
"Hei! Le-lepaskan, aku tidak bi-sa ber-na-pas..." rintih Erza dengan suara pelan. Loke dan Jellal pun melepaskan pelukannya. Loke yang mengerti kedua pasangan itu pun pura-pura pamit keluar untuk ke kantin.
"Kau sakit, Jellal..?" tanya Erza sambil mengusap lembut wajah Jellal yang kurus itu. "kau tidak pernah makan? Jangan-jangan kau mau makan kalau kau menyuruh-nyuruhku, ya?" gurau Erza sambil terkekeh pelan.
Jellal tidak membalas. Menatap Erza dengan nanar.
"Je..llal?" beo Erza tersendat.
"Maaf dan terima kasih.. Erza.." ucap Jellal tiba-tiba. Erza tercekat mendengarnya. Terlebih saat Jellal malah memeluknya lagi, menjalarkan kehangatan tubuhnya pada gadis yang telah lama tertidur itu. "dasar asisten, baka.. aku rindu menyuruh-nyuruhmu. Bagaimana cara tuannya bisa hidup kalau asistennya tak sadarkan diri?!" sambung Jellal di tengah isakan tangisnya.
Mendengar itu Erza tersenyum kecil. Tangannya pun ikut memeluk Jellal yang menangis untuk dirinya itu. "Dasar tuan cengeng." Cibir Erza. Setelah itu, mereka berdua pun terdiam dan merasakan kehangatan yang menjalari tubuh mereka masing-masing.
Hubungan mereka berdua pun akhirnya tetap berjalan sama. Terkadang mereka beradu kata seperti biasa, meski Jellal lebih sering terlihat murung. Erza pun makin membaik. Wajahnya mulai segar lagi. Makannya pun lahap. Membuat Ever, Laxus dan Loke gembira melihatnya. Terlebih Jellal.
Yah, Jellal masih ragu..
Laxus belum memberitahukan detail tentang Fase Eight itu pada Erza, ia membiarkan Jellal saja yang mengatakannya. Demi kebaikannya. Tapi hingga menit ini, Jellal belum dapat mengatakannya. Jellal pun akhirnya memutuskan untuk memberitahukan semuanya hari ini, hari ulang tahun Erza.
Pagi-pagi, Erza sudah meminta Jellal untuk membawanya ke taman dengan kursi roda. Ia juga meminta agar Jellal jadi asistennya selama satu hari penuh ini. Yah, pasti Jellal turuti.
Setelah melakukan semua yang diinginkan Erza, mereka berdua pun duduk di kursi taman yang sedang tidak terlalu ramai sore menjelang malam ini.
"Hm, Jellal.. kenapa belakangan ini kau murung seperti itu?" tanya Erza begitu menatap Jellal yang ada di sebelahnya.
Jellal membungkam dan malah mengalihkan pandangannya pada langit jingga keunguan itu. Juga membiarkan angin kosong yang meramaikan kebingungan gadis Scarlet itu. "Erza..." ujar Jellal pelan.
"Hn?" tanya Erza penasaran.
Jellal menghela napas. "Aku ingin menceritakan sesuatu padamu.." tuturnya.
"Menceritakan apa?"
"Tentang Fase Eight.."
Erza mengerjapkan matanya dua kali lalu menghela napas dan melihat lurus ke depan. "Silakan.." ujarnya menyilakan.
"Kau ingat paman berambut biru yang mirip denganku itu..." ucap Jellal yang dibalas anggukan oleh Erza. "ia adalah ayahku."
Awalnya Erza terdiam. Namun beberapa detik kemudian ia merentangkan tangannya untuk melenturkan otot-otot punggungnya. "Hah, aku lelah sekali. Ayo kita kembali ke kamar, asisten." Tutur Erza memotong pembicaraan. Ia pun berdiri dan berjalan gontai mendahului Jellal. Meninggalkan kursi rodanya begitu saja.
Begitu di lorong sepi dekat kamar Erza, Jellal mencengkram pergelangan tangan Erza, gadis itu pun menghentikan langkahnya dan menghadap Jellal yang tertunduk itu. Ia terdiam dan menanti kata-kata dari pemuda itu.
"Erza.. Ayahku.. dia.. dia.. yang.."
"Menciptakan fase eight?" potong Erza yang lebih tepat disebut sebagai pernyataan sebagai pertanyaan.
"Ka-kau tahu..?"
Erza mengangguk dengan senyuman lebar.
"Ba-bagaimana kau bisa tahu?" tanya Jellal heran.
"Loke telah mengatakannya padaku. Awalnya aku memang sangat terkejut, tapi tenang saja Jellal aku tidak membencinya. Karena yang aku tahu paman adalah orang yang baik." Terang Erza dengan senyuman kecil.
Mulut Jellal terbuka karena tak percaya. Ia mengira Erza akan membenci, menjauhinya layaknya orang lain di luar sana. "Terima kasih, Erza..." gumam Jellal dalam tundukannya.
Erza tersenyum lebar. "Kau sangat lucu kalau mengatakan terus-terusan seperti itu. Sudahlah, ayo masuk ke kamar. Di sini sangat dingin." Ujar Erza yang sambil berlalu itu.
Jellal pun akhirnya tersenyum dan mengikuti Erza.
"Erza.. apa kau sudah bertemu dengan Kaasan-mu?" tanya Jellal setelah memapah Erza ke ranjangnya.
Sekilas Erza bingung. Kenapa tiba-tiba Jellal bertanya seperti itu?
"Tidak. Kaasan dan Tousan sedang mencari obat untukku. Pasti mereka berdua sedang dicari oleh Laxus-niisan dan sebentar lagi kami akan bersama-sama seperti dulu.." tutur Erza sambil tersenyum lebar. Jellal menatapnya nanar. Gadis ini begitu polos karena ketidaktahuannya, membuat Jellal bimbang.
Setelah Erza akhirnya tertidur, Loke dan Evergreen datang dengan membawa vas berisi bunga tulip berwarna merah. Sama seperti rambut Erza. "Hai, Jellal-kun. Terima kasih telah menggantikan kami menjaga Erza.." ucap Ever dengan senyum manisnya. Akhirnya nenek renta itu sudah bisa berwajah cerah lagi. Dibalik kecerahannya itu, Ever sebenarnya sangat cemas pada Elfman dan keluarga inti Fernandes.
"Sama-sama, Evergreen-san." Sahut Jellal dengan santun. Ia juga melirik Loke yang melambaikan tangan dengan sebuah cengiran. Yah, wajahnya juga sangat polos. Harus bagaimana ini..
Jellal sudah memberitahu kebenaran mengenai orang tuanya pada Laxus. Tapi Jellal yakin, Laxus belum memberitahukannya pada Ever, Loke dan juga Erza. Mereka bertiga sangat berbeda dengan sifat tegar-nya Laxus.
"Loke.." panggil Jellal yang dibalas hn oleh Loke. Jellal menghela napas. "Ada yang ingin kubicarakan padamu.."
.
.
Pukul 10 malam
"Tadaima." Tutur Jellal begitu memasuki rumahnya yang gelap itu. Ia menghela napas begitu melihat lampu yang sudah padam jam segini. Biasanya sih memang lampu akan menyala, tapi belakangan ini tidak. Sebab sang penyala lampu alias Elfman selalu mengurung diri di kamar belakangan ini. Begitupula Juvia. Sepupunya itu memang kuat, tetapi Jellal tahu seringkali Juvia menangis di kamarnya.
Jellal meraba-raba dinding dan mencoba untuk mencari saklar lampu.
KLEK!
Begitu ruangan yang gelap itu telah terang oleh sebuah lampu dari ruang depan, Jellal mengerutkan dahinya. Rumahnya benar-benar berantakan.. Apa yang terjadi..?
"Okaeri, Jellal-kun." Sahut pelayan rumah Jellal yang sontak membuat Jellal terkaget-kaget. "kau baru pulang?" tanyanya lembut.
"Hn, ya begitulah." Cetus Jellal mengusap-usap dadanya karena kaget.
"Sore tadi, Elfman-sama mencari-cari suatu barang dengan brutal. Yah, aku maupun Juvia-chan tak bisa menghentikannya. Jadi seperti inilah keadaannya." terang pelayan rumah itu lagi.
"Lalu, mengapa bibi baru akan membereskannya sekarang?" tanya Jellal.
"Hm, sebenarnya Elfman-sama baru saja tertidur, tadi Juvia-chan yang membawanya ke kamar dan mematikan lampu. Begitu aku keluar kamar dan hendak membersihkan semuanya, Jellal-kun datang." Jelasnya.
Jellal mengangguk pelan tanda mengerti. "Baiklah. Kalau begitu kerjakan besok saja. Ini sudah larut. Yah, aku ingin ke kamar. Oyasumi." Ucap Jellal sambil berlalu menaiki tangga. Sang bibi pelayan itu pun mengucapkan selamat malam dan tetap bersikukuh untuk bersih-bersih malam ini juga.
Begitu Jellal sampai di lantai dua, ia menghentikan langkahnya di depan kamar Elfman dan memandang pintu kayu dengan bertulis 'Elfman Fernandes' itu dengan nanar. Tanpa mengetuk Jellal membuka pintu itu dengan perlahan agar tidak membangunkan kakeknya.
"Ouh, Jellal!" Jellal sempat terkejut. Ternyata Elfman masih terjaga dan tak sengaja melihat Jellal yang mengintip. Jellal pun memasuki kamar Elfman dengan pelan lalu terduduk di seberang kursi rotan yang diduduki Elfman. "kau sudah baikan, cucuku?" tanyanya pura-pura kuat.
Jellal mendengus. "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, kek." Cetus Jellal dengan datar.
Elfman terkekeh. Ia menegakkan tubuhnya lalu memandang jendela luar yang sudah pekat kegelapan itu.
"Barang apa yang sedang kakek cari?" tanya Jellal menyelidik. Awalnya Elfman bingung tapi akhirnya ia mengerti.
"Sebuah kartu nama." Terangnya singkat.
"Kartu nama?"
Pria beruban itu mengangguk sekali dan menghela napas. "Kartu nama temanku yang bernama Wolfheim." Terangnya datar.
"Wo-wolfheim-san..?" ulang Jellal dengan menaikkan sepasang alisnya. Elfman mengangguk dan mengadu kedua mata gelapnya kepada mata hazzle milik Jellal.
"Aku tidak punya harapan lagi jika berada di sini.. kuharap kau mengerti maksudku, Jellal.." sambung Elfman dengan murung.
Jellal menunduk tiba-tiba. Entah apa yang dipikirkannya. "Kakek.. sudah menghubunginya?" tanya Jellal pelan. Elfman pun mengangguk.
"Kuharap kau mengerti maksudku. Kau dan Juvia adalah penerus keluarga inti Fernandes. Berada di sini mungkin akan membuatmu semakin jatuh, jadi..."
"Kau menentukannya begitu saja?" potong Jellal cepat.
"Jellal..."
"Kau sudah menentukannya begitu saja, kek? Tidak bertanya padaku dan Juvia dulu?"
"Aku sudah bertanya dengan Juvia. Aku pun mengambil keputusan ini karena Juvia juga berpikiran sama denganku."
"Tidak mungkin.."
Jellal tertunduk dalam. Sekilas ia mengertakkan giginya, ingin sekali rasanya ia meronta dari keinginan kakeknya itu. tapi.. Kalau dipikir ini semua demi kebaikannya. Lagi-lagi Jellal menangis dalam hati. Memilih untuk bertahan atau pergi...
.
.
JELLAL POV
Bulan September hampir datang. Bulan suram bagiku..
Fernandes telah hancur berkeping-keping oleh olokan seluruh masyarakat Fiore. Yah, aku tidak bisa mengelak karena akulah putra dari iblis itu, Siegrain. Iblis yang menyebabkan banyak nyawa melayang. Tak terhitung jumlahnya. Aku ini benar-benar lemah..
Meski banyak orang berkata aku ini adalah pria berandal terkuat, serigala biru dari Fairy High School, tapi kenyataan tak akan mengubah apapun. Kenyataan bahwa aku memang hanyalah manusia lemah..
Tepatnya hasil percobaan gagal dari sang Siegrain Fernandes..
Setidaknya itulah yang dikatakannya...
Yah, dunia ini benar-benar dramatis bagiku...
Aku sempat berpikir bahwa ini hanyalah mimpi.. Tidak nyata..
Tapi semakin aku mengakui ini hanyalah mimpi, segala fakta memekakakkan telingaku.
Apa yang harus kulakukan? Apa?!
Aku tidak mengerti..
Erza dan Hibiki, juga yang lainnya tengah mempersiapkan diri mereka untuk masuk ke perguruan tinggi. Untuk mengejar cita-cita mereka yang telah diimpikan sejak kecil. Yah, berulang kali Erza mendorongku untuk belajar. Untuk bersemangat sedikit karena masa depan bukanlah untuk main-main.
Yah, kau benar.. Erza.. Kau memang selalu benar..
Tapi kenyataan ini memuakkanku, Erza... Melihat kakek yang sudah sangat renta itu terlihat benar-benar tak berdaya.
Melihat Juvia yang selalu menangis di dalam tidurnya.
Mungkin bagi banyak orang yang menyaksikan penderitaanku, merasa bahwa aku sudah tidak perlu melakukan apa-apa.. tapi apa itu benar..?
Helaan napasku terlihat seperti uap putih karena suhu yang dingin. Entah suhu dari dalam tubuhku atau suhu udara yang mungkin seperti ini. Mataku meratap pada nisan indah yang membekukanku di tanah tempatku berdiri.
Terbaring Bidadari Cahaya Keluarga Kecil Fernandes,
Erza Fernandes.
Nama yang indah.. dan wajah yang indah.. sama seperti gadis yang kucintai saat ini, bukan Kaasan?
Aku sempat berpikir, mengapa Tuhan tidak memperkenankan aku untuk melihat paras Kaasan meski hanya sebentar saja? Dan mengapa Tuhan mempertemukan aku dengan seseorang yang memiliki rupa seperti Kaasan?
Benar-benar misteri..
"Sampai bertemu lagi, Kaasan..." ujarku seraya membalik badan dan menuju ke pekarangan depan gereja. Kutatap pintu kayu jati yang berwarna coklat pekat dengan hiasan kaca juga lonceng yang digantung di sebuah menara kecil nan tinggi. Aku tidak akan melupakannya.
Di tengah keheninganku, suara langkah kaki seorang gadis terdengar di telingaku. Aku sempat merasa rendah untuk melihat gadis itu.
"Hosh hosh.." gadis itu terengah-engah sembari menunmpukan kedua tangannya pada pahanya yang dibalut stoking hitam. "Jellal..." ia mencoba menatapku... tidak, tolong jangan tunjukkan mata kacamu seperti itu Erza..
"Jadi inikah penyebabnya kau tidak menghubungiku selama dua minggu ini?!" tanya gadis itu geram. Tak kunjung kujawab, ia mengepalkan tangannya yang masih ditumpu di pahanya itu. "Jawab, Jellal!"
Aku menghela napas dan membalik badanku pada Erza. Surai Scarlet itu kini terlihat dikucir setengah yang mulai terlihat berantakan yang kutebak karena ia berlari kencang untuk kemari. Ia memakai terusan selutut berwarna putih dengan stoking hitam dan sepatu boots dengan panjang hingga mata kakinya.
"Hn, benar, Erza.." dengusku mengalihkan pandangan padanya. Lalu aku kembali terdiam tidak melanjutkan.
"Kenapa?" nada bicara gadis itu mulai merendah. Ia berusaha meredam emosinya.
Udara dingin yang menerpa wajahku terasa begitu menusuk. Sebenarnya suara gadis itu benar-benar melodi untuk suplai hidupku. Tapi, entah kenapa aku merasa tak bisa membalas semua itu.. seperti diriku dulu kenapa?
"Kau tahu, Tousan-ku telah ditangkap dan diungkapkan kepada seluruh dunia. Sebagai imbasnya, nama Fernandes juga ikut tercemar. Entah.. kenapa semua itu begitu naif.." aku kembali terdiam sejenak. Erza juga tetap diam dan tidak membantah apapun.
"Perusahaan kakek di Fiore telah ditutup secara paksa karena semua pegawainya mengundurkan diri. Jabatannya telah ditanggalkan.. tak ada lagi jubah yang menaunginya. Bahkan mobil-mobil kesayangannya itu telah rela ia jual seluruhnya untuk memenuhi sisa-sisa hidup kami bertiga.."
Erza masih terdiam. Aku tahu, ia sedikit marah. Aku tahu ia bertanya-tanya. Aku tahu ia pasti akan membenciku. Tapi bagaimanapun, sudah menjadi kewajibanku untuk mengatakan semuanya.
"Jadi kakek memutuskan untuk meneruskan bisnisnya serta masa depanku dan Juvia di negara yang mana teman kakek berada..." aku berhenti sejenak, coba melirik Erza yang masih bertampang geram dan marah itu. "di Jerman..."
Erza membulatkan matanya lebar-lebar dan mulai berkaca-kaca. Sungguh menyayat hatiku. Terlebih sebutir air mata itu mulai menetes dari sang bola mata milik Erza.
"jadi mulai sekarang kau tidak perlu menjadi asistenku lagi... karena mungkin aku tak'kan kembali.." tuturku dengan perasaan teramat berat. Ketidakrelaan akan setiap kata yang kuucapkan. "maaf, Erza.. karena aku tidak menjadi seseorang yang baik untukmu."
Setelah itu, aku tidak sanggup menatap wajahnya. Aku pun berbalik dan bergerak perlahan ke depan untuk pergi, namun tangan halusnya mencegahku dengan menahan pergelangan tanganku.
"Hanya itu, kah, jalan keluar dari semua masalah ini, Jellal?" suara gadis itu mulai bergetar.
"Aku tidak bisa menentang keputusan kakek..."
"Kau yang mengetahui segalanya, Jellal!" potongnya cepat. Aku tidak mengerti maksudnya dan menatap padanya yang mulai menangis itu. "Aku... aku..."
Perasaan campur adukku benar-benar menyesakkanku. Apa Erza, apa yang akan kau katakan?
"A-aku.." ia mengertakkan giginya sesaat lalu kembali berkata. "aku menyukaimu!"
Apa?!
Aku sempat tak percaya pada pendengaranku.. Erza.. dia benar-benar menyukaiku? Aku tahu itu. Tapi aku tak menyangka ia akan mengatakannya sekarang.
Perlahan aku melepaskan diri dari genggaman tangannya dan menjauhkan tanganku darinya. Menyembunyikan segala perasaanku.
"Gomen ne, Erza. Aku.. aku juga menyukaimu. Tapi kau sendiri yang berkata padaku, masa depan bukanlah untuk main-main. Kau juga tahu, aku sudah tidak diterima di negeri bernama Fiore maupun Ishgar. Aku sangat membenci hal itu.. tapi tetap saja.. itu berarti aku harus pergi dari sini dan memulai diriku dan juga keluargaku dari awal." Terang Jellal dengan sakit yang tertahan. "jadi... jangan menungguku, Erza.. carilah pria yang lebih baik dariku."
"Tidak! Aku akan menunggumu!"
Aku sedikit tersentak.. tapi aku harus tetap tegar.. tidak boleh menunjukkannya.
"Aku akan menunggumu, Jellal! Jadi pastikan kau kembali ke Fiore dan jangan pergi lagi!"
Aku menghela napas. "Perasaan seseorang cepat berubah seiring bertambahnya waktu, Erza..."
Langkah beratku menggesek aspal kasar nan hitam. Mengiringi kepergianku dari gadis itu. Ia terus berteriak tanpa berniat mengejarku. Hanya berteriak memanggilku sambil menangis tersedu-sedu.
Haruskah melodi ini yang kudengar. Di tengah tangisanku yang tidak terdengar.
Symphony untukku sesungguhnya.. adalah ini...
"Sa-yo-na-ra... Erza.." kata yang cukup menegaskan ketidakikhlasanku akan perpisahan ini.
Malam itu juga aku sudah berada di pesawat yang akan melandas ke Jerman dari ibukota Fiore. Kutatap panorama malam Fiore untuk terakhir kalinya. Yah, aku telah melepaskan semuanya. Sama seperti yang telah dilakukan kakek...
Aku menyesal telah membuat Erza merasakan air mata lagi. Aku mendapat kabar dari Loke bahwa Erza baik-baik saja. Awalnya, aku hanya mengabari Loke, kalau aku akan pindah dari Fiore dan tidak berniat memberitahu Erza.. karena kutahu gadis itu pasti akan kembali bersedih.
Namun, Loke tidak tega dan akhirnya memberitahu Erza. Bahwa aku tidak ingin menghubunginya karena ia akan segera pergi. Loke juga memberitahu bahwa aku akan mengunjungi makam ibu sebelum pergi. Erza pun segera berlari ke gereja Arcadia, tepat di sebelahnya adalah makam ibuku. Selain itu, Loke juga memberiku pesan singkat lagi. Bahwa ia akan memberitahu masalah tentang kedua orang tua mereka setelah Erza menerima kepergianku.
Lagi-lagi gadis itu akan menangis dan aku tidak bisa memberikan pelukan untuknya...
Tertanggal 29 September 2015
Era berakhirnya sang Serigala Biru, Jellal.
Dengan ini, semua berakhir. Ini sudah menjadi akhir dari awal.
Sayonara, minna..
Sayonara... Erza..
Aku mencintaimu.
- CHAPTER 24 END! -
MLF TAMAT!
.
Boong deh.. Haha, udah pada takut nih tamatnya gini beneran. Haha *digampar readers* sesuai janji Karu, endingnya chap 26 (kalau di yang Karu tulis di setiap chap berarti chap 25) dengan demikian tinggal 1 chapter lagi. Hehe. Sekali lagi maaf ya apabila yang merasa kurang suka dengan alur yang begitu cepat. Karena kalau tidak begitu pasti ceritanya makin panjang. Mungkin mingdep Karu akan update lagi, ya sesuai mood Karu saja hehe. Terima kasih loh untuk readers yang sudah membaca hingga chap 24 ini.
Eh ya, omong2 silakan baca dan review ff 2 Fairy Tail Karu, ya. Biasalah pairingnya si Jerza (ga jauh2 lah) semoga ff itu bisa lebih menarik dari yang ini! *PROMOSI*
BALASAN REVIEW CHAP 23
KurehaElf = Haii, maaf ya baru update lagi. Hehe. Oh ya? Hehe, bagus deh kalau Kureha-san bisa merasakan perasaan mereka juga melalui fic ini. Hehe. Hmm, Semoga tidak sad yaa.. *digampar* Makasih banyak loh untuk reviewnya. Kalau berkenan silakan baca FF ke-dua Karu, ya, yang judulnya The Magic School - My Lovely, Scarlet. *judulnya ga kreatif, ceritanya juga abstrak huehe* Okey, sekali lagi terima kasih loh ya.. Maaf jika chap ini mengecewakan. ^^
okta (Guest) = Wahh, idenya sangat bagus sekali. Tapi maaf ya, Okta-san. Author tidak ada niatan untuk memperpanjang cerita ini. Okey, makasih banyak sudah review! ^^
Chantal Queen = Salam kenal juga, Chantal-san. Iyaa, maaf ya kecepetan ceritanya. Huaha, maaf tebakan Chantal-san salah, loh. Hehe, tidak apa, tinggal satu chap ini lagipula. Terima kasih untuk reviewnya! ^^
tamiino = Hehe, maaf loh Karu kayaknya sering banget bilang awal badai mulu, hehe. Tenang, akhirnya badainya sudah dibelokkan. (?) Itulah sahabat sejati! Lagipula kan cinta itu tidak harus selalu memiliki, kan? Hehe, benarkah tambah seru? Tapi beribu maaf ya kalau alurnya super cepat! Hehe, terima kasih banyak sudah review! ^^
Lulu (Guest) = Sudah dilanjut, yaaa... maaf kelamaan updatenya, hehe. Makasih banyak sudah review! ^^
indah (Guest) = Maaf updatenya lamaa, yaa. Hehe, tapi sudah update lagi! Jangan galau lagi, ya! (?)Hehe, makasih banyak sudah review! ^^
synstropezia = Waah, boleh juga deh kalau syn-senpai bilang Erza reinkernasinya ibu Jellal. Hehe. Ya dong cepet, biar segera ending. *digampar* Maaf ya, kalau kurang suka dengan alur yang dicepetin.. Oalah, tak apa, syn-senpai. Lagian Karu mengerti kok, syn-senpai sedang super sibuk. Semangat, yaa! Hehe. Oh ya, Karu memang ga bermaksud membuat pembacanya menangis. Lagian sebenernya Karu kurang sabar menulis bagian yang sad (?) Semoga syn-senpai mengerti maksudnya.. Wah, tapi dengan chap ini pasti syns-senpai sudah percaya dong sama Siegrain. Hehe, iya orang jahat selalu dicurigai. Iyaa, okeydeh aku nanti akan baca fic Hutang-mu, syn-senpai. Pasti aku baca! Santai sajaa, sukses yaa TO-nya! Sukses UN-nya juga! Semoga dapet nilai bagus! Terima kasih banyak sudah menyempatkan review, syn-senpai! Terima kasih banyak! Hehe, kalau sempat dan berkenan silakan baca ya FF Jerzaku yang ke dua! ^^
.
OKAY! TINGGAL SATU CHAP LAGI!
SAMPAI BERTEMU DI CHAP SELANJUTNYA, MINNA!
CHAPTER 25: The Final!
Jaa nee~~
