Author : Ternyata… belum sepenuhnya mendekati akhir! *le gasp
Avanna : Author… aku dilupakan…
Author : Aiya! Padahal Avanna berdasarkan legenda elf, pula! Kenapa author nggak masukin ke chara utama ya?
Avanna : Author jahat
Author : Maaaaaaaf!
Disclaimer : Vocaloid milik pengembang masing-masing, lisensi ada di tangan Yamaha.
Warning : Penuh kekerasan sehingga T semi M khusus chapter ini.
"Enak saja! Jangan menganggap enteng mereka, bodoh!" Leon angkat bicara pertama.
"Tidak apa-apa, lagipula mereka mau membunuhku dan kata Maika, pintu itu hanya terbuka olehku, kan? Jadi biarkan saja semua ini jadi urusanku"
Gakupo langsung menyambar tangan Maika, "Leon… ikuti saja kata dia, Bruno mari kita pergi!"
Mengindahkan kata-kata sang ketua walaupun dengan muka masam, Leon pergi bersama-sama dengan Miriam meninggalkan Kiyoteru di ruang bawah tanah. Ia melihat lewat sudut mata untuk memastikan kalau orang-orang yang tadi pergi sudah tidak berada di ruangan itu lagi.
"Oke, mari ki-" sulur penuh duri tumbuh dari bawah kaki Kiyoteru dan meliliti bagian tubuh untuk berjalan tersebut. sakit? Tentu saja, terutama duri-duri itu seperti batang bunga mawar.
"Sungguh, kalian curang sekali menggunakan hal seperti ini melawanku" wajah Kiyoteru masam, ia kesal karena kecolongan dan berakhir dalam posisi tak nyaman.
"Karena kami tidak ingin mengobrol banyak. Kami ke sini punya tujuan khusus. Kau tahu apa tujuannya? Memintamu melepas vesselmu sendiri, dengan kata lain keluar dari tubuh laki-laki tersebut." Anak kecil-ia menganggap si laki-laki berambut cokelat namun memiliki gaya wajah baby face-yang berbicara bak orang dewasa hanya membuat Kiyoteru terkikik geli. Ia merasa setiap kata yang terucap seperti lelucon terlucu.
Cukup dengan gerakan tangan, sulur terpotong menyebabkan ia mendarat ke lantai. Ia meringis dikarenakan memar pada bagian kaki.
"Selamat, kalian satu-satunya yang berhasil membuat sebuah luka pada bagian tubuhku. Benar-benar hebat! Oh, tahu tidak? Kemungkinan untuk aku keluar dari tubuh ini sangat kecil kecuali kalau orang yang punya ikhlas nyawa miliknya menghilang sih tak apa. Memangnya kalau berhasil keluar apa tujuan kalian?"
"Mudah, membuat Eve membiarkan memilih orang yang memiliki tubuhmu sebagai Adam"
"Oh. Benarkah? Terdengar menarik."
Setelah Kiyoteru berkata dengan nada menantang, perempuan berambut panjang dengan boneka di tangan hanya tersenyum. Sekarang mata boneka mulai bersinar berwarna merah. Cukup satu serangan, ia terpental dan menemui tembok. Ia terbatuk dan memuntahkan darah.
"Tch, dasar bocah-bocah pembawa masalah"
Dengan kecepatan tinggi ia berada di samping si gadis, "kau tahu? Aku tidak pernah mau bertarung dengan perempuan. Tapi karena sifat kalian menyebalkan, mau tidak mau harus…"
Sekarang badan perempuan dengan boneka yang sudah tidak ada di tanah sekaligus terlempar. Teman-temannya berteriak. Kiyoteru melihat, pembuat masalah terbesar adalah si kembar. Mereka bisa menggunakan sihir pengikat (sampai sekarang kakinya merasa sakit) dan beberapa sihir tingkat tinggi lainnya yang bisa berefek buruk padanya. Ia memang paling tidak suka dengan para penyihir. Mereka curang karena bisa melawan orang dari kejauhan sedangkan tidak perlu terjun langsung ke pertarungan hanya untuk membunuh seseorang.
Ia memang bisa menggunakan kekuatan sihirnya tapi akan muncul masalah baru, hanya dalam waktu sebentar tubuh Kiyo akan ambruk. Ia bahkan sampai saat ini masih bersyukur bisa bertarung dengan tangan kosong tanpa harus merasakan sakit di mata. Dulu sebelum masalah hari menyebalkan ini makin memuncak, hanya ia muncul ke permukaan saja pasti nanti Kiyo akan mengalami kelelahan luar biasa.
Lamunannya terpotong oleh cahaya terang yang tertuju ke arahnya. Menghindar lewat melakukan salto ke udara, ia hanya bisa menghela nafas lega karena tidak terkena seragan.
Sebuah kepalan tangan mengarah ke wajah, ia sempat mengelak dan menyisakan sedikit ruang agar bisa berkelit. Perempuan kembaran tersebut ternyata selain bisa melakukan sihir juga bertarung menggunakan tangan kosong. ia hanya bisa mendecak kesal karena keuntungan mereka lebih besar. Sebuah pisau khusus butter terlempar juga ke arahnya, padahal tujuan utama sekarang adalah menjatuhan kembaran berbeda gaya rambut terlebih dahulu.
Ia juga baru sadar, di mana anak kecil dengan gaya sok dewasa nan menyebalkan tersebut?
"Aku di sini!" Kiyoteru mendongak, ia sengaja menarik tangan salah satu kembaran yang sibuk bertarung dengan tangan kosong. ia melompat sehingga mau tidak mau laki-laki umur muda dan kembaran berambut pendek saling bertubrukan. Kiyoteru hanya tersenyum puas.
Kali ini pisau pemotong daging dengan ukuran besar sudah memotong bagian atas rambut, "AH! JANGAN RAMBUT! NANTI KALAU ADA KONSER BAGAIMANA!?"
"Habis sensei tidak mau menyerah, lagipula nggak asik. Aku meleset dan malah kena rambut. Seharusnya bagian tubuh yang bisa dilukai" perempuan dengan boneka hanya tersenyum sok polos.
"Tunggu, kau tahu aku seorang guru… bagaimana bisa?"
"Tentu saja, aku ada di kelasmu dan sebagai mata-mata juga. Jadi selama ini kau menggali kuburanmu sendiri dengan menunjukkan siapa dirimu yang asli di depan kelas saat itu"
"Diriku yang asli? Tidak, tubuh ini bukan milikku. Aku bukan yang asli, tapi Kiyo-lah orangnya."
Ia tidak sadar kalau sudah masuk sebuah lingkaran sihir yang dibuat kembaran tadi karena meladeni perempuan di hadapannya. Hanya dalam sekali tebas, bagian bahu terluka. Ia memeriksa apakah lukanya dalam atau tidak. Lukanya memang tidak besar tapi ia yakin itu dalam. Darah menetes ke lingkaran sihir menyebabkan cahaya menyilaukan.
"Tunggu sejak kapa-"
Ia hanya bisa jatuh berlutut dan kedua tangan memeluk dirinya sendiri. Teriakan juga mengikuti seiring perasaan 'ditarik' oleh seseorang.
…
Gakupo sampai di tempat kelompok kedua berada. Miki dan Piko sudah terlihat kelelahan memegang silver maiden. Mizki bahkan sampai mengeluarkan kuping rubah dan ekor sebanyak tiga buah. Perempuan berambut hitam itu nafasnya sudah tersengal-sengal.
"Kalian! Maafkan kami karena terlambat datang!" Gakupo panik, ia mendekati orang-orang kepercayaannya.
"Ti-tidak apa-apa, Kamui-sama. Yukari dan Zunko masih bertarung di luar. Yuuma sekarang entah berada di mana karena saat aku menggunakan kekuatanku salah satu musuh kabur lalu dia mengejarnya. Maafkan aku telah gagal" Mizki menunduk, ia merasa bersalah sekali.
"Tidak, kau tidak gagal. Ada juga aku berterima kasih sampai kau mau mengeluarkan kekuatanmu. Kuharap kau tidak memaksakan diri."
Mizki hanya menggeleng.
"Aku akan membantu Yuzuki dan Tohoku" bersamaan dengan ucapannya, Leon sudah melesat menuju pintu depan. Ia memegang erat silver maiden di tangan kanan.
"Tunggu Le- ah biarkan saja." Gakupo sweat drop, Leon memang cukup keras kepala.
Suara teriakan mengejutkan setiap orang yang berada di ruang tersebut. Dengan cepat Maika menarik tangan sehingga terlepas dari genggaman Gakupo. Kesempatan baik tersebut ia pergunakan untuk melakukan sihir teleportasi untuk kembali ke ruang bawah tanah. Gakupo bertambah panik diikuti sumpah serapah berbahasa Jepang.
Ketika kedua kaki telah menginjak tujuan, Maika hanya menatap nanar ruang bawah tanah yang berubah jadi medan perang. Ia juga baru sadar kalau dua orang yang datang tidak diundang sudah tidak berada di tempat. Ia melihat laki-laki berambut hitam terikat dililit sulur berduri. Dengan sigap ia dekati dan menggunakan sihir sehingga sulur tersebut luruh seperti kaca yang pecah.
Laki-laki berambut hitam tersebut tiba-tiba memeluk Maika dan bertiarap.
Mereka berdiri bersamaan, Maika sekarang bingung. Laki-laki ini memakai pakaian berbeda dengan yang tadi. Baju warna hitam yang anehnya terihat seperti seragam berukuran pas. Ia juga melihat beberapa hiasan sehingga terlihat seperti seorang pangeran. Hal paling menonjol adalah bagian belakang, sepasang sayap warna hitam menghiasi bagian punggung.
"Tunggu di sini." Perintah laki-laki, hanya dalam sekejap ia berada di samping perempuan dengan pakaian gothic Lolita. Hanya dalam sekali tebasan sayap, perempuan malang tersebut terlempar.
Maika tidak sadar kalau seorang laki-laki berambut pirang telah berada di belakang. Yang ia ketahui hanyalah rasa sakit menusuk dari bagian ulu hati. Melihat sumber rasa sakit, kedua mata terbelalak.
Teru melihat kejadian tersebut menunjukkan raut tidak senang. Cahaya merah mulai muncul di tangan kanan, perempuan yang menyerang dari belakang justru bertemu dengan kepalan tangan. Perempuan bernama Mayu sudah menguap menjadi debu bersamaan dengan bulu hitam yang melayang.
Ia berjalan dengan segera mungkin ke depan Maika. Sekarang tangan Lui sudah terlepas, badan perempuan dengan rambut perak semakin kehilangan kokohnya dan terjatuh ke pangkuan tangan Teru. Sebelum Lui menghindar, pergelangan tangannya telah dipegang oleh Kiyoteru.
Ia marah dan harus diakui, telah lama dirinya tidak merasakan emosi yang benar-benar bergejolak. Ia seharusnya bisa berpikir dan menenangkan diri. Tapi tangan, kaki dan hati membuatnya menendang laki-laki berambut pirang ke tembok.
Ia letakkan 'tubuh' Maika dengan pelan. Lalu dengan langkah kaki pelan, ia dekati dan mencekik hingga diangkat keatas.
"J-ja…di begini…lah ke…kekua…tanmu se…uhuk…benar…nya"
"Kemana kalian membawa Kiyo pergi?"
"Ja…uh, ke… tempat ya…uhuk…ng sulit ka…lian te…mui"
"Sejauh apa? Hingga ujung dunia? Kalian tidak akan pernah bisa lepas dariku"
"Bu…nuh saja a…ku ka…rena sam…pai ka…pan pun tidak a…kan uhuk, kuberi ta…hu."
Tapi Teru melepas cengkeramannya, ia hanya tersenyum sendu.
"Menyedihkan, kau melakukan semua ini, membuat kakakmu menderita dan membuat dirimu terjerumus ke dunia ini hanya karena tujuan tidak penting mereka."
Laki-laki yang sekarang sedang duduk kepayahan hanya bergeming, tapi tatapan mata sudah cukup menjadi jawaban Teru. Ia mendekati Maika yang sekarang berbaring lemas namun masih tersadar.
"Dia, perempuan berambit biru kalau tidak salah namanya Ring Suzune, kan? Beda nama keluarga tapi senyuman dan matamu mirip dengannya. Ditambah berita lama pernah membahas tentang kakakmu itu. Kukira kau menghilang dan berakhir meninggal? Lalu kenapa kakakmu yang harus dipilih sebagai perantara bertemunya 'dia' denganku?"
Teru melanjutkan, "apa mungkin karena kau benci kakakmu? Tapi tidak apa-apa, aku bukan orang yang ingin ikut campur masalah keluarga orang lain dan Maika, bertahanlah"
Maika hanya tersenyum sedikit, "seharusnya sudah kubuka sejak tadi. Mungkin semua hal ini tidak perlu terjadi."
Teru mengangkat alis sebelah kanan yang mengartikan ia tidak mengerti. Maika hanya menggerakkan tangannya dan pintu mahoni terbuka dengan lebar tanpa ada seseorang yang mendorongnya.
"Jawabanmu ada di sana, sebuah buku paling tua diantara semua buku. Kalau seingatku, ada sampul tebal yang menutupinya"
Maika menutup mata, "mungkin tugasku sudah selesai. Sudah waktunya pergi"
"Pergi?" Teru menghela nafas.
"Baiklah, semoga kau menemukan tempat terbaik. Maika, kau orang yang baik"
"Terima kasih." Hanya dua kata terucap, tubuh Maika semakin transparan dan hanya menyisakan cahaya kecil seperti bintang di langit. Cahaya tersebut kemudian melayang ke atas dan hilang tanpa bekas.
Teru menutup mata, masalah baru semakin bertambah. Ia tidak pernah menyangka masalah semakin parah seperti benang kusut. Ia sekarang justru menyesal mengikuti saran ayah angkat Kiyo.
Suara tembakan memotong lamunannya, anak laki-laki rambut pirang sekarang sudah tidak ada. Orang yang bertanggung jawab menembaknya adalah Leon.
"Wajahmu kusut sekali."
Teru hanya bisa tertawa setengah hati.
"Lalu bagaimana, Teru-kun? Dan umm… sayap hitam di punggungmu?" keingin tahuan Gakupo muncul.
Teru hanya menatap ke belakang punggung kemudian sayap tersebut hilang.
"Kembali ke Jepang besok itu ide baik karena mungkin akan banyak hal yang diceritakan olehku. Semoga kalian tidak bosan."
Author : Shulk itu ganteng ya? tapi sayang udah nikah sama Fiora
Sweet Ann : Author, ini bukan fandom Xenoblade Chronicles
Author : Sebodo, saya fangirl baru dia! Oh, makasih untuk review sama bacanya. Sebagai terima kasih, dalam waktu satu minggu saya update dua chapter!
