Jingga dan Senja

Main Cast : Sehun, Baekhyun, Kai, Jongin

Pairing: Kaihun?or Jonghun?

Genre : Drama, romance, slice of life

Disclaimer : saya repost cerita punyanya kak Esti Kinasih yang judulnya Jingga dan Senja, ada yang tau? Ini versi buat anak exo nya tapi.

Part 25

"Beneran nih kau nggak mau terima coklatnya?" kembali dia memastikan untuk yang terakhir kali. "Iiiih!" Dengan gemas Sehun mengetuk-ngetukan bolpoinnya ke meja.

"Sunbae tuh budeknya parah banget ya? Nih, aku ulangin. Dengar ya..." Sehun diam sesaat. Kemudian dia teruskan kalimatnya dengan penekanan. "Aku...ngak...mau...terima... tu coklat! Ngak akan!" Sekali lagi sebagian besar teman-teman sekelas Sehun menyesalkan keputusan itu. Kalau Sehun ngak sudi menerima apalagi memakannya, banyak banget mulut yang siap menampung. satu stoples gitu doang kurang malah. Gila, tuh coklat bikinan toko coklat te-o-pe be-ge-te. Harganya dipastikan muahal. Rasanya juga bisa dipastikan uenak. Bentuknya juga lucu-lucu buanget. Pokoknya ngak bisa dibandingin sama coklat-coklat yang dijual di supermarket-supermarket. Apalagi coklat yang dijual dikantin. Juauh!

"Oke." Chanyeol mengangguk. Sikapnya tetap santai. Diambilnya stoples berisi coklat itu, lalu dia masukkan kembali kedalam paperbag. Kemudian didekatkannya ponselnya ke telinga setelah sebelumnya ditekannya tombol kontak.

"Fix, Bro. Dia nggak mau terima coklatnya." Seisi kelas kontan jadi tegang. Termasuk Sehun sendiri. Tapi dia sudah bertekad, akan dilawannya Kai habis-habisan. Biar tuh cowok tahu, nggak semua orang takut sama dia. Juga nggak semua cewek naksir dia dan pastinya, nggak semua cewek gampang lumer sama rayuannya. Apalagi cuma pake coklat!

Tak lama Kai muncul. Suasana kelas jadi semakin tegang. Kedua matanya langsung tertancap pada Sehun. Bahkan ketika Chanyeol mengangsurkan paperbag berisi stoples coklat cantik itu, tatapan Kai tidak berpaling. Diterimanya paperbag itu tanpa bicara. Cowok itu menunjukan ucapan pertamanya untuk Baekhyun.

"Aku pinjem bangku sebentar, Baek," Baekhyun jelas langsung melaksanakan perintah itu.

"Aku ngungsi dulu ya, Hun." ucapnya lirih. Dengan rasa bersalah tapi tak bisa berbuat apa-apa, Baekhyun bangkit berdiri dan mengungsi ke bangku kosong terdekat.

Sambil meletakkan paperbag diatas meja, Kai menggeser bangku Baekhyun yang sekarang kosong itu, mendekati Sehun. Cowok itu duduk dan meletakkan kedua tangannya diatas meja. Kesepuluh jarinya lalu saling bertaut. Kemudian, dengan punggung sedikit dibungkukkan agar sejajar dengan Sehun, Kai menoleh dan menatap cewek yang posisi duduknya telah dibuatnya teramat dekat disebelahnya itu. Wajah yang cemberut, mata yang memerah serta menyorotkan kemarah, dan bibir yang terkatup rapat, membuat Kai sejenak menarik napas panjang.

"Sampe kapan kau akan terus ngelawan ku?" tanyanya dengan suara pelan. Sehun tidak menjawab. "Bodyguardmu, si Luhan, udah nggak ada. Kau mau melawanku sendirian?" Lagi-lagi Sehun tidak menjawab. Gangguan Kai yang beruntun dilapangan tadi membuat kekuatan mentalnya mencapai batas akhir. Tapi kedua matanya menentang tatapan Kai, lurus dan terang-terangan. Kai tersenyum. "Kau pasti lelah," ucap Kai lunak. Digesernya paperbag didepannya ke

depan Sehun.

"INi coklat aku sendiri yang beli. Bukan nyuruh Chanyeol atau orang lain. Aku sendiri yang jalan kesana tadi dan ini pertama kali nya aku ngasih sesuatu buat cewek." Sehun menatap paperbag itu dengan pandangan dingin. Bentuk penolakan tanpa kata-kata. Kai menunggu. Ketika beberapa detik terlewat dan cewek disebelahnya itu tak juga memberikan reaksi lain selain diam, diulurkannya tangan kirinya dan diletakkannya di puncak kepala Sehun. Seketika Sehun berusaha mengelak dgn menjauhkan kepalanya, tapi ternyata kelima jari Kai mencengkeram puncak kepala Sehun seperti jari-jari sebuah robot. Cowok itu kemudian memaksa Sehun menatap kedua matanya dan ketika kemudian dia bicara, nada lunaknya mulai diwarnai penekanan.

"Jadi lebih baik kau berenti ngelawan. Karena kalo kau terus kayak gini, terus melawanku , lama-lama gangguanku akan semakin parah dan belum tentu aku bersedia berenti meskipun kau sudah nyerah." Monolog itu, karena Sehun terus bungkam, diucapkan Kai dengan suara pelan. Tapi karena suasana kelas yang sontak hening begitu pentolan sekolah itu muncul di ambang pintu tadi, suara Kai bisa ditangkap oleh hampir sebagian besar isi kelas.

Termasuk Chanyeol, yang duduk diatas meja Xiumin, dua meja dibelakang meja Sehun. Cowok itu langsung mengatupkan kedua bibirnya, menahan senyum. Ngasih coklat tapi buntutnya ngancem. Emang dasar si Kai! ucap Chanyeol dalam hati, geli. Tiba-tiba Kai mendekatkan tubuhnya dan berbisik di telinga Sehun.

"INi coklat, murni. Bukan karena Jongin abis menghubungiku . Curhat mu pasti penuh dengan tangis dan air mata ya, karena tadi ditelepon Jongin sampe ngamuk. Sama sekali bukan karena itu. Tanpa Jongin telepon pun, aku udah niat ngasih coklat." Kai menjauhkan kembali tubuhnya. Diusap-usapnya puncak kepala Sehun.

"Okeee?" nada suaranya kembali normal. "Tolong dipertimbangkan ucapanku barusan. Kemudian cowok itu bangkit berdiri. "Balik loey," ucapnya sambil berjalan kearah pintu. Chanyeol langsung melompat turun dari meja yang didudukinya dan menjajari Kai. Sehun mengikuti kepergian pentolan sekolah itu dengan tatapan benci. Begitu Kai telah hilang dibalik pintu. Sehun langsung berdiri. Dengan kesal disambarnya paperbag berisi coklat pemberian Kai, lalu dilemparnya begitu saja kearah kerumunan teman-temannya. Dengan sigap, Zelo buru-buru menangkap. "Kalian semua pada makan deh tuh coklat. Abisin!"

"Asyeeeeeiiik!" langsung terdengar seruan-seruan riang. Setelah mengambil ponselnya dari dalam tas, Sehun kemudian bergegas keluar. Melihat itu Baekhyun langsung berdiri. Tapi ternyata untuk mencapai pintu yang jaraknya tidak terlalu jauh itu, sekarang diperlukan usaha keras. Bentuk coklat yang lucu-lucu dan warna-warni pula, ditambah jumlahnya yang mungkin cuma setengah dari jumlah penghuni kelas, kontan mengubah ruang kelas itu menjadi medan pertempuran memperebutkan coklat pemberian Kai. Non-gender. Cowok-cewek. Saling tarik, saling dorong, saling rebut. Ruang kelas jadi penuh manusia yang berlarian ke segala arah. Meja dan bangku jd berantakan. Cewek-cewek menggunakan serangan yang para cowok nggak tega untuk membalas. Nyubit. Gantinya, para cowok melancarkan serangan balik yang membuat para cewek berlarian menghindar atau menjerit-jerit.

"Ayooo, kasih nggak coklatnya sini, Kalo nggak, entar ku peluk nih. Atau aku cium malah." Alhasil, yang kemudian keluar sebagai pemenang sebagian besar emang cowok-cowok. Baekhyun, yang setengah mati berusaha mencapai pintu untuk menyusul Sehun, akhirnya berseru kesal.

"AWAS KENAPA SIIIH!?" Dia entakkan kaki keras-keras ke lantai

"Dasar udik. Baru coklat gitu aja direbutin. Pada nggak pernah makan coklat kayak gitu ya? Dasar norak!"

"SPONGEBOB SQUAREPAAAAAANTS!" sebuah seruan keras menyertai sebuah tangan yang tiba-tiba terjulur tepat didepan muka Baekhyun, menggenggam salah satu tokoh kartun favoritnya, Spongebob. "Iih, lucuuuuu!" Baekhyun langsung histeris.

"Untukku! Untukku!" serunya sambil berusaha merebut coklat itu.

"Enak aja!" Seketika tangan itu, yang ternyata milik Zelo , menghilang dari depan muka Baekhyun.

"Kau tidak melihatnya? Aku harus membunuh 5 orang teman demi mendapatkan si busa kotak." Zelo menjauh sambil ketawa-ketawa puas, karena Baekhyun adalah cewek kesekian yang histeris melihat coklat ditangannya tapi tak berdaya untuk merebut.

"Kok aku jadi ikut-ikutan gini sih?" Baekhyun tersadar. "Ck!" Dijitaknya kepalanya sendiri, lalu buru-buru dicarinya jalan untuk mencapai pintu.

Baekhyun berhasil keluar kelas bertepatan dengan dua orang guru dari dua kelas yg bersebelahan mendatangi kelasnya dengan muka marah. Soalnya kegaduhan dikelas itu sudah seperti ditengah pasar. Ketika Baekhyun sampai digudang dan membuka pintunya yang ternyata tidak dikunci, dilihatnya Sehun sedang bicara ditelepon dengan nada berapi-api.

"Iya, barusan aja dia ngasih coklat. Tapi maksa. Aku harus terima. Udah gitu, abis itu aku diancem, disuruh berenti ngelawan dia. Katanya kalo aku nggak berenti ngelawan, dia gangguinnya juga bakalan makin parah...coklatnya aku kemanain?...aku sebar dikelas!...Nggak sudi aku makan coklat yang dikasih kai sunbae. Ntar kalo dia taroin racun, gimana hayo? Atau dia kasih jampi-jampi. Dari musuhan terus kami jadi temenan deh gitu. Malah trus jadi akrab banget...Kok kamu malah ketawa sih?...Hiperbola?...Nggaklah. Itu bisa kejadian tau!"

Baekhyun mengunci pintu gudang. Sebentar lagi bel istirahat berbunyi. Jangan sampai ada yang tidak sengaja membuka pintu lalu memergoki pembicaraan Sehun. Cewek itu kemudian menyandarkan punggung ke dinding. Menunggu Sehun selesai menumpahkan kemarahannya, yang bahkan baru diteleponnya 30 menit yang lalu. Begitu menutup telepon, Sehun langsung menatap Baekhyun."kau punya duit tidak?"

"Buat apa?" Baekhyun balik menatap, bingung.

"Ya beli baju seragam baru lah. Dikoperasi. Masa aku mesti pake baju seragamku yang tadi dipake kai sunbae? Bekas keringetnya dia gitu. Gila kali!"

"JADI, rivalku sekarang sodara kembarku sendiri nih?"

Sehun, yang baru saja menapaki koridor utama yang menuju ke arah tangga nyaris saja terlonjak. Kai sudah berdiri rapat di sebelah kanannya. Dan dengan membungkukkan punggung, kalimat barusan dibisikkan cowok itu tepat di telinganya. Kemudian cowok itu menegakkan kembali tubuhnya.

"Nggak masalah," ucap Kai dengan nada ringan. Sejenak diangkatnya kedua alis. "Tapi aku dengannya memiliki sifat yang sama lho ya"

"Nggak. Beda banget, tau!" serta-merta Sehun membantah. Kai tersenyum geli.

"Kau tau apa sih? Aku kenal dia dari kecil. Dan dalem perut malah."

"Beda!" Sehub tetap ngotot. Senyum Kai jadi semakin lebar.

Cowok itu mengulurkan tangannya ke belakang, seperti mencari-cari sesuatu di saku belakang celana panjangnya. Sekotak rokok kemudian tergenggam di tangan kirinya.

"Kalo didekatmu tuh aku harus menyiapkan rokok. Buat peredam. Soalnya kau ini suka sekali ngelawan. Kalo nggak ada peredam, bisa-bisa aku apa-apain ntar," ucapnya sambil memasukkan kotak rokok itu ke saku kemeja. Penjelasannya membuat Sehun bergidik dan seketika mundur selangkah tanpa sadar.

"Itu korek ke mana, lagi?" kembali Kai mengulurkan tangannya ke belakang. Tiba-tiba ponselnya mengeluarkan ringtone tanda ada panggilan masuk. Dikeluarkannya benda itu dan saku depan celana panjangnya. Sesaat keningnya berkerut saat menatap layar ponsel.

"Panjang umuuuuur," sapanya untuk lawan bicaranya di telepon.

"Kami lagi membicarakanmu nih."

Jongin! Sehun tertegun. Tak menyangka akan menyaksikan komunikasi langsung kedua kembar itu di depan matanya. Langkahnya sampal terhenti. Kai ikut menghentikan langkah. Cowok itu kemudian pindah posisi ke depan Sehun. Sementara mulutnya berkomunikasi dengan saudara kembarnya di ujung lain telepon, kedua matanya terarah lurus pada Sehun. Ada pijar yang tak dimengerti Sehun, berkilat di kedua mata Kai.

"Sekarang aku sedang berduaan sama si kembar ketiga nih," ucap Kai. Kemudian terdiam. Perlahan kedua matanya menyipit tanpa fokus, sementara perhatiannya terkonsentrasi pada ponsel di satu telinganya itu.

"Kau ini semalem udah marah-marah hampir sejam! Masih kurang ya? Sekarang masih mau ngamuk lagi? Aku tutup teleponnya nih! ... Mau ngomong?" Kedua mata Kai melebar, kemudian dia tertawa geli. "Kau ini bodoh ya? Kita rival, kan? Nggak mungkinlah aku memberikanmu bicara sama dia selama ini cewek ada denganku . Apalagi pake HP ku pula. Bukan cuma nggak sopan, itu berarti nantang. Paham?"

Sekarang Sehun mengerti makna pijar yang bekerlip di kedua mata Kai. Ini pertarungan tiga kubu! Keberadaan Jongin yang tidak bersama-sama mereka memang membuat Kai jadi punya dua lawan terpisah. Sementara Jongin dan Sehun yang tidak bisa bersama-sama mau tidak mau harus menghadapi pentolan SMA Seoul High School ini sendiri-sendiri. Dan yang posisinya berada di atas angin untuk saat ini memang hanya satu orang. Kai!

Sepertinya Jongin memutuskan pembicaraan dengan tiba-tiba, karena kemudian Kai menjauhkan ponselnya dari telinga lalu memandangnya dengan kening berkerut.

"Nggak sopan. Main tutup gitu aja," dengusnya. Tapi kemudian seulas senyum geli—yang juga bisa diartikan sebagai kemenangan—tercetak di bibirnya. "Gimana kalo aku kirimkan dia SMS, pemberitahuan kalo ntar siang aku akan memaksa untuk memberi tumpangan pulang?" Ditatapnya Sehun dengan kedua alis terangkat. "Pasti makin berasep ubun-ubunnya. Sayang aki tak bisa ngeliat langsung." Sambil menekan-nekan tombol ponselnya, Kai menyeringai geli.

Dasar jahat emang ni orang! desis Sehun dalam hati. Tak lama kemudian, gantian ponselnya yang mengeluarkan ringtone pertanda ada panggilan masuk. Cewek itu bergegas mengeluarkannya dari saku kemeja.

Tapi belum sempat Sehun melihat nama siapa yang muncul di layar, Kai sudah keburu merebutnya. Seketika Sehun berusaha merebut kembali ponselnya, tapi gagal. Dengan tangan kanan mematahkan setiap usaha Sehun untuk mengambil kembali ponselnya, Kai menatap ke arah layar. Keningnya sesaat berkerut.

Ketika usahanya tak juga berhasil, akhirnya Sehun menyerah. Cewek itu hanya bisa melotot marah, yang tentu saja tidak berefek apa-apa.

"Nah, begitu dong. Tenang sedikit kenapa sih?" Kai memasukkan ponsel miliknya ke saku celana, kemudian menepuk-nepuk puncak kepala cewek di depannya. Sama sekali tidak mengacuhkan sepasang mata yang menatapnya dengan kilatan marah itu.

Sehun mengepalkan kesepuluh jarinya kuat-kuat. Kalau saja tidak sedang berada di sekolah, mungkin dia sudah menjerit-jerit saking marahnya. Kai mendekatkan ponsel Sehun ke satu telinganya.

"Ya?" ucap cowok itu, kemudian tertawa pelan. "Kok aku lagi? Kan tadi sudahku bilang, aku lagi berduaan sama kembar kita yang ketiga. Di depan ku persis nih orangnya... Oh, aku emang hobi merampas HP siapa aja... Balikin HP-nya ke dia? ... Ini perintah? ... Kalo aku nggak mau, gimana?" Kai menyeringai lalu tertawa geli.

"Jongin...," ucapnya kemudian dengan nada belagak prihatin, "kau itu nggak bisa apa-apa. Kau pikir kau ada di mana? Selama Sehun ada di wilayah kekuasaanku, apalagi kalo orangnya lagi ada di dekatku begini, otomatis dia ada di bawah otoritasku."

Selama beberapa detik berikutnya Kai tidak bicara apa-apa, hanya tetap menempelkan ponsel Sehun di telinga sambil tersenyum, kadang tertawa tanpa suara.

"Sst!" cowok itu menempelkan telunjuk kanannya ke bibir. Seolah-olah Sehun sedang menciptakan keributan. Padahal setelah usahanya merebut ponsel gagal, dan tadi cewek itu cuma diam menahan marah. "Ada yang lagi memohon,' bisik Kai. Dia kedipkan satu matanya. Kemudian selama beberapa detik cowok itu terdiam lagi, serius dengan ponsel Sehun yang menempel di satu telinganya itu.

Pembicaraan berakhir. Kai menjauhkan ponsel itu dan telinganya tapi tidak menyerahkannya kepada sang pemilik.

"Tolong jangan meganggumu, katanya," Kai memberitahu Sehun percakapan terakhimya dengan Jongin. "Permohonan sia-sia. Kalo aku mau ganggu kamu, bisa apa dia? Iya nggak? Tapi aku seneng sih dengernya. Ada yang sampe memohon! Coba kau bayangin. Ck ck ck!" dia berdecak sambil geleng-geleng kepala. Sementara jarinya sibuk menekan tombol-tombol di ponsel Sehun.

"Kalo saham, nilai mu melonjak, Hun."

Kurang ajar! maki Sehun dalam hati. Tapi kemudian dia menyadari apa yang sedang dilakukan Kai terhadap ponselnya.

"Sunbae ngapain?" tanyanya seketika. Kai tidak menjawab. Jarinya semakin cepat menekan tombol-tombol ponsel di tangannya.

"Sunbae ngapain sih!?" seru Sehun. Kali ini sambil berusaha merebut ponselnya. Kai berkelit. Dia julurkan tangan kirinya yang memegang ponsel Sehun tinggi-tinggi. Sementara tangan kanannya mematahkan setiap usaha Sehun untuk merebut ponselnya kembali. Tak lama...

"Nih!" Kai menyerahkan kembali ponsel itu pada sang pemilik. Sehun menerimanya dengan tampang murka.

Sesaat cowok itu menatap Sehun, yang langsung sibuk memeriksa ponselnya. Sorot kedua matanya menyiratkan kepuasan sekaligus seperti menunggu sesuatu. Kemudian dia balik badan dan pergi dengan langkah-langkah santai. Segera Sehun tahu apa yang telah hilang dati ponselnya. Nomor ponsel Jongin!

Tidak tanggung-tanggung. Kai bukan saja menghapus nama saudara kembarnya dan fitur Contacts, tapi juga dan Received Calls, Missed Calls, Messages, dan semua fitur-fitur lain. Keseluruhan jejak Jongin di ponsel Sehun lenyap. Bersih!

"Kai sunbae kok nomornya Jongin dihapus sih!?" seru Sehun. Kai tidak mengacuhkan. Terus berjalan. "Kai sunbae!?" seru Sehun lagi. Kali ini sambil dihampirinya cowok itu.

Kai menoleh ke belakang dan terkejut mendapati Sehun tengah menghampininya dengan langkah-langkah cepat, nyaris setengah berlari, dan ekspresi yang benan-benar marah. Begitu jarak mereka tinggal selangkah, mendadak Sehun mengulurkan tangan kanannya.

Kondisi cewek itu sudah cukup membuat Kai waspada sejak tadi. Karenanya begitu tangan kanan Sehun terulur, apa pun tujuannya, dengan sigap Kai menangkapnya tepat di pergelangan tangan. Begitu tangan kanannya terkunci, Sehun langsung mengulurkan tangan kirinya. Kali ini dengan tekad harus bisa melukai Kai.

Jelas lebih mudah bagi Kai untuk mengunci serangan itu dengan tangan kanannya yang bebas. Sehun sampai mengepalkan kedua tangannya, saking kerasnya dia berusaha untuk bisa menyentuh Kai. Cubitan, cakaran, tinju. Apa aja, yang penting kena.

Kai tak perlu mengerahkan banyak tenaga untuk menahan serangan itu. Dua kepalan tangan penuh amarah itu terhenti sepuluh sentimeter dari dadanya. Dan terhenti pada jarak itu. . Sekuat apa pun Sehun berusaha, tubuh di depannya tetap tak bisa disentuhnya.

Kedua kepalan tangan Sehun kemudian terbuka. Kali ini coba disentuhnya Kai dengan ujung-ujung jari menambah jangkauan sepanjang tujuh sentimeter dan tinggal menyisakan tiga sentimeter ruang kosong di antara mereka.

Jarak teramat tipis yang sayangnya, sekuat apa pun Sehun mengerahkan tenaganya, tidak berhasil ditembus karena Kai mengetatkan cekalan kedua tangannya. Tiga sentimeter yang akhirnya menguraikan emosi cewek itu dalam bentuk sesaat isak lirih yang tak lagi mampu ditahan. Bukan saja karena peristiwa penghapusan nomor Jongin dari ponselnya, tapi juga akumulasi tindakan Kai di lapangan olahraga kemarin serta semua tindakan Kai sebelum-sebelumnya. Namun, tak lama kemudian Sehun berhasil memaksa tangisnya untuk habis tertelan. Semata karena dia tidak ingin cowok sialan di depan matanya ini bisa menikmati kekalahannya lebih lama.

"Kenapa kau hapus nomor Jongin!?" kali ini Sehun benar-benar hanya bertanya. Kedua tangannya yang masih dicengkeram Kai melunglai.

.

.

.

.

Kayanya udah pada lupa ya sama ceritanya?btw yang trilogi jds ke 3 nya udah keluar loh^_^ jgn lupa beli yang aslinya guys hehe maaf ya sempet mandet lama remake novelnya:( review yuuuu