sassy.chessy present :
A Hunkai Fanfiction
NEVER TOO FAR
Cast : Kim Jongin, Oh Sehun
It's Sequel of Fallen Too Far
Happy Reading!
.
.
.
Never Too Far : Chapter 25
- Jongin -
Aku tidak membutuhkan lebih dari ranjang full size. Namun, Sehun menolak membeli kurang dari ranjang berukuran king, dua nakas dan satu lemari yang serasi dengan sebuah cermin yang cantik. Aku membuat kesalahan dengan terlalu lama memandangi pada sehelai selimut berwarna lavender dan shams yang serasi. Sebelum aku tahu apa yang terjadi dia telah membeli seluruh perlengkapan alas tidur lengkap dengan sprei dan bantal baru. Aku mendebatnya sepanjang waktu tapi dia bersikap seakan-akan aku sedang tidak berbicara. Sehun hanya berkedip padaku dan terus saja menempatkan pesanannya dan memberikan pengarahan kepada sang salesman.
Sekembalinya kami dari makan malam, yang mana dia bersikeras untuk memberiku makan, semua furniturnya telah diantarkan. Yuri berdiri di pintu ketika kami naik. Dia menyukai ini.
"Terima kasih telah memperbolehkanku melakukan semuanya hari ini. Aku membutuhkannya. Kau mungkin tidak mengerti namun aku harus melakukannya," Sehun berujar sebelum aku membuka pintu mobil.
Aku balik memandangnya. "Kau butuh membelikanku seluruh perlengkapan kamar tidur dan sprei yang mahal?" tanyaku, kebingungan.
"Yeah, benar."
Aku tidak mengerti tapi aku menganguk. Jika dia perlu melakukannya aku akan menghargainya. Aku masih belum percaya bahwa semua itu milikku. Aku akan merasa menjadi seorang putri di dalam kamarku. "Well, terima kasih sebelumnya aku tidak mengharapkan apa pun lebih dari sebuah ranjang. Aku tidak siap untuk dimanjakan."
Sehun mencondongkan tubuhnya ke depan dan menekankan sebuah kecupan disamping telingaku. "Yang kulakukan tadi sama sekali belum mendekati memanjakanmu. Namun aku berniat menunjukkanmu apa tepatnya yang dimaksud dengan memanjakan."
Aku bergidik dan meremas pegangan pintu. Aku tidak akan membiarkannya membelikanku apapun lagi. Aku harus menghentikannya namun ciuman-ciuman di seputaran telingaku membuat sulit untuk fokus.
"Mari kita lihat bagaimana keadaannya," katanya saat menarik diri.
Jarak. Harus mendapatkan sedikit jarak. Aku sangat siap melompat kearahnya sekarang. Bukan hal yang bagus. Kontrol. Hormon-hormon kehamilan ingin mengambil alih.
Sehun berlari mengitari bagian depan Rover ketika kubuka pintu di sisiku dan bersiap keluar. Dia kemudian mengambil tempat di depanku, mengambil tanganku dan membantuku turun seolah aku seseorang yang tidak berdaya sebelum aku dapat turun sendiri.
"Aku bisa keluar sendiri, kau tahu," tukasku padanya.
Sehun terkekeh. "Yeah namun apa yang seru dari hal itu?"
Tertawa, aku mendorong melewatinya dan berjalan menuju Yuri yang telah menonton kami seakan kami adalah salah satu drama favoritnya di televisi.
"Nampaknya The Pottery Barn memutuskan untuk menurunkan pengiriman terakhir mereka di kamarmu." Yuri berkata, menyeringai seperti anak kecil yang berada di toko permen.
"Bolehkah aku tidur denganmu di tempat tidur luar biasa besar itu malam ini? Kasurnya menakjubkan!"
"Tidak. Dia membutuhkan istirahat. Tidak ada teman tidur," timpal Sehun, berjalan ke belakangku dan membungkuskan lengannya dengan protektif disekeliling pinggangku.
Pandangan mata Yuri jatuh ke pinggangku dan kemudian kembali menatap Sehun. "Kau tahu," ujarnya, terlihat amat senang.
"Ya, aku tahu," jawab Sehun. Dia menegang di belakangku. Aku merasa sangat jahat. Satu lagi orang yang telah kuberitahu mengenai kehamilanku sebelum aku memberitahunya. Sehun memiliki semua hak untuk marah. Aku seorang pendusta. Apakah dia akan menyadarinya dan meninggalkanku sekarang?
"Baguslah," Yuri berkata dan melangkah membuka jalan supaya kami bisa masuk kedalam.
"Bagaimana kalau kau memastikan mereka meletakkan semua furniturnya tepat dimana kau menginginkannya," Sehun berujar padaku ketika kami telah masuk.
"Ide yang bagus." Aku meninggalkannya disana untuk memeriksa furnitur. Jika dia marah padaku dia akan membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
Para pria pengantar barang telah melakukan pekerjaan yang bagus dalam penempatan furniturnya sehingga aku tidak perlu memberi instruksi apapun. Aku senang dengan cara mereka menempatkan barang-barang itu. Berjalan kembali ke ruang keluarga kudengar Yuri berbisik dan aku pun berhenti melangkah.
"Dia makin membaik. Dia telah sakit beberapa waktu namun dua pagi terakhir ini dia tidak muntah-muntah lagi."
"Kau telepon aku di detik ketika dia terlihat mungkin akan sakit." Sehun bahkan membuat bisikannya terdengar seperti nada perintah.
"Yeah, aku akan meneleponmu. Aku sama sekali tidak mendukung seluruh ide 'jangan bilang pada Sehun'. Kau yang melakukan ini terhadapnya. Kau harus selalu berada disisinya."
"Aku tidak akan kemana-mana," sahut Sehun.
"Sebaiknya begitu."
Sehun terkekeh, "Jika dia tidak mau tinggal bersamaku setidaknya dia memiliki kau yang akan melindunginya.."
"Tepat sekali. Jangan kira aku tidak akan membantunya menghilang kalau kau mengacaukan hal ini lagi. Kau menyakitinya dan dia akan pergi."
"Aku tidak akan pernah menyakitinya lagi."
Dadaku sakit. Aku ingin mempercayai Sehun. Aku ingin menyakininya. Ini adalah bayi kami. Banyak sekali hal yang sulit untuk dimaafkan namun aku harus mempelajari bagaimana caranya. Aku mencintai Sehun. Aku yakin aku akan selalu begitu.
Aku berjalan memasuki ruangan dan tersenyum. "Mereka menempatkan furniturnya tepat dimana aku menginginkannya." Sehun mengulurkan tangan dan menarikku kedalam dekapannya. Akhir-akhir ini dia menjadi sering melakukannya. Dia tidak berkata sepatah kata pun. Dia hanya memelukku. Yuri meninggalkan ruangan dan aku melingkarkan lenganku disekelilingnya dan kami berdiri dengan posisi demikian untuk waktu yang cukup lama. Itu adalah pertama kalinya aku tidak merasa sendirian dalam waktu yang sangat lama.
.
Sehun tidak meminta untuk menginap. Aku merasa agak terkejut. Dia juga tidak melakukan apapun lebih dari menciumku sebelum dia pergi. Itu tidaklah cukup menenangkanku dari mimpi-mimpiku. Aku terbangun sekali lagi sebelum mencapai orgasme, membuatku amat frustrasi. Kulempar selimutku dan duduk. Hari ini aku mendapat giliran bekerja pada waktu makan siang.
Aku telah menelepon Mark tadi malam dan memohon maaf karena telah melarikan diri darinya namun dia mengerti dan bertanya padaku apakah semuanya berjalan dengan baik. Sehun berdiri disana mendengarkan setiap perkataanku jadi aku terburu-buru menutup telepon. Aku sendiri akan menghadap Mark hari ini dan berbicara padanya. Dia sangat pengertian.
Mark memerintahkanku bekerja di ruang makan selama sisa minggu. Satu-satunya hari dia menyuruhku bekerja di lapangan adalah hari Sabtu karena akan ada turnamen. Semua orang diharapkan bekerja di luar.
Ketika pada akhirnya aku berjalan memasuki dapur aku disambut oleh sekotak donat, sebuah catatan kecil tertempel diatasnya. Tersenyum, kuambil dan baca catatan tersebut.
Aku kehilanganmu semalam. Aku tidak sanggup memakan ini semua sendirian. Semoga semua hal berjalan lebih baik.
Penuh Cinta,
Tao.
Sial! Aku telah melupakan tentang kencan donat. Satu orang lagi yang harus kumintakan maafnya. Namun pertama-tama, aku menginginkan susu dan beberapa donat.
.
End for This Chapter
sassy.chessy
