WARNING! This fanfiction contains BDSM and dirty talks. Rated: M (25+)
(Sebelumnya, di Roughest Desire...)
Menyadari waktu tidak mungkin diulang dan kebodohanku tidak mungkin dapat diperbaiki, aku menurunkan kedua tanganku dari pipi Yoongi. Perlahan.. menyentuh bahu hingga dada bidang Yoongi.
"Yoongi..", lirihku.
"Yes, honey..?"
"I love you."
"I love you too, my world..", ucap Yoongi
ROUGHEST DESIRE
Chapter 24: Monster
Namjoon bukanlah seorang pria yang diam saja ketika 'miliknya' diambil orang lain.
Ia bukanlah seorang pria yang cuek saja ketika 'miliknya' pergi bersama orang lain.
Namjoon mengetahui Seokjin mengambil cuti untuk liburan bersama keluarganya ketika ia berkunjung ke ruang dosen, berpura-pura mencari Seokjin untuk mendiskusikan skripsinya yang sebenarnya sudah terbengkalai sejak kapan hari.
Ketika para dosen di sana memberitahu dirinya tentang keberadaan Seokjin yang sekarang ada di belahan benua lain, Namjoon naik pitam. Ia masih sempat berterimakasih dan menundukkan kepalanya kepada para dosen, lalu keluar ruangan dosen dengan tenang.
Namun setelah keluar dari sana, emosinya semakin memuncak seiringan dengan semakin mendekatnya ia ke tempat mobilnya diparkir. Namjoon langsung menancap gas sekencang-kencangnya keluar dari areal BigHit Institute. Petugas gerbang institut sampai geleng-geleng kepala, tidak habis pikir dengan kelakuan anak muda zaman sekarang, katanya.
Namjoon melajukan mobilnya menuju club langganannya, tempat ia biasa mencari jalang-jalang sebelum ia menetap dengan satu jalang kesayangannya, Seokjin. Namjoon memesan satu meja yang dilapisi tenda dengan tirai tipis yang tampak seperti surai benang panjang. Namjoon duduk di sana lengkap dengan satu pitcher alkohol dan dua wanita panggilan di setiap sisi tubuhnya.
Biasanya Namjoon bisa-bisa saja 'menghabisi' para wanita yang menemaninya itu. Four some? Iya, Namjoon kuat, kok. Bahkan jika belum puas, ia suka mengorder beberapa jalang lagi hingga nafsunya mereda. Tapi, kali ini bahkan Namjoon merasa jijik dan risih dengan para jalang itu. Akhirnya ia pun pergi dari mejanya, pergi ke area bar, dan memesan bergelas-gelas alkohol dalam waktu dua jam ia duduk di sana.
Barista yang sedari tadi melayani Namjoon sudah biasa melihat pemandangan pelanggannya yang tertidur atau pingsan setelah menelan bergelas-gelas alkohol. Seperti yang terjadi pada Namjoon sekarang. Sang barista memutuskan untuk menelepon 'bantuan' untuk membawa Namjoon pulang, karena nampaknya Namjoon tidak akan mampu bahkan untuk sekedar berdiri saja.
Si barista berkali-kali mendengar Namjoon bergumam 'Seokjin.. Jin... Jinseok... aku minta maaf.. aku akan memperlakukanmu dengan baik...' dalam tidur tidak tenangnya. Si barista merogoh saku Namjoon untuk mengambil ponselnya dan menelepon si Seokjin itu. Beruntung sekali ponsel Namjoon tidak diberi password.
Si barista melihat call logs, dan ternyata nama kontak 'Seokjin Baby' berada di paling atas dan paling sering dipanggil. Si barista pun mencoba menelepon kontak Seokjin, namun ternyata nomor Seokjin tidak aktif. Saat akan mencoba nomor lainnya, ada telepon masuk dari nama kontak 'Jung Dawon'.
"Yeoboseyo?"
[Neo nuguya?], tanya suara di seberang sana, mungkin Jung Dawon ini teman pria yang tertidur itu, pikir si barista.
"Saya barista di Octagon Club. Apakah Anda teman pria berambut biru, berkulit tan, dan bertubuh tinggi ini?"
[Ne, saya yeoja chingu-nya.]
Yeoja chingu? Bukankah kontak 'Seokjin' yang diberi tambahan 'baby'? Pikir si barista dalam hati, namun ia tidak ingin terlibat lebih jauh dalam hubungan pelanggan club ini. Jadi, ia memilih bungkam.
"Kekasih Anda jatuh tertidur setelah meminum hampir satu pitcher alkohol, agassi. Kalau bisa, tolong segera dijemput, karena Octagon sebentar lagi tutup."
[Arraseoyo, tolong tunggu sampai saya tiba di sana.]
Ω
Di sisi lain, Jung Dawon, atau yang lebih akrab dipanggil Jiwoo, memutuskan hubungan telepon dan langsung mengambil kunci mobilnya. Tidak peduli jika ia harus kabur diam-diam lagi supaya tidak dimarahi kakaknya, Hoseok.
Tapi, mengingat sekarang sudah jam 11 malam, dan tadi Hoseok pamit pergi tidur jam 9 malam, kemungkinan besar Hoseok sudah tidur lelap sekarang. Jiwoo pun nekat pergi ke Octagon untuk menjemput dan mengantarkan Namjoon pulang. Iya, Jiwoo sebegitu whipped-nya pada Namjoon, sedangkan Namjoon hanya menganggapnya sebagai 'mainan'.
Sesampainya Jiwoo di Octagon, ia langsung berlari mencari-cari Namjoon, dan tersenyum senang walau pun hatinya tercampur rasa sedih dan kecewa. Kenapa Namjoon bisa sampai semabuk ini, apa ia memiliki masalah berat.. Pertanyaan-pertanyaan berkelibat di benak Jiwoo. Namun ia bisa menanyakannya nanti ketika ia sudah membawa Namjoon kembali ke apartemennya.
"Oppa..", panggil Jiwoo, berbisik di telinga Namjoon.
"Oppa, bangunlah.. Kita pulang.", kata Jiwoo lagi seraya mengusap lengan Namjoon lembut.
Namjoon mulai menggerakkan tubuhnya. Ia mengerjapkan matanya, lalu tersenyum dan berhambur memeluk Jiwoo.
"Jinnie..", lirih Namjoon.
DEG!
Rasanya jantung Jiwoo baru saja melewatkan tempo aliran darahnya selama beberapa detik. Tadi Namjoon memanggil siapa? Jinnie?
"A-aniya, oppa.. Ini Jiwoo. Bukan... Jinnie..", ucap Jiwoo dengan suara bergetar sambil menarik Namjoon berdiri.
"Hihihi.. Kamu ini ngo—hik, ngomong apa s-sih? Hm..? My baby Jinseok..", Namjoon berusaha mencium Jiwoo, tentu saja Jiwoo merasa senang, jika saja nama yang disebutkan Namjoon adalah namanya.
Jiwoo menahan Namjoon, dan ciuman pun batal terjadi. Namjoon menggeram kesal, ingin marah, namun kepalanya yang berputar memang tidak bisa diajak berkompromi untuk saat ini. Ia ambruk dipelukan Jiwoo.
Susah payah Jiwoo menuntun—dan menyeret—Namjoon menuju mobilnya. Sedangkan mobil Namjoon ia biarkan di Octagon, biar Namjoon saja yang mengambilnya nanti. Jiwoo melajukan mobilnya dengan santai karena ia tidak mau Namjoon semakin pusing jika dibawa dengan kecepatan tinggi. Sebegitu sayangnya Jiwoo pada Namjoon, biarpun Namjoon menyakitinya 100 kali.. Jiwo akan 1000 kali lebih sayang lagi kepadanya.
Ω
"Jinseok.. Hik.. Kau sudah pulang? Hik. Kau khawatir, ya.. lalu menjemputku? Hik."
Jiwoo mendudukkan Namjoon di sofa ruang tengah, lalu berkata dengan jengah. "Oppa, sudah kukatakan berkali-kali, aku bukan Jinseok! Aku Jiwoo!"
Namjoon menarik Jiwoo hingga gadis itu terjatuh dan mendarat dipelukannya. "Shhh.. Jangan marah-marah terus.. Hik.. baby..."
Namjoon mencium bibir Jiwoo dengan kasar. Awalnya Jiwoo menolak, karena Namjoon sedang dalam keadaan tidak sadar, dan lagi Namjoon menganggap dirinya sebagai wanita lain sedari tadi. Hati Jiwoo betul-betul terkoyak.
Namun, mau ditolak sebagai mana pun juga, ciuman Namjoon memang akan selalu menjadi favorit sekaligus kelemahan seorang Jung Dawon. Setelah beberapa menit mencoba melawan dan menolak, akhirnya Jiwoo luluh juga dan membalas ciuman Namjoon tidak kalah beringasnya.
"I missed you so much, Jinseok..", ucap Namjoon sambil menelanjangi Jiwoo.
Namjoon menciumi seluruh permukaan kulit Jiwoo, mulai dari leher, dada, perut, hingga rambut pubik Jiwoo. Membuat Jiwoo merinding dan melenguh. Siapa pun 'Jinseok' yang dimaksud Namjoon, bisa ia cari tahu nanti. Sekarang ini ia hanya ingin menikmati Namjoon yang sedang dalam mode lembut. Berbeda dari permainan seks mereka yang biasa, sekarang ini Namjoon memperlakukan Jiwoo layaknya seorang puteri, tanpa sex toy mau pun punishment.
Merasa cukup menggoda dengan menciumi daerah miss V, Namjoon menjulurkan lidahnya, menjilati dan menghisap lubang hangat yang sebentar lagi akan siap menampung penisnya yang sudah membengkak di balik balutan celana jeans-nya.
Kaki Jiwoo menangkup kepala Namjoon, tangannya mendorong kepala Namjoon agar menghisapnya lebih jauh lagi. Lebih dalam lagi. Karena sungguh, rasanya seperti di surga.
Namjoon mengganti lidahnya dengan dua jarinya, lalu ia melepas celana jeans-nya dengan susah payah. Mengingat kepalanya masih terserang hang over yang hebat. Namun wanita yang sudah telanjang bulat di hadapannya ini tentu tidak bisa dilewatkan. Apalagi Namjoon mengira bahwa wanita ini adalah Seokjin.
"Aku masuk, ya, sayang..", ucap Namjoon lirih sambil memeluk kepala Jiwoo lembut dan memberikan ciuman kupu-kupu di seluruh permukaan wajah Jiwoo.
Jiwoo sendiri sedang mengalami dilema yang parah. Ia senang diperlakukan secara 'selayaknya' oleh Namjoon. Tapi ia juga sedih dan depresi luar biasa, karena Namjoon mengira dirinya adalah wanita lain.
Namjoon menyentuhkan penisnya di pintu labia Jiwoo, menggodanya beberapa saat, sebelum akhirnya menanamkan keseluruhan daging keras dan besar itu ke dalamnya. Keduanya melenguh puas, merasa nyaman dengan perasaan menjepit di bagian selatan mereka.
Namjoon mulai memompa lubang senggama Jiwoo dengan tempo pelan, seakan takut merusak lubang itu. Namjoon juga menciumi seluruh tubuh Jiwoo seakan-akan ia sedang bersenggama dengan sebuah maha karya yang patut dilestarikan.
Hingga akhirnya kedua insan muda itu mencapai puncak kenikmatan mereka, dan merasa saling puas dengan pasangan seksnya. Namun, mereka masih ingin melanjutkan perasaan itu, sehingga akhirnya mereka melakukannya lagi, dan lagi, dan lagi, di ranjang Namjoon.
Ω
Esok paginya, Namjoon bangun dengan perasaan paling tidak enak di dunia. Hang over. Ia menyibak selimutnya, bingung kenapa ia bisa sampai di apartemennya sendiri, tidur di ranjangnya sendiri, namun tidak menggunakan pakaian sehelai benang pun. Tapi, ia bisa memikirkannya nanti, karena sekarang ini rasanya ia ingin muntah.
Namjoon berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan hampir seluruh makanan dan minuman yang ia santap kemarin, kebanyakan memang hanya alkohol saja, sehingga menimbulkan efek mual luar biasa di perutnya dan perasaan tidak enak di hidung dan tenggorokkannya. Setelah mengeluarkan semua isi perutnya, Namjoon merasa sedikit lebih baik daripada tadi. Ia pun memutuskan untuk mandi agar mabuknya jadi lebih cepat hilang.
Selesai mandi, ia berjalan tanpa menggunakan handuk menuju lemarinya, karena ia memang biasanya bertelanjang seperti itu setelah mandi. Toh ia tinggal sendirian, sehingga ia tidak perlu menutupi apa pun dari siapa pun.
Namun, ia bingung ketika melihat gundukan selimut di ranjangnya, dan juga rambut panjang berwarna burgundy yang menutupi wajah si empunya. Namjoon memang sering tidur dengan banyak wanita saat ia mengunjungi club, namun ia tidak pernah membiarkan mereka datang ke apartemennya, apalagi tidur di ranjangnya. Kecuali jika ia sudah membuat 'kontrak' dengan jalang tersebut untuk 'rutin' datang ke apartemen Namjoon. Tapi itu pun hanya untuk bermain di Play Room saja.
Jadi, siapa gerangan wanita berambut burgundy itu?
Namjoon melangkahkan kakinya mendekati wanita itu, dan terkejut dan lega ketika ia mengenali bahwa wanita itu adalah Jiwoo. Setidaknya ia tidak membawa sembarang wanita untuk datang ke apartemennya. Dan Jiwoo memang salah satu dari koleksi jalang yang paling setia dan penurut, yang bertahan dari awal Namjoon merasakan penyimpangan seks hingga kini.
Merasa diperhatikan, Jiwoo terbangun dari tidurnya. Ia terkejut melihat Namjoon berdiri di samping ranjang—dan tidak mengenakan apa pun—bukannya masih tertidur di sampingnya.
"Oppa? Sudah merasa lebih baik?", tanya Jiwoo sambil mencoba meraih tangan Namjoon. Tapi, sayangnya Namjoon menepis tangan itu dengan kasar.
"Kenapa kau bisa ada di sini?", tanya Namjoon dingin.
Jiwoo mendudukkan dirinya dan mengusak wajahnya sebelum menjawab. "Kemarin kau mabuk parah, oppa.. Kau tidak sadarkan diri di Octa... Pihak Octa memberitahuku, jadi aku datang menjemput oppa."
Namjoon menyentuh dahinya, frustasi. "Lalu, apa yang kita lakukan semalam?"
"Tentu saja seks, oppa. Memangnya apa lagi? Ah! Semalam kau benar-benar gentle, Jiwoo suka, deh! Coba setiap hari oppa seperti itu.."
Ingatan mulai memasuki otak Namjoon. Ia tertidur di bawah pengaruh alkohol. Lalu seseorang datang menjemputnya, dan ia pikir itu adalah Jin, padahal ternyata.. Jiwoo? Lalu, ia mencium Jiwoo dengan penuh penghayatan karena ia memang sangat merindukan Jin dan ingin memperlakukan Jin sebaik mungkin ketika mereka bertemu nanti. Dan ternyata, semalam ia melakukannya dengan Jiwoo? Dan tanpa pengaman?!
"Apakah—apa kau ingat, aku menggunakan kondom?", tanya Namjoon geram.
"Tentu saja tidak. Oppa mana sempat mengambil kondom, oppa kan tidak melepasku pergi sama sekali..!"
"..kan."
"Ne? Oppa bilang apa?"
"Gugurkan. Kalau kau hamil, gugurkan."
Sontak, Jiwoo membelalakkan matanya. "Oppa ini bicara apa, sih?!"
Namjoon menyentak dan menyengkeram kedua bahu Jiwoo dengan kasar. "Aku tidak menggunakan pengaman. Kau tidak pernah minum pil kontrasepsi atau pun menggunakan metode lainnya seperti yang kusuruh. Dan kita melakukannya berkali-kali, god dammit! Kau pikir kau tidak akan hamil?!"
Jiwoo menghentakkan cengkeraman tangan Namjoon yang menyakitinya. Namun, tetap tidak sesakit ucapan Namjoon. "Oppa, apa kau gila?! Tentu saja aku tidak akan menggugurkan bayi ini kalau nanti ternyata aku hamil! Itu berarti kita akan menjadi pembunuh!"
Namjoon kesetanan. Ia mencekik leher Jiwoo, tidak dengan seluruh tenaganya, ia tidak mau membunuh Jiwoo. Ia hanya mencekik Jiwoo agar gadis itu diam. "Listen. Aku tidak akan mengakui bahwa aku ayah dari anak itu. Jadi, lebih baik kau gugurkan ketika kau mengetahui bahwa kau hamil, sebelum perutmu membesar. Camkan itu."
Namjoon melepas cekikannya, meninggalkan Jiwoo yang megap-megap mencari udara sambil terbatuk-batuk.
Dengan itu, Namjoon bergegas menuju lemari pakaiannya, mengambilnya dengan asal, menggunakannya, dan pergi meninggalkan Jiwoo seorang diri yang sedang menangis tersedu-sedu di belakangnya.
Sebelum Namjoon menyentuh pintu kamarnya, Jiwoo berteriak, "Oppa, you monster!"
Namjoon membalasnya tanpa menghadap Jiwoo. "Yes, you can call me monster."
BRAK!
Namjoon pun pergi dari sana, meninggalkan Jiwoo yang menangis sambil memeluk perutnya sendiri. Memikirkan nasib anaknya jika memang, benar, ia hamil nanti.
TBC
Ω
Orul2 speaks up:
Chapter ini terisnpirasi dari beberapa lirik lagu exo monster hehehehe.
Di sini namjoon lagi galau berat. Terus mabuk. Karena dia ngebayangin jin terus, makanya dia ngeliat jiwoo juga jadi kayak jin hahaha
Yaudah gitu aja dulu untuk chapter ini. Kasian yah jiwoo. Maafkan aku unnie bikin kamu sedih2 di sini huhu
