Persona 4 : Birth of Tragedy

Genre : Suspense/romace/action

Disclaimer : Semuanya kembali pada milik masing-masing mengingat saya cuma punya OC-nya aja

Synopsis : Dan ada apa ini sebenarnya?

Author's note : Akhirnya sebuah updet dari cerita aneh yang makin ga jelas ini...selanjutnya adalah melanjutkan fic MVC saya di PLI..mengingat saya sedang libur selama 3 bulan (kayaknya sih). Anyway busway without way....sudikah anda kiranya memberikan sedikit review?


.

BAB 24

.

Toilet ruang rawat inap Naoto Shirogane

Inaba Municipal Hospital

Pukul 19.00

Sinar lampu neon panjang bewarna putih menyinari ruangan toilet rumah sakit yang bersih, steril lagi higienis ketika Vladimir Alexandrov Dostoyevsky terduduk di atas sebuah kloset putih berbahan porselain yang menempel pada dinding keramik kotak bercorak hitam putih bagaikan papan catur. Ia tidak melakukan apapun di sana, tidak buang hajat besar, tidak pula buang hajat kecil. Ia hanya terdiam dengan hanya desahan nafas yang terkesan misterius sementara di luarnya sebuah teriakan-teriakan 'aneh' yang lebih mirip sirkus Maksimus yang sedianya tidak boleh dilakukan di rumah sakit tengah terjadi. Entah kenapa sebabnya, ia tidak tahu, dinding tidak tahu dan mungkin hanya Tuhan yang tahu.

Ia hanya terfokus pada sebuah kertas yang terselip pada balik kaca wastafel ruang kecil itu yang bertuliskan sebuah tulisan aneh berbunyi :

Serupa tapi tidak sama, palsu tetapi asli.

Setidaknya jika ingin masalah ini cepat selesai harusnya di tua itu memberikan kode yang lebih mudah lagi.

Sebuah panggilan masuk terdengar dari sambungan CODEC yang terselip di telinga pemuda itu.

Dari si tua....

"Ya,..." kata Vlad dengan nada enggan.

"Kau sudah baca pesan bawahanku?"

"Dan kau menyuruhku ikut acara Who Wants To Be A Millionaire, sialan..."

Igor tertawa mendengar jawaban itu.

"Jika sekarang kita ada di bar pinggiran kota Moscow, mungkin kau harus siap-siap mengganti hidung paruhmu dengan hidung pinokio..."

Igor semakin tertawa terbahak-bahak mendengar, "Setidaknya itulah yang kelebihan bawahanku yang sekarang ketimbang kau, anakku...splendid"

Sial...ingin rasanya Vlad meninju hidung si tua itu hingga melesak ke dalam....

"Bukankah isinya sudah jelas?"

"Jelas di sebelah mananya?"

"Bunyinya kan sudah tegas pada bagia...."

BRAKKKKKKKKKKK!

Sebuah hantaman pintu menghalangi penyampaian suara Igor dilanjutkan dengan kata Tolong yang sangat keras oleh seorang pria bersuara cempreng disusul kata 'Diam' yang sangat dingin dari seorang wanita.

"Kau sudah jelas, anakku?"

Vlad jadi bungkam sejenak.

"Bisa kauulangi sekali lagi?"


Tempat parkir Inaba Municipal Hospital

Saat yang sama

"REM!YOSUKE! REM!"

Teriakan Chie Satonaka terdengar begitu menggelegar saat motor bebek yang ditumpanginya melesat dengan kecepatan 60 km/ jam sementara kedua tangannya memukul-mukul helm sang pengendara di depannya dengan keras hingga kepala sang pengendara menjadi bergetar ke kiri dan ke kanan, membuatnya hilang konsentrasi sehingga alih-alih rem, yang dilakukannya justru memutar pedal gas pada stang kanannya sehingga laju kendaraan bermotor roda dua itu menjadi semakin menggila seperti laju orang dikejar setan.

"REM! YOSUKE BODOH!"

"Diamlah kau Chie! Setidaknya singkirkan dulu tanganmu dari atas helmku!" Teriak Yosuke dari balik helmnya dengan kesal, tetapi ia membuat kesalahan fatal dengan menoleh ke belakang, melupakan jalur yang ada di depan matanya.

Apakah ini yang dinamakan setan jalanan?

"Jika kau tenang sedikit, kita bisa sampai lebih cepat tahu!"

Pria berambut pirang berhelm orange seperti headset yang dipakainya sehari-hari itu lalu memencet tuas rem di dekat stang gas motor bebeknya tetapi sebuah kesalahan dilakukannya dengan memencetnya terlalu kuat sampai-sampai rem cakram yang menempel pada daerah roda mengunci telalu kencang, alhasil yang terjadi adalah sebuah aksi whelie ala BMX yang gagal, bagian belakang motor itu malah terangkat tinggi sejenak dan berakhir dengan menghujamkan dirinya kembali ke aspal....dengan keras.....sebelum kemudian kembali mogok...

Tetapi apapun yang terjadi, rasa-rasanya dada Chie sudah keburu berdebar tak keruan terlebih dahulu, mungkin jika tidak ada pembuluh darah yang mengikat dan merasuk dalam setiap bagian badannya maka bisa saja jantungnya melompat keluar dan berceceran di jalan.

Rasa-rasanya ia kapok menumpang motor bersama dengan Yosuke, ini akan menjadi yang pertama dan terakhir...

"A....aku.....hidup........." katanya terbata dari balik helmnya yang bewarna kuning. Ekspresi ketakutan masih belum hilang dari wajahnya sementara sang pria yang ada di depannya dalam jarak beberapa senti hanya bungkam bersimbah keringat dingin yang membasahi sekujur tubuhnya entah karena ketakutan atau justru karena kuatnya dekapan sang penumpang pada pinggangnya.

Prioritas utamanya kini telah berganti...untuk sesaat ia tidak peduli dengan siapapun kecuali untuk turun, enyah dan hengkang dari motor laknat itu, motor yang sudah membawanya dalam sebuah perjalanan via jalan tol menuju neraka.

Oleh karena itulah ia segera menjejakkan kaki kirinya dan secepat mungkin turun dari motor honda bebek itu.

"H-hei, mau apa kau Chie? Kita masih belum sampai!"

Chie Satonaka menggelengkan kepala.

"Tidak Yosuke....tidak.....aku mau turun!"

"T-tapi....."

"Nggak Yosukee! aku nggak mau lagi!" kata Chie dengan ketus sambil menampar tangan Yosuke yang terjulur padanya seolah-olah hendak menyampaikan pesan bernada 'naiklah'

"Ch-Chie!"

"Pokoknya jangan pernah mengajak aku lagi ikut motormu!"

"Ta-tapi aku...."

"Cukup sudah! aku mau jalan sendiri...."

Kaki Chie yang sebelah kanan akhirnya turun dari kendaraan bermesin 2 tak itu. Maksud hati mencari pijakan untuk kaki di jalan akan tetapi kakinya mendarat di tempat yang salah sejak awal. Ia turun tepat di pinggiran sebuah selokan besar di daerah tempat parkir rumah sakit umum daerah itu dan alhasil tanpa ditanya lagi, keseimbangan Chie segera goyah bagaikan pohon kelapa yang ditebang. Ia terombang ambing sedikit dan segera jatuh kedalamnya saat Yosuke hendak berkata.

"...cuma mau bilang kalau lebih baik kuturunkan kau di tempat lain....."

Tapi sekali terlambat, tetap saja terlambat, manusia tidak bisa melawan waktu juga tak bisa memutar waktu. Tubuh Chie kini telah terlanjur masuk ke dalam selokan itu telah basah kuyup. Iapun telah berteriak-teriak kesal dengan wajah merah padam bagaikan orang kesetanan dalam film Exorcist lengkap dengan berbagai sumpah serapah dan caci makian yang tertuju pada sang pengendara yang beberapa menit yang lalu memang telah merasa seperti Valentino Rossi yang sedang berbalap motor dengan Dani Pedrosa dan Casey Stoner di Sirkuit Shizuoka.

Komplit sudah hari ini....

Hati Chie kali ini memang sudah rasanya ingin mencabik-cabik Yosuke Hanamura dan biasanya, jika sudah seperti ini yang dilakukan oleh Yosuke adalah tertawa menertawakan kesialannya.

Jangan...jangan lihat matanya...

Juga jangan dengar....

Gadis berambut bob itu tertunduk kebawah.

Tunggu sampai si bodoh itu pergi dengan motor bodohnya.

Tapi...

"Hoi, kamu nggak apa-apa kan?"

Pria itu justru malah ada di hadapannya dengan celana seragam yang telah terluntung.

Chie tidak menjawab.

"Apa sih maumu? Sudah kuingatkan...tapi tak mau dengar...."

"......"

Dinginnya air selokan atau seragamnya yang agak sobek atau amarahnya yang memang terlalu besar seakan mengunci mulut wanita berambut bob itu.

Alhasil, Yosuke menghela nafas panjang. Kayaknya aku sudah keterlaluan kali ini. Pikirnya dalam hati. Ingin rasanya setengah dari dirinya untuk tertawa atas kesialan temannya itu tetapi setengah dari dirinya seperti bersimpati padanya...simpati? Ya sebuah simpati sebab agaknya sahabat wanitanya benar-benar marah kali ini.

Pria itu lalu mengulurkan tangannya sambil berkata,

"Aku sudah merepotkanmu, itu memang fakta dan aku minta maaf...tetapi ayolah....siapa yang mau melihatmu dalam kondisi memalukan seperti ini?"

Apa yang aku dengar ini salah? Apa aku memang sedang melamun hari ini?

"Setidaknya jika kau memang marah, marahlah setelah kau bereskan dirimu..."

Apa aku sedang bermimpi?

"Ayo..." Pria bernama Yosuke Hanamura itu kemudian mengangkat tubuh basah Chie dari selokan itu dengan pelan dan menggendongnya keluar...sementara ponselnya bergetar kuat dan mulai mengumandangkan ringtone sang gadis kung fu itu yang berupa lagu The General's Order dari film Once Upon A Time In China.

"HP-mu bunyi..." ujar Yosuke, "Angkatlah..."

Chie menggeleng.

"Apa sih, biarkan saja dulu...."

Tanpa disadarinya wajah sang gadis telah merah seperti kepiting rebus, amarahnya telah pergi terbang entah kemana....mungkin hanyut bersama kotoran di selokan itu.

Yosuke....

Kali pertama baginya melihat Yosuke tampak seperti seorang pria...

Mungkin....selama ini...

Aku....

Salah menilainya...

Dan langkah mereka semakin menjauh dari tempat itu...meninggalkan motor bebek yang terparkir secara asal di tepian selokan dan berjalan mendekati pintu masuk yang berada beberapa ratus meter di depan.

"Dasar.....merepotkan......"

"Eh?"

"Diam! Jalan saja terus!"

"Dasar..." ujar Yosuke sambil tertawa.

Sedangkan ringtone itu terus berbunyi...


Toilet Kamar Naoto

Suara erangan dan teriakan terus terdengar di luar pintu saat Vlad mengeryitkan dahi keheranan akan apa yang baru saja didengar oleh telinga kirinya.

"Tunggu...kau yakin? Apa kau sudah memeriksanya dengan hati-hati jalur pengiriman persenjataan mereka kemarin?"

"Ya...tak salah lagi..."

"Apa kau yakin itu bukan dari Amerika Latin, Arab Saudi atau dari Thailand?"

"Kuragu orang di balik semua ini adalah orang yang kau kenal dengan sangat baik Vlad..." jawab Igor, "Kau pikir dari mana mereka bisa mendapatkan AK jenis tactical, helikopter Mil-26 bersenjata lengkap dan peralatan perang seperti itu? Agency? Lihat apa yang kukirimkan padamu..."

Vlad kemudian membuka telepon seluler yang ada di dalamnya, benar saja sebuah pesan baru telah masuk dan menunggu di dalamnya.

"Jangan kau pikir, kode akses yang kuminta pada Diana untuk ruangan ini hanya kupakai bermain poker dan minum-minum!"

Vlad hanya tertegun...memang benar...beberapa puluh file telah dimasukkan. Ia kemudian membuka file itu dan membacanya dengan teliti.

"I-ini....."

"Mungkin kau mau bicara dengan salah satu orangnya anakku.." Igor berkata, "Lihatlah daftar pasien yang baru saja kuberikan padamu..."

"Tunggu sebentar...."

BRAKKK!

Sebuah hantaman keras membentur pintu dengan keras...dan mungkin sangat keras jika sampai suara seperti itu terdeteksi oleh si hidung besar yang berada di kejauhan melalui alat komunikasi kecil yang menempel di telinga pemuda bermata merah itu. Membuat sang pria tua itu tergidik dan penasaran apa yang sedang terjadi.

"Ngomong-ngomong sedang apa kau disana Vlad?"

"Bukan urusanmu..."

BRAAAKKKKK!

Misao Takayama

Keigo Yamagishi

Yasuhito Kawaguchi

Eiji Morimoto

Naoto Shirogane

.....

Dengan pelan Vlad menelusuri daftar nama itu sementara di luar sana entah kenapa kamar rumah sakit itu jadi seperti penjara Siberia saja. Tidak jelas apa yang terjadi dan ini ada di antara siapa dengan siapa. Tapi yang jelas sepertinya ada satu orang yang sedang diinterogasi dengan keras untuk dikorek pengakuannya.

Seharusnya paling tidak gunakan aki dan setrum saja badannya....untuk apa juga ribut-ribut seperti ini. Ujar Vlad dalam hati.

Matanya terus bergerak naik turun menelusuri nama-nama yang ada satu persatu...setidaknya sampai ia sampai pada satu nama yang cukup tidak asing baginya.

Victor Takayama

"Victor Takayama..." ujar Vlad, "Sepertinya aku tahu orang ini...." sambil menatap profil pasien yang ada di depannya. Berkulit putih, berambut hitam tetapi agak menyerupai albino.

"Mungkin kau ingat seseorang yang kau temui di stasiun kereta?"

Tunggu.....Vlad mencoba menggali-gali ingatannya....

Stasiun kereta...

Pria berjas hitam.......

"AH!"

"Kurasa kau sudah tahu..." kata Igor,

"Tapi dia hanyalah salah satu bawahan di keluarga Seta.."

Igor menarik nafas panjang, "Memang...." ujarnya, " tetapi berdasarkan cek, arus rekening dan sumber lain yang kudapatkan, ia juga adalah seseorang penting dalam pemesanan senjata dari Ivan Rezanov sekaligus dalang dari peledakan pos polisi yang semula kita duga hanya buntut dari pertikaian antara kelompok Seta dan Kubo...."

Mendengar hal itu, Vlad terkejut bukan kepalang bagaikan tersambar petir di siang bolong (padahal di luar sana sudah malam).

"Re-Rezanov....apa maksudmu..."

"Ya...para hellhound itu bergerak lebih dari yang kita duga," jawab Igor, "Dan kau tahu nama lain Rezanov di Jepang?"

"Entahlah..."

"Nicolai Goncharov...dan Alexei Konstantinovich" jawab Igor, "Kurasa kau juga tidak begitu asing dengan mereka..."

Sontak jantung Vlad untuk sesaat terhenti dan telinganya seakan menuli tak peduli dengan keributan yang terjadi di luar kamar kecil. Jelas ia tahu siapa itu Nicolai Goncharov, seorang pedagang senjata dari Vladivostok yang selama ini menyuplai senjata untuk keluarga Kubo dan Alexei Konstantinovich, seorang pedagang senjata lain yang telah menyuplai persenjataan keluarga Seta via Kepulauan Sakhalin. Seharusnya ia telah membunuh Goncharov dalam misinya dulu tetapi memang setelah itu ia tidak mendengar ada perkembangan kabar semenjak saat itu. Tidak diketahui juga bagaimana keluarga Kubo mendapatkan suplai senjata setelah dealernya tewas, tidak ada kabar juga ia telah mengganti pemasok sementara dengan Konstantinovich, selama ini sang oyabun keluarga Seta sendiri; Sojiro Seta tidak pernah bertatap muka langsung dengannya. Sebuah kejanggalan yang aneh tetapi baru kali ini ia memikirkan sebuah kemungkinan yang ada, sekaligus yang paling aneh. Bahwa kedua orang itu adalah orang yang sama dengan Rezanov, seorang pedagang senjata yang merupakan pimpinan puncak ICA (international contract agency) palsu, sebuah organisasi pembunuh yang selama ini menjadi otak di balik para hellhound itu. Gila! Sungguh gila!

Serupa tapi tidak sama, palsu tetapi asli...

"Kalau begitu..." Vlad berkata dengan penuh keheranan, "Selama ini kita melawan siapa?"

"Bukan urusanku dan serahkan tugas pengawasan pada asistenku di sana...." lanjut Igor seakan tidak mendengar ucapan Vlad, "Aku ingin mendengar hasilnya malam ini..."

Komunikasi terputus....

Semua ini menyisakan sang pemuda dengan segudang pertanyaan baru yang sama sekali tidak bisa ia pahami..

Hellhound....Keluaga Kubo....dan Keluarga Seta....

Ada apa dengan semua ini....

.

-To Be Continued-

.


The Author sez :

Dan akhirnya another updet dari cerita yang makin lama makin nggak jelas ini....seperti biasa saya akan ucapkan kata maaf karena cerita ini semakin nggak jelas juntrungannya. Siapa yang mbunuh siapa yang terbunuh siapa yang terfitnah dan difitnah jadi nggak jelas bener. Tetapi siapa itu hellhound (yang kalo ada yang jeli pasti tahu deh, nih istilah udah disebut-sebut di chapt-chapt sebelumnya) mungkin akan dijelaskan lebih, ICA udah sempet diomongin di chapt sebelumnya (meski dikit banget)..trus gimana hubungannya...ntar aja.

Inspirasi chapt ini :

Monju by Miyashita Hiroki

The 5th Columnist by Andrea Tezumo

Pandemic ama Rainbow by Masasumi Kakizaki (keren abis inspirasi dramanya)

Tiger Wong by Tony Wong

Brian Setzer Orchestra (album Wolgang's Big Night Out)

Lagu-lagunya Sarah Brightman ama Maria Callas

Dan akhir kata waktunya beralih ke fic saya yang lain. Sebelum itu sudikah anda memberikan secuil review yang berharga bagi saya^^

TILL THE NEXT CHAPT AND GBU!