A/N : Saya pengen cepat selesain Shikoku jadi kali ini agak panjang. Tapi gak sampai ke aftermath sayangnya.

Oke, balas review!

RosyMiranto18

Blossom : Bentar, Natsuko. Aku liat ada kata 'menggigit lidahmu sampai putus'. Aku gak ingat aku ketik kayak gitu.

Scarlet : Kalau memang iya sampai putus lidahnya Suzu, itu bisa jadi bad end... tersuram lol. Berbeda jauh dari bad end yang gak niat aku bikin. *sweatdrop*

Blossom : Suzu akan jawab pertanyaan Natsuko nanti di chapter ini. Jadi happy reading. *slap* Makasih review-nya.

Hayahinkage17

Scarlet : Tak apa kok. Senang Kage-senpai bisa balik mereview~

Takatora : ...Entah mengapa aku merasa dihina melihat kau menangis. *sweatdrop*

Scarlet : Lu sensitif amat sih mas bro. Jangan berprasangka buruk. Gak sopan.

Takatora : Aku tidak sudi dinasehati olehmu, tapi, ya, aku mengaku berlebihan mengganggap itu hinaan. Aku minta maaf.

Blossom : Bilang maaf tapi mukamu sedatar tembok as always. Yak! Kami juga menunggu fic TFG! Ditunggu chapter selanjutnya! Penasaran tingkat dewa! *mata cling2*

Scarlet : Nah, som. Harusnya kamu sabar nunggu. Oke, makasih review-nya.

-xxx-

Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me. Kimura Siblings belongs to RosyMiranto18. Kobayakawa Shinhana, Nomi Nagachika and Kikkawa Chie belongs to Hayashinkage17. Cover belongs to the artist, NOT MINE. Bagi yang tau siapa artist-nya, mohon dikasih tau.

Warning : Mainly OC x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, SERING typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal alias amburadul. Saya usahakan ceritanya bisa disusun berdasarkan dari game dan atau sejarahnya. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!

-xxx-

-XoX-

Bell of the White Hare

-XoX-

CHAPTER 21

Old Mirror

-XoX-

Suasana di dekat pesisiran tampak tenang, namun penjagaan di sekitar kapal tetap ketat. Peperangan akan dilanjutkan esok hari setelah pasukan bala bantuan datang. Takatora sempat berpikiran Hideyoshi terlalu mendesaki musuh dengan perbandingan jumlah pasukan yang sangat besar. Bahkan dengan momentum yang telah berpihak pada mereka tampak masih belum cukup bagi Hideyoshi untuk memojokkan mereka. Entah sampai kapan pemimpin Hashiba itu mempertahankan caranya memersatukan negeri ini. Ia tak mungkin bisa mendapatkan hati para rakyat. Takatora berani bertaruh bila masa depan Hashiba akan hancur dan memicu perang yang lebih besar.

Takatora menghela napas, tak ada gunanya memikirkan itu. Ia tak mau pemikiran yang sulit dituntaskan itu membebani pikirannya. Untuk sekarang, yang perlu ia lakukan adalah mengabulkan permintaan mendiang majikannya untuk tunduk setia pada Hidenaga. Selain itu, keinginan untuk tetap bertahan hidup demi dirinya sendiri telah tertanam sejak Suzu membuka matanya dari keputusasaan. Tentu saja, sebagian nyawanya juga demi sang istri, yang saat ini masih terlelap di pangkuannya.

Jika diingat kembali, kejadian mirip terulang hari ini seperti saat di Nagashino. Menggendong Suzu yang tengah jatuh ke dalam dunia mimpi, dirinya yang sudah berjuang keras untuk melewati cobaan berat demi kelangsungan hidup. Tentu saja, mereka yakin semua cobaan hidup itu takkan berakhir melanda selama mereka masih bernapas.

Sepanjang perjalanan Takatora menuju kapal, ia tak mengalihkan pandangannya dari laut. Cakrawala malam yang diterangi oleh cahaya bulan yang memancarkan sinar keperakannya terpantul pada laut yang terlihat berkilauan. Cahaya keperakan bulan tersebut begitu terang seolah tak membiarkan bintang-bintang ikut bersinar. "Aku yakin kau akan mengatakan kalau lautnya seperti pantulan cermin langit malam." Takatora tahu Suzu tak mendengarnya, tapi ia tetap merasa nyaman meski tak ada jawaban.

"Awalnya aku tidak begitu peduli dengan keindahan alam. Namun tidak lagi sejak kau menjadi bagian dari kehidupanku."

Separuh dari benak Takatora ingin Suzu terbangun dari tidurnya untuk mendengarkan naluri hatinya. Tetapi dia juga ingin Suzu tetap tertidur sampai dia benar-benar sembuh. Tapi saat ini tak masalah jika Suzu tak mendengarnya. Atau mungkin Suzu bisa mendengar suaranya lewat mimpi yang mungkin ia alami sekarang.

Takatora berhenti berjalan, mengarahkan pandangannya ke laut. Hembusan semilir angin berirama tenang menerpa wajahnya, mengibarkan tenugui biru panjang yang melilit di lehernya. Beberapa helai rambut mereka ikut menari mengikuti arah angin. Arus gelombang laut perlahan surut lalu kembali naik hingga membasahi sepatunya.

"Mungkin ini terdengar egois, tapi aku ingin kau tetap hidup demi diriku. Aku ingin kau memperlihatkan padaku lebih banyak keindahan melebihi laut ini." Pemuda itu terkekeh pelan. "Kurasa aku tak perlu meminta. Aku tahu kau mau melakukannya dari awal karena itu adalah keinginanmu sendiri."

Sorot manik biru lautnya melembut memerhatikan wajah Suzu yang menyiratkan ketenangan batin, walau ia masih tampak pucat dan luka memarnya belum dirawat sepenuhnya.

"Tentu saja, kita akan mengajak Senmaru." Takatora kembali melangkahkan kaki menuju kapal, seraya menyinggahkan pandangannya pada wajah tidur Suzu.

Setibanya di kapal, Takatora hendak bergegas untuk merawat istrinya. Namun seseorang yang tak ia harapkan kemunculannya langsung menyambutnya.

Gadis berkuncir dua itu menyeringai jahil. "Wah? Suzu-chan sudah tertidur, ya?"

Takatora mengernyitkan alis melihat ekspresi sengaja dari adik dari Aki tersebut. "Jangan ganggu dia. Dia butuh istirahat," ucap Takatora dingin dan langsung pergi.

"Waah!" Natsuko mendadak berteriak kaget.

"Dasar bodoh! Jangan berteriak!" sergah Takatora menolehinya.

"Suzu-chan terluka! Kenapa kau tidak mengatakannya padaku!?" Jelas sekali Natsuko mengabaikan ucapan Takatora barusan, dia bahkan terus berjalan mengekor di belakangnya

"Aku tak punya waktu menjelaskannya padamu. Pergilah."

"Tidak mau! Aku ini 'kan temannya Suzu-chan! Aku akan merawat lukanya! Kau tak berhak mengusirku!"

Takatora berhenti berjalan, menoleh ke belakang, sorot mata dinginnya mulai membuat Natsuko menciut ketakutan. "W-Walaupun kau menatapku seperti itu, aku tidak takut kok!"

Takatora mendecak samar. "Memang tak ada obat penyembuh untuk orang bodoh..."

"Hei! Aku dengar itu!" bentak Natsuko kesal sambil menarik tenugui Takatora.

"Natsuko, sudah kubilang kau sebaiknya istirahat. Tapi kau tidak mau menurutiku, malah berkeliaran." Kini sang kakak, Aki, muncul menghampiri adiknya. Lalu ia memindahkan pandangannya ke Takatora. "Oh, kau sudah kembali."

Takatora menghela napas panjang, ia tidak punya waktu untuk berbincang dengan mereka. "Suzu membutuhkan waktu untuk menyembuhkan diri. Jadi aku minta kau untuk menahan adikmu untuk sementara." Tanpa basa-basi Takatora langsung pergi meninggalkan mereka.

"O-Ou. Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi baiklah," jawab Aki sambil mengusap tengkuk.

"Eeeh!?" Natsuko menjerit kesal.

"Sudahlah. Takatora sudah bilang 'untuk sementara', bukan? Jadi bersabarlah. Lagipula melihat keadaan Suzu seperti itu, aku yakin Takatora tidak akan membiarkannya menerima tugas bahkan meninggalkan kapal."

"Suzu-chan terluka, lho, onii-chan!"

"Ugh," Aki menepuk jidat, sikap adiknya yang sulit dikontrol membuatnya sedikit kesusuhan. "Tolonglah, Natsuko. Ini medan perang, terluka atau bahkan mati itu memang resikonya! Aku tahu kau sangat mencemaskannya karena Suzu adalah teman baikmu. Tapi belajarlah untuk menahan diri. Lagipula sudah waktunya untuk beristirahat. Ayo."

Natsuko membuang muka, terlihat jelas dia kecewa. "...Aku tahu kok."

-XXX-

Di ruang perawatan, Takatora telah menyalakan pelita di dalam ruangan kosong tersebut. Kemudian menyimpan lonceng kecil ke dalam kantong jubahnya yang digenggam Suzu sejak tadi.

Sebelum itu ia terlebih dahulu melepas sarung tangan hitam dan armornya. Lalu mulai melepas seragam Suzu agar tak membuatnya sesak, sehingga tubuh atasnya hanya mengenakan sarashi. Terdapat sedikit darah yang mengotori pakaian Suzu tak henti membuat seisi kepalanya berputar. Entah apa yang terjadi saat Suzu melacak keberadaan Yoshitsugu atau saat ia disekap sampai membuat istrinya bersimbah darah.

Dia mulai merawat Suzu dengan hati-hati. Memang kali ini ia tak bisa menyerahkannya pada orang lain, lagipula tak ada seorang tabib yang bisa merawatnya. Tapi dia memang tak membutuhkannya, karena beruntung luka yang dideritai Suzu tidak separah dari yang Takatora kira.

Takatora sempat merutuk orang-orang klan Chōsokabe yang telah membuatnya terluka. Tapi dia juga menyalahkan diri sendiri. Mengingat istrinya menangis bahkan sampai tak sadarkan diri saat disekap di dalam ruangan gelap bawah tanah, dia yakin trauma kembali mempermainkan hati dan pikirannya saat itu. Semua itu juga amat terpengaruh oleh Takatora.

Setelah selesai merawat luka sekaligus membersihkan tubuhnya yang sedikit berkeringat, Takatora merapikan perkakas pertolongan pertama ke dalam peti kecil. Kemudian memasangkan pakaian baru untuk istrinya.

Sejenak ia kembali memerhatikan wajah tidur Suzu. Tangannya terulur meraih wajahnya, begitu dingin, tak hangat seperti biasa. Lalu ia menyelit anak rambut yang menghalangi matanya.

Melihat gadis itu begitu pulas membuat Takatora ikut mengantuk. Dirinya juga kelelahan karena hampir setengah hari berusaha menemukan istrinya. Ia tak menyempatkan diri untuk istirahat karena sudah menjadi kebiasaan sejak dulu.

Takatora menyandarkan punggung, matanya masih terkunci pada memandang Suzu. Sampai akhirnya kedua pelupuk mata Takatora terasa berat sehingga mulai memejamkan mata untuk beristirahat. Dia hanya berharap Suzu tak bangun mendahuluinya. Mungkin dia akan mengambil kesempatan itu untuk memandang laut sendirian.

Tapi sebagian dari dirinya yakin Suzu tak akan melakukan itu.

-XXX-

Pemuda itu merasa sudah cukup lama beristirahat. Dan baru saja Takatora merasakan sesuatu yang hangat menggelitik kulit wajahnya sehingga membuatnya terbangun. Berkat semerbak wangi yang khas tercium olehnya, tidak diragukan lagi istrinya berada di dekatnya, sangat dekat.

Ia sengaja membiarkan Suzu berbuat sesukanya, berpura-pura tidur sembari merasakan sentuhan jemarinya yang lembut. Suzu perlahan menggeser anak rambut yang menghalangi alisnya. Sebuah kecupan singkat berlabuh di kening Takatora.

...Tindakannnya barusan benar-benar diluar dugaan.

Takatora mulai membuka mata dan bertatapan dengan sang istri.

"Ah." Suzu berjengit kaget.

Manik birunya menangkap sosok istrinya yang tampak ingin menyelimuti Takatora, tapi sayang usahanya tidak berhasil. Surai peraknya terurai sedikit kusut, kulitnya kini tak tampak begitu pucat seperti sebelumnya.

Dengan wajah memerah padam, Suzu mundur sedikit. "M-Maafkan ak―"

Takatora menaikkan alis begitu melihat Suzu langsung menutup mulutnya. "Tak apa, satu kalimat itu tidak akan membuat prajurit diluar sana terbangun mendengar suaramu," dengus Takatora sembari mengusap kepala Suzu. "Aku lega akhirnya kau sudah siuman. Jika kau tertidur terlalu lama, aku akan kerepotan." Suzu hanya tersenyum canggung mendengar ucapan Takatora.

Beberapa detik mereka berbalas pandang, Takatora berniat untuk menunggu jawaban Suzu. Tapi yang ia dapat hanyalah senyuman. Bukannya tak senang, Takatora merasa ada sesuatu yang menjanggal.

"Ada apa? Apa tidak ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?"

"Ah, um..." Suzu gelagapan, mendadak reaksinya panik. Lalu ia menggeleng pelan.

"'Tidak'? Kenapa?"

Suzu menggeleng lagi lalu menggoyang kedua tangannya. "T-Tidak bisa..."

Takatora menyipitkan matanya semakin heran. "Cara bicaramu aneh." Pemuda itu menggapai wajahnya, lalu mendekatkan wajah. "Katakan saja."

Ia tampak semakin ragu, dirapatkan bibirnya sejenak sebelum akhirnya ia berani berbicara. Suzu tahu ia takkan bisa menyembunyikannya sampai kapan pun. "...Lidahku, sakit," jawab Suzu terputus-putus.

"Lidah? Kenapa dengan lidahmu?"

Dia menjatuhkan pandangan ke lantai. "Aku menggigitnya..." Cara bicaranya yang entah mengapa kurang fasih sedikit membingungkan bagi Takatora. Tapi dia hanya bisa menebak.

"Menggigit, katamu?" ulang Takatora.

Suzu mengangguk, masih belum bertatapan dengan Takatora. Pemuda beriris biru gelap itu masih tampak belum menangkap sepenuhnya maksud Suzu.

"Perlihatkan padaku." Takatora menahan dagu Suzu agar bisa membuka mulutnya. "...Aku mencium bau darah. Memang tak ada luka di bibirmu." Jeda sebentar, kembali mencerna ucapan Suzu. "Tapi lidahmu, kau menggigitnya?" tanya Takatora lagi untuk meyakinkan tebakannya.

Suzu merunduk, takut berbalas pandang dengan suaminya. Seketika ingatannya menyergap seragam Suzu yang kotor akan darah, yang nyatanya darah itu adalah darah Suzu itu sendiri.

Darah yang mengalir di dalam dirinya mendidih seketika. "Kenapa kau sampai melakukan itu!?" sergah Takatora.

"...Loncengku." Raut wajahnya semakin memelas.

"Loncengmu ada di sini," potong Takatora sembari mengeluarkan benda itu dari kantong jinbaori. "Jangan mengganti pembicaraan dan jawab aku, Suzu."

"L-Loncengku...!" Suzu menangkup tangan Takatora yang menggenggam lonceng kecilnya dengan kedua tangan, lalu menahannya dengan lembut di depan wajahnya. Takatora yang membaca air mukanya sedikit kaget dengan sikapnya. "Mereka, mereka mengambilnya, makanya aku...!"

Hening sejenak, Takatora menghela napas panjang untuk menenangkan diri. "Mereka mengambil lonceng itu darimu...?" Sekarang nada suaranya kembali terkontrol.

Suzu menjawab dengan anggukan. Melihat jawabannya, Takatora menggerutu sambil mengurut kening. Tindakannya kali ini benar-benar di luar dugaan. Entah apa yang menekan dirinya sampai harus melukai dirinya sendiri, Takatora tak mungkin dapat berbuat apapun untuk mengubah yang telah berlalu.

Ditangkupnya wajah sang istri dengan kedua belah tangan, menyeka bulir bening yang menggenangi indera penglihatannya. "Aku paham betul lonceng itu sangat berharga bagimu. Tapi kau tak harus melukai dirimu sendiri." Jeda sejenak, Takatora menurunkan tangan dari wajah istrinya. "...Tidak, tak sepantasnya aku mengatakan itu. Aku terlambat menyelamatkanmu."

Suasana dalam ruangan itu mulai canggung. Suzu terlihat panik melihat sorot mata Takatora yang berubah sendu. Meskipun Takatora jarang menggunakan wajah seperti itu di hadapan orang banyak, namun Suzu tahu ia memiliki hati yang mudah rapuh. Ia tak pernah mencari celah atas kesalahannya sendiri, tak pernah segan mengakuinya.

Suzu menggeleng kencang sambil menahan lengannya.

"Jangan menyembunyikannya dariku, Suzu. Kau pasti ketakutan, bukan? Dan matamu membengkak, kau menangis."

Suzu terdiam menatap sang suami sejenak, lalu mendekat, menyusupkan kedua lengan kurusnya ke punggung Takatora. Setelah itu membenamkan wajahnya di dada sang suami, ia mengangguk.

Takatora mendengus pahit. "...Tentu saja kau menangis. Tentu saja kau ketakutan. Betapa bodohnya aku bertanya sesuatu yang sudah jelas."

Dia memang jujur. Tapi hanya membayangkan bagaimana saat Suzu terperangkap sendirian sudah cukup menyesakkan napasnya. Takatora terus menyesal karena tak dapat menyelamatkannya lebih awal.

"Tapi aku percaya, Takatora-sama pasti akan datang padaku," gumam Suzu terputus-putus, ia masih kesulitan berbicara. Menyinggungkan senyuman tulus setelah mengangkat wajahnya agar dapat menyambungkan pandangan mereka.

"...Tapi aku terlambat."

Suzu menggeleng lagi.

"Tapi, Suzu. Kau―"

Jarak diantara wajah mereka dengan cepat berkurang, Takatora tak sempat menyelesaikan ucapannya. Sepasang bibir lembutnya bertaut dengan milik Takatora. Sebelumnya Suzu tak pernah mendahuluinya untuk berciuman. Takatora sempat membeku dibuatnya, kemudian bersedia menyambutnya, memiringkan sedikit kepala dan mendalamkan kecupan.

Suzu kemudian menjarak, menyembunyikan wajahnya yang merah pekat di dada bidang sang suami. Memberanikan diri memang menakutkan, tapi ia lega bisa melakukannya. Lagipula sebelumnya dia telah mengatakan pada sang suami untuk lebih mengekspresikan kasih sayangnya yang selama ini masih terlalu memalukan baginya.

"Takatora-sama sama sekali tidak menyerah akan diriku. Aku juga berusaha untuk tidak menyerahkan nyawa dan hartaku. Kita sama-sama menolak untuk menyerah." Meski Suzu masih kesulitan berbicara, tapi ia berusaha menghiraukan sakit pada lidahnya. Dengan sengaja netra merahnya tenggelam pada biru laut milik sang suami. "...Aku masih hidup. Bukankah itu sudah lebih dari cukup...?"

Takatora kembali terpana memandang wajah senyum penuh syukur yang terukir jelas. Asa mulai menggebu di dalam dada Takatora, ia menyusupkan kedua lengannya di sekitar tubuh mungil istrinya demi menuangkan rasa keterberkatannya lewat rengkuhnya yang kuat. "...Dasar, aku terlihat begitu menyedihkan olehmu," dengus Takatora.

"I-Itu tidak benar...!"

Takatora terkekeh pelan begitu mendengar cara bicaranya yang aneh. Dia meregangkan pelukan agar dapat bertatapan dengan istrinya. Sorot matanya melembut. "Jangan memaksakan dirimu untuk berbicara." Dikecupnya kening Suzu sembari menangkup wajahnya. "Tapi terima kasih."

"Eh? Tapi seharunya aku yang―"

Kini giliran Takatora yang memotong dengan menautkan bibirnya dengan Suzu. Ia menahan punggung kepala Suzu, sedangkan sebelah tangannya yang bebas dijalinkan dengan milik Suzu.

Takatora memutuskan kecupan yang hanya berlangsung sebentar. "...Maaf, aku terlalu lega sampai hampir kehilangan akal. Apa aku menyakitimu?"

Suzu menggeleng pelan, senyuman lembut kembali merekah di wajahnya.

-XXX-

Fajar mulai menyingsing, para perwira telah bersiap untuk melanjutkan penyerangan. "Hidenaga-sama, rombongan pasukan Hidetsugu-sama telah berlabuh diarah selatan. Mereka langsung melakukan penyerangan secara besar-besaran," lapor salah seorang prajurit berlutut di hadapan Hidenaga.

Hidenaga manggut-manggut paham. "Baiklah, segera kumpulkan pasukan."

"Apakah kami juga dapat berpatisipasi untuk melakukan penyerangan, Hidenaga-dono?" tanya Takakage.

"Tentu saja. Aku akan menyisakan sepertiga pasukan untuk bertugas melindungi kapal. Kalian kuberi izin."

"Terima kasih banyak, Hidenaga-dono. Kalau begitu kami juga akan menyisakan pasukan untuk menjaga kapal milik Mōri."

Sementara itu, Takatora telah bersiaga untuk melibatkan diri melakukan penyerangan. Suzu berniat untuk ikut dengan suaminya. Namun dengan semua perlengkapan senjatanya telah disita oleh pasukan Chōsokabe, ia mengambil sebuah katana meskipun ia tahu dirinya tak begitu mahir menggunakannya.

"Tidak, Suzu. Tetaplah berada di kapal. Dengan kondisimu sekarang kau tidak bisa ikut bersamaku."

Suzu meremas jubah biru Takatora untuk mencegahnya pergi. Hanya dengan sikap dan melihat raut wajahnya, sudah jelas Suzu tak mau menuruti suaminya.

"Luka ini bukan apa-apa, Tuan..."

"Tapi kau masih belum sepenuhnya sembuh."

Suzu menggeleng kencang. Ingin sekali dia berbicara lebih. Tapi ia ragu karena sudah Takatora melarangnya untuk berbicara sampai lidahnya pulih.

"Aku tahu, Suzu. Kau selalu ingin menjadi orang yang pertama untuk membantuku. Tapi untuk kali ini turuti perkataanku."

Cengkraman tangannya semakin kuat, ia masih bersikeras agar suaminya mau membiarkannya ikut. Takatora menghela napas, tapi ia masih bisa bersabar menghadapi temperamen istrinya. Ia berbalik agar dapat berhadapan dengan sang istri, lalu berlutut di hadapannya. Kali ini Takatora yang mendongakkan kepala agar bisa memandang istrinya dengan lebih jelas. Dan Suzu menurunkan sedikit kepalanya untuk berbalas pandang dengan Takatora.

"Aku ingin kau menyembuhkan diri agar kita bisa melihat laut bersama Senmaru setelah kita pulang. Mungkin kau tidak mau melakukannya demi dirimu. Tapi setidaknya lakukan itu demi diriku." Takatora meraih tangan kanan Suzu, menangkup punggung tangan kecil istrinya dengan kedua tangan.

"Selama kau percaya padaku, aku takkan menyerahkan nyawaku pada siapapun."

Suzu mengerjapkan mata. Tampaknya ia memang tak bisa mengubah pikiran sang suami. Memang tidak adil untuknya, tapi hatinya terasa hangat. Suzu pun menyerah, memberikan sebuah senyuman pertanda setuju.

Takatora pun bangkit, mengusap kepala istrinya sejenak. "Aku pergi."

Suzu mengangguk sebelum Takatora berbalik meninggalkannya. Ia menghela napas panjang memerhatikan Takatora yang perlahan jauh dari pandangan. Antara kecewa atau sebaliknya, saat ini ia hanya dapat berharap.

"Suzu-chaaan!" Mendadak Natsuko mengagetkan Suzu yang muncul dari belakangnya dan langsung memberikan pelukan erat. "Akhirnya aku bisa menemuimu. Mou, aku sangat cemas, lho! Semalam kamu terluka sampai tak sadarkan diri. Tapi syukurlah kau tampaknya sudah baikan!"

Suzu tak bisa berkomentar apapun, hanya memberikan senyuman canggung pada teman dekatnya itu.

Natsuko memiringkan kepalanya bingung. "Setidaknya katakan sesuatu, dong, Suzu-chan."

Suzu menghela napas, keingintahuan Natsuko takkan bisa pudar. Ia pun yakin dirinya akan dinasehati lagi jika ia menjelaskan apa yang terjadi padanya. Tapi Suzu tahu ia takkan bisa lari dari rasa penasaran temannya itu.

...

"Eeeh!? Jadi kamu menggigit lidahmu sampai putus!?" Dengan wajah kaget tak percaya, Natsuko mencondongkan kepalanya di depan wajah Suzu.

Suzu mundur sedikit dan tersenyum kaku. "B-Bukan, lidahku masih―"

"Oh, benar juga." Natsuko mengerjapkan matanya setelah memerhatikan lebih jelas kondisi Suzu. "Kenapa kamu lakukan itu!? 'Kan pasti ada cara lain supaya kamu bisa menyelamatkan diri," sambung Natsuko kembali meninggikan nada suaranya.

Suzu merunduk. "Maaf, ya. Sudah mencemaskanmu."

Natsuko terkelu, tak sengaja membuat teman dekatnya merasa bersalah. "Ah, tidak, Suzu-chan tak perlu minta maaf. Jangan memaksakan diri, lidahmu masih sakit, bukan? Aku memang sangat mencemaskanmu, tapi..." Natsuko tersenyum lebar. "Ternyata Suzu-chan memang pemberani, ya."

Suzu menaikkan alis, Natsuko yang sudah bisa membaca mimik mukanya tertawa kecil.

"Habisnya saat di Shizugatake, kamu berani melakukan tugasmu sendirian. Dan bahkan kali ini kamu nekat melukai diri supaya bisa merebut loncengmu. Kamu melakukannya tanpa ragu. Karena itu aku sangat menyukai sisimu itu, lho, Suzu-chan." Lalu ia menaruh kepalan tangannya di depan dada. "...Aku tergerak berkatmu."

Nada suaranya berubah, tak terdengar riang seperti biasa tetapi seolah telah mengukuhkan ketetapan hatinya. "...Natsuko?"

Natsuko kemudian bangkit. "Ya. Berkat Suzu-chan, sekarang aku sudah tidak bimbang lagi. Aku juga akan bertempur!"

Kedua alis Suzu bertaut cemas. Dia tampak ingin turun dari kapal dan melakukan sesuatu yang Suzu tidak tahu apa tujuannya.

"Tenang saja! Aku akan kembali kok! Bagaimana pun juga, ada seseorang yang ingin kutemui. Setelah kita memenangkan perang, aku akan memperkenalkannya padamu! Karena itulah aku bersikeras untuk ikut bersama onii-chan ke Shikoku ini." Natsuko lalu langsung berlari dan mengambil sepasang tanbou yang merupakan senjatanya. "Tunggu aku, ya!"

"Na―!" Tangannya berusaha menjangkau Natsuko tapi gagal. Ingin sekali Suzu menghentikannya. Namun ia juga merasa tak mungkin dapat menghentikan ketetapan hati Natsuko untuk ikut bertempur.

Manik merahnya berpindah ke sebuah katana di genggamannya. "Berani...?"

Saat pertama kalinya Suzu merenggut nyawa orang, disaat orang tuanya terbunuh. Ia tahu itu bukanlah keberanian. Dia masih belum memilikinya.

Senyuman tipis terbentuk di bibir merah jambunya. "Tapi sejak aku bertemu dengan Takatora-sama... kekagumanku pada dirinya menumbuhkan keberanian. Ternyata keberanian itu bisa menular ya..."

-XXX-

Sementara itu di arah yang selatan pasukan yang dipimpin oleh Hidetsugu, tengah menjatuhkan pasukan Chōsokabe. Diantara mereka, seorang gadis belia dengan sebuah kanzashi menghiasi rambut pirang panjangnya, sekaligus ia gunakan sebagai senjata tengah ikut bertempur.

Tanpa ragu menyerang seraya menerobos musuh yang menghalangi jalannya, namun tetap mempertahankan keanggunannya setiap melayangkan serangan.

"Chacha-sama, kumohon jangan terlalu memaksakan diri. Kami tak ingin sesuatu yang buruk menimpa Anda," ucap Hidetsugu berusaha untuk tetap di dekatnya. Hideyoshi telah memerintahnya untuk terus memperhatikan Chacha. Namun baginya kehadiran gadis itu membuatnya kesulitan untuk berkonsentrasi.

"Anda tak perlu mencemaskanku, Hidetsugu-sama. Lakukan saja apa yang telah menjadi tanggung jawabmu. Saya datang ke pertempuran ini karena ada yang harus kutuntaskan. Saya tak mungkin bisa berdiam diri di kapal dan menonton. Anda mengerti?" ucap Chacha tanpa menolehinya.

"...Jika Chacha-sama berkata demikian. Saya tak bisa menentang. Namun saya juga telah ditugaskan untuk menjagamu selama pertempuran."

Chacha menghela napas. "Sudah kubilang. Anda tak perlu repot menjagaku. Lakukan saja tugasmu. Anda tak perlu merasa bertanggung jawab atas keputusanku. Apapun yang akan terjadi itu semua telah menjadi resiko yang harus kutanggung sendiri."

Hidetsugu tak dapat lagi membalas perkataannya. "...Baik, Chacha-sama."

-XXX-

Selama lebih dari dua puluh hari, wilayah Tosa dan Iyo berhasil diambil alih, hanya tersisa Awa yang menjadi inti wilayah Shikoku, dimana Chōsokabe Motochika mengambil posisi di Istana Ichinomiya. Nasib mereka kini diujung tanduk, semangat juang mereka pun menurun drastis akibat perbandingan jumlah unit yang sangat jauh.

"Tuanku, kita telah kehilangan banyak pasukan. Hanya tersisa kurang lebih sepuluh ribu pasukan yang masih bertahan. Tak lama lagi mereka akan menyerang istana ini. Kita tak mungkin bisa melindungi istana ini. Mungkin lebih baik kita menyerahkan tanah ini pada Tenkabito," ucap salah satu penasihat Motochika putus asa.

Motochika menggeleng pelan. "Tidakkah kau merasakannya? Raungan mereka yang telah berjuang mati-matian demi melindungi tanah ini, tak mungkin dapat kuhiraukan. Sudah menjadi kewajibanku sebagai penguasa Shikoku untuk menjawab raungan jiwa mereka yang telah gugur."

Sang penasihat terpaku, melihat sang tuan menolak untuk menyerah. Sang penasihat mengangguk. "Baik, kalau begitu saya akan memperketat pertahanan istana ini."

"Ya. Istana ini telah dilindungi perbukitan dan dinding yang tinggi. Juga sungai Akui yang membatasi istana akan sulit bagi mereka untuk menembus masuk ke dalam istana."

"Kalau begitu biarkan aku untuk membantu, ja!" Seorang gadis bersurai ungu berkuncir dua datang menghampiri Motochika.

"Semenjak chichi-ue tiada, aku selalu saja dilindungi. Karena itu kali ini biarkan aku melindungi kalian!"

-XXX-

Di markas timur laut, Koshōshō yang tengah terkurung dalam penjara bawah tanah menghela napas.

"Inikah yang namanya karma?" Koshōshō mendengus. Seisi kepalanya mendera saat gadis bersurai perak yang hampir membahayakan nyawanya juga sempat dikurung. Dan kali ini dia yang mendapatkan peran tersebut. "Sepertinya kami akan berakhir menyedihkan. Tapi anehnya tak ada tanda Motochika akan menyerah."

Wanita itu bangkit dari duduknya. "Aku juga tak bisa tenang di dalam sini. Ini tempat yang kotor," desah Koshōshō.

"...Tidak, kurasa jiwa pemberontak di dalam diriku masih belum cukup. Jika itu benar..." Penglihatannya menangkap seorang prajurit yang tengah berjaga di kurungan dimana dirinya disekap.

"Nee, tuan yang disana. Bisakah kau datang kemari?" panggil Koshōshō dengan nada menggoda. "Bisakah kau membiarkanku keluar dari sini? Sebagai gantinya kau bisa melakukan apa yang kau mau bersamaku."

Prajurit itu menenggak ludah. Ia terpikat seolah dikendalikan oleh godaan Koshōshō. "B-Baiklah..." Dengan sedikit ragu, ia mendekati kurungan dan membuka kunci.

"Kau baik sekali." Koshōshō pun keluar dari kurungan. "Tapi juga bodoh." Dengan menggunakan selendangnya, ia berhasil menjatuhkannya dengan sekali serangan.

"Baiklah. Kurasa ini waktu yang tepat untuk memutarbalikkan momentum."

-XXX-

"Suzu, mungkin kau tidak mau menerimanya tapi kuharap kau bisa berjaga di kapal. Aku meninggalkan beberapa pasukan untuk menemanimu. Memang rasanya mustahil bagi mereka untuk menyerang kapal dengan keadaan mereka sekarang, tapi aku tak bisa tenang jika meninggalkan kapal dalam keadaan kosong. Kali ini kita akan menyerang Kastil Ichinomiya secara langsung," jelas Hidenaga.

"Baik, Hidenaga-sama. Mohon berhati-hatilah," sahut Suzu sambil membungkukkan badan. Kondisinya telah pulih dan lidahnya kembali fasih berbicara seperti biasa.

Hidenaga pun bergegas turun dari kapal, meninggalkan Suzu serta kashin yang lain menjaga kapal.

"Ah, Chie-dono. Apa tidak masalah kalau Nona ikut berjaga di kapal ini?"

Chie tersenyum ramah, ia meraih telapak tangan kanan Suzu dan menulis dengan diatas telapaknya dengan telunjuk. "Ya, beberapa pasukan Hashiba juga ada yang menjaga kapal Mōri, kok. Lagipula kita sekutu, tidak masalah, bukan?"

"Ah, nona benar." Suzu membalas senyumnya.

Waktu terasa begitu lambat bagi mereka berdua. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain memerhatikan sekitar kapal untuk memastikan tidak ada kejanggalan.

Suzu berhenti berkeliling setelah memeriksa luar kapal, ia kembali masuk dan memeriksa bagian dalam. Namun begitu ia naik, yang terdengar olehnya hanyalah suara hempasan gelombang laut. Seolah terpikat oleh suara tersebut, Suzu berjalan mendekati pembatas kapal sambil memandang laut.

"...eh?" Seketika ia mencium sesuatu, bau mesiu. Aneh, padahal pasukan teppou memang tersedia tapi saat ini musuh tak terlihat satu orang pun. Jadi untuk apa mereka mempersiapkan teppou-nya?

Tidak, bukan itu. Baunya terlalu kuat untuk sebuah teppou. Tak hanya itu, kali ini Suzu mencium bau terbakar.

"Ini...?" Suzu langsung mengarahkan matanya ke bawah. Seketika ia dikagetkan dengan sebuah ledakan besar di bagian bawah kapal.

"Tuan! Pasukan Chōsokabe berhasil menyusup ke dalam kapal! Mereka telah melenyapkan beberapa suplai yang telah disimpan di dalam kapal ini!" Seorang prajurit panik begitu melapor pada Hideie Ukita.

"Segera pindahkan semuanya ke kapal yang lain! Dan cepat putuskan rantai penghubungnya. Jika tidak, kapal yang lain akan ikut terkena ledakan berikutnya!" perintah Ukita.

"Aku akan meminta bantuan dari pasukan di kapal yang lain." Chie memberikan isyarat tangan pada Suzu.

"Ya...!" Suzu mengangguk.

Chie pun bergegas keluar dari kapal, sementara Suzu langsung berlari ke bagian bawah kapal.

Disana ia langsung disambut oleh pasukan Chōsokabe. Entah bagaimana mereka bisa mencapai kapal sampai tak disadari. "Jangan-jangan, mereka berenang dari laut?"

"Enyahlah!" teriak para prajurit menerjang kearah Suzu.

Suzu langsung mencabut katana dan segera menjatuhkan mereka bersama prajurit dibawah naungan Ukita. Gadis itu membeku sejenak memandang bilah pedang yang berlumuran darah.

Seketika pikiran Suzu kembali disergap kejadian masa pahitnya dulu. Saat pertama kali tangannya kotor berlumuran darah.

Alasan dirinya tak mau mengayunkan pedang adalah karena tak ingin mengingat masa itu. Asalkan bukan pedang, ia bisa menyerang musuhnya. Lagipula selama ini Suzu jarang melibatkan dirinya memegang senjata untuk saling membunuh dalam perang. Perannya dalan perang tidak terlalu besar. Biasanya Takatora yang selalu mengambil alih peran untuknya menebas musuh dihadapannya.

Tapi Takatora tak disampingnya, tak selamanya Suzu akan menyerahkannya pada sang suami. "Hari ini berbeda dengan dulu. Aku tak lagi dendam pada apapun, dendam pun takkan menenangkan ragaku. Karena sekarang, aku mengayunkan senjata demi melindungi dia, semuanya." Suzu menyentuh lonceng yang dikalungkan di lehernya. "Aku tidak boleh bimbang lagi," gumam Suzu.

Setelah para prajurit membawa semua suplai. Ledakan kembali mengguncang kapal, Suzu segera keluar dari ruangan penyimpanan untuk melihat situasi diatas.

Kelopak matanya melebar, tak mau berkedip meratapi pemandangan yang mengorek luka lamanya. Dadanya terasa sesak, tangannya yang bergemetar membuat katana yang ia genggam terlepas. Sebuah api membara membakar hampir seluruh bagian kapal, kulitnya seolah ikut terbakar meratapi pemandangan itu. Masa pahit itu kembali menghantui dirinya.

"...Tidak. Aku tidak ingin ini..."

-XXX-

-xxx-

-XXX-

A/N : Maaf kalau pace-nya cepat. Saya pengen cepat selesain arc kali ini supaya bisa mikirin arc selanjutnya, Kyushu.

Chapter selanjutnya akhir pertempuran Shikoku, aftermath dan separuhnya lagi sebelum Kyushu akan ada filler, maybe. *slap*

Maaf kalau ada kesalahan yang mengganggu seperti typo. Tapi mungkin saya cuma bisa memperbaikinya besok. *lirik kuota*

Mind to review? No flames, okay?

またねー!