Falling For My Husband
Chapter 24
[WARNING]
Typo everywhere
HUNHAN
BOYXBOY, MPREG, AGEGAP
DLDR – Just go away kalau ga suka
Flashback
Sehun
Untuk terkahir kalinya, Luhan mengecup bibirku. "Senang akhirnya bisa bertemu dengan dirimu yang sebenarnya, aku tidak akan pernah melupakannya, Sehun." Luhan memberikan senyuman indahnya sebelum berjalan pergi.
Aku ingin menghentikan Luhan, mungkin membawanya kembali ke apartemennya, makan malam dengannya atau apapun itu yang bisa aku lakukan bersamanya. Tetapi aku tidak bergerak, kakiku membeku.
Dari jauh, aku terus memperhatikan Luhan hingga dirinya masuk kedalam taksi yang dihentikannya tanpa melihat kearahku. Aku memejamkan mataku ketika mendengar taksi tersebut pergi.
"Selamat Tinggal...untuk saat ini, Luhan."
Untuk sekarang.
-S-
Luhan
Seminggu sudah berlalu semenjak kejadian bersama Sehun. harus aku akui; terkadang aku mengecek ponselku, berharap aku mendapatkan pesan darinya. Walau itu hanya sekedar hai atau halo, apapun itu. Aku hany ingin memastikan jika Sehun baik-baik saja. Aku bisa saja mengambil inisiatif untuk menghubunginya, tetapi aku ragu karena takut aku mendengar suara Gaeun. Satu hal yang tidak aku inginkan adalah mengganggu hubungan mereka.
Semenjak aku tidak bersama Sehun, aku menghindari gosip yang beredar di media cetak ataupun elektronik, tetapi itu tidak mengehentikan Baekhyun dan Minji untuk memberi tahuku apa yang sedang terjadi. Minji menjadi teman baikku dan aku menghargai usahanya seminggu terakhir ini. Dia sungguh manis, terkadang membawakan diriku kopi 2 kali sehari, sehingga aku tidak punya alsan untuk mengeluh saat bekerja.
"Ada kabar apa kali ini?" Aku bertanya dengan santai ketika Minji meletakkan cangkir starbucks ke arahku.
"Hanya gosip ini dan itu, yah seperti biasa." Jawabnya sembari memberikanku beberapa dokumen yang perlu aku tanda tangani, aku bisa melihat cicin pertunangan dengan berlian yang cukup besar dijari manisnya. Betapa beruntungnya Ahn Jaehyo mendapatkan Minji.
Minji sungguh mencurigakan dan membuatku penasaran. Karena biasanya dia memiliki bahan untuk dibicarakan. Selain itu, sekarang dirinya bertingkah aneh. "Aku penasaran dengan ini dan itu yang kau maksud." Tukasku.
Minji tersenyum tipis, menatap wajahku dengan sedikit keraguan. "Kudengar bahwa 'dia' membeli rumah baru untuk perempuan itu, jadi kurasa mereka tidak tinggal bersama. Jaehyo memberitahuku, jika seseorang sedang jatuh cinta, maka tidak mungkin mereka tidak tinggal bersama dan malah tinggal di rumah yang berbeda."
Betapa baiknya Ahn Jaehyo untuk menyampaikan informasi tersebut, aku bertanya-tanya seberapa banyak Minji menceritakan hubunganku dengan Sehun pada Jaehyo. Bukannya aku tidak ingin orang tahu, tetapi dengan Baekhyun sebagai sahabatku dan Minji yang terus membantuku, sulit jika aku tidak memberitahu mereka.
Kami berdua menoleh ketika seseorang mengetuk pintu. Eun-bi salah satu karyawanku membuka pintu dengan lebar diikuti seorang penggantar barang yang membawa vas besar yang penuh dengan bunga yang sedang mekar di musim panas. Eun-bi kemudian memerintahkan pengantar barang tersebut untuk meletakannya di meja sebelum akhirnya mereka semua termasuk Minji meninggalkanku sendiri, tetapi sebelum itu aku bisa melihat Minji mengedipkan matanya padaku.
Dengan hati berdebar, aku bangun dari tempat duduk dan memeriksa bunga-bunga tersebut. Itu terdiri dari mawar lilac vintage, hydrangea biru, trachelium, anyelir hijau mint, lisianthus dikombinasikan dengan dedaunan sandriana dan peony. Benar-benar cantik, tetapi aku lebih tertarik dengan kartu yang ada diantaranya.
Dengan hati-hati aku meraih kartu tersebut.
'You're one of a kind'
Aku tertawa sadis dalam hati.
"Oh Sehun. great." Aku mengambil nafas dalam dan mencoba untuk tidak berfikir tentang dirinya yang membelikan rumah untuk Gaeun. "Aku harap kau menikmati hidupmu, Sehun." Aku bergumam.
Membutuhkan waktu 1 jam untuk akhirnya aku mengambil ponselku dan mengirimkan pesan pada Sehun.
'aku sudah menerima bunganya. Mereka indah. Terimakasih.'
Tidak butuh waktu lama, ponselku berbunyi.
'Sehun: bisa kita bertemu malam ini? Makan malam, mungkin?'
"Sial," aku mendesis, meletakkan ponselku dimeja, gugup. Aku sangat ingin membalas iya, tetapi aku tahu aku harus melupakannya. Dimana Baekhyun dan Minji saat aku membutuhkan mereka? Ugh,, aku butuh bantuan emosional mereka berdua.
Ambil nafas. Lepaskan.
Okay, Sehun ingin mengajakku makan malam. Dengan makan malam, biasanya tidak akan berjalan dengan baik. Lebih baik kita bertemu untuk makan siang, karena menurutku itu lebih aman dan netral. Makan malam dilain sisi terlalu intim. Aku hanya ingin menyelamatkan diriku agar tidak sakit hati. Sehun sudah bersama Gaeun. Aku harus selalu mengingatkan diriku sendiri tentang kenyataan tersebut. Jadi, makan malam bersama Sehun bukanlah opsi yang bagus. Lagipula Minho juga mengajakku makan malam...
Dengan segera aku mengirim pesan kepada Minho jika aku menyetujui ajakannya. Dan pesan kedua adalah untuk Sehun.
'Aku harus bertemu Minho malam ini. Mungkin lain waktu, sekedar makan siang dan kopi, mungkin? Bagaimana dengan minggu depan?'
Baiklah. Kirim! Ini lebih terdengar rasional. Tidak ada kecemburuan di pesan tersebut, bukan?
'Sehun: apa kau kembali dengannya?'
Untuk apa dia menanyakan kisah cintaku? Untuk apa dirinya peduli jika diriku berkencan lagi atau tidak? Dia baru saja membelikan rumah untuk Gaeun. Entah kenapa aku jadi sedikit membencinya.
'aku belum yakin'
Aku berharap Sehun tidak menjawab pesan ini, tetapi sepertinya tidak.
'Sehun: apa Minho membuatmu bahagia?'
Minho menurutku adalah orang yang baik, dilain hal. Tetapi sampai pada akhirnya dia lebih mementingkan egonya sendiri.
'Yaa,, pada lain hal dia membuatku bahagia'
'Sehun: sekarang, apakah dia membuatmu bahagia?'
Aku tak tahu. Yang aku tahu adalah aku jatuh cinta pada seseorang yang tidak mencintaiku karena hatinya sudah milik orang lain, Gaeun-nya. Jika ini adalah usahanya untuk memastikan kehidupan kencanku baik-baik saja agar Sehun merasa tidak bersalah, maka kuharap dia baik-baik saja. Sehun tidak perlu mengkhawatirkan diriku. Aku baik-baik saja tanpanya.
'Aku akan segera tahu'
Aku menatap layar ponselku beberapa menit, menunggu balasan dari Sehun. tetapi ketika aku tidak mendapatkan satupun balasan, aku meyakinkan diriku jika Sehun hanya ingin diriku baik-baik saja.
Satu jam kemudian, Sehun akhirnya membalas.
'Sehun: Aku merindukanmu, Lu.'
"Oh Tuhan!" Aku sedikit berteriak. "Jangan panik, jangan panik. Kau harus tenang Luhan." Aku mencoba bernafas perlahan. Lagipula ini Sehun; pesan itu bisa punya banyak arti, okay! "Yeah, Aku terbiasa disekitar Sehun. Jadi jangan besar kepala, Luhan. JANGAN! Atau dirimu akan sakit hati!" Aku terus mengulang-ulang untuk mengingatkan diriku sendiri dan berusaha untuk menghiraukan pesan Sehun.
Ini sungguh buruk, entah kenapa pesannya masih kuingat terus. Bahkan saat aku pergi berkencan dengan Minho, di otakku hanya ada Sehun. aku benci karena pesannya mempengaruhi diriku.
Tetapi aku terus berusaha untuk melupakannya.
-L-
Notes:
Iam trying for weekly update just for you guys, my precious HunHan's shippers out there who still willing to support HunHan till the end
