Meant To Be

.

.

By phoenixmaiden13

.

.

Translate by Uchiha Kazusha

.

.

Chapter 25

Beberapa hari selanjutnya, Tom akan pergi dengan cepat dan kembali sangat lama. Harry menebak bahwa apapun yang Tom rencanakan sangat besar sehingga memerlukan banyak dari waktunya. Dia khawatir apa itu artinya bagi teman-temannya, tapi dia tidak bertanya, dia juga tidak mengatakan apapun ketika dia bertukar surat dengan Ron dan Hermione.

Tapi sekarang dia tidak yakin. Ketika dia bangun di pagi itu, Tom masih di sana di tempat tidur dengannya, dengan diam menatapnya dengan tatapannya yang menakutkan. Kenapa dia melihatku tidur? Tapi lagipula, dia tidak bertanya, senang karena punya seseorang yang bisa diajak bicara walaupun cuma sebentar. Mereka bangkit dan Tom memakai baju selagi Harry mengganti baju Wynter dan memesan sarapan dari seorang peri rumah, benar-benar pagi yang normal. Tapi Tom sedikit...tegang? Disana hanya seperti ada sesuatu yang salah, tapi Tom tidak mengatakan apapun, dia juga tidak bertingkah berbeda. Ketika peri rumah itu kembali dengan makanan mereka, Tom membantunya membersihkan Wynter dan kekacauannya dan kemudian pergi ke kamar mandi untuk melakukan apapun yang dia lakukan. Harry meletakkan Wynter di lantai untuk bermain dan kemudian memakai baju.

Dia baru saja selesai mengikat tali sepatunya dan menegakkan dirinya ketika dia melihatnya. Darahnya menjadi dingin dan dia membeku saat dia melihat ke putrinya...terbungkus oleh ular yang sangat besar.

Wynter tidak kelihatan takut, hanya penasaran, tapi Harry ketakutan. "T-Tom," dia berhasil bersuara, suaranya gemetar. Pintu kamar mandi terbuka dan Tom keluar dan Harry menunjuk dengan dagunya ke apa yang bisa dia lihat dari putrinya.

-Nagini- Tom mendesis dengan Parseltounge, menatapnya dengan tatapan tajam, -Hati-hati-

"Hati-hati?" Harry bertanya pada Tom tidak percaya. Kemudian berbalik ke ular itu –Pergi darinya- dia mendesis.

Nagini membalikkan kepala besarnya ke Harry –Aku tidak akan menyakiti anak master- dia mendesis dan lanjut untuk mencium Wynter dengan lidahnya, menjentikkan lidahnya di wajah Wynter.

Itu tidak membuatnya merasa lebih baik dan dia takut untuk bergerak karena takut kalau itu akan membuat ular itu bereaksi dan melukai Wynter.

Tom duduk di sampingnya di tempat tidur dan dengan lembut meletakkan tangannya di bahu Harry, " Nagini tidak akan menyakitinya," dia berkata dengan lembut dan kemudian melihat ke peliharaannya dengan tatapan tegas. Nagini membungkukkan kepalanya sedikit dengan mengerti.

Harry lega sedikit tapi masih waspada kalau ular itu melakukan apapun. Tapi Wynter kelihatan baik-baik saja terbungkus dengan kumpalan ular besar, melihatnya dengan terpesona. Nagini menurunkan tatapannya di depan wajah Wynter untuk menatapnya dan Wynter menatap kembali.

-Hello anak kecil- desis Nagini padanya dan Wynter tertawa saat lidahnya keluar dan menyentuh wajahnya. Dan dengan secepat gerakan ular, Wynter memegang mulut Nagini, sambil terkekeh.

Harry tersentak dan mencoba bergerak bangkit, tapi Tom menghentikannya dengan memegang tangannya di sekeliling pinggangnya. Harry tidak perlu khawatir karena Nagini tidak melakukan apapun, hanya mendesis tidak nyaman saat Wynter memegang wajahnya dengan ketat dan mengayunkan lengannya membuat kepala Nagini bergerak dengan tangannya. Itu akan kelihatan lucu kalau Harry tidak ketakutan. Walaupun kalau Nagini adalah ular yang jinak yang akan mendengar masternya, dia tahu apa yang ular besar itu dapat lakukan, dia telah melihatnya.

-Lepaskan anak kecil- Nagini memberitahukan Wynter mencoba untuk melepaskan kepalanya dari genggaman yang sangat ketat itu. Tapi Wynter tidak akan melepaskannya dan lanjut mengayunkan kepalanya ke depan dan ke belakang. –Tolong lepaskan...itu sakit- dia mendesis dan Wynter melepaskannnya dan mengoceh pada ular itu.

Harry terlihat terkejut bahwa Wynter menuruti dan bahkan Tom tegang sedikit tapi dia hanya mengabaikannya seperti hanya sebuah kebetulan, dia menatap ke Tom dan sepertinya dia juga sedang berpikir. Nagini sedang bermain dengan Wynter, yang mana sangat mengejutkan, dengan mengangkat ekornya dan mengayunkannya di depan Wynter dan Wynter mencoba untuk menangkapnya, tangan kecilnya mencoba menggenggamnya. Tapi dia cepat bosan dan dengan tiba-tiba mengelilingi tangannya di sekeliling leher Nagini dan memeluknya dengan erat, dengan sangat senang.

-Anakmu sangat suka menempel- kata Nagini ke Tom saat dia bergerak dengan tidak nyaman, dia dengan jelas tidak terbiasa dengan perhatian yang seperti itu, terutama dari seorang anak kecil.

Tom tersenyum dan setuju, tapi dia masih bayi. –Namanya bukanlah anak kecil. Namanya adalah Wynter- dia memberitahu Nagini, namun saat dia mengatakan namanya, Wynter menatap ke arahnya dan melepaskan Nagini dan mengusap kulit Nagini dengan hati-hati. Tom telah melihatnya kali ini dan berdiri, tiba-tiba berharap dan senang.

"Apa?" tanya Harry sambil bangkit, khawatir, "Apa yang terjadi?" dia menatap ke Wynter untuk melihat apakah dia terluka atau tidak tapi dia tidak melihat apa-apa.

Tom tidak menjawab dan hanya berlutut di depan Wynter. –Wynter- dia mendesis dengan lembut. Dan dengan ajaib, Wynter menatap padanya dan tersenyum. Tom hanya dapat menatap dengan syok.

"Oh Tuhan," bisik Harry dan berlutut di lantai juga, -Wynter. Lihat Mommy- dia mendesis dan Wynter membalikkan kepalanya untuk melihat ke arah Harry dan mulai mengoceh padanya.

"Aku tidak percaya ini, dia dapat mengerti kita," Harry menggelengkan kepalanya dan tertawa, "Well, sepertinya ada Parselmouth lain di keluarga ini."

"Ya," bisik Tom, menatap ke putrinya dengan syok. "Aku tidak pernah berpikir-bahkan tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan bahwa Wynter akan mewarisi Parseltounge."

"Kalau kau berpikir tentang itu, kedua orang tuanya punya kemampuan itu. Itu masuk akal bahwa dia akan mendapatkannya, setidaknya darimu, karena aku bukanlah Parselmouth yang sebenarnya."

Tom menatap ke Harry dengan penasaran, tapi tidak megatakan apapun dan sebaliknya dia meletakkan tangannya di kepala Wynter dan dengan lembut mengelus pipi lembutnya saat dia menatap ke putrinya dengan bangga.

-Anak kecil Wynter adalah Parselmouth yang lain kalau begitu?- desis Nagini –Bagus-

Tom melihat ke peliharaanya dengan senyuman geli, -Ya, kau benar. Dan terima kasih, Nagini-

-Aku tidak melakukan apapun master- desis Nagini kembali.

-Sebenarnya, kau telah banyak melakukan apapun. Itu akan memakan waktu yang sangat lama bagi kami untuk menyadari bahwa dia adalah seorang Parselmouth kalau bukan karena dirimu- Nagini hanya menganggukkan kepalanya yang besar dengan mengerti.

-Aku pikir ini ada manfaatnya juga karena kau datang ke sini dan menakutiku setengah mati- kata Harry.

Nagini menundukkan kepalanya pada Harry –Aku sangat minta maaf Harry Potter, itu bukanlah maksud kedatanganku-

-Hanya Harry saja lebih bagus- dia mendesis dan dengan ragu menyentuh kepala besar ular itu dan Nagini membiarkannya. –Aku harap kita tidak punya masalah di masa mendatang-

-Seperti yang kau inginkan Harry. Dan aku juga berharap seperti itu. Hanya teruslah membuat master merasa puas dan semuanya akan baik-baik saja. Aku suka melihat senyum konyolnya di pagi hari-

-Nagini- desis Tom dengan peringatan. Serangkaian desis datang dari ular itu sebagai respon dan Harry menyadari bahwa dia tertawa. Harry juga ikut tersenyum juga dan memberikan Tom tatapan bertanya.

-Aku akan pergi sekarang, master- kata Nagini dan melepaskan dirinya dari Wynter dan pergi menuju sebuah penutup besar yang ada di dekat pintu. Harry tidak pernah tahu bahwa itu ada disana.

"Well, itu adalah kejutan," kata Harry saat dia melihat Nagini menghilang dari lubang itu, penutup itu menutup di belakang Nagini dan menghilang. Setidaknya itu menjelaskan bagaimana dia tidak pernah melihatnya. "Tapi kita masih belum bisa melakukan apa-apa tentang ini, Wynter harus memulai bicara dulu."

"Benar," bisik Tom dan menatap sambil berpikir. Tapi dia kembali ke dirinya sebelum dia berpikir terlalu jauh. "Berbicara tentang kejutan. Aku punya satu untukmu."

"Ooh? Nakal?" tanya Harry dengan seringai.

Tom menahan tawanya, tapi dia tersenyum, mata birunya bersinar dengan geli. "Tidak."

"Dimana itu?"

"Itu tidak disini. Aku harus membawamu kesana." Jawab Tom.

"Okay."

"Kau harus menggunakan ini," kata Tom memegang sebuah penutup mata.

"Nakal," kata Harry mengambil penutup itu darinya dan menjelajahinya dengan jarinya, "Aku tidak berpikir aku suka jenis yang seperti ini."

"Kita lihat saja," kata Tom, mata bersinar dengan janji.

Harry hanya menggelengkan kepalanya dengan sebuah senyuman dan melihat ke Wynter yang telah membuat dirinya terjatuh dengan punggungnya selagi dia bermain dengan bonekanya, kemudian melihat ke Tom.

"Kita akan membawa Wynter dengan kita," katanya pada pertanyaan Harry yang dalam hati, "Ini juga untuk Wynter."

Harry melihat ke Tom dengan penasaran saat dia pergi untuk mengambil tas perlengkapan Wynter. "Apakah dia perlu ini juga?" Harry menggoda sambil mengangkat penutup matanya.

"Tidak. Lagipula dia pasti akan melepasnya."

"Mungkin juga tidak," kata Harry, memeriksa agar semuanya sudah ada di dalam tas. Dia kemudian mengangkat Wynter, memastikan bahwa dia tidak kotor dari sarapan dan memberikannya bonekanya, yang kemudian sangat di pegangnya erat. Harry kemudian berbalik ke Tom dan memberikannya penutup matanya. "Siap."

Tom mengambilnya dan dengan lembut menjelajahinya dari bahu yang terekspos dan lehernya saat dia memutari Harry. Harry merinding dan memberikan Tom pelototan bercanda sebelum kain hitam itu menutup matanya.

"Senang aku tidak perlu memakai kacamata lagi."

"Senang," Tom mengikuti, mengikat kain itu di belakang kepalanya.

"Hey!" teriak Harry bercanda.

"Oke? Tidak terlalu ketat?"

"Tidak, aku baik-baik saja," kata Harry dan mencium tangan yang ada di wajahnya, dengan penasaran menyentuh kain itu. Dia merasakan tangan Tom mengelilingi pinggulnya dan menarik Harry ke dirinya, memerangkap Wynter di antara mereka.

"Sudah siap?"

Harry menguatkan pegangannya pada Wynter dan mengangguk.

Dengan pemeriksaan terakhir untuk memastikan semua orang sudah siap. Memegang tangan kecil Wynter ketika Wynter memberikannya tangannya, meringkuk karena mengetahui sesuatu akan terjadi, Tom membuka pelindung rumahnya sedikit dan apparated.

MMMMMM

Harry mengambil nafas dalam seperti yang selalu dia lakukan setelah apparate dan melakukan pemeriksaan kalau semuanya masih ada. Itu sangat membingungkan karena dia tidak tahu dia berada di mana tapi semuanya masih ada. Wynter membuat suara tidak nyaman di tangannya, salah satu yang terdengar seperti dia akan menangis dan Harry dengan cepat menenangkannya.

"Shh. Tidak apa-apa sayang," bisik Tom pada Wynter dan Harry dapat merasakan Tom menyentuh Wynter untuk menenangkannya dan akhirnya Wynter tenang.

Saat Tom menenangkan putri mereka, Harry mengambil waktu untuk mencari tahu apa yang dia rasakan agar dia dapat mengetahui dimana mereka sekarang. Ada hembusan angin sejuk yang mengacaukan rambutnya, dan angin itu seperti ada baunya yang dia tidak tahu apa...apakah itu garam? Tidak ada suara yang bisa dia dengar disana tapi ada beberapa suara burung dan dia dapat mendengar hal lain yang terdengar jauh tapi dia tidak tahu apa karena dia tidak pernah mendengar hal yang seperti itu, tapi itu kuat seperti air yang mengalir. "Kita ada dimana?" akhirnya dia bertanya.

"Arah sini," Tom hanya berkata seperti itu dan menuntun Harry kedepan ke apa yang dia tebak sepertinya sebuah jalan setapak. Harry dapat merasakan suara krak seperti itu adalah batu, diletakkan disana, tapi tidak beraturan. "Oke," kata Tom setelah berjalan sebentar dan memberhentikannya.

"Disini?" dia bertanya. Dia sangat penasaran karena mereka masih diluar, tapi Tom tidak mengatakan apapun. Tapi dia merasakan Tom mengelilinginya dan mulai membuka penutup matanya. Dengan penglihatannya ditutup pendengarannya menjadi meningkat, jadi dia mendengar Tom mengeluarkan nafas gugup sejauh yang dia tahu. Dia pikir itu aneh. Tapi kemudian-

Kemudian penutup mata itu terjatuh dan apa yang dia lihat mengambil nafasnya.

Berdiri di depannya adalah rumah yang sangat sangat dan sangat cantik yang pernah dia lihat.

"Oh Tuhan, Tom...ini...ini adalah..."

"Milikmu," Tom berhenti untuk berpikir, "Milik kita," Tom memberikan Harry senyuman ragu, "Rumah yang berada di dekat pantai yang seperti kau sukai."

"Benarkah?" tanya Harry dan berbalik dan ya, dia dapat melihat warna biru di laut yang berada sangat jauh itu.

"...Apakah kau menyukainya?" Tom bertanya dengan ragu.

"Ya! Ini-ini sangat cantik!" kata Harry dengan terpesona, mencoba untuk melihat semuanya sekali.

Harry benar-benar berbalik untuk melihat sebuah jalan yang ada di depan rumah dan di sisi lain ada sebuah tebing yang menuju ke pantai pasir. Jauh di bawah dia dapat melihat rumah-rumah yang lain, disana juga ada beberapa di sisi lain yang agak jauh dari rumah"nya". Melihat ke bawah, dia melihat kalau dia sedang berdiri di jalan setapak yang menuntunnya langsung ke pintu. Tanaman berjajar di sisi lain dan lurus ke depan jalan dan berubah menjadi semak yang lebih besar yang berhadapan dengan rumah. Maju kedepan, arah ke pantai ditutupi oleh dinding. Bunga dan semak kecil mengelilingi bagian depan dinding dan berhenti di depan rumah, tapi semak yang lebih besar dan bunga-bunga berjajar di depan rumah dekat jalan setapak. Ada juga pohon-pohon besar dan tinggi disini dan ada juga lapangan kecil didepan dan di belakang rumah.

Setelah Harry selesai melihat pemandangan di sekeliling rumah dia akhirnya berbalik ke rumah itu. Jalan setapak yang terbuat dari bebatuan kecil menuju ke sebuah pintu, tanaman-tanaman berada di samping sisi pintu, memberikan beberapa warna. Rumah itu berwarna krem, sedikit gelap dari pasir di pantai, dengan sedikit putih. Di depan rumah itu tepatnya di sisi-sisi nya ada dua jendela besar di lantai bawah dan dua pintu sedang di lantai atas. Disana juga ada dua jendela kecil di lantai dua. Dia melihat ke atas dan menutupi matanya dari matahari dari atap rumah, dimana dia juga melihat batu bata dari cerobong asap.

"Kita punya perapian?" dia bertanya dengan semangat. Pondok mereka tidak punya perapian dan dia rindu kehangatan dari rumah lamanya sebelum kejadian itu terjadi.

"Dua," jawab Tom dan tersenyum sedikit saat mata Harry melebar. Dia terlihat seperti Wynter, mata hijau melebar seperti anak kecil, melihat kesekeliling. Itu adalah pertama kalinya dia memberikan hadiah kepada seseorang yang sangat dia peduli apa yang mereka pikirkan dan dia harus mengakui bahwa dia sedikit ragu, tapi melihat dari reaksi Harry, dia menyukainya. Itu sangat melegakan. "Ingin memeriksa apa yang ada di dalamnya?"

"Ya!" teriak Harry dan dengan sangat bersemangat mengikuti langkah Tom. Tom membuka pintu dan berjalan ke samping agar Harry bisa masuk, dan Harry terkejut untuk yang kedua kalinya. Kalau diluar sangat indah, maka di dalam sangat cantik, dengan dinding putihnya dan lantai kayu berwarna hitam. "Oh Tuhan, Tom," Harry menarik nafas sambil melihat ruangannya, "Kapan ini-" dia berhenti dan berbalik ke Tom. "Ini adalah apa yang sedang kau lakukan?"

"Ya," jawab Tom. "Aku menemukannya minggu lalu. Aku sedang meletakkan mantra pelindung dan membeli semua peralatan ini," katanya sambil menunjuk ke dalam.

"Jadi disini aman?"

"Aku tidak akan membawa kalian berdua disini kalau aku tidak berpikir seperti itu," kata Tom, "Tempat ini sangat terlindungi dan tidak terlihat dari luar. Ini akan terlihat seperti apa yang ada di luar. Ini juga adalah alasan kenapa aku memilih ini,"

"Ini terlihat alami," kata Harry.

"Tepat sekali."

Harry mengangguk mengerti dan masuk ke dalam, memegang Wynter dengan ketat dan dengan bersemangat saat dia melihat ke ruangan. Semua lantai pertama terbuka, seperti sebuah ruangan yang besar, tapi punya area yang berbeda. Di kirinya ada tangga yang menuju ke lantai dua. Disana ada dua rak buku yang penuh oleh buku di dekat dinding, kebanyakan dari buku itu adalah buku tentang cerita anak-anak dan buku sihir mantra sederhana dan ramuan, tapi tidak ada yang hitam, disampingnya ada jendela besar dengan tirai biru yang panjang yang sama seperti semua yang ada di jendela di seluruh rumah. Disampingnya ada meja yang terdapat sebuah set komputer di dekat dinding dan tepat di sebelahnya dia melihat sebuah pintu dan dia membukanya dan ternyata itu adalah sebuah lemari kecil yang berisi beberapa mantel dan tempat duduk yang di lipat khusus buat Wynter. Dia memberikan Tom sebuah senyuman saat dia menutup pintu dan kembali ke ruangan. Di depannya di sisi lain dari pintu depan ada sebuah pintu yang terbuka sedikit. Dia berjalan ke pintu itu dan melihat bahwa itu adalah kamar mandi kecil dengan hanya toilet dan keran air, dindingnya berwarna krem cerah dan kayu gelap yang sama dengan warna krem sederhana sebagai dekorasi. Di samping dinding dia melihat pintu kayu yang saat di buka terdapat mesin cuci dan pengering dengan warna merah maroon.

"Ooh, merah," Harry terpesona.

Tom tertawa di belakangnya, "Aku pikir kau akan suka itu."

"Terima kasih," kata Harry dan melihat ke Wynter yang sedang melihat ke atas dan menggenggam bajunya. Dia mengikuti tatapan Wynter dan melihat bahwa ada lobang di atap. Berjalan kesana dia dapat melihat ke lantai dua. Wynter menunjukkan jarinya ke atas dan menatap padanya mengoceh untuk Harry agar melihat lobang itu. "Aku melihatnya. Itu benar-benar keren, huh?" dia bertanya pada Wynter dan Wynter lanjut melihat ke atas, benar-benar terpesona.

"Aku juga berpikir seperti itu," kata Tom.

Harry membalikkan perhatiannya ke depan dan melihat area tempat duduk yang kecil, itu seperti lobang sehingga kau harus berjalan ke bawah untuk kesana. Itu berbentuk persegi dengan empat sofa putih di setiap sisi, dua lampu biru di sisi lain dan di sudut ada lima lampu dan sebuah meja di tengah-tengahnya.

"Ini luar biasa!" teriak Harry dan berjalan ke bawah dan menjelajahi tangannya di sofa sebelum dia duduk. Itu adalah tempat yang bagus untuk duduk dan menenangkan diri dan hanya berbicara, meminum secangkir kopi atau teh dengan Tom, melihat Wynter saat dia bermain dengan mainannya, berlari ke sekeliling dan mendengar jejak kaki... Dia menggelengkan kepalanya dari imajinasinya dan bangkit untuk menjelajahi bagian lain dari rumah itu. Dia meninggalkan area tempat duduk itu dan pergi ke sisi kanan rumah ke meja makan yang terbuat dari kayu mahogany yang mempunyai enam tempat duduk, mungkin delapan dengan dua kursi lagi, tapi disana hanya ada enam kursi dan punya kursi tinggi di dekat dinding. Kursinya berwarna cokelat dan putih, dengan garis merah hati. Di kanannya ada sebuah dapur dengan semua peralatannya, microwave, blender, pisau, panci dan wajan tergantung di sana. Itu mempunyai kayu berwarna gelap yang bagus, mempunyai warna yang sama dengan meja makan dan mempunyai dua keran air. Satu berada di meja dan satu berada di wastafel. Itu sangat mahal dan elegan di waktu yang sama, dia sangat menyukainya.

"Aku tahu kau suka memasak," kata Tom dari belakangnya.

"Benar," jawab Harry saat dia melihat-lihat ke beberapa lemari, disana ada piring-piring dan gelas, Tupperware, peralatan lain di laci dan sebuah lemari yang penuh dengan makanan. Dia membuka salah satu lemari yang paling atas, "Wynter lihat! Daddy membelikanmu makananmu!" katanya pada Wynter. Membuatnya melompat di pinggang Harry. Rak yang paling bawah penuh oleh makanan bayi dan rak yang kedua ada beberapa cemilan lembut untuk Wynter untuk dikunyah, untuk sekarang, disana juga ada mangkuk baru untuk menggantikan mangkuk yang telah terbakar di pondok. Wynter menunjuk ke makanannya dan kemudian melihat ke Harry dan kemudian melihat ke makanannya lagi. Harry tersenyum dan mencium dahi Wynter, Wynter sering melakukan itu sekarang, menunjuk ke sesuatu yang menurutnya menarik, yang mana adalah semuanya.

"Kau berpikir tentang semuanya, iya kan?" dia bertanya saat dia melewati wastafel ganda yang besar, menjelajahi jarinya di meja granit itu. Dia melihat ke jendela yang berada di antara watafel dan lemari dan melihat tanaman dan pohon pinus di luar, dia dapat melihat pantai dan rumah di kejauhan. Dia kemudian berbalik ke jendela yang lain menatap ke belakang rumah dan hampir melompat kesenangan. "Kita punya kolam renang?!"

Tom terkekeh, "Ya. Aku tahu bahwa laut ada di sebelah sana, tapi kadang-kadang kau hanya mau tetap berada didekat rumah."

Harry mengangguk dan meredakan kesenangannya dan berbalik ke dapur, dia akan melihat halaman belakang nanti. Dia lanjut di antara meja dan wastafel, yang mana keran yang lain berada dan berhadapan dengan sebuah kompor. "Aku tebak, aku akan lebih banyak memasak sekarang. Tidak mau semua ini untuk di sia-sia kan."

"Aku sangat menunggu itu."

"Aku bertaruh kau pasti menunggu." Harry melewati jendela yang ada di langit-langit dan pintu ke halaman belakang, tapi dia menyadari bahwa disana ada dua jendela lagi di samping sisi pintu, tertutupi oleh tirai biru yang sama hanya sedikit lebih panjang, tirai itu mengenai lantai untuk menutupi jendela ketika tirai itu tidak di ikat. Tepat di sebelah kanan ruangan ada sebuah area tempat duduk yang lain, hanya kali ini ada sebuah TV di sudut di meja mahogany. Disana ada dua sofa panjang yang berwarna biru tua sama seperti tirai dengan kursi berlengan yang juga berwarna biru diantaranya. Disana juga ada meja di masing-masing sisi sofa dengan sebuah lampu di atasnya, satu dekat lemari ke halaman belakang dan yang lain ada di antara sofa dan kursi berlengan di tengahnya.

"Aku suka warna disini," kata Harry sambil menjelajahi tangannya pada bantal sofa. Biru dan putih adalah warna yang bagus dan itu terlihat luar biasa."

"Aku senang kau berpikir seperti itu," jawab Tom.

"Aku terkejut kau meletakkan ini disini, komputernya juga," kata Harry saat melihat TV layar datar dan pemutar DVD baru berada di tengah-tengah meja,

"Aku mengaku bahwa Muggle punya hal yang berguna," kata Tom, dengan jelas tidak melihat ke senyuman Harry.

Wajah Harry tiba-tiba menjadi sedih. "Aw. Aku ingat kalau semua film ku sudah tidak ada," kata Harry dengan sedih. Dia hanya membawa hal-hal yang penting seperti pakaian dan foto-fotonya dan hanya itu saja, dia sangat terburu-buru waktu itu.

"Aku dapat beberapa," kata Tom sambil mebuka laci atas yang ada di meja TV. Di dalamnya ada beberapa DVD yang masih berplastik. "Kebanyakan semua yang sudah kita lihat, tapi aku juga membeli beberapa yang terlihat menarik."

Harry mengangguk saat dia melihat satu per satu, "Kita bisa mulai menonton film lagi ketika kita sudah menyiapkan semuanya."

"Terdengar bagus." Tom rindu malam-malam itu, jujur hanya duduk di sofa dengan Harry dan kadang-kadang dengan Wynter kalau dia belum tidur, menonton film. Itu sebenarnya adalah proses yang tidak berguna tapi dia menikmati waktu yang dia habiskan bersama mereka.

"Oke, waktunya halaman belakang," kata Harry sambil mengangkat Wynter dimana dia meletakkannya di sofa. "Kau mulai berat," katanya pada Wynter dan Wynter memberikannya sebuah senyuman. "Ini, ayo bersama Daddy," katanya dan memberikan Wynter ke Tom. Wynter menjulurkan tangannya ke Tom dan mengelilinginya di leher Tom ketika Tom menggendongnya.

"Bagaimana menurutmu tuan putri? Kau suka disini?" Tom bertanya padanya. Tapi Wynter tidak memperhatikannya. Dia telah kehilangan bonekanya. Boneka itu berada di lantai dan Wynter membuatnya menunduk untuk mengambil bonekanya.

Sedangkan Harry telah melepaskan tangannya dan meletakkan tasnya, kemudian berlari ke pintu kaca dan menuju ke halaman belakang. Itu tidak terlalu besar tapi lebar dengan banyak pemandangan hijau. Tanaman dan semak tumbuh di sekitar dinding pagar halaman, tanaman rambat tumbuh di atasnya, memberikannya gambaran natural. Di kanannya ada kolam renang yang telah dia lihat melalui jendela. Itu tidak seperti kolam renang yang biasanya, yang ini punya sudut yang bulat dan sedikit melengkung di satu sisi, membuatnya terlihat miring. Di ujung ada sebuah beranda yang mempunyai bibir bawah di sisinya untuk membuat air terjun di kolam renang. Ada tanaman yang tumbuh di sekitarnya yang membuatnya terlihat eksotis. Sebuah meja berada tepat di samping pintu dengan empat kursi agar mereka dapat duduk di luar. Di sisi lain kolam ada dua kursi taman yang panjang yang menghadap ke pantai yang dapat di lihat melalui pagar.

Berbicara tentang pagar, Harry melihat ada sebuah gerbang. Berjalan menuju gerbang itu dia melihat melalui besinya bahwa di sana ada tangga. "Kita dapat pergi ke pantai dari sini?" Harry bertanya dengan senang.

Tom melihat dari tempat dimana dia bermain dengan Wynter di beranda duduk disisinya dan membiarkan Wynter meletakkan tangannya di air. "Ya. Jalannya akan menuju langsung ke air. Pelindungnya akan menutupi sisinya sehingga itu akan terlihat seperti pantai pribadi."

"Benarkah?" katanya dan menatap ke laut biru. "Aku dapat berenang telanjang," kata Harry lebih pada dirinya tapi Tom mendengarnya.

Tom mengangkat alisnya terkejut, "Kalau kau ingin."

Harry berbalik dan memerah sedikit dengan senyuman kecil, tidak salah lagi sedang merencanakan sesuatu dengan otak Gryffindor miliknya, sampai dia berbalik lagi dan menjelajah lagi.

Harry bergerak ke sisi kiri halaman, melewati dinding yang di tutupi oleh sulur tanaman ke area tempat duduk lain yang di buat sama seperti yang ada di dalam. Disana ada empat sofa yang dibuat seperti persegi, bantalnya berwarna krem dan ujungnya berwarna cokelat, mengelilingi perapian...sepertinya terlihat seperti itu. Itu panjang dan persegi dan mempunyai ujung sehingga kau bisa meletakkan sebuah cangkir atau piring sesuai keinginanmu. Di dalamnya juga berbeda, disana tidak ada kayu tapi disana ada kristal biru yang terlihat seperti kaca.

"Apa ini?" dia bertanya pada Tom, mengambil beberapa pecahan, itu adalah kaca.

Tom datang dengan Wynter yang sedang memegang bonekanya dengan tangan yang basah, bintik-bintik air di bajunya dan juga baju Tom. Sepertinya Tom tidak belajar dari yang terakhir kali dia dekat dengan Wynter yang berada di air. "Itu adalah kaca api," kata Tom menjawab pertanyaannya, "Ada sebuah gas di bawahnya dan itu akan mencerminkan ke kaca dan akan membuat api."

"Ooh," kata Harry dengan terpesona. Dia meletakkan pecahan kaca itu kembali dan melihat bagaimana cahaya matahari bersinar dari kaca itu. "Keren."

"Aku dapat memperlihatkanmu nanti."

"Okay," kata Harry dan melanjutkan apa yang di lakukannya tadi. Di dekat area tempat duduk, di sana ada area berumput yang melebar melewati sisi rumah, dinding dan sulur-sulur tanaman mengitarinya dan jauh dari tebing di sisi yang lain. Di area berumput itu ada taman bermain lengkap dengan ayunan, tiga perosotan dan permainan pendakian, semuanya menuju ke sebuah kabin kecil seperti kandang di bagian atas. Itu sangat besar, selalu yang terbaik untuk putri kecil mereka. "Oh Astaga, itu sangat manis!" kata Harry berlari ke arah taman bermain itu. Dia duduk di salah satu ayunan dan bermain ayunan sendiri, disana ada tiga ayunan, dua ayunan yang berukuran biasa dan satu yang ada tempat duduk bayinya.

Disanalah Tom meletakkan Wynter ke ayunan bayi itu dan mendorongnya sedikit untuk membuatnya berayun. Wynter menatap ke mereka berdua dengan mata melebar saat dia berayun dan mulai tertawa gembira, menepuk tangannya saat angin menyentuh pipinya saat dia bergerak ke depan dan ke belakang.

"Wynter menyukainya," kata Harry saat Wynter tetap tertawa, "Oh Wynter akan sangat menikmati ini saat dia dewasa nanti."

"Aku juga berpikir seperti itu," kata Tom, membuat gerakan menggenggam ke Wynter saat Wynter berayun ke arahnya, membuat Wynter menjerit kesenangan. "Aku harus meletakkan sesuatu disini untuknya, dan aku selalu melihat benda ini di taman dan banyak anak kecil berlarian di sekitarnya...aku pikir pasti akan menyenangkan kalau punya satu."

"Well, kau berpikir dengan benar, huh sayang!" katanya ke Wynter. Harry bangkit dan pergi ke batu pendakian di sisi lain dan dengan mudah masuk ke area kabin dimana dia harus merangkak ke perosotan yang melengkung dan turun dari situ. Itu adalah perosotan yang pendek, tapi itu sangat menyenangkan, dia tidak pernah pergi ke taman bermain sebelumnya dan itu terima kasih pada Dudley, jadi dia senang kalau putrinya dapat bermain di taman bermain, dia punya perasaan bahwa Tom merasakan hal yang sama.

Harry maju ke depan lagi setelah bermain perosotan dan melihat bahwa ada tempat untuk membuat BBQ, lengkap dengan wastafel, kulkas kecil dengan dua pemanggang kecil di sisinya dengan meja yang lebar di sisi rumah, berhadapan dengan area tempat duduk. "Wow. Aku tidak pernah punya yang seperti ini sebelumnya," katanya sambil berjalan ke arah itu dan menjelajahi jarinya di meja.

"Tidak?" tanya Tom saat dia mengangkat Wynter dari ayunannya.

"Tidak. Bahkan tidak di rumah Dursley, tapi aku belajar. Itu membuat banyak resep makanan."

"Terdengar bagus," kata Tom dan menggunakan tangan Wynter untuk memperagakan dan Wynter terkekeh.

Wynter mengusap wajah Tom dengan tangannya yang basah dan mengoceh padanya, "Mmma, mmma, mmma," kata Wynter.

Tom tersenyum padanya, "Aku bukan mama, mama ada disana," katanya sambil menunjuk ke Harry yang sedang berjalan ke arah mereka.

Wynter melihat ke Harry dan kemudian kembali ke Tom, "Mmma, mmma."

"Tidak Dada," Harry memberitahunya, "Aku mama."

Wynter melihat ke Harry lagi dan mulai mengoceh dengan senang, "Mmma! Mmma!"

"Mama," Harry memberitahunya, tapi Wynter terus mengatakan hal yang sama, sampai dia teralihkan oleh burung yang terbang melewati mereka dan dia mulai menunjuk ke burung itu, mengoceh lagi. Harry mendesah dan mengusap punggung Wynter, "Hampir."

"Wynter tumbuh terlalu cepat," kata Tom saat dia meciun dahi Wynter.

"Ya..." Harry menyetujui dan mereka duduk disana dalam diam sampir akhirnya Wynter menguap dan meletakkan kepalanya di bahu Tom.

Tom tersentak dari lamunannya, "Siap untuk melihat lantai atas?"

"Oh ya!" kata Harry menyadari dimana mereka, dia sudah nyaman disini, ini adalah rumah. Tapi dia hanya melihat lantai bawah dan itu sangat luar biasa, dia dapat membayangkan bagaimana lantai atas.

Dari apa yang dapat dia lihat dari sini, disana ada balkon di setiap sisi lantai besar ke jendela atas yang ada di lantai tengah. Dia tidak bisa menunggu, jadi dia berjalan masuk ke dalam dan melewati area TV, yang mana sekarang dia mulai menyebutnya "area hiburan" di pikirannya, untuk menuju ke tangga. Tapi sebelum dia sampai dia melihat perapian yang tadi dilihatnya dari luar. Itu berada tepat di antara area hiburan dan tangga.

"Perapian!" dia berteriak dan berhenti untuk melihat. Itu adalah salah satu perapian yang terbuat dari batu yang berwarna cokelat cerah dengan mantel yang berwarna putih dan jeruji hitam yang berisi kayu yang siap untuk di bakar. Di mantelnya terdapat patung kecil dengan seekor singa dengan seekor ular yang membungkusnya, kepala ular itu bersandar di rambut singa, itu hanyalah pernak pernik yang sederhana tapi memiliki arti yang penting. Di sisi lai dari petung itu adalah foto... dari orang-orang yang dia tidak kenal. Dia melihat ke Tom dengan bingung dan Tom terkekeh.

"Itu hanyalah pengisi saja. Aku pikir kau dapat meletakkan foto Wynter disana atau-" dia mengendikkan bahi, "Teman-temanmu."

"Kau?" tanya Harry.

Tom terlihat terkejut sebentar, sebelum mengendikkan bahu, "Kalau kau mau."

"Aku pikir aku akan melakukannya. Itu adalah rumahmu juga," Harry berpikir sebentar. "Aku pikir aku punya satu untukmu, aku tidak yakin...aku harus mengambil satu. Well, terima kasih."

"Tidak masalah," kata Tom, kemudian menunjuk ke tangga dengan gestur 'setelah mu' dan mereka naik ke lantai dua.

Ketika mereka sampai lantai dua, Harry berada di depan salah satu pintu yang sangat besar. Itu adalah jenis pintu yang menuju ke depan rumah dan punya area tempat duduk. Harry berdiri di pinggirnya dan melihat ke jendela dan melihat halaman depan yang terpampang di depannya termasuk beberapa rumah di kejauhan. Dia juga dapat melihat rumah-rumah yang semakin jauh ke jalan utama, disana juga ada mall dan beberapa bangunan besar, semuanya bisa dapat dilakukan dengan berjalan.

"Jenis toko apa yang ada disana?" dia bertanya.

"Sebuah pasar, toko, dua mall dan beberapa yang lainnya," jawab Tom.

"Wow."

"Aku juga lebih menyukainya, itu sangat mudah. Juga, disana ada beberapa toko di pinggiran pantai, mungkin satu atau dua restoran."

"Kita harus pergi kalau begitu," kata Harry sambil berdiri dan berbalik ke ruangan, yang mana merupakan koridor yang lebar.

Ruangannya lebih kecil daripada yang lantai bawah, tapi itu karena ada ruangan lain di atas. Tepat di tengah-tengah lantai dua ada lobang yang tadi di lihatnya dari lantai bawah. Melihat kebawah dari tepinya, dia dapat melihat area tempat duduk dan sebagian dari dapur. Tepinya terbuat dari kayu gelap yang bagus, warna yang sama dengan lantainya, di sekeliling lobang itu dan dia dapat merasakan mantra pelindung, tidak di ragukan lagi untuk kewaspadaan lebih. Disana ada banyak pintu di setiap sisi di koridor itu, dua di kiri dan dua di kanan.

"Ada berapa banyak ruangan di sana?" Harry bertanya sambil melihat ke semua pintu.

"Ada empat kamar tidur dan masing-masing mempunyai kamar mandi sendiri. Dua kamar tamu, kamar besar, dan kamar Wynter."

"Dua kamar tamu? Aku pikir kita tidak memerlukannya."

"Tidak, tapi mereka ada disana."

Tidak diragukan lagi bahwa kamar-kamar itu sudah ada disana dengan rumahnya, tapi itu memberikan Harry harapan kalau suatu hari mereka akan kedatangan tamu.

"Kau mau mulai darimana?" tanya Tom. "Kamar tamu dua-duanya ada di sebelah sini," katanya sambil menunjuk ke arah kiri, "Atau kamar kita dan Wynter," dia menunjuk ke arah kanan.

Harry ragu, tidak yakin mau kemana lebih dulu, tapi kemudian memutuskan untuk meninggalkan kamar mereka untuk yang terakhir dan pergi ke arah kiri dan membuka pintu pertama. Saat dia berjalan masuk, dia mengeluarkan tawa senang ketika dia melihat ke sekeliling. Di dalam adalah ruangan yang besar dengan dinding berwarna putih, lantainya adalah kayu hitam yang sama dengan tirai putih di depan tempat tidur. Tempat tidur berukuran Queen yang mempunyai selimut berwarna merah di atasnya, tempat tidur itu berada di tengah-tengah ruangan dekat dinding di antara dua jendela besar dengan tirai berwarna putih. Barang-barang di dalam ruangan semuanya berdesain modern dengan warna merah terang sama seperti selimutnya, laci, lemari pakaian, meja di sudut dan kursi, bahkan lampu-semuanya berwarna merah Gryffindor.

"Bagaiman menurutmu?" tanya Tom dengan senyuman yang lebar, hanya sebuah lengkungan di bibir.

"Aku tidak berpikir kau akan memberikan warna merah Gryffindor di tempat ini, ternyata aku salah."

"Kita tidak tidur disini," kata Tom dengan santai.

"Benar," Harry terkekeh dan menggelengkan kepalanya saat dia melihat ke sekeliling, "Ini luar biasa." Dia pergi ke pintu yang di sisinya dan membukanya. "Oh astaga, bahkan disini!" Harry berteriak saat dia berjalan masuk ke tempat yang merupakan kamar mandi yang mana berwarna merah dan putih juga. Dua dari dindingnya berwarna putih dan dinding yang lain berwarna merah membuatnya senada, dan lantainya merupakan keramik yang bagus dengan berwarna merah dan hitam. Lemari di atas kran berwarna merah dan mempunyai kaca di depannya. Kerannya, toilet, dan showernya berwarna putih dan ada tirai putih di depan shower.

"Kau harus melihat yang lain," kata Tom.

Harry melihat ke Tom dan senyuman kecilnya dan dia harus melihatnya. Dia meninggalkan kamar tamu, membiarkan Tom menutup pintu di belakangnya selagi Harry berjalan jauh ke koridor ke pintu yang di sebelahnya dan masuk. Dia langsung tertawa saat dia masuk. Benar pada apa yang Tom katakan, ruangan ini berwarna hijau dan cokelat.

"Tetap berpendirian pada asalmu ternyata Tom," kata Harry menjelajahi tangannya di selimut yang berwarna hijau yang mempunyai beberapa gambar bunga.

" Aku harus menunjukkannya di suatu tempat,"

"Kamar kita tidak seperti ini?" kata Harry sambil menunjuk ke semua yang berwarna hijau.

"Tidak."

"Bagus," kata Harry dan pergi untuk memeriksa lemari pakaian yang mana juga berwarna hijau. Disana ada kursi berlengan yang berwarna hijau di sudut dan tirai cokelat di jendela di ruangan itu, yang mana ada empat, dua di sisi tempat tidur dan dua lagi menghadap ke halaman belakang. Mengintip ke kamar mandi melalui pintu di sebelah kanan, Harry juga melihat bahwa mereka juga berwarna hijau dan cokelat. Dindingnya berwarna hijau dengan garis putih, tapi toilet, shower dan kerannya berwarna putih. "Ini luar biasa," katanya sambil menutup pintunya dan berjalan untuk melihat pintu kaca geser yang ada di antara dua jendela untuk melihat balkon kecil dengan dua kursi sederhana dan tanaman ber pot di sudut. "Dan ini hanyalah ruang tamu."

Tom hanya memiringkan kepalanya seperti mengatakan 'tunggu sampai kau melihat yang lain.' Wynter melihat ke ayahnya dari posisinya di tangan ayahnya, satu di bawahnya yang mana sedang dia duduki dan yang lain mengelilinginya di pinggangnya sehingga dia bersandar di dada ayahnya, menendang-nendang kaki kecilnya-dan memiringkan kepalanya ke sisi, meniru ayahnya, membuat Harry tertawa. Wynter meniru banyak hal yang mereka lakukan, ini hanyalah salah satu dari mereka. Harry hanya berharap Wynter tidak meniru kebiasaan buruk mereka.

Harry menggenggam kaki Wynter saat dia melewati Wynter dan kembali ke koridor. Di belakang rumah itu, semua dindingnya merupakan jendela-jendela yang besar. Disana tidak ada tirai untuk menutup sinar matahari yang masuk dan menyinari seluruh lantai dan kau dapat melihat seluruh halaman belakang dan laut yang biru melalui pagar sejauh mata memandang, itu sangat menakjubkan. Di depan jendela dua tempat duduk pasangan dan sebuah meja dimana orang dapat duduk dan menenangkan diri di bawah sinar matahari.

"Oh aku akan sangat menyukai ini," kata Harry sambil duduk di salah satu kursi pasangan itu dan menutup matanya, membiarkan sinar matahari menghangatkan wajahnya.

"Ini adalah tempat yang bagus," Tom menyetujui, "Aku suka jendela disini, kau dapat melihat banyak dari sini."

"Aku tahu," bisik Harry sambil membuka matanya dan menatap ke jendela lagi. Wynter menguap dan Harry dengan lembut menyisir rambut Wynter dari wajahnya. "Ngantuk sayang?" dia bertanya kepada Wynter. Wynter memberikannya senyuman ngantuk dan mengusap matanya dan bersandar ke Tom, benar-benar nyaman. "Apa dia berat?" tanyanya.

"Tidak, dia tidak berat," kata Tom dan dengan lembut mencium dahi Wynter.

"Oke," kata Harry dan bangkit. Dia berjalan kembali ke koridor dan di sudut ada sebuah ruangan yang menonjol ke depan, ke sebuah pintu. "Ini punya siapa?" tanyanya.

"Punya kita."

Mata Harry membelalak dan dia berbalik ke pintu dengans semangat. Mengambil nafas dalam, dia mendorong pintu itu. Hal yang pertama yang dia sadari adalah ruangan itu sangat besar, lebih besar dari ruangan yang lain dan bagian yang menonjol keluar yang di koridor tadi bukanlah bagian dari ruang utama, mungkin sebuah kamar mandi. Hal kedua yang dia sadari adalah disana ada sebuah perapian di kamar mereka.

"Ada yang lain!" dia berteriak saat dia memeriksanya. Itu adalah batu yang sama seperti perapian yang di lantai bawah, tapi tidak ada apa-apa di mantelnya, dia akan mengisinya nanti. Disana juga ada sebuah pintu di sebelah kanan perapian. "Apa yang ada disana?"

"Kamar Wynter," jawab Tom.

"Oh. Itu membuat hal menjadi lebih mudah," kata Harry dan berbalik dari pintu itu untuk melihat ke seluruh ruangan.

Dindingnya berwarna putih dan lantainya sama dengan yang lain de seluruh rumah. Disana ada tirai yang besar di tengah-tengah ruangan dan di bawahnya ada tempat tidur king size dengan bewarna krem cokelat, yang mana merupakan warna dari ruangan itu, dekat dinding. Dua jendela besar yang berasa di sisi tempat tidur dengan tirai krem di dalam untuk menutupi sinar matahari. Di sisi sebelah kanan jendela adalah lemari pakaian yang terbuat dari kayu berwarna gelap, di sisi lain dari ruangan itu adalah lemari yang lain, sepertinya satu untuk mereka masing-masing. Meja yang juga memiliki kayu yang sama berada di sisi-sisi tempat tidur dengan lampu di atasnya. Di depan tempat tidur ada meja rias panjang dengan sebuah cermin. Di samping meja rias di sebelah kanan ada pintu yang lain dan membukanya menunjukkan sebuah kamar mandi yang besar. Didalamnya ada dua kran di sisi kiri dengan atasan berwarna krem dan sebuah toilet dekat dinding, dan di atas bak mandi di sudut dan shower di sebelah kanan, berhadapan dengan pintu yang terlihat sepertinya bisa menampung empat orang.

"Oh Tuhan, Tom. Ini luar biasa," kata Harry, keluar dari kamar mandi, "Ini terlalu banyak!"

"Aku pikir kita pantas mendapatkan kenyamanan," kata Tom. Dia telah meletakkan Wynter di tengah-tengah tempat tidur yang sangat besar itu dan sedang melihatnya, mengukur reaksi Harry.

"Ya tapi..." Harry melihat ke sekeliling semua, tidak tahu apa yang harus dia katakan.

"Ini disebut kamar tidur utama karena suatu alasan," kata Tom dengan santai.

"Benar," bisik Harry dan pergi ke salah satu jendela yang menghadap halaman belakang untuk dilihat, membuka tirai krem itu. Disana ada sebuah balkon dengan dua kursi dan meja kecil agar mereka dapat duduk dan menikmati pemandangan. Di tengah-tengah dua jendela itu ada pintu kaca geser dan dia membukanya untuk membiarkan masuk udara degar melalui pintu, menutup matanya terhadap angin. "Aku tidak percaya kalau ini punya kita."

"Apa kau menyukainya?" tanya Tom, "Aku mencoba untuk tidak melebih-lebihkannya."

"Aku menyukainya," kata Harry sambil berbalik dari jendela dan melompat di tempat tidur, membuat Wynter melompat dan terjatuh, terkekeh geli. "Bagaimana denganmu? Kau menyukainya?" Wynter mengoceh padanya dan mengulurkan tangannya dan Harry mengangkatnya. "Ingin melihat kamarmu? Ya?" dia bertanya dan Wynter menatapnya dan memberikan apa yang terlihat seperti sebuah anggukan. "Oke." Harry keluar menuju koridor lebih memilih untuk melihat ruangannya menurut sudut pandangya, Tom mengikuti di belakangnya dengan boneka teddy bear Wynter. "Apa kau juga mendekorasinya?" dia bertanya.

"Ya...apa itu tidak apa-apa?" tanya Tom dengan ragu.

"Ya. Tidak apa-apa. Aku juga mendekorasi yang sebelumnya. Itu menyenangkan, tapi sangat banyak barang-barang! Maksudku berapa banyak warna merah muda disana?"

"47," jawab Tom.

Harry berhenti dan berbalik untuk menatapnya. "Tentu saja kau tahu itu."

"Tentu saja."

Harry memutar matanya dan lanjut menuju ke pintu terakhir. Dia berbalik ke Wynter, "Siap?" dia bertanya, menggoyangkan Wynter di pinggulnya, kemudian membuka pintunya.

Apa yang dia lihat membuatnya menangis. Ruangannya sangat cantik! Dindingnya berwarna krem cerah dan lantainya merupakan kayu yang sama seperti yang lainnya. Tepat berhadapan dengan pintu utama di dinding dengan huruf dari kayu hitam adalah nama Wynter. Di bawah namanya adalah tempat tidur bayi yang sangat cantik yang punya lengkungan yang lembut sehingga tempat tidurnya tidak berbentuk persegi. Di dalam tempat tidur bayinya ada selimut merah muda lembut dan sebuah mainan gantung dengan bintang-bintang dan bulan tersambung ke sisi sehingga mainannya tergantung di atas kepalanya. Di sisi-sisi tempat tidur bayi itu adalah jendela-jendela yang panjang dan di dinding sebelah kanan menghadap ke depan rumah adalah sebuah jendela, masing-masing dengan tirai berwarna krem. Di antara jendela panjang dan jendela yang lain di sudut ada sebuah kursi goyang dengan warna cokelat dengan bantal berwarna merah muda. Sebuah meja rias berada di dekat dinding di samping pintu utama di sisi kanan dan sebuah meja untuk mengganti baju di dinding dekat pintu yang lain, yang mana merupakan sebuah kamar mandi dengan warna merah muda dan putih. Ruangan itu berbentuk seperti L untuk mengakomodasi kamar mandi agar terhubung dengan pintu ke kamar tidur mereka berada sedikit ke sebelah kiri. Di sisi lain dari pintu utama adalah kotak mainan yang tidak diragukan lagi terisi dengan banyak sekali mainan dan semakin masuk ke dalam dia melihat di sebelah kanan jendela ada sebuah rumah boneka dengan detail yang menakjubkan dengan keluarga boneka.

"Oh, Tom...ini sangat luar biasa..."

"Aku senang kau menyukainya," kata Tom, dengan pelan mengeluarkan nafas yang dia tidak tahu bahwa sedang dia tahan. "Aku pikir ketika Wynter sudah dewasa kita bisa meletakkan tempat tidur yang lebih besar untuk mengantikan tempat tidur bayinya dan menggantikan meja pengganti bajunya dengan sebuah lemari pakaian," katanya sambil menunjuk ke barang-barang itu.

Harry mengangguk, tidak dapat berbicara. Dia tidak percaya sejauh mana Tom telah membuat rumah ini. Dia telah mengira bahwa Tom akan membuat sebuah pondok kecil sama seperti yang terakhir kali, tapi di pantai, tidak seperti ini. Dan lagi, Tom tidak melakukan hal kecil. Harry berbalik ke Wynter dan mencium kepalanya, "Ini kamarmu, sayang," dia memberitahukan Wynter di telinganya. "Apa kau menyukainya?"

Wynter hanya melihat ke sekeliling dan menunjuk ke semua hal dan mengoceh. Harry mengangkatnya dari pinggulnya dan dengan lembut meletakkan Wynter di tempat tidur bayinya dan mereka melihat apa yang akan Wynter lakukan. Wynter melihat ke sekelilingnya dengan ingin tahu, melihat semuanya, mengintip dari jerujinya. Dia memegang selimut yang lembut itu, meremasnya berulang kali. Dia kemudian membaringkan dirinya dan menatap ke mainan di atasnya, Tom memutar mainannya, dan Wynter tertawa dan membuat gerakan seperti mengambil pada mainan itu seperti ingin mengambil nya.

"Aku pikir dia menyukainya," kata Harry dengan senyuman.

"Bagus," kata Tom dan mengelilingkan tangannya di pinggang Harry dan menariknya ke dadanya. "Bagaimana denganmu?"

"Aku menyukainya. Aku meyukai setiap hal nya," dia menggelengkan kepalanya dengan kagum pada semua yang dia lihat, "Ini lebih, ini melebihi apa yang aku impikan...kau melakukannya sendiri."

"Mungkin," kata Tom dengan sedikit mengendikkan bahunya, "Aku ingin kau nyaman."

"Oh, kita akan nyaman, kau memastikan tentang itu."

"Kau dapat mengeluarkan atau menambah sesuatu yang kau mau kalau kau ketinggalan sesuatu," kata Tom, "Aku tidak berpikir kalau aku-"

Dia terhenti saat Harry berbalik dan menggenggam kerah baju Tom, menariknya dan menciumnya. Tom berbalik menciumnya, dalam dan lambat, dengan sedikit menggunakan lidah, sebelum Harry menjauh darinya. "Ini sempurna, seperti yang kau tahu," Tom menyeringai pada itu. "Terima kasih."

"Untuk Apa?"

"Untuk.." Harry berhenti dan mengendikkan bahunya. "Semuanya. Untuk ini," katanya sambil menunjuk ke sekeliling, "Untuk Wynter," dia melihat ke Wynter yang sedang melihat mereka dengan jarinya di mulutnya. Harry melihat ke bawah dan dengan lembut mengusapnya baju Tom. "Untuk tidak menjadi monster yang seperti aku pikirkan," dia berhenti dengan lembut.

"Aku seharusnya berterima kasih padamu," kata Tom sambil menatap ke Wynter, "Juga karena telah menunjukkan kepadaku bahwa aku bukanlah monster seperti yang aku pikirkan, aku...setidaknya tidak setiap waktu."

Harry tertawa pada itu dan mengelilingkan tangannya pada Tom dan memeluknya. Tom tegang sedikit seperti yang selalu dia lakukan, tapi kemudian tenang dan memeluk kembali, mengizinkan Harry untuk meletakkan wajahnya di dadanya.

"Kau tidak menjadi emosional padaku kan?"

"Tidak. Diamlah," kata Harry, membiarkan matanya tertutup dan mencari kehangatan di tangan Tom, berharap bahwa apa yang di lakukannya dapat menyampaikan rasa terima kasih yang dia rasakan.

Tom tetap diam diam sebentar sebelum berbicara. "Sampai berapa lama lagi kita melakukan ini?"

"Selama yang aku mau. Sekarang, shus. Kau merusak momennya."

"Kita sedang melakukan momen?"

"Ya."

Wynter terkekeh seperti mengatakan duh daddy dan Tom berbalik untuk melihat Wynter. Dia sedang melihat mereka dan mampu mengangkat dirinya untuk duduk. Tom memberikannya sebuah senyuman dan Wynter melambaikan tangannya pada Tom, tangannya membuat gerakan terbuka tertutup, terbuka, tertutup. Tom hanya tetap diam dan menikmati kedekatan Harry.

Harry menjauh setelah beberapa saat dan melihat ke sekeliling ruangan. "Oke, jadi tempat ini adalah punya kita?"

"Ya." Jawab Tom.

Harry mengangguk dan berbalik untuk mengangkat Wynter dari tempat tidurnya. Harry memberikannya ciuman di pipi dan berkata padanya. "Tebak apa? Kita akan tinggal disini mulai sekarang, oke? Mommy, Daddy dan kau, tinggal bersama. Apa kau menyukai itu?" Wynter mengoceh padanya dan Harry tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Ya?" Wynter mengikuti Harry. "Kau menyukainya? Aku juga berpikir seperti itu. Kau punya ruangan yang baru dan mainan yang baru untuk di mainkan dan sebuah halaman untuk bermain. Kau akan punya banyak kesenangan dan tumbuh besar dan kuat. Ini adalah rumah sekarang," dia mencium dahi Wynter saat Tom mengelilingkan tangannya pada Harry dan menarik mereka berdua mendekat.

Harry menatap ke Tom dan tersenyum. "Kita di rumah."

End Of Chapter

Ya, di dunia Harry Potter punya Tupperware gak hanya di indonesia aja. Saya tidak pandai dalam menjelaskan tentang keadaan rumahnya jadi mohon di maklumin ya. Plissssss...

Dan chap ini terlalu panjang, sorry for the delay.