DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)
PAIRING :
Absolutely KuroPika^
SUMMARY :
Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.
GENRE :
Adventure & Romance
WARNING :
FemKura.
CHAPTER 25 : INTERCESSION
Mereka berdiri berdampingan dalam keheningan yang menenangkan, keduanya menatap makam kecil yang mereka buat untuk menghormati kematian Ishtar. Makam yang sederhana, letaknya tidak jauh dari danau Morgan le Fay ke mana debunya tenggelam, dengan sebuah batu nisan kecil berukirkan nama Ishtar di atasnya.
Ketika hujan deras turun tepat setelah kematian Ishtar, mereka berdua tetap tinggal di kuil , tak mau repot mengganti pakaian mereka yang basah kuyup, dan malah bersama-sama mengunci diri di kamar Ishtar yang beraroma sandalwood. Itu merupakan harapan Kuroro yang tak terucap, dan Kurapika hanya menuruti rengekannya. Gadis itu pun maklum, bahkan saat Kuroro menyandarkan kepalanya lagi di bahu Kurapika dan terlelap ketika mereka duduk di sudut gelap kamar itu dengan punggung bersandar ke dinding yang dingin.
"Apa kau ingin aku beritahu di mana aku membakar jasad Uvogin?" Kurapika tiba-tiba bertanya dengan suara pelan sementara matanya masih tertuju pada gundukan kecil di dekat danau.
"Kau membakar jasadnya?"
Dia mengangguk.
"Terima kasih."
Kuroro tersenyum tipis pada Kurapika, dan raut wajahnya menutupi sebagian besar perasaannya yang saat ini tengah merasa kehilangan. Akan tetapi, Kurapika sudah menguasai seninya bagaimana melihat melalui mata Kuroro yang berwarna gelap dan tak berdasar itu; sekarang dia mampu melihat apa yang ada di balik wajah Kuroro yang sekilas tak menunjukkan emosi apapun. Walau dampaknya terasa mengganggu bagi Kurapika, Kurapika tidak melawan perasaan itu seperti yang biasa ia lakukan. Dia lelah terus-terusan melawan sesuatu yang tak bisa dipungkiri, dan itu sia-sia saja.
Tanpa bicara apapun, Kuroro berbalik dan melangkah pergi. Dalam diam Kurapika mengikuti di belakangnya, ia hanya berhenti sejenak...melirik makam Ishtar yang sederhana untuk terakhir kalinya. Ishtar adalah ibu dari 'musuh'-nya, tapi dia juga bisa merasakan rasa kehilangan yang teramat sangat di dalam hatinya ketika Ishtar meninggal—seolah wanita itu adalah ibunya juga. Kurapika merinding memikirkannya. Apakah itu karena darah yang mengalir dalam tubuhnya juga adalah darah Ishtar; satu-satunya yang ia terima dari Kuroro?
Kurapika memandangi punggung pria itu. Akankah dia pun merasakan kehilangan yang begitu memilukan jika Kuroro mati? Lagipula, mereka berbagi darah yang sama, tambah lagi dia punya sebagian kecil Nen pria itu di dalam tubuhnya.
Kurapika memejamkan matanya, mencoba membayangkan hari di saat Kuroro mati—dan hasilnya mengerikan. Jantung gadis itu tiba-tiba berhenti berdetak ketika bayangan dirinya berdiri sendirian dalam kegelapan berkelebat di benaknya. Dengan cepat dan sambil ia merasa takut, Kurapika membuka matanya...hanya untuk menatap punggung Kuroro yang menyendiri lagi. Sensasinya mengerikan. Sendirian tanpa Kuroro...
Rasanya menakutkan...Kurapika mengakui. Lalu suatu kenyataan yang lebih menakutkan lagi menghantam benaknya, dan rasanya seperti menaburkan garam di atas luka yang terbuka. Aku tak akan pernah bisa membunuhnya, 'kan? Pikirnya pahit, dan itu memang benar jika dilihat dari kemampuan, kekuatan dan keterikatan di antara mereka. Ikatannya dengan pria itu berlangsung terlalu dalam karena belenggu terkutuk dari Hassamunnin, tapi mereka akan membuat ikatan itu kembali menjadi ikatan yang buruk sesegera mungkin. Kurapika berusaha tersenyum puas di dalam hatinya memikirkan hal itu, tapi dia tak bisa melakukannya.
Langkah Kuroro tiba-tiba melambat, untungnya tidak menyadari pergulatan batin yang dialami Kurapika hanya beberapa langkah di belakangnya, ketika dia melihat Scheherazade menunggu mereka di gerbang kuil. Kuroro memicingkan matanya, dan terus melangkah menuju ke gerbang.
Segera setelah Kuroro berada cukup dekat, Scheherazade menegakkan tubuhnya dan menghalangi jalan pria itu. Dia melemparkan senyumnya yang biasa, mengangkat sebelah tangannya dan mengarahkan kepalan tangannya yang tertutup pada Kuroro.
"Ini, untukmu," wanita itu berkata dengan suara yang parau sambil membuka kepalan tangannya, memperlihatkan sebutir telur berukuran kecil di telapak tangannya. "Hadiahmu dari Ishtar."
Kurapika tersentak mendengar nama itu, tapi Kuroro hanya diam dan perlahan mengambil telur itu dengan jemarinya dari tangan Scheherazade. Dia memeriksanya sekilas, sebelum mengangkat wajahnya dan menatap wanita itu dengan tatapan menuduh.
"Ini telur yang kami kembalikan padanya," desis Kuroro.
"Dan Ishtar memberikannya kembali padamu," ucap Scheherazade dengan santai.
Baru saja Kuroro akan membuka mulutnya untuk protes, telur itu sedikit retak. Kuroro dan Kurapika menatapnya ingin tahu. Sebelumnya, tak peduli seberapa kasar dan kerasnya telur itu diperlakukan, telur tersebut tidak retak. Ketika akhirnya telur itu pecah seluruhnya, isinya pun terlihat–sebuah cincin.
Dengan hati-hati Kuroro mengambil cincin tersebut dan memeriksanya. Cincin itu terbuat dari kuningan dan besi, dengan ukiran kata-kata yang tak ia mengerti, empat buah permata dan simbol Bintang Daud yang sangat menonjol berwarna keemasan. Mata Kuroro membelalak walau hanya sekilas ketika suatu kenyataan merasuki benaknya.
"Cincin Solomon," bisiknya tak percaya.
"Satu-satunya yang pernah ada," wanita itu menganggukkan kepalanya. "Cincin legenda yang berisi 72 iblis. Cincin ini akan menjadi pertahananmu yang kuat, pertahanan terakhir melawan Deifri. Namun, masalahnya adalah kau belum menguasai kekuatan cincin itu."
"Menguasainya?" Kurapika memekik tertahan. Dia tak mengira dirinya akan pernah melihat Cincin Solomon yang sebenarnya.
"Jika kau bisa menguasainya, kau akan memiliki 72 iblis dalam perintahmu, siap mengabulkan apapun permintaanmu." Scheherazade tersenyum padanya, lebih seperti setan yang sedang menggodanya daripada memberikan penjelasan.
Kuroro tak mengatakan apapun untuk sesaat, hanya menatap cincin itu hingga akhirnya dia mengangkat kepalanya perlahan dan menatap tajam kepada wanita itu.
"Apa lagi yang perlu kaukatakan tentang cincin ini?" Tanya Kuroro waspada.
Scheherazade tersenyum padanya–seperti kata Ishtar, anak itu punya pandangan dan pikiran yang cukup tajam.
"Cincin itu sudah kehilangan pemiliknya yang sebelumnya–yaitu Ishtar–dan oleh karena itu cincin tersebut mengenalimu sebagai pemilik yang berikutnya."
"Aku tak menyangka akan semudah dan secepat itu Cincin Solomon mengenali pemilik barunya," Kuroro memicingkan matanya curiga, merasa wanita itu tidak mengatakan semua informasi yang dia ketahui.
Kali ini Scheherazade menyeringai nakal.
"Oho...Anak yang pintar," dia mengangguk menyatakan persetujuannya pada Kuroro. "Benar. Telur yang kau bawa dalam perjalananmu menganalisa dan menyerap kekuatanmu, memperhitungkan data tentang kepribadianmu, cita-citamu, caramu berpikir, dan hal-hal lain sepanjang waktu itu. Kekuatan dan data itu lalu diproses oleh cincin tersebut untuk memutuskan apakah kau layak menjadi pemiliknya atau tidak. Aku yakin kau tahu selanjutnya bagaimana."
Scheherazade menjawab pertanyaan pria muda itu datar, dengan suaranya yang lembut, parau; menggambarkan kepribadiannya yang santai namun dingin. Mata Kurapika membelalak begitu menangkap suatu kebenaran yang sedikit mengganggunya : Ishtar mungkin membiarkan dirinya sendiri dibunuh oleh mereka berdua agar dia bisa mewariskan Cincin Solomon kepada Kuroro sebagai perlindungan untuknya. Kurapika melirik Kuroro, yang menanggapi semuanya dengan sangat tenang. Tak ada ekspresi nampak di wajahnya; hanya ekspresi kosong, yang tak terbaca. Rasanya seperti melihat wajah Kuroro Lucifer yang lama–orang yang kejam, Pemimpin Genei Ryodan yang tak punya hati.
"Aku mengerti," akhirnya pria itu berkata, nada suaranya terkendali dengan sempurna.
"Tunggu sebentar," Kurapika tiba-tiba menyela. Dia menatap Scheherazade dengan tajam. "Suzaku bilang seorang anak akan terlahir dari telur itu, bukannya cincin."
Kuroro menaikkan sebelah alis matanya. Ya, dia hampir lupa dengan hal itu. Dia balik menatap Scheherazade penuh tanya. Wanita tersebut heran dan melipat kedua tangannya di depan dadanya yang berukuran cukup besar. Lalu dia mengernyit. Hingga akhirnya menyerah dan melemparkan senyum jahilnya.
"Dia menipumu," katanya sambil tertawa pelan. "Tidak, karena sejak awal tak ada anak atau apapun yang akan terlahir dari situ."
"APA?!" Kurapika memekik dengan suara yang mirip dengan suara decit tikus.
Oh, betapa inginnya Kurapika berteleportasi ke tempat mana pun Suzaku berada sekarang dan memukulinya tanpa ampun. Bisa-bisanya dia berbohong seperti itu! Suzaku dan sepupunya Si Phoenix–keduanya pembohong yang berbahaya! Kurapika sudah bergolak marah dan mengepalkan kedua tangannya geram, tapi Kuroro terlihat tenang seperti biasanya.
"Dan?" Tanya Kuroro tenang.
"Aku akan menjadi pemandu kalian ke sarang Deifri. Beritahu aku kapanpun kalian siap berangkat."
Lalu Scheherazade berbalik dan meninggalkan mereka sendiri.
Malam begitu hening dan dingin. Anginnya dingin dan menyejukkan, tapi memang itulah tepatnya yang Kuroro butuhkan. Jendela di kamarnya terbuka untuk membiarkan udara segar masuk, sementara Kuroro berdiri di samping jendela itu, merengkuh segala rasa dingin yang bisa diberikan angin padanya. Dia juga sudah mandi dengan air dingin, tapi hanya sedikit membantu meringankan renungannya yang mendalam di dalam lubuk hati pria itu. Dia tak pernah merasa begitu emosional namun juga tak menunjukkan ekspresi apapun di saat yang sama sebelumnya.
Diam-diam Kurapika mengamati Kuroro dari tempatnya duduk di atas tempat tidur yang mereka gunakan bersama. Memalukan juga memang, mereka harus berbagi tempat tidur karena tak ada tempat tidur yang lain. Meski keduanya tidur dengan posisi saling membelakangi. Tiba-tiba saja, masalah tentang hilangnya ransel Kurapika menjadi masalah yang sepele (dia menatap Phinks dengan tatapan kosong, tatapan tak peduli ketika dengan gemetar Phinks mengatakan sesuatu tentang masalah itu). Matanya terus tertuju ke punggung Kuroro.
Semakin Kuroro merasa gelisah, Kurapika pun begitu. Si Gadis Kuruta menertawakan kenyataan yang ironis ini. Kenapa dia bisa terpengaruh dengan apa yang Kuroro rasakan? Pria itu menyegel takdirnya dengan lihai : Kurapika tak akan pernah bisa membunuhnya demi alasan apapun, tidak akan pernah bisa sepanjang hidupnya. Dia mengingat kembali ketika merasa ketakutan saat mendapati dirinya sendiri tanpa pria itu. Membayangkan kenangan itu lagi saja sudah membuat Kurapika takut hingga seolah darahnya pun menjadi dingin.
Kenapa semua ini terjadi padaku? Apa yang salah denganku? Kurapika meratap sedih di dalam hatinya, sambil menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya yang ditekuk hingga ke dada. Dia merasa begitu tak berdaya.
Apakah ini karena Nen-nya yang berada dalam tubuhku? Bisakah aku... Dia menjadi enggan... Mengeluarkannya dari tubuhku?
Tidak, sebenarnya pertanyaan yang sebenarnya adalah : apa aku punya keinginan untuk mengeluarkannya?
"Kurapika."
Suaranya yang lembut menarik Kurapika dari pikirannya yang bergemuruh. Dengan cepat dia mendongakkan kepalanya. Mata biru samudera bertemu dengan mata hitam pekat. Kuroro lelah, Kurapika tahu itu, maka tanpa berkata apapun dia bergeser memberi tempat untuknya di tempat tidur itu. Tanpa bicara, Kuroro berbaring telentang namun kali ini dia tak memunggungi Kurapika. Malah, dia berbaring menghadap gadis itu. Ada pertanyaan yang mengganggunya sejak kematian Ishtar.
Apakah memang benar-benar sepadan menyebabkan Ishtar mati untuk menghancurkan belenggu itu?
Sejujurnya, jika Kuroro harus mempertimbangkan segala baik dan buruknya, dia benar-benar tak keberatan untuk tetap bersama Kurapika. Gadis itu baik padanya akhir-akhir ini, terutama sejak kejadian 'Air Mata Merah'. Apakah merupakan pertukaran yang adil, kehilangan satu-satunya 'ibu' yang dia punya agar dia bisa terlepas dari Kurapika? Pikiran itu tak pernah terlintas di benak Kuroro sebelum berhadapan dengan Ishtar dan juga kematiannya.
Apakah memang benar-benar sepadan? Batinnya berkecamuk.
Mulanya Kurapika mengabaikan tatapan Kuroro yang terus-menerus tertuju padanya dan gadis itu kembali memikirkan sesuatu yang mengganggu dirinya, tapi kemudian dia tak tahan lagi.
"Apa?!" Bentaknya kasar.
Kuroro sama sekali tak terpengaruh. "Bicaralah padaku," ucap pria itu singkat.
"Hah?" Kurapika berkedip.
"Alihkan aku," dia mengulangi kalimatnya dengan kata-kata yang lebih jelas kali ini.
Sorot mata Kurapika pun menjadi lebih lembut dan dia memalingkan wajahnya. Yah, setidaknya Kuroro cukup manusiawi hingga ingin dialihkan dari segala emosi yang tengah dirasakannya, dan Kurapika akan memakluminya untuk alasan itu. Dia menelan ludah perlahan dan berusaha memikirkan apa yang akan ia katakan padanya. Kurapika memainkan jemari kakinya sementara Kuroro terus mengarahkan tatapannya pada gadis itu.
"Aku ingin tahu bagaimana kau tetap menjaga komunikasi dengan semua kenalan lamamu itu," akhirnya Kurapika menyelesaikan usaha berpikirnya dengan pertanyaan yang mudah.
"Siapa? Lucian? Dia datang dan pergi seperti bayangan, aku tak perlu terus mengetahui di mana keberadaannya. Bahkan biasanya dia akan datang sebelum aku merindukannya. Abelard Constantin? Kami saling bertukar nomor telepon, semudah itu," jawab Kuroro datar. Dia berhenti sejenak, dan menambahkan :
"Dan satu hal lagi. Dia adalah salah seorang pelanggan tetap yang membeli Mata Merah dariku."
Ketika Kuroro mengatakannya, suaranya pelan dan seperti hembusan angin yang lewat, seolah dia begitu ragu mengatakannya tapi juga merasa wajib memberitahu Kurapika. Gadis itu membeku sesaat ketika dia mendengar pemberitahuan itu.
"Tapi Shalnark yang bertransaksi dengannya. Dia tak pernah tahu bahwa akulah yang ada di balik pembantaian itu."
Kurapika menoleh menatapnya dengan ekspresi yang tak terbaca, dan perlahan namun pasti dia berbaring di samping Kuroro, menghadap pria itu. Kuroro terdengar seperti mengakui perbuatan dosa yang ia lakukan terhadap Si Gadis Kuruta. Mereka saling menatap dalam waktu yang tak berkesudahan, sebelum dengan lembut Kurapika bertanya,
"Beritahu aku bagaimana kau bisa punya ide tentang Genei Ryodan berkaki dua belas."
Mata Kuroro sedikit terbelalak–dia tak pernah mengira Kurapika, tertarik pada sejarah Genei Ryodan–namun dengan cepat pria itu mengendalikan dirinya. Dengan patuh, dia menjawab keingintahuan Kurapika.
Kuroro yang saat itu berusia sepuluh tahun berkelana di hutan yang terletak di belakang kuil, yang ia sebut 'rumah.' Dia babak belur, hasil dari latihan kejam lainnya yang ia lakukan bersama Ishtar. Kuroro mendengus kesal memikirkan dirinya dipukuli seorang wanita yang terlihat rapuh. Namun, entah kenapa dia tahu Ishtar bukanlah manusia, meskipun wanita itu menolak mengungkapkan jati diri yang sebenarnya.
Kuroro begitu teralihkan, hingga gagal memperhatikan ada binatang yang mengintai di sekitar sana. Walaupun berada di bawah kekuasaan Ishtar, hutan tersebut masih menjadi hutan yang terus berkembang bagi binatang buas. Sebenarnya, berkat perlindungan Ishtar-lah makhluk-makhluk itu bisa terus bertambah jumlahnya.
Anak itu hanya memperhatikan suara gemerisik dari semak-semak ketika pada detik berikutnya dia mendapati dirinya dijatuhkan dan dikunci di tanah. Tangan berbulu dan bertulang mencengkeram lehernya seperti mencengkeram ranting saja. Matanya mengartikan dengan sempurna semua yang dilihatnya; serigala raksasa yang berdiri di atas kedua kaki belakangnya–werewolf.
Mata merah berkilat werewolf itu membelalak lapar padanya, ingin melahap bocah itu. Sebagai seorang bocah yang tak berpengalaman, Kuroro hanya bisa meringkuk ketakutan. Dia belum pernah dihadapkan dengan banyak hal berbahaya selama hidupnya. Binatang itu mengangkat cakarnya yang lain dan menurunkannya dengan kekuatan yang bisa menghancurkan kepala Kuroro seperti labu, tapi itu tak pernah terjadi.
Malah, yang dilihatnya werewolf itu ditendang di bagian samping tubuhnya hingga terlempar melewati sebuah pohon. Kuroro terbatuk-batuk sambil mengusap lehernya yang memar, meringis kesakitan. Saat mendongak, bocah itu memperhatikan punggung orang asing yang baru saja tiba beberapa hari yang lalu dan menghampiri Ishtar tanpa rasa malu, dengan begitu santai seperti layaknya seorang teman lama.
Pria itu menoleh untuk memeriksa Kuroro.
"Tak ada tulang yang retak, Nak? Sungguh mengejutkan," kata orang asing itu sambil menyeringai, matanya yang gelap berkilat senang.
Kuroro hanya mendesis geram padanya. Sang werewolf melolong marah dan menyerang orang asing itu seperti banteng yang mengamuk. Si orang asing dengan rambut yang agak panjang berwarna platina keemasan dan kulit berwarna ochre gelap itu menoleh pada werewolf yang mengincarnya dan menghela napas jengkel.
"Werewolf memang sangat mengesalkan. Ingatlah itu, Nak."
Tanpa peringatan apapun sebelumnya, si pria asing menumbuhkan tungkainya yang lain–sepuluh kaki laba-laba, tepatnya–dari bagian samping tubuhnya. Kuroro muda hanya terperangah dan takjub melihatnya. Dia belum pernah melihat sesuatu yang begitu, begitu...aneh? Tidak, menyebutnya aneh sepertinya terkesan meremehkan.
"Perak adalah senjata terbaik untuk melawan mereka. Tapi karena aku tidak punya amunisi perak, menggunakan racunku saja sudah cukup."
Ketika werewolf itu sudah cukup dekat, dia menarik tangan binatang itu dengan tangan manusia-nya lalu dengan cepat menancapkan kesepuluh tungkai laba-laba di bagian samping tubuhnya ke daging werewolf. Binatang itu melolong kesakitan namun racun yang masuk ke dalam tubuhnya bereaksi dengan cepat. Terlihat werewolf itu menjadi lemah tapi dia tak akan kalah tanpa melakukan pembalasan terakhir.
Werewolf menarik salah satu lengannya yang berotot dari cengkeraman si pria asing, memegangi kepalanya dan merobek kepala itu hingga terpisah mulai dari bahunya.
Kurapika meringis dan merasa ngeri mendengar cerita Kuroro. Dihadapkan pada kekerasan semacam itu sejak masih sangat muda, tak heran hatinya menjadi tidak peka terhadap orang lain. Kuroro hanya tersenyum muram melihat ekspresi wajah Kurapika dan melanjutkan kisahnya.
Kuroro yang berusia sepuluh tahun terpekik kaget saat kepala pria itu mendarat di pangkuannya sementara darah membanjiri hampir seluruh tubuh bocah itu. Mata gelap pria itu menatapnya dengan raut wajah terkejut. Werewolf meraung sambil menyingkirkan tubuh tak berkepala si pria asing, bulunya bergidik marah dan kesakitan. Kuroro Kecil berusaha pergi menjauhi bahaya, tapi dia terlalu takut untuk bergerak.
"Tenang, Nak. Kau tak akan mati atau wanita itu akan membunuhku," kepala di pangkuan Kuroro tiba-tiba berbicara tanpa menghilangkan nada suaranya yang santai.
Si Kecil Kuroro pun kembali memekik pada kepala yang bisa bicara itu. Dia hampir menyingkirkan kepala itu dengan kasar seolah sebagian logikanya tidak meyakinkan dirinya untuk tetap diam.
"Sekarang lihatlah saat aku membunuh bajingan itu," kata kepala itu sambil menyeringai lebar.
Kuroro mendongak dan melihat tubuh pria asing yang tak berkepala beranjak dari tanah dan secara perlahan namun pasti mendekati werewolf itu. Kesepuluh tungkai laba-laba lalu menusuk daging binatang itu dan memasukkan racun dalam dosis yang mematikan ke dalam sistem tubuhnya. Dia pun roboh bahkan tanpa sempat lagi bergerak sedikit pun.
Bocah itu menyaksikan semuanya dengan mulut menganga. Kepala yang ada di pangkuannya terkekeh puas melihat ekspresi yang tak ternilai di wajah bocah yang biasanya tak menunjukkan ekspresi apapun itu dan baru ia kenal selama beberapa hari belakangan ini. Tubuhnya yang tak berkepala melangkah menghampiri si bocah dan mengambil kepalanya. Dengan mudah, seperti memasangkan kepala boneka saja, dia memasangkan kepala itu kembali ke tempat yang seharusnya. Dia mendongak setelah memeriksa otot-otot lehernya dan melihat Ishtar berdiri tak jauh dari sana, tatapan membunuh terlihat di wajahnya yang cantik mempesona. Kedua tangannya diletakkan di pinggul.
"Aku akan sangat menghargai jika kau tidak mengajarinya kata-kata yang tidak senonoh," katanya dengan tatapannya yang tajam, "Anansi."
"Aku tak pernah mendengarmu meneriakkan kata-kata yang tidak senonoh," Kurapika menuduh.
"Kenapa aku harus melakukan itu? Itu bukan gayaku," Kuroro mengangkat bahunya dengan posisi masih terbaring.
Dasar pria sopan yang tak bisa diberitahu, Kurapika mendengus dengan setengah hati sambil memutar kedua bola matanya.
"Itulah kenapa aku bisa punya ide tentang laba-laba berkaki dua belas, yang tak lain adalah Anansi sendiri."
"Dan itukah awalnya dia menyatakan diri sebagai 'ayahmu' dan memanggilmu 'anaknya'?" Kurapika bertanya dengan seringai lebar terlihat di wajahnya.
Kuroro merengut–atau lebih tepatnya, memanyunkan bibirnya–kepada gadis itu. Dia tidak suka diperlakukan seperti anak kecil, dan, demi Tuhan, terutama oleh Kurapika karena walau bagaimanapun dia sembilan tahun lebih tua daripada gadis itu. Kuroro baru saja membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu tapi suara benturan keras jendela yang dibuka secara paksa membuatnya berhenti.
"Hei, Teman-teman, aku–" Lucian membeku di tempatnya di kusen jendela saat melihat pasangan yang–seperti bagaimana Lucian menyebut posisi seperti itu–sedang berpelukan di tempat tidur. Sambil menyeringai nakal, perlahan dia berbalik dan tertawa cekikikan. "Scuze ('maaf' dalam bahasa Rumania), sepertinya aku mengganggu–AAAAAHHH!"
Vampir itu jatuh terduduk di lantai yang keras dan lehernya dililit rantai Kurapika, dipaksa masuk kembali ke kamar. Ketika dia berbalik setelah menepuk debu di pantatnya, dia melihat mata Kurapika bercahaya merah dalam kegelapan. Mereka berdua sudah dalam posisi duduk di atas tempat tidur. Wajah Kurapika terlihat memerah tapi Kuroro terlihat nyaman dan tidak terpengaruh sama sekali. Kalau tidak, Lucian bisa merasakan kekesalan pria itu atas 'gangguan' darinya.
"A-Apa yang membuatmu datang kemari?" Kurapika bertanya, namun suaranya terdengar mencicit, masih malu seperti seorang gadis remaja yang tertangkap basah sedang mengagumi foto orang yang disukainya.
"Hm? Oh, yah...Aku..." Lucian gelisah, memainkan jemarinya, tiba-tiba merasa tidak yakin pada tujuannya menerobos masuk 'saat pribadi' mereka berdua.
"Lucian," Kuroro mendesak dengan suaranya yang sedingin es.
Jika Lucian belum lama mengenal Kuroro, mungkin vampir itu sudah memekik terkejut mendengar suaranya. Jelas sekali mood Kuroro turun drastis karena tingkahnya yang serampangan.
"Yah...Aku hanya ingin memberitahukan bahwa aku tak akan ikut dalam perjalanan kalian nanti yang lebih berbahaya...," akhirnya dia berkata sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Hmm...kau masih tetap Si Pengecut Lucian yang kukenal sejak lama," ucap Kuroro sambil menyeringai.
Wajah Lucian mengernyit mendengar Kuroro menggodanya dengan sengaja, menghubungkannya dengan harga diri vampir itu. Namun dia meringis saat teringat apa yang akan dihadapi Kuroro dan Kurapika.
"Ei bine, îmi pare rău! ('Yah, maaf saja!' dalam bahasa Rumania) Sebut saja aku orang yang bijaksana!" Dia mendengus kesal dan melipat kedua lengannya di depan dada. "Tapi aku masih mencintai kehidupan yang aku punya saat ini jadi aku tak mau menyia-nyiakannya begitu dini dengan menghadapi Ifrit yang liar–Oh!" Sesuatu terlintas di benaknya. "Ngomong-ngomong..."
Lucian menoleh pada Kurapika, yang raut wajahnya sudah kembali netral, melemparkan jauh-jauh raut wajahnya yang tersipu hingga ke luar jendela.
"Aku baru ingat," sebuah suara yang pelan perlahan terdengar dari wajah Lucian yang bagai porselen, "Aku bisa menawarimu keabadian, kau tahu...fata."
Kurapika berkedip.
"Maaf?" Gadis itu bertanya sambil mengernyit.
"Dengan begitu, kau bisa menikmati waktumu dengan leluasa untuk mengumpulkan semua Mata Merah itu demi memenuhi hasratmu. Tentu saja aku bersedia membantumu keluar dari tempat ini bersama lelaki yang arogan itu," katanya sambil menunjuk Kuroro.
Kuroro mendengus mendengar penawarannya yang bodoh dan menoleh untuk berbicara pada Kurapika, "Aku memegang teguh janjiku, tapi jika kau ingin aku mundur, aku tak berkeberatan sama sekali. Hanya saja, apa kau siap membuang kemanusiaanmu untuk mencapai keabadian? Secara pribadi, bagiku itu harga yang terlalu besar."
"Kau hanya terlalu pelit saja," Lucian memanyunkan bibirnya.
Kurapika terdiam sejenak sebelum akhirnya dia menjawab dengan lembut dan percaya diri,
"Terima kasih untuk tawarannya, tapi tidak. Aku punya martabat dan harga diriku sendiri. Lahir sebagai manusia, mati sebagai manusia; itu keyakinanku."
Lucian bersiul kagum.
"Betapa anehnya. Itulah tepatnya yang dikatakan lelaki ini beberapa tahun yang lalu saat aku menawarkan hal yang sama padanya."
Phoenix menghentakkan salah satu kakinya dengan tak sabar sambil berdiri terpaksa di depan batu nisan Ishtar. Wajahnya merengut menunjukkan kemarahan dan kekecewaan. Air danau beriak gelisah, menanggapi emosi Phoenix.
"Kau," dia menunjuk batu nisan Ishtar dengan cara menuduh. "...benar-benar bodoh, kau tahu itu hah?!"
Phoenix, tenanglah...Air danau itu berkata, mencoba meredakan kemarahan Phoenix yang bergejolak.
"Bagaimana bisa?" Bentaknya, "Aku akan dikutuk jika aku tenang ketika, wanita yang–yang bodoh ini baru saja membuang kesempatannya untuk mengembalikan kejayaan dan keabadiannya seperti semula, dengan menggantikan isi telur dengan Cincin Solomon jahanam itu!"
Di balik kemarahannya yang meluap-luap, ada semburat kesedihan dalam perkataannya yang kasar itu. Phoenix menggigit bibir bawahnya dan memalingkan wajah, kakinya masih menghentak-hentak tanpa ada maksud tertentu.
Ini keputusannya, dan seharusnya kau sudah mengenalnya dengan baik, air itu bicara dengan nada suara yang mencela, bahwa dia sudah merasa cukup menjalani kehidupan saat ini.
"Sialan! Dia melakukan semua ini karena untuk melindungi anak manja itu bahkan anak itu bukan darah dagingnya!"
Anak itu adalah darahnya, itu benar, Phoenix. Ishtar memberikan darahnya pada anak itu, Morgan le Fay berujar dengan sinis saat air mulai memperlihatkan wujud manusianya. Dia mengernyit pada Lady Merah yang mudah emosi itu.
"Telur itu...menyerap perasaan apapun yang dimiliki anak itu terhadapnya...," Phoenix berkata dengan suara gemetar. "Dan yang mengagetkan, seharusnya telur tersebut memiliki energi yang cukup untuk menghidupkannya kembali saat ini, jika kugunakan Api-ku pada telur itu. Tapi tidak...Sialan..."
Diketahui bahwa jika seseorang yang mandi dalam Api Phoenix mampu menentang kematian untuk satu kali, atau seperti itulah kira-kira ceritanya. Phoenix berencana memandikan telur itu di dalam apinya, dan berharap hal itu akan memberi Ishtar kesempatan hidup untuk yang kedua kalinya, tapi gagal.
"Dia memilih untuk melindungi anak lelakinya," suara seorang pria terdengar dari belakang Phoenix.
Phoenix pun berbalik dan berhadapan dengan Anansi. Aura suram terlihat di sekeliling pria itu, wajahnya yang murung terlihat lebih tertekan dari biasanya. Untuk sekali ini, Ging tidak bersamanya. Phoenix memelototinya dengan penuh amarah, tapi tak berkata apa-apa. Dia hanya mengamati Anansi dalam diam sambil berlutut di hadapan makam kecil itu dan meletakkan sebotol dupa sandalwood di atas gundukan kecil tanah makam tersebut. Sandalwood selalu menjadi wewangian favorit Ishtar.
"Sekarang dia tak bisa kembali lagi, apa yang akan kaulakukan? Mengembalikan kejayaanmu lagi sebagai Dewa?" Tanya Phoenix pelan.
Hanya beberapa orang–atau makhluk ciptaan lainnya pada masa mereka–yang tahu tentang sejarah Ishtar dan Anansi. Sebelumnya mereka adalah Dewa dan Dewi yang tinggal di alam di atas alam manusia. Namun, hanya sedikit orang yang tahu alasan kejatuhan mereka sebenarnya hanya karena Ishtar dan Anansi saling jatuh hati satu sama lain–itu adalah tindak kejahatan paling berat di alam mereka.
"Itu peraturan yang aneh dan menjijikkan," cemooh Phoenix dengan menghina, saat pertama kali ia mengetahui hal itu, dan Ishtar hanya tertawa melihat reaksinya.
"Aku tidak tahu. Aku tak punya alasan lagi untuk kembali ke sana," Anansi mengangkat bahunya tak peduli. "Tidak setelah aku tahu Ishtar tak akan ada di sana."
Apakah kau akan terus menjaga anak itu? Morgan le Fay bertanya dengan suaranya yang terdengar seperti hantu. Anansi memberinya seulas senyum penuh arti.
"Tanpa diminta pun aku akan melakukannya."
"Terlahir sebagai manusia, mati pun sebagai manusia, hah?" Kuroro bicara asal dengan sedikit merasa geli ketika mengingat percakapan kecil mereka bersama Lucian sebelum akhirnya mereka meninggalkan Ryuusei-gai.
Sekarang, mereka sedang melintasi hutan lainnya ke sarang Deifri, Jin Ifrit yang liar, bersama Scheherazade sebagai pemandu mereka. Wanita yang penuh teka-teki itu jarang bicara dan bahkan ketika dia bicara pun, kata-katanya langsung dan sedikit tidak ramah daripada melagukannya seperti biasa, seolah dia tak mau berhubungan dengan Kuroro dan Kurapika lebih dari hubungan yang sudah mereka punya saat ini. Meskipun bagi Kuroro dan Kurapika itu bukan masalah.
"Apa? Masalah untukmu?!" Kurapika bertanya dengan membentak. Mood-nya langsung anjlok ke tingkat yang paling buruk saat dia tahu ranselnya hilang untuk selamanya. Kurapika harus berupaya keras, dan juga Kuroro, untuk mencegah gadis itu menganiaya si pria tak beralis mata menjadi bongkahan daging. "Dan tidak berarti kau tak sependapat tentang hal itu! Lagipula–"
"Sekarang kita bukan sepenuhnya manusia, kau tahu itu," Kuroro melanjutkan ucapannya, mengabaikan kata-kata yang meluncur dari mulut Kurapika.
Ucapan Kuroro sangat mengena bagi Kurapika dan membuatnya tercengang, tapi ketika menyadari kebenaran kata-katanya, dengan bijak gadis itu diam untuk menyelamatkan mukanya dari rasa malu. Sia-sia saja mendebatkan hal itu–lagipula itu topik lama.
"Tapi kalian masih bisa menganggap diri kalian manusia," Scheherazade tiba-tiba menyela dengan nada suara tak peduli seperti biasanya. Di balik sikapnya yang santai, biasanya wanita itu memendam segala sesuatunya sendiri–bahkan dia punya sikap kusimpan-semua-saranku-untuk-diriku-sendiri yang lebih buruk dari Kuroro. Tentu saja saat ini Kuroro lebih terbuka pada Kurapika, kalau tidak dibilang lebih merasa nyaman di dekat Si Gadis Kuruta daripada sebelumnya.
Baik Kuroro maupun Kurapika sama-sama menatap Scheherazade dengan ekspresi tak percaya terlihat di wajah mereka. Selain dirinya sebagai kenalan Ishtar, dia masih merupakan sosok yang kurang jujur. Walau bagaimanapun juga, Scheherazade adalah tipe orang yang terhadapnya kau akan merasa bahwa dia tidak bisa sepenuhnya dipercaya. Wanita itu tersenyum sinis pada keduanya dan mendengus pelan.
"Apa kalian tidak pernah memperhatikan cincin yang Ishtar berikan pada awal mula? Cincin itu bukan untuk hiasan, tahu, jika anak muda ini," dia mengisyaratkan ke arah Kuroro dengan gerakan kepalanya yang cantik, "Tidak dianggap sebagai manusia, cincin itu seharusnya terus bercahaya. Lagipula dia menerima darah Ishtar saat dirinya masih kanak-kanak."
Itu masuk akal, pikir Kurapika sambil menatap cincinnya yang bercahaya–tanda bahwa di sana setidaknya ada satu makhluk gaib di sekitar mereka.
"Kalau begitu kau ini apa?" Dia bertanya.
Scheherazade menyeimbangkan tubuhnya dengan satu kaki dan melipat kedua tangannya di dada. "Wujudku mungkin memang manusia, tapi aku bukanlah manusia. Aku makhluk yang akan terus hidup selama masih ada kisah untuk diceritakan. Aku pencerita dan penenun kisah di dunia ini, sebut saja begitu."
"Jadi kau akan terus ada selama umat manusia masih ada," Kuroro menyimpulkan.
Dia memberi Kuroro seulas senyum penuh arti.
"Tepat sekali."
Ketika malam tiba, mereka berhenti untuk berkemah dan mengistirahatkan kaki mereka yang lelah setelah berjalan tanpa henti sepanjang hari. Enaknya, tempat yang mereka pilih dekat dengan aliran air sehingga mudah bagi mereka untuk bersih-bersih atau melakukan kegiatan lainnya yang membutuhkan air. Senja tiba dan hingga saat itu semua berjalan dengan baik. Mereka sudah makan malam dan tengah menempatkan diri untuk menghabiskan malam di sana. Meskipun hingga tengah malam Kurapika tak bisa tidur dengan tenang.
Dia terus bergerak-gerak, tak bisa tidur sekejap pun.
Sesuatu mengganggumu, kalimat itu lebih terdengar seperti pertanyaan daripada pernyataan, yang datang dari Una.
Kurapika menjulurkan lehernya dan melihat Unicorn itu menatapnya penasaran dengan matanya yang besar. Gadis itu duduk dan mencondongkan badannya ke arah Una untuk menepuk pipinya pelan. Lalu Una memperhatikan bekas luka yang masih terbilang baru di kedua telapak tangan gadis itu.
Kau punya bekas luka.
"Mmhmm," Kurapika mengangguk tanpa sadar.
Kau bisa saja menyembuhkannya. Kenapa kau tidak melakukannya?
"Aku tidak ingin menyembuhkannya. Biarlah bekas luka ini menjadi pengingat betapa lemah diriku sebenarnya," Kurapika menjawab sambil mengangkat bahunya tak peduli, seolah hal itu memang benar-benar bukan masalah besar baginya.
Una memberinya tatapan yang mengatakan 'Aku tahu apa yang kau bicarakan. Maukah kau menjelaskannya lebih lanjut?' Maka Kurapika memberitahunya secara ringkas apa yang terjadi saat peristiwa 'Air Mata Merah' waktu itu. Tentu saja dia menjelaskan hubungan aslinya dengan Kuroro yang sangat buruk dan berasal dari pembantaian sukunya atas perintah pria itu.
"Sebesar keinginanku untuk menyangkalnya," Kurapika menyimpulkan di akhir cerita, "Dia masih berada di tingkatan yang lebih atas dariku. Sedihnya begitu. Berusaha membunuhnya mungkin sama sia-sianya seperti menangkap angin dengan tangan kosong."
Tidak biasanya kau pesimis, komentar Una dengan lembut.
Kurapika tersenyum tipis padanya. "Sebut saja ini realistis. Aku sudah mengambil hikmahnya, dan cukup ya cukup," katanya sambil mengangkat tangannya menghadap langit malam yang gelap dan menatap bekas luka tusukan di kedua telapak tangannya; pengingat kelemahan dirinya.
"Mungkin sebaiknya aku memanfaatkan waktu dan usahaku untuk sesuatu yang lebih menghasilkan dan sehat," Kurapika menambahkan sebagai sebuah renungan.
Seulas senyum tulus menghiasi wajah Una. Dan apakah itu?
"Aku tidak tahu," Kurapika terkekeh pelan. "Kurasa ini salah satu dari kondisi kita-lihat-saja-ketika-waktunya-tiba-nanti."
Kurapika mendapati dirinya menghela napas puas. Sungguh mengagetkan, rasanya melegakan; akhirnya dia mampu menyimpulkan renungan dan pemikirannya yang panjang secara lisan. Seolah akhirnya dia menerima kenyataan bahwa dirinya harus datang ke masa lalunya dan mulai melanjutkan hidupnya.
"Terima kasih, Una, sudah mendengarkan ocehanku," ucap Kurapika lembut sambil merapat ke hangatnya panggul Una.
Una hanya menyentuhnya sedikit dengan ujung hidungnya, menyiratkan bahwa dia lebih dari sekedar merasa senang bisa membantu Kurapika.
"Bagaimana denganmu? Apa kau punya sesuatu untuk diutarakan?"
Kurapika menoleh memandangi Una, dan Una menatapnya penuh arti dengan mata yang berkaca-kaca. Bagi Kurapika, Una terlihat seperti sedang menahan air matanya.
"Ada, ya? Benar 'kan?" Tanya gadis itu perhatian.
Tentang kisah Una...
Tatapan Kurapika melembut dan dia bergeser menghadap Una sepenuhnya sambil tetap bersandar di panggul Unicorn itu.
Una ditangkap manusia sebagai anak kuda tapi seorang tua dari jenis Chiron menyelamatkan Una. Unicorn lainnya membuang Una karena dengan berada di antara manusia berarti menodai kesucianku di mata mereka, Una menjelaskan dengan pandangan mata yang muram.
"Apa–itu tidak masuk akal!" Ucap Kurapika sepelan mungkin dengan mata yang terbelalak kaget.
Tak apa, itu hanya salah satu tradisi lama yang dimiliki oleh beberapa suku. Ingat suku-suku yang bahkan mempraktekkan kanibalisme? Una bicara dengan tenang. Tapi Una sudah senang dengan kalian berdua, dia segera berkata sambil menyentuhkan hidungnya pada Kurapika.
Kemarahan Kurapika mereda dengan cepat dan dia hanya bisa menghela napas pasrah. Una sudah menerima takdirnya dan melanjutkan hidupnya. Kurapika sekilas melirik sosok Kuroro yang masih tertidur.
Apakah dia juga sudah melanjutkan hidupnya? Setelah kematian Ishtar, dia terlihat cukup hancur..., pikir Kurapika.
Dia hanya sedikit mengetahui bahwa Kuroro masih dihantui kegagalannya memenuhi permintaan terakhir Ishtar–untuk memanggilnya 'Ibu'.
Merupakan hal yang normal jika manusia bermimpi atau mendapat mimpi buruk. Namun, Kuroro, tak pernah dianggap sebagai manusia normal. Dia pun tak pernah menganggap dirinya normal, dan dirinya sedikit bangga dengan hal itu. Hanya saja, saat ini Kuroro mendapati dirinya mengalami salah satu mimpi yang aneh.
Dia berdiri dalam kegelapan–suatu hal umum dalam mimpi buruk yang standar. Kuroro tidak terganggu dengan hal itu. Perhatiannya lebih terpusat pada sesuatu–atau seseorang–yang saat ini berhadapan dengannya.
"Ishtar..." Suaranya yang berbisik terdengar begitu keras dan jelas dalam keheningan yang sangat menyesakkan di dunia hampa dan gelap itu.
Roh ibu angkatnya tersenyum seramah dan sehangat mungkin seperti yang biasa dia lakukan ketika masih berada di antara mereka yang masih hidup. Walau kali ini dalam senyumannya terdapat semburat kesedihan dan penyesalan.
Bahkan dalam kematianku pun, kau masih menolak memanggilku Ibu, Kuroro?
Kuroro hanya bisa memalingkan wajahnya, dia tak bisa menatap mata Ishtar, tidak ketika dia gagal memenuhi permintaannya saat sedang sekarat–dan itu merupakan permintaan yang sederhana. Sebenarnya, dia merasa malu. Selama hidupnya, dia tak pernah mengenal rasa malu. Semua dilakukan demi kepentingan pribadinya dan demi kepentingan Ryuusei-gai maupun Genei Ryodan. Dia tak pernah benar-benar mempertimbangkan kondisi orang lain, dan biasanya seringkali dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
Meskipun sikap ini mulai berubah sejak dia dikutuk untuk bepergian bersama seorang gadis pirang.
Roh Ishtar melayang mengerikan dalam kegelapan, sosoknya bercahaya redup dengan remang-remang seperti lilin yang berkerlap-kerlip karena tiupan angin.
Kuroro...
Pria muda itu mendongak melihat ke arahnya, dihadapkan dengan hal terakhir yang ingin dia lihat dari ibu angkatnya. Sosok Ishtar buyar menjadi butiran pasir yang halus, mirip seperti saat dia mati dalam pelukan anak lelakinya. Raut wajah Ishtar, pakaiannya, bahkan darahnya–yang entah bagaimana tiba-tiba ada–terlihat begitu serupa dengan waktu itu.
Kuroro...
Refleks, Kuroro melompat dan berusaha memegang Ishtar tapi dia hanya bisa menggenggam udara tipis dan beberapa butiran pasir yang semula berwujud hantu Ishtar. Ketika Kuroro membuka telapak tangannya, dalam semenit butiran pasir itu pun menghilang. Namun, suara Ishtar masih tetap menghantuinya tanpa ampun.
Anakku...
Jika diberi pilihan, Kuroro lebih memilih dihantui mimpi buruk berdarah dengan banyak pembunuhan dan hal-hal lain yang sudah biasa ia lihat dalam hidupnya. Jika diberi pilihan, dia lebih baik tidak tidur–daripada dipaksa mengingat kembali saat-saat ketika Ishtar sekarat–saat dia gagal memenuhi permintaannya yang sederhana. Itu hanya membuatnya teringat akan satu-satunya kegagalan yang ia buat dalam hidupnya.
Dia lebih baik tidak tidur daripada melihat mimpi buruk ini.
Mata Kuroro seketika terbuka saat sebuah lolongan mengerikan, membuatnya terbangun dari mimpinya–atau mimpi buruk–dan entah kenapa dia berterimakasih untuk itu. Matanya tertuju pada kegelapan kanopi pepohonan yang berada di atasnya, terlihat bingung dan tersesat.
"Kuroro?" Suara Kurapika terdengar ragu dan bingung.
Kuroro melirik ke sekitarnya dan mendapati Kurapika menatap dirinya sambil tetap mendekat pada Una, meski Unicorn itu sudah tertidur. Gadis itu pun terlihat seperti dia baru saja akan terlelap. Anehnya, anginnya terasa dingin dengan aura makhluk halus yang sangat kental. Kuroro mempertajam pendengarannya dan dia bisa mendengar suara lolongan itu dengan lebih jelas. Sama sekali tidak mendekati suara lolongan serigala; tapi lebih terdengar seperti suara ratapan wanita, dan suara itu datang dari arah sungai.
"Apa kau mendengarnya?" Tanya Kuroro pelan, seolah bermaksud agar suaranya tidak terlalu mengusik keheningan malam.
Kurapika mengernyit.
"Mendengar apa?"
"Suara ratapan itu."
Penasaran, Kurapika beranjak duduk dan berusaha menemukan suara ratapan tersebut. Dia tak mendengar apapun kecuali suara tiupan angin malam. Gadis itu memandangi Kuroro dengan bingung dan menggelengkan kepalanya perlahan. Kali ini Kuroro yang mengernyit; bagaimana bisa Kurapika tidak mendengarnya, sementara suara itu terdengar sangat jelas? Menentang penilaiannya itu, Kuroro beranjak dengan hati-hati dan mulai berjalan ke arah sungai.
"Kau mau ke mana?" Kurapika bertanya dengan suara berbisik yang tertahan.
"Suaranya datang dari arah sungai," jawab Kuroro sambil terus berjalan tanpa suara.
Mengetahui bahwa pria itu tak akan berhenti hingga rasa penasarannya terpenuhi, Kurapika segera berdiri dan mengikutinya. Dalam keheningan mereka berjalan di hutan hingga sampai di tepi hutan yang menghadap ke sungai. Lalu, mereka pun melihatnya.
Banshee.
"Apa–" Kurapika meringis begitu pandangannya jatuh pada makhluk aneh itu.
Makhluk itu terlihat seperti wanita pada zaman kuno dengan rambut yang kusut dan tipis. Kuroro dan Kurapika hampir bisa melihat kulit kepalanya yang pucat di balik helaian rambut panjang yang berwarna abu-abu. Wanita itu meratap sedih, lengkingan suaranya yang memekakkan telinga bergema dalam sunyinya malam, sambil dia terus berusaha menggosok noda darah dari sehelai kain lap yang sedang dipegangnya. Dia terus menggosok dan melolong, tapi ketika lubang hidungnya yang seperti hidung ular itu mengembang, dia langsung berhenti dan menoleh tepat ke arah di mana Kuroro dan Kurapika berada.
Payudaranya yang seperti bandul itu berayun bebas, dan giginya hanya tinggal gigi depan saja. Wajahnya terlihat seperti tengkorak seolah hanya terdiri dari kulit dan tulang. Kulitnya berwarna abu-abu pucat dengan bintik-bintik hitam dari kulit yang membusuk. Saat itu Kurapika merasa seolah napasnya terenggut seketika. Dia melangkah mundur dan bahkan tidak tersentak saat punggungnya menubruk dada Kuroro. Mungkin saja dia merasa lebih aman dengan posisi seperti itu.
"Banshee," bisik Kuroro tak percaya.
Kenapa kita harus bertemu Banshee malam ini? Rasanya Kuroro ingin mengutuk peristiwa ini tapi dia segera menahannya.
"Tak mungkin...," Kurapika bergumam pelan. Dia mendongak menatap wajah pucat Kuroro.
Banshee adalah sesuatu yang ingin mereka hindari selamanya. Melihat Banshee hanya berarti MALAPETAKA atau BENCANA, dan KEMATIAN adalah pertanda yang paling buruk. Biasanya Banshee muncul jika seseorang akan segera mati. Tetap saja, Kuroro-lah yang mendengar Banshee itu. Artinya hanya satu : Kuroro yang menerima akhir dari pertanda buruk Sang Banshee.
Kuroro menunduk, bertemu pandang dengan tatapan Kurapika. Kuroro balik menatapnya penuh arti. Dari raut wajahnya, Kurapika tahu bahwa Kuroro punya pikiran yang sama dengannya. Kurapika menggigit bibir bawahnya gugup, sementara bibir Kuroro membentuk seulas senyum suram. Suatu pemikiran muncul di benak Si Gadis Kuruta:
Kuroro akan segera mati.
Scheherazade, Jin Ifrit yang bernama Deifri benar-benar jin yang liar. Ketika mereka sudah tinggal selangkah lagi menuju tempat tinggalnya–kira-kira beberapa ribu meter dari tempat tinggal Deifri yang sebenarnya–Jin Ifrit itu tampil secara dramatis.
Dengan ledakan keras dan beberapa letusan 'petasan', Ifrit itu menunjukkan wujud yang sebenarnya. Dia berupa raksasa yang tertutupi api dengan tinggi sekitar tiga meter dan memiliki otot-otot yang menonjol dan terlihat keras di kepalanya yang botak. Dia melipat kedua tangan di depan dadanya yang bidang dengan cara yang arogan dan mengangkat dagunya tinggi-tinggi, raut wajah angkuh terlihat di mukanya yang keras. Hal pertama yang terlintas di benak Kurapika adalah dia ingin menghapus ekspresi angkuh itu dari wajahnya–dia 'bermasalah' dengan yang namanya ekspresi angkuh, kau tahu?
Wah, wah, kenapa ada beberapa kecoak berkeliaran di sekitar tempat tinggalku? Desaknya dengan suara menggelegar, sekaligus mencoba mengintimidasi mereka.
Scheherazade hanya mendengus dan melipat kedua tangannya di depan dada, menantang Deifri, mengabaikan suaranya yang mengancam sambil memberi jin itu tatapan jijik.
"Mereka di sini untuk meminta bantuanmu–"
Hai Dara, sialan kau tahu betul aku tak memberikan bantuan untuk...Dia menatap mereka dengan rasa jijik terlihat jelas di wajahnya,...makhluk lemah seperti mereka. Kalau tidak, aku memilih untuk meremas mereka sampai mati!
"Kupikir juga begitu," wanita itu hanya mengangkat bahunya dan menoleh pada Kuroro dan Kurapika. "Baiklah, dia milik kalian."
Scheherazade memberi mereka senyumnya yang jahil, sebelum menuju ke pohon tertentu dan duduk sebagai penonton di bawah teduhnya pohon itu. Lalu dia bersandar pada batangnya yang besar dan menatap mereka bertiga, menunggu pertandingannya dimulai.
Sekarang, kita lihat bagaimana aku mengatasi kalian berdua... Deifri memicingkan matanya, tatapannya terlihat berbahaya, sebelum tiba-tiba dia melayangkan pukulan yang sangat mengena pada Kurapika–yah, seharusnya.
Sebelum dia menyadarinya, pipinya menerima tendangan paling keras, paling kasar yang pernah ia terima setelah masa-masa 'damai' untuk beberapa lama. Deifri tersandung tapi dengan cepat dia kembali menyeimbangkan tubuhnya, hanya untuk dipukul ke arah atas. Kurapika mendarat di tanah, tapi dengan cepat dia mengibaskan tangan dan kakinya yang sedikit terbakar–bagian tubuh yang dia gunakan untuk menganiaya Ifrit tersebut.
"Itu api betulan," desisnya sambil berusaha mengurangi rasa sakit yang berdenyut-denyut di tangannya yang terpanggang api Deifri.
"Kau benar-benar ceroboh," Kuroro mendengus melihat serangan Kurapika yang cepat tapi kurang perhitungan itu.
"Yah, Tuan, kenapa kau tidak mencobanya?!" Kurapika membentak pria itu, ingin segera menyelesaikan pertarungan tersebut.
Awalnya mereka diberitahu jika ajakan secara lisan tidak berhasil, mereka hanya perlu memukulinya dengan cukup keras hingga dia menyerah pada keinginan mereka berdua. Scheherazade pun bermurah hati membekali Kuroro dan Kurapika satu fakta tentang Ifrit ini : dia menguasai elemen air dan api.
Seolah mencoba membuktikan informasi tersebut, Jin Ifrit itu melengkungkan punggungnya dan memuntahkan pisau yang terbuat dari bongkahan es berbentuk berlian ke arah mereka. Kuroro membuka buku Skill Hunter-nya dan menggunakan kemampuan Flamethrower. Dia bermaksud melelehkan pisau-pisau es itu, tapi efeknya hampir tak ada. Untunglah mereka berhasil menghindar tepat waktu hingga tidak tercabik-cabik benda tajam itu.
"Bagaimana?" Kurapika menatapnya penuh tanya.
"Aku akan bilang bahwa kita benar-benar berada dalam masalah," kata Kuroro sambil tersenyum muram.
Dan mereka benar-benar terlibat masalah–bahkan ini buruk sekali. Mereka berusaha mencederai Jin Ifrit itu, tapi jin jahanam itu terlihat tahan dengan semua serangan. Sementara Scheherazade benar-benar menjadi pengamat yang tak berguna karena dia hanya menyaksikan saja dari pinggir. Bahkan Rantai Nen Kurapika tak berdaya melawan Ifrit itu. Di lain pihak, Deifri menikmati setiap saat dia menghanguskan mereka dengan apinya, atau menghujani mereka dengan rentetan bongkahan es. Dia baru saja mendapatkan mainan baru!
Scheherazade mendengus dengan sedikit merasa geli.
"Anak itu masih belum tahu bagaimana cara menguasai Cincin Solomon, hah?" Dia memutarkan rambutnya yang ikal dengan menggunakan jarinya.
Kecuali dia menguasai cincin itu, mereka tak akan punya kesempatan untuk mengalahkan Deifri, pikirnya sambil memandang sekilas ke langit yang cerah, yang terlupakan oleh pertarungan hebat yang berlangsung di bawah sana yaitu di permukaan Bumi. Ishtar, apa yang kau pikirkan waktu itu? Secara tidak langsung memberikan Cincin Solomon padanya sementara kau sendiri tidak memberitahu bagaimana cara menguasainya. Kau bahkan tidak meninggalkan satu petunjuk pun.
Scheherazade hanya mengangkat bahu dan kembali menyaksikan pertarungan yang sia-sia itu. Jika Ishtar punya rencana lain di benaknya, biar saja. Dia hanya seorang Scheherazade, tak lebih dari itu. Dia tak punya hak menghakimi rencana Dewi yang turun dari langit itu bagi anak angkatnya. Scheherazade sudah melaksanakan tugasnya, dan hanya itu. Sekarang saat dia bebas pergi, dia tahu sesuatu akan terjadi–dan dia sedang berjaga-jaga seandainya hal itu terjadi sebentar lagi.
Pertarungan itu, seperti yang sudah diduga Scheherazade sebelumnya, tidak berlangsung terlalu lama. Dengan satu ayunan, Deifri menghantamkan Kuroro ke tanah dengan kasar, membuat pria itu terbatuk, mengeluarkan darah yang kental dan berwarna gelap–pertanda terjadinya luka dalam. Bahu kanannya berasap karena dia gagal menghindari bola api yang ditembakkan Jin Ifrit. Belum lagi luka sayatan di sekujur tubuhnya karena rentetan bongkahan es. Kondisi Kurapika pun tidak lebih baik dari pria itu. Ujung rambutnya yang sekarang panjang menjadi hangus, dan kaki kanannya mengalami luka bakar ringan, sementara salah satu lengannya dipenuhi memar berwarna biru dan hitam keunguan.
Kurapika berusaha mengunci pergerakan Deifri dengan melilitkan rantainya ke lengan jin itu, tapi siasat tersebut menjadi bumerang ketika Ifrit–jangan lupa seringai jahat yang menjadi ciri khasnya–membekukan rantai itu hingga menjalar ke tangannya. Secara otomatis menyatukan dirinya dengan Deifri karena kondisi rantai gadis itu saat ini. Dengan sebuah seringai puas, Deifri memusatkan energi dinginnya di telapak tangannya yang terbuka. Kuroro segera menyadari apa yang akan dilakukan Jin Ifrit itu.
"Kurapika, pergi dari situ!" Dia berseru sambil bergegas menggerakkan kakinya.
"Tidak bisa!" Kurapika menjerit.
Kurapika berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman es Deifri, tapi tak ada gunanya. Dia hanya bisa menyaksikan dengan ngeri ketika sebuah tombak es bergerigi terbentuk di atas telapak tangannya yang terbuka dan tombak itu dilemparkan ke arahnya. Tidak kehilangan akal dan ketangkasannya meskipun menderita luka dalam yang parah, Kuroro melompat dan memutuskan untuk menghancurkan rantai Nen Kurapika yang beku. Lebih baik Nen Kurapika terpecah sedikit daripada Kuroro harus kehilangan gadis itu.
Akibat Nen-nya yang hancur, Kurapika meringkuk dan terhindar dari tombak es. Dia menggeliat kesakitan dan berupaya mengumpulkan Nen-nya kembali secepat mungkin. Kuroro terlihat sedikit lega saat melihatnya tidak tercabik tombak es.
Apa yang kau lihat, Anak Muda? Suara Deifri yang berapi-api menyadarkan Kuroro dari rasa lega itu dan ketika dia berbalik untuk menghadapinya, sudah terlambat.
Kurapika mendesah dan tersengal-sengal dengan keras. Dia menggeram ketika berusaha membuat rantai Nen-nya lagi. Rasanya begitu menyiksa dan menyakitkan. Dia menggertakkan giginya dan mendongak, hendak berteriak pada Kuroro karena telah melakukan suatu tindakan yang sia-sia. Namun saat dia mendongak, kemarahannya langsung menguap.
Dengan matanya sendiri, Kurapika melihat tombak es yang lain menusuk menembus dada kiri pria itu, merobek jantungnya hingga menjadi serpihan.
Kurapika hanya bisa terkesiap dengan tanpa suara ketika tombak itu ditusukkan menembus jantungnya, meninggalkan lubang yang mengerikan di tubuh Kuroro. Ekspresi wajahnya benar-benar hanya menunjukkan rasa kaget dan tanpa rasa takut. Tampaknya Kuroro tak punya waktu untuk membiarkan rasa takut itu menanamkan kehadirannya di jantungnya sebelum jantung tersebut dirobek dengan kejam.
Dampaknya begitu kuat hingga kaki Kuroro pun terangkat ke udara. Banyak darah di mana-mana, memancar dengan derasnya dari luka mengerikan di dada Sang Pemimpin Genei Ryodan. Bau darah segar yang begitu kental memenuhi udara dan menyerang indera penciuman Kurapika. Itu bau darah yang paling menjijikkan yang pernah dia ketahui selama hidupnya yang penuh dengan kejadian berdarah.
Kemudian, gadis itu merasakannya–detak jantungnya sendiri menghilang.
Tawa jahat Deifri melengking seperti suara latar dalam benak Kurapika yang muram sambil menyerah tak berdaya ke dalam kegelapan yang tak berbatas. Hal terakhir yang diingatnya adalah kata-kata Hassamunnin waktu itu :
Saat salah seorang mati, maka yang seorang lagi pun akan mati...
Namun hal terakhir yang Kuroro dengar sebelum kegelapan menelannya adalah suara seorang wanita yang ia kenal:
Sudah lama tak bertemu, Kuroro...
TBC
A/N :
Haduhh...akhir-akhir ini sibuk, capek banget, jadi gampang tertidur setiap jam 7...
Okay, langsung aja ke review chapter lalu :
Sends :
Haha, yahh setidaknya ini dua hari lebih cepat dari chapter terakhir lalu xDa
Kujo Kasuza Phantomhive :
Hm, kadang aku juga mengalaminya...Dan yang segera aku lakukan adalah membicarakan ide itu dengan author lain, jadi ada diskusi dan sumbang saran n akhirnya idenya jadi lengkap xD
Mikyo :
Iya, kerasa banget kalau Ishtar itu sayang banget sama Kuroro, Anansi juga...
Terima kasih atas pengertiannya xD
Nekomata Angel of Darkness :
Tanggung jawab?
Aku tak bersalah... Aku tak bersalah ~
*nari-nari gaje*
Shizuku M2 :
Wah syukurlah ternyata translate-ku tidak menghilangkan feeling chapter Lacrimosa x3
*kasih tissue*
bunnygirl :
Review kebanyakan? G kok, justru aku senang banget x3
Terima kasih atas support-nya xD
Natsu Hiru Chan :
Pertama kuucapkan selamat atas kembalinya password Natsu (?)
Nyesek? O,o *kasih tabung oksigen*
Shina Kurta :
Hahaha, setidaknya kali ini lebih cepat dua hari dari chapter lalu 'kan ya xDa
puihyuuchan :
Halo salam kenal xD
Ikuti sampai sekuelnya nanti yaaa
*:.。. o(≧▽≦)o .。.:*
Review please...
KuroPika FOREVER
