5INS (baca: Five sins) fanfic by Widzilla
.
Boboiboy © Animonsta Studio, Malaysia
Fang 5 sins version, fanfiction idea story by Widzilla
WARNING! Fang x female!Boboiboy alert, OOC alert, AU alert, sins!Fang x elemental!Boboiboy
You've been warned. Don't like, don't read.
.
.
I knew You Were Trouble
note: judul dari lagu Taylor Swift
.
.
.
Sementara Taufan tengah menghadapi kebingungan serta ketakutannya pada permintaan Greed, Halilintar tengah mendapat tugas mengantar pesanan seperti biasa.
Gempa memasukkan beberapa kaleng coklat dalam tas agar Hali mudah membawanya. Ditemani Pride yang mulai membuat pesanan untuk pelanggan yang datang ke kedai.
"Ini, Hali. Orang yang memesannya meminta agar pesanan ini datang sebelum jam sepuluh pagi. Ini sudah jam setengah sepuluh. Kau bisa tepat waktu?"
"Tenang. Aku bisa menggunakan kekuatanku' kan? Untung aku sudah menghemat kekuatan beberapa hari ini. Aku pergi dulu, yah!"
Sambil melihat Halilintar yang mulai menjauh dari pandangan, Gempa menghela napas. Pride menyadari arti helaan itu.
"Selama Hali menyibukkan diri dengan bekerja kurasa semua akan baik-baik saja."
Gempa mengangguk kecil dan turut menyibukkan diri membantu Pride dan Ochobot. Namun pemuda berharga diri tinggi tersebut menyadari kembali bahwa kekasihnya tengah menghela napas beberapa kali lagi.
Tanpa basa-basi, sebuah ciuman kecil mengecup di kening Gempa. Gadis itu sempat terdiam sebentar dan akhirnya merona menyadari apa yang telah Pride lakukan barusan.
"Pr-Pride!?"
"Jangan terlalu khawatir. Semua akan baik-baik saja, meski si bodoh Lust mungkin akan membuat Halilintar lebih sedih dari ini."
"Eh? Apa maksudmu?"
"Hmm, tak tahu. Kurasa instingku saja."
Gempa terdiam sekali lagi. Ia memang merasakan apa yang dirasakan Pride. Ia merasa akan ada sesuatu yang lebih besar dari 'sekedar' kesedihan Halilintar saat itu. Kini Pride justru melihat ada kerutan di antara alis Gempa yang menunduk.
Sebuah kecupan menghampiri kening Gempa lagi, dan gadis itu merona kembali. "Pride!?"
"Sudah. Jangan pasang wajah begitu. Kau ini terlalu khawatir padanya."
"Ta-tapi' kan…"
"Mau kucium di bibir kali ini?"
Gadis bermata keemasan tersebut justru panik dengan wajah semerah jaket Api. Melihat gadis kesayangannya gelagapan, Pride justru tersenyum dan memeluk kepala Gempa.
"Bercanda, kok. Nanti kuciumnya kalau sudah tak banyak orang, yah."
Entah serius atau bercanda, Gempa tetap belum bisa menahan detak jantung dan rona di wajah.
Benar saja kata Pride. Halilintar tak bosannya melakukan pekerjaannya mengantar pesanan coklat bolak-balik hingga nyaris sore. Nampak ia tak memikirkan kegelisahannya selama ia sibuk.
Begitu mengantarkan pesanan terakhir, Hali menyadari jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul lima sore. Ia menarik napas dan memutuskan bergegas kembali ke rumah.
Pesanan terakhir yang ia antar memiliki perjalanan yang cukup jauh dari rumah. Bahkan Halilintar harus menaiki kereta. Dalam hatinya ia kagum akan kelezatan coklat yang dijual Tok Aba hingga orang-orang dari jauh pun ingin mencicipinya.
Merasa harus menghemat tenaga, Hali berjalan kaki menuju stasiun.
Namun langkahnya terhenti.
Ia mengenal sosok pemuda berkacamata yang sedang berjalan dengan seorang gadis.
Gadis berambut coklat gelombang.
Gadis yang sama dengan gadis yang makan bersama Lust kemarin. Dan kini gadis itu juga berjalan berdua bersama Lust.
Mereka berjalan sambil bersendau gurau. Mereka berjalan keluar dari Taman Ria.
Taman Ria…? Me-mereka… baru berkencan…?
Halilintar hanya bisa mematung dari kejauhan.
Tak bisa menggerakkan kakinya. Napasnya tertahan. Tak ada lagi rasa marah atau sedih.
Yang ia rasakan hanyalah ada ribuan jarum menusuk jantungnya.
Sakit.
Sungguh sakit.
Padahal baru saja pagi tadi Lust mengajaknya berkencan hari Minggu esok.
Padahal baru saja pagi tadi Halilintar merasa bahagia akan ajakan itu.
Padahal baru saja pagi tadi… Hali merasa ada harapan.
Air mata menetes.
Setetes, dua tetes. Hingga mengalir semakin deras di pipi gadis bertopi lurus ke depan itu.
Dunia bagai membisu.
Dunia bagai menyembunyikan kenyataan di balik punggung seorang Halilintar.
Ia merasa begitu sepi.
Merasa dikhianati.
Dalam kereta menuju stasiun Pulau Rintis yang hanya berbeda satu stasiun, seorang gadis duduk sendiri.
Menunduk.
Berjuang keras menahan air matanya yang sudah mengalir deras. Berusaha menyembunyikannya.
Tapi apa daya.
"Cinta bisa membuat kita menjadi lemah atau menjadi kuat"
Kata-kata Gempa terngiang. Menggema di antara hening hati Halilintar.
"Aku… Nampaknya aku tak bisa lagi menjadi kuat…"
Api mondar-mandir di teras depan. Menunggu gadis kesayangannya yang belum pulang. Padahal langit mulai gelap dan sebentar lagi makan malam.
Tak biasanya Halilintar pulang larut.
Begitu yang ditunggu muncul di ujung jalan, Api bergegas menghampiri dan memeluk Hali.
Tapi senyum di wajah Api menghilang begitu mengangkat wajahnya. Mendapati mata Halilintar yang telah sembab. Tanpa bertanya, gadis bertopi terangkat itu tahu.
Halilintar baru menangis.
"Hali!? Apalagi yang telah Lust lakukan padamu?"
Api tak lagi sanggup menahan amarahnya. Ia menggeretakkan gigi tanpa melepas pelukannya. Namun yang ditanya hanya diam.
Tiba-tiba ia memeluk erat Api. Ada senggukan sedikit dan getaran dari tubuh Hali.
Amarah Api menghilang menjadi kekhawatiran. Ia membalas pelukan Hali tak kalah erat.
Gempa dan Taufan yang muncul dari pintu rumah langsung berhambur menuju saudari mereka yang saling berpelukan di depan pagar rumah. Air turut khawatir dan mengikuti saudarinya yang lain.
Para Fang, minus Lust yang belum pulang, mengintip dari pintu depan. Ini pertama kalinya mereka melihat seorang Halilintar menangis sesenggukan.
Tok Aba berdiri di belakang para Fang. Beliau menghela napas kecil.
"Kalian, makanlah dahulu."
Para Fang mengangguk menurut tanpa ingin menyampuri urusan para gadis. Berusaha memberi jarak agar mereka tak lebih jauh merusak suasana hati Halilintar.
"Boboiboy."
Para gadis di dekat pintu pagar menoleh mendengar panggilan kakek mereka.
"Masuklah. Di luar mulai dingin. Halilintar, kau mandilah air hangat. Api, Air, tolong siapkan untuk Hali. Kalian boleh mengobrol di kamar nanti."
Para Boboiboy menuruti Tok Aba. Sementara Ochobot, Probe, dan Adu Du hanya bisa diam dan melanjutkan makan bersama para Fang.
Orang tua itu tentu saja khawatir pada salah satu pecahan cucunya. Namun sebagai seseorang dengan pengalaman hidup yang begitu banyak, ia bisa bersikap jauh lebih tenang dan tak menyalahkan pihak manapun meski Api terus-terusan protes dan meminta Tok Aba untuk mengusir Lust dari rumah mereka.
Sementara Halilintar membasuh tubuh di kamar mandi dengan air hangat yang telah disiapkan Api dan Air, para penghuni rumah menikmati makan malam dalam diam. Tak ceria seperti biasanya. Terlebih para Boboiboy yang masih mengkhawatirkan salah satu dari mereka.
Usai makan malam, semua bersama-sama membereskan ruang tengah. Gempa dan Api membawakan makan malam ke kamar untuk Halilintar yang tak bergabung bersama mereka saat makan malam tadi. Ia tak nafsu makan.
Di kamar, para Boboiboy duduk di atas karpet mengelilingi Halilintar yang hanya meneguk air dari gelas tanpa menyentuh makanan yang dibawakan untuknya.
"Hali… ceritakan pada kami. Kumohon jangan bersedih sendiri seperti ini." Tutur Air. Yang lain mengangguk. Api memeluk lengan gadis kesayangannya, membiarkan Hali menyandarkan kepala di atas kepala Api.
Akhirnya dengan pasrah Halilintar menceritakan apa yang ia alami. Sedari ketika ia melihat Lust memberi bunga pada seorang gadis, makan bersama dengan gadis itu, hingga ia melihat sendiri Lust keluar dari Taman Ria dengan gadis yang sama.
Semua terdiam. Mengambil kesimpulan yang sama, menebak-nebak, namun juga ragu. Para Boboiboy yang lain tak ingin pendapat mereka menjadi boomerang yang justru akan membuat Hali semakin sedih.
"Hali… mungkin gadis itu hanya kenalan Lust. Lust meminta dia menemaninya…"
"Tapi kalau setiap hari menemani apa bukannya mereka berarti ada hubungan khusus?"
Pertanyaan balik dari hali membuat Taufan terdiam. Gempa mendekat dan memeluk lengan Hali yang satu lagi. "Halilintar, kami tahu kau sedih. Tapi kalau boleh aku bertanya… Apa kau benar-benar memercayai Lust atau tidak?"
"Aku… tak tahu… Aku merasa tak bisa memercayainya lagi… Ta-tapi… Tapi aku tak… hiks…"
Semua semakin terdiam.
Halilintar yang tegar, dingin, tegas, berkharisma, dan begitu berwibawa kini terduduk lemah. Bagai tak ada yang mengenalinya sebagai Halilintar yang mereka kenal.
Hanya karena seorang Lust. Pemuda yang merupakan pecahan dari Fang.
Orang yang paling dicintai Boboiboy.
Lust berlari terburu menuju rumah Tok Aba yang sudah tertutup dan gelap. Hanya beberapa lampu menyala menerangi rumah kecil itu. Tentu saja ia melewati halaman samping tanpa ingin mengganggu penghuni yang sudah beristirahat di dalamnya.
Pintu kamar gudang belakang terbuka. Para empat Fang yang lain menoleh menatap Lust yang baru pulang. Salah satu Fang yang menjadi permasalahan saat itu hanya nyengir dan mengambil handuk serta perangkat mandi dan kembali terburu menuju pintu belakang dengan kunci yang mereka simpan di dekat lemari Pride.
"Aku mandi dulu, yah!"
Lust sama sekali tak menyadari tatapan saudara-saudaranya yang hanya diam tak menggubris pamitnya tadi.
Begitu selesai mandi, Lust langsung mengisi perut dengan makan malam yang sudah disediakan untuknya di bawah tudung saji.
Sambil mencuci piring, Lust bersiul dengan perasaan bahagia. Ia tak sabar akan berkencan dengan Halilintar besok.
Tapi tak pernah diduganya. Begitu ia kembali ke kamar, para saudaranya menatap dingin pada Lust.
"Hm? Ada apa?"
"Hoi, Lust. Kamu habis dari mana sampai larut begini?" Tanya Greed yang duduk di atas ranjangnya. Sloth berbaring cuek, sama seperti Pride. Glu hanya bisa diam duduk sambil menatap Lust.
Pemuda yang diinterogasi itu justru terlihat gugup dan membuat para saudaranya penasaran. "A-aku tak bisa memberi tahumu. Sudahlah. Aku mau tidur. Besok aku akan kencan dengan Haliii~"
Begitu melepas kacamata, Lust langsung berbaring dan menyelimuti tubuhnya dengan cuek tak memedulikan para Fang yang lain.
Greed geram dan hendak menghardik Lust. Tapi Pride langsung menghentikannya. Tentu saja Greed menatap bingung. Diam-diam Pride mengajak Greed keluar kamar.
"Kau jangan memaksanya lebih jauh." Tutur Pride dengan suara agak berbisik, tak ingin Lust mendengar pembicaraan mereka.
"Kenapa? Aku sudah bilang pada Taufan akan berbicara pada Lust! Kenapa aku-!"
"Tadi Lust bilang besok dia akan kencan dengan Halilintar' kan? Kalau sampai Lust tahu keadaan Hali sekarang, hal itu tak akan membantu. Lust akan mendatangi Hali dan memaksa bertanya padanya. Sedangkan kondisi Halilintar saat ini sedang tak bagus. Nampaknya Lust memang tak menyadari apa yang telah ia perbuat. Bisa-bisa akan terjadi keributan malam begini. Biarkan saja ia tak menyadari. Kita jangan ikut campur dulu."
"Aku setuju dengan Pride…"
Glu turut keluar diam-diam dan bergabung dengan saudaranya yang lain. Sementara Sloth sudah mendengkur dengan santainya.
"Ta-tapi, Glu…!"
"Jika Lust semakin menekan Hali, kurasa Api tak akan tinggal diam. Kita harus waspada jika Api mengamuk pada Lust. Ini instingku saja… tapi tak ada salahnya kita berjaga. Aku merasa Api terlalu berbahaya…"
Greed sendiri sadar. Dalam kondisi Fang berpecah tersebut ada beberapa memori yang tak bisa mereka ingat dengan jelas. Dan memang, Greed merasa apa yang dikatakan Glu ada benarnya. Mereka memiliki ingatan tak bagus mengenai kekuatan Api.
"Benar kata Pride. Apalagi Lust memang bagian 'nafsu' dari Fang' kan? Ayolah… Kalau ada gadis cantik yang lebih cantik dari Hali kurasa dia akan tergiur dan tergoda."
Greed merasa kesal dengan hal yang diungkapkan Gluttony. Begitu pula dengan Pride. Komentar Glu itu seakan melukai harga diri Pride yang menjadi bagian dari Fang.
Pemuda berkacamata itu memiliki harga diri yang terlalu tinggi untuk mengakui hal yang ia anggap paling rendah, jika memang benar Lust tergoda pada gadis lain selain Boboiboy.
"Kita biarkan saja dulu mereka. Jangan ungkit ini besok pagi. Tunggu sampai mereka pulang kencan."
Mau tak mau, Greed dan Gluttony mengangguk menyetujui apa yang Pride sarankan.
Pagi yang cerah adalah hari baru yang begitu dinanti Lust. Dengan semangat ia melompat dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi.
Tanpa disadari sang pemuda yang tengah dimabuk cinta itu, para Fang yang lain serta para Boboiboy minus Halilintar tengah berkumpul di ruang tengah, menatap dingin pemuda yang baru saja menutup pintu kamar mandi sambil bersiul riang. Namun di antara mereka, tak ada yang memiliki tatapan sedingin tatapan Api.
Mereka menyetujui saran Pride untuk membiarkan Hali dan Lust berkencan terlebih dahulu. Entah apakah benar bahwa gadis yang dilihat Halilintar bersama Lust itu memang kekasih simpanan Lust.
Panggilan dari Ochobot membubarkan para remaja yang sedang berkumpul tersebut. Tok Aba tengah menunggu para cucunya di kedai untuk membantu melayani pelanggan yang sebentar lagi akan berdatangan.
Para Fang dan Boboiboy mulai sibuk. Sementara di kamar Boboiboy, Halilintar tengah berhadapan dengan cermin.
Sweater v-neck merah, legging hitam yang menutupi hingga mata kaki, dilapisi dengan rok jeans di atas lutut membuat gadis itu merasa dirinya cukup cantik untuk berkencan dengan Lust.
Merasa cukup cantik untuk mengakhiri hubungannya dengan Lust.
"Jika memang benar Lust menyukai gadis lain… mungkin memang sebaiknya aku mundur."
Nada sedih berbisik di ruangan sepi yang disinari mentari pagi. Cerahnya langit dan siulan para burung sama sekali tidak menoreh warna ceria di hati Halilintar.
Halilintar menyadari bahwa sedari awal seharusnya tak membiarkan tembok pertahanan dirinya lemah. Kini ia merasa begitu hancur hanya karena masalah romansa belaka.
Hanya karena seorang Lust.
Pemuda yang paling dihindari Halilintar dahulu.
Seharusnya ia tahu bahwa Lust adalah sebuah masalah yang akan menghancurkan dirinya.
Namun indahnya warna cinta telah membuat Hali terbuai.
Segala rayu dan gombal Sang Nafsu telah membawanya ke sebuah jurang yang penuh penyesalan.
Para Boboiboy terdiam dan mendekati Halilintar yang baru saja keluar dari pagar rumah dan berjalan menuju kedai. Kepalanya tertunduk, wajahnya tak bersinar seperti biasa.
Api bergegas memeluk gadis kesayangannya itu. "Hali… kau tak perlu memaksa dirimu seperti ini' kan?"
Hali tersenyum lemah. "Api, benar yang Gempa dan Taufan katakan semalam. Semuanya belum jelas secara nyata. Kalau memang benar ia tak memiliki perasaan padaku lagi, aku akan mengakhirinya nanti, yah? Api tak perlu khawatir."
"Haliiiii~"
Seruan mendayu penuh semangat menarik perhatian para Fang yang sedang berada di kedai. Mereka melihat Lust berlari ceria menuju pujaan hatinya dengan semangat. Sementara Pride, Greed, Gluttony, dan Sloth hanya diam tak berkomentar apa-apa.
"Hali! Waw! Kau cantik sekali! Ah, ayo berangkat! Semuanya, kami pamit dulu, yah!"
Taufan dan Gempa tersenyum canggung. Air hanya diam tak berekspresi. Sementara Api menatap tajam penuh benci. Gadis itu mendengus dan membuang muka. Lust yang melihatnya hanya bisa tertawa canggung karena tahu jelas gadis itu membencinya.
"Eh, ng… Hali, aku pamit pada Atok dulu, yah."
Halilintar tersenyum manis pada Lust. Senyuman yang begitu dipaksanya keluar dari hati. Tanpa Lust sadari, pemuda itu justru tergoda pada senyuman gadis tercintanya itu. Ia membalas dengan senyuman lebih lebar dan beranjak menuju kedai untuk berpamitan pada Tok Aba yang dengan tenang dan senyuman mengijinkan Lust berkencan dengan Hali.
"Nah! Ayo, Hali! Aku tahu tempat yang menyenangkan!"
Halilintar hanya diam tanpa menghilangkan senyuman kecil dari wajahnya sambil melambai lemah pada para saudari-saudarinya.
Taufan, Gempa, Api, dan Air hanya bisa berdiri dari tempat mereka melihat Halilintar yang dirangkul Lust pergi hingga menghilang dari pandangan menuju stasiun.
Lust merasa di awang-awang. Ia berceloteh panjang lebar pada Halilintar yang nampak menikmati waktu mereka. Halilintar tersenyum dan tertawa pada semua gurauan yang Lust lontarkan. Ia tak segan dirangkul atau bahkan digandeng selama perjalanan menuju tempat yang dimaksud Lust.
Hingga akhirnya Halilintar menyadari tempat menyenangkan yang dipilih Lust untuk kencan mereka.
Hali hanya bisa berdiri dalam bisu begitu mereka sampai di tujuan.
Napasnya terhenti.
Wajahnya memucat.
Dan jantungnya berdegup kencang tak tenang.
Taman Ria di mana Lust berjalan keluar dengan gadis yang ia kencani kemarin adalah tempat yang paling ingin Hali lupakan dari ingatannya.
Namun kini ia hanya bisa terdiam sambil membiarkan dirinya digandeng dan ditarik dengan semangat oleh Lust untuk membeli tiket di loket depan.
'Dari semua tempat indah yang ada di dunia ini, kenapa di sini…?'
Dalam hati ia terus bertanya-tanya.
Tempat yang menjadi tempat kencan Lust kemarin kenapa menjadi tempat kenangan terakhir dirinya.
Suasana ramai dan ceria di tempat itu sama sekali tak membuat suasana hati Halilintar lebih baik.
Ia justru merasa ingin pergi dari situ.
Pergi meninggalkan Lust.
Ingin lari secepat kilat, menghilang, musnah tak berbekas.
Seperti namanya. 'Halilintar'.
Mungkin itulah arti 'Halilintar'.
Dirinya tak akan lama berada di dalam hati seseorang.
Segalanya terjadi begitu cepat, secepat kilat hanya dalam kedipan mata.
Seperti keberadaannya dalam diri Lust.
Jantung sang gadis serasa diremas hingga pecah.
Namun Hali berusaha tak meneteskan air matanya.
Lust yang baru membeli tiket bergegas kembali ke sisi Halilintar. Wajah pucat pasi dan pandangan yang penuh kekosongan membuat pemuda tersebut khawatir.
"Hali? Say? Kamu nggak apa-apa?"
"Ng-nggak apa…"
Lust tak merasa puas dengan jawaban itu. Ia tahu ada kebohongan besar di balik kalimat yang diucapkan Hali dengan getar. Tapi pemuda tersebut tak ingin memaksa dan merusak suasana hati Halilintar serta kencan mereka. Maka ia hanya mengangguk dengan sebuah senyuman di wajah tampannya sembari menggandeng lembut tangan kekasihnya.
Halilintar merasa tubuhnya begitu lemas. Tak peduli ke mana Lust tarik. Dalam hati ia hanya ingin pergi dari situ. Sejauh mungkin.
Pawai penuh keceriaan dan warna-warni kebahagiaan menyambut kedua insan yang baru memasuki gerbang Taman Ria tersebut. Semua orang tertawa dengan tulus dari dalam hati mereka.
Hanya Halilintar seorang diri yang merasa ada di balik tembok besar kebahagiaan tersebut. Tembok yang dingin, penuh kebohongan.
Ia pasrah tak peduli ke mana Lust mengajaknya.
Nyaris semua wahana keduanya naiki. Dalam hati kecil, Halilintar menebak-nebak, betapa hapalnya Lust pada segala seluk beluk segala wahana yang ada.
Bodoh…
Tentu saja…
Karena Lust sudah pernah kemari bersama gadis itu.
Segala pertanyaan di benak, cacian, makian, amarah, kesedihan, kekecewaan… semua menjadi satu tanpa bisa Halilintar keluarkan.
Semuanya tertahan.
Tak sanggup lagi gadis itu keluarkan.
Tak tega ia membuat senyuman di wajah tampan tersebut menghilang.
Kini sang gadis tak lagi bisa berpikir selama Lust terus-terusan menyeretnya ke sana kemari. Pikirannya kosong.
"Hali? Apa kau tak suka tempat ini?"
Sebuah pertanyaan menyadarkan Halilintar dari lamunannya. Ekspresi penuh khawatir menjadi pemandangan yang terlihat dari wajah Lust. Akhirnya hanya senyum hambar yang Halilintar paksakan agar Lust tak menyadari isi hatinya, "Kau bicara apa? Aku menyukai tempat ini…"
Senyuman kembali menghias di wajah tampan itu. Jantung sang gadis kembali terasa diremas lebih kuat.
"Ah, aku lapar. Bagaimana kalau kita makan? Ada restoran dekat situ!"
"Boleh… Ng… Kau hapal sekali tempat ini, yah…?"
Lust nampak sedikit terperanjat, "Eh, ng… Ahahah! A-aku sempat lihat peta tadi!"
"Oh…"
Benar saja. Restoran dan beberapa kedai kecil yang menjual makanan menjadi tempat mereka beristirahat.
Nafsu makan, rasa haus dan lapar sama sekali tak menghampiri. Hali hanya memandangi burger, kentang goreng, dan minuman di hadapannya.
Begitu menelan makanan yang ada di mulutnya, Lust menyadari diamnya gadis di hadapannya itu, "Ng, kau tak lapar? Atau ini tak sesuai dengan seleramu?"
Tak ada jawaban sama sekali. Hanya senyuman lemah menghias wajah cantik nan pucat sang gadis membuat Lust semakin khawatir, meski kemudian Halilintar menggigit kecil burger di tangan lentiknya.
Tak sanggup menahan lebih lama, Lust mengeluarkan pertanyaan yang terus mengganggunya, "Hali, ada apa sebenarnya? Apa kau ingin ke tempat lain saja? A-atau kau bosan? Atau kelelahan? A-apa kau mau pulang saja?"
Dengan cepat Halilintar menggeleng sebelum Lust lebih panik lagi. "Tidak, tidak… Aku hanya tak begitu lapar. Maaf sudah membuatmu khawatir."
Lust kembali terdiam, tak berani mengusik gadis kesayangannya lebih jauh. Ia mulai berpikir apakah dirinya terlalu memaksa, apakah ia tak bisa menahan nafsunya sehingga membuat Hali risih, apakah karena ia kurang menunjukkan rasa sayangnya pada Hali akhir-akhir ini…
Beratus hingga beribu pertanyaan membuat Lust gelisah.
Gadis yang ada di hadapannya nampak begitu lemah, pucat, pandangannya sayu, terus menunduk…
Seperti bukan Halilintar yang dikenalnya.
Hari mulai sore. Matahari mulai tenggelam. Tapi Lust justru menarik tangan Halilintar terburu menuju satu wahana yang telah ia siapkan untuk terakhir.
Bianglala…
Roda besar yang berputar dengan lambat itu menjadi pemandangan sore yang begitu menyakitkan bagi Halilintar. Ia tak bisa menebak isi hati sang pemuda yang menggandeng tangannya, membantunya masuk dengan hati-hati.
Kini keduanya duduk berhadapan, menikmati pemandangan sore yang romantis dengan cahaya gemerlap Taman Ria dan kota Pulau Rintis yang begitu indah di bawah sana. Roda bianglala bergerak begitu lamban dan tenang.
"Bagus, yah! Kau senang, Hali?"
Wajah tampan cerah ceria yang tertoreh cahaya matahari terbenam membuat gadis tersebut semakin tak sanggup menanyakan segala hal yang ia simpan dalam hati terdalam. Ia tak mau senyuman itu hilang dan menyakiti perasaan pemuda yang begitu ia cintai itu.
Ia hanya ingin Lust bahagia.
Entah dengan siapa pemuda itu bersama kelak.
Ia bertekad akan meninggalkan sang pemuda, membiarkannya bersama gadis yang ia cintai.
Membiarkan Lust berbahagia, tersenyum, dan tertawa…
Anggukan dan senyuman kecil menjawab membuat sang pemuda tersenyum lebih lebar.
"Aku… aku senang sekali kau mau kuajak kencan. Hehehe, aku khawatir kau tak menyukai tempat ini…" Lust menggaruk pipinya tanpa ada rasa gatal di situ.
Roda raksasa bianglala berputar hingga membuat Halilintar dan Lust sampai di puncak teratas. Cahaya matahari telah terbenam penuh membuat semua cahaya lampu yang ada menerangi dengan indah. Membuat suasana semakin meyakinkan Lust untuk mengungkapkan perasaannya sekali lagi.
"Aku… benar-benar mencintaimu, Hali. Sungguh."
Alih-alih perasaan senang berbunga yang muncul, Halilintar justru merasa dirinya didorong dari tebing tercuram.
Ia jatuh dalam kekosongan tanpa dasar.
Kekosongan dari sebuah kebohongan besar.
Kenapa kau memberikan harapan yang begitu besar padaku?
Padahal kau telah memberikan semua senyuman dan perhatianmu itu pada orang lain.
Apa sebenarnya aku ini untukmu?
Apakah aku memang penting untukmu?
Kalau memang benar perasaan yang kau ungkapkan tadi…
Kenapa ada gadis lain yang begitu beruntung bisa memiliki senyummu yang begitu berharga bagiku itu?
Ingin Hali meneriakkan itu semua. Namun hati kecilnya menahan.
Segala perasaan marah dan sedih bergumul.
Ia tak ingin senyuman tulus dari wajah Lust menghilang karena dirinya.
Takut.
Takut luar biasa.
Halilintar tak ingin menjadi orang yang menghilangkan senyuman itu dari wajah Lust.
Entah hanya perasaan atau bukan… namun Lust melihat sebuah pemandangan yang paling tak ia ingin lihat di hadapannya itu.
Pemandangan cantik yang begitu indah… namun penuh kesedihan luar biasa.
Lust berharap ia hanya bermimpi melihat sebuah sinar kecil dari mata Halilintar.
Ia berharap itu bukan air mata.
"Hali…?"
Gadis yang dipanggil namanya dengan bisikan dan rasa khawatir luar biasa itu terkejut bukan main.
Kesedihannya pecah hingga tanpa sadar ia meneteskan air mata. Buru-buru jemari lentiknya menghapus. Namun sia-sia. Lust telah melihatnya. Sang pemuda semakin khawatir.
"Hali…? Kau kenapa? Ada apa sebenarnya?"
Ia menyondongkan tubuhnya. Tangannya terulur hendak menyentuh wajah dan menghapus air mata itu.
PLAK!
Tepisan membuat suasana semakin membisu.
Lust terdiam penuh rasa terkejut. Shock luar biasa.
Sementara Halilintar juga merasakan hal yang sama.
Ia sendiri tak percaya dirinya telah menepis keras tangan sang pemuda yang ia cintai itu.
Tapi ia merasa tak ada pilihan lain. Dirinya terlalu takut.
Takut perasaannya kembali bermain hingga lupa bahwa ia telah jatuh ke jurang tanpa dasar.
Air mata semakin berlinang deras tanpa bisa berhenti.
"Ma-maaf, Lust…"
Sang pemuda masih membisu dalam keterkejutannya, tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa memandangi gadis yang kini menunduk dan menyembunyikan wajahnya dengan tangan.
"Ki-kita pulang… kita pulang saja, ya…?" Dalam isak tangisnya Halilintar memohon.
Membuat Lust semakin merasa begitu tertekan dalam kebingungannya. Maka hanya dengan menyetujui permintaan Halilintar keduanya mengakhiri hari itu.
Kencan yang berakhir penuh air mata.
TBC
.
.
.
Terima kasih, teman-teman ^^ Sudah setia menunggu ff yang selalu hiatus panjang ini...
Saya benar-benar terhibur membaca review kalian kemarin xD Ternyata ada juga yang jadi sebel sama Lust xD Dan thank you Mahrani29! Saya sampai jungkir balik nyariin kata 'interkom' gara-gara lupa sebutannya apa xD Yang diinget malah speaker, coba xD
Rame yah yang sudah nonton The Movie xD Buat yang belum, semoga Monsta mau ngeluarin DVD-nya. Mungkin kita bisa kirim saran ke Monsta supaya mau ngeluarin DVD-nya di fanpage FB Boboiboy :)
Tapi tolong ya teman-teman... Jangan beli bajakannya di abang-abang :( Kalau tidak, nanti Monsta nggak akan dapat untung karena kita beli bajakan.
Padahal mereka sudah merencanakan untuk membuat Movie ke 2 dan 3. Kalau uangnya bukan dari kita yang membeli secara legal, dari siapa lagi...? TTATT Bisa-bisa rencana dan impian Monsta amblas karena ulah fansnya yang beli bajakan dan tidak menghargai karya mereka TTATT Mari sama-sama menabung sedikit demi sedikit sebelum keluar rilis DVDnya. Mari sama-sama berdoa semoga mereka mau ngeluarin bentuk DVD . Aaamiiin!
Semoga ff ini selalu menghibur teman-teman pembaca setia dan pembaca baru yah ^^
Salam,
Widzilla
