I'M 28

An EXO fanfiction

HunKai

Rating: T-M

Pairing: Sehun X Kai

Warning: BL, YAOI, M-preg, Typo

Cast: Kris Wu, Oh Sehun, Kim Jongin, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Choi Minho, Kim Jummyeon, Luhan, Suzy, Lee Sungmin

Halo ini chapter dua puluh lima, chapter terakhir, selamat membaca maaf atas segala kesalahan happy reading all. Maaf lama updatenya.

Previous

"Ahhh…," Hanya itu yang bisa Jongin ucapkan sebagai balasan untuk Sehun.

Sehun kembali mendekati ranjang Jongin kali ini dia berbaring di samping Jongin untung saja ranjang Jongin cukup besar untuk dipakai dua orang dewasa. "Aku lega semuanya baik-baik saja dan sekarang aku sangat mengantuk Hyung."

Jongin tertawa pelan kemudian mengecup kening Sehun lama. "Tidurlah Oh Sehun, terima kasih sudah menjagaku dan bayimu."

"Aku akan melakukan semua untuk kalian." Sehun berujar pelan dengan kedua mata yang sudah terpejam.

Jongin tersenyum tipis. "Tidurlah," gumam Jongin.

BAB DUA PULUH LIMA

"Kau baik-baik saja kan Jongin?"

"Hmmm." Jongin hanya menggumam pelan terlalu malas menjawab pertanyaan dari Sehun yang monoton itu. Dia memilih untuk membaca komik sambil duduk di atas ranjang tempat tidur. Hyura, ibu Sehun sudah merombak habis-habisan kamar rumah sakit ini menjadi layaknya kamar hotel. Berlebihan menurut Jongin, Sehun sebenarnya juga merasakan hal yang sama namun ibunya mengancam akan berhenti pergi ke salon jika keinginannya tidak dituruti.

Menurut Jongin berhenti pergi ke salon adalah ide yang brilian untuk menambah tabungan di bank Hyura, namun bagi Sehun ibunya yang berhenti pergi ke salon adalah bencana. Kuku patah yang seharusnya bisa diselesaikan dengan gunting kuku berharga murah di rumah menjadi sebuah bencana. Hyura akan marah seharian penuh dan bahkan saat itu memukul pantat sehun dengan remot TV dan membuat remot tak berdosa itu hancur berantakan. Hyura tanpa salon sama dengan Hyura nenek sihir. Sehun mau tak mau setuju dengan semua keinginan ibunya jika ancaman mengerikan itu sudah dikeluarkan.

"Haaah…," Jongin menghembuskan napas kasar. Sehun sontak berdiri dari sofa dengan wajah tegang.

"Apa sudah waktunya?!" Kepanikan Sehun hanya dibalas tatapan malas oleh Jongin.

"Belum. Duduk. Diam. Dan berhentilah panik. Astaga Sehun aku yakin saat Youngsoo lahir kau pasti pingsan." Jongin mencibir dengan kata-kata pedas. "Lagipula kan Youngsoo akan lahir lewat operasi."

"Tapi Kakek bilang kau tetap merasakan kontraksi. Aku benar-benar panik, bisakah kau sedikit bersimpati padaku?" Sehun melempar tatapan memelas.

"Keluarlah, ahhh aku salah. Jalan-jalan di lorong rumah sakit atau taman atau kantin, atau pergi ke ruangan Kakek. Otakmu butuh asupan oksigen."

Sehun melempar tatapan datar. "Kau kejam padaku Hyung." Jongin hanya mengendikan kedua bahunya acuh. "Jika tidak ada yang salah, kenapa menghembuskan napas kasar sekeras itu?"

"Aku hanya berpikir….,"

"Apa?!"

"Jangan memotong ucapan orang tua!" kesal Jongin, Sehun hanya tersenyum lebar.

"Lanjutkan."

"Malas." Jawab Jongin, Sehun melempar tatapan tajam khas seorang Oh Sehun. Benar-benar menyebalkan. "Baiklah." Jongin menyerah karena berada di bawah tatapan tajam Sehun adalah hal menyebalkan. "Aku hanya berpikir kenapa Chanyeol hyung dan Baekhyun hyung tidak berinisiatif untuk datang menjengukku."

"Ahhhh itu." Sehun menggumam panjang, lantas menjatuhkan pantatnya ke atas sofa. "Kalau itu karena memang sengaja dirahasiakan. Bukankah kita tidak memegang ponsel cukup lama untuk menjauhi keramaian, mencari ketenangan."

"Tapi mereka sahabatku."

"Ibu Sora sudah menjelaskan semuanya namun ibu Sora melarang siapapun untuk datang ke sini, sampai situasinya benar-benar aman."

"Mereka sahabatku!" Jongin bersikeras."

"Karena mereka sahabatmu ini semua demi keamanan dan kenyamanan bersama, jika orang-orang kejam itu melihat Chanyeol atau Baekhyun datang ke tempat ini mereka pasti dikekar-kejar seperti pencuri." Kening Jongin berkerut mendengar penjelasan panjang lebar Sehun, mengabaikan panggilan tak sopan Sehun kepada Chanyeol dan Baekhyun. Berpikir jika semua yang Sehun katakan adalah benar.

"Haaah…," Jongin menghembuskan napas kasar untuk yang kesekian kalinya. Menjatuhkan komik yang sedang ia baca ke atas pangkuannya. Ia menoleh ke kanan menatap jendela besar yang tertutup tirai cokelat muda. "Aku ingin keluar. Aku benar-benar ingin keluar."

"Aku mengerti. Bersabarlah, sedikit lagi keadaan pasti akan membaik."

"Ya." Jongin membalas singkat berharap apa yang Sehun ucapkan segera terjadi, secepatnya.

Sehun berdiri dari sofa yang ia duduki berjalan mendekati tempat tidur Jongin dan duduk di sana di dekat ujung kaki kanan Jongin, menyentuh lutut kanan Jongin perlahan. "Jika keadaan sudah baik apa yang ingin kau lakukan?" Sehun mencoba mencairkan suasana. Berhasil, Jongin mengalihkan pandangannya yang tadinya menatap kosong ke arah jendela kini beralih menatap Sehun.

"Berjalan-jalan."

"Ide bagus."

"Sendiri."

"Apa?!" Sehun memekik tidak terima.

"Iya. Aku ingin pergi seorang diri saja, tanpa teman, tanpa keluarga."

"Apa—kau ingin melarikan diri?" Jongin mengangguk. "Dariku?"

Jongin tertawa pelan. "Bukan melarikan diri dalam artian sebenarnya. Aku hanya ingin lebih mengenal diriku sendiri. Teman-temanku bilang saat mereka pergi sendiri, mereka menemukan diri mereka sendiri."

"Ah aku tidak percaya." Sehun menatap Jongin, meremehkan.

"Aku juga tidak percaya karena itu aku ingin membuktikannya sendiri."

Sehun membisu selama beberapa detik. "Baiklah, kau bisa pergi sendiri tapi setidaknya setelah Youngsoo berusia enam bulan."

"Setuju. Kau sudah berjanji dan aku adalah orang yang memiliki ingatan tajam."

"Tentu." Sehun mengangguk mantap. "Jadi ada hal yang ingin kau lakukan lagi? Kakek akan datang untuk memeriksamu satu jam lagi."

"Tidak ada." Jongin mengambil kembali komik yang tadi belum selesai i abaca.

"Jongin….,"

"Hmmm?"

"Apa kau biasa membaca komik terbalik?" Jongin melempar tatapan tajam kepada Sehun yang terlihat menahan tawa.

"Aku bisa membaca meski terbalik, sekarang diam." Sehun menghembuskan napas kasar bukankah sensitif itu harusnya diawal kehamilan, sekarang saat kelahirna hampir dekat kenapa semakin sensitif? "Karena aku sangat bosan berada di tempat ini."

Terkejut, Sehun menatap Jongin. "Kau—tau apa yang aku pikirkan?!"

"Mudah sekali menebak pikiran bocah sepertimu."

"Baiklah, baiklah, sampai kapanpun aku pasti tetap bocah dimatamu."

"Tentu saja." Jongin menurunkan komiknya menatap Sehun. "Sepuluh." Ia menunjukkan kesepuluh jari-jari tangannya. "Jarak usia kita sepuluh tahun, Sehun. Oh Sehun."

Tanpa aba-aba Sehun memeluk tubuh Jongin membuat Jongin tersentak karena terkejut. "Aku tau kau sangat bosan Hyung, baiklah setelah kau merasa sangat baik dan kuat untuk bepergian. Jongin hyung bisa pergi berlibur kemanapun, seorang diri."

Jongin mengangkat dagunya kemudian ia tumpukan pada pundak kanan Sehun. Menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Baiklah, ia harus minta maaf sekarang karena sikap sedikit kasarnya tadi. "Maaf." Bisik Jongin.

"Ya." Sehun membalas pelan, mengusap punggung Jongin dengan lembut.

"Apa Kakek mengganggu?"

Jongin terkejut dan berusaha untuk mendorong tubuh Sehun, namun Sehun tidak ingin melakukannya. "Sehuuuunnn….," rengek Jongin. Sehun tertawa karena merasa rengekan Jongin terdengar lucu.

"Sehun, Jongin, baiklah Kakek hanya ingin mengatakan jika minggu ke 39 adalah waktu yang tepat untuk melakukan operasi cesar. Dan pemeriksaan akan dilakukan sehari sebelum operasi." Kalimat Hyunseong menarik perhatian Sehun. Ia melihat cucunya melepaskan pelukannya dari Jongin kemudian memutar tubuh untuk menghadapnya.

"Kapan minggu ke 39 itu Kakek?"

"Minggu ini. Itu waktu yang tepat lebih dari minggu 39 resiko akan meningkat."

"Hmmmm." Sehun menggumam berpikir, menoleh menatap Jongin. "Kapan menurutmu?"

"Besok."

"Apa?!" Sehun berteriak dan Jongin tertawa. "Hyuuuuunggg." Kali ini giliran Sehun yang merengek.

"Aku kan hanya menjawab. Aku pikir besok adalah hari yang baik." Sehun tidak mengerti. "Kau ini di puncak musim panas, udara terlalu panas dan lembab, atau hujan deras, atau ada badai." Sehun masih belum paham. "Sudahlah Sehun, besok atau lusa pilih diantara itu." Tegas Jongin.

Kedua tangan Sehun tertangkup. Ia ingin bertemu dengan Youngsoo secepatnya namun membayangkan ruang operasi tanpa sadar membuat dirinya berkeringat dingin. "Kurasa….," Sehun menggumam, menggantung kalimatnya. "Kurasa…., be—besok."

"Bagus." Jongin tersenyum lebar diakhir kalimat.

"Kalau besok berarti hari ini Jongin akan melakukan pemeriksaan, dan Jongin kau tidak boleh memakan apapun setelah jam tujuh malam." Jongin tersenyum kemudian mengangguk penuh antusias. "Aku akan keluar sebentar untuk memanggil perawat."

"Ya Kakek."

"Hyung…," Sehun bertanya dengan nada bergetar.

"Apa?"

"Kau tidak takut?"

"Tentu saja aku takut dan juga gugup. Tapi lebih baik besok mungkin saja ada kendala sehingga operasi ditunda. Jika kita tidak memberi jarak yang cukup panjang, jika ada masalah operasi bisa saja dilakukan lewat minggu ke 39. Kakek bilang sendiri kan tadi resikonya akan meningkat."

"Kendala seperti apa?" Jongin melihat ketakutan pada kedua mata Sehun.

"Kendala seperti….," Jongin memikirkan jawaban yang tidak akan menakuti Sehun. "Mungkin saja ada banyak pasien yang melakukan operasi cesar atau tiba-tiba ada pasien yang harus dioperasi cesar karena ada masalah, dan operasiku ditunda."

"Tapi kita kan mendapat hak istimewa Hyung." Sehun mencoba memberikan alasan.

"Hanya memikirkan kemungkinan tak terduga." Kening Jongin berkerut. "Kenapa? Kau tidak mau melihat Youngsoo lebih cepat?"

"Bu—bukan!" Terbata kemudian berteriak karena Sehun benar-benar gugup dan cemas memikirkan semuanya secara bersamaan. "Aku hanya…, hanya merasa tidak sanggup."

"Tidak sanggup?"

"Ya. Aku takut menjadi Ayah yang buruk."

"Kau bilang ingin memiliki banyak anak?" Jongin bertanya dengan nada mengejek.

"Ah iya—tentu saja…, aku masih menginginkannya. Aku hanya—hanya—hanya….," Sehun tidak bisa menemukan kalimat yang tepat.

Jongin tersenyum penuh pengertia tangan kanannya bergerak perlahan. Menggenggam telapak tangan kiri Sehun. "Semua akan baik-baik saja. Kau pasti akan menjadi seorang ayah yang sangat baik untuk Youngsoo." Sehun menatap Jongin tanpa berkedip. "Karena kau bahkan melindunginya sebelum dia lahir." Sehun tak memberi reaksi. "Aku yakin padamu." Jongin berusaha meyakinkan Sehun kembali, dan pada akhirnya Sehunpun tersenyum. Meski senyumannya terlihat kaku. "Aku lelah." Gumam Jongin.

"Tidurlah." Sehun berucap lembut kemudian tangan kanannya menarik komik yang tadi ditekuni Jongin, menaruh komik itu ke atas nakas. Sehun membantu Jongin berbaring dengan tumpukan bantal yang menahan punggung Jongin supaya Jongin tidak sesak karena menahan berat badan janin di dalam tubuhnya. Berikutnya Sehun memperbaiki posisi selimut Jongin dan berbaring di samping Jongin.

"Apa para ibu tidak datang ke sini?"

"Aku ingin menghabiskan hari ini bersamamu tanpa ada gangguan dari siapapun."

"Sehuuuunnnn….," rengek Jongin merasa jika sikap Sehun terlalu berlebihan.

"Besok aku akan memberitahu semuanya."

"Pasti akan menimbulkan keributan." Bisik Jongin.

"Bukankah itu menyenangkan?" Canda Sehun yang dihadiahi pukulan di lengan kanannya dari Jongin, tentu saja. "Sudah sekarang kau istirahat saja, makan malam nanti aku akan membangunkanmu."

"Aku tidak boleh makan lagi. Apa kau tidak ingat apa yang Kakek katakan tadi?"

"Aku lupa."

"Dasar!" Ejek Jongin sementara itu Sehun hanya menunjukkan cengiran lebar tanpa dosanya. "Aku lelah."

"Tidurlah Jongin Sayang."

"Hentikan panggilan menjijikan itu." Sehun terkikik mendengar kalimat Jongin. Ketika Jongin mulai memejamkan kedua matanya, Sehun meletakkan tangannya ke atas perut Jongin. Youngsoo bergerak pelan di dalam sana, membuat jantung Sehun bergemuruh. Ia ingin bertemu dengan putranya secepat mungkin meski tak dipungkiri jika diapun merasa sangat cemas.

Sehun mengecup pelipis kiri Jongin. Mengusap pelan permukaan perut Jongin. "Lahirlah dengan sehat Oh Youngsoo." Bisik Sehun.

Pintu terbuka membuat Sehun yang hampir memejamkan kedua terjaga sepenuhnya. Sang kakek masuk tersenyum dengan diikuti dua orang perawat di belakang beliau. Sehun ingin mengatakan jika Jongin tertidur, namun, kakeknya mengisyaratkan untuk diam. Sehun tersenyum. Selama ini Jongin selalu menolak jika Sehun ingin menemaninya saat pemeriksaan dan sekarang saat Jongin tertidur adalah kesempatan yang sangat baik.

.

.

.

"Sehun tanda tangan di sini." Ucap Hyunseong sambil menyodorkan dokumen kepada Sehun. "Persetujuan operasi." Sehun mengangguk pelan kemudian menandatangani dokumen yang sang kakek sodorkan.

Hyunseong menyerahkan dokumen di tangannya pada salah seorang perawat. "Semua sudah siap dan sekarang Jongin akan Kakek bawa ke ruang operasi."

"Jongin?!" Sehun memekik. "Aku bagaimana?"

"Apa Jongin belum mengatakan apa-apa padamu?"

"Apa?!" Sehun memekik pelan, ia menoleh menatap Jongin. Jongin tersenyum lebar. "Katakan."

"Kau tidak ikut karena aku takut kau pingsan. Aku tidak ingin kau panik."

"Tapi kau takut darah Jongin!"

"Sehun jangan mengatakan itu!" Hyunseong membentak Sehun. Hyunseong lantas menoleh menatap Jongin menggenggam tangan kanan Jongin dengan lembut. "Kau tidak akan melihat darah. Aku janji." Jongin mengangguk pelan dengan wajah yang terlihat lebih tenang.

PLAK! Sebuah pukulan mendarat di belakang kepala Sehun sebelum perawat mendorong ranjang Jongin keluar dari kamar rawat. "Tunggu!" Cegah Sehun. "Sebentar saja, lima menit." Ucap Sehun.

"Dua menit."

Mendengus namun pada akhirnya Sehun mengangguk pelan. "Bisakah aku berdua saja dengan Jongin?" Tanpa menjawab Hyunseong bersama dua perawat keluar dari kamar rawat.

"Aku akan baik-baik saja Sehun." Ucap Jongin melihat tatapan penuh kecemasan dari Sehun, tangannya terulur menggenggam kedua tangan Sehun. "Youngsoo akan baik-baik saja dan kau akan segera bertemu dengan putramu." Sehun tersenyum. Menunduk tanpa mengatakan apa-apa ia mencium dahi Jongin cukup lama, sementara tangan kirinya mengusap pelan perut Jongin.

"Sehun." Sehun menegakkan tubuhnya mendengar panggilan itu. "Semua akan baik-baik saja, bergabunglah dengan tiga perempuan cantik di depan."

"Mereka sudah datang?" Hyunseong mengangguk pelan.

"Bersabarlah Sehun sedikit lagi. Aku bawa Jongin sekarang." Sehun mengangguk pelan ia menoleh menatap Jongin dengan jantung berdebar kencang.

.

.

.

"Jongin asistenku Naomi dia akan berdiri di sampingmu dan memberitahukan setiap proses yang kami lakukan. Tenanglah Jongin, semuanya akan baik-baik saja."

"Terima kasih Kakek." Ucap Jongin diakhiri dengan senyuman tipis.

"Sekarang duduklah, kita lakukan anetesi." Jongin hanya mengangguk lemah. Naomi membantu Jongin untuk duduk. "Namanya Bryan, sekarang dia akan melakukan anestesi."

Bius yang dilakukan adalah bius spinal yang disuntikan melalui punggung. Jongin memejamkan kedua matanya. Rasa nyeri yang cukup menusuk ia rasakan. Kemudian usapan lembut ia rasakan pada punggungnya. Bryan dokter anestesi bermata cokelat tersenyum padanya. Jongin kemudian dibimbing untuk kembali berbaring. Tirai penghalang dipasang, selang kateter dimasukan untuk menampung urin, selang infus, pemberian antasid untuk mentralisir asam lambung, dan terakhir pemasangan alat monitor jantung dan tekanan darah dipasang.

"Jongin kau siap?" Hyunseong bertanya dengan nada tenang.

"Ya." Jongin berucap lemah.

"Semua akan baik-baik saja, pikirkan bayimu."

"Hmmmm." Jongin menggumam pelan.

"Kau merasakan sesuatu?" Pertanyaan Hyunseong dijawab gelengan pelan dari Jongin.

"Sekarang sedang dilakukan sterilisasi di bagian perut." Perawat cantik di sisi kanan ranjang Jongin memberi keterangan. "Sekarang dilakukan sayatan horizontal di bagian bawah perut. Dan…,"

"Aku tidak ingin mendengar bagian sayat-menyayat." Naomi tersenyum mendengar kalimat Jongin.

"Baiklah, apa yang ingin kau dengar?"

"Bayiku."

Naomi kembali tersenyum. "Masih belum."

"Hmmmm." Jongin menggumam pelan. Jongin menarik napas dalam-dalam, ia mencoba untuk tenang. Dari balik tirai penghalang serta dibalik masker-masker yang dipakai semua orang, Jongin mencoba melihat ekspresi wajah semua dokter yang menangananinya. Semua tampak serius.

"Sebentar lagi." Suara Naomi terdengar lembut. Tanpa sadar Jongin menggerakkan tangan kanannya. Naomi menyambut tangan lembab Jongin. "Sebentar lagi. Ingin mendengar sampai dimana?" Tawar Naomi.

"Masih—menyayat?" Jongin bertanya ragu-ragu.

"Tidak."

"Baiklah, aku ingin mendengarnya."

"Sekarang selaput ketuban akan dipecahkan."

"Ahhhh….," Jongin tidak tau harus bereaksi apa. Jongin menoleh untuk menatap Naomi. "Sekarang…," kalimat Jongin tercekat oleh tangisan keras. Naomi tersenyum lebar.

"Selesai." Ucap sang perawat. "Tali pusat akan dipotong, plasenta dikeluarkan, luka dijahit, bayi dibersihkan." Jongin tak begitu memperhatikan kalimat Naomi. Ia menajamkan kedua telinganya mendengarkan tangisan pertama bayinya.

"Jongin. Ucapkan selamat datang untuk putramu." Ucap Hyunseong sementara Naomi menggendong Youngsoo yang masih menangis keras.

"Hai Youngsoo…," Suara Jongin nyaris tak terdengar. Bayinya masih menangis keras tangan kanan Jongin terulur mengusap pelan pipi bayinya, terasa lembab. "Kenapa dia menangis?"

"Keadaanya baik."

"Kenapa menangis?"

Naomi tersenyum. "Karena dia harus keluar dari tempat yang nyaman dan hangat. Sebentar lagi dan kau bisa memeluk bayimu."

Jongin merasa cukup cemas mendengar Youngsoo yang tak juga berhenti menangis berulang kali Jongin menggigit pelan bibir bawahnya. "Selesai." Kalimat itu mengejutkan Jongin. Ia terlalu fokus dengan Youngsoo hingga dia lupa dengan proses operasi yang sedang berlangsung. Tirai penghalang dipindahkan. Jongin awalnya takut jika dia melihat sesuatu yang mengerikan, namun semua ketakutannya tak terbukti. Semua terlihat baik-baik saja. Seluruh peralatan dilepas, Hyunseong memberi senyuman ramah.

"Sekarang kau siap dipindahkan ke ruang perawatan." Jongin mengangguk pelan.

"Youngsoo?"

"Dia akan menyusul sebentar lagi." Jongin menggeleng pelan, Hyunseong mengangguk mengerti. "Baiklah kau pergi dengan Youngsoo."

"Sehun?"

"Kau ingin Sehun masuk sekarang?" Jongin tersenyum sembari mengangguk. "Waktu untuk kalian bertiga, aku yakin itu."

"Terima kasih Kakek."

"Tentu Jongin. Tentu." Hyunseong tersenyum diakhir kalimat. "Di ruang perawatan saja, ruang operasi akan digunakan lagi hari ini."

.

.

.

"Sehun duduklah!" Hyura memekik kesal melihat putranya mondar-mandir tidak jelas di hadapannya. Membuat kepalanya pening.

"Kenapa Jongin tidak mengijinkan aku untuk menemaninya?!" Protes Sehun.

"Karena kau pasti membuat keributan." Menyilangkan kaki jenjangnya dan mengecat kuku. Hyura menjawab kecemasan sang putra dengan tenang. Sora dan Arra hanya menatap Hyura tidak percaya. "Aku yakin ada yang ingin kalian keluarkan. Katakan saja." Hyura berucap santai.

"Apa itu caramu menenangkan putramu yang sedang gugup?" Tanya Arra.

"Haaah….," Hyura menghembuskan napas kasar. "Kalian pikir aku tidak gugup? Aku sangat gugup!" Hyura memekik heboh, beruntung mereka berada di ruangan khusus sehingga tak mengganggu pengunjung rumah sakit lain. "Aku mengecat kuku di rumah sakit apa kalian tidak bisa melihat betapa gugupnya aku?! Youngsoo cucu pertamaku!"

"Baiklah Hyura. Diam dan cat kukumu jangan berteriak." Ucap Sora.

"Terimakasih kau pengertian sekali." Sora tersenyum malas mendengar jawaban Hyura.

"Ah Ibu!"

Hyura mendelik tajam. "Baiklah—baiklah, karena kau sedang gugup aku maafkan kau memanggilku ibu. Apa?"

"Kris hyung dimana?"

"Kencan."

"Apa Ibu memberitahu Ayah tentang semua ini?"

"Untuk apa aku memberitahu kuda itu. Biarkan dia tidur dengan istri sahnya. Youngsoo cucuku hanya cucuku. Tidak ada protes Sehun, aku dan kuda jelek itu tidak pernah menikah." Hyura meniupi kuku-kukunya yang kini berwarna merah darah. "Tapi tidak apa-apa jika kuda jelek ingin melihat Youngsoo. Jika dia mau mengambil Youngsoo— Aku patahkan lehernya."

Semua bergidik ngeri mendengar kalimat Hyura. Meski terdengar konyol Hyura tidak pernah main-main dengan ucapannya. "Apa yang kau lakukan pada kedua gadis itu?"

"Hanya memberitahu kebenaran pada publik itu saja. Selanjutnya biarkan masyarakat yang menilai."

"Ibu melakukan pengalihan isu?"

"Tentu saja. Aku harus melakukan tindakan. Kau pikir aku bahagia melihat kau dan Jongin dikucilkan. Ah sebenarnya aku tidak peduli jika kau dikucilkan Oh Sehun tapi aku tidak akan tega melihat cucu pertamaku dihujat masyarakat." Sehun melempar tatapan datar terkenalnya kepada sang ibu.

"Haaaaa….," Hyura menghembuskan napas kasar. "Baiklah. Aku peduli padamu. Tapi kita tidak pernah melakukan ya kau tau ungkapan cinta terbuka seperti itu." Hyura mencoba memberi penjelasan.

"Karena hubungan kita bukan hubungan ibu dan anak yang wajar."

"Benar." Hyura menunduk selama beberapa detik. "Aku ingin merubahnya. Aku ingin menjadi Nenek yang baik untuk Youngsoo—dan menjadi Ibu yang baik untukmu dan Kris."

"Ibu—adalah Ibu yang baik untukku dan Kris hyung." Hyura terkejut dengan kalimat Sehun. "Karena ya keluarga kita bukan tipe keluarga yang normal." Sehun tersenyum lebar diakhir kalimat.

"Aku tidak ingin menangis sekarang." Gerutu Hyura.

Lampu ruang operasi berubah hijau, pintu terbuka Sehun berlari cepat bahkan ia hampir terjatuh. Hyunseong menghampiri semua orang yang menunggu. "Jongin baik-baik saja, putramu juga kalian bisa berkumpul di ruang perawatan." Sehun mengerutkan keningnya dalam. "Baiklah di ruang perawatan khusus yang sudah diubah oleh ibumu." Hyura nampak tak peduli meski dirinya disebut-sebut.

"Jongin!" Sehun memekik kemudian berlari menghampiri Jongin. Sehun berusaha untuk melihat bayi di dalam pelukan Jongin namun sifat jahil Jongin benar-benar menyebalkan, ia menutupi sesuatu di dalam dekapannya menggunakan selimut berwarna cokelat muda.

"Aaaaaaa!" pekikan dari ketiga perempuan itu terdengar nyaring namun tak lama kemudian suara pekikan itu berubah menjadi gerutuan ketika Hyunseong meminta ketiga perempuan itu untuk menahan diri. Agar Sehun dan Jongin memiliki waktu bersama.

Hyura, Ara, dan Sora memandang kepergian Sehun dan Jongin dengan tidak rela. "Satu jam." Ucap Hyunseong mencoba menenangkan kericuhan yang ditimbulkan oleh ketiga perempuan itu.

Pintu ruang perawatan ditutup pelan. Jongin tersenyum kepada Sehun. "Apa aku bisa melihat Youngsoo sekarang?" Sehun bertanya dengan tidak sabar. Jongin mengangguk pelan.

"Duduklah Sehun." Perintah Hyunseong. Sehun bergegas duduk di ujung tempat tidur. Hyunseong menggendong Youngsoo dari dekapan Jongin, namun dia juga jahil dengan menutupi tubuh Youngsoo menggunakan selimut tipis lainnya.

"Kalian menyebalkan." Gerutu Sehun sementara kedua matanya menatap lekat sesuatu di dalam dekapan sang Kakek. Sesuatu yang mungil dan bergerak pelan.

"Dekap dia dengan lembut." Ucap Hyunseong, Sehun mengangguk pelan. Menarik selimut tipis yang menutupi tubuh Youngsoo setelah bayi itu berada di dalam dekapan aman Sehun.

Napas Sehun tercekat dadanya berdesir dan seolah penuh sesak. Namun, bukan sesak dalam artian yang buruk. "Selamat datang Oh Youngsoo." Sehun berucap lembut. Kedua mata sipit Youngsoo menatap Sehun, bibir tipis merahnya tertarik ke samping membuat bayi tampan itu seolah tersenyum. "Kau kecil sekali, Sayang."

"Memangnya kau ingin dia sebesar apa?" Sehun menoleh ke belakang rupanya Jongin sudah berpindah ke ranjang tempat tidur yang nyaman dengan bantuan Hyunseong tentu saja.

"Entahlah…," ucap Sehun diiringi tawa pelan diakhir kalimat. Kedua matanya masih menatap lekat Youngsoo. "Huh?" Sehun bingung saat seseorang menyodorkan botol susu padanya.

"Bayi kalian pasti lapar."

"Naomi!" Jongin memekik pelan membuat Sehun semakin bingung.

"Nikmati waktu kalian bertiga, selamat atas kelahiran putra kalian." Naomi berucap lembut Jongin mengangguk antusias.

Sehun berdiri dengan penuh kehati-hatian, kemudian ia mendudukan dirinya di samping Jongin. Punggungnya ia sandarkan pada kepala ranjang. "Siapa Naomi?" Sehun bertanya disela kegiatannya memegangi botol susu Youngsoo.

"Perawat yang menemaniku saat operasi."

"Jahat sekali untuk selanjutnya aku akan ikut di ruang operasi."

"Sehuuunnnn…," gerutu Jongin sambil membenahi posisi tubuhnya. "Youngsoo bahkan belum genap berusia satu hari dan kau sudah berbicara tentang bayi yang lain." Sehun tersenyum lebar mendengar gerutuan Jongin.

"Kau mirip denganku Youngsoo." Ucap Sehun, ia memegangi botol susu Youngsoo yang berukuran kecil. Youngsoo meminum susunya dengan lahap, mulut mungilnya berwarna merah, tipis, tidak mirip Jongin. Mata kecilnya tajam, saat keningnya berkerut karena tidak puas dengan jumlah susu yang di dapat mata kecil itu berbentuk bulan sabit. Sehun tersenyum puas, putra pertamanya benar-benar kopian sempurna dari dirinya. Hidung mungil yang terlihat mancung, kepala Youngsoo sudah tertutupi oleh rambut hitam lebat. "Hyura pasti menyayangimu, sangat menyayangimu karena mirip denganku. Tidurlah saat masih tenang Youngsoo, sebentar lagi keributan akan datang." Sehun menggumam pelan kemudian melirik Jongin yang mulai tertidur. "Jangan tidur dulu."

"Aku lelah bodoh!" Sehun tertawa canggung. Jongin mendudukkan tubuhnya kemudian melempar tatapan tajam pada Sehun. "Aku bahkan bisa menendangmu sekarang juga."

"Ibuku, Kris hyung, ibumu, dan Ara eomma akan datang kira-kira satu jam lagi jika tidak terlambat."

"Maksudnya apa? Bukankah tadi ketiga perempuan cantik itu sudah duduk menunggu di luar?"

"Mereka belanja banyak barang jadi kedatangan mereka akan sedikit tertunda."

"Hmmm." Jongin menggumam pelan sambil memperhatikan Youngsoo yang sibuk menghisap susu dari botolnya.

"Susui dia Hyung."

"Tidak bisa."

"Kenapa tidak bisa?"

"Aku hanya bisa hamil." Entah kenapa Sehun tertawa mendengar penuturan polos Jongin.

"Dan aku tidak keberatan untuk menghamilimu lagi Kim Jongin." Goda Sehun, Jongin melirik tajam dia hampir melayangkan pukulan untuk Sehun seandainya ia tidak ingat jika bayinya berada di dalam dekapan Sehun.

"Menyebalkan!" Jongin mendengus. Jongin kembali memperhatikan Youngsoo yang masih terjaga, kedua mata bulan sabitnya menatap Sehun lekat.

"Dia tampan kan Hyung?"

"Dia mirip denganmu."

"Kenapa kau terdengar tidak suka?"

"Apa aku tidak punya andil sama sekali ya? Kenapa wajah Youngsoo tidak ada mirip-miripnya denganku?"

"Kau kalah telak denganku Hyung sampai kapanpun anak-anak kita akan mirip denganku laki-laki atau perempuan." Sehun berucap penuh percaya diri. Jongin hanya menatap Sehun datar, sementara Sehun tersenyum bangga.

.

.

.

Jongin sebenarnya cukup heran dengan Sehun, di sepertinya menganggap Youngsoo seperti mainan baru bukan putranya. Karena Sehun akan menusuk-nusuk pipi Youngsoo yang tengah tertidur dengan telunjuknya, membuat bayi mungil itu menangis kemudian Sehun akan tertawa dengan keras. Membuat Hyura, Ibu Sehun harus turun tangan dengan menjitak kepala Sehun. Youngsoo sudah berusia satu minggu. Sejak Youngsoo lahir, Hyura mendeklarasikan diri menjadi seorang nenek yang baik dengan tinggal bersama Sehun dan Jongin. Hari inipun tidak ada bedanya, Sehun menggoda Youngsoo.

"Kenapa kau membuat Yongsoo bangun? Bocah badung!" Hyura memekik kesal sementara Sehun hanya tersenyum lebar. Youngsoo berada di dalam gendongan Hyura, bayi mungil itu sebenarnya sudah tidur namun ayahnya yang menyebalkan mengganggu tidurnya.

"Dia tidur terus aku mau bermain dengan anakku." Balas Sehun membela diri dengan polos. Jongin hanya bisa menahan tawa melihat interaksi Sehun dengan ibunya.

"Bayi memang lebih banyak tidur Sehun, kau juga tidurlah, besok ada pekerjaan pagi kan?"

"Aku mau melihat Youngsoo dulu, aku selalu bekerja pagi dan pulang malam menyebalkan sekali." Sehun mulai menggerutu sementara kedua matanya mengamati wajah Youngsoo yang kini terbangun. Sehun tersenyum lebar. "Dia tampan kan?"

"Hmmm." Gumam Hyura.

"Apa dia mirip denganku?"

"Iya, Youngsoo mirip sekali denganmu padahal aku berharap kedua mata Youngsoo akan mirip Jongin kenapa mirip sekali denganmu?"

Kening Sehun berkerut dalam. "Jadi mataku tidak bagus?" protesnya.

"Bagus."

"Noona bohong." Dengus Sehun. "Aku mau menggendong Youngsoo."

"Jangan membuatnya menangis atau aku akan memberimu pelajaran." Ancam Hyura.

Sehun hanya menjulurkan lidahnya kemudian menerima tubuh mungil Youngsoo dari ibunya. "Aku bawa Yougsoo ke kamar ya."

"Hati-hati Sehun!" Hyura memekik cemas, ayolah Sehun sedikit tidak bisa dipercaya jika sudah berhubungan dengan anak kecil.

Perlahan Sehun mendorong pintu kamar dengan kaki kanannya pintu tidak tertutup rapat menandakan jika sudah ada seseorang di dalam. "Jongin hyung masih sibuk?"

"Tidak, sudah selesai." Jongin melihat Sehun yang menggendong Youngsoo. "Ibu tidak marah kau menggendong Youngsoo?"

"Tidak." Sehun membalas singkat.

"Hmmm, apa Youngsoo tidur?"

"Dia bangun."

"Pasti kau yang membangunkannya." Sehun hanya tersenyum lebar mendengar kalimat Jongin.

Jongin berdiri dari kursinya membereskan meja kerjanya sementara Sehun membaringkan Youngsoo ke atas tempat tidur dengan perlahan. Sehun lantas duduk di atas tempat tidur, mengamati wajah Youngsoo. Meski Youngsoo untuk saat ini hanya bisa menangis dan berkedip-kedip, ah dan jangan lupa jika Youngsoo sangat suka tidur, bahkan sejak di dalam perut, tapi menurut Sehun itu sangat lucu.

"Ah kau menggemaskan!" pekik Sehun yang bahkan mengejutkan Jongin. "Pinkhu-Pinkhu!"

Jongin hanya mengerutkan kening, siapa itu Pinkhu-Pinkhu? Apa hewan peliharaan Sehun? Setahu Jongin, Sehun dan Kris tidak pernah memiliki hewan peliharaan. "Siapa Pinkhu-Pinkhu?" Jongin bertanya sembari melangkah mendekati Sehun. Sehun tidak menjawab dia sibuk mengganggu Youngsoo sekarang, menusuk-nusuk pipi gembul Youngsoo. "Sehun, nanti Youngsoo menangis." Jongin menjauhkan tangan kanan Sehun dari pipi Youngsoo.

Sehun menyerang pipi Youngoo dengan telunjuk kirinya, Jongin mulai jengah. "Jika Youngsoo menangis, aku tidak akan membelamu jika kau kena pukul Ibu." Peringat Jongin.

"Youngsoo tidak akan menangis, dia merindukan ayahnya." Balas Sehun penuh percaya diri.

Jongin memilih untuk memperhatikan wajah bayinya, Youngsoo terlihat tenang, menatap Sehun, terkadang Youngsoo bahkan tersenyum dengan perlakuan Sehun. "Ya, kurasa Youngsoo juga merindukanmu." Gumam Jongin.

Sehun tersenyum lebar kemudian menghentikan kegiatannya bermain dengan Youngsoo. "Jongin hyung."

"Ya?" Jongin menoleh, menatap Sehun. "Ada apa?" sedikit bingung dengan tatapan Sehun.

"Terimakasih banyak."

"Untuk apa?" Jongin merasa aneh dengan sikap Sehun.

"Terima kasih sudah melahirkan Youngsoo." Jongin mengangguk pelan menanggapi kalimat Sehun. "Aku serius." Ucap Sehun.

"Ya." Jongin menjawab singkat, Sehun benar-benar gemas ia tarik lengan kiri Jongin dan mencium pipi Jongin yang masih tembam dengan gemas.

"Hentikan Sehun!" protes Jongin, Sehun tidak peduli dan kini bahkan mencubiti kedua pipi Jongin. "Mau aku tendang kau Sehun?!" ancam Jongin.

Sehun menjulurkan lidahnya menggoda Jongin, tapi kegiatan mencubitinya sudah berakhir. Jongin mengusap-usap kedua pipinya yang malang, menjadi korban cubitan Sehun. "Aku ada pekerjaan di luar kota selama satu minggu."

"Hmmm."

"Jongin hyung, aku boleh kan menunjukkan Youngsoo sekarang?"

"Apa?" Jongin benar-benar bingung dengan maksud pertanyaan Sehun.

"Gendong Youngsoo, Jongin hyung." Perintah Sehun.

"Ada apa Sehun? Aku benar-benar tidak paham?"

"Sudah gendong saja." Tegas Sehun, Jongin menurut saja daripada Sehun menjadi kesal dan ngambek, catat Sehun masih kecil dan Sehun kecil yang ngambek bagi Jongin itu sangat merepotkan.

Sehun tersenyum lebar, ia mengambil ponselnya. Merapatkan tubuhnya dengan Jongin. Membuat posisi Youngsoo berada di antara Sehun dan Jongin. "Lihat ke kamera Jongin hyung." Ucap Sehun, Jongin menurut dengan cepat Sehun mengecup pipi kiri Jongin dan bersamaan dengan itu Sehunpun mengambil gambar.

"Huh!" Jongin cukup terkejut dengan tindakan Sehun.

Sehun menegakkan tubuhnya kembali, memeriksa gambar yang baru saja dia ambil. "Bagus kan?" Sehun menunjukkan layar ponselnya pada Jongin.

"Akan kau apakan gambar itu?"

"Agar seluruh dunia tahu jika Oh Sehun bukan pria lajang." Dahi Jongin berkerut dalam, Sehun merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur, Youngsoo aman di dalam dekapan Jongin. Jongin memperhatikan Sehun yang kini berbaring telentang, keduanya bertatapan. "Jongin hyung tahu ada banyak model yang menggodaku, dan itu menyebalkan." Sehun mulai menggerutu.

Jongin hanya tersenyum menanggapi Sehun. "Jongin hyung tidak cemburu?!" Sehun memekik kesal sambil mengangkat kepalanya.

"Tidak."

"Menyebalkan." Sehun kembali merebahkan kepalanya. "Kalau aku tergoda bagaimana?"

Jongin menundukkan kepalanya mengamati wajah Youngsoo yang mulai tertidur kembali. "Jika kau tergoda kau pasti sudah melakukannya sejak lama Sehun, aku tahu kau memiliki banyak kesempatan dan banyak pilihan untuk melakukannya." Jongin mengecup singkat dahi mungil Youngsoo.

"Jongin hyung—mempercayaiku?" Sehun bertanya pelan.

"Ya." Hanya jawaban singkat yang Jongin berikan, namun, jawaban singkat itu membuat Sehun merasa sangat lega dan senyuman lebar mengembang, menghiasi wajah tampannya yang nyaris tanpa cela.

"Terima kasih." Balas Sehun.

EPILOG

"Youngsoo, Oh Youngsoo." Sehun tersenyum sambil berjongkok beberapa senti di depan putranya. Tangan kanannya menggoyang-goyangkan botol susu. Youngsoo tampak tak peduli dan sibuk bermain dengan boneka anjingnya. "Sayang, kemarilah Sayang. Youngsoo…," Youngsoo tak bergeming, Sehun hampir menyerah. Hari ini dia libur sehari dan hari liburnya ia manfaatkan untuk mengsuh Youngsoo sementara Jongin pergi ke kantor. "Sayang….," Sehun kembali membujuk. "Sayang ayo minum susu atau mamamu nanti menjitak kepala Papa. Oh Youngsoo…."

PLAK! Boneka anjing Youngsoo berhasil mendarat pada wajah tampan Sehun. Youngsoo melempar boneka anjingnya kemudian tertawa. "Hihihihi." Tidak menyerah, Sehun merangkak mendekati Youngsoo.

"Oh Youngsoo, susumu." Bujuk Sehun dengan suara pelan.

Berhasil! Youngsoo menoleh berdiri dengan kedua kaki pendeknya. "Pa!"

"Hai Sayang." Sehun menahan diri untuk tidak memekik.

"Pa!" Youngsoo mengulangi panggilannya kali ini melompat dan memeluk leher Sehun erat. "Pa, Pa, Pa."

"Ayo minum susu dulu Sayang." Sehun meletakkan botol susu Youngsoo ke atas lantai untuk sementara, lembut memeluk dan mengangkat tubuh putranya. Mendudukkan Youngsoo pada paha kanannya. "Susu….," Sehun berucap dengan nada membujuk. Youngsoo tersenyum kedua tangannya bergerak ke depan hendak meraih botol susu yang Sehun pegang. Youngsoo dengan bersemangat membuka mulut kecilnya menerima ujung silikon botol susu. Sehun tersenyum. Kepala Youngsoo bersandar pada dada bidang Sehun.

Kedua kaki pendek Youngsoo bergerak-gerak pelan, kemudian gerakan pelan itu berubah menjadi tendangan-tendangan di udara.

"Aku pulang." Jongin berucap ceria berjalan dengan senyum lebar menghias wajah manisnya. Sehun mendengus. Youngsoo langsung bangun dan berdiri dengan susah payah menghampiri Jongin dengan langkah tidak mantapnya.

"Youngsoo!" Jongin memekik ceria, ia membungkuk merentangkan kedua tangannya. Youngsoo tersenyum lebar menampakkan empat gigi susunya yang tumbuh.

"Ma!" Youngsoo dengan ceria melempar tubuhnya ke dalam pelukan Jongin.

"Hap! Youngsoo semakin berat!" Youngsoo tersenyum lebar kemudian memeluk leher Jongin dengan erat.

"Ma, Ma, Ma." Youngsoo berucap cepat.

Memasang wajah datar terbaiknya Sehun berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Jongin. "Bagaimanan pekerjaanmu di kantor?"

"Baik." Jongin membalas singkat karena dia sedang sibuk bermain dengan putranya. "Sudah makan siang?" Sehun mengangguk pelan.

"Baiklah, aku mau mandi sebentar. Tolong jaga Youngsoo." Jongin berniat memindahkan tubuh Youngsoo dari gendongannya kepada Sehun.

"Ma!" Youngsoo memekik protes.

"Sayang, Appa mau mandi dulu Youngsoo main dengan Papa."

"Ma!" Youngsoo masih protes namun Jongin berhasil memindahkan tubuh Youngsoo kepada Sehun. "Ma!" Youngsoo benar-benar tidak ingin berada di gendongan Sehun, tubuh kecil itu menggeliat marah. "Hiks….,"

"Sayang kita lihat bunga di taman ya." Sehun mencoba membujuk.

"Mmmmmmm…," Youngsoo menggumam namun dia tidak menangis dan menghisap jempol tangan kirinya. "Pa, Pa!"

"Iya Sayang."

"Lihat Youngsoo ada bunga Mawar." Sehun membawa Youngsoo mendekati mawar tanpa duri yang berbunga merah muda.

"Wa!" Youngsoo memekik bahagia tangan kanan mungilnya meraih kuntum bunga dengan cepat, Sehun tak sempat mencegah kejadian tragis itu saat bunga mawar indah kesayangan Jongin berakhir dalam genggaman tangan Youngsoo.

"Baiklah kita pergi, berbahaya mendekatkanmu dengan tanaman." Ucap Sehun iapun membawa tubuh Youngsoo menjauhi tanaman-tanaman kesayangan Jongin.

"Pa!" Youngsoo berteriak protes.

"Kita main di tempat lain." Sehun mencoba membujuk sementara otaknya memutar tempat yang bisa ia dan Youngsoo gunakan sebagai tempat bermain.

"Pa…," Youngsoo mulai merengek tidak suka.

"Sayang Papa tidak masalah kau menarik bunga dan tanaman-tanaman tapi—mamamu…," Sehun bahkan bergidik ngeri membayangkan kemarahan Jongin. Youngsoo tentu saja akan lolos dengan mudah tapi dirinya pasti akan mendapat sumpah serapah dan kata-kata mutiara dari Jongin.

"Sehun jauhkan Youngsoo dari taman kita!"

"Ahhhh…," Sehun hanya bisa menatap bunga mawar malang di hadapannya.

"Pa…," rengek Youngsoo. Sehun cukup mengerti ia memindahkan posisi menggendong Youngsoo, mendekapnya lembut.

"Tidurlah Sayang." Sehun berucap lembut mengecup kening putranya dan mengayun-ayunkan tubuh Youngsoo perlahan. Urusan bunga dan kemarahan Jongin akan ia lupakan untuk sejenak.

END

Hmm, hmmm. Pidato kenegaraan. Ya…. Terimakasih untuk semua pembaca yang sudah mengikuti cerita aneh bin absurd ini dari awal hingga akhir. Maaf updatenya lama (nangis bombay ditambah ingusan). Maaf jika endingnya tidak memuaskan, saya sudah berusaha untuk menulis sebaik mungkin. Semoga terhibur. Terimakasih semuanya dan juga terimakasih review kalian Nai981, kim chanbaek, melianairfani, fyeahsekai, Oh Titan, Guest, mimi, NishiMala, Hunna94, fitry sukma 39, kim762, kimkai88, Guest, jeyjong, KimSehuNoona, laxyovrds, cute, raehwakim, chankaiya, Lelakimkaaaaaa, Athiyyah417, mochibear88, VampireDPS, Yessi94esy, minami Kz, ucinaze, pororokkun, Lizz Danesta, exoldkspcybxcs1, typos hickeys, adindanurmas, BabyCevy67, Grey378, wijayanti628, ohkim9488, jumeeee, hunninijongsein, Mara997, kaisaria88, rofi mvpshawol, utsukushii02, Baegy0408, nha shawol, novisaputri09, Tikha Semuel RyeoLhyun, Park Rinhyun Uchiha, melizwufan, elidamia98, dhantieee, vivikim406, Kim Jongin Kai, kanzujackson jk, jongiebottom, ismi ryesomnia, Asmaul, Shandy1512, geash, jjong86, ParkJitta, AGNESA201, onlysexkai, pia piaaaaaa, Jimingotyesjam. Sampai jumpa dilain cerita bye….