MASUK READING LIST – DAFTAR BACAAN WAJIB VOTE SEMUA CHAPTER !
Come Away With Me – Sasuhina Version-
Warning : OOC, TYPOS, CRACKED- PAIR, etc
Rate : M
Disclaimer : Naruto © Belonging Masashi Kishimoto
Novel Come Away With Me Belonging Kristen Proby
DON'T LIKE DON'T READ
DON'T LIKE DON'T FLAME
DON'T LIKE DON'T COMMENT
READ AND REVIEW PLEASE (0.0)
23
Aku berdiri di dek pondok kami yang indah, mengarahkan kameraku ke bawah memotret ikan-ikan berwarna cerah. Aku mengambil selusin foto, kemudian mendongak dan memotret pulau. Matahari hampir tenggelam dan aku tak sabar untuk mengambil foto siluet pohon palm dalam cahaya matahari terbenam.
"Hai, Baby." Sasuke memelukku dari belakang dan menguburkan hidungnya di leherku. "Bagaimana kabarmu?"
"Kurasa aku akan sedikit sakit besok, tapi aku baik-baik saja. Aku lupa betapa melelahkannya menyelam." Aku tersenyum dan tersenyum padanya.
Dia merenggut semua napasku dengan mudahnya. Dia bertelanjang dada, hanya memakai celana pendek hitam yang menggantung seksi di pinggulnya, memamerkan otot di dadanya hingga ke bawah dan tersembunyi di balik celananya. Dia terpapar sinar matahari sejak kami sampai disini, membuat kulitnya menjadi keemasan.
Mulutku mengering setiap aku melihatnya. Dan karena aku bisa, aku menaikkan lensaku dan memotret. Dia tersenyum, malu, dan aku mengambil foto lagi.
"Aku suka memotretmu."
"Aku tahu itu. Kau mengarahkan benda itu padaku lebih dari apapun selama tiga hari sejak kita tiba disini."
"Itu tidak benar." Aku tertawa dan dia mengambil kamera dari tanganku dan tiba-tiba aku yang menjadi objek foto. "Hei! Aku berada di sisi yang salah dari lensa itu."
"Saling bergantian itu adil, Baby. Beri aku senyum yang manis." Aku bersandar pada pagar dan berpose jenaka, mencondongkan salah satu pinggul ke sisi dan meletakkan tanganku di atas pinggul.
"Kita harus sering-sering kesini," katanya dan terus memotretku.
"Kenapa?"
"Karena aku senang melihatmu berjalan-jalan seharian dengan bikini. Aku bisa melihat tatomu."
Aku tersenyum dan berbalik, sisi kiriku terekspos padanya, kuangkat lengan kiriku ke sebelah muka, melihat kearahnya di belakang melalui lekuk sikuku.
"Fotolah tato ini, dan kau bisa melihatnya kapanpun kau mau."
"Tuhan, kau pandai berpose." Dia memotret, matanya bersinar dengan humor dan gairah, dan aku tersenyum padanya.
"Ok, tunggu." Aku melepas sarung dan menjatuhkannya di lantai dek dan matanya membesar. Aku suka caranya menikmati tubuhku. Ketidaknyamananku yang dulu sudah lama hilang. Aku berputar membelakanginya dan menarik rambutku ke atas bahu.
Tanganku merentang berpegangan pada pagar. Aku tahu dia bisa melihat tato di punggung dan pangkal pahaku. "Silahkan."
Aku mendengar suara kamera menyala dan napas Sasuke berubah.
"Sudah selesai dengan yang tadi?" tanyaku.
"Ya," dia berbisik. Aku berbalik menghadapnya dan naik ke pagar untuk duduk.
"Hati-hati!"
"Aku baik-baik saja, aku tak akan jatuh." Aku duduk membentuk sudut dan mengangkat kakiku untuk bersandar di pagar. Tatoku terekspos. "Fotolah."
Dia menzoom kakiku dan menekan tombol sekitar sepuluh kali. "Aku benci mengecewakanmu," aku berkata, "Tapi tato yang terakhir akan mengingatkan pada rahasia kecil kita."
Matanya menggelap dan dia melangkah ke belakang dan mengambil fotoku lagi.
"Jadi tak ada orang lain yang melihat tato ini?" dia bertanya dengan kamera tetap memegang kamera di depan wajahnya.
"Kebanyakan dari mereka."
"Apa maksudnya itu?" Dia menurunkan kameranya dan membelalak padaku.
Sial.
"Yang di pubisku adalah yang paling baru, dan tak ada yang tahu kecuali kau dan artis yang membuatnya. Yang di punggungku bisa kadang terlihat bila aku memakai atasan atau gaun tertentu, tapi tak ada yang pernah menanyakan arti tato itu. Pada kenyataannya, tak ada yang tahu artinya kecuali kau."
"Dan yang di sisi dan kakimu?" dia bertanya.
Aku mengangkat bahu. "Aku bukan perawan saat aku bertemu denganmu." Dia mengernyit dan terlihat murung dan aku mati-matian untuk menaikkan moodnya.
"Hei." Melompat turun dari pagar dan mendekatkan jarak diantara kami. "Masa lalu telah berakhir, Sasuke. Untuk kita berdua."
"Aku tahu." Dia menelan ludah dan memandangku dengan matanya yang gelap. "Hanya saja itu membuatku sedikit gila bahwa lelaki lain pernah menyentuhmu."
"Sayang," aku tersenyum dan membelai wajahnya. "Sentuhanmu adalah hal yang paling penting. Kau telah memperkenalkanku pada perasaan yang aku tak tahu pernah ada. Tak usah mengkhawatirkan yang telah lalu. Hanya kaulah yang aku lihat. Lagipula, " Aku mengambil kamera darinya dan memasang penutup lensanya, "Kau, cintaku, pasti juga bukan perjaka."
"Bagaimana kau tahu? Mungkin aku memang perjaka." Dia tertawa kecil.
"Tidak mungkin kau bisa sehebat itu di ranjang dan tetap perjaka."
"Oh? Memangnya sebagus apa aku?" dia mengedipkan mata padaku dan menarikku ke lengannya, menjalankan tangannya menuruni punggungku yang hampir telanjang.
"Hmm…kau lumayan." Dia tertawa tiba-tiba membungkuk dan meletakkan ciuman selembut bulu di sisi mulutku.
"Lumayan, hah?"
"Yah, aku menahan diri. Demi kesenanganmu."
"Kau hanya menahan diri?" dia meneruskan melakukan ketrampilan itu, bibir lembut itu melintasi rahangku dan naik ke telingaku.
"Itu sungguh sulit, tapi entah bagaimana aku menemukan pengendalian diri."
Dia tertawa kecil dan menangkup wajahku dengan lembut, menyapukan bibirnya di atas bibirku, maju mundur ringan, lalu masuk dan menciumku dalam-dalam, tapi lembut. Dengan penuh cinta. Seakan kami mempunyai waktu sepanjang hari. Aku memegang pinggulnya. Mengaitkan jari tengah menelusuri lingkaran garis pinggang celananya, sebagian tanganku di kain dan sebagiannya lagi diatas kulitnya.
Ya Tuhan, lelakiku ini pandai mencium.
Dia mundur ke belakang, masih memegang wajahku, menatap mataku.
"Wow." Bisikku dan wajahnya penuh humor.
"Apakah kau menahan yang tadi dengan baik?"
"Kau benar-benar pintar melakukannya tadi."
"Begitu juga kau. Apakah kau membawa gaun?"
Aku mengerjap akan topik pembicaraan yang baru ini.
"Ya, kenapa?"
"Aku berencana untuk makan malam."
"Oh. Aku ingin mengambil foto matahari terbenam."
"Kau masih bisa. Bawa saja kameranya."
"Ok. Kapan kita berangkat?"
"Setengah jam lagi."
"Kemana kita akan pergi?" tanyaku
"Ini sebuah kejutan, gadis yang berulang tahun." Dia tersenyum dan menjalankan jarinya di bibir bawahku.
"Ulang tahunku sudah selesai."
"Ini adalah liburan ulang tahunmu, jadi kau masih gadis yang berulang tahun." Dia menciumku tulus, lalu menggandeng tanganku masuk ke dalam.
Pondok kami, walaupun tak bisa disebut pondok sebenarnya, sangat menawan. Sebuah bungalow di atas air. Pondok penginapan kecil tidak akan layak untuk kekasihku.
Ruangannya besar, dengan dua kamar tidur, sebuah ruang makan yang besar dan dua kamar mandi. Dari dua kamar mandi, yang paling besar terdapat bak berendam yang muat untuk dua orang yang terletak di teras yang terbuka, dengan pemandangan terbuka berupa lautan. Pada kenyataannya, hampir semua ruangan terbuka dengan tirai-tirai ringan untuk memberikan sedikit privasi. Lantainya terbuat dari kayu hitam, tapi ada lantai kaca di banyak ruangan sehingga ikan-ikan di bawah bisa terlihat.
Perabotannya mewah, mahal dan nyaman. Ranjang utama berukuran besar dengan seprei putih lembut, selimut dan bantal. Di ruang makan terdapat banyak warna; oranye, kuning dan merah. Sangat indah.
"Apakah kau pernah kemari sebelumnya?" tanyaku saat mengeluarkan gaun dan hak tinggi.
"Tidak, ini pertama kalinya. Kau tak perlu hak tinggi."
"Oh, ok. Flip flop –sandal jepit-?"
"Ya."
"Apakah kita akan ke tempat yang berpasir?"
Dia tersenyum dan mengedipkan mata. Ok,dia tak akan memberitahuku.
"Apakah kau akan berganti baju?"
Dia memakai kemeja berlengan pendek dan membiarkannya tak berkancing. "Nah, sudah berganti."
Aku tertawa dan meletakkan tangan di punggungku untuk melepas bikiniku, membiarkannya jatuh di tanganku. Membungkuk dan melakukan hal yang sama dengan celana bikiniku. Aku berjalan telanjang ke meja rias dan mengambil pakaian dalam.
"Tidak usah pakai pakaian dalam." Aku berbalik dan melongo padanya. Matanya menyala.
"Tapi…"
"Tidak usah pakai pakaian dalam."
Astaga. Dia begitu bossy. Dan aku menyukainya. Aneh.
"Ok." Aku memakai gaun hitam bertali yang meluncur lembut di tubuhku dan memakai flip flopku. Aku menyisir rambutku dengan semangat dan mengikatnya sederhana di sisi kiri sehingga jatuh ke dada kiriku. Aku memakai mascara coklat dan berbalik melihat Sasuke sedang memperhatikan aku, ekspresinya tak terbaca.
"Aku siap."
Dia menggoyangkan kepalanya menarik semua pemikiran yang ada di kepalanya dan tersenyum lembut padaku. "Ayo berangkat."
COME AWAY WITH ME
"Jadi sejauh ini bagian mana yang paling kau suka dari liburan ini?" aku bertanya pada Sasuke sambil menggigit steak. Dia memberiku kejutan makan malam di pulau kecil pribadi. Pihak resort membawa kami dengan perahu, di mana sudah tersedia meja kecil dengan makanan dan minuman untuk kami, meja dan kursi terletak di atas air dangkal berwarna bening dengan pasir putih.
Ini skala romantisnya hampir setara dengan kebun anggur.
"Menyelam tadi menyenangkan." Dia menyesap anggurnya dan mengangkat bahu. "Bagian favoritku adalah di sini bersamamu."
Aku menggelengkan kepala dan tersenyum. "Menawan sekali."
Dia tertawa dan melanjutkan makannya. "Bagaimana denganmu? Yang paling favorit?"
"Aku juga menikmati menyelam tadi. Ikan manta tadi begitu menakjubkan. Tapi aku juga menikmati saat menjelajah kota kemarin. Terima kasih sekali lagi untuk gelangnya."
"Kelihatan cantik untukmu."
"Apa yang akan kita lakukan besok?" tanyaku. Aku mengayunkan kakiku di air. Rasanya menyenangkan di antara kakiku.
"Aku ingat kau pernah mengatakan sesuatu tentang menghabiskan waktu seharian di tempat tidur."
"Oh." Mataku membesar.
"Besok adalah separuh dari waktu liburan kita, sepertinya itu waktu yang bagus." Dia mengangkat alisnya padaku dan aku menyeringai.
"Berenang telanjang! Kita bisa menakuti ikan-ikan."
"Dan tetangga kita." Dia menyeringai.
"Tidak, di belakang kamar kita tidak ada tetangga. Aku sudah memeriksanya."
Dia memandangku, kaget, dan kemudian tetawa. Aku tersenyum puas padanya dan meminum anggurku.
"Ini indah sekali." Aku memandang ke arah air dan mengembuskan napas. Matahari mulai terbenam, dan kami sudah menyelesaikan makan kami.
"Apakah kau keberatan kalau aku memotret?"
"Silakan saja, Baby." Dia menuangkan anggur ke gelasnya dan bersandar untuk memperhatikanku. Aku mengalungkan tali kamera di leherku –aku tak ingin menjatuhkannya di air- dan berdiri, menyeberangi air yang dangkal. Terasa hangat hingga di mata kakiku, pasirnya lembut, dan cahayanya sempurna.
Aku mengambil sekitar seratus foto, memotret air, pepohonan dan pulau kecil itu sendiri. Seperti sebuah topik untuk kalendar pulau tropis. Kemudian aku memutar lensa ke arah pacarku yang sedang bersantai dan memotretnya beberapa kali tanpa dia menyadarinya.
Dia memandangi gelas anggurnya, ekspresinya seperti sedang berpikir dalam tentang sesuatu. Dia mengangkat kepalanya dan memberiku separuh senyumnya yang seksi dan sempurna. Kemeja putih yang sempurna, celana pendek hitam, rambut gelap dan kulit keemasan, duduk santai di meja romantis untuk dua orang yang di atasnya terdapat sebatang mawar merah di vas.
Pemandangan ini membuat hati luluh. Tiba-tiba, dia berdiri dan berjalan menuju kearahku dan mengambil kamera dariku. Dia meraihku kesisinya, memutar lensa kearah kami dan memotret kami berdua.
Tiga hari terakhir ini, saat kami berjalan-jalan, jika aku membawa kamera dia akan meminta seseorang untuk mengambil foto kami berdua.
Ya, kami memotret banyak kenangan, dan itu membuatku tersenyum. Dia menaruh kembali tali kamera di leherku dan mencium keningku.
"Terima kasih makan malamnya. Itu sangat enak dan romantis."
"Dengan senang hati."
"Kapan kita akan dijemput?" aku membelai dadanya, di bawah kemejanya yang terbuka.
"Sekitar dua puluh menit lagi."
"Ok, ayo kita berjalan-jalan di pulau. Ini kecil, seharusnya cukup sepuluh menit saja."
"Ayo." Jari-jarinya mengait di jariku dan kami berjalan, melintasi air yang dalamnya semata kaki.
Saat kami kembali ke meja, kendaraan untuk menjemput kami kembali ke pondok tiba. Kami menaiki perahu kecil dan menyeberangi air yang semakin gelap.
COME AWAY WITH ME
Aku bangun karena sinar matahari yang menimpa wajahku tubuh telanjangku tidak tertutup oleh apapun. Wajah Sasuke berada diantara kakiku.
"Sial!" aku bangun dan menyandarkan diriku di siku, dan memandang kaget Sasuke yang mengangkat pinggulku sehingga dia bisa membenamkan wajahnya di pusat tubuhku, menjilat dan menggoda klitorisku.
"Selamat pagi, Baby," bisiknya di pusatku dan meniup di titik yang paling sensitif.
"Oh Tuhan," hanya itu yang bisa kukatakan, kembali terbaring di ranjang. Aku merasakan dia menyeringai dan menyelipkan dua jari ke dalam diriku, membuat gerakan 'datang kemari' dan sebuah cahaya meletus di dalam diriku.
Sial.
Aku tidak bisa menahannya lagi dan akhirnya aku meledak seiring dia terus menghisap klitorisku memainkan jarinya di dalam diriku, ototku mengejang di sekelilingnya. Akhirnya dia mencium tattooku dan melakukan sihir ajaibnya sampai ke atas tubuhku hingga akhirnya dia berbaring di sisiku, menyingkirkan rambut dari wajahku.
"Selamat pagi," gumamku. "Bukan cara yang buruk untuk membangunkan tidur."
"Aku senang kau setuju." Dia menciumku dan aku merasakan diriku di mulutnya dan itu menyalakan libidoku kembali.
Mengejutkan dirinya, aku mencengkeram bahunya dan mendorongnya berbaring di ranjang, berbaring diatasnya lalu berbisik, "Akan kemana kita?"
"Berenang telanjang!" dia berjalan cepat dengan membawaku di bahunya keluar dari dek dan menuruni tangga yang menuju ke air, dan melemparkanku kedalam air.
Aku jatuh di permukaan yang hangat dengan ceburan yang keras dan banyak percikan air. Ini tidak terlalu dalam, hanya enam kaki, dan saat aku menyingkirkan rambut yang basah dari wajahku, aku melihat Sasuke masuk ke air dengan posisi kepala terlebih dahulu. Dia berenang ke arahku dan aku tidak bisa tidak mengagumi caranya menggerakkan otot-otot punggungnya.
"Hai," aku tersenyum malu-malu saat dia muncul di permukaan di depanku dan melingkarkan tangan dan kakiku padanya.
"Hai." Dia menyeringai dan meletakkan tangannya di pingganggku, mengangkatku ke atas dan membenamkanku kembali di air.
Oh, kami akan bermain! Telanjang!
Aku memekik ketika aku muncul di permukaan dan menyipratkan air padanya dan dia balas menyipratkan air padaku dengan tertawa.
Dia berenang kembali padaku dan aku mencoba melarikan diri, tapi dia menangkapku dan melemparkanku lagi.
"Apakah kau ingin menenggelamkanku?"
"Mungkin aku akan melakukan pernapasan buatan dari mulut ke mulut."
"Kau tidak perlu membunuhku untuk melakukan itu! Aku yakin itu."
Aku terkekeh dan menyipratinya lagi, menikmati tubuh telanjangnya di dalam air yang bening.
"Tuhan, kau terlihat cantik saat ini," katanya.
"Aku juga sedang memikirkan hal yang sama tentangmu." Aku berenang dan masuk ke pelukannya lagi.
"Aku senang bermain denganmu," katanya dan mencium hidungku.
"Aku juga, di dalam dan di luar ranjang." Aku tersenyum lancang dan dia menggigit bibirnya.
"Aku harus bilang, pagi ini adalah yang pertama untukku."
"Yang pertama bagus atau yang pertama buruk?" aku menjalankan jari-jariku ke dalam rambutnya yang basah, senang merasakan tubuh telanjang kami berangkulan di hangatnya laut.
"Yang pasti bagus, walaupun aku harus mengakui, aku lebih memilih memegang kontrol."
"Yah, variasi adalah bumbu kehidupan. Aku suka membuatmu terkejut sesekali." Aku mencium dagunya dan dia tertawa kecil.
"Tidak ada protes, Baby."
"Hmm… bagus."
Dia mengangkatku dan mengejutkanku dengan meluncur masuk ke dalam diriku. Aku menyandarkan keningku di keningnya saat dia masih memasukiku.
"Aku mencintaimu."
"Oh Baby, Aku mencintaimu juga. Ayo kita menakuti ikan-ikan."
TBC
Hello minna! I'm back setelah hari Sabtu terkena migran yang cukup parah, hari ini aku jadi double up!
Oh iya btw aku –mau- lagi ikut 3 lomba cerpen dan 1 nubar, siapa tau kalian minat ikut salah satunya:
1. Lomba menulis cerpen dengan tema pengkhianatan bersama Author Greget dan Penerbit Spekta.
2. Lomba menulis cerpen dengan tema masa lalu bersama Penerbit Tosca Media.
3. Lomba menulis cerpen dengan tema bebas bersama Majas Kreatif (aku nggak tau mereka penerbit atau forum kepenulisan).
4. Nulis bareng (nubar) bersama AePublishing dengan tema horor.
Do'ain ya semoga yang lomba-lomba aku menang lagi hehehe, senggaknya aku jadi pengisi novel.
