Disclaimer: Kuroko no Basuke bukan milikku, tapi milik dari Fujimaki Tadatoshi
Warning: AU, OOC, OC, slash, typo, etc.
Rating: M
Genre: Adventure, Supernatural
Pairing: Akakuro
Keterangan:
"aaaaa"- kata biasa
"aaaaa"- bahasa Celestial
aaaaaa- kalimat dalam hati
THE EMPEROR
By
Sky
Kemunculan Lady Virgo di tempat itu mungkin membuat semua orang terkejut, bahkan tidak ada yang memprediksikan kalau seorang penjaga gerbang mistis yang melegenda itu akan muncul di hadapan mereka semua seperti itu, kecuali Seijuurou tentunya karena remaja berambut merah darah itu sebenarnya telah memprediksikan kemunculan Virgo sudah lama sejak wanita penjaga bintang Orion tersebut menemuinya di ruang musik beberapa saat yang lalu. Entah bagaimana Seijuurou melakukannya tidak ada seorang pun yang tahu kecuali Seijuurou sendiri.
Kedua mata biru terang milik sang penjaga gerbang mistis menatap kelima Kiseki no Sedai secara bergantian sebelum keduanya berhenti pada sosok seorang remaja yang merupakan alasannya muncul di tempat itu, iya…. Kemunculannya bukanlah sebuah kebetulan sengaja, wanita itu tahu kalau hal ini adalah rencana dari sang kaisar yang balik menatapnya dengan sepasang mata heterokrom yang dingin itu, bahkan Seijuurou sendiri telah memprediksikan kalau pecahan jiwa milik Virgo ada di tangan Kuroko. Sebuah senyuman kecil terukir begitu menawan pada wajah cantik Virgo ketika ia menatap sosok Seijuurou dengan seksama, sepertinya ada hal yang disembunyikan serta direncanakan oleh sang kaisar berambut merah tersebut, dan bukankah yang ada di pelukannya itu adalah penjaga kristal Gem? Sapuan pandangan mata itu beranjak dari sosok Seijuurou dan Kuroko ke arah remaja berambut ungu yang masih menatapnya dengan ketakjuban yang tergambar di kedua mata amethyst-nya itu.
"Lady Virgo-chin, kenapa kau bisa muncul di sini? Bukankah seharusnya kau ada di samping Muro-chin untuk menjaganya?" tanya Murasakibara, meskipun nada yang digunakan begitu datar dan terkesan lemas, namun di dalamnya mereka semua bisa menemukan kekhawatiran serta kegembiraan yang tergambar begitu jelas dari sosok seorang Murasakibara Atsushi.
"Jangan bodoh, Murasakibara, pecahan Virgo tidak lagi berada dalam genggaman Himuro. Bukankah kau lihat sendiri kalau Kuroko yang membawa pecahan itu?" tanya Midorima, remaja berambut hijau itu mengangkat kacamatanya sampai benda itu tertempel lekat pada pangkal batang hitungnya. Sama seperti yang lainnya, Midorima pun juga merasa terkejut dengan kemunculan Virgo yang secara tiba-tiba tersebut, namun tidak seperti yang lainnya ia lebih cepat tersadar dari pesona sang penjaga tersebut.
Dari sudut matanya, Midorima bisa melihat semburat penuh kekecewaan yang terpancar dari raut wajah rekannya tersebut karena ia tidak bisa bertemu dengan Himuro Tatsuya yang merupakan penjaga dari pecahan Virgo tersebut, entah bagaimana hubungan keduanya sekarang ini Midorima sama sekali tidak tahu. Menggelengkan kepalanya untuk beberapa saat, Midorima pun melipat kedua lengannya di depan dadanya sebelum tatapannya yang terpancar dari balik kacamata yang ia kenakan kembali terfokus pada sosok sang penjaga gerbang mistis tersebut. Mungkin, ini kali pertama Midorima melihat wanita itu selain dari buku yang pernah ia baca ataupun mendengar kisah sang penjaga dari mantan gurunya, Midorima juga tahu kalau keluarga Himuro adalah penjaga dari kepingan jiwa Virgo tersebut dan hal ini mengakibatkan Himuro sendiri yang merupakan pewaris keluarga itu mendapat tanggung jawab untuk menjaga Virgo, namun cerita akan bagaimana pecahan itu bisa berpindah alih dari Himuro ke tangan Kuroko juga masih menjadi misteri bagi semuanya. Tapi, apa Seijuurou tahu akan hal ini? Remaja yang mengenakan kacamata di wajahnya tersebut langsung menoleh ke arah sang pemimpin yang masih memeluk tubuh mungil Kuroko, saat ia melakukannya hampir saja Midorima terkena serangan jantung karena sepasang mata heterokrom milik Seijuurou langsung balik menatapnya begitu saja, dan apakah itu sebuah seringai yang Midorima lihat? Melihat semua itu Midorima bisa menyimpulkan kalau sang pemimpin dari Kiseki no Sedai memang mengetahui hal ini, tidak heran kalau ia menantang Kise untuk mendapatkan Topaz lagi. Ternyata alasannya memang tidak murni untuk membantu Kise saja, namun untuk membangkitkan jiwa sang penjaga gerbang mistis yang tertidur secara paksa menggunakan kristal sihir mereka.
"Sepertinya Kuro-chin pernah bertemu dengan Muro-chin," gumam Murasakibara untuk beberapa saat. "Buktinya dia memiliki benda itu."
"Aku tidak mau mengakuinya, nodayo, tapi perkataanmu sangat benar," sahut Midorima. "Aku ingin tahu bagaimana Kuroko dan Himuro bisa bertemu, padahal kita mengawasi Kuroko sangat ketat seperti ini."
"Mungkin ini karena keberadaan Tetsu yang sangat tipis, Midorima," sahut Aomine, kedua matanya yang berwarna biru gelap itu beralih dari sosok cantik sang penjaga gerbang mistis untuk menatap ke arah Kuroko yang masih ada di dalam pelukan Seijuurou. "Ada banyak misteri yang kedua orang itu sembunyikan dari kita."
Midorima pun memberikan anggukan singkat, "Meski aku tidak mau mengakui ini, Aomine, tapi kau benar."
Virgo menggelengkan kepalanya untuk beberapa saat, sapuan pandangannya terlihat begitu lembut ketika kedua mata itu menatap sosok Murasakibara yang ada di hadapannya, bahkan orang buta pun akan mengetahui hal itu ketika mereka dihadapkan oleh pemandangan seperti ini.
"Murasakibara muda, Midorima muda, Aomine muda, Kise muda, Nijimura muda, Hiwatari mudaku, dan…." Tatapan mata Virgo pun langsung tertuju pada sosok mungil dari seorang Kuroko Tetsuya yang saat ini masih berada di pelukan Seijuurou, seulas senyuman tipis pun terbentuk secara sempurna pada bibir Virgo ketika kedua matanya menatap lekat Kuroko, "Dan Hiwatari kecilku. Senang bisa bertemu kalian lagi."
Kata-kata 'Hiwatari kecilku' yang terlontar begitu saja dari mulut Virgo langsung membuat Seijuurou dan yang lainnya terkejut, mungkin kalau kalimat itu ditujukan kepada Seijuurou yang notabene memang menyandang marga Hiwatari dari sang ibu yang merupakan seorang Hiwatari sendiri tidak akan membuat Kiseki no Sedai beserta Nijimura terkejut seperti ini, namun panggilan itu tidaklah ditujukkan kepada Seijuurou, namun panggilan itu ditujukkan kepada Kuroko. Sebenarnya ada apa ini? Apakah Kuroko itu memiliki hubungan darah dengan keluarga Hiwatari seperti hubungan Seijuurou dengan keluarga terkutuk tersebut?
Hembusan angin malam yang menerpa daerah kerajaan Elven hitam berlalu begitu saja, mengiringi kesunyian yang tercipta di tempat itu semenjak ungkapan nama Hiwatari yang muncul dari mulut sang penjaga gerbang mistis melesat untuk mengidentifikasikan Kuroko. Nijimura yang menemukan betapa anehnya hal itu mau tidak mau mengambil alih dalam pembicaraan secara sepihak ini, karena baik Seijuurou dan yang lainnya kelihatan masih membeku di tempat, bahkan Kuroko sendiri yang menjadi obyek pembicaraan pun terlihat masih bingung.
Beranjak dari tempatnya berdiri, Nijimura pun mengambil beberapa langkah ke depan sampai kedua kakinya itu membawa sosoknya berdiri di samping Midorima dan Murasakibara tanpa mengalihkan kedua mata hitam pekatnya dari sosok cantik seorang Lady Virgo di hadapannya.
"Kenapa kau memanggil Kuroko sebagai Hiwatari, Lady Virgo?" tanya Nijimura secara langsung tanpa diiringi oleh basa-basi sedikit pun, nadanya begitu lugas namun mengandung sebuah rasa keingintahuan yang sangat besar. "Apa kau tidak salah memanggilnya dengan nama itu?"
"Sepertinya Nijimura muda dan yang lainnya masih perlu banyak belajar kalau ia tidak tahu mengenai hal ini. Apa kalian tidak tahu kalau Kuroko Tetsuya muda ini adalah putra tunggal dari Hiwatari Sakura?"
Jawaban yang penuh akan nada sindiran dariVirgo itu secara langsung menjadi tamparan yang begitu telak bagi mereka berenam, bahkan Kuroko sendiri yang menyadari namanya tengah menjadi perbincangan hangat di antara mereka langsung mendongakkan kepalanya dari leher Seijuurou, dan ia pun menengadahkan kepalanya untuk menatap sosok Virgo yang masih melayang di udara dari atas bahunya. Kedua mata biru langit yang dimiliki oleh Kuroko pun langsung membulat sempurna ketika ia melihat sosok wanita itu, bukankah wanita itu adalah wanita sama yang terlihat begitu mesra kepada Seijuurou di dalam ruang musik beberapa saat yang lalu? Ia masih tidak menyukai sosok Virgo karena itu. Secara tidak langsung karena dibutakan oleh rasa ketidaksukaannya pada sosok sang penjaga gerbang mistis dari bintang Orion itu, Kuroko mengeratkan pelukannya pada pinggang Seijuurou, rasanya seperti ia tidak rela kalau Seijuurou akan 'terpedaya' oleh kemolekan Virgo seperti beberapa saat yang lalu.
Namun, rasa itu pun langsung menguap begitu saja ketika Kuroko mendengar nama 'Hiwatari Sakura' yang merupakan nama dari sang ibu sebelum menjadi keluarga Kuroko diucapkan oleh Virgo begitu saja. Kuroko ingin membuka mulutnya untuk bertanya, namun kalimat yang sebenarnya ingin terlontar dari ujung lidahnya tercekat untuk beberapa saat ketika dua buah tangan menangkup kedua pipinya dan secara langsung membuat Kuroko bertemu pandang dengan sapasang mata heterokrom berwarna merah-kuning keemasan milik Seijuurou.
"Akashi-kun…" gumam Kuroko secara perlahan, ia tidak mengerti mengapa remaja berambut merah itu memegang wajahnya seperti itu dan menatapnya dengan begitu lekat, rasanya seperti Seijuurou tengah menyelesaikan sebuah teka-teki yang membutuhkan perhatiannya.
Tapi, ditatap seperti itu oleh pemilik dari sepasang mata heterokrom yang sangat tajam itu, mau tidak mau membuat rona merah yang tadi sempat menghilang dari wajah Kuroko menjadi muncul lagi tanpa ragu-ragu, terlebih dengan sapuan lembut dari jemari tangan yang masih menggenggam wajahnya tersebut semakin menambah merah rona wajahnya. Kuroko ingin sekali memejamkan kedua matanya, atau mungkin mengalihkan pandangannya dari sosok tampan Seijuurou yang masih menatapnya dengan begitu lekat, namun Kuroko tidak mampu untuk melakukannya sebab sepasang mata heterokrom itu secara tidak langsung memberinya perintah untuk tidak berpaling dari Seijuurou. Sebenarnya hipnotis apa yang Seijuurou berikan pada Kuroko sampai tidak bisa menyangkal perintahnya?
"Sepertinya memang benar," gumam Seijuurou setelah beberapa saat lamanya, dan ucapan itu cukup keras untuk didengar oleh yang lainnya.
Kuroko mengerjapkan kedua kelopak matanya untuk beberapa saat lamanya sebelum kembali menatap Seijuurou, mencoba untuk mencari jawaban yang mungkin saja tersemat singkat pada ekspresi datar sang kaisar, hanya saja Kuroko tidak menemukan apa yang ia inginkan, dan hal itu cukup untuk membuatnya sedikit kecewa serta meningkatkan rasa penasarannya.
"Akashi-kun," gumam Kuroko lagi, entah sejak kapan tapi sepertinya hari ini dirinya sering sekali menyebut nama remaja berambut merah tersebut.
Tatapan intens dari Seijuurou tidak pernah berpaling dari sosok Kuroko untuk beberapa saat lamanya, bahkan semakin lama sapuan hangat dari sepasang mata heterokrom milik Seijuurou akan semakin membuat perasaan Kuroko menjadi gundah, rasanya hangat namun juga membingungkan. Tanpa sadar Kuroko pun meletakkan kedua telapak tangannya di atas tangan Seijuurou yang masih menggenggam pipinya, entah apa yang ia lakukan namun hati Kuroko menyuruh remaja berambut biru langit tersebut untuk melakukannya.
"A-Akashi-kun," sahut Kuroko lagi, mencoba untuk mengalihkan perhatian Seijuurou dari wajahnya, ia tidak ingin remaja yang ada di hadapannya tersebut melihat wajah Kuroko yang merona seperti itu, hal ini sangat memalukan untuk dilihat.
Tangan kanan yang menangkup wajah Kuroko pun beralih dari sana untuk menyangga dagu remaja bertubuh mungil tersebut, membuatnya menengadah untuk beberapa saat sebelum menarik tubuh Kuroko untuk mendekat pada sang kaisar. Dalam sapuan energi yang begitu hangat dari tubuh Seijuurou, remaja berambut merah itu pun mengecup kening Kuroko untuk beberapa saat lamanya sebelum dirinya melepaskan pelukannya dari tubuh mungil sang remaja minim ekspresi itu.
"Kau harus mengatakan padaku apa yang Tatsuya sampaikan padamu, Tetsuya," kata Seijuurou untuk beberapa saat sebelum ia meninggalkan sosok Kuroko mematung di sana dengan seribu pertanyaan yang memenuhi kepalanya, langkah kaki Seijuurou itu membawanya mendekat ke arah sang penjaga gerbang mistis yang masih setia melihat gerak-geriknya tersebut. "Dan aku senang karena kau adalah bagian dari kami, Tetsuya, dengan begitu semuanya pun sudah menjadi jelas,"
Kalimat yang begitu ambigu tersebut melesat begitu saja dari mulut sang tuan muda Akashi tersebut, namun sosoknya yang begitu tegap itu memang sedari dulu menyimpan banyak misteri yang tidak terkira banyaknya, tidak heran kalau Kuroko maupun yang lainnya merasa sedikit bingung dengan perkataan Seijuurou. Hanya satu orang saja yang tidak terlena dalam arus kebingungan yang diciptakan oleh Akashi Seijuurou, dan orang itu adalah Nijimura Shuzo yang memang sejak dulu telah mengenal sang kaisar sejak remaja itu masih kecil.
"Benar-benar orang yang sangat merepotkan," gumam Nijimura untuk beberapa saat ketika ia melihat sosok Seijuurou yang mendekat ke arahnya.
"Kau tahu alasanku mengapa aku memanggilmu ke tempat ini 'kan, Lady Virgo?" tanya Seijuurou seraya berjalan untuk mendekati sang penjaga di hadapannya, ia pun terus berjalan tanpa mengindahkan tatapan yang diberikan oleh Kiseki no Sedai lainnya maupun Nijimura yang berada di belakangnya saat ini.
Kedua kaki Seijuurou pun berhenti tepat di bawah sang penjaga gerbang mistis sebelum kepalanya itu mendongak ke atas, tanpa mengucapkan apapun lagi Seijuurou menjulurkan tangan kanannya ke atas dengan telapak tangannya menengadah, seperti ia hendak memanggil seorang Lady untuk menerima uluran tangannya tersebut pada pesta dansa formal. Dan apa yang dilakukan Seijuurou ternyata disambut baik oleh Virgo, dengan gerakan lembut ia pun menerima uluran tangan itu dan perlahan sang penjaga yang mendiami bintang Orion tersebut turun dari posisi melayangnya di udara untuk berdiri tepat di hadapan sang kaisar berambut merah.
"Bagaimana mungkin aku tidak mengetahuinya, Hiwatari mudaku?" ujar Virgo dengan senyuman kecil terulas jelas di bibirnya, wanita itu melepaskan genggaman tangannya dari Seijuurou sebelum mengaitkan jemari tangannya menjadi satu seperti ia tengah berdoa. "Tugasku adalah satu di sini, membantu Hiwatari muda dan yang lainnya untuk menemukan jati dirinya. Dan bukankah aku sudah mengatakannya saat terakhir kita berjumpa?"
Kedua mata merah dan kuning emasnya itu tidak beralih dari sosok Virgo sebelum Seijuurou mengambil satu langkah ke belakang, tentu ia tidak melupakan akan pertemuan terakhir mereka yang cukup membuatnya bingung akan perkataan sang penjaga, namun itu beberapa hari yang lalu karena sekarang ini Seijuurou sudah menemukan kunci jawaban yang ia inginkan. Melipat kedua lengannya di depan dadanya serta menyembunyikan sihir yang ia miliki, Seijuurou pun mengulaskan sebuah seringai tipis pada bibirnya, mungkin sosoknya itu terlihat begitu angkuh namun kehadirannya yang ada di depan sang penjaga tentu akan membuat siapapun akan terpana padanya. Bahkan para Hunter yang menyaksikan semua itu sedikit terkagum dengan apa yang Seijuurou lakukan, berhadapan dengan makhluk Celestial yang terkenal sangat kuat tanpa meraskaan ketakutan yang berlebih itu adalah hal yang patut diacungi jempol, terlebih dengan sikap yang Seijuurou lakukan itu pasti membuat siapa saja akan berpikiran kalau remaja itu memang berani luar biasa.
"Teka-tekimu, aku sudah menyelesaikannya meski itu belum terlalu sempurna," kata Seijuurou untuk beberapa saat lamanya sebelum ekspresi yang tergambar di wajahnya berubah menjadi dingin lagi. "Tapi, sesuai dengan janjimu itu, Lady Virgo, aku ingin kau mematahkan kutukan yang telah Toru berikan pada kami."
Mungkin ini pertama kalinya kalau apa yang ia lakukan tidak berjalan dengan semestinya, bahkan kata 'tidak sempurna' yang tadi terucap dari mulutnya cukup untuk membuat Seijuurou merasa tidak puas, namun setidaknya beberapa hal yang telah menghantui pikirannya sudah mampu ia selesaikan. Layaknya teka-teki yang perlu diselesaikan dengan menuntun kesabaran sang pemain, Seijuurou pun dengan sabar akan menyelesaikan hal ini. Ia akan melakukannya sebelum dirinya akan berhadapan dengan Shougo pada putaran terakhir, karena ia yakin begitu mereka berdua bertemu lagi setelah sekian tahun tidak bertemu maka pertumpahan darah pun tidak akan terelakan, seperti yang diramalkan oleh ibunya.
Okaa-sama memang sangat kejam, meninggalkan sederet teka-teki namun juga meramalkan hal yang mengerikan untuk kami, pikir Seijuurou tanpa membuatnya berpaling dari sosok bercahaya sang penjaga gerbang mistis yang berdiri di hadapannya.
"Sesuai keinginan dari Hiwatari-ku, aku akan mengabulkannya," jawab Virgo yang masih memberikan senyuman singkat di wajah cantiknya itu.
Wanita itu menggenggam kedua tangannya sendiri dan meletakkannya di depan dadanya sebelum memejamkan kedua matanya, apa yang ia lakukan itu sangat mirip dengan sosok orang yang tengah berdoa di depan altar. Angin yang tadi sedikit tenang tiba-tiba berubah menjadi liar, bahkan untuk melindungi mata mereka dari debu yang dibawa oleh sang angin, mereka semua terpaksa menggunakan sihir untuk menghalau semua hal itu, bahkan Kuroko yang tidak bisa melakukan sihir pun tiba-tiba saja langsung menciptakan pelindung yang ada di sekitarnya. Mungkin sihir yang ada di dalam tubuh Kuroko bertindak secara bebas untuk melindungi sang pemilik, Seijuurou bisa melihatnya dari ekor kedua matanya tanpa beranjak dari posisinya tersebut.
Awan hitam yang menyelimuti langit malam sedari tadi kini berangsur-angsur menyingkir dari sana, memperlihatkan sebuah bintang berwarna biru yang berkelip dari atas langit. Cahaya bintang itu sangat terang, bahkan mata biasa yang tidak bisa menangkap sosoknya pun bisa melihatnya tanpa perlu berusaha lebih keras lagi. Sang bintang itu adalah bintang Orion yang menaungi Virgo selama ini, sebuah tempat di mana gerbang yang dijaga oleh Virgo berada. Cahaya yang berwarna biru itu tiba-tiba menjadi terang sebelum enam buah cahaya pekat melesat dari arah sang penjaga gerbang mistis dan dari bintang itu, dan keenam cahaya tersebut langsung menghantam ke arah Aomine, Midorima, Kise, Murasakibara, Seijuurou, dan juga Kuroko secara bergantian, membuat selubung cahaya yang menyilaukan pun membungkus tubuh mereka secara langsung sebelum tubuh Virgo terbungkus oleh cahaya dengan warna yang sama.
"Eterna cursio everlas release!" gumam sang penjaga gerbang mistis dari bintang Orion itu sebelum cahaya yang sangat menyilaukan muncul di sana.
Nijimura yang melihat hal itu langsung menggunakan tangan kanannya untuk melindungi penglihatannya, ia bisa menebak ke mana ini semua akan mengarah namun bagaimana hasilnya ia sendiri tidak tahu. Dari kedua belas penjaga gerbang mistis yang ada, Virgo mendapatkan julukan sebagai sang penyembuh, tidak ada kutukan atau penyakit yang tidak bisa ia obati, mungkin karena hal itulah Seijuurou memanggil sosok sang penjaga tersebut dengan paksa dari kelima kristal sihir milik Kiseki no Sedai serta satu buah kristal Gem yang dimiliki oleh Kuroko. Tapi, bukankah yang terkena kutukan usia dari Toru itu hanya mereka berlima saja dan Kuroko tidak termasuk? Semuanya bertambah aneh ketika cahaya itu juga menyelimuti tubuh dari remaja berambut biru langit tersebut, sebenarnya siapa sosok sebenarnya dari Kuroko Tetsuya tersebut?
Virgo mengatakan kalau Kuroko adalah anak dari Hiwatari Sakura, adik dari Hiwatari Aiko yang merupakan ibu dari Seijuurou. Tidak heran kalau paras Kuroko itu mirip dengan wanita itu, berarti dugaanku selama ini memang tepat, pikir Nijimura sebelum ia menurunkan tangannya ketika cahaya yang menyilaukan di sana sudah menghilang. Sepertinya rumor mengenai Sakura-sensei yang menikahi seorang manusia normal adalah benar, tidak heran kalau marga Kuroko yang anak itu sandang menyembunyikan identitasnya. Namun, bukankah itu akan menjadikan Kuroko dan Seijuurou sepasang saudara sepupu?
Nijimura bisa merasakan sakit kepalanya kambuh lagi, kehidupan tenangnya di dunia ini lagi-lagi terusik oleh permasalahan yang Seijuurou bawa. Rasanya ia ingin memukul kepala merah Seijuurou nanti, kalau semua ini sudah berakhir.
Ketika cahaya yang membelenggu mereka berenam menghilang serta keadaan sekitar berubah menjadi normal, Nijimura tidak lagi melihat sosok dari sang penjaga gerbang mistis, namun yang ia lihat dari tempat sang penjaga tadi berdiri adalah sebuah kepingan puzzle berwarna biru tua dengan lambang dari Virgo, kelihatannya wanita itu telah kembali ke dalam wujud semula. Tanpa mengatakan apapun lagi, Nijimura pun berjalan ke depan dan mengambil pecahan jiwa dari Virgo yang masih melayang di udara dengan tangan kanannya, ia tidak akan mengambil risiko kalau benda ini hilang lagi seperti Sagitarius yang langsung dicuri oleh Black Lily pada saat yang tidak tepat. Setelah selesai menatap lambang Virgo tersebut, Nijimura pun mengalihkan pandangannya ke arah Kiseki no Sedai untuk melihat bagaimana keadaan mereka semua.
"Sepertinya sihir dari Lady Virgo benar-benar berhasil mematahkan kutukan itu." Suara kalem yang keluar dari mulut Seijuurou itu berhasil memecahkan keheningan di sana untuk pertama kalinya sejak mereka terselimuti oleh cahaya berwarna biru tersebut.
Seijuurou menengadahkan kedua tangannya dan menatap kedua jemari tangannya secaara seksama, mereka terlihat sedikit lebih besar dari biasanya bahkan kalau ditilik secara langsung Seijuurou berani bertaruh kalau dirinya dan Kiseki no Sedai lainnya telah kembali ke dalam tubuh mereka yang sebenarnya, tubuh mereka yang berusia 17 tahun. Terpaan angin yang berhembus ke arahnya membuat konsentrasi Seijuurou pecah untuk beberapa saat, kedua matanya pun bisa melihat bagaimana kondisinya sekarang ini, setengah telanjang karena baju yang mereka kenakan sebelumnya tentu tidak muat untuk ukuran tubuh mereka saat ini, terutama pada sosok Murasakibara yang telah tumbuh menjadi sosok raksasa yang berukuran lebih dari dua meter tersebut. Menggelengkan kepalanya, Seijuurou pun menoleh ke arah tunangannya untuk melihat bagaimana keadaan Kuroko sekarang ini.
Kedua matanya yang berwarna merah dan kuning keemasan itu langsung menangkap sosok sang malaikat yang terbaring tidak jauh dari sosok dirinya dan yang lainnya, kelihatannya Kuroko yang bertubuh sangat lemah itu tidak mampu untuk menahan semua tekanan yang berupa sihir sang penjaga gerbang mistis. Mungkin misteri yang menyelimuti Kuroko sangat kuat, namun secara perlahan-lahan Seijuurou bisa menyelesaikan semua itu tanpa ada yang tertinggal, dan kini alasan mengapa seorang Kuroko Tetsuya yang seharusnya berusia 12 tahun berada dalam tubuh usia 17 tahun pun mulai Seijuurou pecahkan sedikit demi sedikit, bahkan alasan Kuroko yang bisa memiliki sihir padahal seharusnya ia adalah manusia biasa pun sudah terkuak, namun kelihatannya hanya Seijuurou lah yang mengetahui hal ini dan bila Nijimura saja mengenal sosok dari ibu sang remaja berambut biru langit itu, maka kemungkinan besar Nijimura juga mengetahui jawaban yang tersembunyi tersebut.
Dan sosok Tetsuya sekarang ini sangat menggoda, imbuh Seijuurou dalam hati ketika kedua matanya menatap sosok lugu yang hampir tidak berbalut sehelai benang itu tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Tanpa mempedulikan keadaan tubuhnya yang hampir tidak berbusana itu, Seijuurou langsung menghampiri sosok sang tunangan yang tidak sadarkan diri tersebut, tanpa ragu-ragu lagi pemuda berambut merah darah itu langsung menggendong Kuroko seperti seorang pengantin muda itu dengan sangat erat, bahkan karena sifat posesif yang Seijuurou miliki, ia pun langsung menutupi tubuh Kuroko dengan robekan kemeja yang ia kenakan tadi.
"Daiki, aku sarankan kau segera mengalihkan pandanganmu dari Tetsuya sebelum aku mencongkel matamu!" ujar sang tuan muda Akashi tanpa menoleh ke belakang, bahkan tanpa melihat ke arah Aomine pun Seijuurou tahu kalau tatapan pemuda itu terus mengarah kepada tubuh molek Kuroko yang ada di gendongannya.
Tidak, hanya seorang Akashi Seijuurou saja yang boleh melihat pemandangan indah dari seorang Kuroko Tetsuya, dan ia akan tetap menjaga hal itu sampai kapan pun. Tanpa menunggu adanya protes yang keluar dari rekan-rekannya itu, Seijuurou langsung berjalan masuk ke dalam rumah Nijimura tanpa memerlukan izin dari sangn pemilik murah.
"Kecil atau besar, Seijuurou memang tidak akan berubah," ujar Nijimura.
Unknown Place, Human World
Sebuah teriakan yang memilukan itu terdengar begitu nyaring dan mampu menyayat hati seseorang yang mendengarnya, bahkan semakin lama teriakan itu semakin keras yang diiringi oleh bau anyir darah yang mulai menguar ke mana-mana. Sapuan kedua mata abu-abu milik Haizaki pun langsung mengarah ke sosok lemah yang ada di bawahnya untuk beberapa saat, bahkan senyuman yang ada di wajahnya berubah menjadi beringas saat ia merasakan dirinya berada dalam puncaknya sebelum hasratnya keluar ke dalam tubuh yang ada di bawahnya itu, dengan kasar ia sentakkan tubuh pemuda yang penuh dengan luka-luka tersebut di atas tempat tidurnya sebelum dirinya beranjak dari sana.
"Itu adalah hukuman karena kau mengkhianatiku, Tatsuya. Berani-beraninya kau tidak memberitahuku akan hal vital tersebut, kau pikir aku tidak tahu?" tanya Haizaki dengan dingin, tangan kanannya menampar pipi Himuro dengan kasar sebelum ia menatap sosok 'kekasih'nya dengan penuh kebencian. "Tidak ada yang luput dari sepengetahuanku,"
Haizaki bisa melihat darah, luka, serta bekas hasratnya menempel pada tubuh Himuro yang tergolek tidak berdaya di hadapannya. Ia benci mengakui semua ini, namun Seijuurou telah mengalahkannya dalam permainan perebutan pecahan jiwa sang penjaga mistis dalam ronde ini, dan Haizaki berjanji pada dirinya sendiri kalau ia tidak akan kalah lagi dari sosok sang sepupunya itu. Menepis semua ingatan pahit mengenai dirinya dan Seijuurou, Haizaki pun mengambil pakaiannya yang berserakan di atas lantai sebelum mengenakannya satu persatu. Kedua jemarinya berhenti dari mengancingkan kemeja yang akan ia kenakan sebelum sebuah ketukan singkat dari pintu kamarnya terdengar, tanpa membuka pintu pun Haizaki sudah tahu kalau orang yang berdiri di ambang pintu adalah Hanamiya, rekannya di sini.
Pemuda berambut keabu-abuan tersebut melambaikan tangan kirinya ke samping, membuat pintu kamarnya terbuka dengan kasar dan menyuruh Hanamiya untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Sepertinya aktivitasmu itu sudah selesai, Haizaki, padahal hari masih siang dan kau sudah menjamah sang kupu-kupu lagi," komentar Hanamiya dengan nada sinis, kedua matanya berkilat-kilat penuh kekejian saat ia menatap ke arah Himuro yang terlihat tidak berdaya di atas tempat tidur yang berjarak tidak jauh dari sosok sang pemimpin Black Lily.
"Apa yang kau inginkan, Hanamiya? Aku tidak punya waktu untuk kelakarmu yang tidak berguna itu," kata Haizaki sebelum mengancingkan kemejanya namun membiarkan dua kancing teratasnya tidak terkait, kali ini ia menatap lurus ke arah Hanamiya dengan begitu dingin.
"Tidak boleh 'kah aku mengunjungi teman baikku di saat-saat seperti ini? Ah… dan aku memiliki berita yang sangat menarik yang kurasa akan membuatmu gembira, Haizaki."
"Untuk informasimu, Hanamiya, kita tidak pernah menjadi teman baik. Dan katakan padaku, berita apa itu?" tanya Haizaki yang terlihat tidak sabaran di mata Hanamiya.
Pemuda berambut hitam pekat sebahu itu menatap sang pemimpin dengan seringai yang masih terpatri abadi di bibirnya, namun tatapan mata yang berkilat-kilat itu langsung tertutup dengan nafsu ketika sekali lagi ia melihat ke arah Himuro yang ada di sana.
"Ijinkan aku bersenang-senang dengan Tatsuya malam ini dan kau akan menerima berita itu, Haizaki."
Kedua alis Haizaki bertautan ketika ia mendengar permintaan itu, sebenarnya ia ingin menolak akan permintaan Hanamiya karena apa yang ia miliki adalah miliknya seorang, namun berhubung suasana hatinya yang lagi tidak baik dan hal itu ditambah dengan tindakan membangkang dari Himuro, maka ia pun menyanggupi permintaan itu.
"Lakukan saja sesukamu, tapi aku ingin apa yang kau bawa itu benar-benar memuaskanku."
Seringai yang ada di bibir Hanamiya pun semakin melebar ketika Haizaki memberinya lampu hijau untuk berbuat sesuai keinginannya itu, tanpa menunggu banyak waktu lagi pemuda itu pun beranjak dari posisinya yang ada di hadapan Haizaki untuk menghampiri sosok sang penjaga yang masih tergeletak tidak berdaya di atas tempat tidur yang bisa dikatakan tidak bersih lagi, terlalu banyak darah serta cairan milik Haizaki dan Himuro yang menodai tempat tidur itu.
"Semua ada di meja kerjamu, Haizaki, kau bisa melihatnya sendiri," kata Hanamiya, ia pun menjilat bibir bawahnya untuk beberapa saat sebelum kepalanya menoleh ke arah sosok Haizaki yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri sedari tadi. "Boleh aku tahu kenapa kau menghukum Tatsuya seperti ini, Haizaki? Suara teriakannya begitu erotis, bahkan dari lantai pertama pun teriakannya bisa terdengar dengan jelas."
Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan memberikan tatapan acuh kepada Hanamiya, pemuda berusia 17 tahun yang juga pemimpin dari Black Lily tersebut memberikan delikan tajam kepada sosok Hanamiya untuk beberapa saat.
"Sang kupu-kupu terlalu berani keluar dari jaring delusi laba-laba yang aku ciptakan, dan ia terlalu lancang untuk memberikan Virgo kepada Seijuurou," jawab Haizaki dengan jujur, tangan kirinya pun mengacak rambutnya yang sedikit berantakan itu, menambah kesan seksi yang telah melekat pada dirinya semakin berada pada puncaknya.
"Hoo… Tatsuya berani juga rupanya, tidak heran kalau dia mendapatkan hukuman seperti ini. Sebuah hukuman yang berupa hukaman seksual namun penuh kesakitan, sangat cocok untuk sang kupu-kupu," imbuh Hanamiya, nadanya terdengar mengejek namun dalam artian singkat hal ini tidaklah ditujukkan kepada Haizaki, ia tidak ingin sang pemimpin yang terkenal temperamental itu membunuhnya di tempat. "Aku ingin lihat bagaimana ekspresi Murasakibara bila ia melihat sosok sang terkasih berhasil kau jamah berkali-kali."
Tanpa mengindahkan kalimat yang dikeluarkan oleh Hanamiya, Haizaki pun melangkah pergi dari dalam kamarnya dan membanting pintu tersebut tertutup dengan begitu kerasnya. Bahkan belum sempat ia menuruni tangga manornya, ia sudah bisa mendengar teriakan Himuro dari dalam kamarnya. Entah apa yang Hanamiya perbuat dengan 'kekasih'nya itu, Haizaki tidak mau tahu. Yang namanya hukuman adalah hukuman, ia tidak peduli dengan itu semua. Langkah kakinya pun menuntun sosok Haizaki Shougo untuk memasuki ruangan kantornya yang ada di lantai pertama, setelah berada di sana ia pun menggunakan sihirnya untuk meredamkan suara teriakan dari atas, ia tidak butuh konsentrasinya terganggu seperti itu.
Di atas meja kerjanya Haizaki bisa melihat sebuah dokumen tertata rapi di sana, pasti dokumen itu berisi apa yang Hanamiya informasikan kepadanya beberapa saat yang lalu. Merasa tidak mood untuk membaca laporan yang melelahkan itu pada saat ini, pemuda itu pun menempatkan dirinya untuk duduk di beranda jendela yang tertutup dan menyandarkan punggungnya pada bingkai jendela itu, kaki kanannya pun dinaikkan di sana dengan tangan kanannya bertumpu pada lututnya. Di tatapnya sosok dirinya yang terpantul dari hadapan kaca jendela, ia terlihat begitu lelah namun semua hal itu ia tepis jauh-jauh.
"Akashi Seijuurou, putra dari Akashi Aiko atau Hiwatari Aiko dengan Akashi Akihiko. Aku bersumpah akan membunuhmu sebelum kurebut posisimu sebagai kaisar, Seijuurou," gumam Haizaki dengan lirih, ia pun meletakkan dahinya pada tumbuhan tangannya yang ada di atas lutut kaki kanannya. "Aku yang juga seorang Hiwatari dan seorang Haizaki tidak akan kalah denganmu."
Kediaman Nijimura, Kerajaan Elven Hitam
Di lain pihak pada waktu yang sama dengan apa yang dilakukan Haizaki, Seijuurou pun terlihat tengah berada pada posisi sama yang dilakukan oleh Haizaki. Hanya saja dirinya berada di dalam salah satu kamar yang disiapkan oleh Nijimura untuknya dengan tubuh Kuroko yang masih tertidur di atas tempat tidur, tatapan sepasang mata heterokrom milik Seijuurou masih belum berpindah dari sosok Kuroko yang ada di sana. Meskipun matanya masih terpatri pada sosok indah seorang Kuroko Tetsuya, tapi pikirannya pun telah melayang ke mana-mana.
Pemuda berambut merah darah tersebut akhirnya memejamkan kedua matanya sebelum menoleh ke arah jendela yang ada di sampingnya, dan detik berikutnya pun Seijuurou menatap pantulan dirinya yang tercermin dari kaca jendela tersebut. Mungkin sosoknya telah kembali pada usianya yang semula, namun beban yang ia pikul di bahunya itu masih belum berubah sejak dulu.
"Tetsuya adalah putra dari bibi Sakura, dan Okaa-sama membuatnya menjadi tunanganku, sangat lucu," komentar singkat yang terucap dari bibir Seijuurou, begitu lirih namun juga lantang pada saat yang sama.
Dari pemandangan yang ia lihat di luar jendela, Seijuurou bisa melihat sang mentari pun mulai keluar dari persembunyiannya untuk menggantikan malam dengan pagi. Pemuda itu pun menempelkan keningnya pada kaca jendela yang terasa dingin itu, ia sangat bersyukur suasana di sini sangat tenang sehingga ia pun bisa berpikir tanpa ada gangguan dari yang lainnya.
"Okaa-sama, kenapa kau sangat kejam pada kami?" tanya Seijuurou lirih pada dirinya sendiri, ia pun memejamkan kedua matanya lagi sebelum menghembuskan nafas singkat. "Kau membuatku dan sepupuku bertarung untuk merebutkan posisi itu, apakah itu hukuman yang kau berikan pada kami?"
Dan pertanyaan demi pertanyaan pun bergulir di benak Seijuurou, mengusik ketenangan yang sedari tadi ia ciptakan. Namun, tidak satu pun dari pertanyaan seputar dirinya, Haizaki, dan Kuroko pun mampu ia jawab secara seksama, bahkan untuk mencobanya pun terlihat sangat menakutkan. Pikiran Seijuurou beralih dari hal pelik itu untuk mengarah pada situasi yang ia miliki saat ini, dirinya dan Kiseki no Sedai sudah memiliki dua buah jiwa dari keduabelas penjaga gerbang mistis, sementara yang ada di tangan Haizaki ada satu buah, berarti masih ada sembilan buah lagi yang terpecah belah di dunia ini dan antara Kiseki no Sedai dengan Black Lily pun harus berlomba-lomba untuk mendapatkan mereka. Dan begitu kepingan terakhir sudah tersegel dengan sempurna, maka pertempuran terakhir untuk merebutkan posisi sebagai Kaisar di antara kedua pemimpin pun tidak akan terelakkan. Satu dari mereka akan muncul sebagai pemenang sementara yang lainnya akan terbunuh, atau mungkin mereka berdua tidak selamat dari pertempuran terakhir itu. Akashi Seijuurou dan Haizaki Shougo, takdir mereka telah terkait satu sama lain semenjadi mereka berdua dilahirkan ke dunia ini dalam naungan bintang yang sama, sebuah bintang yang menaungi keluarga Hiwatari sejak ribuan tahun yang lalu.
"Tidak ada yang mengatakan kalau menjadi seorang pemimpin itu mudah. Apa kau memiliki pemikiran yang sama denganku, Shougo?" tanya Seijuurou lagi, sebuah seringai kecil pun muncul di wajah tampan Seijuurou sebelum ia menatap sosok Kuroko yang terbaring di atas tempat tidur tersebut. "Aku tidak akan kalah darimu, Shougo, karena aku selalu menang dalam apapun,"
Sosok pemuda berambut merah pun beranjak dari posisinya yang semula untuk berjalan menghampiri Kuroko yang ada di sana, ditatapnya sosok Kuroko untuk beberapa saat sebelum Seijuurou membetulkan posisi selimut yang menyelimuti Kuroko, ia tidak ingin sang tunangan sakit karena udara di dunia ini lebih dingin dari yang ada di dunia manusia. Dan secara singkat Seijuurou pun mendekatkan wajahnya dengan milik Kuroko sebelum bibirnya itu mengecup singkat kening Kuroko.
"Selamat pagi, Tetsuya, hari yang baru telah menantimu."
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini 'kan, Sakura? Aku mau putramu itu menjadi pendamping dari kaisar kecilku, karena aku rasa mereka akan saling melengkapi di masa depan dan Tetsuya adalah pilihan yang tepat untuk menenangkan hati Seijuurou. Aku yakin akan hal itu dan perkataanku itu tidak pernah salah, adikku tersayang."
AN: Terima kasih sudah mampir dan menyempatkan untuk membaca
Author: Sky
