Halo, ini Epilog sekaligus chapter terakhir dari cerita ini!
Tapi kalo ada ide-ide nakal yang tiba-tiba muncul sih gak tau ya~
Mungkin dikasih ke Love Me Right aja hehe
Mari hiatus selama 2 bulan sebelum bisa nulis-nulis lagi~
Thanks for liking these story, tho.
Baca karya aku yang lain, jangan lupa Review!
.
.
.
.
"MAMAAAA!"
Kyungsoo yang sedang menyuapi bayinya, Taeyong, menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Taemin—yang masih dengan seragamnya—datang dengan wajah mengkerut dan berlari. Kyungsoo sudah hafal dengan sikap Taemin yang suka rewel begini. Maklum, anak gadis satu-satunya jika di rumah.
"Hmm?" responnya lembut.
Dengan wajah sebalnya, "Dada dan Oppa—ah! Mereka menyebalkan!" ia mengalihkan perhatiannya pada adiknya dan tersenyum lembut, "Halo, Taeyongie~" ucapnya yang kemudian mencium pipi gemuk adiknya.
"Dada dan Oppa? Kenapa?"
"Menyebalkan! Pokoknya besok Mama yang harus menjemput kami!" serunya yang kemudian duduk di samping Kyungsoo dengan tangan yang terlipat di dada.
Mungkin Kyungsoo sudah tahu apa yang terjadi. Hal ini sering—bahkan sangat sering—membuat Taemin sebal. Hampir setiap kejadian yang membuat Taemin marah selalu sama penyebabnya. Oh! Taeoh dan Taemin sudah bersekolah sekarang. Usia mereka sekitar lima tahunan. Dan setahun yang lalu mereka mendapatkan adik baru, Kim Taeyong. Taeoh sempat tidak ikhlas dengan kehadiran laki-laki lain di rumah, karena baginya, hadirnya si ayah saja sudah cukup membuat eksistensinya terancam. Apalagi dengan adik lagi, laki-laki pula. Tapi setelah berjalannya waktu, Taeoh terlihat menyayangi adiknya. Bahkan sepertinya akan mengajari adiknya yang tidak-tidak.
Tak lama kemudian, munculah Taeoh yang berjalan dengan cerianya dan disusul Jongin yang memakai pakaian kerja di belakangnya. Hari ini Jongin menyempatkan diri untuk menjemput anak kembarnya, bahkan sepertinya dia berniat untuk membolos setelah jam makan siang—karena project nya sudah selesai sekitar empat hari yang lalu.
"Mama! Aku pulang!" seru Taeoh yang kemudian menyambar sendok adiknya dan memasukkan makanan bayi itu ke mulutnya.
"Anak ini—" Kyungsoo terkejut, "Ganti baju dan cuci kaki, kalian berdua! Taemin juga! Belum bersih sudah mencium Taeyong tadi!"
Taemin mendelik ke arah ibunya dan kemudian berlalu dengan Taeoh yang mengekor di belakangnya. Sempat Kyungsoo mendengar Taemin menggerutu, 'Kenapa aku diikut sertakan padahal Oppa yang memulai—.
Jongin tertawa kecil ketika melihat kedua anaknya. Baginya, mereka berdua sudah tumbuh menjadi little evils. Suka bertengkar, berteriak, tapi selalu kompak jika mengerjai orang lain—bahkan orang tua mereka sendiri. Tapi Jongin mengakui jika mereka berdua good-looking, dan bahkan dengan sombongnya dia mengklaim bahwa anak kembarnya seperti itu berkat gen darinya—Kyungsoo selalu sebal dengan pernyataan ini. Memang, penyakit self-centered Jongin tidak pernah sembuh. Atau mungkin itu sudah menjadi watak dari pria itu.
"Hei—" Jongin mencium kening Kyungsoo, "Taeyongie baik-baik saja?" tanyanya.
"Diantara anak-anak kita sepertinya dia menjadi yang paling normal," Kyungsoo menghela nafasnya, "Semoga saja kau dan Taeoh tidak memberikan perngaruh buruk saja aku sudah lega," sindirnya.
"YA! Kenapa jadi aku?"
"Lihat, jika kau yang menjemput Taemin selalu marah begitu. Dan dia selalu menyebut 'Karena Dada dan Oppa—'. Penyebabnya masih sama, 'kan?"
Jongin tertawa seraya menggaruk tengkuknya, "Dia anak perempuanku satu-satunya, Soo. Bukankah wajar jika aku begitu?"
"Haish!" Kyungsoo memukulkan sendok Taeyong ke kepala Jongin, "Anak perempuan satu-satunya bukan berarti harus melarang dia dekat dengan anak laki-laki. Dia masih kecil, Jongin. Lagipula, kau tidak pernah melarang Taeoh menggoda siswa perempuan lainnya. Itu pilih kasih."
"Hei~ justru aku tidak pilih kasih. Sekarang coba perhatikan, aku bersikap seperti itu agar Taemin tidak mudah didekati. Dan Taeoh... aku pikir sebagai laki-laki wajar jika begitu."
Kyungsoo menghela nafasnya, "Berarti sama saja kau mencetak Taemin agar tidak didekati laki-laki seperti Taeoh," ia berdiri dan pergi ke dapur, "Aku tidak mengerti dengan keluarga ini, Tuhan—" gumamnya.
Jongin yang mendengar hal itu tertawa terbahak-bahak. Hal-hal seperti itu sudah wajar terjadi di keluarganya. Justru kelakuan aneh keluarganya itu yang selalu membuatnya rindu jika sedang lembur di kantor. Sekarang dia mendudukkan Taeyong di pangkuannya. Anak lelakinya yang satu ini meskipun sepertinya punya wajah yang lebih kaku, tapi dia lebih behave. Tidak seperti kedua kakaknya yang suka merengek ketika masih kecil dulu.
Kehadiran Taeyong sebenarnya tidak disengaja. Secara tiba-tiba saja dia muncul. Bukannya tidak suka, tapi Kyungsoo tidak menyangka akan punya anak lagi. Ketika ia tahu anaknya laki-laki, ia selalu berharap sifat ayah dan kakak tertuanya tidak menular. Maka dari itu Kyungsoo agak protektif pada anak bungsunya itu. Jongin sempat protes dengan kelakuan istrinya, tapi jika dilihat-lihat lagi alasan Kyungsoo cukup masuk akal.
Jongin menyusul Kyungsoo yang sedang menyiapkan makan siang dengan Taeyong di dekapannya. Anak laki-lakinya itu tidak pernah protes. Mirip dengan Daebak ketika masih bayi. Bahkan Taeyong tidak pernah rewel ketika lapar ataupun terbangun dari tidurnya. Terkadang Kyungsoo bercanda jika dia bisa lupa jika punya anak satu lagi—karena saking diamnya Taeyong. Bahkan Kyungsoo menganggap hanya dia dan Taeyong lah yang tidak bersikap iblis jika di rumah—sepertinya Kyungsoo sudah terinfeksi dengan penyakit self-centered dari Jongin.
"Panggil anak-anak. Suruh mereka makan," ucap Kyungsoo.
"Baik, Nyonya Besar. Jangan marah begitu," bujuk Jongin.
"Kim Jongin—"
"Berangkat!" serunya yang kemudian berlari dengan Taeyong yang tergelak di dekapannya.
.
.
.
Setelah makan siang, Taeoh dan Taemin duduk di ruang tengah—bersama kedua orang tua dan adiknya tentu saja. Mereka baru saja menerima ceramah dari Kyungsoo karena sempat berebut makanan. Anak-anak itu sebenarnya tidak nakal, hanya saja mereka sering tidak akur. Walaupun begitu, Taeoh, sebagai kakak, selalu protektif pada Taemin. Seringkali berlebihan dan membuat Taemin risih. Pernah suatu hari, ketika di sekolah, ada yang menjahili Taemin hingga menangis. Dan ketika Taeoh tahu siapa yang melakukannya, dia berteriak dan memarahi si pelaku. Pada hari itu Taemin bersyukur mempunyai Taeoh sebagai kakaknya. Selebihnya dia menderita—baik ini berlebihan.
"Nini, Soojung tadi menghubungiku. Dia mengatakan jika akhir pekan nanti mereka mengajak kita piknik," ucap Kyungsoo seraya menepuk-nepuk punggung Taeyong yang tertidur.
Jongin bergumam, "Myungsoo Hyung tidak memberitahuku—baiklah. Apa Chanyeol Hyung dan Baekhyun Noona ikut?"
Kyungsoo mengangguk, "Mereka mengajak Yoonhee juga. Jadi mau tak mau kita mengajak mereka. Lagipula aku tidak mau jika mereka terus-terusan di rumah jika akhir pekan tiba."
"Ah... dalam apa mereka mengajak kita piknik? Yang aku tahu Myungsoo Hyung sedang sibuk akhir-akhir ini."
"Entah. Kata Soojung dia sedang bosan. Lagipula kasihan dia. Myungsoo selalu mengurungnya di rumah."
"Myungsoo Hyung selalu begitu jika terobsesi dengan sesuatu. Tidak heran jika dia memperlakukan Soojung begitu."
Kyungsoo mengangguk setuju. Ia sudah paham dengan kelakuan kakak iparnya—yang lebih muda darinya itu. Terkadang dia bertanya-tanya mengapa terjebak di lingkungan dengan orang-orang aneh begini. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, dia sama anehnya.
Keluarga mereka menjadi lebih besar karena anak-anak mereka. Ditambah lagi Taeyong dan Jiyeon—anak perempuan Myungsoo—yang masih belum berbicara. Ngomong-ngomong soal Jiyeon, anak itu seumuran dengan Taeyong. Mungkin hanya berjarak dua minggu—Jiyeon lebih dulu lahir. Jiyeon punya wajah anime seperti Myungsoo dan berbakat menjadi seseorang yang bitchy seperti Soojung. Sepertinya jika dewasa nanti Jiyeon berubah menjadi gadis yang bisa membuat banyak laki-laki patah hati karena sifatnya.
Taeoh dan Taemin sekarang bermain lego. Mereka berdua akur jika sedang bermain—kecuali jika berebut. Disaat akur begini mereka terlihat sangat manis. Apalagi terkadang Taeoh memuji adiknya jika adiknya melakukan sesuatu dengan benar. Sebenarnya Jongin dan Kyungsoo tahu jika Taeoh bisa menjadi kakak laki-laki yang baik, hanya saja sifat jahil dan protektifnya itu membuat Taemin terganggu. Lagipula sifat ini dia dapat dari Jongin. Memang, Jongin carbon copy.
"Taeminnie, apa yang dilakukan Dada dan Oppa tadi di sekolah?" tanya Kyungsoo.
Taemin yang sibuk dengan lego berbentuk rumahnya itu menjawab, "Dada dan Oppa bilang jika aku tidak boleh dekat-dekat dengan teman-teman laki-lakiku. 'Kan aku juga ingin punya teman laki-laki, Ma."
"Astaga—setiap hari keluhannya sama," Kyungsoo menghela nafas, "Memangnya Taemin bersama siapa tadi?" interogasinya.
"Jinki. Padahal Mama tahu, Jinki itu anak yang baik dan tidak suka menggoda seperti Oppa," ucapnya seraya mendelik ke arah Taeoh.
"Jangan percaya dengan Taemin, Ma," ucap Taeoh membela diri.
"Sudah—Taeoh, jangan melarang Taemin ini itu jika di sekolah. Taemin juga, jangan menuduh Oppa sembarangan. Mengerti?" mereka berdua mengangguk, "Dan kau, Dada. Jangan protektif pada anak perempuanmu."
"Tapi—"
"Mereka masih kecil, Nini."
Jongin mendengus kalah, "Diusahakan," ucapnya.
Jika sudah keluar jiwa memerintah dari Kyungsoo, Jongin akan menciut. Ia tidak pernah menyangka kalau Kyungsoo punya sifat begitu. Apalagi semenjak mereka punya anak, Kyungsoo seperti punya hak istimewa untuk berkata ini itu. Jongin tidak mempermasalahkan hal tersebut, baginya, Kyungsoo semakin menarik jika sedang mendominasi begitu—dih, masokis.
.
.
.
Akhir pekan tiba. Kyungsoo, dengan repotnya mengendalikan si kembar yang riuh di kursi penumpang. Untung saja Taeyong tetap terlelap walaupun kedua kakaknya bernyanyi dengan keras—padahal Jongin dan Kyungsoo terganggunya bukan main. Mereka berdua antusias, apalagi Taeoh. Karena dia akan segera bertemu Yoonhee. Hul, sepertinya prediksi Baekhyun benar jika Taeoh akan mengejar Yoonhee suatu saat nanti—bahkan dimulai dari sekarang. Dan Kyungsoo tidak menyangka jika ada Yoonhee, Taeoh tidak akan berlari bersama anak-anak perempuan lainnya. Bahkan terkadang jika ada anak perempuan yang mendekat, Taeoh akan menolak dengan alasan ingin bermain dengan Yoonhee. Taeoh sedikit tenar di kalangan noona-noona nya memang.
Sesampainya di tempat piknik, sudah ada yang lainnya. Ah, mereka yang paling terakhir hadir—ini karena Kyungsoo harus mengatur si kembar dan Jongin sedang menjadi seorang pemalas. Ketika mereka sampai, Chanyeol langsung berlari dan mengambil Taeyong yang sudah berpindah ke gendongan Jongin. Kyungsoo memperkirakan jika Chanyeol sedang menginginkan anak laki-laki. Dan Kyungsoo juga memperkirakan jika mungkin pasangan itu akan punya anak sekitar empat atau lima orang lagi.
"Maaf kami terlambat," ucap Kyungsoo.
"Troubled that much?" tanya Myungsoo.
Wanita itu mengangguk, "Bersyukurlah karena kau tidak punya anak kembar yang hiperaktif seperti mereka."
Seperti dugaan awal, Taeoh langsung menempel pada Yoonhee. Mereka berdua kemudian mengajak Taemin untuk bermain bersama anak-anak kecil yang lain—padahal sebelumnya Taemin sibuk memainkan tangan Jiyeon. Jika dilihat-lihat lagi, serasa Taemin menjadi maknae diantara mereka bertiga. Apalagi dengan sikap Yoonhee yang lebih mandiri daripada Taemin sendiri.
Jarang-jarang mereka berkumpul begini. Dengan keluarga masing-masing, mereka tidak pernah punya waktu untuk berkumpul seperti sekarang. Terakhir mereka bersama-sama mungkin sekitar dua atau tiga bulan yang lalu, itupun tidak dengan waktu yang lama. Kesibukan masing-masing membuat mereka jarang bertemu. Mungkin yang sering bertemu hanya Jongin dengan Chanyeol. Bahkan Jongin dengan Myungsoo pun jarang bertemu.
Disaat mereka sedang berbincang bersama, keributan pun mulai terjadi, "MAMA!" teriak Taemin dengan wajah yang meringsut.
Kyungsoo meraih anaknya dan mendudukkan di pangkuannya, "Apa, Sayang?"
"Oppa—aku tidak mau bermain bersama Oppa," keluhnya dengan pipi yang menggembung.
Sempat terdengar gerutuan dari Jongin, 'Duh—iblis lelakiku' dan mendapatkan lirikan tajam dari Kyungsoo.
"Oppa kenapa?" tanya Kyungsoo seraya mengusap rambut Taemin.
"Oppa selalu melarang ini, itu, tidak boleh berlari—padahal Oppa dan Yoonhee sedang bermain. Aku juga ingin bermain tapi Oppa bilang aku akan jatuh jika berlari. Aku sudah besar, Ma!" protesnya.
Kejadian ini terulang lagi. Entah bagaimana mulainya, yang jelas Taeoh selalu bersikap protektif, bahkan terkadang membuat adiknya sebal. Taeoh memang benar-benar mirip Jongin, yang selalu melarang Taemin ini itu. Mungkin karena Taemin satu-satunya anak perempuan. Hmm... mungkin begitu.
Jongin sering bilang jika suatu saat nanti, dia dan Taeoh akan bekerja sama untuk menyeleksi siapa calon teman kencan Taemin. Dan jika mereka berdua nanti tidak menyetujui pria tersebut, maka Taemin tidak boleh berkencan dengannya. Terlihat curang, tapi itu nampaknya cita-cita Jongin. Lagipula dengan gelar mantan playboy tentu dia akan tahu siapa laki-laki yang baik untuk anak perempuannya. Dan dia akan melarang orang seperti dirinya untuk mendekati Taemin—padahal ingin Taeoh seperti dirinya. Sedikit gila, tapi Jongin menginginkan itu.
Jongin bilang kalau sepertinya Taeoh akan menyelesaikan petualangannya pada Yoonhee. Memang konyol, tapi nampaknya keluarga besar mereka setuju. Taeoh yang masih kecil itu suka menempel dengan Yoonhee, dan Yoonhee pun sama. Meskipun dengan gaya khas tsundere nya, tapi mereka yakin jika Yoonhee akan menyukai Taeoh nantinya.
"Dada~" sapa Taeoh yang datang dengan keringatnya.
"Hei—kenapa Taemin kembali dengan wajah seperti itu? Jelaskan padaku, Big Brother," tanya Jongin.
"Hmm... aku melarang Taemin untuk berlarian—tapi Dada, Taemin akan menangis jika jatuh. Jadi aku tidak mau dia menangis," jawabnya.
Ini mengharukan, tapi tanggapan Taemin tidak sesuai dengan semestinya. Dia hanya mendelik pada Taeoh yang berusaha membujuk agar tidak marah. Mereka sangat unik, seperti orang tuanya yang juga berpikiran dengan jalan yang tidak norma.
"Aku sudah besar, Mama. Aku tidak akan menangis—"
"Tapi Taemin menangis ketika jatuh di kamar kemarin, Ma!"
Kyungsoo mendengus kesal. Entah mengapa keluarganya begini. Bukannya tidak suka—ini justru adorable. Tapi terkadang dia ingin keluarganya damai tanpa ada yang bertengkar. Taemin dan Taeoh memang bukan tipikal kembar yang damai; karena mereka bertengkar sepanjang waktu.
Taeoh berlari lagi dan meninggalkan yang lainnya—Yoonhee juga, yang sekarang terdampar di pangkuan Baekhyun. Anak itu berlari menuju segerombolan anak-anak yang juga sedang bermain disana. Dia anak yang aktif—mungkin cenderung hiperaktif. Hingga Kyungsoo berpikir untuk menjadikannya atlet suatu hari nanti.
Tak berselang lama, Taeoh kembali. Keringatnya sudah membasahi baju bergambar Captain America nya. Bahkan kata Jongin Taeoh sangat bau sekarang.
"Ma," ucap Taeoh.
"Hmm?"
"Tadi aku berkenalan dengan anak disana—"
"Siapa?" tanya Taemin.
"Namanya Haneul. Dia sangat cantik, Ma~"
"Oh, Tuhan—"
Yang lainnya tertawa. Semua menyadari jika gen dari Jongin turun pada Taeoh hingga sifat-sifatnya sekalipun. Jongin sendiri hanya tersenyum kikuk ketika Kyungsoo memasang wajah memelas padanya. Disaat umurnya masih sekitar lima tahun, Taeoh bisa memilih siapa gadis yang cantik, dan yang bukan. Bahkan kata Jongin, selera Taeoh lebih bagus darinya. Jongin junior, indeed.
.
.
.
Mereka kembali ke rumah sudah sore hari. Dengan Taeoh yang tertidur di bangku belakang dan mulut yang terbuka lebar, dan Taemin yang bernyanyi dengan riangnya. Jongin menggandeng Taeoh dan Taemin—karena takut Taeoh akan menabrak jika mengantuk begitu. Sedangkan Kyungsoo menggendong Taeyong yang menatapnya dengan polos. Kyungsoo selalu menyukai tatapan Taeyong, karena baginya hanya Taeyong lah yang membuat dirinya tenang ketika kakak-kakaknya bertengkar. Si kembar memang sering bertengkar, tapi selalu cepat berdamai. Ibaratnya, dengan intensitas yang sering, tapi durasinya singkat.
"Mandi semua, kalian. Mama akan memandikan Taeyong," ucap Kyungsoo.
"Bajuku dimana, Ma?" tanya Taemin.
"Tanya Dada, Sayang. Biar Dada yang menyiapkan!" seru Kyungsoo yang masuk ke kamar mandi bersama Taemin.
Taeyong menyukai air—bahkan sangat suka. Ini salah satu hal yang Kyungsoo tidak suka dari Taeyong, karena anak bungsunya itu selalu menangis jika dikeluarkan dari air. Dan jika sudah begitu, Kyungsoo akan keluar dengan keadaan yang basah kuyup.
Jongin bertugas memandikan si kembar yang suka riuh jika di kamar mandi. Terkadang Jongin harus memarahi mereka berdua karena selalu berlama-lama ketika bermain. Ah, mereka berdua—si kembar maksudnya—selalu takut jika Jongin sudah mendelik atau berekspresi kaku. Bagi mereka, Mama Peri, dan Dada Setan. Mungkin kasarnya begitu.
Malam harinya, anak-anak mereka sudah tertidur pulas. Dengan keadaan yang dibuat pontang-panting oleh si kembar, Jongin merebahkan dirinya di samping Kyungsoo yang sedang membaca sebuah buku disana.
"Duh—setan-setan itu," keluh Jongin.
"YA! Mereka anakmu!"
"Aku tahu," dia melingkarkan lengannya pada pinggang Kyungsoo, "Apa yang kau pikirkan dulu hingga punya anak-anak seperti mereka?"
"Astaga—seharusnya kau berpikir mengapa kau bisa memberikan gen seperti itu."
"Aku yang salah?"
"Tentu!"
Jongin tertawa, "Baiklah~ tapi aku pikir-pikir lagi, mereka lebih pintar dari anak-anak seusianya. Berarti itu juga gen dariku, 'kan?"
"Kalau itu dariku—"
"YA! Kenapa yang jelek-jelek saja yang kau limpahkan padaku?" protes Jongin.
"Karena... hmm... pokoknya kau yang memberikan pengaruh buruk pada mereka," goda Kyungsoo.
"Cih," Jongin mendelik, "Kalau Taeyong?"
"Semua dariku. Semuanya," bela Kyungsoo.
"Karena dia pendiam?"
"Tentu! Dia... tunggu, aku juga terkadang bingung kenapa dia bisa sedamai itu."
"Karena dia mirip denganku."
"Bullshit."
"Your bullshit."
"I hate you, though," ucap Kyungsoo ketus.
"Iyakah? Kalau kau membenciku maka seharusnya tidak ada bonus, 'kan?"
Kyungsoo mengerutkan alisnya "Maksudnya... bonus?"
"Taeyong. Kim Taeyong. Kalau kau membenciku, kau pasti tidak mau tidur denganku hingga menghasilkan—"
"YA!"
Kyungsoo memukulkan bukunya pada Jongin yang sekarang tertawa walaupun sebenarnya kesakitan. Meskipun Jongin bodoh, Kyungsoo membencinya. Iya, Kyungsoo seorang tsundere juga. Orang yang gengsi berkata romantis. Berbeda dengan Jongin yang suka melemparkan gombalan-gombalan menjijikkan. Jika Kyungsoo mendengar itu, dia pasti mengatakan itu menjijikkan. Meskipun sebenarnya dia senang bukan main.
Kyungsoo bersyukur punya iblis seperti si kembar. Iblis nakal yang perhatian dann manja pada Kyungsoo. Anak-anaknya memang kadang membuatnya lelah. Tapi lelah itu terbayarkan ketika melihat mereka makan dengan lahap dan tidur dengan pulas. Apalagi jika mereka tertawa dengan ceria. Terlebih lagi jika mereka berkata 'Kami sayang Mama—'. Meskipun anak-anaknya suka berkata sarkas, tapi dia tahu jika mereka sebenarnya tulus.
Ah—Keluarga Kim. Kadang aku merindukan mereka juga. Membayangkan kehidupan mereka yang menyenangkan serasa ikut tertawa sendiri. Tentang Jongin yang dewasa tapi mesum, dan Kyungsoo yang pemarah tapi sabar. Apalagi dengan anak-anak mereka yang nakal—scratch, jahil—nya bukan main itu.
.
.
.
Sekian dari keluarga Kim. Annyeong! ^^
