AKATSUKI KELILING DUNIA

Chapter 25. Mexico

Desclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Humor/Adventure

Rating : K+

Summary :Akatsuki mendapatkan hadiah keliling dunia secara gratis bersama Naruto si tourguide ceroboh dan Sasuke si pilot dadakan. ""YA DEWA JASHIN! SELAMATKANLAH KAMII! HOMINA HOMINA HOMINA!"/"KAMI-SAMA! JANGAN BIARKAN AKU MATI DULU, AKU BELUM MENIKAH!"/"KAMI-SAMA, TIDAK APA-APA MEREKA MATI, ASAL JANGAN KAU AMBIL KOPER UANGKU!"/"JANGAN BERISIK, UN!"

.

.

.

Bus yang ditumpangi Akatsuki tiba-tiba saja mogok. Mereka semua terdampar di depan sebuah bangunan tua yang sepertinya sudah lama tidak dipakai. Bangunan besar itu gelap dan kumuh.

"Apa ada yang bisa memeriksa bus ini?" tanya Nagato.

Hening. Tak ada satu pun dari mereka yang tahu cara memperbaiki bus yang mogok. Saat sedang melihat-lihat keadaan sekitar, Sakura mendapati sebuah iklan bengkel panggilan.

"Telepon saja bengkel," usul Sakura sambil menunjuk selembar iklan yang tertempel di tiang jalan.

"Baiklah, aku akan telepon bengkel dan menyuruhnya datang kemari," ucap Nagato.

Selagi menunggu orang bengkel, Akatsuki pun turun dari bis untuk melihat-lihat sekitar. Jalanan itu begitu sepi, bahkan semenjak mereka tiba belum ada satu pun kendaraan yang lewat.

"Sial! Kita sudah telat ke acara konsernya, huhuhu," Pein merutuki nasibnya karena gagal melihat Mei Terumi beraksi.

"Benar, padahal aku sudah tidak sabar," tambah Naruto.

"Ini gara-gara Itachi yang menggunakan peta keparat itu!" ujar Hidan. Saat sedang asyik mengobrol tiba-tiba mereka semua dikagetkan oleh kedatangan seseorang yang muncul dari belakang mereka.

"Kalian sedang apa?" tanya orang tersebut. Akatsuki pun menengok ke sumber suara. Disana berdiri seorang perempuan berambut cokelat dan berpakaian serba putih.

"Bis kami mogok," jawab Sakura.

"Kenapa ada wanita cantik berkeliaran ditempat sepi begini?" bisik Hidan.

"Kenapa juga dia harus berpakaian serba putih begitu?" Kisame malah balik bertanya.

"Mau aku bantu perbaiki? Tapi sebagai gantinya kalian harus menolongku," tanya wanita tersebut. Akatsuki saling bertukar pandang, setelah itu mereka tertawa terbahak-bahak.

"Ahahahhahaa!"

"Mana bisa perempuan memperbaiki bus!"

"Ahahhahaha!"

"Mungkin dia pikir bisa memperbaiki bus dengan lipstik!"

"Wahaahaha!"

"Aku ini bisa memperbaiki bis, mobil, kapal, bahkan pesawat sekalipun, tahu!" ucap wanita tersebut dengan nada dongkol.

"Apa dia bilang? Memperbaiki pesawat? Ahahaahaha!" Naruto tertawa terpingkal-pingkal.

"Dia sungguh punya imajinasi yang tinggi! Ahahaha!" Sasori ikut berkomentar. Wanita berambut cokelat itu memerah karena kesal. Ia pun mengentakkan kakinya ke tanah. Dan sedetik kemudian terdengar suara petir menyambar di dekat rombongan Akatsuki.

DUAAARRR!

Akatsuki yang sedang tertawa pun segera menutup mulutnya dan berpelukan saking kagetnya.

"Ke-kenapa ada petir di cuaca yang cerah begini?" tanya Naruto dengan wajah pucat.

"E-entahlah mungkin cuaca di Amerika memang begini," jawab Itachi.

"Tidak juga, selama 3 tahun aku tinggal disini, tidak pernah ada petir tiba-tiba menyambar begitu kok," bantah Nagato.

"Jangan menakut-nakuti kami dong!" protes Naruto.

"Hei, sebaiknya kau pulang, ini sudah malam," ujar Konan.

"Tidak, aku tidak mau pulang! Aku mau masuk ke dalam gedung itu saja!" ucap wanita tersebut sambil menunjuk gedung tua yang gelap.

"Hee? Untuk apa kau pergi ke sana? Memangnya kau mau uji nyali?!" tanya Naruto.

"Aku mau mencari sesuatu, aku tidak bisa pulang tanpa itu. Dan benda itu ada di dalam gedung!" wanita itu mulai mendekati gedung tersebut.

"Hei! Cepat hentikan dia! Di dalam sana bisa bahaya!" titah Konan. Pein pun segera menghampiri wanita berambut cokelat itu.

"Hei, bagaimana kalau carinya nanti pagi saja? Sekarang kau pulang dulu," bujuk Pein.

"Tidak mau! Sudah aku bilang aku tidak bisa pulang tanpa benda itu!"

"Sepertinya gadis itu akan dimarahi ibunya jika tidak menemukan barang yang ia cari. Sebaiknya kita tolong saja," usul Sasori.

"Maaf saja ya, tapi mencari barang di tempat gelap dan luas seperti itu butuh tenaga, makanan, dan juga semangat. Kalau tidak ada bayarannya, aku tidak mau!" ujar Kakuzu.

"Dasar lintah darat," umpat Sasori.

"Aku akan membantu anak itu," ucap Nagato kemudian menyusul Pein yang sedang membujuk wanita tersebut. Diikuti Sasori, Deidara, Naruto dan Itachi.

Mereka bertujuh pun memasuki gedung gelap tersebut dengan bantuan senter dari ponsel baru Naruto. Sarang laba-laba memenuhi setiap celah pintu tua itu.

"Sepertinya tidak ada tanda-tanda orang yang pernah masuk kesini, apa kau yakin barangmu tertinggal disini?" tanya Nagato.

"Benar, barangku ada disini. Benda putih yang terdiri dari beberapa bagian," jelas wanita tersebut yang ternyata bernama Ayame.

"Warna putih? Apa itu lempung, un?" tanya Deidara.

"Bukan, benda ini keras."

"Apa itu lempung yang beku, un?"

"Sudah ku bilang itu bukan lempung!"

"Lalu benda apa yang kau cari? Bagaimana kita mencari benda yang kita tidak tahu?!" tanya Sasori sedikit emosi.

"Pokoknya benda itu punya tangan, kaki dan bagian-bagian lain."

"Maksudmu boneka? Kenapa kau tidak bilang dari tadi!" kesal Sasori.

"Bukan boneka! Pokoknya cari benda itu sampai ketemu!"

"Baiklah-baiklah, kita berpencar saja bagaimana? Tempat ini terlalu luas jika kita mencarinya bersama-sama," usul Nagato.

"A-apa, un? Tapi tempat ini seram, aku tidak mau berjalan-jalan sendirian."

"Kita bagi dua kelompok saja, aku Naruto dan Pein akan ke arah sana, sisanya ke sana," jelas Nagato sambil menunjuk kiri dan kanan.

"Hmm, baiklah, aku setuju!" ucap Itachi.

"Aku mau mencari kesini saja, kalian ke sana!" ucap Ayame sambil berlari menuju tangga lantai dua.

"Woi! Dasar gadis itu! Kalau dia nyasar bagaimana?" omel Naruto.

"Sepertinya dia sudah terbiasa main disini, un. Dia bahkan tidak punya rasa takut sedikitpun."

Mereka berenam pun berpencar menjadi dua bagian sesuai dengan pembagian kelompok yang disebutkan Nagato. Team Naruto berjalan ke arah kiri sementara Team Itachi berjalan ke arah kanan.

.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya seorang petugas bengkel yang dihubungi oleh Nagato pun datang.

"Kenapa bisa mogok disini?" tanya Teuchi si petugas bengkel. Saat ini ia tengah memeriksa mesin bus seraya berbincang dengan Hidan dan Kakuzu.

"Entahlah, kita nyasar dan bis nya tiba-tiba mogok," sahut Hidan.

"Tidak heran sih, banyak juga kendaraan lain yang mogok disini. Ada mitos yang mengatakan bahwa gedung itu berhantu. Dan kendaraan di buat mogok untuk menjebak mereka."

"Huahahahhaa! Hantu itu tidak ada, benarkan Kakuzu?" Hidan mencari pembenaran.

"Iya, kalaupun ada akan aku tangkap dan akan ku jual ke pasukan sirkus. Mereka pasti akan membayar mahal," ucap Kakuzu sambil mengorek-ngorek selokan.

"Hahaha, syukurlah kalau kalian tidak takut hantu. Karena baru-baru ini pun katanya ada yang terjebak dengan hantu itu. Sosok hantu wanita berambut cokelat dengan pakaian serba putih tiba-tiba muncul dan mengajak mereka masuk ke dalam gedung, tapi paginya, mereka ditemukan mati di dalam gedung," jelas Teuchi. Hidan terdiam sejenak. Sementara Kakuzu masih asyik dengan aktivitasnya sendiri. Jika ada yang bingung Kakuzu sedang apa, dia sedang mencari uang receh yang mungkin terselip di selokan.

"Wanita berambut cokelat dengan baju putih? Rasanya aku pernah melihatnya," gumam Hidan.

"Maksudmu wanita yang masuk ke dalam gedung bersama Pein?" tanya Kakuzu.

"Eh?! Benar juga! Apa kau serius? Jadi wanita itu hantu?!" pekik Hidan.

"Hah? Kalian bertemu dengan hantu itu?" tanya Teuchi.

"Iya! Bahkan 6 orang teman kami masuk ke dalam sana! Bagaimana ini? Bagaimana kalau mereka mati?!" pekik Hidan.

"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya Konan yang sedang duduk di pintu bus.

"Gawat! Ini gawat! Katanya wanita berambut cokelat dengan baju putih itu hantu! Dan dia sudah membawa Pein dan yang lainnya ke dalam gedung itu!" jelas Hidan yang kini menjadi pusat perhatian yang lainnya. Akatsuki pun panik dan bergegas menuju gedung itu untuk menjemput Pein dan yang lainnya.

Namun saat mereka di depan pintu gedung, mereka semua malah saling dorong karena tidak mau jalan duluan.

"Kau saja duluan, badanmu kan paling besar!" desak Hidan pada Kisame.

"Apa hubungannya, sialan! Kakuzu saja yang duluan dia kan paling tua disini!"

"Maaf saja ya, aku hanya mau jalan duluan kalau mencari uang," sahut Kakuzu.

"Kau bilang akan menangkap hantu dan menjualnya ke tukang sirkus!" tandas Hidan.

"Apa? Kapan aku mengatakannya? Kau punya bukti?" elak Kakuzu.

"Dasar si kampret ini!" Hidan terpancing emosi.

"Sudah, jangan bertengkar! Biar Tobi saja yang masuk duluan! Ayo senpai, ikuti Tobi!" ucap Tobi dengan semangat. Dengan ragu, mereka pun mengikuti Tobi memasuki gedung tersebut. Dengan bantuan cahaya ponsel, mereka menyusuri gedung untuk mencari Pein dan yang lainnya.

Sementara itu, di luar gedung, Ayame berjalan menghampiri Teuchi yang kini sudah duduk di kursi sopir bus. Setelah Ayame masuk ke dalam bus, Teuchi pun menginjak gas dan segera melesat dari tempat tersebut.

"Kerja bagus, Ayame!" puji sang ayah, Teuchi.

"Mereka sangat mudah untuk dibodoh-bodohi," ucap Ayame dengan nada meremehkan. Yah, mereka berdua adalah penipu handal untuk mencuri mobil ataupun kendaraan lain dengan cara menyamar sebagai hantu dan petugas bengkel.

.

Setelah lama berjalan, akhirnya team Tobi bertemu dengan Team Naruto yang berada di sebuah ruangan. Setelah menceritakan bahwa wanita itu Hantu, mereka pun melanjutkan perjalanan untuk mencari Team Sasori. Tapi sebelum mereka melangkah jauh, Pein bertanya sesuatu...

"Kenapa tidak telepon mereka saja?" tanya Pein.

"Astaga! Saking paniknya aku tidak ingat!" Sakura menepuk jidatnya.

"Untuk apa meneleponnya kalau kita bisa mencarinya? Menelepon hanya akan buang-buang pulsa! Itu artinya buang-buang uang!" tandas Kakuzu.

"Ingatkan aku untuk melemparnya ke segitiga bermuda nanti," gumam Hidan.

Naruto pun menelepon Itachi dan menyuruh mereka bertiga untuk segera keluar dari gedung. Team Itachi pun keluar lebih dulu dan disusul oleh rombongan yang lainnya beberapa menit kemudian.

"Ada apa sih? Kenapa kami disuruh keluar?" tanya Sasori.

"Ka-katanya wanita itu hantu!" jelas Naruto.

"Apaa? Apa kau serius, un? Tapi aku lihat kakinya menapak, kok!"

"Entahlah, Hidan yang bilang," adu Naruto.

"Aku juga tahu dari petugas bengkel, dia bilang tempat ini memang angker! Ayo cepat kita kembali ke bus!" sahut Hidan. Setelah itu mereka pun berlarian menuju jalanan karena takut.

Saat mereka tiba di jalanan, mereka tampak celingak celinguk mencari bus yang sebelumnya terparkir di jalan tersebut.

"Mana bus kita?" tanya Nagato.

"Kita tidak salah tempat kan?" tanya Konan meyakinkan.

"Tidak, aku yakin sekali busnya disini tadi!" seru Zetsu.

Saat mereka tengah kebingungan, sebuah mobil berhenti di jalan tersebut dan keluarlah dua orang berpakaian khas bengkel menghampiri mereka. Dua orang tersebut ternyata adalah petugas bengkel yang asli yang di telepon oleh Nagato. Dan Akatsuki cs pun akhirnya menyadari bahwa bus mereka telah di curi, lengkap dengan tas dan barang bawaan mereka.

"Huaaa! Taskuu! Padahal di dalamnya ada barbie baruku, hueee!" Sasori menangisi kopernya yang berada di dalam bus.

"Sial! Charger ponselku ada di tas!" keluh Naruto. Hampir semua orang mengeluh kecuali Kakuzu. "Untung aku selalu membawa koperku kemana-mana," gumamnya seraya mengusap-usap koper hitamnya.

"Lalu bagaimana caranya kita ke bandara?" tanya Sakura dengan nada pasrah. Namun sejurus kemudian matanya berbinar begitu melihat mobil milik petugas bengkel. Ide cemerlang tiba-tiba saja muncul di kepalanya. Ia pun segera membisikkan rencananya pada Kakuzu yang kebetulan ada di sampingnya. Pria bercadar itu pun mengerti dan berjalan mendekati kedua petugas bengkel. Kakuzu tampak berbincang bersama mereka. Sementara Sakura memberitahu Akatsuki yang lain tentang rencananya. Setelah itu Kakuzu kembali mendekati Sakura seraya memberikan sebuah kunci mobil. Rupanya bakat menguntit milik Kakuzu ada gunanya juga.

Kali ini giliran Naruto yang beraksi, ia mengalihkan perhatian petugas bengkel itu sambil berjalan pura-pura mencari bis mereka. Saat itulah kesempatan bagi Sakura dan Akatsuki cs untuk masuk ke dalam mobil tersebut. Untunglah karena mobil itu cukup luas, semua Akatsuki bisa masuk meskipun harus desak-desakkan bahkan pangku-pangkuan.

"Ayo, cepat maju!" ucap Konan yang duduk di kursi samping sopir bersama Sakura.

"Tunggu dulu, un! Kenapa aku yang jadi sopirnya?" tanya Deidara yang entah mengapa duduk di kursi sopir. Mungkin karena panik mereka semua duduk di sembarang tempat.

"Memangnya kenapa? Kau bisa menyetirkan?" tanya Sakura.

"Bisa sih, tapi aku tidak punya SIM, un!"

"Persetan dengan SIM! Kita dalam keadaan genting, tahu! Cepat maju dan jemput si Naruto!" desak Hidan.

Deidara pun menginjak gas mobil tersebut menuju ke tempat Naruto sambil membuka pintu tengah mobil agar Naruto bisa masuk dengan cepat.

"Woi, Naruto! Sekarang!" teriak Itachi. Naruto pun segera melompat ke dalam mobil, meninggalkan dua orang petugas bengkel yang berlari mengejar mobil mereka.

"Apa tidak apa-apa kita mencuri mobil ini?" tanya Tobi si anak baik.

"Kita tidak mencuri, Tobi! Hanya meminjam," jelas Konan.

"Kita kemana, un?" tanya Deidara.

"Itu lihat, ada petunjuk arah! Bandara Internasional belok kanan!" ucap Pein yang kepalanya keluar jendela karena di dalam mobil terlalu pengap.

"Baiklah kita belok kanan, un!"

Deidara pun banting setir ke arah kanan. Saat ia berbelok, banyak mobil yang memberikannya klakson.

"Woi! Jangan langsung belok begitu! Kita bisa mengundang curiga para polisi, tahu!" omel Sakura.

"Memangnya aku harus bilang permisi dulu sebelum belok, un?"

"Ahaahaha! Bisa melucu juga kau Deidara!" tawa Pein. Namun Hidan cepat-cepat menginjak kaki Pein karena Pein salah menyebutkan nama samaran Deidara.

"Eh, ma-maksudku Deisame, hehehehe. Aku lupa, Deidara kan nama burung peliharaanku, ahahaha!" Pein tertawa kikuk sambil sesekali melirik Nagato.

"Belok kiri!" ucap Sakura.

Swiiingg!

Deidara segera banting setir ke arah kiri. Lagi-lagi mobil tersebut mendapat klakson dari beberapa mobil yang ada di belakang.

"Kenapa mereka terus mengklakson sih, un?"

"Itu karena kau belok tidak pakai lampu sein!" sembur Konan.

"Lampu sein? Aku tidak punya lampu sein, un. Apa kalian ada yang punya?" tanya Deidara dengan tampang serius.

"Ahahahaha! Kau melucu lagi, Deisame!" tawa Pein. Akatsuki pun ikut tertawa menanggapi candaan Deidara.

"Siapa yang bercanda, un! Aku ini serius!"

"A-apa? Jadi kau tidak tahu lampu sein?" tanya Sakura. Deidara menggeleng, "Aku sudah lama tidak menyetir mobil, sudah ku bilang aku tidak punya sim, un. Karena aku selalu gagal tes mengemudi, un."

Jeng-jeng!

Akatsuki cs pun menelan ludah dengan susah payah begitu menyadari sopir mereka adalah seorang amatir.

"Ja-jadi dari tadi kau tidak pakai lampu sein karena tidak tahu? Bukan karena buru-buru?" tanya Konan dengan wajah pucat.

"Jadi tadi kita hampir mati dua kali?!" tanya Sakura. Deidara mengangguk.

"Hei tenanglah, lagi pula dia tidak buruk. Yang penting mobilnya bisa maju kan," ucap Naruto enteng.

"Benar, un! Aku ini cukup handal kok, hanya saja aku selalu gagal di belokan, kadang aku tekor, kadang menabrak, dan terakhir kali ujian aku menabrak pembatas jalan, un."

"YA DEWA JASHIN! SELAMATKANLAH KAMII! HOMINA HOMINA HOMINA!"

"KAMI-SAMA! JANGAN BIARKAN AKU MATI DULU, AKU BELUM MENIKAH!"

"KAMI-SAMA, TIDAK APA-APA MEREKA MATI, ASAL JANGAN KAU AMBIL KOPER UANGKU!"

"JANGAN BERISIK, UN!"

.

Setelah hampir mati selama satu jam, mereka pun akhirnya tiba di bandara dengan wajah pucat dan perut mual akibat belokan curam yang selalu dilakukan oleh Deidara.

Begitu tiba di pesawat, mereka semua langsung terbaring di ranjang masing-masing untuk beristirahat mengingat besok pagi mereka harus berangkat ke Mexico. Namun karena hari sudah larut, Nagato pun akhirnya menginap di pesawat bersama Akatsuki.

.

Mentari pagi menyambut hari baru Akatsuki. Mereka semua terbangun karena mendengar suara alarm yang sengaja dipasang oleh Konan agar mereka tidak terlambat.

Mereka semua pun segera melakukan ritual pagi seperti mandi dan membuat sarapan. Sama seperti pagi sebelumnya, Akatsuki cs selalu menghiasi pagi mereka dengan keributan. Saat ini Deidara dan Itachi sedang rebutan hairdryer untuk mengeringkan rambut mereka. Hidan dan Kakuzu yang bertengkar karena Kakuzu mengganggu ritual Hidan. Ada juga Sasori dan Tobi yang sedang mondar mandir di kabin.

"Itachii jangan merebut hairdryerku, un!"

"Pinjam sebentar, rambutku masih basah!"

"Kakuzu menyingkir dari sana! Aku sedang ritual pagi disini! Kau carilah tempat lain untuk menghitung uang sana!"

"Tidak mau! Aku yang duluan duduk disini!"

"Astaga barbieku kemana ya?"

"Mau Tobi bantu carikan, senpai?"

"Tidak usah, bukannya membantu kau pasti akan menambah masalah!"

Tanpa mereka semua sadari, sepasang mata riak yang duduk di ujung kabin sedang memperhatikan mereka sambil tersenyum simpul.

"Baiklah? Semuanya cepat duduk di kursi masing-masing! Sebentar lagi kita akan berangkat menuju Mexico!" teriak Naruto.

Nagato pun berdiri dari duduknya seraya berkata, "sayang sekali kita harus sudah berpisah ya, teman-teman."

Akatsuki cs yang berada di kabin melotot seketika begitu menyadari Nagato dari tadi berada disana. Melihat mereka dengan penampilan sebenarnya, dan mendengar mereka memanggil nama asli satu sama lain. Mereka lupa kalau Nagato menginap di kabin!

"Na-Nagato... kau..."

"Tak apa, aku sudah tahu dari awal kalau itu kalian. Aku tidak mungkin melupakan wajah dan suara kalian," ucap Nagato. Akatsuki tertunduk malu, mereka menyesal telah membohongi Nagato.

"Maafkan kami," ucap Sasori.

"Tidak masalah, aku tahu kalian pasti canggung jika bertemu denganku. Meskipun aku bukan anggota Akatsuki lagi. Tapi kita masih bertemankan?"

Akatsuki mengangkat wajah mereka dan menatap Nagato dengan berkaca-kaca. Mereka pun memeluk Nagato bersama-sama.

"Nagato! Kami merindukanmu!"

Naruto hanya bisa tersenyum melihat pemandangan ini. Ternyata Akatsuki yang kampret ini bisa bersikap manis juga, batin Naruto.

Setelah berpamitan haru dengan Nagato, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Mexico.

Setelah terbang beberapa jam, mereka pun tiba di bandara International Mexico. Mereka kembali menggunakan jubah Akatsuki karena masuk ke gedung tua kemarin membuat kemeja dan jas mereka kotor.

Setelah turun dari pesawat, Naruto pun segera menelepon seseorang bernama Jiraya yang akan menjadi tourguide-nya selama di Mexico. Namun setelah 3x meneleponnya, orang itu tak juga mengangkat panggilan dari Naruto.

"Ck! Kemana sih orang ini?!" gerutu Naruto.

"Ahahhhaaha! Kau cantik sekali Nona, siapa namamu?"

Terdengar suara seseorang yang sedang menggoda wanita sexy di sekitar sana. Orang-orang tampak menjauhinya karena pria tua tersebut terlihat sedang mabuk.

"Ya ampun, kenapa bisa ada orang seperti itu di bandara? Cepat panggil security!" ucap Naruto. Zetsu yang kebetulan melihat security lewat pun segera menghadangnya dan menujuk lelaki tua bertubuh besar dengan rambut putih yang sedang terhuyung-huyung.

Security itu pun segera mendekati pria itu, "Maaf tuan, apa Anda mabuk? Sebaiknya Anda keluar dari bandara," ucap security itu.

"Apa katamu? Keluar? Huahaha! Aku tidak akan keluar dari bandara ini sebelum bertemu para klienku!"

Sementara mereka semua ribut-ribut, Naruto berusaha menelepon tour guide mereka yang belum juga muncul.

Kringgg kringgg

"Halo?"

"Halo? Kau dimana? Kami sudah di bandara!"

"Apa maksudmu? Aku juga di bandara! Tapi ada seorang security yang mencoba untuk mengusirku!"

"Hah?" Naruto menatap lurus ke arah pria tua berambut putih yang kini sedang bersama security.

"A-apa kau orang yang berambut putih?" tanya Naruto dengan terbata bata.

"Iya, bagaimana kau tahu?"

"HUAPAA? JADI KAU BENAR-BENAR TOURGUIDE KAMI?!" pekik Naruto sambil menunjuk-nunjuk wajah Jiraya.

"Woi! Kenapa kau menunjuk-nunjukku begitu, bocah!" bentak Jiraya. "Minggir! Aku akan keluar sebentar lagi bersama mereka!" omel Jiraya pada security tersebut.

"Ja-jadi orang ini tourguide kita?" tanya Zetsu.

"Naruto, kenapa kau selalu membuatku ingin berkata -CARI-TOUR-GUIDE-YANG-BENAR!" teriak Sakura.

"Tidak apa-apa! Dia mungkin hanya berhalusinasi karena faktor usia, bukan mabuk!" bela Pein.

Akhirnya mereka semua pun keluar dari bandara dengan dipimpin oleh Jiraya. Mereka mengendarai bus umum menuju tempat yang akan mereka kunjungi. Jiraya meracau sepanjang jalan, kadang ia menyanyi, kadang ia menari, dan dengan cerianya, Tobi malah ikut-ikutan meniru Jiraya.

Menurut Jiraya, mereka akan pergi ke Copper Canyon yang terletak di Chihuahua. Sebuah sungai yang berada di bawah jurang atau bisa di sebut ngarai. Ngarai ini terdiri dari 20 ngarai yang saling bersambungan dan bermuara di laut. Copper Canyon ini termasuk ngarai terbesar yang ada didunia. Tempat wisata ini banyak dikunjungi orang-orang untuk memanjat tebing, arung jeram, maupun tracking.

Setelah beberapa jam menaiki bus mereka pun tiba di gerbang Copper Canyon. Dari atas sana, mereka bisa melihat dasar ngarai yang begitu kecil saking jauhnya.

"Nah, apa kalian siap?" tanya Jiraya.

"Siap untuk apa?" tanya Naruto.

"Tentu saja untuk menuruni jurang ini! Ayo!" ajak Jiraya.

"Dimana jalannya?" tanya Konan.

"Tentu saja lewat sini! Ayo cepat, setelah turun dari jurang kita akan menyusuri hutan menuju ngarai!"

Jiraya menunjuk sebuah tebing curam. Batuan menonjol di sana-sini. Dan yang paling mencengangkan adalah tebing itu sangat tinggi.

"YOSH! Ini baru petualangan pria! Benarkan Naruto?" ujar Pein semangat.

"Dimana tali dan pengamannya?" tanya Naruto.

"Hahahaha! Pria sejati tidak butuh tali saat menuruni tebing!" celetuk Jiraya.

"Hei, tapikan kita berdua wanita!" tandas Konan.

"Eh? Jadi kalian wanita?"

"Dia minta dihajar ya?" gumam Sakura.

"Aku rasa kalian ini bukan wanita, wanita itu yang dadanya besar! Kalau yang seperti kalian ini disebut perempuan!" jelas Jiraya, Pein tampak mengangguk-angguk mendengarnya. "Aku setuju itu!"

"BIARKAN AKU MENGHAJAR PAK TUA ITU!" pekik Sakura dan Konan dengan mata yang berapi-api, namun berhasil di tahan oleh Naruto.

"Hei, hei, tenanglah Sakura. Dia kan sedang mabuk. Jangan hiraukan dia."

"Ini, pakailah tali ini untuk kalian berdua," ucap Sasuke sambil memberikan seutas tali pada Sakura. Hal itu langsung membuat Sakura melupakan semua emosinya dan menerima tali dari Sasuke. Namun Pein tetap menjadi korban pelampiasan emosi Konan karena dia ikut menyetujui perkataan Jiraiya.

"Woi! Ayo cepat! Kalau hujan kalian akan cepat mati, loh! Tebing ini licin!" teriak Jiraiya yang ternyata sudah mulai menuruni tebing.

.

.

.

TBC

.

Balas Review :

Namikaze Yohan396 : wkwkwk, -PengikutJashinDetected-

RendyDP424 : Nah, mereka udah dinistain sama tukang bengkel abal-abal, wkwk

Anni593 : Segini mah termasuk normal lah ya, mungkin sebelum gaul sama Akatsuki, Nagato udah di vaksin dulu, wkwwkwk

Vira D Ace : hahaha, mau ikutan ganti nama juga gak jadi Virsame XD

Kaworu Naha ga bisa : Bisa jadi sih begitu :v

Annur Azure Fang : Sip! Udah lanjut nih

DandiDandi : Huehehe, Gomenasai. Horror yang berujung penipuan :v

Kagak ada, itu Cuma ada di hape Itachi XD

Niilaaa : Sudah lanjut!

Kazumaki Mikushi : Nyahaha, nyi blorong lebih horror :v

Nagato terlalu waras untuk gabung sama Akatsuki XD

Hahaha, mungkin efek pake topeng, jadi gak dikenali sebagai Uchiha. Lebih tepatnya sih tidak di akui XD

Dilanisa : Siipp, ini sudah di lanjut!

Honeymoon Hamada : Udah jadi ciri khas itu XD

Habis si Kisame kan nyontohinnya begitu, wkakakaka

Hangus lah tiketnya, udah rugi duit, gak jadi cuci mata lagi XD

Emang, jomblo dari lahir dan mungkin akan menjadi jomblo abadi XD

.

Yoshhaa, makasih semua yang sudah baca fict ini, maaf selalu late update akhir-akhir ini.. semoga minggu depan bisa up tepat waktu, yah semoga, heheh XD