Remake dari AliaZalea "Dirty Little Secret".
Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.
Jika ada kesamaan cerita di FF lain dengan pairing berbeda adalah hal yang wajar karena ini adalah sebuah 'remake' :)
OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin
MinYoon
Age of the cast:
-Park Jimin (m) : 30 tahun
-Min Yoongi (m) : 27 tahun
-Kim Seokjin (m), Kim Namjoon (m) : 34 tahun
-Min Taehyung (m), Min Jungkook (m) : 7 tahun.
-Kim Hoseok (m) : 4 tahun.
Rate M!
Romance, Drama, Family
Yaoi, boyXboy, !MPreg!
!Warn! Bahasa non baku, typo, beberapa dialog inggris.
DON'T LIKE DON'T READ!
Chapter 24
We're star catching, baby
Always star catching
"Ya Tuhan, Jimin. Lepasin tangan aku. Apa perlu kamu pake kekerasan untuk bikin orang tunduk sama kamu?" omel Yoongi sambil dengan sekuat tenaga mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman Jimin.
Sebagai jawaban atas pertanyaan Yoongi, Jimin justru mengeratkan genggaman tangannya.
"Kamu masih belum ngejawab pertanyaanku, sweetheart."
"Sweetheart? Sweetheart?! Sialan! Aku menolak diperlakukan seperti ini sama siapapun, terutama sama kamu," teriak Yoongi dan melayangkan kepalan tinju dengan tangan kirinya ke dada Jimin.
Dengan sigap Jimin meraih tangan itu sebelum kepalan tinju itu mengenai tubuhnya. Dia hanya ingin Yoongi menjawab pertanyaannya. Itu saja.
"Kamu cuma perlu kasih jawaban atas pertanyaanku dan setelah itu aku akan lepasin kamu. Aku akan Tanya sekali lagi. Are. You. Still. In. love. With. Me?"
Yoongi berontak sekuat tenaga, mencoba melepaskan diri tanpa sukses, karena setiap kali dia melakukannya semakin erat pula genggaman Jimin.
"Iya! Iya, aku masih mencintai kamu! Puas kamu sekarang?" teriak Yoongi akhirnya dan untuk pertama kalinya berhenti berontak.
Sesuai janjinya Jimin melepaskan genggamannya pada kedua pergelangan tangan Yoongi, yang langsung mengusap-usapnya sambil memberikan tatapan 'kamu bajingan nggak bermoral yang sudah memaksakan kehendaknya pada orang lain'.
Jimin tahu dia tidak seharusnya tersenyum atau merasakan kebahagiaan yang tidak tergambarkan, tapi dia tidak bisa menahan diri lagi. Hatinya terasa seperti akan meledak, tidak lagi mampu menampung kebahagiaan yang menggebu-gebu. Senyuman yang semakin lama semakin lebar sudah menghiasi wajahnya.
"Ya, aku puas," ucap Jimin sambil nyengir, alhasil membuat Yoongi megap-megap.
"Aku rasa percakapan kita udah selesai. Kamu sebaiknya berangkat ke kantor sekarang kalo nggak mau terlalu kesiangan. Aku akan ke sini untuk makan malam nanti. Jam 7 oke sama kamu?" lanjutnya sambil bangun dari sofa.
Melihat Yoongi masih tidak bisa berkata-kata, dia menunduk untuk mencium pipinya dan membisikkan,
"I'll see you at seven, Y."
Dia sudah setengah jalan menuju mobil ketika mendengarkan Yoongi yang akhirnya sadar kembali dari kekagetannya, meneriakkan sumpah serapah padanya.
.
.
.
Pukul 18.50 Jimin sudah berdiri di depan pintu rumah Yoongi namun tidak bisa membuat dirinya menekan bel. Rasa nervous yang tidak tergambarkan tiba-tiba menyerangnya. Dia terlalu excited ketika bersiap-siap beberapa jam yang lalu dan dalam perjalanan ke sini, namun sepertinya adrenalinnya kini sudah habis sama sekali, meninggalkannya dengan jantung berdebar-denar nggak karuan dan tangan gemeteran.
Jimin mengepalkan kedua tangannya, mencoba mengontrol getaran itu. Damn! Dia bukan saja nervous, tapi ketakutan setengah mati.
Stop being the real little carrot! Mereka hanya anak kecil, bukan pasukan tembak mati, omel Jimin dalam hati. Menyadari apa yang baru terlintas di dalam pikirannya, Jimin menggeleng dan tertawa garing. What the hell is he talking about?
Saat sekarang, dia lebih memilih berhadapan dengan pasukan tembak mati daripada anak-anaknya. Tahu dia tidak bisa menunda apa yang akan terjadi, Jimin mengangkat tangannya untuk menekan bel.
Dia tidak pernah menekan bel sebelumnya, biasanya langsung masuk saja, tapi hari ini dia tidak tahu apakah kehadirannya diinginkan di rumah ini, oleh karenanya dia menekan bel.
Namun pada saat itu pintu-pintu rumah terbuka dan Yoongi berdiri di hadapannya. Mengingat apa yang terjadi di antara mereka beberapa jam lalu, Jimin bersyukur Yoongi setidak-tidaknya tidak menatapnya dengan tatapan siap perang.
Kemudian tatapannya jatuh pada kaos katun tipis yang dikenakan Yoongi dan Jimin hanya bisa berkedip. Saking tipisnya kaos itu dia bisa melihat puting Yoongi yang tercetak indah di dada ratanya. Ditambah dengan senyuman yang dipaparkannya seakan Yoongi memang sengaja mengenakan kaos ini untuk menyambut kedatangannya, otak Jimin langsung konslet dan dia hanya bisa mendesahkan,
"Hey," dengan garingnya.
Yoongi hanya mengangkat alisnya bingung atas reaksinya dan mengatakan,
"Apa kamu berencana untuk masuk ke rumah dalam waktu dekat ini, Jimin?" dengan nada bercanda dan melangkah ke samping mempersilahkannya masuk.
Untuk mengalihkan perhatiannya dari kaos tipis Yoongi, Jimin mencium pipinya dan bertanya,
"Jungkook dan Taehyung di mana?"
"Di atas. Aku masih harus nata meja makan. Kamu bisa langsung ke kamar main mereka kalo mau. Mereka tahu kamu akan ke sini jadi mereka nggak akan kaget ngeliat kamu. Aku akan kasih tahu kalo makan malam udah siap."
"Apa mereka oke aku dateng ke sini malam ini?"
"Yes, they're okay. Aku nggak akan kasih kamu ketemu mereka kalo menurutku mereka nggak siap."
Ketika Yoongi melihat Jimin masih berdiri di hadapannya dia mencoba menyakinkan dengan mengatakan,
"Go!"
Jimin langsung ngacir menuju tangga, bukan saja karena dia harus menghindari Yoongi dan keinginannya untuk menariknya ke dalam pelukannya, tapi karena dia sudah tidak sabar ingin bertemu anak-anaknya.
Ketika dia sampai di depan pintu kamar yang setengah terbuka, Jimin mengetuknya sebelum mendorong pintu itu hingga terbuka lebar. Jungkook dan Taehyung yang sedang tengkurap di atas karpet sambil main dengan robot-robot Transformers mendongak.
Tatapan yang mereka berikan padanya hampir membunuhnya. Mereka bukan saja kelihatan nervous, tapi takut. Jungkook bahkan kelihatan sedikit curiga.
Panik nggak ketolongan dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan dalam situasi ini, karena jelas-jelas tidak ada buku yang pernah dia baca tentang cara berkomunikasi dengan anak kecil yang baru saja tahu bahwa 'ahjussi' yang selama ini main dengan mereka adalah ayah mereka, Jimin mengikuti instingnya dengan menyapa,
"Halo, Jungkook, Taehyung," sebelum menurunkan tubuhnya ke karpet dan merangkak mendekati mereka.
"Hai," sapa Taehyung, yang memberikan senyuman kecil padanya.
"Halo," ucap Jungkook sebelum kembali memfokuskan perhatiannya pada robotnya.
Jimin melihat bahwa Taehyung sebetulnya ingin mendekat, tapi karena kembarannya diam saja, sebagai tanda solidaritas dia pun melakukan hal yang sama.
Untuk beberapa menit tidak ada dari mereka yang mengatakan apa-apa. Jungkook dan Taehyung tetap fokus pada robot mereka dengan Taehyung sesekali melirik padanya di antara mengeluarkan suara berantem-beranteman.
Mereka stuck dalam posisi itu hingga Jimin tidak tahan lagi.
"Apa kalian marah sama…" Jimin ragu sesaat, tidak tahu bagaimana harus menyebut dirinya.
'Jimin ahjussi' tidak lagi tepat untuk di gunakan, mengingat kini Jungkook dan Taehyung tahu dia ayah mereka, tapi memanggil dirinya 'Appa' juga terdengar asing.
"Apa kalian marah sama Jimin ahjussi?" Jimin mengulangi pertanyaanya, sambil meringis ketika mendengarnya mengucapkan 'Jimin ahjussi'.
Taehyung mendongak menatapnya dan menggeleng, membuat Jimin tersenyum. Jungkook tidak mendongak, tapi dia mendengarnya menggumamkan,
"Nggak."
"Jadi kalian nggak apa-apa kalo Ahjussi main ke sini?"
Jungkook hanya mengangkat bahunya, untungnya Taehyung mengangguk sambil tersenyum malu-malu, membuat Jimin merasa lebih baik.
Jimin berpikir sejenak. Ada satu pertanyaan penting yang ingin dia tanyakan semenjak kemarin. Pertanyaan yang membuatnya tidak bisa tidur tadi malam karena hatinya di gerogoti oleh kekhawatiran.
Betapapun berat untuk menanyakannya, tapi dia mesti mendapatkan jawaban. Kalau Jungkook dan Taehyung menjawab 'tidak' atas pertanyaan ini, dia tidak akan pernah mengganggu mereka lagi. Meskipun itu akan membunuhnya, tapi dia akan menuruti kemauan mereka.
Menolak menyiksa diri dengan ketidakpastian, Jimin bertanya,
"Apa kalian mau Ahjussi jadi Appa kalian?"
Jimin menunggu jawaban pertanyaannya dengan jantung berdebar-debar. Dia yakin Jungkook dan Taehyung bisa mendengar detak jantungnya yang sudah seperti gebukan drum music aliran Death Metal.
Taehyung yang sepertinya mengerti dilemanya tidak membuatnya menunggu lama untuk mengangguk sambil tersenyum sumringah. Namun Jungkook sepertinya menikmati membuatnya panas-dingin terlebih dahulu sebelum akhirnya mengangguk.
Jimin menghembuskan napas lega. Hembusan naapasnya ini rupanya lebih keras daripada yang dia antisipasi, membuat Jungkook mendongak menatapnya.
Mata Jungkook sudah berkaca-kaca, siap menangis, meskipun dia berusaha sekuat tenaga menahannya kalau dilihat dari getaran pada dagunya. Keinginan menarik Jungkook ke dalam pelukannya untuk mengusir kesedihan putranya itu membuat dadanya sesak.
Dia baru saja mendapatkan napasnya kembali ketika pertanyaan Jungkook membuatnya terkena serangan jantung.
"Apa Kookie sama Taetae sekarang harus manggil Jimin ahjussi Appa?"
Oh dear God, please, yes! Teriak Jimin dalam hati. Untungnya dia bisa mengontrol emosinya sebelum membuat Jungkook dan Taehyung takut dengan teriakkanya.
Menyadari bahwa percakapan ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati, perlahan-lahan Jimin menarik tubuhnya untuk duduk.
"Itu terserah kalian. Kalian bisa terus manggil Ahjussi 'Jimin ahjussi', atau…" Jimin tersedak dan menelan ludah sebelum melanjutkan,
"'Appa', kalo kalian mau."
Jungkook berkedip dan Taehyung mengangguk.
"Eomma bilang Ahjussi mesti pergi jauh bulan ini," ucap Taehyung.
Jimin agak sedikit terkejut bahwa Yoongi sempat membicarakan ini dengan anak-anak dalam waktu beberapa jam saja.
"Iya, Ahjussi ada urusan yang mesti di selesaikan."
"Apa Ahjussi bakal balik lagi ke sini?"
"Tentu aja Ahjussi bakal balik lagi. Ahjussi bakal balik sebelum Natal, oke?"
Taehyung mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Apa Ahjussi rencana pergi jauh ninggalin Eomma, Kookie, dan Taetae lagi setelah ini?" tanya Jungkook.
Remuk-muk-muk hati Jimin mendengar pertanyaan Jungkook. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum berkata,
"Nggak akan.. Ahjussi janji nggak akan ninggalin kalian lagi."
Jungkook mengangguk.
"Apa Ahjussi bakal nikah sama Eomma dan tinggal di sini?" lanjutnya.
Jimin mengulum senyumnya melihat tatapan penuh harap Jungkook dan Taehyung.
"Itu terserah Eomma. Ahjussi udah minta Eomma nikah sama Ahjussi, tapi Eomma nggak mau."
"Eomma nggak mau?" teriak Jungkook
"Kenapa Eomma nggak mau?" teriak Taehyung
Serentak kedua anaknya langsung duduk bersila di atas karpet dan menatapnya dengan mata terbelalak, membuat Jimin tersenyum.
"Gimana kalo kamu tanya ke Eomma tentang itu, oke?"
Jimin hampir saja meledak tawanya melihat ekspresi penuh tekad yang diberikan Jungkook dan Taehyung.
Pada saat itu dia bersyukur dia tidak sedang bersama Yoongi, lalu dia mengingatkan dirinya agar tidak berada di dalam satu ruangan dengan Yoongi ketika anak-anaknya memutuskan menginterogasi Eomma mereka.
"Jimin ahjussi?" panggil Taehyung.
"Ya, Taehyung?"
"Apa Jimin ahjussi sayang sama Taetae dan Kookie?" Taehyung kelihatan ragu dan menunduk.
"Maksud Taetae, kayak Eomma sayang sama Taetae dan Kookie? Taetae pikir karena Ahjussi Appa Taetae dan Kookie, Ahjussi mungkin juga sayang sama Taetae dan Kookie. Taetae cuma mau tahu aja."
Jimin hanya bisa megap-megap menatap ubun-ubun Taehyung dan mengalihkan perhatiannya ke Jungkook yang menatapnya tanpa berkedip.
Kerongkongannya tiba-tiba kering dan kata-kata yang sudah sering terlintas di dalam pikirannya, yang hanya bisa dia ucapkan kepada mereka di dalam hati atau ketika mereka sedang tertidur jadi tidak bisa mendengarnya, nyangkut tidak bisa keluar.
Matanya mulai berasa panas dan hidungnya mulai berair dan dia yakin sebentar lagi dia akan menangis. Dengan susah payah dia mengontrol emosinya. Dia tidak mau membuat anak-anaknya berpikir bahwa dia laki-laki yang gampang nangis.
Laki-laki tidak pernah menangis. Apalagi laki-laki keluarga Park.
Ya, dia tahu itu semua hanya a load of bullshit, mengingat dia sudah menangis meraung-raung sebulan yang lalu, tapi dia tetap tidak ingin ingatan pertama anak-anak tentangnya adalah bahwa ayah mereka sudah menangis kayak cewek di depan mereka.
So not cool!
Alhasil dia harus berdeham beberapa kali sebelum akhirnya bisa berkata-kata.
"Ahjussi sayang sekali sama kalian, lebih dari apa pun juga," ucap Jimin.
Selang sedetik Taehyung berkata,
"Oh, oke kalo gitu."
Jungkook hanya mengangguk. Detik selanjutnya Jungkook dan Taehyung sudah menyerangnya dengan pelukan mereka. Kedua lengan mereka melingkari lehernya dan wajah mereka terkubur pada lehernya. Jungkook di sebelah kiri dan Taehyung di sebelah kanan. Yang Jimin bisa lakukan adalah memeluk mereka balik dengan seerat-eratnya.
Ini adalah pelukan pertama mereka sebagai ayah dan anak dan dia tidak pernah merasa betul-betul menjadi seorang ayah, hingga detik ini.
God, he loves them to death. Dia bahkan tidak tahu bahwa dia mampu mencintai dengan sedalam ini.
Segala kekosongan yang dia rasakan selama ini perlahan-lahan mulai tertutup. Dia sudah mendapatkan 66 persen keluarganya. Yang dia butuhkan adalah 34 persen lagi dan keluarganya akan komplit. Hidupnya akan komplit.
.
.
.
Beberapa hari berlalu dengan begitu cepat sehingga tanpa Yoongi sadari lima hari sudah lewat. Jimin pergi wawancara pekerjaan di perusahaan yang di sarankan mantan bosnya dan kelihatannya wawancara itu berjalan lancar karena Jimin tersenyum lebar ketika bertemu dengannya sore itu.
Hm, Jimin memang selalu tersenyum lebar kalau melihatnya, tapi kali ini senyumannya ekstra lebar.
"Aku tebak interview-nya goes well?" tanya Yoongi sambil melepaskan sepatunya.
"Yep," jawab Jimin pendek sambil menunggu hingga Yoongi mengenakan sandal rumah sebelum mencium pipinya.
Refleks, Yoongi mencium Jimin balik. Dia menangkap aroma sabun dan sampo Johnson&Johnson milik anak-anak. Sepertinya sekali lagi Jimin sudah mandi di kamar mandi anak-anak dan menggunakan sabun dan sampo mereka.
Semenjak identitas Jimin sebagai ayah anak-anak terbongkar, Jimin menghabiskan setiap detik waktunya dengan mereka seakan besok akan kiamat dan Yoongi berusaha mengakomondasi situasi ini sebaik mungkin mengingat Jimin akan berangkat ke Amerika sebentar lagi dan nggak bisa ketemu anak-anak sesering sekarang.
Meskipun begitu, dia berusaha menjaga jarak antara anak-anak dengan Jimin agar mereka tidak terlalu lengket. Dia tahu anak-anak akan mengalami masalah berpisah dengan Jimin waktu saatnya tiba.
Dia tidak mau menjadi orangtua yang harus menenangkan mereka setiap malam kalau mereka nangis kangen dengan Jimin sementara Jimin berleha-leha di Chicago.
Oleh karena itu, tidak peduli berapa kali anak-anak memintanya membolehkan Jimin menginap, dia selalu mengatakan tidak. Satu kali sudah cukup, nggak pakai dua kali. Namun sebagai kompromi, dia harus memperbolehkan Jimin mandi bahkan meninggalkan beberapa helai pakaiannya di rumah.
Sejujurnya kompromi ini bukan hanya karena dia tidak ingin dicemberuti anak-anaknya karena keukeuh dengan pendiriannya tentang inap-menginap, tapi juga karena dia merasa sedikit bersalah terhadap Jimin.
Sampai sekarang dia masih tidak bisa membalas kata cinta Jimin atau menolaknya dan membiarkannya move-on dan berhenti mengharapkannya.
Dia merasa seperti sedang main yoyo dengan perasaan Jimin, tapi tidak peduli cara apa yang dia gunakan untuk memberanikan diri mengatakan 'tidak' kepada Jimin, dia selalu mundur pada saat-saat terakhir.
Alhasil selama beberapa hari ini Yoongi bersikap seakan-akan pembicaraan penting mereka tidak pernah terjadi dan untungnya Jimin sepertinya mengerti dilemanya, sehingga dia tidak pernah menyinggungnya juga.
"Jadi mereka bilang apa?" tanya Yoongi, kembali fokus pada percakapan mereka.
"Mereka bilang akan kontak aku lagi secepatnya sebelum aku berangkat ke Amerika untuk interview selanjutnya kalo aku di short-list."
"Interview selanjutnya?" tanya Yoongi sambil berjalan menuju ruang makan. "Memangnya ada berapa interview untuk ngedapetin kerjaan itu?" dia bisa mencium aroma nasi goreng kimchi dan telur dadar.
Dan indra penciumannya mendapat konfirmasi ketika dia melihat dua menu ini di atas meja makan. Kini giliran Jimin yang mengangkat bahu.
"Tiga. Pertama, dengan orang yang akan kerja sama aku. Kedua, dengan HRD . ketiga, dengan senior partner perusahaan."
"Apa? Lebay aman? Mereka harus interview sebegitu banyak untuk posisi senior consultant?"
"Well, sebelum wawancara yang ini aku juga harus ngambil tes personality dan IQ. Dan aku nggak tahu apa proses ini normal atau nggak untuk Korea, tapi aku ikutin aja kemauan mereka, toh nggak ada ruginya. Hitung-hitung belajar proses lamaran kerja di Korea kalo aja aku nggak dapet kerjaan yang ini."
"Oh, kamu akan dapat kerjaan ini. Mereka gila kalau nggak nerima kamu."
"Awww… that is sweet. Thanks, babe," ucap Jimin dengan nada bercanda
Yoongi mengerutkan keningnya.
"Kamu bisa nggak berhenti manggil aku 'babe'? itu bikin aku ngerasa kayak piggy di film 'Babe'."
Jimin kelihatan berpikir sejenak, mencoba mengingat film itu mungkin, sebelum tertawa terbahak-bahak dan Yoongi hanya bisa bertolak pinggang menunggu hingga dia berhenti.
Pada saat itu dia mendengar dua pasang langkah kecil menuruni tangga, tidak lama kemudian Jungkook dan Taehyung muncul di ujung tangga.
"Eommaaa," teriak Taehyung dan berlari memeluknya.
Yoongi menunduk mencium kepala Taehyung, kemudian Jungkook.
"Anak-anak Eomma apa kabarnya hari ini?"
"Baik," jawab Taehyung dan Jungkook bersamaan.
"Pe-er udah selesai?"
"Dah," jawab Jungkook
Yoongi melirik kepada Taehyung yang tidak menjawab namun justru mengambil posisi di meja makan.
"Taehyungie? Pe-er Taehyung gimana?"
"Udah selesai dari tadi. Cuma ada satu dan gampang banget, ya kan, Kookie? Ayo, Eomma duduk supaya kita bisa makan. Taetae laper nih."
Yoongi melirik Jimin, meminta kepastian dan mendapatinya kelihatan terhibur dengan kelakuan Taehyung. Satu hal yang dia dapati tentang Jimin selama sebulan ini adalah dia tidak pernah sekalipun mengomeli anak-anak.
Menurutnya segala sesuatu yang dilakukan mereka adalah 'lucu dan menghibur' atau 'pintar dan membanggakan'.
Intinya, di mata Jimin anak-anak adalah malaikat-malaikat kecil yang turun dari surga. Sesuatu yang Yoongi tahu tidak benar sama sekali. Namun Yoongi bisa memahami kenapa Jimin sangat men-support anak-anaknya. Kehadiran Jimin bukan saja membongkar misteri siapa ayah Jungkook dan Taehyung, tapi juga asal-muasal kebandelan mereka.
Dan dia mungkin seharusnya mengomeli Jimin karena sudah memberikan gen yang tidak-tidak pada keturunannya, tapi mengingat semenjak adanya Jimin, dia semakin jarang dipanggil guru atau Kepala Sekolah, maka dia berkesimpulan bahwa entah bagaimana Jimin mampu menyalurkan semua energi ekstra dan kebandelan anak-anaknya ke sesuatu yang positif, seperti membuat aktivitas membereskan rumah begitu menyenangkan hingga Yoongi mendapati rumah selalu kelihatan rapi meskipun tanpa pembantu.
Ya, memiliki Jimin di dalam hidupnya sudah membuat semuanya jadi lebih mudah. Untuk pertama kalinya dia tidak lagi merasa sendirian, bahwa ada orang yang bisa membantu meringankan bebannya, dan memberikan emotional support yang semakin sering dia perlukan untuk membesarkan anak-anak.
Jadi kenapa dia tidak membuat situasi ini permanen dengan menikahi Jimin sekalian, toh dia mencintainya dan mereka sudah menghabiskan begitu banyak waktu bersama-sama?
Itu mungkin karena mencintai Jimin dan menikah dengannya sudah seperti mencoba menangkap bintang. Posisi bintang-bintang di langit tidak pernah berubah dan kita selalu bisa melihatnya setiap malam yang cerah pada posisi yang sama. Namun hanya karena kita bisa melihatnya dan tahu posisinya, bukan berarti kita bisa menyentuhnya.
Karena setiap kali kita mengangkat tangan, tidak peduli seberapa tingginya, bintang-bintang itu akan selalu di luar jangkauan. Mencoba menangkap bintang adalah aktivitas sia-sia, seperti juga mencintai dan bermimpi menikah dengan Jimin.
Yoongi masih tenggelam dalam pikirannya sendiri ketika dia mendengar Jungkook memanggil-manggil memintanya duduk. Dari sudut mata dia melihat Jimin sedang memperhatikannya dengan seksama. Takut Jimin bisa membaca pikirannya, dia buru-buru menuruti permintaan Jungkook.
.
.
.
Jimin menunggu kedatangan Yoongi dengan Jungkook dan Taehyung dengan sedikit tidak sabar. Pesawatnya akan berangkat sejam lagi dan dia seharusnya sudah melewati imigrasi sekarang. Tapi dia tidak bisa melakukannya karena masih menunggu kedatangan keluarganya.
Ya, dia tahu apa yang dia baru ucapkan dan dia akan mengucapkannya sekali lagi. KELUARGANYA. Dulu kalau dia mendengar kata 'keluarga', yang terlintas di kepalanya adalah Mama, Papa, dan Jin. Namun kini kata itu berkonotasi tiga orang terpenting lain dalam hidupnya.
Where the hell are they?! Omel Jimin dalam hati. Dia tahu sekarang hari rabu malam dan anak-anak besok sekolah, oleh sebab itu dia menawarkan untuk mampir ke rumah Yoongi dalam perjalanan ke bandara untuk say goodbye dengan anak-anak daripada Yoongi harus nyetir ke bandara malam-malam.
Tapi karena itu berarti Jimin harus mengitari Seoul dan membuatnya capek padahal dia masih harus menempuh jam terbang yang panjang, Yoongi berkeras akan menemuinya di bandara saja. Setelah beargumentasi bolak-balik, akhirnya Jimin mengalah dan menuruti rencana Yoongi. Kini dia menyesali keputusannya itu dengan sepenuh hatinya.
-TBC-
Update time: Malam minggu, 3 September 2016.
