PART TWENTY-FOUR
(CHLOE)
"Chloe, kau yakin tidak mau menghabiskan makaroninya?"
Aku menjawab, "Tidak, Mum. Aku sudah kenyang."
"Baiklah, jangan salahkan aku kalau malam-malam nanti kau lapar."
"Nggak akan."
Malam itu, aku sedang sibuk mengerjakan PR Fisika di kamar. Soal-soal Mr Shaw susah juga. Aku jadi agak menyesal, kenapa dulu aku memilih pelajaran Fisika? Perasaan dulu soal-soal Fisika tidak sesulit ini waktu aku masih SMP, setidaknya aku tidak perlu membuat kertas coret-coretan menumpuk di sudut kamarku.
Karena tidak bisa berkonsentrasi, aku pun mengalihkan perhatian pada komputerku. Aku ingin merilekskan pikiran dengan menonton video YouTube saja. Toh, PR-nya masih bisa digarap besok, karena pelajaran Fisika hanya ada pada hari Senin dan Rabu. Baru saja aku mulai tertawa melihat video kucing mengejar ekornya sendiri, suara ibuku memanggil lagi dari luar kamar.
"Chloe, aku tak tahu aku mengganggumu atau tidak, tapi temanmu ada di bawah."
"Hah? Siapa?" tanyaku kaget sambil mem-pause video.
"Bree. Dia bilang mau bertemu denganmu di luar."
Aku tidak heran kenapa Bree berani ke rumahku malam-malam begini. Kutemui dia di pintu depan, dan anak cewek itu sedang bersandar di dinding teras, mengunyah segumpal permen karet. Wajahnya terangkat melihatku datang.
"Oh!" kata Bree sambil meludahkan permennya. "Kukira kau bakalan lama. Sori, aku datang tidak bilang-bilang."
"Nggak masalah," jawabku. "Aku sedang suntuk gara-gara PR Mr Shaw. Ada update terbaru?"
Bree mengangkat bahu. "Justru aku yang ingin mencarinya. Kau mau ikut aku?"
"Hah? Ikut ke mana?"
"Rumah Callan lagi."
Jantungku berdetak cepat. "Memangnya kau ingin memata-matainya lagi?"
"Kau mau ikut atau tidak?"
"Well, aku bilang pada ibuku dulu, ya," kataku. Mum agak heran saat aku meminta izin padanya.
"Anak cewek nggak boleh pergi terlalu malam, lho!" katanya. "Memangnya kalian mau ada urusan apa dengan teman kalian itu?"
"Eh, anu, kami ada janji sebetulnya, cuma aku lupa memberitahu Mum," kataku semeyakinkan mungkin. "Aku ingin minta Callan mengajariku Fisika juga, daripada PR-ku tidak selesai-selesai."
Mum agak lama berpikir, kemudian mengangguk-angguk. "Hm, baiklah. Tapi janji, ya, kalian harus segera pulang sebelum pukul 10 tepat."
"Kami janji!" sahutku dan Bree bersamaan.
Sekali lagi, kami berangkat menuju rumah Callan yang kelam dan penuh misteri itu. Mengajari Fisika, heh? Aku jadi geli sendiri mengingat alasan bohongku pada Mum. Tapi, akan sangat menyenangkan juga kalau aku bisa belajar Fisika dengan Callan. Aku dan Bree duduk bersebelahan di dalam bus tingkat. Kuperhatikan garis-garis di sekitar mata Bree agak buram, menampakkan tanda-tanda kelelahan. Bibirnya juga agak kering, dan pandangannya tak sejernih biasanya.
"Kau naik apa ke rumahku?" tanyaku iseng.
"Bus juga," jawab Bree singkat.
"Ya ampun, kau menyiksa dirimu sendiri!" seruku. "Bagaimana latihan anggarnya?"
Ekspresi Bree tampak masam sewaktu aku menyebut-nyebut soal latihan anggar, tapi dia tidak menjawab, hanya cemberut.
"Hei," kataku mendorong. "Ada masalah dengan klub anggarmu?"
"Oh, nggak ada masalah apapun," sahut Bree sambil menatap keluar jendela bus yang berembun. "Hanya saja, cowok bermata panda itu sudah berani bikin gara-gara denganku."
"Maksudmu Everett ikut latihan klub anggar?" tanyaku takjub.
"Ya, dan dia memilih bertarung denganku."
"Really?"
"Dan dia membuatku terpeleset di lantai! Gara-garanya, semua anggota klub jadi menggodaku."
"Oh, itu buruk sekali."
"Tidak! Itu sangat buruk!" Kepala Bree berpaling padaku dengan murka. "Mereka pikir aku bakal naksir anak sialan itu! Demi Tuhan!"
Aku bersusah payah untuk tidak ketahuan menahan tawa. Bahkan, aku tidak tahu mau tertawa atau tidak. Ya ampun, Bree, batinku. Yang seperti itu dibilang sangat buruk? Bagaimana kalau sudah pacaran, ya?
Namun melihat Bree tampak serius, aku ingin menunjukkan rasa ibaku padanya. "Hei, sudahlah, jangan dipikirkan," kataku sambil menyentuh pundak Bree. "Terkadang semua hal memang tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita. Aku yakin Everett tidak bermaksud seperti itu."
"Kau pikir dia tidak bermaksud begitu?" kata Bree tajam. "Apa kau lupa siapa yang berani-berani memata-matai kita waktu itu? Kau tidak curiga?"
"Mengapa aku harus berprasangka buruk padanya kalau aku belum tahu seperti apa dirinya, Bree?"
Bus akhirnya menurunkan kami di halte tempat kami biasa turun menuju rumah Callan. Kami melanjutkan pembicaraan sambil berjalan kaki.
"Apa?!" aku membekap mulutku sendiri mendengar cerita Bree. "Apa maksudnya?"
"'Kalau kau memilih perang, maka perang-lah yang akan kau dapatkan. Karena kami sebetulnya menawarkan kedamaian,'" Bree mengulang kata-kata Everett dengan tegas. "Entah apa maksudnya. Tapi, menurut tangkapanku, kita harus mewaspadai tiga bersaudara itu. Aku punya firasat buruk mengenai tujuan mereka datang ke sekolah kita."
"Jadi, maksudmu mereka bisa jadi punya hubungan dengan guru baru kita, Mr Shikuya?" tanyaku.
"Mungkin," jawab Bree. "Tapi, kita akan melihatnya sendiri nanti. Mr Shikuya adalah target utama kita, jangan lupakan itu. Kita tak boleh membiarkan tiga bersaudara itu mengacaukan pandangan kita. Dan tulisan di dahi Everett pasti bisa menjadi petunjuk yang bagus!"
"Jadi, cuma gara-gara tulisan itu kau mesti mengajakku ke rumah Callan?"
"Ya, asal kau tahu saja, dia punya banyak koleksi buku dalam perpustakaan pribadi ayahnya. Aku nggak mau repot-repot meminjam ke orang lain kalau dia sendiri punya. Dan kau juga punya kesempatan buat PDKT dengan dia, kan?" Bree mengangkat sebelah alisnya padaku sambil tersenyum.
Aku menarik napas dalam-dalam. "Oh, baiklah. Kita sudah dekat dengan rumah Callan, kalau aku nggak salah? Usahakan jangan sampai dia tahu."
Ya, memang kami tinggal berjarak beberapa meter dengan rumah berpagar tinggi itu. Bukan kesekian kalinya aku melihat Bree menekan tombol bel dan mendengar denting bunyi bel yang bergaung, lalu kami menunggu Trevor menyambut kami. Namun ada yang aneh, selama satu menit penuh, tak ada tanda-tanda kemunculan si pelayan tua. Merasa tak sabar, aku memberi isyarat pada Bree untuk menekan bel kembali. Denting panjang kembali bergaung. Kuharap kali ini Trevor bakal membukakan pintunya untuk kami.
Harapanku jadi kenyataan. Namun, alih-alih Trevor yang keluar dari pintu depan, justru seorang pelayan wanita yang masih berusia tiga puluhan membuka pagar untuk kami.
"Halo!" sapa Bree. "Tumben Anda yang datang. Ke mana Trevor?"
"Oh, laki-laki tua itu, Miss?" kata si pelayan wanita. "Dia sedang tidak enak badan. Young Master menemaninya ke rumah sakit sore tadi. Mungkin dia kecapekan."
"Wah, itu kedengarannya buruk!" kataku. "Apakah Callan sudah kembali dari rumah sakit?"
"Dia ada di dalam, biar saya panggilkan," kata pelayan wanita itu dengan sopan. "Anda berdua sebaiknya tunggu di ruang tamu saja."
Aku dan Bree lalu didudukkan di sofa beludru yang tampak sangat nyaman selagi menunggu si pelayan wanita. Selama menunggu, aku membayangkan betapa indahnya hidup di rumah besar seperti keluarga McFadden, meskipun rasanya kasihan juga mengingat Callan sendirian sepanjang hidupnya. Tapi, inilah pertama kalinya aku memasuki rumah yang bahkan aromanya pun mengingatkanku pada Callan. Tiba-tiba, Bree menjawil lenganku.
"Chloe, lihat!"
Dia menunjuk sebuah pajangan dinding berupa sulaman kain yang berbentuk seperti kipas berwarna putih dengan bagian atas merah. Sulaman kain itu disimpan di dalam pigura kaca dan bergantung tak jauh dari sebuah lukisan kuda, dipajang sedemikian rupa sehingga orang yang duduk membelakanginya takkan bisa melihatnya kalau tidak berbalik badan.
"Kontras sekali dengan pajangan lainnya, bukan?" Bree mengutarakan pikiranku dengan bisikan.
"Ya," aku setuju. "Tapi, lambang apa itu?"
Bersamaan dengan itu, si pelayan wanita kembali dengan badan agak membungkuk, diikuti seorang anak laki-laki yang sudah lama kukenal sejak kelas satu SMA. Aku tak bisa menjelaskan betapa senangnya aku, karena akhirnya bisa bertemu Callan di rumahnya sendiri.
"Ada urusan apa kalian kemari?" Callan bertanya. Aku sampai lupa betapa kurang menyenangkannya sapaan itu. Callan duduk di sofa yang menghadap kami. Ia menatap aku dan Bree satu per satu, tapi dia melirikku dua kali, seolah curiga dengan keberadaanku.
"Bukankah aku sudah bilang tadi di telepon?" kata Bree. "Aku ingin bicara denganmu."
"Kalau hanya kau, mengapa Chloe juga ikut?" tanya Callan lagi.
"Karena aku mengajaknya," sahut Bree santai. Aku menatap mereka dalam diam. Ada sebuah gelombang aneh yang menghubungkan kami bertiga di ruang tamu, seperti aliran listrik tak kasatmata, tapi listrik yang menghubungkanku dengan Callan seolah tersendat.
"Baiklah," kata Callan sambil bersedekap. "Kalian mau apa?"
"Kau ingat dulu kau pernah memiliki sebuah buku tentang sejarah Jepang?" kata Bree. "Nah, kami mau meminjamnya."
"Buat apa?"
"Untuk tugas Sejarah," sahut Bree. "Boleh, kan?"
Callan menyipitkan kedua matanya hingga tinggal segaris lurus. "Kalian berdua punya maksud tersembunyi, ya?"
"Ah, kau salah besar!" selorohku sambil meringis. "Kami bekerjasama untuk tugas Sejarah kali ini. Kau tidak ambil pelajaran Sejarah dalam jadwalmu, jadi kau tidak perlu khawatir."
"Kami akan menjaga bukunya baik-baik, kok," kata Bree persuasif. "Boleh, ya?"
Callan terdiam sejenak, lalu menjawab, "Baik. Ayo, ikuti aku."
Anak cowok itu lalu membawa kami memasuki lorong di belakang ruang tamu. Lorong itu diterangi kandelar dari kristal yang bercahaya kekuning-kuningan. Aku memperhatikan wallpaper yang membungkus dindingnya bermotif burung hantu. Kata Bree, burung hantu adalah lambang keluarga McFadden. Kemudian, Callan berhenti di ujung lorong dan memutar kenop sebuah pintu yang terbuat dari perunggu. Ketika pintu terbuka, tampak di hadapan kami ruang persegi empat yang berisi lima deret rak yang memanjang seperti kartu domino, masing-masing tersusun penuh buku-buku yang ditata rapi. Buku-buku seperti atlas dunia, gulungan perkamen kuno, dan peta-peta yang tak kukenal dari zaman apa juga teronggok di meja kayu sepanjang dua meter di sisi kanan pintu. Kandelar yang tak kalah mewah dengan yang ditaruh di lorong dan ruang tamu pun menghiasi langit-langit perpustakaan yang berbentuk kubah cekung, dilukis dengan motif konstelasi bintang utara. Namun, aku lebih tertarik melihat rak-rak kecil yang disusun di dinding seperti tangga mini. Terdapat toples-toples berisi tumbuhan yang diawetkan, kalajengking, dan laba-laba., menimbulkan kesan bahwa perpustakaan itu juga semacam laboratorium kecil. Aku tak bisa berkata apa-apa selain mendesah kagum. Callan juga tidak mempedulikan keasyikanku mengamati toples-toples itu. Dia tengah menggeser sebuah dingklik ke deretan buku yang sedikit berdebu di ujung rak kedua. Kemudian, ia meraih sebuah buku tipis bersampul kulit yang berjamur, lalu memberikannya pada Bree.
"Ini yang kau cari," katanya.
"Tepat sekali!" seru Bree dengan gembira. "Thanks."
"Hei, Callan," panggilku. "Ayahmu pasti seorang peneliti, ya?"
"Oh, pasti gara-gara toples-toples itu, kan?" sahut Callan sambil mengembalikan dingklik. "Dia hanya menyukai koleksi binatang dan tumbuhan langka. Dan dia sama sekali bukan peneliti."
"Tapi, dengan koleksi seperti ini kau bisa membuka museum sendiri!" kataku, masih takjub. "Beneran, deh. Kumbang yang bermotif macan itu, misalnya. Juga bunglon berkaki selaput di sebelah sana…"
"Aku takkan membiarkan museum mengambil peninggalan ayahku," ujar Callan. "Itulah yang membuatku selalu ingat kepadanya."
Suasana menjadi muram dan perpustakaan yang terang itu terasa menggelap. Aku bisa merasakan kesedihan Callan saat dia membicarakan soal ayahnya, dan ingin rasanya aku mendekapnya dari belakang untuk menenangkan pikirannya.
"Hei, kita sudah cukup melihat-lihatnya, Chloe. Kita sudah mendapatkan bahan sejarah kita," kata Bree, mencairkan situasi. "Trims sekali lagi, Callan. Kami pulang dulu."
Callan mengantar kami keluar perpustakaan tanpa bicara. Baru saja kami mau meninggalkan ruang tamu, pelayan wanita Callan datang membawakan kami sepiring roti dan minuman. Dia baru mau protes, tapi Callan menahannya.
"Sudah, tidak apa-apa," katanya. "Mereka tidak boleh di sini lama-lama. Sudah terlalu larut."
"Oh, baiklah, Sir," kata pelayan itu kecewa. "Seandainya Master Trevor ada di sini, dia pasti akan membawa roti yang lebih banyak. Perjalanan pulang, kan, butuh tenaga."
"Kami sudah makan, jangan khawatir," kataku. Pelayan wanita itu mengeluh dalam diam, lalu membukakan pagar untuk kami. Namun tiba-tiba, Bree menyeletuk, "Ya ampun, aku meninggalkan HP-ku di dalam! Aku akan segera kembali!" Ia lalu berbalik memasuki ruang tamu kembali, lalu setelahnya keluar lagi sambil melambaikan HP di atas kepalanya.
"Lain kali jangan teledor!" desisku.
"Ya, sori," kata Bree sambil meringis. "Baiklah, Callan, sampai jumpa!"
"Sampai besok," kataku pada Callan. Dia membalas kami dengan anggukan singkat, lalu berbalik ke rumah. Setelah memastikan Callan sudah masuk, Bree menjawil si pelayan.
"Hei, kau sudah bekerja di sini berapa lama?"
"Sudah lima tahun, Miss, kurang-lebih," jawab si pelayan tanpa curiga.
"Apa Trevor pernah menjelaskanmu apa makna lambang di ruang tamu itu?"
"Lambang yang mana, Miss?"
"Yang berbentuk kipas merah itu."
"Oh, lambang itu," kata si pelayan setelah agak lama mengingat-ingat. "Lambang itu sudah ada di sana sejak saya pertama kali datang, Miss. Saya tak pernah ingin tahu. Mungkin hanya semacam suvenir dari luar negeri. Ayah Young Master suka bepergian ke luar negeri, begitu yang saya dengar."
"Hm, baiklah," kata Bree, manggut-manggut. "Aku mengerti. Kalau begitu, kami pamit dulu, ya. Sampaikan pada Callan bahwa kami ikut mendoakan Trevor."
"Baik, akan saya sampaikan. Hati-hati di jalan, Miss," pesan si pelayan sembari mengunci pagar.
Saat menunggu bus di halte yang sepi, aku menanyai Bree, "Kenapa kau tidak sekalian saja bertanya hal lain tadi?"
"Kita tak bisa memaksakan kehendak pada pelayan itu," jawab Bree. "Dia masih baru. Kalau kita mau mengorek informasi, tanyakan saja pada Trevor. Tapi, masalahnya, aku tak mau mengganggu waktu istirahatnya di rumah sakit. Yang penting, kita sudah dapat buku dan petunjuk baru." Bree memperlihatkan foto di HP-nya dengan bangga.
"Kau memotret pajangan dinding itu rupanya!" seruku.
"Iyalah, menurutmu tadi aku ngapain masuk ke dalam?" kata Bree puas. "Kita tinggal mencari makna lambang ini di internet. Tapi pertama-tama, akan kukirim foto ini lewat Bluetooth. Kau bawa HP-mu, kan?"
"Tentu saja, aku kan tidak pernah…" Baru saja aku merogoh saku celana, kusadari bahwa sakuku kosong. Aku panik, lalu merogoh saku sebelah lagi. HP-ku tidak ada di sana! Aneh, biasanya aku selalu menyimpan HP-ku di sana, tapi sekarang…? Bagaimana mungkin…?
Mendadak ingatanku kembali. "Sial!" umpatku. "Aku meninggalkan HP-ku di kamar sewaktu turun menemuimu!"
"Ya ampun, Chloe!" keluh Bree sambil menepuk dahinya. "Sekarang siapa yang teledor?"
"Sori, deh," kataku menyesal. "Tapi, aku jadi lega karena HP-ku tidak hilang. Jam berapa sekarang?"
"Hampir pukul 9 mungkin?" kata Bree sambil mengangkat bahu. "Duh, busnya lama banget, sih! Mana udaranya semakin dingin, lagi!"
Aku setuju. Kami tidak mengenakan pakaian hangat dengan mumpuni. Bahkan, aku hanya mengenakan sepatu kets, bukannya sepatu bot yang suka kugunakan saat musim dingin. Nasihat Mum untuk selalu mengenakan stoking kapan saja pun tak kuindahkan, dan sekarang aku menyesalinya. Selagi lalu-lintas berlalu, kami hanya duduk diam dan menunggu. Aku membiarkan mataku melayang ke semua penjuru jalan raya. Kuamati sebuah taksi melintas dan berhenti di depan sebuah toko loak, tepat di seberang halte, menurunkan dua orang pria besar. Kedua pria itu tampak familier. Kujawil lengan Bree yang sedang sibuk bermain HP di sebelahku.
"Ada apa, sih?" tanyanya.
"Lihat kedua orang itu, Bree? Bukankah mereka yang waktu itu mengejar-ngejar kita?" aku menunjuk ke seberang jalan sambil berbisik. Kedua orang itu kini bersandar di dinding toko sambil menyalakan rokok, mengobrol satu sama lain.
Mata Bree melebar. "Waduh, bagaimana kalau kita pindah saja? Aku tak mau berurusan dengan mereka."
"Oke," kataku setuju, bergidik selagi mengikuti Bree bangkit dari duduk. Kedua orang itu masih mengobrol sambil merokok, tidak memperhatikan sekeliling. Pelan-pelan, kami berjalan dengan kepala tertunduk.
"Kita pulang naik taksi saja, ya?" usulku.
"Jangan," sahut Bree. "Kita masih punya waktu menunggu bus. Tunggu mereka pergi dulu."
Aku menoleh ke belakang. Kedua pria besar itu kini melepas batang rokok dari mulut mereka, menginjaknya di tanah, lalu sama-sama berjalan masuk toko loak. Aku dan Bree menarik napas lega.
"Kita beruntung," engahku.
"Ya," sahut Bree. "Tapi, apa yang akan mereka lakukan di toko loak itu?"
"Kau bilang tadi nggak mau berurusan dengan mereka!"
"Aku hanya ingin tahu," jawab Bree, lalu sebelum sempat kucegah, dia menyeberang jalan. Sepatu larinya membuat derap lembut di aspal selagi dia berlari. Aku paling benci kalau sifat penasaran Bree kambuh, karena dia bisa melupakan apa saja—termasuk keselamatan—demi mendapat petunjuk baru. Bree berlutut di bawah jendela toko yang berlumut. Kepalanya diletakkan di ambang jendela kayu itu, mengawasi bagian dalam toko. Aku ikut-ikutan di sebelahnya. Tampak dua pria besar itu sedang berdiri di meja kasir, dan di depan mereka adalah seorang lelaki paruh baya yang kami duga pemilik toko. Di meja kasir sendiri tergeletak sebuah benda panjang melengkung yang dibungkus kain kotor. Mereka sedang mengobrol dengan bahasa Inggris yang aksennya sangat kasar.
"Kalau kami menawarkan tiga puluh pounds untuk benda itu, apakah kau mau menjualnya kepada kami?" kata salah satu lelaki besar itu.
"Sudah kubilang, aku takkan menjualnya kurang dari lima puluh," kata si pemilik toko keras kepala. "Kalian bilang saja pada bos kalian bahwa kalau dia ingin melakukan transaksi atas benda itu, dia harus menyiapkan bayaran yang pas atau lebih dari lima puluh."
Kedua lelaki besar itu saling berpandang-pandangan, berpikir sejenak. Kemudian, salah satunya bicara lagi, "Bagaimana kalau tujuh puluh? Empat puluh untuk uang muka dan sisanya kami kirim ke rekeningmu?"
Si pemilik toko tampak ragu-ragu, tapi kemudian menjabat tangan lelaki besar itu sambil menyeringai, "Baik. Aku setuju."
"Bagus!" kata si lelaki besar. "Biarkan kami melihat bendanya, kalau begitu."
"Silakan saja," kata si pemilik toko. "Benda ini seratus persen asli!"
Aku dan Bree akhirnya melihat apa sebenarnya benda yang dibungkus kain itu. Sebuah terompet tanduk berwarna gading yang berukir simbol-simbol berbentuk daun. Benda antik paling indah dan anggun yang pernah kulihat. Tak ada cela sedikitpun pada permukaannya yang mulus dan bersih. Kedua pria itu membolak-balik terompet tanduk sambil mengangguk-angguk, lalu menjejalkan segenggam uang ke tangan si pemilik toko yang mukanya tampak sumringah.
"Semoga bos Anda diberkati, Master," katanya sambil mengendus uang di tangannya kuat-kuat. "Sudah kubilang, aku takkan menjual barang palsu di tokoku, barang sekalipun…"
CEKRIK!
Aku menoleh hanya untuk menyaksikan kepucatan di wajah Bree. Dia baru saja mengangkat HP untuk memotret. Hanya saja, dia pasti lupa mengecilkan suara kameranya. Sebagai hasilnya, wajah kedua pria besar dan si pemilik toko kini menghadap jendela, menghadap ke arah kami. Untung saja aku dan Bree dengan cepat menunduk sehingga saat si pria besar menghampiri ambang jendela, dia tidak melihat kami. Namun…
"Hei, lihat semua! Apa ini?"
Si pria besar itu yang bicara. Dalam bayang-bayang atap toko yang condong, aku dan Bree melihatnya mengangkat tinggi sebuah HP layar sentuh di udara. Bree menggigit bibirnya kuat-kuat sampai darah menodai gigi depannya. Jelas-jelas bahwa karena panik, dia lupa mengambil HP-nya dari ambang jendela. Rekan si pria besar melihat-lihat HP Bree dengan penuh ingin tahu, bahkan mengendusnya.
"Ada miss-call masuk, tiga kali," kata si pria besar itu pada rekannya. "Dari orang bernama Ronnie."
"Itu Robbie, bodoh! Dasar kau tidak bisa membedakan huruf!" sergah rekannya.
Pria besar itu membalas, "Apa mungkin ada orang yang lewat sini dan meninggalkan HP-nya?"
"Tentu saja tidak semudah itu!" kata rekannya. "Sudah jelas ada yang mengikuti kita! Aku bisa mencium baunya!"
Bree meletakkan tangannya di depan mulutku, menyuruhku diam. Selagi dua pria itu sedang berdebat tentang HP siapakah yang mereka temukan, dengan cepat Bree merebut HP-nya dari tangan si pria besar. Kaget, si pria besar menoleh ke arah jendela, dan pada saat itu, Bree sudah menarikku pergi.
Kedua pria besar itu meneriaki kami, "HEEEII! KEMBALIII! KAMI INGAT SIAPA KALIAN!"
Aku dan Bree terus berlari, menyusuri trotoar yang tidak rata. Kami sudah pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya, jadi kami tahu ke mana kami harus pergi. Namun saat kami bersiap belok ke jalan pintas, kami melihat sebuah papan berwarna kuning di sana.
JALAN SEDANG BOLEH MASUK.
"Sial!" geram Bree.
"Duh, bagaimana ini?" seruku panik. Sementara itu, teriakan marah kedua pria besar tadi menggema di belakang kami.
"Mereka gigih sekali!" kata Bree sengit. "Kita harus bersembunyi!"
"Di belakang mobil itu!" aku menunjuk sebuah mobil Audi yang diparkir tak jauh dari jalan, membelakangi sebuah kotak pos. Aku dan Bree berlutut di bawah spion, dan kami menunggu. Langkah-langkah berat kedua pria itu terdengar di balik mobil, menyusuri jalan. Bunyi napas mereka seperti banteng dalam perlombaan matador.
"Mereka tidak di sini," kata salah satunya. "Kita kehilangan mereka lagi."
"Awas saja kalau mereka ketemu," sahut yang lain. "Bos takkan senang."
Setelah itu, langkah-langkah mereka berubah. Aku dan Bree mengintip untuk melihat kedua pria itu berbalik ke jalan utama, lalu menarik napas lega.
"Fiuh! Hampir saja!" kata Bree.
"Tadi itu nyaris!" sambungku.
"Ayo, kita tak boleh lama-lama juga di sini," kata Bree. Kami lalu berjalan perlahan-lahan, mengawasi selagi dua pria besar itu berjalan gontai di depan kami. Tiba-tiba, kakiku keserimpet tali sepatuku sendiri dan dengan fatalnya, aku menendang sebuah kaleng bekas minuman yang tergeletak di jalan. Kaleng itu mengeluarkan bunyi 'klang' nyaring saat ia terlempar menghantam jalan raya. Aku dan Bree hanya bisa terpaku menatap telinga kedua pria itu tegak seperti anjing pelacak. Seringai mereka melebar sewaktu berpaling pada kami. Mereka menggerung, "TANGKAP BERANDAL-BERANDAL ITU!"
"KABUR!" teriak Bree, dan aku mengikutinya. Oh, ya, aku sangat membenci hal ini. Terjadi lagi setelah dua hari!
Kami kembali ke jalan yang semula, menuju halte. Apes bagi kami, bus yang kami tunggu ternyata sudah datang, dan saat kami baru sampai, bus itu sudah menderu menjauhi halte.
"TIDAK! TUNGGU! BERHENTI!" aku berteriak putus asa, tapi si supir bus tampaknya tak mengacuhkan kami. Bus itu dengan cueknya meluncur di jalan dan lenyap dari pandangan, sementara dua pria yang mengejar kami bersiap menyeberang.
"Oh, mampuslah kita!" keluh Bree. "Sekarang bagaimana?"
Tepat saat dia mengatakan 'bagaimana,' sebuah mobil sedan menepi dengan cepat ke arah kami dari ujung jalan. Aku langsung kaget bercampur bahagia karena kenal betul dengan mobil itu.
"Chloe! Bree! Masuk, cepat!" ibuku memanggil dari balik kaca mobil.
"Mum!" aku berseru. Kedua pria besar itu sampai ketika aku dan Bree membuka pintu mobil dari dua arah berbeda, dan dengan bunyi 'brrruuuuum' kencang, mobil yang dikemudikan ibuku melesat di jalan raya. Bisa kulihat wajah kecewa dua pria besar itu di kaca spion.
"Aku sangat khawatir, kau tahu, Nona Muda?" omel ibuku sambil menyetir. "Meninggalkan HP-mu di rumah itu sangat riskan! Apalagi, sekarang sudah jam setengah sepuluh!"
"Maafkan aku, Mum," kataku sambil menundukkan kepala. "Lain kali aku takkan mengulanginya."
"Tetap saja, aku sangat khawatir!" ujar ibuku sambil mendesah. "Untung saja ayahmu tidak di rumah. Kalau ada, dia pasti sudah kelabakan! Kau tidak lihat raut mukaku sekarang, Chloe Morgan? Dan siapa kedua pria besar itu? Apakah mereka pedofil?"
"Eh…" aku melirik Bree, berharap dia akan membantu menjelaskan.
"Maaf kalau kami membuat Anda cemas," kata Bree akhirnya. "Ini salah saya, Mrs Morgan. Sayalah yang mengajak Chloe keluar."
"Oh, sudahlah, lupakan," kata ibuku sambil menghentikan mobilnya di lampu merah. "Omong-omong, di mana rumahmu, Bree?"
"Saya tinggal di daerah St Ookery," jawab Bree. "Tapi, Anda tak perlu mengantarku pulang, Mrs Morgan. Terlalu jauh. Anda bisa menurunkan saya di halte dekat…"
"Ah, itu bukan masalah!" tukas Mum. "Bagaimana kalau nanti kau bertemu dengan pedofil lagi seperti tadi? Mengerikan sekali! Duduk tenang sajalah dan nikmati lagu. Ah, bagaimana dengan Queen, Anak-anak?" Mum menyalakan sebuah tombol di sebelah radio dan lagu Somebody to Love mulai mengalir.
"Eh, terima kasih, Mrs Morgan," kata Bree, agak heran.
Aku diam saja selama perjalanan. Membiarkan suara Freddie Mercury merasuk ke dalam otakku. Malam ini sudah cukup. Benar-benar sudah cukup. Yang penting kami sudah punya petunjuk.
TO BE CONTINUED
